--2 (1)

Title                       : Chapter #9 AFTER

Author                  : diff

Main Cast            : Park Sandara (sebagai aku), Kwon Jiyong (sebagai kamu)

Cameo                  : Dia (?)

Length                  : Chapter(s), one shoot

Rate                       : General, Romance

Disclaimer           : Terima kasih untuk teh Rina yang sudah ‘memaksa’ saya membuat cerita ini

 

 Previously :

NABI : 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8

A/N

Terharu…. T^T

/usap ingus/

Haduuuh, komen2 yang di chapter2 sebelumnya… makasih buat yang setia baca Nabi sampe akhir… \(^o^)/ seneng banget bacanya… jadi dapet inspirasi lagi… kekekekeke…😄

Biarpun di script aslinya saya cuman sampe di chapter #8 doang, tapi berhubung ada yang minta buat nambah chapie lagi, saya jadi punya ide buat bikin ini…😄

Oh iya, emang akhirnya (script asli) memang sengaja saya bikin gitu.. kata pak guru saya dulu, ada baiknya cerita itu dihentikan saat pembaca masih bisa melanjutkan cerita itu menurut versinya sendiri, jadi kalaupun ending, masih keinget gitu mau diapain…

Nah, di bagian ini, emang nggak gitu pengaruh sama inti cerita saya yang ngegambarin cerita dari sisi Dara ke Jiyong – anggep si Dara lagi ceritanya ke Jiyong, kamu disini (chapie2 atas) itu Jiyong – dan epilog ini hanya menggambarkan kisah mereka berdua selanjutnya menurut versi saya…

 

===========

 

Aku termenung memandangi foto lama. Fotoku dengannya. Aku tersenyum di foto itu. Senyum yang dulu kupikir takkan bisa kulakukan tanpa bantuanmu. Tapi ternyata dia berhasil membuatku melemaskan otot-otot wajahku dan tersenyum seperti ini. Ah, kamu punya saingan… sepertinya kalian memiliki kemampuan yang sama dalam memproduksi feromon yang mampu menarikku dari duniaku.. jauh lebih kuat dari yang bisa dilakukan oleh mantan pacarku dulu.

 

Ah, benar.. aku ingat hari ini adalah hari penting itu.

 

Aku melirik kearah arloji yang melingkari jam tanganku, masih ada dua jam sebelum meeting dengan klien saat jam makan siang nanti. Tapi dengan jarak tempuh, aku tidak akan bisa datang tepat waktu.

 

“Hyesun-ah, beritahu perwakilan  Key Group kalau aku akan datang sedikit terlambat.” Aku berkata kepada sekretarisku melalui sambungan interkom. “Katakan saja seperti yang kukatakan kepadamu.” Tambahku. Aku tahu dia akan membantah.

 

“Baik, unnie.”

 

Aku menghembuskan napas perlahan, menutup album lama itu dan mengembalikannya kedalam laci meja kerjaku. Tanpa sengaja mataku menangkap foto lain yang kupajang diatas meja, senyumku tak juga surut melihat foto ini.

 

 

==========

 

 

Sudah bertahun-tahun berlalu, tapi setiap kali kemari, pasti masih ada bunga anggrek segar – bunga kesukaannya, juga kesukaanku. Itu bukti banyak orang yang menyayanginya meskipun dia sudah tidak berbagi dunia yang sama. Kamu pun pasti akan berpikiran yang sama denganku, kan? Meskipun kalian hanya saling kenal dalam waktu yang singkat, tapi kamu jauh lebih mengenalnya dibandingkan aku. Apakah itu yang disebut ikatan saudara – meskipun sangat jauh, tapi kurasa kalian bersekongkol dibelakangku.

 

“Oppa apa kabar?” tanyaku sambil memainkan kembali cincin pertunangan kami dulu. Ini adalah rutinitasku untuk mengenakannya kembali setiap kali  kemari.

 

Aku bisa merasakannya tersenyum, “Maafkan aku karena aku baru bisa datang,” kataku lagi.

 

“Tidak, aku tidak memforsir diriku dalam pekerjaan,” kataku. Aku tahu dia akan protes karena pekerjaan yang akhir-akhir ini menumpuk. “Buktinya sekarang aku bisa datang kemari, kan?” aku tersenyum.

 

Jika ada orang yang melihatku sekarang, pasti aku akan dikira sudah gila karena berbicara sendiri. Tapi yang pasti orang itu bukan kamu. Kamu tidak pernah mempertanyakan hal yang menurut orang lain gila, tapi tetap kulakukan. Karena kamu bukanlah orang lain, karena kamu adalah kamu. Kamu tahu jika dia pasti akan menanggapi semua ucapanku – apapun itu – sama sepertimu.

 

“Aku baik-baik saja. Sangat baik.” Kataku.

 

Aku masih ingat, aku terus saja menangis selama satu minggu setelah minggu sebelumnya aku hanya membisu tidak sanggup bereaksi atas ucapan bela sungkawa yang kuterima. Dia tidak pernah suka saat tahu aku menangis – tidak saat dia tahu dia tidak bisa menghiburku, mungkin karena  itu aku punya kekuatan untuk membendung air mataku.

 

Tapi kemudian, kamu datang. Dan hanya dengan melihatku bendunganku runtuh. Aku terus saja menangisinya. Kamu hanya membiarkanku. Kamu bilang dia mengijinkanku menangis sekali itu saja, karena kamu berjanji padanya aku tidak akan lagi menangis setelah itu.

 

“Tidak oppa, aku tidak menangis lagi. Kecuali kalau air mata bahagia juga kamu artikan sebagai tangisan.”

 

Aku berdebat panjang denganmu hanya untuk membedakan arti menangis dan tangisan bahagia.

 

“Oppa, aku punya kabar baik. Kamu adalah orang pertama yang kuberitahu, bahkan kamu tahu lebih dulu dari dia…”

 

Aku melaporkan segala yang terjadi padaku sejak terakhir kali aku mengunjunginya. Aku terus bercakap dengannya hingga tanpa terasa sudah dua jam berlalu.

 

Oh sial, akan semakin terlambat. Dan dengan lama perjalan kembali dari sini, kurasa klienku itu harus menunggu sedikit lebih lama.

 

“Oppa, maafkan aku. Aku tidak bisa lebih lama dari ini, meskipun sebenarnya masih banyak yang ingin kusampaikan, tapi aku sudah terlambat. Jika aku ada waktu, aku pasti akan kembali mengunjungimu.” Aku berpamitan, mencium batu nisannya.

 

 

==========

 

 

Dengan langkah pasti, aku menyeberangi lobi. Beberapa karyawan yang menengaliku menganggukkan kepala mereka – segan, yang kubalas dengan senyuman sekilas. Kantor ini bukan tempat baru lagi untukku. Sudah bertahun-tahun aku bolak-balik kemari, dan sekarang frekuensinya semakin bertambah karena proyek baru ini.

 

“Nyonya, Tuan Kwon sudah menunggu Anda.” Aku sudah disambut begitu pintu lift terbuka. Pasti resepsionis dibawah menelepon memberitahukan kedatanganku. Aigoo, kamu dan kuasa yang kamu miliki.

 

Aku hanya mengangguk menanggapinya. Aku tahu jika kamu sudah menungguku.

 

Begitu sekretarismu membukakan pintu, perhatianmu langsung berlalih dari berkas-berkas yang memenuhi mejamu kepadaku. Kamu tersenyum. Senyum yang dulu akan tersimpan dalam otakku dan kemudian muncul dalam mimpi.

 

“Anda sangat terlambat, kalau boleh kuingatkan.”

 

“Saya mengerti Tuan Kwon, maafkan saya, saya mengingat ada hal penting yang harus lakukan lebih dulu. Tapi bukankah sekretaris saya sudah memberitahukan tentang ini.”

 

Tinggal kita berdua dalam ruangan ini, sekretarismu hanya membukakan pintu untukku, dan memastikan untuk langsung menutup pintu begitu tubuhku berhasil melewatinya.

 

“Adakah yang lebih penting dari acara meeting makan siang kita?” tanyamu menaikkan sebelas alismu.

 

Aku mengangguk mengiyakan pertanyaanmu. Tentu saja ada banyak hal yang jauh lebih penting dari meeting ini. Salah satunya buktinya ada didalam tasku. Senyumku semakin melebar mengingatnya.

 

“Hentikan formalitas ini, Ji.” kataku jengah dengan permainan kita ini.

 

Kamu tersenyum sekilas, menggeleng-gelengkan kepalamu. Aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu sekarang. Kamu pasti sedang menertawakanku, karena aku selalu menjadi pihak yang menyerah lebih dulu dalam permainan yang kubuat sendiri.

 

“Kamu yang memulainya, Nabi-ah.”

 

Here you go again… memanggilku dengan panggilan Nabi. Oh, dia juga memanggilku dengan panggilan Nabi. Kalian berdua sama.

 

“Kalau tebakanku benar, kamu pasti belum makan siang. Bagaimana menurutmu, kita keluar atau pesan makanan?”

 

“Kamu belum makan siang?” tanyaku kaget. Ini sudah lebih dari dua jam sejak jam makan, dan kamu masih belum mengisi perutmu. Kuperiksa mejamu dan menemukan cangkir kopi kosong disana. Kamu dan kebiasaanmu minum kopi, bahkan dengan perut kosong. Padahal kamu punya masalah pencernaan.

 

“Aku bisa menanyakan hal yang sama.”

 

Aku hanya bisa meringis padanya. Tapi sebelum pergi tadi aku sudah menghabiskan lima cupcake yang kubeli di perjalanan ke kantor.

 

“Sebenarnya, aku sedikit malas untuk keluar dan aku sudah memesan makanan.” Katamu sambil menggaruk kepalamu.

 

Tepat setelah itu kudengar ketukan pintu. Sekretarismu masuk membawakan makanan untuk kita.

 

“Aigoo, Ji..” aku kehabisan kata-kata. Membuatmu tertawa. Tawa yang sama setelah bertahun-tahun.

 

“Nah, kita bisa membahas pekerjaan setelah semua makanan itu habis, arasso?”

 

“Neh, arasso.” Aku membalas senyumanmu.

 

 

 

 

 

Selalu saja seperti ini. Saat denganmu aku tidak pernah bisa menutup mulutku dan terus saja mengoceh entah apapun yang terlintas di kepalaku. Tapi tidak, bukan itu. Aku belum ingin memberitahumu tentang hal itu. Biarlah aku sejenak menyimpannya.

 

“Kenapa ini Tuan Kwon?” tanyaku saat memeriksa meja kerjamu.

 

Kita menyelesaikan makan siang kita satu jam lebih lama dari waktu yang seharusnya dibutuhkan. Tapi aku tidak akan mengeluh.

 

“Apa maksudmu, Nabi-ya?” matamu menyelidik, lagi dengan tatapan matamua yang serupa sinar X-ray.

 

“Kenapa kamu tidak memajang foto istrimu?” tanyaku setelah memastikan bahwa pemeriksaan mataku tidak menemukan satupun foto istrimu di meja kerjamu. Tidak hanya foto istrimu, bahkan tidak ada gambar apapun di ruangan ini.

 

“Apakah itu harus?” tanyamu.

 

Mataku menyipit mendengar jawabanmu yang justru balik bertanya kepadaku. “Ji, apa kamu berencana untuk menggoda klien-klien wanita yang datang ke kantormu dan berpura-pura bahwa kamu belum menikah?” selidikku, ada rasa tidak aman yang terbersit dalam hatiku saat memikirkan hal ini.

 

“Aigoo, Nabi-ya.. aku tidak punya keberanian untuk melakukannya..” Kamu menggeleng-gelengkan kepala mendengar tuduhanku, sedikit tertawa. “Baiklah, baiklan. Nanti aku akan minta kepada istriku untuk menyiapkan fotonya yang paling cantik untuk kupajang di kantor ini.” Katamu, kali ini tersenyum. Senyuman yang terpancar hingga matamu.

 

 

 

 

 

Kita mendiskusikan berbagai hal hingga lewat waktu pulang kantor. Sekretarismu sudah kamu minta pulang terlebih dahulu.

 

“Kenapa kamu menyuruh sekretarismu pulang dulu?”

 

“Memangnya kenapa?” tanyamu, mengerutkan kening.

 

“Apa kamu berencana untuk merayuku setelah tidak ada yang berpotensi mengganggu kita?” aku menyipitkan alis.

 

“Apakah itu berhasil?” tanyamu menyelidik, seulas senyuman masih tersungging di wajahmu yang makin hari kian terlihat matang. “Bagaimana dengan makan malam, sebagai ganti batalnya meeting makan siang kita tadi?” saat mengatakan kata ‘meeting’ aku memperhatikan pesan tersirat dalam pandangan matamu, tapi hanya sesaat.

 

“Oh, jaga ucapanmu Tuan Kwon, jika ada yang mendengar Anda akan dikira mengancam direktur kami untuk menyerahkan proyek ini padaku.” Kataku dengan nada mengejek.

 

“Aah~, rupanya aku ketahuan.” Kamu tertawa. “Jadi bagaimana dengan tawaran makan malamnya?”

 

“Apa istrimu tidak sedang menunggumu untuk makan malam di rumah?” aku meneruskan permainan ini. Sudah terlanjur, kamu membuatku menikmatinya.

 

Pekerjaan ini benar-benar telah terkesampingkan, aku yakin seratus persen. Kamu juga pasti sudah melupakan tentang pekerjaan ini sejak kamu menyuruh sekretarismu itu pulang tadi. Aku tahu, kamu tidak pernah membiarkanku bekerja melebihi batas waktu yang seharusnya.

 

“Tidak, seratus persen dia tidak sedang di rumah. Dan saat ini pun sudah ada yang memastikannya untuk mengisi perutnya agar dia tidak kelaparan. Jadi kamu tidak punya pilihan lain lagi, Nabi-ah..”

 

Dan dengan begitu kamu sudah menarikku berdiri dan keluar dari kantormu. Beberapa karyawanmu yang masih tersisa di gedung membungkuk hormat padamu dan sedikit tersenyum sungkan, memandangi tangan kita yang saling bergandengan – meskipun sebenarnya tanganku digenggam oleh tanganmu.

 

Tapi kamu sepertinya sama sekali tidak peduli dengan hal itu, membuatku menahan malu seorang diri. Kamu memang tidak pernah mau memikirkan apa kata orang tentangmu. Lain halnya denganku.

 

 

 

 

 

Menikmati momen kita, aku menyenderkan kepalaku ke lenganmu, menggandeng tanganmu erat. Kamu sempat menolak permintaanku untuk berjalan-jalan. Membakar kalori setelah porsi makan yang diluar kebiasaanku itu, meskipun aku tahu alasannya sekarang kenapa. Dan aku juga sangat tahu, kamu tidak bisa berkata tidak padaku. Tidak jika aku memegang semua kelemahanmu.

 

“Ji..” panggilku dalam gumaman.

 

“Hmm..”

 

Kamu bilang aku bisa terserang flu. Udara memang sedang kurang bersahabat. Sekarang sudah memasuki penghujung musim panas. Angin dan hujan datang tanpa diduga, dan lagi kita sering lupa untuk memperbarui informasi mengenai cuaca. Tidak sekali dua kali kita terpaksa berlarian menghindari hujan karena lupa tidak membawa payung. Bahkan hal itu sudah berlaku sejak bertahun-tahun lamanya, sejak masa kuliah kita.

 

“Ji..” aku suka saat menyebut namamu.

 

“Ya..”

 

Inilah kamu, selalu sabar menghadapiku. Setelah semua yang terjadi diantara kita. Tentang anganku yang lain yang ternyata harus berhenti hanya sebagai angan. Tentang kita yang sekarang.. hanya mencoba menjalani hidup kita sebaik mungkin.. sebagaimana yang telah digariskan.

 

“Jiyong..” uh, namamu serupa mantra bagiku. Dan aku tidak bisa menyembunyikannya lebih lama dari ini.

 

Kamu menghentikan langkahmu. Membuatku juga harus berhenti juga. Aku mengangkat kepalaku, masih dengan memeluk lenganmu, saat kurasakan kamu menatapku.

 

Lagi-lagi, matamu itu menghipnotisku. Curang!

 

Perlahan aku melepaskan genggaman tanganmu dari tanganku. Menghindari tatapan manik matamu.

 

“Jiyong..” lagi, aku memanggil namamu. Masih belum berani menatap matamu. “A-aku.. pagi tadi..”

 

“Pagi tadi, kamu..?”

 

“Aku.. pergi..”

 

“Kamu pergi..?”

 

“Sebelum ke kantor aku pergi..” Ya Tuhan, kenapa denganku. Kemana kemampuanku menyusun kalimat dengan baik. Ah, kamu benar-benar mengacaukanku.

 

“Kemana..?”

 

“Aku pergi ke rumah sakit..” jawabku perlahan.

 

“Mwo?” aku yakin matamu melebar sekarang dari nada bicaramu. Ingat, aku masih belum berani menatap matamu.

 

“Neh, aku pergi ke rumah sakit..”

 

“Apa kamu sakit? Gwencana?” dan sudah kutebak, kamu pasti akan jadi histeris begini. “Yah! Kalau kamu sakit kenapa kamu pergi mengunjungi makamnya dengan menyetir sendiri? Seharusnya kamu memintaku menemanimu.. dan harusnya kamu istirahat saja di rumah!” dan tanganmu langsung bergerilnya memeriksa kening dan leherku. Memeriksa apakah suhu badanku naik tidak normal atau bagaimana.

 

“Ji..”

 

Tapi aku pun tidak mampu menghentikanmu sekarang. “Yah! Kita pulang sekarang! Aisht, kenapa aku menurutimu untuk berjalan-jalan..” kedua tanganmu memegang wajahku, membuatku menatapmu setelah beberapa saat.

 

“Jiyong..” panggilku, tapi kamu masih sibuk dengan ocehanmu.

 

“Aisht.. kenapa kamu tidak bilang dari tadi, seharusnya…” aku kesal saat kamu tidak mau mendengarkanku seperti ini.

 

“Jiyong!” teriakanku menghentikanmu meneruskan entah apa yang akan kamu katakan.

 

“Dara..” nah, kamu memanggilku dengan namaku.

 

“Jiyong, aku baik-baik saja..”

 

“Lalu kenapa kamu harus ke rumah sakit?”

 

“Aku..”

 

“Kamu..?”

 

“.. hanya..”

 

“Kamu hanya..”

 

“.. ingin memastikan sesuatu..” argh.. aku tidak tahu cara menyampaikannya. Tidak disaat aku sangat bahagia dan wajahmu begitu cemas.

 

“Huh?” kamu benar-benar tidak bisa menangkap arah pembicaraanku ini. “Apa?” tanyamu, “Apa yang harus kamu pastikan?”

 

Aku menarik nafas dalam, meletakkan kedua tangannku di atas perutku. Mencari kata yang tepat. Aku tidak begitu yakin dengan reaksi yang akan kamu tunjukkan. Tidak, karena kita memang tidak pernah membicarakan tentang ini. Kita bahagia dengan apa yang telah kita miliki.

 

“Aku hanya ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja,” kataku.

 

“Huh? Dia? Siapa?” matamu memicing curiga.

 

Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaanmu.

 

Keningmu berkerut, dengan kedua alismu terangkat. Kamu memandangiku dengan tatapan bertanya. Lalu dalam hitungan detik kemudian, matamu melebar. Itu sinyal yang memberitahuku bahwa kamu mengerti dengan apa yang aku maksud. Aku mengangguk mengiyakan pertanyaan yang tersirat di matamu.

 

Tapi bukan tatapan kosong seperti itu yang aku harapkan akan kamu tunjukkan setelah aku memberitahumu tentang hal ini. Apakah kamu tidak menginginkan ini terjadi?

 

Tiba-tiba saja aku merasakan sesak dalam dadaku. Otakku mereka-reka kemungkinanmu untuk tidak menginginkan anak ini – kemungkinanmu untuk tidak menginginkanku dalam hidupmu lagi.

 

Lalu tubuhku oleng ke samping, saat kurasakan seseorang tanpa sengaja mengenyenggolku dari samping. Sepertinya dia berjalan tanpa melihat, lagi pula ini salah kita yang berdiri diam di saat banyak orang lain yang lewat. Aku tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhku. Tidak, jika kamu menatap kosong seperti itu padaku. Aku memang sudah terbiasa dengan tatapan matamu, tapi bukan tatapan yang satu ini.

 

Aku hanya menunggu tubuhku menabrak paving, tapi hal itu tidak terjadi. “Gwencana?” yang kutahu sekarang aku sudah ada dalam pelukanmu.

 

Aku mengangguk, tak sanggup menjawab bahwa aku baik-baik saja. Gila. Aku tidak baik, tidak karena kamu tidak terlihat gembira saat aku memberitahumu aku sedang mengandung – meski aku memang tidak mengatakannya secara langsung.

 

“Mianhe.. mianhe..” seorang pria muda yang menyenggolku tadi terus meminta maaf.

 

“Yah!” Kamu berteriak, masih memelukku. “Hati-hati kalau berjalan!”

 

“Ji.. sudahlah..” aku berusaha menenangkanmu.

 

“Tapi dia hampir membuatmu jatuh..”

 

“Aku tidak apa-apa..” kataku, memberikan senyumanku yang kurasa bisa menenangkanmu.

 

“Kamu yakin?” tanyamu lembut.

 

Aku mengangguk. Kamu mengeratkan pelukanmu.

 

“Mianhe,”

 

“Lain kali perhatikanlah jalanmu..” kata jiyong pada pemuda itu. Menyuruhnya pergi dengan pandangan matanya.

 

Diam. Masih dalam posisi kita berpelukan di pedestrian. Orang-orang mulai menjadikan kita tontonan.

 

“Ji..” aku mulai merasa tidak nyaman menjadi pusat perhatian di tempat umum begini.

 

“Sst..” kamu mengisyaratkanku untuk diam.

 

“Jiyong~,” aku sedikit merengek untuk minta dilepaskan dari pelukanmu. Tapi kamu justru mengeratkan lenganmu, mendekapku semakin erat.

 

“Kamu tidak tahu betapa bahagianya aku, jagiya..” katamu.

 

Apakah telingaku tidak salah dengar. Kamu bahagia? Tapi ekspresi tadi? Aku memaksa mendorongmu menjauh.

 

“Mwo?” tanyaku kaget. “Kamu bahagia?” tanyaku.

 

“Tentu saja aku bahagia!” sahutmu.

 

“Tapi ekspresimu tadi..”

 

“Aku hanya tidak tahu harus berekspresi seperti apa..” katamu memotong ucapanku. “Kamu mempermainkanku tadi, kupikir terjadi sesuatu padamu..”

 

“Benarkah?”

 

“Aisht.. pabo yeoja! Tentu saja aku senang akan menjadi seorang appa!”

 

“Sungguh?” aku masih belum yakin. Maksudku..

 

“Yah! Apa yang ada dalam pikiranmu itu, huh? Aku hanya tidak tahu harus bereaksi bagaimana tadi, jangan kamu masukkan kedalam hati..” dia menarikku kembali ke pelukannya, lalu mengecup puncak kepalaku pelan.

 

“Kamu tidak tahu betapa bahagianya aku, Dara-ah..” bisikmu lagi.

 

Aku tersenyum melihatmu tersenyum lebar, gagal menyembunyikan rasa senangmu. Aku yakin sekarang, bahwa kamu benar-benar merasa senang mengetahui kabar kehamilanku.

 

Kamu menggingit bibir bawahmu, dan aku pikir aku tidak akan bisa menerima apa yang selanjutnya akan kamu lakukan.

 

“Aku akan menjadi seorang appa!” serunya masih memelukku.

 

Kamu tahu aku tidak bisa menjadi perhatian publik, tapi masih saja kamu mencari perhatian seperti ini. Aku menyembunyikan wajahku di dadamu.

 

“Agassi, aku akan menjadi seorang appa!”

 

“Ahjussi, istriku sedang hamil anak pertama kami!”

 

“Ahjumma, istriku hamil, aku akan segera menjadi seorang appa!”

 

Kamu mulai memberitahukan kabar kehamilanku kepada siapa saja yang kamu lihat berjalan didekat kita. Aku semakin mengeratkan pelukanku, mengubur wajahku semakin dalam, tidak bisa menahan malu karena tingkah gilamu itu.

 

“Selamat..”

 

“Selamat untukmu, anak muda!”

 

“Aigoo, benarkah selamat nak,”

 

Mereka memberi selamat kepada kita. Aku yakin wajahku sudah semerah dasi yang kamu kenakan sekarang.

 

“AKU AKAN MENJADI SEORANG APPA!!!”

 

“Yah! Kwon Jiyong!!”

 

“Terima kasih jagiya, terima kasih…” bisikmu di telingaku. “Terima kasih telah mengandung anakku.. anak kita..”

 

 

==========

 

~END~

 

 

==========

 

 

Apakah saya sukses? Apakah ada yang mengira bahwa Jiyong tidak menikahi Dara? hahahaha, maaf atas keusilan saya… *sengaja* :p

Iya, mereka sebenarnya sudah menikah, kapannya, silahkan putuskan dalam imaginasi masing-masing.. karena saya hanya punya bayangan tentang adegan diatas..

Dan tentang si “dia” tunangan Dara itu, saya tidak bisa memutuskan akan menggunakan siapa.. imaginatif kah atau karakter asli kah?? Nah, itu saya serahkan kepada kalian untuk memutuskan.. siapapun boleh..😄

 

Dan dengan begini, saya sudahi cerita Nabi ini, maaf kalau selama ini selalu bikin gemes karena irit kalimat.. dan setelah saya bandingkan dengan epilog ini, bener2 jauh bangeeeeet… >…< yah, maklum mood saya saat menulis kedelapan chapter awal itu berbeda jauh dengan sekarang.. ini juga saya tidak yakin apakah tulisan saya yang ini masih sejenis gaya bahasanya dengan yang sebelum2nya…

Ah, kelamaan penutupnya… intinya, saya mengucapkan terima kasih untuk semuanya… ^o^)/ sampai jumpa di cerita saya yang lain (mungkin??)

 

Salam, *ppyong* ^_~