ad

Author : Ms. YongYong

Title     : Baby…baby… After Story “Eomma, Saranghae

Cast     :

  • KwonJi Yong
  • Park HaeYong (You)
  • KwonJi Hae
  • Other

Genre  : Romance, 17+, Chaptered

Twitter            : @diina_mp

A/N      : Annyeooooooooooooooooonggg yeorobun… Tiba-tiba saya mendapatkan inspirasi untuk membuat after story dari serial baby..baby.. ini. Selamat membaca dan semoga tidak mengecewakan. RCL yaaaaw ^^

Previously : 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7

 

HaeYong’s Side

Kilauan sinar mentari pagi ini dengan lancangnya menembus tirai jendela kamar tidurku. Menelusup menyilaukan mataku yang masih terpejam. Dengan susah payah akhirnya kuputuskan untuk membuka mata. Terasa begitu berat. Gagal sudah rencanaku untuk bangun siang di akhir pekan ini. Tapi tak apalah. Walaupun sedikit terusik, namun semuanya terobati oleh pemandangan indah yang dapat kusaksikan di sekitarku. Wajah itu, wajah tampan yang tengah terlelap yang tak pernah bosan-bosannya kupandangi saatku terjaga. Wajah yang bagiku menyerupai rupa malaikan –meski aku belum pernah bertemu dengan malaikat itu sendiri. Suamiku yang sungguh menawan bahkan ketika ia terlelap dengan sangat nyenyak. Sedikitpun sosok itu tak merasa terusik dengan silaunya mentari yang semakin menerobos tirai jendela besar kamar ini. Nampaknya Ji Yong masih begitu lelah selepas menemani putri kami bermain seharian kemarin. Perlahan kugerakkan tenganku, menyentuh pipi lembutnya dengan jemariku. Sesuatu yang selalu kulakukan jika Ji Yong masih terlelap ketika aku telah membuka mata. Hobi baruku semenjak menikah dengannya. Menikah. Haha rasanya aku ingin sekali tertawa keras mendengar kata itu. Teringat memori lama yang dulu terjadi di antara kami. Sungguh aku tak pernah menyangka jika aku akan menikah dengan Ji Yong dan benar-benar membuat keluarga yang bahagia seperti saat ini. Dulu, itu hanyalah angan yang selalu kukubur sedalam mungkin. Kini, aku benar-benar bersyukur bahkan atas segala masalah-masalah besar yang pernah meninpaku dan dirinya. Tuhan, terima kasih atas segala hal yang telah kau rencanakan dalam perjalanan hidupku dan keluargu. Aku benar-benar bahagia dengan takdir yang telah kau buat. Rasa bahagia yang tiba-tiba menyelimuti hatiku ini memunculkan keinginan untuk mengecup bibir suamiku yang tengah terlelap. Perlahan kudekatkan wajahku dengan wajahnya. Semakin dekat, dekat, dan dekat. Baru saja bibir ini akan menyentuh bibirnya, suara gebrakan pintu yang keras membuatku kembali menarik diri dengan sangat cepat.

AppaAppa… cepat bangun! Bukankah appa telah berjanji akan membawaku menemui oppa tampan pagi ini?” gadis itu berlari sambil terus berteriak nyaring dan melompat menaiki kasur. Mengguncang-guncang tubuh ayahnya sekuat tenaga tanpa menghiraukanku yang terus menatapnya tajam. Bukan karena marah, hanya alibi untuk menutupi keterkejutanku.

“JiHae-ya… jangan dulu ganggu appa! Kau lihat appamu masih sangat mengantuk?” selaku di tengah-tengah teriakannya.

Akhirnya bocah itu menyadari keberadaanku. Hhh dia terlalu terbiasa mengacuhkanku jika tengah berada di sisi ayahnya. “Morning, eomma…” sapanya sebelum mengecup kedua pipiku. Aku hanya bisa tersenyum mendengar sapaannya. Bahasa inggrisnya terdengar janggal.

“Ayo kita keluar! Mau membantu eomma menyiapkan bekal piknik sambil menunggu appa bangun?” tawarku dan Ji Hae langsung menjawabnya dengan gelengan cepat.

“Aku tak akan keluar sebelum appa bangun. Appa sudah janji akan membawaku bertemu oppa tampan pagi ini.”

Aku menatapnya sebal. Dasar bocah centil. Siapa yang dipanggilnya dengan oppa tampan? Joong Ki oppa? Oh Tuhan, dia bahkan lebih tua dua tahun dari Ji Yong. Hanya karena wajahnya yang baby face dan menggemaskan, putriku ikut-ikutan memanggilnya oppa?

“Jangan pandangi putrimu dengan tatapan semengerikan itu, chagi-ya…” Ji Yong tiba-tiba saja bangkit dan mengecup bibirku sekilas. “Kau tau, aku lelah berpura-pura tidur demi menunggu morning kiss darimu dan kau malah mengacuhkanku.” Decaknya berpura-pura sebal.

Aku hanya menatapnya datar. Entahlah, aku tak bisa sekali saja memberikannya tatapan penuh cinta. Tidak terbiasa.

Appa… cepat mandi! Aku tak sabar ingin bertemu oppa tampan…” kini Ji Hae mendorong tubuh ayahnya agar segera turun dari ranjang.

“Joong Ki oppa itu pamanmu, aegi-ya. Bukan oppamu!” tegasku.

Ji Hae diam. Memiringkan kepalanya dan menatapku sebal. “Dongsaeng-i… jangan sampai kau meniru sifat bawel dan menyebalkan yang eomma miliki. Aku mungkin tak akan mau bermain denganmu jika kau seperti eomma.” Dia mengecup perutku yang sudah kembali terlihat membuncit lalu beranjak pergi.

Aku menghela napas berat. Kenapa Ji Hae selalu menampakkan sikap yang seolah-olah tidak menyukaiku. Selalu membuatku merasa ia sama sekali tidak menyayangiku. Apakah aku begitu menyebalkan di matanya?

“Jangan menekuk wajah seperti itu, istriku yang cantik… kau terlihat buruk.”

Kurasakan tangan hangat Ji Yong menempel di pipiku. Menangkup wajahku sehingga sejajar dengan wajah tampannya. Aku menatap matanya sendu. Tak bisa menyembunyikan perasaan gundahku. “Sepertinya dia benar-benar tak menyukaiku.” Jawabku sambil menyingkirkan kedua tangan Ji Yong dan melangkah pergi. Rasanya ingin menangis mendapati kenyataan bahwa anak yang kukandung selama sembilan bulan dengan penuh perjuangan dan kurawat dengan penuh kasih sayang selalu bersikap dingin padaku. Mungkin itu karma dari Tuhan karena aku sempat sangat membencinya ketika masih berada di rahimku dulu.

Tanpa kusadari kini tangan hangat Ji Yong telah merengkuh tubuhku. Memelukku dari belakang. Sesekali jemarinya mengelus perutku penuh kasih. “Kau tak boleh berpikiran seperti itu. Mana mungkin Ji Hae tidak menyukaimu. Kau adalah ibu yang sangat sempurna. Tak ada cela untuk membuatnya tidak menyukaimu. Dia hanya belum bisa mengungkapkan rasa sayangnya dengan benar.”

Setetes air mata akhirnya jatuh bergulir di pipiku. Kini aku terisak pilu. Aku merasa apa yang dikatakan Ji Yong sama sekali berbeda dengan fakta yang ada. “Aku sangat menyayanginya, Ji Yong-ah… Bahkan jauh sebelum ia terlahir ke dunia ini, aku sudah sangat menyayanginya. Melebihi rasa sayang pada diriku sendiri. Tapi kenapa dia seolah-olah membenciku…?”

Ji Yong memutar tubuhku hingga aku tepat menghadapnya. Jemari helusnya bergerak lincah menghapus tetesan air mata yang tak henti mengaliri pipiku. “Kau tak boleh berpikiran negative seperti itu. Ji Hae tak mungkin membencimu. Kau hanya belum menyadari rasa sayang yang dimilikinya untukmu. Tak ada seorang anakpun yang membenci ibunya.” Dia merengkuhku. Membawaku ke dalam dekapan hangatnya yang sangat nyaman dan menenangkan.

“Mungkinkah ini karma? Balasan karena aku sempat membencinya dulu?”

“Sssst… sudah kubilang untuk tidak berpikiran negative. Itu artinya kau tak boleh berpikiran negative! Kau hanya sedang sensitive, chagi-ya. Bukankah kau juga begitu ketika mengandung Ji Hae dulu? Jangan ganggu pikiran dan emosimu dengan kesimpulan-kesimpulan tidak benar seperti itu! Aku tak igin terjadi hal buruk padamu dan janinmu. Jangan pernah lagi membuatku merasa ingin mengakhiri hidupku untuk kedua kalinya!” tegas Ji Yong penuh penekanan. Perlahan ia mendekatkan wajahnya dan mengecup bibirku dalam. “Kau harus bisa menjaga dirimu dan calon bayi kita…” tambahnya sebelum mengecup perutku.

Baby…baby…

 

Ji Yong’s Side

Appa… apakah oppa tampan akan ikut bersama kita piknik hari ini?” Tanya Ji Hae antusias.

“Ya. Apa kau bahagia?” tanyaku balik.

Ji Hae mengangguk riang. “Tentu saja aku bahagia. Aku saaaangat bahagia. Apa nanti aku boleh bermain berdua dengan oppa tampan?Appa main saja dengan eomma. Aku tak akan mengganggu. Bagaimana?” tawarnya.

Aku hanya tertawa pelan dan mengangguk. Pertanda setuju dengan tawarannya.

“Thank you, appa…” pekik Ji Hae riang sebelum mengecup pipiku. Aku heran, pendekatan macam apa yang dilakukan oleh Joong Ki hyung pada putriku hingga mereka bisa begitu akrab. Padahal mereka hanya beberapa kali bertemu. Itupun di sela-sela waktu aku membicarakan bisnis dengannya. Sungguh menakjubkan.

“You’re welcome, aegi-ya…” jawabku. “Sekarang duduk yang manis, okay?”

Dapat kulihat Ji Hae mengangguk cepat dan duduk dengan manis di belakang. Gadis penurut. Aku bersyukur karena Ji Hae selalu menjadi anak manis yang penurut. Kini pandanganku beralih menatap HaeYong yang sedari tadi sama sekali belum mengeluarkan suara. Ia masih betah memandang ke arah jendela seolah-olah pemandangan di luar sana sangat menarik dan sayang untuk dilewatkan.  Tanpa melihat matanyapun aku masih bisa meraskan betapa sendunya tatapan mata HaeYong. Ia pasti masih memikirkan kejadian pagi ini. Aku tau, ia pasti sangat terluka karena sikap dingin yang selalu Ji Hae tunjukkan kepadanya. Tak heran jika HaeYong selalu saja berpikiran bahwa gadis kecil kami itu tidak menyukainya mengingat Ji Hae memang lebih dekat denganku dibandingkan dengan dirinya. Sejak awal memang Ji Hae sudah menunjukkan respon yang berbeda antara kepadaku dan ibunya. Dia lebih dekat denganku, selalu menuruti kata-kataku, dan lebih senang bemain denganku. Belum lagi bocah itu sering kali mengacuhkan HaeYong jika berada di sisiku seolah-olah HaeYong hanyalah orang lain yang berada di tempat yang sama dengan kami. Itu pasti sangat menyakitkan. Aku tau. Karena itu, tak jarang aku menekankan pada Ji Hae bahwa ia tidak boleh bersikap dingin terhadap ibunya. Bahkan sesekali aku menceritakan padanya tentang betapa besarnya perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan HaeYong demi menjaganya, agar ia bisa terlahir ke dunia ini. Ya, tanpa sepengetahuan HaeYong, aku memang telah menceritakan banyak hal kepada putri kami. Bukan apa-apa. Aku hanya ingin dia mendengar semuanya pertama kali dari diriku. Aku tak ingin Ji Hae mengetahui segalanya dari orang lain dan mengambil kesimpulan yang salah. Tapi kelihatannya gadis tujuh tahun itu belum begitu mengerti dengan maksudku. Wajar saja, ia masih terlalu muda untuk memahami hal seberat itu. Kini aku hanya bisa berharap Ji Haeakan lebih menyayangi ibunya disaat ia sudah bisa mengerti dengan keadaan.

Oppa… ayo kita main bola bersama Gaho!” Ji Hae melompat-lompat girang begitu mobilku berhenti di parkiran khusus pengunjung pantai.

Ya, aku sengaja membawa HaeYong dan Ji Hae ke sini. Pantai Haeundae, Busan. Pantai yang sangat bersejarah bagiku. Lagi pula di sekitar sini adalah tempat kelahiran HaeYong. Mungkin saja dengan membawanya ke sini dapat sedikit menenangkan hatinya.

“Baiklah, Tuan Putri… Kita akan bermain hingga kau puas…” balas Joong Ki hyung sembari menggendong Ji Hae dan mengecup pipi chubynya. “Aku dan Ji Haeakan main di sebelah sana.” Tambahnya sebelum benar-benar pergi.

Kini hanya ada aku dan HaeYong yang masih saja diam. Membuat suasana jadi sedikit canggung di antara kami.

“Apa yang sedang mengganggu pikiran istriku ini? Kenapa kau diam saja sedari tadi, chagi-ya?” kuputuskan untuk memulai perbincangan.

HaeYong hanya tersenyum tipis dan menggeleng lemah. Seperti berusaha untuk menutupi kegundahannya yang terlalu besar. Kebiasaan.

“Jangan biasakan membohongi suamimu ini. Aku terlalu jenius untuk kau tipu, HaeYong-ah…”

“Bolehkan aku bersandar di bahumu? Aku lelah.” Jawabnya.

Aku hanya mengangguk. Mengurungkan niatku untuk bertanya lebih lanjut. Di saat seperti ini aku memang hanya akan menuruti keinginannya. Jika sudah begini, artinya HaeYong tak ingin bicara. Ia hanya butuh aku ada sebagai tempatnya bersandar, dan aku akan melakukannya. Aku menuntunnya ke tempat yang lebih teduh. Di bawah sebuah pohon yang lumayan rindang, aku membiarkannya memposisikan dirinya senyaman mungkin. Ketika HaeYong sudah tak lagi bergerak, kurengkuh tubuhnya. Mengelus rambut ikalnya dengan lembut. Berharap beban yang dirasakannya akan sedikit berkurng. Tak ada kata yang terucap. Hanya deburan ombak dan semilir angin yang sejuk yang menuntun kami hingga kealam mimpi.

 

__A few moments later__

Appaappaireona-yo…”

Kurasakan tubuhku berguncang. Bukan, seperti ada yang mengguncang tubuhku dan samar-samar aku mendengar suara tangisan. Seperti suara Ji Hae. Akhirnya dengan berat hati aku membuka mata. Ternyata memang Ji Hae dan ia memang tengah menangis. Joong Ki hyung terlihat kewalahan membujuknya agar berhenti menangis.

Waeyoaegi-ya?” tanyaku dan membawanya ke pelukanku.

Eommaeodiga?” ujarnya.

Aku menatap ke sekelilingku. Ya Tuhan, bodohnya aku hingga melupakan HaeYong yang tadinya berada di pelukanku. Mataku melebar. Kini kesadaranku telah terkumpul sepenuhnya. Masih dengan menggendong Ji Hae di pelukanku, aku berdiri. Menyisiri setiap sudut pantai yang dapat terjangkau oleh penglihatanku. Aku mulai panic ketika tak dapat menemukan HaeYong di sekitar tempat kami berada.

“Dimana eomma?” Tanya Ji Hae lagi. Tangisannya semakin nyaring ketika tak mendapatkan jawaban dariku.

“Kami sudah mencari di sekitar sini dan tetap tidak menemukan HaeYong.” Jelas Joong Ki hyung.

Aku meremas rambutku. Frustasi, cemas, marah. Semuanya bercampur. Ada apa dengan wanita itu? Kenapa nampaknya begitu senang membuatku nyaris gila seperti ini?

Hyung, aku akan mencarinya ke arah sana, bisakah kau menjaga Ji Hae sementara aku pergi?”

“Ne. Pergilah! Aku dan Ji Haeakan mencari di sekitar sini. Kukabari kau jika kami menemukan HaeYong.”

Aku berlari cepat meninggalkan Joong Ki hyung dan Ji Hae yang masih menangis dengan memanggil-manggil ibunya. Baru kali ini kulihat gadis itu menangis sekuat ini. Kuharap tak terjadi apa-apa dengan HaeYong dimanapun ia berada saat ini.

 

HaeYong’s Side

__In the other places__

Lelah. Ya, aku sangat lelah. Bukan hanya fisik. Batinku jauh lebih lelah. Akhirnya kuputuskan untuk berhenti melangkah. Entah sudah seberapa jauh aku melangkah. Yang kutau aku hanya berjalan menuruti kemana sepasang kaki ini membawaku, dan di sinilah aku sekarang. Di bagian ujung lain pantai ini. Sepertinya lumayan jauh dari tempatku dan Ji Yong duduk tadi. Ah, mungkin Ji Yongakan kewalahan mencariku ketika bagun nanti. Ingin kembali, tapi kaki-kaki ini sudah terlalu lelah. Menghubunginyapun aku tak bisa karena ponselku tertinggal di tempat itu. Kuputuskan untuk duduk. Menekuk lutut, menikmati semilir angin yang sejuk memainkan helaian rambutku. Kini kulipat tanganku di atas lutut dan membenamkan wajah di sana. Kupejamkan mata. Menikmati deburan ombak yang terdengar sangat merdu. Sesekali air laut terasa menjilat ujung jemari kakiku. Biarlah. Aku terlalu menikmati ketenangan ini untuk mengubah posisiku. Semua ini membuatku merasa nyaman. Rasanya ingin tertidur. Apa yang akan terjadi jika aku tertidur? Bagaimana dengan Ji Yong dan Ji Hae? Apakah mereka akan sulit menemukanku? Atau malah pergi dan melaporkan kehilanganku pada polisi setempat? Sepertinya akan memalukan jika hal itu terjadi dan para polisi itu menemukanku di sini. Aku tersenyum. Hhh sepertinya aku akan segera terlelap. Bahkan kini kurasakan ada sepasang tangan kokoh yang melingkari pinggangku. Hembusan napas si pemilik napas itu sangat terasa menyapu bahuku yang sedikit terbuka. Tangan-tangan itu terasa seperti milik Ji Yong. Ya, benar, ini adalah tangan Ji Yong. Aku sangat mengenalnya. Ia mengecup bahuku pelan. Mimpi ini sangat membuatku nyaman.

“Kenapa kau meninggalkanku, Nyonya Kwon? Bukankah sudah kukatakan agar tidak membuatku merasa ingin mengakhiri hidupku untuk yang kedua kalinya?”

Suara itu terdengar sangat nyata. Kata-katanya terlalu nyata untuk menjadi sebuah mimpi. Perlahan kubuka mataku. Ternyata bukan mimpi. Ji Yong benar-benar berada di sini. Memelukku, meletakkan dagunya di bahuku. Kurasakan ia mempererat pelukannya. Membuatku merasa nyaman.

“Biarkan seperti ini sebentar saja…” pintaku.

Ji Yong tak menjawab, juga tak bergerak. Itu artinya dia mengabulkan permintaanku. Memang selalu begitu. Ji Yong tak pernah menolak keinginanku. Begitulah caranya menunjukkan rasa cinta padaku. Sudah beberapa saat kami hanya berpelukan dalam diam. Sama-sama menikmati ketenangan yang disuguhkan bagian ujung pantai yang sepi ini. Aku mulai bergerak, memutar tubuhku menghadap Ji Yong. Menatapnya dalam diam.

“Kau belum menjawab petanyaanku, nyonya…” katanya.

Aku tersenyum tipis. “hanya tak ingin mengganggu tidur nyenyakmu.”

“Aku lebih memilih tidur nyenyakku terganggu dari pada tidak menemukanmu disaat aku membuka mataku, seperti apa yang terjadi tadi.”

“Maaf… tadinya hanya ingin jalan-jalan tanpa harus mengganggu tidurmu ataupun kesenangan Ji Hae dengan Joong Ki oppa. Aku tanpa sadar sudah berada di sini dan terlalu nyaman untuk pergi terlalu cepat…”

“Jangan lakukan lagi jika kau tak ingin melihatku terkurung di jeruji besi rumah sakit jiwa.” Canda Ji Yong.

Aku kembali hanya tersenyum.

“Bisakah kita kembali sekarang?”

Aku mengangguk. “Apa kau mau menggendongku? Kakiku lelah sekali karena terlalu jauh berjalan.”

“Baiklah, Tuan Putri…” katanya sebelum mengecup keningku dan meraih tubuhku ke dalam gendongannya. Kukalungkan kedua tanganku ke leher Ji Yong dan menyandarkan kepalaku di dadanya. Membuatku merasa hangat. Aku dapat merasakan debaran jantungnya yang lumayan kencang dengan posisi ini.

“Kau berdebar-debar…” ujarku tanpa sadar. Terbawa suasana romantic yang Ji Yong ciptakan.

“Karena aku tengah menggendong seseorang yang sangat sempurna. Sosok ibu yang sangat mengagumkan. Wanita yang paling kucintai.” Jawabnya pelan.

Kurasakan pipiku memanas. Aku semakin merapatkan wajahku ke dadanya agar Ji Yong tak bisa melihat wajahku yang merona. Kini ia tengah tertawa pelan. Menertawakan tingkahku.

“Kau tau, Ji Hae menangis histeris karena kau menghilang?”

“Benarkah?”

“Ya… sepertinya dia sangat menghawatirkanmu. Tangisannya sangat kencang. Membuatku cemas. Takut terjadi apa-apa padamu. Bukankah ada ikatan batin antara seorang ibu dan anaknya?”

Aku mengangguk pelan.

“Menurutku, itu artinya Ji Hae sangat menyayangimu dan takut kehilanganmu. Bukankah begitu?”

Lagi, aku hanya mengangguk. Terlalu sibuk membayangkan Ji Hae yang menangis karena menghawatirkanku.

“Jangan lagi berpikir bahwa dia membencimu!”

“Arasso…” jawabku akhirnya. Kurasakan Ji Yong mengecup puncak kepalaku. Ia selalu bisa membuatku terharu dengan tingkah romantic yang dilakukannya.

Eommaeommagwaenchanayo?”

Dapat kudengar suara nyaring Ji Hae yang berteriak dari kejauhan.

Eomma…” ia kembali berteriak.

Aku mengangkat kepalaku yang tadinya bersandar di dada Ji Yong. Melihat ke arah sumber suara dan mendapatkan Ji Hae yang tengah berlari mendekatiku. Dia terjatuh. Ingin rasanya aku melompat dari pelukan Ji Yong dan menngejarnya, namun pria ini menahanku.

“Tetaplah seperti tadi. Aku hanya ingin kau menyadari bahwa putri kita sangat menyayangimu.” Katanya.

Aku menurut. Kembali kusandarkan kepalaku di dada Ji Yong.

EommaEommaappa, eomma baik-baik saja, kan?”

Dia menangis. Terdengar sangat jelas. Ya Tuhan, benarkah dia menghawatirkanku?

Eomma hanya lelah. Mungkin karena adikmu terlalu banyak bergerak di dalam sana.” Jawab Ji Yong lembut.

“Benarkah? Apakah baik-baik saja?”

“Ne.”

Air mata akhirnya jatuh membasahi pipiku. Aku tak bisa lagi menahannya. Aku benar-benar terharu mengetahui Ji Hae ternyata sangat menghawatirkan diriku.

“Bolehkan aku melihat eomma?”

“Tentu.”

Ji Yong membungkukkan tubuhnya hingga sejajar dengan tubuh Ji Hae. Cepat kuhapus air mataku dan mengangkat kepalakku. Menatap Ji Hae yang terus saja memandangiku penuh kecemasan. “Eommagwaenchanayo?” ia menyentuh pipiku. “Kenapa eomma menangis? Apakah eomma sakit?” tanyanya polos.

Tak tahan, kurengkuh sosok mungil itu ke dalam pelukanku. Kembali aku menangis.

Eomma… jangan tinggalkan aku lagi, ne? Aku tidak ingin eomma pergi… Aku takut eomma meninggalkanku…”

“Ne…” jawabku dengan susah payah sembari menahan isakanku.

Eomma, saranghae…”

NadoNadosaranghae, aegi-ya…” balasku sembari mengecup puncak kepalanya.

 

Akhirnyaa selesai juga after story ini. Pertama kalinya aku bisa bikin ff Cuma dalam hitungan jam. Biasanya bisa sampai berminggu-minggu Cuma untuk satu buah ff. Semoga readers suka dengan cerita kali ini. RCL yaaaa ^^. Mungkin akanada after story lainnya kalau respon untuk ff ini bagus J