The Rain’s Story

Nama author : yay4toppie

Cast(s) : TOP, Choi Seung Hyun, Seung Ri, Lee Seung Hyun, Song Ji In (OC) , Song Yoon Mi (OC)

Genre/rating/length : romance , oneshot

Disclaimer : –

A/N : first fanfiction. minta kritik dan saran ya kalo ada, soalnya bukan tipe penulis, hihi🙂 Makasih banyak yang udah mau comment / subscribe!

twitter : @ellsmiss

Hari ini, hujan mengguyur Bumi seharian penuh. Bahkan 1 payung besar pun tidak cukup untuk melindungi dari semua hantaman air hujan. Sore ini, Song Ji In yang biasa dipanggil Ji In akan pulang dari kampusnya menggunakan bus umum seperti biasa. Dia berjalan kaki menggunakan payung besar berwarna pink transparan menuju halte di dekat kantor penerbangan Korean Airlines.

Ji In sedang membersihkan rok-nya yang sedikit basah terkena air hujan ketika dia melihat seorang laki-laki yang tampaknya lebih tua 2 tahun darinya berlari-lari cepat menuju halte Bis. Ji In tidak mempedulikannya dan melirik jam tangannya.

“Hah, masih setengah jam lagi.” Lalu dia duduk dan mengeluarkan komik , membacanya sambil menengok sekali ke arah laki-laki itu. Dia basah kuyup. Sepertinya sedang dalam setengah perjalanan lalu hujan deras dan dia sama sekali tidak mempersiapkan apa-apa bahkan jaket pun tidak. Ji In merasa simpati ingin memberikan sapu tangannya, ketika laki-laki itu tiba-tiba dengan cepat berlari pergi. Dan bus pun datang, Ji In lalu naik ke dalam bus .

“Aku pulang!”

“Oh!  Ji In! Kau tidak kehujanan?” Ibu Ji In seorang pramugari Korean Airlines. Hari ini, dia sedang libur tugas dan menemani Ji In di rumah. Sementara Ayahnya, adalah seorang Arsitek. Ji In memiliki 1 adik perempuan yang manis yang umurnya terpaut hanya 1 tahun. Rambutnya sedada dan dibuat bergelombang. Adiknya  kuliah jurusan performing Arts di SOPA (Seoul of Performing Arts) majornya Ballet. Kelak, dia ingin masuk teater dan bisa pergi mengelilingi seluruh dunia dengan teamnya.

Ji In bersekolah di sekolah pramugari Korean Airlines dia bercita-cita ingin sekali menjadi seperti Ibunya, seorang pramugari. Karena menurutnya, pramugari sangat anggun dan pintar.

“Tidak, Eomma. Terimakasih telah membelikan payung besar ini.” Ji In menghempaskan tubuhnya di sofa, duduk di sebelah Ibunya.

“Yasudah, mandi sana. Bagaimana persiapan ujian terbangmu minggu depan , Ji In?”

“Baik, Bu. Aku tidak sabar ingin cepat-cepat menjadi seperti Eomma!”

“Kau sudah yakin? Pekerjaan ini tidak semudah kelihatannya, lho.”

“Aku sudah banyak membaca suka duka para pramugari dan mendengar cerita darimu. Tenang saja, aku sudah siap!”

“Baiklah, kejarlah cita-citamu sendiri Ji In. Eomma dan Appa tidak akan mengekangmu.” Eomma tersenyum

“Terimakasih, Eomma!” Ji In memeluk Eomma , lalu berdiri dan pergi mandi.

Setelah mandi, Ji In memikirkan laki-laki yang dilihatnya di halte tadi.

“Tampaknya, dia 2 tahun lebih tua dariku. Tapi kenapa tidak bisa mengira-ngira bahwa akan hujan besar? Bukannya dari pagi sudah mendung? Dan kemana dia pergi? Sepertinya terburu-buru sekali. Untuk apa dipikirkan? Dia kan orang asing!”

“Unnie!” Song Yoon Mi adik Ji In memanggilnya dari luar.

“Masuklah, Yoon Mi!”

“Ini.” Yoon Mi memberikan sebuah tiket . Tiket pertunjukkan baletnya yang akan diadakan Hari Minggu, 3

hari lagi dari sekarang, disana, dirinya tampak anggun sekali bersanding dengan teman lelakinya.

“Wah! Kau akan tampil, Yoon Mi? Siapa ini?” Sambil menatap adiknya dan menunjuk laki-laki di foto itu.

“Ya, kuharap kau bisa datang, Unnie. Oh! Dia partnerku. Seung Ri namanya. Hebat sekali dia!”

“Oh ya? Waah. Kau terlihat serasi dengannya Yoon Mi!”

“Ah! Unnie. Yasudah, aku tahu Appa dan Eomma tidak bisa datang. Jadi sangat kuharapkan kedatanganmu. Ya?”

“Ya, pasti aku datang!”

“Apa kau tidak mau mengajak temanmu?”

“Siapa?”

“Seorang pria mungkin. Kau sudah seharusnya mempunyai pacar, Unnie!”

“Hmm? Apa iya? Entahlah.”

Lalu, Yoon Mi menutup pintu kamar Ji In.

SEUNGHYUN PART

(flashback)

“Yaampun! Hujan besar! Kenapa aku bisa tidak membawa payung! Ah! Halte. Berteduh sebentar.” Lalu Seung Hyun berlari-lari ke arah halte itu. Dia melihat seorang gadis dengan pakaian yang rapi membawa payung besar dan sedang membersihkan roknya yang sedikit basah. Dia menunggu agak lama agar hujan sedikit reda. Seung Hyun berkata dalam hatinya. Cuek sekali perempuan ini, sudah dewasa tapi masih baca komik? Menarik sekali. Apa dia akan meminjamkan payungnya untukku? Yah! Lalu bagaimana dia pulang nanti? Karena sadar perempuan di sebelahnya tidak akan meminjamkan payungnya, dia cepat-cepat pergi selagi hujan mereda dan meninggalkan perempuan itu disana.

Di dalam café, Seung Hyun bertemu Seung Ri, teman kuliahnya tapi adik kelas. Seung Ri mengambil jurusan Ballet dan Seung Hyun mengambil jurusan piano.

“Yah! Kenapa kau basah begitu, Hyung?”

“Kehujanan.”

“Kau tidak memintaku menjemputmu?”

“Tidak perlu lah.”

“Kita ke rumahku sajalah. Kau mandi dan kita bisa mengobrol disana. Kebetulan adikku dan orangtuaku sedang pergi keluar, berbelanja.”

“Baiklah. Ayo! Aku sudah kedinginan.”

Di rumah SeungRi, setelah Seung Hyun mandi mereka berbincang-bincang di kamar SeungRi.

“Ri-ya. Tadi aku melihat seorang gadis di halte.”

“Apakah dia cantik?”

“Aku tidak dapat melihat mukanya. Dia menunduk terus. Dan membaca komik! Kau tahu? Sepertinya dia sudah kuliah, tapi masih membaca komik!” Seung Hyun berkata dengan muka yang sangat gembira.

“Memang kenapa, Hyung? Aku masih membaca ini!” Seung Ri menunjukkan komik Doraemonnya.

“Yah! Kau! Seperti anak-anak saja!”

“Memangnya, kau membaca apa? Sesuatu yang bukan-bukan ya?” Seung Ri menunjuk muka Hyun dengan tatapan meledek.

“Aish! Kau ini. Tidak mungkinlah! Tapi aku juga masih mengoleksi mainan-mainan di kamarku sih. Hahaha”

Seung Ri berdiri dan pergi ke arah meja mengambil sesuatu.

“Ini! Datanglah! Jangan sampai tidak, demi temanmu yang pintar dan tampan ini! Ya?”

“Hah! Pintar dan tampan?” Seung Hyun melihat tiket pertunjukkan balet yang akan diadakan Seung Ri.

“Kau tahu ini siapa?” Seung Hyun menggeleng.

“Ini partnerku nanti! Manis ya?” Seung Ri menunjuk fotonya dan tersenyum lebar.

“Lumayan. Selera kau tidak pernah berubah.”

“Itulah aku, Hyung! Sepertinya aku tertarik padanya. Mungkin sehabis pertunjukkan aku ingin menyatakan cintaku padanya. Dia manis juga pintar bergaul.”

“Secepat itu? Gila kau.” Seung Hyun memukul pelan kepala Seung Ri yang sedang berhalusinasi.

“Yah! Tidak perlu begitu, Hyun! Aku dengar, Unnienya sekolah pramugari. Hebat sekali ya?”

“Oh ya? Sounds interesting.”

“Hmm. Apa yang ada di pikiranmu itu?” Tanya Seung Ri menyelidik.

“Tidak ada.” Seung Hyun tersenyum.

(end of flashback)

END OF SEUNGHYUN PART

Hari berikutnya, hujan masih saja turun dengan lebatnya dari tengah hari. Ji In kembali mengunjungi halte bis dan akan hendak pulang setelah 1 hari yang melelahkan walaupun hari ini pulang lebih cepat. Mengulang-ngulang kata-kata juga gaya-gaya untuk keselamatan di penerbangan. Saat Ji In sedang menukar heelsnya yang tinggi dengan sepatu flat yang nyaman, dia kembali melihat laki-laki yang ditemuinya di halte ini kemarin.

Kali ini, mereka saling tatap-menatap. Sadar bahwa pernah saling melihat satu sama lain kemarin. Ji In cepat-cepat membuang muka dan duduk di kursi halte, kali ini mengeluarkan iPod, menutup mata dan mendengarkan lagu. Masih 1 jam lagi bis akan lewat. Dia berpikir. Aigoo, lagi-lagi tidak membawa payung? Seung Hyun merasa tidak ingin beranjak dari sana. Dia ingin menunggu sampai perempuan itu pergi. Ji In merasa sepertinya laki-laki itu menunggui dirinya.

Tapi dia tidak peduli, dan tetap mendengarkan iPodnya. Tanpa sadar, dia tertidur karena kelelahan, dan tidak menyadari bahwa bus sudah berhenti di depan halte.

“Sillyehamnida, Agassi!” Seung Hyun berteriak ke arah perempuan itu yang membuatnya tersentak bangun.

“Oh!”

“Mianhae, bis mu sudah datang!” Seung Hyun menunjuk bisnya.

“Kamsahamnida!” Sahut Ji In lembut lalu menghampirinya dan memberikan payungnya serta saputangannya dan cepat-cepat masuk bis. Seung Hyun terkesima.

***

Hari ini, Ji In sudah bersiap-siap akan pergi ke pertunjukkan balet Yoon Mi. Dia mengenakan dress putih dan jaket jeans serta flat shoes kesukaannya. Dia melihat sebentar ke jendela dan hujan rintik-rintik turun. Ji In sadar dia harus cepat-cepat pergi sekarang. Sebelum hujan semakin lebat. Eomma sedang bertugas ke Dubai dan Appa masih di Jepang mengerjakan proyek. Jadi, hari ini, Ji In akan naik bis ke SOPA.

Ji In keluar dan mengunci pintu rumahnya. Berjalan kaki ke halte bis ketika dia melihat seorang laki-laki tinggi berlari-lari kecil. Dia tahu siapa itu. Ji In mempercepat langkahnya , lalu dengan malu-malu memayunginya. Laki-laki itu kaget lalu melihat ke arahnya.

“Agassi?”

“Ji In, Song Ji In.” Ji In mengulurkan tangannya.

“Seung Hyun. Dasi, Bangawoyo (nice to meet you, again)”

“Kenapa kau tidak memakai payungku?”

“Oh! Aku lupa bawa, maaf. Kau mau kemana, Ji In?”

“Aku akan pergi ke SOPA naik bis.”

“SOPA?”

“Ya, SOPA. Menonton pertunjukkan balet adikku.”

“Pertunjukkan balet?”

“Ya, waeyo?”

“Oh! Kebetulan sekali. Aku akan kesana juga. Aku kuliah disana. Jurusan Piano. Siapa nama adikmu?”

“Song Yoon Mi. Oh! Kau kuliah disana? Itu hebat.”

“Song Yoon Mi..” Seung Hyun mengulang kata-kata itu sambil berpikir.

“Song Yoon Mi dan Lee Seung Ri?”

“Emm, ya. Apa kau mengenal mereka?”

“Tidak, Seung Ri adik kelasku. Tapi aku mengenalnya dekat. Oh! Yoon Mi adikmu? Suatu kebetulan! Kau kuliah apa? Aku sering melihatmu di halte bis di depan kantor Korean Airlines. Kau pramugari?”

“Ya, aku sekolah pramugari disana.” Ji In menjawabnya dengan muka tertunduk.

“Oh! Sangat hebat. Pramugari sangat anggun dan pintar. Mereka dapat  mengatur waktu dan mengatur pergerakan mereka di dalam pesawat. Mereka adalah orang-orang yang sangat kuat. Selalu tabah dan tenang. Memiliki hati yang tegar.” Ji In benar-benar tersipu malu. Ji In sangat terkesima melihat laki-laki ini begitu menghargai wanita. Seung Hyun mengambil alih memegang payung, karena dia melihat Ji In bersusah payah memayungi dirinya, karena dia tinggi. “Aku saja yang bawa payungnya.” “Kamsahamnida.”

Mereka masih membicarakan banyak hal di dalam bis. Begitu sampai di aula SOPA, mereka duduk bersebelahan. “Unnie!”

“Yoon Mi!” Ji In dan Seung Hyun serentak berdiri. Yoon Mi terlihat bingung melihat Hyun. Ji In segera

memperkenalkannya.

“Yoon Mi, ini Seung Hyun, temannya…”

“Hyung! Kau datang!” Seung Ri memeluk hyungnya tanpa menyadari ada Yoon Mi dan Ji In

“Yah! Apa-apaan kau ini. Ini tempat umum.” Seung Hyun melepaskan pelukan Seung Ri.

“Oh! Ini kakakmu Yoon Mi? Annyeonghaseyo Unnie, chonun Seung Ri imnida! Yoon Mi Chingu!”

“Annyeonghasseyo, Seung Ri. Chonun Ji In imnida.”

“Kalian saling kenal?” Seung Ri menunjuk Hyun dan Ji In bergantian, dengan muka yang bersinar-sinar.

“Baru kenalan tadi.” Ji In menjawab.

“Yah! Hyung!” Seung Ri mengangkat kedua jempolnya

“Aigoo!”

“Ayo, Yoon Mi! Pertunjukkan segera dimulai!” Seung Ri memegang lengan Yoon Mi dan mengajaknya berlari ke belakang panggung. Yoon Mi melambaikan tangan kepada Hyun dan Ji In. “Enjoy the show!”

***

“Noona, aku akan mengantarkan Ji In pulang! Kau bersama Hyun Hyung ya!”

“Eh, Seung Ri , Yoon Mi.” Mereka sudah berlari-lari ke mobil Seung Ri.

“Ayo! Mianhae menunggu lama, tadi aku mengambil mobil sebentar.”

Ji In mengangguk. Mengikuti Hyun ke mobilnya.

“Kenapa kau memilih menjadi pramugari?”

“Aku ingin menjadi seperti ibuku. Anggun juga pintar. Dan ingin berjalan keliling dunia juga. Aku ingin sekali pergi ke Prancis!”

“Ohh, ide bagus. Benar juga ya.”

“Berarti, kau bisa bermain piano? Dengan lancar?”

“Ya, tentu saja. Mau aku mainkan sebuah lagu?”

“Hah? Aniyo..”

“Jangan begitu. Ijinkan aku. Kau ingin aku memainkan lagu apa?”

“Hmm, arabesque nomor 1 nya Debussy. Aku sangat suka sekali.”

“Wah! Selera music mu bagus juga, gadis payung.”

“Gadis payung?”

“Ini rumahmu.”

Dia keluar dan membukakan pintu untukku.

“Jongmal kamsamhamnida, Seung Hyun-ssi.” Aku membungkuk.

“Sama-sama, gadis payung! Dadah!”

Lalu berjalan masuk ke rumahnya dan langsung disambut adiknya yang terlihat sangat senang.

“Unnie! Unnie! Lihat ini!” Yoon Mi menunjukkan boneka Pororo large size, dia suka sekali Pororo.

“Dari siapa itu, Yoon Mi?”

“Seung Ri. Tadi, dia menyatakan cintanya padaku dan memberikanku ini.”

“Wah! Unnie ikut bahagia Yoon Mi!”

“Unnie, kau juga cepat-cepat punya pacar ya! Kurasa kau dan Seung Hyun-ssi, cocok. Hihi.” Lalu Yoon Mi melengos ke dalam kamarnya sambil tersenyum-senyum sendiri.

SEUNGHYUN PART

“Yeoboseyo? Seung Ri? Ada apa malam-malam begini?”

“Hyung! Aku sudah pacaran dengan Yoon Mi!”

“Hah?! Cepat sekali, Ri!”

“Ya, aku kan bilang pada kau. Aku bersungguh-sungguh dalam hal ini. Hyung, aku harap kau cepat mendapatkan wanita yang tepat ya! Bagaimana dengan Ji In Noona?”

“Belum tahu. Tapi, sepertinya dia gadis yang menarik.”

“Kalau begitu, cepat. Sebelum ada calon pilot yang mendahuluimu, Hyung! Goodluck! GoodNight!” Lalu Seung

Ri menutup teleponnya.

Apa aku harus cepat-cepat memberitahunya? Mungkin besok aku bisa menemukannya besok di halte. Seung Hyun pergi ke kamar mandi, bebersih dan siap-siap untuk tidur. Tidak sabar melihat hari esok.

Esok harinya, dia tidak menemukan Ji In di halte bis. Padahal sudah membawa payungnya untuk mengembalikannya. Tetapi dia tetap ingin menyimpan saputangan Ji In. “Dimana, dia?” Seung Hyun telah menunggu 1 jam dan menyerah. Pulang ke rumahnya.

Begitu berlanjut, setiap pulang dari kampus, dia akan pergi sebentar dan menunggu di halte bis, berharap bertemu dengan gadis payungnya itu. Sudah 2 minggu, dia tidak dapat menemui Ji In di halte. Dan dia menyesali dirinya sendiri, kenapa tidak menanyakan nomor handphonenya, juga terlalu gengsi bertanya pada adiknya lewat Seung Ri.

Hari ini, dia memutuskan untuk pergi ke rumah Ji In, memberanikan diri untuk bertemu dan bertanya pada Yoon Mi. Hari ini hujan rintik-rintik, jadi dia memakai payung Ji In yang berwarna pink transparan itu. Dia juga membawa payung baru, berniat mengembalikan payung Ji In kepada Yoon Mi. Saat sudah akan tiba di rumah Ji In, Seung Hyun melihat Ji In di depan pintu, sedang sibuk mencari kunci pintu rumahnya. Seung Hyun cepat-cepat pergi kesana, dan memayunginya diam-diam. Ji In tampak kaget, lalu pelan-pelan menengok ke arah orang yang memayunginya.

“Seung Hyun?” Seung Hyun tersenyum.

“Saranghae, Ji In-ah.” Seung Hyun tiba-tiba memeluk Ji In, melepaskan payung yang dipegangnya. Ji In balas memeluknya. Sambil merasakan rintik-rintik hujan yang menyentuh mukanya.

-Fin-