Poster Hope

Disclaimer: Semua orang yang ada dalam fanfic ini adalah milik tuhan (kecuali OC), aku Cuma minjem nama doang kok, Sedangkan plot adalah milikku or kisahku???,,, Sedangkan poster, untuk sang cewek dikasi Mbah Google, sisanya ya ku edit sendiri.

Warning:OC, OOC, Abal, GaJe, Tipo(s), dll

Title: Hope

Cast: Kwon Ji Yong, Choi Riah (OC), Choi Seung-hyun, dll

Genre: Romance, Friendship, dll

Rated: PG-15 (T)

Author : Dandeliona23(@Ayik_Aryoni)

Don’t like, Don’t Read

 

Happy Reading

Hari ini adalah hari terakhir musim semi di Seoul. Riah menyempatkan diri untuk pergi ke taman dan menikmati beberapa bunga yang masih bermekaran. Sebuah kenangan yang tadinya sudah terbuang kini kembali telintas di pikirannya. Riah tak dapat mengendalingan otaknya sendiri untuk kembali memutar memori indah di tempat favoritnya tersebut. Tapi hari ini sama sekali tak dapat disamakan dengan hari itu, karena hari dia tidak ditemani oleh guguran daun-daun kering favoritnya dan tentu saja kali ini dia sendiri tanpa seorang namja babbo disampingnya. Yang ada hanya sebuah syal kuning darinya, darinya yang telah meninggalkan Riah begitu saja. Cukup, tak ada gunanya mengingat namja tersebut. Itu hanya akan menambah luka dihatinya. Tapi seperti saat di Cafetaria Sekolah dan beberapa tempat lainnya, kenangan-kenangan indah tersebut mulai menghipnotisnya lagi.

Flashback

Musim gugur adalah musim favorit Riah, melihat daun-daun berguguran itu adalah kebiasaannya sejak kecil. Tapi hari ini menjadi lebih istimewa dari tahun-tahun sebelumnya, karena hari ini dia akan keluar bersama Jiyong oppa – Sekarang dia telah meanggilnya oppa bukan sunbae lagi – . Setelah memakai jaket cream favoritnya dia segera berlari menuju pintu untuk pergi ke taman.

Eomma aku pergi dulu,” katanya sambil membuka pintu depan.

“Coquesttish-ah tunggu sebentar,” panggil sorang namja tinggi dari tangga.

Riahpun dengan malas membalikkan badannya dan menatap Alien di depannya dengan sebal. Namja tersebut berjalan dengan riang gembira menghampiri Riah.

“Apa yang kau inginkan oppa?” tanya Riah dengan aura mengerikannya. Tapi tentu saja Choi Seung-hyun tidak akan terpengaruh pada itu.

“Tolong belikan oppa, ayam bakar di restourant dekat sekolahmu itu yea!” suruh namja yang tak lain dan tak bukan adalah oppanya tersebut sambil menyodorkan uang limaribu won. Tunggu dulu limaribu won? Mana ada restourant yang menjual ayam bakar seharga limaribu won.

Oppa, apa kau mau mengerjaiku?” tanya Riah sambil mendongak menatap oppanya yang lebih tinggi.

Ahni, sisanya kau bayar dengan uangmu dulu yea!” pinta sang oppa dengan santainya.

Tanpa menjawab Riahpun langsung berbalik dan keluar dari rumah. Andai saja hari ini buaknlah hari special, dia pasti akan mencingcang oppanya tersebut seperti bawang merah yang akan ditumis.

Dengan ditemani hawa dingin menusuk Kota Seoul, Riah berjalan menuju taman sambil mendengarkan sebuah lagu dari mp3-nya. Dia sangat berharap hari ini berjalan dengan sempurna. Saat sebuah kursi taman dengan seorang namja duduk di atasnya tertangkap oleh mata besarnya, Riah dengan spontan mempercepat langkahnya.

“Sudah lama menunggu Oppa?” tanya Riah sambil duduk disamping namja tersebut.

Ahni, aku baru saja sampai,” kata Jiyong dengan senyum termanisnya.

Kajja, jangan duduk disini saja,” kata Riah sambil menarik Jiyong dari tempat duduknya.

Merekapun mulai berjalan mengelilingi taman, menikmati apapun yang dapat ditangkap mata mereka. Bebek-bebek di danau,  Anak-anak yang berlarian, Para Ahjumma yang  bergosip ria dan tentu saja pohon-pohon yang menggugurkan daun-daun kering mereka. Semua itu terlihat begitu istimewa jika kau melewatinya dengan seorang yang kau cintai. Dan itulah yang dirasakan Riah saat itu, perutnya seakan di penuhi dengan mahkota bunga dandelion yang terbang kesana-kemari mengglitiki perutnya. Tapi angin mulai bertiup kencang, merusak suasana romantis yang telah tebangun diantara duan insan tersebut. Riah menggigil memegangi leher jenjangnya yang tak tertutup apapun.

Mwo, seharusnya kau memakai syal,” kata Jiyong cemas sambil merangkul bahu Riah.

Gwanchana,” kata Riah sambil tesenyum, tapi tiba-tiba dia malah bersin.

“Bagaimana jika kita membeli sebuah syal?” tanya Jiyong yang malah lebih terdengar seperti perintah.

Sebelum Riah sempat menjawab, Jiyong sudah dengan semangat menariknya menuju halte Bis terdekat. Tidak sampai sepuluh menit mereka telah sampai di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Seoul. Jiyong kembali menarik Riah menuju sebuah butik. Dia mulai berkeliling mencari-cari syal yang menurutnya cocok untuk Riah. Sampai dia menemukan sebuah dress cream dan syal kuning pada sebuah manakin. Dan tanpa pikir panjang diapun mengambil dua barang tersebut.

Chagi , coba lihat ini!” kata Jiyong sambil menghampiri Riah.

“Kenapa kau mengambil itu Oppa?” tanya Riah sambil mengangkat kedua alisnya.

“Kupikir kau akan cocok dengan ini, apa lagi jika kau berambut pendek seperti dulu,” imajinasi Jiyong melayang tinggi.

Ya! Jangan harap Oppa. Biar ku ambil syalnya saja!” balas Riah sambil menarik syal dari tangan Jiyong dan segera melenggang pergi.

Ya! Chagiya, aku hanya bergurau,” teriak Jiyong berlari mengikuti Riah.

Riah masih terlihat sebal setelah keluar dari butik. Pipinya mengembung dan bibirnya manyun. Sedangkan Jiyong terus mencoba meminta maaf pada kekasihnya tersebut berulang kali.

Chagiya mianhe, maafkanlah aku,” minta maaf Jiyong yang entah sudah keberapa kalinya.

“Berjanjilah Oppa tak akan pernah memintaku untuk memotong rambut, janji kelingking,” kata Riah layaknya anak umur lima tahun.

Ne, aku berjanji,” kata Jiyong sambil mengaitkan kelingking mereka.

Merekapun kembali berjalan sambil bergandengan tangan. Sebagai ganti telah memaafkan namjachingunya tersubut, Jiyong akan mengikuti Riah kemanapun dia mau.

“Kemana kita sekarang?” tanya Jiyong antusias.

“Kita akan pergi ke taman favoritku,” jawab Riah dengan gembira.

Setelah cukup lama berjalan mereka ajhirnya sampai di sebuah taman kecil yang sepi. Riah mengajak Jiyong duduk sebuah bangku taman yang tepat berada di bawah tiga pohon besar. Saat itu langit mulai gelap dan sang mentari tengah bersiap-siap untuk tidur. Lampu-lapu taman dan jalananpun telah mulai menyala.

“Indah bukan Oppa?” tanya Riah antusias.

“Tidak buruk juga,” gurau Jiyong sambil menyipitkan matanya.

Mwo, seharusnya Oppa berkata DAEBAK,” kata Riah sambil membuang wajahnya. Sedangkan Jiyong hanya tersenyum melihat tingkah yeojachingunya tersebut.

Chagiya, tatap mataku,” kata Jiyong sambil memegang kedua pipi Riah. Tapi wajah Riah masih tetap cemberut.

Saranghae,” kata Jiyong lembut. Akhirnya sebuah senyum terkembang di bibir Riah.

Nado Saranghae Oppa,” balas Riah dengan senyum lembutnya.

Dan perlahan-lahan jarak diantara merekapun sirna. Kini yang terlihat adalah sebuah ciuman lembut antara dua anak manusia yang tengah dimabuk cinta.

End Of Flashback

Hah, ciuman pertamanya. Ciuman yang sangat manis. Tanpa di sadarinya setitik air mata jatuh dipipinya. Tapi dia senang pernah mengalami hal tersebut. Walau kini itu hanya tinggal kenangan.

Ya! Coquesttish-ah, jadi kau disini. Apa kau tahu ini sudah hamir gelap. Eomma  sangat khawatir padamu. Tunggu dulu apa kau menangis?” cerosos Choi Seung-hyun pada dongsaengnya tersebut.

Ahni, kajja kita pulang. Bukankah Oppa bilang Eomma khawatir,” kata Riah sambil menarik lengan oppanya menuju sebuah mobil yang diparkir tak jauh dari sana.

To Be Continued

 

Yaaaa…. ch 2, aku nyelesaiin ini tepat tgl 1 April. Dan tebak, aku berhasil nonton iklan Kakaotalk. Padahal hari pertama tayang aku dah pantrengin tv dari pagi-malam, tapi aku gak nemu-nemu. Eh maaf malah curhat. Mohon commentnya