a life choice cover

Aku terduduk memandang langit sore jauh di ufuk barat. Aku terngiang kembali memori-memori yang kualami beberapa bulan terakhir. Senja segera menjelang bersama dengan temaramnya cahaya matahari kembali ke peraduan sang malam. Disana, kau sedang tertawa penuh ceria bemain riak-riak ombak kecil bersamanya. Aku sangat bersyukur pada apa yang telah Tuhan berikan padaku, pertemuanku denganmu. Biarlah untuk sesaat aku menikmati hidup seperti ini secara utuh.

 

A storyline by Tabina Hatake (@realtabina)

 

A LIFE CHOICE – Love in Flight the Sequel

 

Casts: Choi Seunghyun (TOP BIGBANG); Ga Eun (OC); other casts that can’t mentioned here.

 

Disclaimer: Casts are belong to God and themselves. OCs and plot are mine.

 

Genre: Romance

 

Lenght: Vignette

 

Rate: General

 

Warning: This is the sequel of “Love in Flight” storyline. Alternate timeline with alternate universe combination storyline. No plagiarism act acception! Take out with permission and full credit! Happy reading!

 

Previosly : Love in Flight

Seunghyun’s POV

Aku mengusap wajahku kasar dan segera berlalu keluar.

“Hyunnie.” aku abaikan panggilan kakak semata wayangku. Dia pasti sudah mengetahui apa yang terjadi dari wajahku yang mengeras. Aku segera keluar dari rumah dan mengendarai mobilku, aku ingin menemuinya.

Yeoboseo. Kau dirumah? Bisa bertemu? Baiklah. Tunggu, aku segera kesana.”

Aku segera menginjak pedal gas mobilku dan melaju ke tujuanku. Menemui Ga Eun.

 

***

 

Flashback

“Bagaimana kabarmu?”

“Aku baik-baik saja, Abeoji. Abeoji sendiri?”

“Seperti yang kau lihat.” hening sejenak tercipta ketika ayah duduk di kursi kerjanya. Jemarinya saling menaut ragu, seolah menimbang kata-kata yang akan diucapkannya. Aku tahu ada sesuatu yang ingin disampaikan ayah padaku.

“Jadi, kau sedang dekat dengannya?” seperti biasa, ayah tak pernah banyak basa-basi dalam mengutarakan niatnya.

“Ga Eun?” ayah tak menyahut, hanya memandangku dengan mata tajamnya, mata yang diwariskannya padaku.

“Aku mengenalnya tiga tahun lalu.” ayah masih memandangku, menunggu penjelasanku. Aku menarik nafas panjang. Jujur, aku tak menyukai tatapan mata ayah. Seolah dia bisa membaca pikiranku.

“Tapi aku benar-benar mengenalnya baru-baru ini. Lima bulan.” sambungku. Ayah menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Ayah sadar kau sudah dewasa, Seunghyun.” aku menatap ayah. Mati-matian kugigit lidahku, menahan kalimat-kalimat yang hendak meluncur dengan lancang, melawan argumen ayah.

“Ayah juga sadar suatu saat ayah harus melepasmu. Ayah sudah berhasil merelakanmu mengejar mimpi menjadi rapper.” aku sudah bisa menebak arah pembicaraan ayahku.

“Ga Eun hanya menjadi temanku, Abeoji.”

“Aku pernah menjadi seorang pemuda sepertimu, Seunghyun. Kau mengajaknya menemui orang tuamu ini. Dirumah ini, bertepatan dengan kepulanganku.” aku tak mampu mematahkan pendapat ayah lagi. Memang kemarin malam secara mengejutkan aku membawa Ga Eun menemui keluargaku. Ayah bangkit berjalan ke arah jendela.

“Kau anak kebanggaan ayah. Ayah yakin kau bisa mengerti maksud ayah.” ayah tampak menekankan kalimat terakhirnya, ditujukan padaku dan Ga Eun. Aku bangkit, membuat ayah menoleh.

“Pikirkan lagi keputusanmu.” aku keluar tanpa berpamit pada ayah yang memandang kepergianku. Aku benci keadaan ini.

Flashback End

 

“Kau seharusnya tak membantah Abeoji mu, Seunghyun.”

“Aku hanya tak suka caranya menilaimu. Apa bedanya kau dengan wanita lain?” aku menyandarkan kepalaku di pangkuan Ga Eun. Tangan lembutnya membelai helai-helai rambutku. Meredakan kegondokan hatiku.

“Aku memang berbeda, Hyun-ah.” aku memandang Ga Eun sejenak, lalu menghela nafas lagi.

“Aku tidak peduli. Yang aku tahu, aku mencintaimu dan Jung-ya, Eun-ya.” kuusap pipi Ga Eun. Dia hanya menyunggingkan senyuman lembutnya, seperti biasa.

“Dimana Jung?”

“Ah, aku belum memberitahumu, ya? Dia ada di sekolah.” aku mengangkat sebelah alisku. Sekolah?

“Jung-ya sekolah?”

Playgroup. Dia yang minta.” Ga Eun mengulas senyumnya.

“Dia memang anak yang cerdas.” aku bangkit dan memandang Ga Eun.

“Jam berapa dia pulang?”

“Ah, seharusnya tak lama lagi.”

“Ayo kita jemput dia.” Ga Eun tertawa melihatku yang begitu antusias. Aku dan Ga Eun lalu bergegas menjemput Jung-ya bersama. Aku menggenggam erat jemari Ga Eun. Aku sadar, mungkin bagi orang lain,  Ga Eun bukanlah pilihan terbaik bagiku. Tapi mereka hanya orang lain yang tidak mengerti apapun, termasuk orang yang paling dekat denganku, Ayahku sendiri.

 

***

Author’s POV

Sedan hitam itu berhenti di depan sebuah taman bermain. Seorang pria paruh baya keluar dari kursi kemudinya. Dia berjalan santai menuju sebuah bangku taman. Dia mengukir senyum tipis melihat ayunan yang bergeming diterpa angin sore. Dulu sekali, dia sering bermain bersama Seunghyun kecilnya. Ah, Seunghyun kecilnya, sudah dewasa sekarang. Dia teringat kembali pembicaraan kurang mengenakkan tempo hari dengan anak laki-laki nya itu. Tanpa disadarinya, seorang bocah sudah duduk disampingnya, memperhatikannya yang sedang melamun sedari tadi. Dia mengukir senyum khas bocah pada pria itu.

Annyeong, ahjussi!” sapa bocah itu dengan nada riangnya.

Annyeong.”

Eomma bilang, tidak baik melamun cole hali.” tuan Choi, pria tadi, hanya mengukir senyum geli demi mendengar bicara cadel bocah disampingnya.

“Siapa namamu?”

“Jung. Nama Ahjussi?”

“Choi. Panggil saja Choi Ahjussi.” tuan Choi membelai kepala Jung. Dia sebenarnya tidak tahu apa alasannya melakukan itu, mungkin karena suasana hatinya yang memang sedang mendukung.

“Sendirian?” Jung hanya mengangguk.

“Jung sedang menunggu Eomma. Biasanya Eomma akan segela datang.”

“Tidak baik bermain sendirian. Jung tahu kan kalau itu berbahaya?”

“Sekolah Jung ada disitu.” tunjuk Jung. Seorang wanita tiga puluhan tahun melambai ke arah Jung.

“Ah, itu seonsangnim. Sepeltinya Eomma sudah datang! Sampai jumpa Ahjussi. Jung halus pulang.” Jung melambai pada tuan Choi yang mengukir senyum lembut di wajahnya. Ah, anak-anak, ya. Mereka semakin tumbuh dewasa setiap harinya. Diam-diam tuan Choi menyesali pertengkarannya dengan putra bungsunya.

 

***

Seunghyun’s POV

Yeoboseo?”

“Seunghyun.”

“Ada apa, Eomma?”

“Kau tidak pulang?” aku hanya termangu mendengar pertanyaan retoris yang lebih mirip permintaan itu.

Abeoji akan kembali ke kamp dua hari lagi.” sambung nyonya Choi.

“Aku masih sibuk, Eomma.” elakku.

Eomma harap ini tidak berlarut-larut, Hyun-ah. Jaga dirimu.”

Ne, Eomma.” aku menutup sambungan telepon. Aku menghela nafas panjang. Aku bukanlah seseorang yang suka terlibat dalam suatu masalah. Ini hanya terasa begitu rumit bagiku.

“Ada apa?” kulihat Ga Eun baru keluar dari ruang kerjanya. Aku hanya menggeleng pelan dan tersenyum tipis.

“Senyummu itu lebih mirip seringaian, kau tahu? Aku heran bagaimana Jung-ya bisa tidak takut padamu.” sambung Ga Eun sambil tertawa. Kuabaikan, aku menggeliat dan berdiri menghampirinya.

Mianhae, aku selalu membawamu dalam masalah.” kupeluk Ga Eun dari belakang tubuhnya.

“Kau tidak membawaku dalam masalah, Hyun-ah. Hanya saja keadaan yang tidak tepat. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri.” Ga Eun menepis tanganku lembut. Aku memang menyukai Ga Eun, mencintainya atau terserah apa sebutannya. Tapi sungguh aku tak benar-benar tahu apa yang ada dalam hati Ga Eun. Aku memang orang yang segan menunjukkan perasaan hatiku, tapi tidak pada Ga Eun. Entahlah, Ga Eun berbada dari wanita lain pada umumnya.

“Kau bilang ada janji jam sebelas, ne?” Ga Eun membetulkan kerah coat ku. Aku tak menyukai kekalutan hati yang aku rasakan saat ini. Kurengkuh Ga Eun dalam pelukanku sebelum aku benar-benar pamit.

“Aku baik-baik saja, Hyun-ah. Jangan khawatirkan aku.” bisik Ga Eun dalam lengkungan lenganku. Aku hanya merasa tidak berdaya pada apa yang tertulis dalam takdir kami berdua.

 

***

Author’s POV

“Apa itu, Ahjussi?”

“Kau penasaran?” tuan Choi membuka kotak dalam pangkuannya. Dia mengambil sebuah bola baseball usang dan menunjukkannya pada Jung.

“Milik Ahjussi?” ada binar kagum di mata Jung menerima bola tadi. Berawal dari ketidaksengajaan, bertemu Jung di sore hari di taman bermain sekarang menjadi rutinitas tuan Choi akhir-akhir ini.

“Bukan. Itu milik anak Ahjussi.” Jung hanya menganggukkan kepalanya. Tergambar sedikit kekecewaan di wajah polosnya yang terbaca tuan Choi.

“Kau mau menyimpannya untukku?” tawar tuan Choi.

“Boleh?” Jung menoleh ke arah tuan Choi yang jauh lebih tinggi darinya. Tuan Choi hanya tersenyum.

“Tentu. Anak Ahjussi sudah terlalu sibuk untuk bermain, begitupun Ahjussi.”

“Nanti akan Jung tunjukkan pada Eomma.”

“Kau bisa memainkannya dengan ayahmu.” saran tuan Choi. Jung memandang pria disampingnya itu dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

“Ayah Jung sudah di sulga.” bisik Jung lirih. Tuan Choi mengerutkan keningnya. Surga? Mungkinkah?

Mianhae. Ahjussi tidak tahu.” tuan Choi mengelus puncak kepala Jung lembut.

“Tidak apa-apa, kok. Eomma bilang Jung tidak boleh belsedih.” Jung menyunggingkan senyum khasnya. Seketika itu, ada rasa prihatin menelusup di hati tuan Choi. Guru Jung kembali melambai memanggil Jung yang sudah dijemput ibunya, seperti biasa. Jung melambai pada tuan Choi yang membalasnya sambil tersenyum. Hatinya mendingin, masih bergolak dengan konflik batinnya sendiri. Dia teringat Seunghyun putranya, tiba-tiba dia sangat merindukannya. Jauh dihatinya, dia mulai melunak soal pilihan hidup anaknya. Meski tak ingin diakuinya secara terang-terangan, tuan Choi percaya pada Seunghyun. Seunghyun pernah membuat keputusan besar dengan memilih menjadi seorang rapper dibanding mengikuti jejaknya, dan Seunghyun berhasil membuktikan keseriusannya. Kenapa tidak mempercayainya untuk kedua kali?

 

***

“Kau banyak melamun akhir-akhir ini.” tegur Ga Eun sambil meletakkan segelas kopi di depan Seunghyun.

“Hanya karena aku tak punya banyak kesibukan.” sahut Seunghyun. Dia menyesap kopi buatan Ga Eun sambil memperhatikan gerak wanita itu.

“Bagaimana kabar Abeoji mu?” pertanyaan Ga Eun lebih mirip sindiran halus bagi Seunghyun yang tampak hampir tersedak. Mungkin jika tidak ditahan, Seunghyun benar-benar akan menyemprotkan kopi yang terlanjur disesapnya ke arah Ga Eun di depannya.

“Aku belum pulang lagi.” Ga Eun mengangkat alisnya heran. Baru saja ia akan melanjutkan bicara, ponselnya berdering.

“Dari sekolah Jung?” gumam Ga Eun. Seunghyun hanya memperhatikan Ga Eun yang segera mengangkat telepon.

Yeoboseo? Ya, saya sendiri. Apa? Dimana? Baik, saya akan segera kesana.” air muka Ga Eun menegang. Seunghyun mengerutkan dahinya bingung.

“Ayo. Sesuatu terjadi pada Jung.” Ga Eun buru-buru bangkit dan berbalik keluar. Seunghyun hanya mengerutkan dahinya bingung. Sesuatu yang buruk terjadi pada Jung.

 

***

Seunghyun’s POV

Aku menggandeng Ga Eun yang tampak panik menyusuri lorong rumah sakit. Kami baru saja bertanya ke bagian informasi tempat Jung ditangani. Aku menggenggam jemari Ga Eun agar dia sedikit lebih tenang.

“Nyonya Lee.” panggil sebuah suara yang ternyata adalah guru sekolah Jung yang menunggu kedatangan kami di ujung koridor.

“Apa yang terjadi?” tanya Ga Eun tak sabaran berlari ke arah wanita itu.

“Jung terserempet mobil yang melaju. Dia berlari hendak mengejar sesuatu. Saya tidak tahu pasti. Tapi Jung terluka di bagian kepalanya.”

“Bagaimana kau bisa tidak tahu?” jerit Ga Eun histeris mengguncang tubuh wanita itu. Aku segera menangkap kedua bahu Ga Eun dan menenangkannya dalam rengkuhanku. Ga Eun menangis keras mendapati keadaan Jung.

“Jung harta ku satu-satunya. Kenapa begini?!” jerit Ga Eun di sela tangisnya. Aku hanya menangkup kepala Ga Eun dengan tangan kananku ke dalam dadaku.

“Dia berlari untuk menemuiku.” suara berat itu terdengar dari belakang tubuhku. Aku merasa tak asing dengan suara itu. Aku membalikkan tubuhku, masih dengan Ga Eun dalam pelukanku.

Abeoji?” aku menatap ke arah ayahku tak percaya. Kenapa ayah ada disini? Ga Eun mengangkat wajahnya menatapku. Dia mengikuti arah mataku dan mendapati ayah yang mendekat ke arah kami.

Ahjussi?” Ga Eun sama bingungnya denganku menyapa ayah, masih dengan gugu tangisnya. Ayah hanya mengangguk dan mengulas senyum lembut.

“Aku yang membawa Jung kemari.”

“Apa maksud, Abeoji?”

 

Flashback (Author’s POV)

Sekolah Jung baru saja berakhir siang itu. Jung sendiri sepertinya sudah tidak sabar mengemasi barang-barangnya. Dia ingin segera selesai dan menemui seseorang. Choi Ahjussi,  berjanji akan memberikan topi baseball untuknya sekalian pamit. Choi Ahjussi bilang ia harus kembali ke pekerjaannya besok pagi. Mungkin memang Jung tidak bisa memainkan baseball bersama ayahnya yang sudah disurga. Tapi dia ingat Seunghyun Ahjussi Supermannya, teman Eommanya yang sering main ke rumah. Mungkin Jung bisa mengajaknya bermain.

Jung melihat sekeliling saat sampai di taman bermain. Choi Ahjussi belum terlihat. Apa dia terlalu awal datang? Jung akhirnya memilih duduk di bangku taman dan menunggu Choi Ahjussinya. Tak berselang lama, mata Jung menangkap sedan hitam yang berhenti di seberang jalan. Jung tahu itu Choi Ahjussinya. Dia melihat pria yang sedari tadi ditunggunya keluar dari mobil membawa sebuah kotak hijau. Choi Ahjussi sendiri kemudian melambai pada Jung.

Jung bangkit dan berlari hendak menyambut Choi Ahjussi tanpa melihat lalu lintas di sekitarnya.

“Jung-ya! Awas!” terlambat. Sebuah mobil melaju menyerempet tubuh mungil Jung-ya.

End of Flashback (End of Author’s POV)

 

“Aku yang menyebabkan Jung celaka.” tutup ayah pada akhir penjelasannya. Ga Eun duduk lemas bersandar didadaku. Tangisnya seolah sudah kehilangan daya. Aku hanya mengelus lengan Ga Eun.

“Ini bukan sepenuhnya kesalahan Abeoji.”

“Jung tidak akan berlari padaku jika ayah tak melambai ke arahnya.” ayah hanya menyandarkan kepalanya. Aku sendiri kurang mengerti bagaimana bisa ayah mengenal Jung. Tapi gurat penyesalan tak terhindarkan dari wajahnya. Suara derit pintu memecahkan suasana membingungkan diantara kami bertiga. Dokter keluar dari ruang gawat darurat dan menghampiri kami. Ga Eun segera bangkit disusul aku dan ayahku.

“Bagaimana kondisi Jung?” tanya Ga Eun. Dokter mengukir senyum tenang.

“Dia sudah baik-baik saja. Kalian sudah boleh melihatnya. Tapi satu per satu. Oh, ya. Anda nyonya Lee? Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan Anda.” Ga Eun hanya memandangku bingung. Aku meyakinkannya dengan anggukan. Ga Eun lalu mengikuti dokter ke ruangannya.

Mianhae, Seunghyun.” suara berat ayah kembali mengagetkanku.

Abeoji, tak perlu meminta maaf padaku. Ini bukan kesalahan Abeoji.”

“Bukan soal itu, Seunghyun.” aku mengangkat alisku memandang ayah.

“Seharusnya ayah mempercayaimu tentang pilihan hidup.” hening.

“Jung memberi banyak pelajaran bagi ayah. Dia anak yang cerdas, mengingatkan ayah padamu.” aku memandang ayah sendu.

“Kau sudah dewasa, kau tahu mana yang terbaik untuk dirimu sendiri.” sambung ayah. Aku hampir tak mempercayai apa yang kudengar. Hampir saja secara tidak sopan aku mengorek lubang telingaku sendiri, memastikan tidak ada yang membuatku salah dengar.

“Maksud Abeoji..”

“Kau putra ayah. Kau selalu bekerja keras pada apa yang kau yakini. Ayah mempercayaimu sekarang.” ayah menepuk bahuku pelan. Ada rasa terkembang dalam hatiku. Aku hanya memandang ayah yang kemudian menyunggingkan senyum lembutnya.

Nado mianhae, Abeoji. Aku seharusnya tidak bersikap kasar tempo hari.” ayah memelukku yang kemudian juga membuatku kaget. Aku merindukan momen ini.

“Sudahlah. Sekarang Ga Eun lebih membutuhkanmu. Temani dia.” aku hanya tersenyum lega. Setidaknya satu masalahku terselesaikan.

Kansahamnida, Abeoji.

“Sudah seharusnya. Ayah akan pulang dan memberitahu Eomma mu dah Hyeyoon.” aku bersyukur setidaknya aku berhasil memenangkan kepercayaan ayah lagi. Aku bergegas menemui Ga Eun sepeninggal ayah. Ga Eun hanya duduk tercenung di depan ruang tunggu dokter.

“Eun-ya?” Ga Eun sedikit terhenyak mendapatiku menepuk bahunya lembut.

“Ada apa?” tanyaku. Ga Eun hanya menggeleng pelan menjawabku.

“Ayo ke ruang rawat Jung-ya. Aku menunggumu sedari tadi.”

Abeoji sudah melunak.” aku tersenyum ke arah Ga Eun.

“Maksudmu?”

Abeoji menyetujui pilihanku. Maksudku bersamamu.” aku mengusap tengkukku aneh, entah kenapa aku malah tersipu. Ga Eun tertawa geli melihat sikapku.

Mianhae, ayahku tak bermaksud membuat Jung celaka.”

“Kau dan Abeoji mu begitu mirip. Suka meminta maaf untuk kesalahan yang bahkan tidak kalian perbuat.”

“Sungguh, Eun-ya.”

“Bukan kesalahan Abeoji mu. Aku malah berterimakasih padanya karena sudah membawa Jung ke rumah sakit sesegera mungkin.” Ga Eun menggamit lenganku. Aku tak pernah merasa sehangat ini. Semoga ini menjadi sebuah awal yang baik.

 

***

“Hyun-ah!” Ga Eun menepuk kedua pundakku keras, membuatku kembali ke realita hidup.

“Aku hanya memiliki satu jantung. Bagaimana kalau berhenti tiba-tiba karena ulahmu, eoh?” aku memegang dadaku yang berdegup kencang. Bukan karena kaget, tapi karena rasa bahagia yang terkembang di hatiku.

Mianhae. Hanya bercanda.” Ga Eun tertawa sambil memanggil Jung yang tampak lebih segar setelah masa penyembuhan.

“Jadi, aku akan berangkat besok.” gumam Ga Eun yang duduk di hamparan pasir putih disampingku. Aku menerawang jauh di langit sore. Jung menghampiriku, dan duduk di pangkuanku. Aku mencium pipinya gemas.

“Apa kau harus pergi?” aku memandang Jung, yang sebenarnya pertanyaan itu kutujukan pada Ga Eun.

“Kau sudah tahu, Jung membutuhkan perawatan lanjutan di Inggris.”

“Aku hanya baru saja merasakan sensasi itu.” yang kumaksud adalah direstuinya pilihan hatiku oleh Abeoji.

“Hei, aku bukannya akan mati, Hyun-ah.”

“Kau akan begitu jauh, Eun-ya.” Ga Eun mengulas senyumnya menatapku.

“Lihat aku, Hyun-ah.” aku menoleh ke arah Ga Eun.

“Mungkin kita akan lama tak bertemu. Tapi jika memang takdir Tuhan menghendaki kita bersama, kau akan selalu berada disini.” Ga Eun menunjuk dadanya dengan telapak tangan kirinya.

“Dan aku akan selalu berada disana.” Ga Eun kemudian menunjuk dadaku dengan telapak tangan kanannya. Aku membelai tangan Ga Eun di dadaku dengan telapakku sendiri. Aku menatapnya dalam.

“Lalu Jung ada dimana, Eomma?” celetuk Jung yang sukses membuatku dan Ga Eun tersenyum geli.

“Maukah Jung berada diantara kami berdua?” Jung menjawab tawaranku dengan anggukan mantabnya.

“Aku juga akan sekolah fashion di Inggris. Aku akan sangat merindukan Korea.” gumam Ga Eun sambil mengambil Jung dari pangkuanku. Aku merapatkan posisi dudukku ke arah Ga Eun.

“Bagaimana denganku?”

“Ah, bagaimana ya?” goda Ga Eun. Aku tahu benar sosok Ga Eun yang memang tidak begitu menyukai spekulasi.

“Kau akan selalu merindukanku dengan ini.” aku membuka kotak beledu hijau yang berisi sebuah cincin sederhana berhiaskan emerald yang berkilau dibawah siraman mentari sore. Ga Eun memandangku tak percaya.

“Jadi, kau melamarku?”

“Mengikatmu, lebih dari melamar.” sahutku.

“Jung, aku meminta izin padamu untuk melamar Eomma mu OK?”

“Hei, dia belum mengerti.”

“Jung tahu kok. Seunghyun Ahjussi mau jadi Appa Jung, kan?” anak cerdas. Aku mengangguk.

“Boleh. Jung mau, Eomma.”

“Ya ampun, anak jaman sekarang.” keluh Ga Eun sambil tertawa senang.

“Aku akan mengikatmu agar tak ada orang lain yang berani mengganggumu.” sambungku sambil menyematkan cincin ke jari manis tangan kiri Ga Eun.

“Itu tergantung.”

“Eh?”

“Kalau kau masih berkeinginan menikah di usia 40 tahun, lupakan saja Hyun-ah.” goda Ga Eun yang tertawa sambil bangkit menggendong Jung.

“Ayo pulang. Hari semakin gelap.” ajak Ga Eun. Aku ikut bangkit dan berjalan bersama calon keluarga kecilku ke mobil.

“Eun-ya?”

Ne?”

“Kau tidak sungguh-sungguh akan meninggalkanku jika aku tidak buru-buru menikahimu, kan?” aku mengukir wajah khawatir yang sungguh-sungguh. Ga Eun tertawa mendengarku.

“Sepertinya aku bukannya akan mendapatkan seorang suami jika menikah denganmu. Kau ini benar-benar bocah lima tahun yang terperangkap dalam tubuh pria 26 tahun.” Ga Eun lalu mengecup pipiku sekilas demi menenangkanku. Aku hanya mengukir senyum mendapati hatiku tak bertepuk sebelah tangan. Mungkin saat-saat itu akan masih lama kusesap, tapi aku bahagia memiliki seorang Ga Eun dan Jung dalam hidupku. Keluarga, ah calon keluarga kecilku yang sempurna. Senyumku terpancar sepanjang perjalanan pulang selembut mentari sore yang hendak pulang ke peraduannya. Kuharap perjuanganku nantinya tidak akan sia-sia.

 

-FIN-

 

A/N:

Yeeeey!!! Sekuel nan gaje akhirnya kelar. Mianhae, saya ga bikin Ga Eun ma Seunghyun merid. Ga tahu kenapa, aneh kalo arahnya langsung kesono, hehe #ngeles..

Ini sekuel dadakan terbaik yang bisa saya bikin. Ga ada maksud bashing apapun dan siapapun, OK? Ini hanyalah sebuah storyline tempat author numpahin karya anehnya #wink.

Seunghyun OOC ga sih jadinya? Jujur, author ga tahu nama bapak ataupun ibunya Tabi, makanya pake istilah “Tuan” dan “Nyonya” Choi. Maksa banget sayanya, Mian Mian Mian, readers..

Ada komen? Kritik? Konkret? Jangan cuma disimpan dalam hati. Tulis aja di kotak komentar yang ada dibawah sini atau di @realtabina juga boleh, itung itung tambah temen.

Akhir kata, maaf jika ada salah diksi, typos atau istilah, karena author juga hanya manusia biasa yang punya banyak kekurangan. Sempurna hanya milik Tuhan semata. Wish you a happy reading, PeepZ! ^^