Please, don't remember me 1

Title       : PLEASE ! DON’T REMEMBER ME

Main Cast   :

  • Choi Seung Hyun aka TOP (BIG BANG)
  • Lee Teuk (SUPER JUNIOR)
  • Kang Sora

Other  :

  • Gong Min Ji (2NE1)
  • Lee Eun Hyuk (SUPER JUNIOR)
  • Kang Dae Sung (BIG BANG)
  • Tae Yang (BIG BANG)
  • Seungri (BIG BANG)
  • Kwon Ji Yong aka G.D (BIG BANG)

Lenght    : Chaptered

Gendre  : complicated, Hurt / comfort, romance dll

Rating    : G, mungkin butuh sedikit bimbingan orang tua :D

POV  : pengarang yang sok tau, hehe

Disclaimer   : Plot is mine, BIGBANG punya saya juga ^^b dan totoh-tokoh yang      lainnya adalah milik Tuhan YME.

 

 

JAZCO CAFFE In AMERIKA

“bertahanlah S–Sora-ah, . .” rintih pemilik suara berat itu menahan sakit

“Sora-ah K—Katakan se—suatu..” dia semakin panik saat melihat gadis itu tak bergerak disisinya, bersimbah darah.

“BUNUH DIA SEKARANG ! PALLI !!”

“JANGAN BIARKAN DIA HIDUP?!”

Pemilik mata dark brown itu menatap langit yang kembali digelayuti oleh awan hitam sore ini. Pikirannya masih menerawang mengingat mimpi-mimpi yang semakin sering hadir dibeberapa minggu terakhir. memaksanya untuk terbangun ditengah malam.

“Sora-ssi!” seseorang memanggil namanya, hanya saja tidak segera ia menoleh.

Can’t we start now?” ujar bapak berkulit gelap yang berdiri dibalik mini bar cafe itu dengan bersemangat tanpa suara. Hanya gerakan bibirnya yang berlebihan.

Seakan sangat berat melepaskan keintimannya dengan cuaca yang dilihatnya dari balik etalase pembatas ruangan bercahanya keemasan itu dengan dunia beku diluar dari 3 jam yang lalu. Akhirnya dia melangkah dengan nafas berat sesaat setelah disapunya pandangan ke seluruh area cafe yang memang tidak begitu besar. Tetapi suasana hangat yang dipancarkan oleh woody yang melapisi setiap mable sangat kontras dengan keadaan di luar.

“Mungkin karna berita akan turun salju malam ini, jadi tidak banyak yang datang untuk nge-Jam” ujar bapak paruh baya itu dengan raut wajah dibuat

sesedih mungkin. Sora memang tidak pernah bisa bersikap cool didepan pak Browny –  Barista di Jazco caffe. Senyumnya merekah menimbulkan sebuah lubang indah di pipi kanannya menghilangkan efek dingin tadi.

Aigo, itu baru Sora-ssi yang saya kenal” ucap si Bapak semangat.

“Kalo begitu saya kerja dulu ajjusi” suaranya tidak selembut wajahnya, namun cukup hangat terdengar.

Palli! kalo tidak, nanti bos kita bisa marah” bisik berlebihan Mr. Brown – panggilang akrabnya. Dengan senyum yang masih membias diwajah lembutnya, gadis itu melangkah dan duduk dihadapan sebuah grand piano berwarna coklat gelap di home band yang terletak di sudut Jasco cafe.

Lama ia terdiam, matanya tidak benar-benar menatap susunan tuts warna putih yang di seling hitam tersebut. Beberapa hal yang yang tidak ia mengerti berkelebat membungkus pikiran dan kadang-kadang tergambar samar ketika ia menutup mata. Sekelebat cahaya, teriakan, hingga rasa ngilu yang mengubun-ubun masih bisa ia rasakan.  Membuat perasaannya lebih gelap dari pada suasana dingin diakhir tahun ini.

Meja cafe memang tidak sepenuhnya berpemilik, hanya saja masih mampu membuat sedikit keriuhan menanti sang pianis mempersembahkan master peacenya sore itu. Ketukan pelan diarea tuts bass mengawali musik Sora, mengalun seperti angin musim gugur yang membawa satu persatu nada tinggi nan angkuh namun rapuh kedalam setiap ketukan. Seperti irama pengiring sad memory, nada-nada  fals memenuhi hingga intro dan semakin membayangi musik waltz itu.

Akhirnya gadis yang memiliki rambut sewarna dengan matanya itu mampu membius semua pengunjung. Masuk, terseret dan hanyut bersama dengan alunan nada minornya. Setiap nada dengan free tempo itu mampu menyesakkan hati pendengarnya. Termasuk pemilik Jazco, yang akhirnya keluar dari ruang kerjanya di lantai dua, dan buru-buru melangkah menuju cafe. Sekilas dilihatnya Mr.Brown, dan sambil mengangkat kedua belah bahu Mr. Brown menjawab tanya dari gadis berambut pendek itu, yang hanya disampaikan dengan tatapan dari balik kaca mata perseginya.

 

APARTEMENT In KOREA

Sepertinya pemilik salah satu ruang di apartemen tua ini sengaja tidak menghidupkan pencahayaan di ruangan sumpeknya. Hanya beberapa berkas sinar dari billboard yang memaksa masuk dari sudut-sudut karena posisinya hampir sejajar dengan jendela kamar si pemilik kamar apartemen yang terletak di tengah kota metropolitan ini. sudah hampir lima belas menit seseorang mengedor-gedor pintunya yang seperti hanya terbuat dari triplek tipis dan ringkih.

Yaa TOP-Hyung!! Aku tau Kau di dalam!” suara itu diiringi oleh cepatnya irama gedoran, membuat semua aksesoris nyentriknya bergemerincing tak kalah ribut.

Yaa! KAU MAU BUNUH KITA SEMUA HAH?! kalo kita tidak datang malam

ini, si Babon itu akan ngirim kroconya buat menghajar kita!!” suaranya semakin tidak sabar, namun tempo gedorannya melemah. Seperti hilang harapan si penggedor dengan wajahnya yang putus asa, merosot hingga terduduk disisi pintu yang sudah hampir terlepas semua wallpapernya.

“Kalo kita tidak datang, bukan hanya dihajar, tapi kita juga bakal kehilangan semuanya” katanya pelan sambil menarik rambut pinknya, membuat

dandanannya semakin kusut.

CLEK,…

Tidak cukup lama si penggedor tenggelam dalam keputus asaannya, akhirnya si pemilik kamar dari balik pintu membuka slot pengunci. Si penggedor tau bahwa itu adalah signal baik, walaupun pintu tidak terbuka. Dengan segera ia meraih gagang berkarat itu dan membuka pintu dengan semangat – Tidak terlihat apa – apa, seolah sudah biasa berada di sana, ia melangkah melintasi ruangan  di dalam gelap tanpa harus tersungkur.

Setelah sekian dalam melangkah, ia menekan stop kontak dan cahaya redup salah satu neon menerpa dinding kuning dan mengelupas. Tidak banyak ruangan yang terluang. Mulai dari pakaian hingga barang pecah belah yang tergelatak tidak memiliki tempat privasi. Mereka bercampur – baur dalam keberantakan yang sangat luar biasa tidak sedap dipandang.

Hyung, jebal… kau tau kita tidak bisa manggung jika tidak bersama” bujuknya lagi pada orang yang tidur lurus-lurus di atas sofa lusuh, sambil menutup mata dengan lengannya. – Tidak ada bereaksi.

“aku tau kau tidak menyukai si Babon, tapi apa kau punya solusi lain buat nyelametin kita? mereka sudah mau bayar di muka saja udah untung buat kita! dan kita butuh uang itu!” Dia tau tidak akan mudah meluluhkan orang

yang di ajaknya bicara ini.

“tidak bisakah kau sedikit perduli dengan band ini? kau sudah terlalu jauh Hyung” katanya lagi, terdengar lirih walau dengan suara cempreng itu.

Akhirnya sambil melangkah

“kami ada di bawah. Kita harus ada di sana jam 9 ini” dan dia berlalu tanpa berharap reaksi langsung dari orang yang diajaknya bicara.

“Gimana Hyung? berhasil?!” salah seorang dari dalam hartop dengan suara riangnya langsung menodongkan pertanyaan meski si rambut pink masih sangat jauh. Akhirnya karna saking tidak sabar, si penanya keluar dari balik stirnya dan berlari menghampiri orang yang tidak menjawab pertanyaannya itu.

Hyung, apa dia tidak mau ikut?” tanya Seungri cemas. Si pink tetap melangkah acuh dengan kontur merungut di wajahnya.

“apa benar dia tidak akan ikut?” tanya yang bersuara lebih berwibawa dari dalam mobil kekar itu. Masih dengan kesal yang tertahan, si pink membanting keras pintu tengah hartop lalu menghempaskan tubuhnya keras-keras ke jok mobil.

“Ji Young-ah?” panggil si suara berwibawa tadi tenang, berharap jawaban.

“Kalo begitu biar aku yang coba!” kata si pemilik suara riang tadi tidak kalah bersemangat. Dengan jiwa persahabatannya yang besar, dia memantapkan hati untuk menghadapi salah satu anggota di bandnya yang paling disegani.

Sebenarnya dia sangat takut dengan TOP, jangankan untuk meluluhkan hati member yang paling tua di band itu, melihat matanya saja ketika suasana hatinya tidak begitu buruk Seungri masih dag dig dug jerrr. Ditambah lagi, umurnya paling kecil diantara semua member band nyentrik itu. Membuat bau bawangnya tidak berpengaruh disetiap moment penting.

Ketika ia merasa jantungnya sudah diikat kuat untuk menghadapi TOP, si rambut kuncup itu pun melangkah pasti.

Hyung?!” langkahnya terhenti, dia mendapati pria berambut biru mint terang tadi keluar dari pintu apartemennya yang sempit dan gelap.

Yaa teman-teman! kita berangkat!!” kata Seungri riang menghilangkan mata sipitnya, karena mengingat tidak perlu berhadapan langsung dengan wajah Hyung yang meyeramkan baginya.

yaa Hyung, mobil kita disana, Eoddikkayo?” tanya Seungri binggung melihat TOP berbelok.

“aku dengan motor” jawabnya singkat dengan suara yang ngebass, sambil terus melangkah menuju basement apartemennya.

“Hah? Waeyo Hyung?” pria yang paling imut dari 4 member yang lain itu merajuk.

yaa Vi, kau pikir mobil ini bisa berjalan sendiri?!” kata GD dari dalam hartop dingin, melihat Seungri menjatuhkan kedua belah bahunya kecewa dengan keputusan TOP.

“Oh Ne, hehe . . . mianhae” ucapnya sambil nyengir berlari kembari ke mobil.

“Ternyata masih terlalu banyak hal yang belum bisa dia lupa,” kata Tae Yang

– si bijaksana.

 

JAZCO CAFFE In AMERIKA

Setelah sukses Sora membawa tiga musik pembuka dengan nada yang benar-benar mencabik perasaan, membuat pendengarnya menahan nafas dan ingin menangis sedih karna setiap ketukan nadanya terdengar begitu lirih, sekarang dia menekan tuts dengan irama semi Jazz, lebih ringan dan hangat. Dengan suaranya yang khas seorang penyanyi Jazz, dia memilih lagu pertama adalah Fly me to the moon, lalu beriring – iring Love fool, close to you, dan love me tender. Lagu – lagu yang telah berulangkali ia nyanyikan solo sejak awal musim gugur datang.

Riuh redam terdengar suara tepuk tangan pengunjung ketika ia mengakhiri permainan pianonya dan turun dari home band tersebut, melangkah menuju meja favoritnya di sisi lain cafe yang sekarang salah satu kursinya diduduki gadis pemilik cafe.

Minzy melambaikan tangan dengan seulas senyum di wajah cutenya, namun terlihat tegas dengan kaca mata dan warna lipstik yang sedikit berani. Sora tau ini akan menjadi pembicaraan yang kurang menyenangkan, karena bukan kebiasaan seorang Minzy untuk duduk santai sampil menyeruput kopi hitam di jam kerjanya.

“Tumben?” Sora merasa kata itu sudah cukup mewakili semuanya.

“Musik kematianmu sudah membangkitkanku dari kubur” ujar Minzy serius dengan kata-katanya.  Sora malah tertawa renyah mendengar sobatnya berceloteh.

Minzy memang bukan tipe gadis manis yang manja. Di usia yang sangat muda, ia sudah bisa memenejeri sebuah caffe dan home mode. Dia sudah bisa menghadapi berbagai macam manusia, namun tidak dengan sahabatnya yang satu ini. Sora adalah anak dari teman ayahnya. Sejak 2 tahun yang lalu mereka sudah kembali dekat. Ditambah lagi persahabatan masa kecil yang tidak pernah terlupakan sebelum Minzy terbang ke Amerika.

“aku berani tahuran, dalam waktu dekat cafe ini bisa berganti nama!” katanya sambil kembali menyeruput kopi hitamnya tidak sabar.

JAZCO berganti dengan JAZBROKE!” terselip sedikit rasa kesal dari celetukannya.

Kembali Sora tertawa lepas hingga tubuh berguncang melihat kegeraman temannya yang sudah beberapa hari ini mengomel. Sebentar lagi ia akan mengadakan fasion show pakaian musim semi rancangannya. Memang kebiasaan gadis adi busana itu menyembur semua orang jika ia sedang stres dengan projectnya.

“Sora-ah, gwenchanhayo?” sekarang wajah Minzy terlihat lebih serius.

ne, nan gwenchanhayo? Waeyo? musik ku mengganggu inspirasi mu ya?

kalo gitu, besok aku ganti tema, Ok!” ucap Sora berusaha memecahkan keseriusan

sobatnya.

“Atau, ada yang kamu ingat?”

Sora menggeleng, pola bibirnya yang tidak begitu tipis itu masih tetap tersenyum manis.

Gemerincing lonceng cafe terdengar setelah beberapa saat seseorang mendorong pintu kayu yang berat itu. Kepala Minzy terangkat melihat siapa yang berani keluar rumah di tengah hujan salju yang mulai lebat.

Senyum merekah di wajah perseginya, dan memberikan kode kepada yang datang dengan mata sipitnya yang di smoky itu ketika Sora masih serius memandangi satu persatu salju yang jatuh menerpa batang kayu yang sudah tidak memiliki daun di depan cafe dan tidak menyadari seseorang sedang mengendap-endap di belakangnya. Dan sepersekian detik pria itu menutup dengan lembut kedua belah mata Sora.  Jangankan terkejut, gadis itu sedikit pun tidak bereaksi.

“Lee Teuk-ssi,..” tebak Sora dengan nada bosan.

jinjja yaa,.. apa kamu tidak bisa pura-pura terkejut?” ujar namja berambut pirang itu kecewa. Kali ini Minzy yang tertawa lepas.

*TOBECONTINUED*