From This moment

From this Moment (Sequel)

Main cast:

  1. Dong Young Bae
  2. Lee Hyeejin

Support cast:

  1. Choi Seunghyun
  2. Lee Seunghyun a.k.a Seungri

Disclaimer: Dong Young Bae, Choi Seunghyun, and Lee Seunghyun are belongs tothemselves,but this storyline is belongs to me. This is a sequel of ‘Life After the Wedding Dress’.

Warning: AU,mungkin pasaran, typo(s), and manymore.

Genre: Romance, Fluff, General.

Length: Oneshoot (3444 words).

 

Read this first : Life After The Wedding Dress

 

@youngdinna Presents

“From this Moment”

From this moment..life has begun..

From this moment..you are the one..

Right beside you, is where I belong..From this moment on..

Juni 2016

Hyeejin’s Pov

Pagi itu langit begitu cerah, beberapa burung juga mulai berkicau, meramaikan suasana pagi kota Seoul. Beberapa orang juga sudah memulai aktivitas mereka di minggu pagi ini.Ada yang bersepeda di pagi hari, berlari pagi bersama anjing piaraan mereka, dan lain-lain.Aku mengernyit saat pagi ini aku menemukan pesan singkat dari Young Baediponselku, pemuda yang telah lama menjadi teman dekatku.

Teman dekat?Ya, kami sudah berteman dekat selama dua tahun terakhir ini.Awalnya kami juga tak saling mengenal, karena suatu hal, duluakhirnya kamiterlibat dalam beberapa masalah, dan jadilah kami teman dekat sampai sekarang.Aku membuka pesan dari Young Bae, aku tersenyum kala membacanya.

 

Temani aku sarapan di café dekat kantor kita, ya..Kali ini aku yang traktir.

Young Bae

Seusai membaca pesan tersebut, aku segera bersiap-siap untuk mandi.Aku tak habis pikir, maksudku kami (aku dan Young Bae) sama-sama lajang dan matang, teman-teman kami juga sering mengatakan kalau kami adalah pasangan yang cukup serasi.Aku menghela nafas.

Entahlah, aku dan Young Bae sama-sama punya traumatentangcinta.Memang, kami sudah bisa melupakan cinta pertama kami. Young Bae sudah bisa menerima kalau ia tak bisa bersatu dengan Hye Sun, dan nampaknya ia tak mempermasalahkan lagi tentang hal itu. Begitupun denganku, yang sudah bisa‘bergerak’sekarang,melakukan perubahan.

“Kurasa Young Bae adalah pria yang cukup baik.”aku tersenyum geli kala Seunghyun memberi nasihat suatu kali, dan apa yang di katakan Seunghyun itu benar. Seunghyun selalu bilang padaku, tak ada salahnya bila aku (beranikah aku mengatakannya?) berkencan dengan Young Bae, dan bukanlah suatu hal yang aneh bila kami nantinya membicarakan soal pernikahan.

Aku menghela nafas, aku sendiri terkadang bingung dengan semua hal yang di lakukan Young Bae padaku selama ini.Ia baik padaku, sangat baik. Ia tak pernah mengingkari janjinya padaku, dan selalu ada setiap kali aku membutuhkannya.

Hanya saja, aku tak berani menyimpulkan kebaikannya ini terlalu jauh.Memang aku dan dia sudah berteman dekat selama dua tahun terakhir ini, tapi selama itu pula aku tidak tahu isi hatinyadan aku juga tak begitu berminat mencari tahu karena itu bukan urusanku.

Aku memarkirkan mobilku tepat di bawah pohon mapel yang sedikit menguning.Aku tersenyum lebar begitu melihat sosok Young Bae sudah duduk di salah satu meja dekat jendela dengan kopi di tangannya.Aku segera masuk, dan berjalan mendekatinya. Sama seperti diriku, ia juga tersenyum kala aku sudah datang.

“Maaf, menunggu lama.”ucapku. Ia menggeleng, menandakan ia tak masalah soal itu. Ia lalu melambai ke salah satu pelayan terdekat.

“Ada yang bisa saya bantu, tuan?”tanya pelayan itu.

“Satu porsi wafel, dan satu porsi salad apel untuknya.”ucapnya. Aku tersenyum kecil.

“Kenapa kau tersenyum sambil menatapku begitu?”tanyanya saat pelayan sudah pergi. Ia lalu menyeruput kopinya. Aku mendecakkan lidahku.

“Sudah kubilang jangan terlalu banyak minum kopi manis.”ucapkumemperingatkan.

“Ini pahit, aku tidak menambahinya gula.”belanya. “Kau belum menjawab pertanyaanku, nona.”tambahnya lagi. Aku tersenyum tipis sambil memainkan serbet di atas meja.

“Tidak, bagaimana kau tahu kalau aku akan memesan salad apel?Aku bahkan tak memberitahumu.”tanyaku.

“Mungkin kebiasaan, kau selalu memesan itu bila aku mengajakmu makan di sini.”ucapnya sambil mengangkat bahu. “Kau merasa terganggu?”tanyanya. Aku menggeleng.

“Bukan begitu..hanya saja..”aku bingung harus menjawab apa. “Ah, pesanan kita sudah datang.”ucapku mengalihkan topik. Young Bae nampak mau protes, tapi ia urungkan niatnya. Kami lebih memilih menyantap sarapan kami.

“Kenapa kau sarapan di luar?Apa Seungri tidak di rumah?”tanyaku memecah keheningan.

“Hm, hari ini ia pulang ke Gwangju..”ucapnya, ia lalu menyuapkan sepotong wafel lagi ke dalam mulutnya. “Kau tahu?Aku bosan harus makan di rumah sendirian.”ucapnya sambil menatapku dengan pandanganyang sulit di artikan.

“Kau tidak akan sendirian kalau ada Seungri.”komenku. Aku mengernyit saat ia menggelengkan kepala.

“Bukan anak itu yang kumaksud.”ucapnya. Ia lalu tak melanjutkan kalimatnya lagi. Satu hal yang tak begitu kusukai dari sifat Young Bae, ia orang yang misterius. Terkadang ia selalu memberikanjawaban-jawaban yang membuatku penasaran, bila kutanya apa maksudnya, ia hanya tersenyum dan menjawab ‘lupakan saja’.

“Sabtu kau ada acara?”tanyanya setelah sekian lama ia diam. Aku berpikir sejenak, lalu aku menggeleng.

“Tidak ada. Memangnya kenapa?”tanyaku. Ia nampak terdiam, membuatku semakin penasaran saja. Apa yang ia pikirkan?, batinku.

“Aku..akan melamar seorang gadis.”aku hampir tersedak saat ia mengatakan hal itu. Aku menatapnya tak percaya, ia hanya menanggapi dengan senyuman malu-malu.

“Kau..siapa gadis itu?”tanyaku pada akhirnya. Ia nampak menggaruk tengkuknya kikuk.

“Ia gadis yang baik.”ucapnya sambil tersenyum. “Aku..akan mengadakan pesta kejutan untuknya, kuharap kau bisa datang.. Seunghyun-hyung juga akan..”aku menatap Young Bae selama ia menceritakan rencananya.

Aku tak percaya bahwa ternyata ia menyukai seorang gadis selama ini. Bisa kutebak, ia pasti sangat mencintai gadis itu. Ia nampak begitu antusias saat menceritakannya, dan mata itu tak bisa berbohong, ia sangat bahagia. Kedua matanya berbinar cerah saat ia menceritakannya padaku.

‘Ada apa denganku?Tak seharusnya aku bersedih saat temanku sedang bahagia.’dalam hati aku mengutuki diriku sendiri. Ada apa denganku?, harusnya aku juga ikut senang dengan kabar yang kudengar iniKenapa..kenapa hatiku merasa tak nyaman?

“Bagaimana menurutmu?”tanyanya yang membuatku segera tersadar dari lamunanku. Aku mengerjap bingung.

“Eh?Uhm, itu juga bagus kurasa.”ucapku sekenanya. “Maaf, Young Bae..aku harus segerapulang. Aku duluan.”ucapku. Bisa kulihat kalau ia menatap bingung kepergianku. Aku segera melajukan mobilku menujurumahkukembali. Aku menyandarkan kepalaku saat aku kembali mengingat perkataan Young Bae.

‘Aku akan melamar seorang gadis.’aku memejamkan mataku saat kurasakan mataku memanas. Ada apa denganku?Kenapa aku seperti ini?

@@@@@

“Jadi kau sudah mendengar dari Young Bae sendiri?”tanya Seunghyun saat ia berkunjung ke rumahku. Aku meletakkan cangkir kopi di depannya dengan pandangan malas sebelum aku mengangguk.

“Kenapa hanya aku yang sepertinya tak tahu apa-apa mengenai hal ini?Kau juga nampak merahasiakannya dariku, Hyunnie.”ucapkukesal. “Siapa gadis itu?”tanyaku mendesak. Seunghyun nampak tersedak, ia lalu terbatuk-batuk.

“Hei, kau tak apa-apa?”tanyaku cemas. Ia mengangguk sambil tersenyum, ia lalu menatapku dengan pandangan yang sama seperti saat Young Bae menatapku tadi pagi.

“Kau mengenalnya kok..”ucapnya sambil tersenyum penuh arti. Aku menaikkan alisku bingung.

“Apa Goo Hye Sun-ssi?”tanyaku yang sukses mendapatkan tonyoran pelan di keningku.Aku mengeluh, membuat Seunghyun tertawa.

“Jangan asal bicara begitu, mana mungkin Young Bae melamar wanita bersuami.”ucap Seunghyun sambil tersenyum geli. Aku mengerucutkan bibirku, jawaban Seunghyun sama sekali tak memuaskanku.

“Nanti kau juga tahu.”tambah Seunghyun, ia lalu menilik jam dinding rumahku. “Aku pulang sekarang saja kalau begitu.”tambahnya sambil memakai mantelnya kembali. Aku mengantarnya sampai ke pintu depan rumah.

“Oh, iya.. Young Bae berpesan padaku, kau harus memakai pakaian yang bagus besok Sabtu.”ucapnya sebelum benar-benar masuk ke mobil. Aku mengernyit.

“Kenapa harus begitu?”tanyaku. Lagi-lagi Seunghyun hanya tersenyum misterius, membuatku makin penasaran. “Baiklah, baiklah..sudah sana pulang!”ucapku agak kesal. Seunghyun tertawa, ia lalu mengacak pelan rambutku.

“Semoga kau bahagia, ne?”ucapnya sebelum ia benar-benar memasuki mobil dan menghilang di balik kabut malam. Aku sedikit tercenung mengingat kalimatnya tadi. Semoga aku bahagia?Apa maksudnya?Aku menggelengkan kepalaku, aku merasa seharian ini aku di permainkan oleh dua orang terdekatku, Young Bae dan Seunghyun.Aku segera memasuki rumah, sebelum aku makin gila karena penasaran.

@@@@@

Sabtu malam, pukul 18.00

Aku menatap pantulan bayanganku sendiri di cermin.Young Bae bilang aku harus memakai pakaian yang bagus, jadi aku tepati saja permintaannya itu. Hampir lima belas menit aku mengaduk isi lemariku dan akhirnya aku menemukan dress hitam selutut tanpa lengan ini.

“Apa ini terlalu formal, ya?”gumamku pada diriku sendiri. “Tapi, Young Bae bilang aku harus memakai pakaian yang bagus, kan?”tambahku. Aku mengangkat bahuku sendiri. Sudahlah, aku akan pakai ini. Lagipula, aku tidak memiliki koleksi gaun formal lain. Setelah sedikit merias wajahku,aku segera bersiap untukpergi.

Aku sedikit merapikan poniku sebelum benar-benar keluar dari mobil begitu aku sampai. Ada rasa tak nyaman sendiri saat mengetahui tempat yang akan di gunakan untuk sesi lamar-melamar itu adalah café tempat biasa aku dan Young Bae makan bersama. Tempat favorit kami berdua. Kenapa di antara semua tempat ia harus memakai tempat ini?pikirku agak kesal.

Mengabaikan perasaan kesalku, aku segera masuk. Sedikit heran karena Young Bae masih sibuk mempersiapkan semuanya, mungkin juga ia tak menyadari keberadaanku. Aku menepuk pundakSeungri yang nampak sibuk merapikan rangkaian bunga, ia nampak terkejut saat mengetahui kalau aku yang menepuk pundaknya tadi.

“E-eh, noona?Sudah datang?”tanyanya gelagapan. Aku merasa herandengansikapSeungriyangnampakgugup(anakiniadalahtipikalanakyangmemilikikepercayaandiriyangtinggi), namun aku tetap mengangguk.

“Belum selesai?”tanyaku. Seungri menggeleng, ia lalu tersenyum misterius. Lagi-lagi ekspresi itumuncul.

“Young Bae-hyung sudah menunggumu daritadi.”ucap Seungri lagi. “Ada yang ingin ia bicarakan.”tambahnya. Aku mengangguk paham.

“Ehm, Seung-ya?”sebelum benar-benar pergi, aku memanggil kemenakan kesayangan Young Bae itu.

“Ya, noona?”tanyanya. Mungkin, aku bisa sedikit mengorek informasi mengenai gadis pujaan Young Bae itu.Entahlah, aku merasa ini tidak adil karena hanya aku yang tidak tahu apa-apa mengenai gadis itu. Aku juga temannya Young Bae, kan?

“Kau tahu siapa gadis itu, kan?”tanyaku penuh selidik, sedikit mendesaknya. “Kalau kau memberitahuku, aku tidak akan mengadukan masalah bolosmu beberapa hari lalu pada Young Bae.”aku tersenyum tipis kala pendirian Seungri mulai goyah.Inimudah,pikirkusenang.

“Eh, tapi Young Bae-hyung bilang-“.

“Ah, Jin-ah..kau sudah di tunggu Young Bae di VIP room.”aku berusaha mati-matian untuk tidak membentak Seunghyun. Demi Tuhan, aku sudah hampir mengetahuinya kalau saja ia tak memotong pembicaraanku dengan Seungri!Dengan malas, akupun meninggalkan mereka berdua menuju VIP room.

Normal Pov’s

“Kau hampir saja merusak rencananya.”ucap Seunghyun sambil melirik ke Seungri.Seungri hanya nyengir kekanakan.

Mianhae, hyung.”ucapnya sambil menatap sosok Hyeejin yang menghilang di balik koridor tangga menuju VIP room.

Hyeejin menghela nafas, setiap langkah yang ia lakukan rasanya jadi sangat berat. Ia tidak tahu kenapa, tapi hati kecilnya menjerit tak terima kalau sampai Young Bae benar-benar melamar gadis itu. Kedengarannya jahat, bukan?

Hyeejin sendiri juga tak begitu mengerti dengan perasaannya saat ini, ia terlalu egois untuk mengakui kalau sebenarnya ia tidak setuju kalau Young Bae akan melamar gadis itu. Lebih tepatnya, ia tidak setuju bila sampai Young Bae menikahi gadis itu.

“Hyeejin-ah..kau datang.”Hyeejin tersenyum kala Young Bae menyambutnya seperti biasa. Lelaki itu nampak duduk di sebuah meja yang begitu indah karena dekorasi yang elegan. Gelas-gelas wine dan satu set perlengkapan makan malam yang nampak mahal juga ada di sana.

‘Beruntung sekali gadis itu.’pikir Hyeejin.Ia lalu memandang berkeliling di sekitar ruangan itu. Ruangan itu terasa makin menyenangkan dengan lampu dan lilin-lilin yang menyala temaram.Hyeejin mengernyit saat Young Bae menyetel musik lembut, menambah kesan romantisme di ruangan itu.

“Aku akan menarikan sebuah tarian bersamanya, bagaimana menurutmu?”tanya Young Bae. Hyeejin tersenyum.Entah kenapa hatinya makin terasa tak nyaman.Ia terkejut saat Young Bae mengangsurkan tangannya ke arahnya.

“Maukah kau membantuku mencobanya dulu?”tanya Young Bae lembut.

“Aku..kau tahu aku tidak bisa berdansa, Bae.”ucap Hyeejin. Hati Hyeejin sakit, bila mengingat dansanya tidak memiliki arti apa-apa bagi Young Bae.Young Bae tersenyum kecil.Hyeejin terkejut saat Young Bae menarik pinggulnya dan mulai berdansa pelan-pelan.

“Aku tidak bertanggung jawab kalau kakimu terinjak.”ucap Hyeejin menghindari tatapan intens Young Bae.Ia hanya berharap, semoga pemuda itu tak mendengar degupan jantungnya yang makin keras. Young Bae tersenyum lembut.

“Tidak masalah.”ucapnya.Merekapun meneruskan dansa mereka tanpa bicara.Sesekali Young Bae tertawa saat Hyeejin hampir saja salah langkah.Membuat jantung Hyeejin makin bertalu dengan keras.

“Hyeejin-ah?”panggil Young Bae,masihsambilmenatapHyeejin.

“Hm?”jawab Hyeejin. Ia masih menunduk, menghindari mata Young Bae yang terus menatapnya.

“Kau tidak penasaran soal gadis yang akan kulamar?”tanyanya dengan pandanganmenggoda.Hyeejin mendecakkan lidahnya malas.

“Percuma jika aku bertanya, kau juga tak akan memberitahukannya padaku, kan?”tanya Hyeejin kesal. Young Bae tersenyum.Mereka berhenti berdansa saat musik sudah tak lagi mengiringi mereka.

“Kalau kuberitahu, bagaimana?”tanya Young Bae. Hyeejin menatap Young Bae dengan pandangan berbinar.

Jeongmal? Kau mau memberitahuku?”tanya Hyeejin. Young Bae tersenyum kecil, ia lalu menarik Hyeejin menuju cermin besar yang ada di pojok ruangan itu.Cermin besar yang menampakkan pantulan dirinya dan Young Bae secara utuh.Hyeejin bingung, tetapi ia biarkan Young Bae menuntunnya menuju ke sana.

“Kau lihat siapa di sana?”tanya Young Bae tepat di belakang Hyeejin, membuat gadis itu sedikit merinding merasakan hembusan nafas pemuda itu. Hyeejin masih menatap pantulan dirinya di cermin besar itu.

“Itu aku..jangan bercanda, Bae!Aku serius!”ucap Hyeejin kesal. Ia terkejut saat Young Bae memasangkan kalung berbandulkan cincin perak yang begitu indah. Hyeejin menatap bingung bayangan dirinya yang memakai kalung itu dan Young Bae yang tersenyum lembut di belakangnya.

“Aku juga serius..”ucap Young Bae. “Memangnya kapan aku bermain-main denganmu, Hyeejin-ah?”tanya Young Bae.

“I-ini..-“

“Menikahlah denganku, Hyeejin-ah..menikahlah denganku, menyandang nama keluarga Dong, dan..”Young Bae menarik Hyeejin ke dalam rengkuhannya yang hangat. “jadilah teman hidupku sampai ajal datang menjemput kita.”butuh waktu lama untuk Hyeejin mencerna semua kalimatYoung Bae.

Jadi, gadis yang di lamar Young Bae adalah dirinya?Gadis yang beberapa hari ini membuat Hyeejin penasaran, gadis yang diam-diam membuatnya cemburu adalah dirinya sendiri?Hyeejin menyentuh pelan cincin yang kini menggantung di lehernya.Ia juga bisa merasakan Young Bae masih memeluknya dari belakang, menyalurkan kehangatan yang diam-diam sangat Hyeejin inginkan.

“Young Bae..kau serius soal ini?”tanya Hyeejin lirih. Young Bae tersenyum.Ia makin mempererat pelukannya.

“Sangat serius.”ucapnya setelah lama diam. Hyeejin menghela nafas gugupnya, perlahan ia menghadap ke Young Bae. Menatap kedua mata Young Bae yang menatapnya cemas, menanti jawaban yang akan ia keluarkan.

“Akh!Sakit.”Young Bae terkejut saat tiba-tiba Hyeejin mencubit pinggangnya keras.Ia mengaduh sambil mengelus pinggangnya. “Kenapa kau mencubit-“.

“Kau yang kenapa?Kenapa kau tega membuatku penasaran?” tanya Hyeejin, ia bisa merasakan matanya mulai menitikkan airmata, airmata yang ia yakini adalah airmata kebahagiaan. “Aku hampir mati penasaran.Pabbo!”lirih Hyeejin. Young Bae tersenyum lembut, perlahan ia menarik Hyeejin ke dalam pelukannya lagi.

Mianhae..aku tidak bermaksud begitu.”ucap Young Bae. Diam-diam, ia juga merasa bersalah dengan perbuatannya ini. Awalnya ia ragu dengan rencananya ini, jadi ia rundingkan dulu dengan Seunghyun dan Seungri, namun ternyata dua pemuda itu malah mendukungnya dan bilang kalau ini akan menjadi momen yang tak terlupakan baginya dan Hyeejin nantinya.

“Jadi..apa jawabanmu?”tanya Young Bae. Hyeejin menatap Young Bae lama, ia jadi merasa konyol dengan tingkahnya akhir-akhir ini. Namun, Hyeejin tak memungkiri kalau ia sangat bahagia sekarang. Hyeejin menghela nafas, ia lalu mengukir senyum kecil.

“Apa perlu kujawab?”goda Hyeejin. Young Bae mendecakkan lidahnya, sekarang giliran ia yang di kerjai. Hyeejin tertawa kecil.

“Hyeejin..”Young Bae menatap Hyeejin. “Akan kupaksa kau menerima cincinku kalau kau tak menjawab.”ucapan Young Bae lantas membuat Hyeejin tertawa lagi.

“Jadi?”tanya Young Bae lagi. Hyeejin tersenyum lembut.Young Bae terkejut saat Hyeejin mencium pipinya lembut.

Pabbo..tentu aku mau.”ucap Hyeejin pada akhirnya. Hyeejin tersenyum kala Young Bae menariknya kembali ke dalam pelukannya.Ia balas pelukan pemuda itu.

Kansahamnida.Saranghanda.”bisik Young Bae.Hyeejin tersenyum.

Cheonman.Nado Saranghanda..”balas Hyeejin.

@@@@@

“Riasanku terlalu tebal tidak?”

“Apa gaun ini membuatku terlihat pendek?”

“Aku tidak terlihat tua, kan?”Seunghyun hanya tersenyum saat pertanyaan-pertanyaan itu terus terlontar dari bibir Hyeejin.Wajar menurutnya kalau Hyeejin gugup, hari ini adalah hari istimewa bagi gadis itu, hari ini adalah hari pernikahan Hyeejin dan Young Bae.

Seunghyun sendiri menjadi pendamping pengantin Hyeejin, karena gadis itu sudah tak memiliki ayah dan ibu, Hyeejin hanya memiliki seorang kakek yang sudah cukup renta, dan gadis itu tak tega melihat kakeknya yang sudah tua harus menggandengnya menuju altar.

“Kau cantik, Jin-ah..bahkan kalau kau hanya memakai gaun dari karung goni, Young Bae tetap mencintaimu.”Seunghyun tersenyum geli saat Hyeejin mendelikkan mata ke arahnya. Pemuda yang sudah di anggap Hyeejin seperti kakaknya sendiri itu lalu mengangsurkan lengannya ke Hyeejin.

“Ayo, jangan buat calon suamimu menunggu lebih lama.”Hyeejin tersenyum kecil, ia lalu menyambut lengan Seunghyun, dan mulai berjalan menuju tempat Young Bae.

Hyeejin bisa merasakan jantungnya bertalu makin keras saat matanya mulai menangkap sosok Young Bae yang berdiri gagah di depan altar suci. Diam-diam mukanya memerah.Ia tak tahu kenapa, tapi melihat Young Bae dalam balutan jas hitam khas busana pernikahan membuatnya merasa kalau Young Bae makin tampan saja. Hyeejin bisa merasakan Seunghyun mulai melepaskan tuntunannya, sebelum benar-benar melepaskan lengannya ia bisa mendengar Seunghyun berbisik pelan padanya.

“Semoga kau bahagia, ne?”mau tak mau Hyeejin tersenyum. Sekarang ia tahu, apa makna kalimat yang di ucapkan pemuda itu tempo hari. Seunghyun ingin Hyeejin bahagia dengan Young Bae, Seunghyun ingin Hyeejin membangun keluarga yang bahagia bersama Young Bae.

“Dong Young Bae, maukah kau menerima Lee Hyeejin sebagai istrimu, dalam keadaan suka maupun duka, sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kalian?”Hyeejin melirik sekilas. Ia bisa melihat tatapan mata Young Bae yang begitu tegas dan mantab.

“Aku bersedia.”Entah sejak kapan, namun perlahan airmata Hyeejin mulai merebak.Ia bahagia, sangat bahagia karena akhirnya ia bisa mendengar kalimat sakral itu dari orang yang tepat. Hyeejin sedikit menyeka airmatanya.

“Lee Hyeejin, maukah kau menerima Dong Young Bae sebagai suamimu, dalam keadaan suka maupun duka, sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kalian?”Hyeejin tersenyum, meski jejak airmata masih terpeta di wajah ayunya.Ia makin menggenggam erat tangan Young Bae.

“Ya, aku bersedia.”usai berucap demikian, Hyeejin merasa begitu lega. Seakan beban berat yang tadinya menimpa punggungnya hilang seketika.

“Aku nyatakan kaliansahsebagai suami-istri.”baik Hyeejin maupun Young Bae tersenyum lembut usai mendengar kalimat pastur tersebut.Hyeejin memejamkan matanya saat Young Bae mengecup lembut bibirnya, pemuda itu mengukir senyum kecil saat mendapati muka Hyeejin memerah.

Kansahamnida. Saranghanda.”Hyeejin mengukir senyumnya. Lagi-lagi ia mendengar kalimat itu dari Young Bae. Hyeejin senang dan ia tak akan pernah bosan bila Young Bae terus mengucapkannya.

Nado saranghanda..”

 

I will love you.. As long as I live..

From this moment..

*FIN

Aigooo..!!!!. Mianhae chingu kalau endingnya jadi gaje atau jelek..T.T, terus terang sequel ini memang di luar rencana saya. Sebelumnya saya memang tidak berencana membuatkan sequel dari ‘Life After the Wedding Dress’ tapi melihatpermintaan sequel dari chingu sekalian, ya udah saya buatkan.. Jeongmal Mianhaeyo kalau hasilnya tidak memuaskan kalian, atau terlalu gombal..hehe. Ngomong2, kalo mau lebih dapet feel-nya, bacanya sambil dengerin lagunya Shania Twain yang judulnya sama dengan fic ini.. Oke, gak banyak omong lagi deh..tinggalkan jejak anda sekalian chingu, boleh saran, kritik, atau pujian kalau ada. Follow saya di twitter juga gak apa2..*maksa..di @youngdinna. Don’t be shy, okay?.^^

Kansahamnida@youngdinna