lady of  mine

Aku terbiasa mendapatkan cinta dari setiap orang terdekatku. Aku tumbuh menjadi seorang pria dewasa yang tak pernah merasa sendirian dalam situasi hidup yang sulit sekalipun. Sampai kau datang, mengisi setiap lembar hidupku dengan tinta cintamu. Menggambar berbagai cerita indah kita bersama. Sampai akhirnya tinta mu berhenti di satu titik, tak berwarna lagi. Meninggalkan lembar-lembar hampa yang sulit untuk diisi dengan goresan tinta lain. Kau mengenalkanku pada cinta, tapi kau juga yang mengajarkanku pada luka itu sendiri. Andainya aku bisa meminta pada Tuhan, aku ingin memutar waktu dan menjagamu lebih baik. Lebih dari apapun.

 

A Storyline by Tabina Hatake (@realtabina)

 

LADY OF MINE

 

Casts: Kwon Jiyong (G Dragon BIGBANG); Oh Hana (OC); other BIGBANG member(s); other cast(s) that can’t mentioned here

 

Disclaimer: Kwon Jiyong and BIGBANG member(s) are belong to God and themselves. OC are mine. The story is purely mine. Don’t ever take out without credit and permission. No plagiarism acception!

 

Genre: Romance; Hurt/Comfort

 

Rate: PG 15 for adult contents

 

Warning: This is G Dragon’s POV storyline. I try to make it real to GD’s daily life. Wish you a happy reading!

 

 

Seoul, 2006

Waktu menunjukkan jam 9 pagi. Tapi aku masih saja bermesraan dengan selimutku. Entah mengapa mataku enggan terbuka meskipun sudah banyak suara gaduh tertangkap indera pendengaranku.

“Jiyong-ah. Ayo buka matamu! Nanti kita terlambat.”, si maknae tampak sudah menyerah untuk membangunkanku. Dia jengah menarik-narik selimutku. Tapi yang ia dapat adalah semakin ia menariknya, semakin kuat pula aku menarik kembali dan menggelungnya ditubuhku.

“Ish! Susah sekali dibangunkan!”, Seungri akhirnya menyerah dan memilih untuk memanggil bantuan.

Noonaa!”, aku mendengarnya berteriak memanggil seseorang. Setengah sadar aku mencerna kata yang keluar dari mulut Seungri. Noona? Setahuku kami berlima adalah laki-laki.

“Bangun, sleepy head.”, aku mendengar suara wanita. Peduli apa aku? Aku masih mengantuk.

Dia nampaknya menyibak selimutku. Apa yang dia cari? Aku merasakan jemari dingin mengglitik di jari kakiku. Mau coba main-main. Lihat sa . .

“Aawww!!!!”, seruku langsung terbangun dan memegangi jempol kakiku. Dengan sangat tak berprikemanusiaan dia mencabut beberapa helai bulu di jempol kakiku.

“Nah, sudah bangun. Yang lain teruskan bersiap-siap.”, teriakan nyaringku ternyata sempat menyita perhatian member lain. Aku menetralisir penglihatanku, membiasakan diri dengan cahaya yang masuk tiba-tiba menyilaukan mata. Kini sosok kejam itu terlihat jelas.

“Kau selalu menggangguku, Hana.”, tukasku turun dari kasur.

Self discipline. Tanamkan itu. Kau leader. Kurasa kau tahu posisimu. Dan jangan lupakan sufiks –noona untukku.”

“Iya-iya, Noona. Aku bangun. Puas?”, Hana menggelengkan kepalanya. Aku mengedikkan bahu dan bersiap mandi. Yang lain masih bersiap-siap untuk agenda hari ini.

 

Kami berlima sudah duduk manis di dalam van. Hana tersenyum puas melihat kami.

“Nah, jadwal pertama kita adalah pemotretan untuk The North Face kalian.”, tutur Hana. Aku masih sibuk sendiri dengan kertas dan pena ku.

“Sedang apa, Jiyong-ah?”, Seungri menegurku.

“Menulis lirik. Ini akan menjadi masterpiece!”, ujarku.

“Apa judulnya?”

“Geojinmal.”, aku dan Seungri asyik mengobrol sampai tidak memperhatikan Hana. Dia hanya melirikku sekilas. Bisa kulihat dari ekor mataku. Aku tak peduli dan meneruskan menulis bait-bait kata untuk lagu baru ku.

 

***

 

Seoul, 2007

Aku sedang kesal. Aku baru saja menemui Yang Hyun Suk-hyung. Bukan dia yang membuatku kesal, tapi keputusannya yang membuat perasaan hatiku bercampur aduk. Aku pergi ke rooftop, tempat paling tenang di bangunan ini. Aku berteriak sekuat mungkin sebagai ekspresi emosiku. Aku berteriak beberapa kali sampai aku terengah sendiri.

“Hei, hei. Yang punya telinga bukan kau saja.”, seseorang menegurku dari arah belakangku. Aku menoleh dan mendapati Hana disana.

“Sedang kesal?”, tanyanya. Aku tak menyahut. Aku menendang botol mineral kosong disampingku keras.

“Aku mengerjakan Lies susah payah untuk album soloku. Bukan untuk grup.”, Hana tak menyahut. Aku terdiam dan tanpa kusadari buliran bening lolos dari sudut mataku. Aku menggigit bibir bawahku getir.

“Lagu itu pasti terdengar bagus dengan bakat yang kau miliki.”, Hana membuka suara. Ada jeda sejenak sebelum dia melanjutkan kata-katanya. Aku bahkan terisak dalam diam.

“Tapi tak masalah jika akan dibawakan grup. Nama mu akan tetap dikenal sebagai ide brillian lagu itu sendiri.”, sambungnya. Aku mengacak rambutku sendiri dan duduk merosot di lantai semen bersandar pada tembok. Buliran bening masih menjejak di sepanjang pipiku.

“Lepaskan saja emosimu. Dan bangunlah dengan dagu terangkat tegak, Jiyongie.”, Hana ikut duduk disampingku. Menemani luapan emosiku dalam tangis bisu. Dia hanya diam, menanti, dan mengerti dalam sikap heningnya hingga aku puas meluapkan emosi ku.

“Siap mengalahkan ego mu?”, sambutnya ceria setelah aku sudah berhenti menangis dan bangkit. Dialah, kurasa yang bisa mengerti aku tanpa membuatku merasa cengeng.

 

***

 

Seoul, 2009

“Tsk! Kurang kerjaan!”, umpatku sambil membanting pintu studio. Aku baru saja selesai mengerjakan beberapa proyek laguku. Aku sedang kesal dengan pemberitaan yang meluas tentang album terbaruku. Wajahku begitu kusut dengan bibir yang mengerucut, kebiasaan lamaku.

“Kau bahkan terlihat manis saat kesal begitu.”

“Dasar penguntit.”, aku mendapati Hana berjalan menyusulku. Dia menjenggit kecil anak rambut di pelipisku.

“Aaww! Sakit tahu!”, protesku sambil mengelus bagian kulit kepalaku yang perih.

“Jangan konyol. Daripada menguntitmu aku lebih memilih menguntit pria kaya.”, ejek Hana.

“Aku kaya.”, jawabku.

“Tampan.”, Hana menambahkan.

“Aku juga.”, aku tak mau kalah. Dia menatapku sesaat.

“Pandai dan berbakat.”

“Jelas itu aku, penguntit!”

“Dan bertubuh bagus.”, Hana menepukkan tangannya. Seolah berkata check mat!

“Aahh! Sudahlah kau membuatku tambah kesal.”, aku melengos dan kembali mengerucutkan bibirku.

“Nah kalau begitu kenapa kau harus kesal?”, aku menatapnya lekat tak mengerti arah pembicaraan Hana.

“Ayolah, kau cerdas. Pandai dan berbakat. Wawasanmu luas. Kau menyadarinya bukan?”, Hana menatapku. Aku masih tak mengerti.

“Masalah plagiat. Heartbreaker mu itu, aku percaya kau tidak melakukannya.”, aku mengangkat sebelah alisku. “Buktikan talenta yang kau miliki. Kau bisa pikirkan jalan keluarnya. Tak semua yang kau anggap sebagai batu sadungan itu adalah penghalang.”, Hana menyunggingkan senyumnya. Aku membulatkan mataku.

“Serahkan pada YG untuk klarifikasi, dan bekerjalah dibelakang untuk memanjat batu sandunganmu itu. Mungkin akan membantumu meraih sukses yang lebih besar.”, sambungnya. Aku menelengkan kepalaku dan mendapati sebuah ide.

“Hana! Ada yang mencarimu dibawah!”, Nam Guk-hyung memanggil dari belakang kami.

“Aku segera kebawah.”, sahut Hana.

“Jadi berjuanglah, Naga Kurus!”, dia menepuk kepalaku lembut dan berlari kecil menyusul Nam Guk. Aku memperhatikan sosoknya dari belakang. Mungkin dia tak pernah mengucapkan kata-kata yang dalam, tapi itulah Hana. Aku merasa dia selalu ada untukku.

 

***

 

Seoul, Agustus 2011

Aku keluar dari ruang Yang Hyun Suk-hyung dengan wajah yang kusut. Lagi dan lagi aku serasa dibuntuti kesialan. Betapa bodohnya aku. Aku meremas sendiri rambutku dengan gemas.

“Kalau rambutmu bisa mengeluh, kurasa mereka akan berdemo dan pergi meninggalkanmu.”, celetuk suara di belakangku. Aku menoleh dan mendapati Hana bersandar di tembok sambil melipat tangan di depan dadanya. Siluet 170 sentimeter sampingnya dibawah terpaan cahaya yang masuk dari jendela begitu. . .

Appa marah besar, ya?”, aku diam saja dan berbalik meneruskan jalanku. Hana mengekor dibelakangku.

“Memang aku yang salah.”, lirihku. “Aku mengecewakan semua orang. Seungri bahkan menangisiku.”

Appa jelas kecewa padamu.”, aku menoleh pada Hana. “Dia juga sedih. Tapi satu yang perlu kau tahu.”, dia membalas tatapanku. Aku melengos menghindari matanya yang selalu cemerlang.

“Apa maksudmu?”, aku menunduk.

“Dia mungkin mengamuk. Tapi itu adalah wujud kasih sayangnya padamu. Dia bangga padamu, maka saat kau mengecewakannya, dia akan sangat sedih dan memarahimu dengan keras.”, aku mencerna ucapan Hana baik-baik.

“Tidak ada orang tua yang ingin anaknya terjerumus ke jalan yang salah. Begitu pula Appa.”, Hana menyunggingkan senyum dan membenahi helai-helai rambutku yang berantakan.

“Terimakasih, Hana-ya.”

“Aku tak melakukan apa-apa. Yang perlu kau tahu adalah selalu hati-hati dalam melangkah. Semakin tinggi sebuah pohon, akan semakin kencang angin yang bertiup. Itu yang diinginkan Appa.”, Hana mengangkat dagu ku. “Kami selalu ada untukmu.”

Aku terpaku pada wajah Hana. Dia berlalu dan melambaikan tangannya padaku tanda sampai jumpa. Entah sejak kapan, ada rasa yang berbeda setiap aku mendengar suara Hana. Hana tak pernah berkata ‘Apa kau baik-baik saja?‘, karena dia tahu betul apa yang kurasakan. Dia tak pernah menceramahi ku saat aku sedang dalam masalah. Tapi dia tahu bagaimana membuatku merasa lebih baik. Entah sejak kapan, kurasa aku jatuh hati pada gadis ini.

 

“Jiyongie.”, sebuah panggilan mengembalikan kesadaranku dari lamunanku akan Hana.

“Berhenti membuat namaku terdengar manis, Young Bae.”, pria berperawakan sedang itu menghampiri dan memeluk leherku.

“Ayo pulang. Aku sudah memasak makan malam.”

“Bagaimana Seungri?”

“Setahuku dia sudah tertidur karena kelelahan menangisimu seharian.”, aku melihat arlojiku menunjukkan pukul 9 malam.

“Ayo.”, ulang Young Bae. Aku hanya mengikutinya dibelakang. Aku benar-benar menyesali kebodohanku. Harusnya aku lebih hati-hati.

 

Sudah dua minggu sejak aku terakhir kali melihat Hana. Aku sengaja menyendiri, kurasa aku membutuhkannya. Biasanya Hana akan tetap datang untuk sekedar menyapa. Seung Hyun dan Young Bae menyarankanku untuk pulang dan menenangkan diri di rumah, tapi aku menolaknya. Aku belum mampu menemui orang tuaku, meski mereka pun sudah mengunjungiku di dorm kemarin.

“Aku keluar sebentar, hyung.”, pamitku pada Seung Hyun.

“Perlu ditemani?”, tawarnya. Aku menggeleng pelan. Aku hanya ingin mencari udara segar. Seung Hyun pun tak akan bicara banyak. Semua member tetap menyayangiku, tapi justru sikap perhatian mereka bagaikan cermin yang menunjukkan betapa bodohnya aku yang telah mengecewakan mereka.

 

Aku berhenti di depan sebuah bangunan. Ponselku menunjukkan pukul 10 malam. Kubuka list kontak dan menulis pesan pada sebuah nomor. Kutunggu beberapa menit sampai sebuah panggilan masuk. Aku menyunggingkan sebuah senyum kemenangan.

“Ya, halo?”

“Langsung saja. Ada apa Gossip Man? Kau merusak mimpi indahku.”, sahut suara di seberang kesal karena aku mengatainya penguntit.

“Aku hanya merindukan penguntitku.”

“Kau mabuk?”

“Sedikit.”, aku jujur. Memang tadi aku sempat mampir disebuah mini market dan membeli beberapa botol vodka.

“Dan kau berkendara?”

“Hmm. .”

“Kau gila! Berhentilah menjadi sensasi, Jiyongie!”, dia nampaknya kesal. Aku hanya tertawa pelan.

“Turunlah. Aku dibawah.”

“Kau disini?”, aku memang berhenti di depan bangunan apartemen Hana di daerah Gangnam. Aku juga tak tahu alasan mengapa aku menyetir ke apartemen Hana.

“Jangan berani kemana-mana! Demi Tuhan kau ini, Jiyongie! Bagaimana kalau dilihat media?”, suara Hana di sambungan telepon masih saja terdengar. Dia nampak tergesa. Aku hanya menyunggingkan senyum mendengarnya terus mengoceh. Bagiku suaranya seperti nyanyian merdu yang keluar dari mulutnya. Aku bahkan sama sekali tak menyahut saat dia memanggilku.

“Hei! Bukannya tidur di dorm, kau malah kelayapan mabuk di sini! Ayo buka pintunya!”, ternyata Hana sudah ada di samping mobilku. Dia mengetuk kaca pintu mobilku. Aku membuka pintunya, tapi enggan keluar. Kepalaku sangat pusing rasanya.

“Kalau Appa tahu, dia akan makin mengamuk!”, Hana masih mengoceh saja. Dia menarikku keluar dari mobil, memapahku berdiri dan tak lupa mengunci mobilku.

“Ayo! Aku akan menelepon Seung Hyun setelah ini.”, dia mengajakku masuk ke bangunan apartemennya. Untunglah sudah malam, jadi tak begitu banyak orang yang masih bangun. Itupun Hana memakaikan hoodie ku untuk menutupi sebagian wajahku.

“Kau ini berat sekali!”, bisiknya menggerutu.

“Berarti aku bukan Naga Kurus mu lagi.”, aku sengaja menggelayut di pundaknya. Yah, karena aku juga tidak bisa menopang tubuhku sendiri dengan sempurna.

Hana membawaku masuk lift. Dia agak menyandarkan dirinya sendiri pada dinding lift, mungkin aku memang benar-benar berat baginya. Aku sedikit mengangkat kepalaku. Kuperhatikan Hana dari kepala sampai ujung kakinya. Dia mengenakan lingerie hitam 5 cm diatas lutut lengkap dengan jubah sutranya. Dia memakai sandal rumah dengan kepala teddy bear ungu. Seperti bocah saja. Aku menjatuhkan lagi kepalaku di pundaknya.

“Pusing?”, tanyanya. Aku hanya menggumam tak jelas. Aku membenarkan posisi kepalaku sampai akhirnya pas dan nyaman di lekukan antara leher dan pundak Hana. Bisa tercium wangi sabun sakura dan semburat parfum Channel nya dihidungku. Mungkin Hana agak tak nyaman dengan posisi yang kuciptakan, tapi toh dia mengabaikannya.

Pintu lift terbuka dan Hana menyeretku lagi menuju apartemen miliknya di lantai 10.

Dia nampak kepayahan saat membuka pintu, tapi akhirnya berhasil juga. Setelah mengunci kembali apartemennya, Hana membaringkanku di sofa malas depan ruang TV nya. Dia agak terengah mengingat dia begitu keberatan membawaku.

“Aku akan menelepon Seung Hyun. Tunggu sebentar.”, Hana baru saja akan berbalik saat aku meraih pergelangan tangannya.

“Aku ingin disini saja.”

“Tapi. . .”

“Kumohon, Hana-ya.“, pintaku merajuk. Dia tampak menimbang lalu melepaskan peganganku di pergelangan tangannya. Aku masih sangat pusing. Hana kembali dan membawakanku segelas susu. Aku hanya mengernyit.

“Ini akan menetralkan efek alkohol. Minumlah.”, aku mencoba bangun meski agak terhuyung. Hana membantuku meminumkannya padaku.

“Kau istirahatlah.”, ucap Hana. Dia berjalan ke kamarnya dan tak lama kemudian membawakanku selimut dan beberapa bantal. Dia memakaikanku selimut dan membaringkanku. Kepalaku begitu berat dan tak lama aku pun tertidur.

“Dasar sleepy head.”

 

Aku tak tahu pasti apa yang terjadi, tapi aku terbangun saat jam menunjukkan pukul 2 pagi. Aku tersadar dan duduk. Kepalaku masih agak pusing. Aku mencoba mengingat apa yang terjadi. Aku ingat bagaimana Hana membawaku susah payah ke apartemennya. Bagaimana lekuk tubuhnya yang dibalut lingerie serta aroma tengkuknya yang begitu memabukkan. Imma! Sial! pikiranku masih saja kacau!

Aku berjalan menuju dapur untuk mencari air dingin agar menjernihkan pikiranku. Aku menenggak beberapa gelas dan berniat kembali ke ruang TV saat kulihat lampu temaram disudut. Aku menghampirinya penasaran, ternyata adalah kamar Hana. Dia membiarkan kamarnya tak terkunci sedikit terbuka dan tetap menyalakan lampu. Yang kutahu memang Hana phobia gelap dan ruang tertutup. Entah apa motivasiku, tapi aku masuk ke dalam kamarnya. Hana sedang tidur pulas. Nafasnya begitu teratur dan damai. Dan sejak kapan Hana terlihat begitu cantik? Tanpa sadar aku membelai pipinya. Lembut. Aku naik ke atas ranjangnya dan membaringkan diri di belakang Hana yang memang tidur menyamping. Kusesap aroma rambutnya yang seperti permen anggur. Kulingkarkan tanganku yang bebas memeluk pinggangnya yang ramping. Hana nampaknya terkejut dan terbangun dari tidurnya.

“Ah! Jiyongie! Apa yang kau lakukan disini?!?”, Hana hendak turun dari ranjangnya saat kutahan tangannya.

“Jangan pergi.”, aku menariknya hingga Hana jatuh terbaring kembali, kali ini menghadapku. Hana tak berkata apapun, entah apa yang dipikirkannya. Aku membelai wajahnya lembut.

“Kau cantik.”

“Kau mabuk, Jiyongie.”, ucapnya lirih. Aku menggeleng.

“Aku sudah sepenuhnya sadar meski sedikit pusing.”

“Pulanglah, aku akan menelepon Seung Hyun agar menjemputmu.”, aku mengusap rambut Hana. Dia menepis tanganku.

“Aku masih ingin disini.”

“Kau harus pulang. Nanti yang lain mencarimu.”, aku masih menggeleng.

“Jiyongie, jangan keras ke…”, aku membungkam mulut Hana dengan sebuah ciuman di bibir mungilnya. Hana nampaknya terkejut dengan hal ini. Dia berusaha menolakku dengan mendorong dan memukul dadaku, tapi aku mengunci lehernya. Aku memperdalam ciumanku dan nampaknya Hana mulai tak berdaya.

“Kau mabuk, Jiyongie.”, Hana melempar pandangannya kebawah saat kulepaskan bibirku darinya.

“Sudah lama kau mengambil sesuatu dari sini.”, aku membawa tangan Hana menunjuk dadaku. Dia sedikit terkejut. Aku membawa tangan Hana ke wajahku. Mengusapkannya ke wajahku dan menciumnya dalam.

“Jadilah milikku Hana.”, aku mengangkat dagunya. Dia tak menjawab. Aku kembali membawanya ke dalam pesona yang aku miliki. Dan malam pun terus berlalu menjadi saksi bisu awal kisah kami berdua. Ya, hanya ada aku dan Hana. Aku telah jatuh dan tercandu oleh sosok Hana.

 

***

 

“Jiyong-ah! Sudah pulang? Darimana saja semalam!”, Seungri menyambut hangat saat aku pulang. Aku begitu kucel. Aku meninggalkan apartemen Hana tanpa sempat mandi.

“Aku hanya mencari udara segar. Aku mau mandi dulu.”, aku berlalu meninggalkan Seungri dan member lain yang saling berpandangan bingung.

Apa yang telah kuperbuat semalam! Babbo!! Kenapa kau begitu gegabah, Kwon Jiyong!!!’, pikirku dibawah shower. Aku tak tahu pasti bagaimana Hana. Apa yang dia rasakan. Itu tindakan paling bodoh! Aku tak menyangkal hatiku bahwa aku menyukainya, tapi menidurinya? Aku menjambak rambutku sendiri. Akh! Kenapa dia begitu seksi semalam?! Dan kenapa dia juga tak menamparku saja? Sial!! Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana jika bertemu Hana lagi nanti. Aku terus mengguyur kepalaku dengan air shower dingin 30 menit lebih sampai Young Bae mengetuk pintu kamar mandi kami. Aku menyahutnya dan bergegas keluar.

 

Aku menuju rooftop YG untuk mencari Hana. Aku tak menemukannya di kantor. Aku melihat heels coklat ukuran 6 teronggok di samping pintu. Itu sepatu Hana.

Aku melihatnya berdiri disisi balkon yang menghadap jalan. Nampaknya dia tak menyadari kehadiranku.

“Jam berapa kau bangun? Ma’af aku tadi langsung pergi.”, aku memeluk Hana dari belakang. Ia nampak terkejut dan hendak melepaskan lingkaran tanganku diperutnya.

“Ma’afkan aku, Hana-ya.”, Hana tak bergeming.

“Semua yang kulakukan semalam adalah dari dasar hatiku.”, aku membalikkan badannya. Aku terkejut saat melihat wajah cantik Hana bersimbah air mata. Aku tak tahu apa artinya, tapi aku tak suka melihat Hana menangis.

“Jangan kau teteskan lagi air matamu, chagiya. Aku sakit untuk setiap bulir air matamu. Ma’af harus seperti ini.”, aku mengusap air matanya, kutangkup kedua pipinya dan mendekatkan dahiku pada dahinya.

“Aku akan selalu menjagamu. Aku tak akan pernah meninggalkanmu, chagi. Aku membutuhkanmu.”, aku membelai pipinya. Dia hanya mengangguk dan memelukku. Tangisnya semakin pecah dalam dekapanku. Untuk sesaat, aku merasa itu adalah tangis bahagianya atas pernyataanku.

 

***

 

Seoul, Desember 2011

Aku dan member lain baru saja menyelesaikan latihan rutin kami. Aku baru saja akan berangkat ke tempat Ssabu-hyung bersama Young Bae saat kudengar ada obrolan kecil di lorong YG building.

“Ada apa, hyung?”, tanyaku pada Bo Ram yang sedang berbicara dengan Nam Guk.

“Ah, tidak ada. Kami hanya membicarakan Hana. Dia masuk rumah sakit semalam. Tapi anehnya dia tak mau dijenguk siapapun. Dokternya pun menolak memberitahu apa yang terjadi pada Hana.”, jelas Bo Ram. Hana masuk rumah sakit? Kenapa dia tak mengabariku?

“Oh begitu. Terima kasih infonya hyung.”, aku langsung berbalik arah.

“Hei, mau kemana Jiyongie?”, Young Bae meneriakiku.

“Menjenguk Hana.”

“Aku ikut.”, Young Bae menepuk pundakku saat berhasil menyusul langkahku. Aku sangat khawatir pada keadaan Hana. Apa yang terjadi padamu, chagiya?

 

Aku dan Young Bae sampai dirumah sakit. Young Bae bertanya dimana Hana dirawat, tapi suster menolaknya.

“Bilang saja, aku Kwon Jiyong.”, sela ku. Suster nampak menimbang sesaat kemudian menyuruh kami menunggu. Tak lama ia kembali.

“Nona Oh hanya akan menemui Tuan Kwon.”, jelasnya.

“Tunggulah disini, Young Bae.”

“Ada apa dengan kalian berdua, Jiyongie?”, Young Bae bertanya heran.

“Nanti saja aku jelaskan.”, aku mengikuti suster tadi yang akan mengantarku ke kamar Hana. Aku membuka pintu kamarnya tak lupa berterima kasih pada suster tadi. Aku kembali menutup pintu dan menghampiri Hana yang terbaring di ranjang.

Chagi?”, Hana menoleh dan menatapku sendu. Sesuatu telah terjadi.

“Apa yang terjadi?”, aku mendekati ranjangnya.

“Aku . .”, Hana tampak ragu.

“Ya?”

“Aku keguguran, Jiyongie.”, Hana menjawab lirih. Aku mencerna kata-katanya. Keguguran? Jadi Hana hamil? Sejak kapan? Jangan-jangan?

“Kau . .”, aku tak sanggup menerima berbagai sensasi yang tercampur aduk. Berbagai pikiran berkecamuk di kepalaku.

“Aku tergelincir saat di kamar mandi. Aku kira tidak akan berakibat sejauh ini. Ternyata saat aku periksa ke dokter, janin dalam kandunganku sudah tak bernyawa dan harus segera di angkat.”, hening. Aku mendengar suara Hana tapi masih sibuk dengan pikiranku sendiri.

“Aku memang sengaja tak memberitahumu. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku bingung, Jiyongie.”, mata Hana tampak berkaca-kaca.

“Aku takut kau tak bisa menerimanya. Aku tak yakin. Kau masih begitu muda dan masih bisa bersinar.”

“Apa yang kau bicarakan, Hana?’, aku menyela ucapan Hana.

“Aku tentu akan bahagia mendengarnya. Kenapa kau berpikir begitu?”, Hana terdiam dan mulai terisak. Aku membelai kepalanya lembut.

“Berapa usianya?”

“Masuk bulan kelima.”

“Bagaimana bisa kau menyembunyikannya selama itu kalau memang aku ayahnya?”

“Tentu saja kau ayahnya, Jiyongie! Kau tahu benar kau yang pertama bagiku!”, tangis Hana pun pecah. Aku membenarkan ucapan Hana, memang akulah yang pertama bagi Hana. Aku naik ke ranjangnya dan memeluk Hana. Dia melabuhkan kepalanya di dadaku dan meluapkan tangisnya.

“Ma’afkan aku Hana. Aku banyak menyulitkanmu. Seharusnya kau mengatakannya padaku.”, aku terus menemaninya menangis sampai dia tenang. Aku meninggalkannya untuk istirahat saat dia sudah tertidur. Diluar, Young Bae sudah menunggu.

“Apa yang terjadi?”

“Apa kau yakin ingin mengetahuinya?”, Young Bae mengernyit bingung.

“Tentu.”

“Dia keguguran.”

“Apa!?! Memangnya dia hamil? Lalu?”, Young Bae nampak bingung. Yang ia tahu Hana masih lajang dan dia gadis baik-baik.

“Aku ayah dari calon bayi itu.”, aku mengaku pada Young Bae.

“Apa? Ya Tuhan, Jiyongie! Apa yang kau lakukan!”, Young Bae tampak shock dengan pengakuanku.

“Kau ingat saat aku tak pulang setelah skandal Marijuana ku terungkap? Sebenarnya saat itu aku pergi ke apartemen Hana.”, lalu aku menceritakan semua kejadian pada Young Bae. Dia tampak mengurut keningnya bingung.

“Ma’afkan aku Young Bae.”

“Untuk apa? Minta ma’aflah pada Hana. Bagaimana bisa kalian diam-diam begitu seolah tak terjadi apa-apa?”, Young Bae tak habis pikir dengan ideku dan Hana untuk menyembunyikan hubungan kami.

“Aku memang sepakat menyembunyikan hubungan kami. Tapi bukan berarti aku juga menyembunyikan kehamilannya.”, aku mencoba menjelaskan pada Young Bae.

“Apa maksudmu?”

“Aku tak mengetahui perihal kehamilannya. Hana sendiri menyembunyikannya dariku.”

“Jadi kalian berpacaran?”, aku tak menjawab. Hubungan kami memang dekat, tapi aku tak tahu pasti status hubungan kami.

“Kenapa begitu kompleks?”, Young Bae semakin heran dan bingung dengan keadaanku dan Hana.

“Aku juga tak tahu. Aku memang pernah tidur sekali, maksudku meniduri Hana. Tapi aku tak mengira hal itu bisa menghamilinya. Maksudku, kau tahu kan?”, aku meremas rambutku gemas.

“Mungkin aku tak berpengalaman dengan wanita. Tapi aku tahu pasti yang kau lakukan. Kenapa kau begitu ceroboh?”, aku tak menyahut.

“Lalu bagaimana keadaan Hana sekarang?”, tanya Young Bae kemudian.

“Dia baik-baik saja. Hanya masih lemas dan terpukul. Dia perlu istirahat panjang.”

“Sebaiknya jangan sampai orang lain tahu tentang hal ini. Tidak juga member lain. Hana dikenal sebagai gadis baik. Appa bisa marah besar nanti.”, Young Bae bangkit dan mengajakku pulang. Young Bae menyarankan untuk menutupi status Hana sekarang. Aku akan mengatakan Hana hanya menderita anemia ringan dan tak ingin dijenguk agar tak merepotkan orang lain. Aku mengutuk diriku sendiri telah membiarkan Hana sendirian menghadapi ini. Aku telah mengabaikannya. Tuhan, ma’afkan aku!

 

***

 

Seoul, Februari 2012

Aku baru selesai meeting dengan beberapa staff untuk membahas Alive Tour yang akan dimulai bulan Maret mendatang. Aku melirik kursi kosong dengan nametag “Manager Oh” di sudut meja.

Hana belum masuk juga‘, pikirku.

“Ayo, Jiyongie.”, Young Bae mengajakku keluar dari ruang meeting karena aku tak kunjung berdiri. Aku terdiam sepanjang jalan menuju van kami.

“Jiyong-ah, kenapa diam saja dari tadi?”, tanya Seungri.

“Iya, kenapa diam saja, hyung?”, tanya Daesung.

“Ah, tidak apa-apa. Apa kalian melihat Hana-noona?“, Young Bae menatapku waspada. Aku masih bisa menjaga bicaraku.

“Kau tak tahu? Hana ditugaskan keluar negeri. Dia berangkat minggu lalu.”, celetuk Seung Hyun.

Aku mengangkat alisku kaget, tapi tak ingin menunjukkannya pada member lain. Kenapa dia tak berpamitan padaku?

“Oh, begitu hyung. Kemana tugasnya?”

“Ke Los Angeles. Mungkin untuk waktu yang cukup lama. Aku dengar dari Byung Yung.”, aku heran kenapa dia mau ditugaskan ke tempat sejauh itu? Aku hanya mengangguk tanda mengerti. Aku membuka ponselku dan mengirim pesan pada Nam Guk-hyung. Tak lama aku mendapatkan balasannya. Kusimpan deretan angka yang kutahu adalah nomor ponsel Hana di LA. Aku akan meneleponnya nanti.

 

Aku menengok arloji ku. Pukul 10 malam. Setidaknya di LA baru sekitar 8 pagi. Aku menulis sebuah pesan di nomor yang kudapatkan dari Nam Guk tadi pagi. Aku masih menunggu balasannya.

Pagi! Tumben pagi-pagi sudah bangun? Ah, ya aku lupa, di Seoul jam 10 malam ya?!‘, balasan dari Hana.

Kapan kau berangkat ke LA? Jahat sekali kau tak berpamitan padaku, chagi. Berapa lama kau disana?

Minggu lalu. Aku hanya tak mau mengganggumu. Aku di LA untuk kurang lebih satu tahun.

Kenapa kau selalu menggunakan alasan menggangguku? Tidakkah kau merindukanku, chagi?

Ah, kau kan memang sedang sibuk untuk Alive Tour. Kupikir aku masih bisa mengabarimu lain waktu. Aku pergi dulu. Harus segera berangkat kerja. ^^

Aku membaca text balasan terakhir Hana. Tiba-tiba aku merindukan gadisku. Aku memang salah selalu mengabaikannya. Membiarkan hubungan yang ada terbengkalai. Secara tidak langsung aku menggantungkan status Hana. Aku berjanji pada Hana untuk menjaganya, tapi aku tak pernah ada di sampingnya. Hana tak pernah mengeluh. Bahkan sejak awal kejadian aku menidurinya, aku tak pernah benar-benar menyatakan perasaan hatiku pada Hana. Aku memeriksa jadwal Alive Tour ku. Kami akan ada di LA November mendatang. Masih sangat lama. Tapi aku benar-benar ingin bertemu Hana. Aku akan menyatakan perasaanku di LA nanti saat bertemu dengannya. Tunggu aku, chagiya!

 

***

 

Los Angeles, November 2012

Aku dan rombongan baru saja sampai sampai di LA hari ini. VIP LA sudah membanjiri bandara untuk menyambut kedatangan kami. Senyumku tak lepas dari bibirku sejak berangkat tadi. Aku bergegas membuka ponsel dan mengirimkan pesan pada Hana. Aku merogoh kantung overcoat ku. Disana tersimpan manis sebuah kotak beledu warna ungu, warna kesukaan Hana. ‘Inilah saatnya‘, pikirku.

“Sepertinya kau sedang good mood.”, ujar Seung Hyun.

“Iya, daritadi tersenyum terus, hyung.”, Daesung menambahkan.

“Aku hanya bersemangat untuk hari ini.”

“Yang akan berulang tahun, kan T.O.P-hyung, kenapa yang semangat kau, Jiyong-ah?”, tanya Seungri.

“Memangnya tidak boleh?”, jawabku sambil memeluk leher Seungri.

“Kalau kalian menyiapkan pesta ulang tahun untukku, lupakan saja. Aku mau tidur cepat.”, canda Seung Hyun.

“Siapa yang mau menyiapkan, hyung? Jangan ge-er.”, timpal Seungri. Kami semua tertawa. Aku menyempatkan melihat ponselku, tak ada balasan. Apa Hana masih sangat sibuk ya?

 

Kami tiba di hotel pukul 11 siang. Hana belum juga membalas. Aku pergi ke balkon untuk mencari ruang dari member lain dan menelepon Hana. Aku sedikit mengernyit saat nomor ponsel yang kuhubungi dialihkan. Meski akhirnya juga tersambung pada nomor pengalihannya. ‘Pantas saja pesanku tak terkirim.‘, pikirku.

“Annyeong. Siapa ini?”, suara Hana tampak masih mengantuk. Jam berapa ini?

“Ini aku, chagi. Jiyong. Kau masih tidur?”, tanyaku heran.

“Ah, Jiyongie. Ada apa menelepon dini hari, baboya?”, aku makin bingung dengan jawaban Hana.

“Dini? Kau dimana?”, tanyaku lagi.

“Aku di Seoul. Kenapa?”, jawab Hana malas. Mungkin masih mengantuk.

“Apa?! Kapan kau pulang? Dan kenapa kau tak bilang dulu padaku?”, nadaku meninggi seketika.

“Hei! Kau tak perlu membentakku begitu!”

“Aku ada di LA dan ingin bertemu denganmu. Lalu kau tiba-tiba pulang. Tentu aku kesal!”

“Mana aku tahu kau punya jadwal ke LA. Aku ada keperluan, makanya aku pulang ke Seoul!”, kami saling berteriak di telepon.

“Aku ingin menyempatkan diri bertemu denganmu di sela-sela kesibukanku.”, nada bicaraku melemah. Hana tak menyahut. Entah dia kembali tertidur atau apa. Aku langsung memutus sambungan telepon kami. Aku sangat kecewa. Aku berjalan gontai ke kamar dimana member sedang berkumpul.

“Menelepon siapa sampai berteriak begitu?”, tanya Seungri.

“Bukan urusanmu.”, jawabku dingin. Aku membanting tubuhku di ranjang.

“Kenapa, sih dia? Moodnya cepat berubah.”, ujar Seungri lirih. Young Bae menepuk pundaknya agar tak melanjutkan gerutuannya.

Aku sangat kesal pada Hana. Aku menunggu hampir 9 bulan untuk bertemu dengan Hana. Kupikir sekarang ini waktu yang tepat untuk mengikat Hana dengan cincin yang kubawa dari Seoul didalam kotak beledu ungu tadi. Semuanya terasa sia-sia. Ada rasa kosong di dalam sudut hatiku. ‘Apa seperti ini rasanya ditinggalkan dan diabaikan?‘.

 

***

 

Seoul, Januari 2013

Genap sudah satu tahun aku tak bertemu Hana. Aku masih menyimpan cincin yang dulu pernah akan aku berikan pada Hana saat di LA. Aku sama sekali tak pernah menghubunginya sejak terakhir kali aku memutus pembicaraan kami di telepon. Hana juga tak pernah menghubungiku kembali. Aku terlalu sibuk dengan tur dan segudang pekerjaan yang menunggu untuk diselesaikan. Sama seperti sekarang, baru saja kami menyelesaikan Alive Tour aku disibukkan dengan persiapan konser solo ku di Korea dan Jepang, mungkin juga negara lain nanti. Yang kudengar Hana sudah kembali ke Seoul, tapi aku tak pernah menemukannya di kantor. Apa dia menghindariku?

 

Aku keluar dari ruang meeting saat kulihat sosok Hana berkelebat di ujung koridor. Tanpa aku perintah, kakiku berlari mengikuti siluet yang kuyakin adalah milik Hana. Aku masih hapal betul lekuk tubuh Hana. Aku berhasil mengejar sosok tadi dan kuraih pergelangan tangannya.

“Hana!”, panggilku. Hana menoleh dan tampak terkejut.

“Jiyongie?”, dia tampak tak menduga akan bertemu denganku. Aku langsung memeluknya erat di depan lift. Aku benar-benar merindukan Hana. Hana membalasku secara canggung.

“Jangan begini, Jiyongie. Malu dilihat orang.”, bisik Hana. Aku melepaskan pelukanku dan tersenyum. Aku menariknya menuju rooftop, aku ingin bicara banyak pada Hana.

“Lama tak jumpa, chagi. Kau kemana saja?”, tanyaku. Hana menghela napas.

“Aku disini. Kau yang terlalu sibuk, baboya.”, jawab Hana sambil berjalan menuju balkon. Aku masih mengagumi lekuk tubuh Hana. Dia masih terlihat sama seperti dulu. Masih secantik dulu.

“Bagaimana kabarmu sekarang?”, tanyaku. Hana menoleh padaku. Aku menyukai cara mengibaskan rambutnya.

“Aku baik. Kau? Kau tampak lebih kurus, Jiyongie.”, tegur Hana.

“Aku baik-baik saja. Setelah ini akan kuperbaiki pola makanku.”, aku baru saja akan mendekat ke arah Hana saat sebuah panggilan masuk di ponselku. Hana mengisyaratkanku untuk mengangkatnya dulu. Dari Young Bae.

“Penting?”, tanya Hana.

“Aku ada sesi pemotretan di Vogue. Young Bae mengingatkanku untuk segera bersiap-siap.”, ada nada penyesalan di setiap kata-kataku.

“Hei, masih bisa mengobrol lain kali.”

“Tapi nanti kau menghilang lagi.”

“Kau ini lucu, Jiyongie. Seperti Seungri saja. Tidak akan. Aku masih di YG.”

“Akhir minggu aku akan menjemputmu. Tidak ada penolakan. Aku akan meneleponmu. Jangan coba-coba kabur.”, ucapku lalu mengecup pipinya sekilas dan pergi. Hana nampak terkejut tapi tersenyum juga. Tanpa ku tahu, mata Hana berubah sendu mengiringi kepergianku. Ada sesuatu yang ia sembunyikan.

 

***

 

“Mau kemana?”, Seung Hyun menegurku yang sudah rapi. Ini weekend. Dan malam ini ingin kuhabiskan bersama Hana.

“Hm? Aku ada janji dengan seseorang.”, jawabku.

“Sepertinya banyak rahasia dibalik senyummu itu.”, komentar Seung Hyun.

“Ah, hyung mau tahu saja. Aku pergi dulu. Dah Young Bae!”, pamitku pada Seung Hyun dan Young Bae.

 

Aku sampai di apartemen Hana jam 7 malam. Aku mengenakan pakaian kasual semi formal dengan jaket kulit berwarna hitam. Aku akan mengajak Hana makan malam hari ini. Aku sudah memesan tempat khusus di sebuah hotel yang menyediakan privasi di pusat kota Seoul. Sekali lagi, aku ingin mencoba menyatakan perasaanku pada Hana. Kotak beledu ungu yang dulu pernah teserak manis di sudut lemariku, sudah aman di kantung celanaku. Aku naik ke lantai Hana dan menekan bel. Hana membuka pintu. Dia menakjubkan malam ini. Mengenakan dress ungu tua selutut dengan heels hitam bertahta batu gemerlap. Rambut hitam bergelombangnya ditata rapi ditekuk ke dalam. Dia begitu anggun dengan mantel hitam menutupi bahunya yang telanjang.

“Apa aku salah kostum? Aku akan berganti sebentar kalau memang begitu.”, Hana baru akan berbalik. Aku menahan tangannya.

“Kau sangat cantik. Ayo berangkat.”, aku menarik Hana dan menggenggam jemarinya erat.

“Bagaimana nanti kalau dilihat orang, Jiyongie?”, Hana tampak tak nyaman dengan perlakuanku.

“Tak masalah. Biarkan saja.”, aku menggandeng tangannya seolah aku tak ingin kehilangan Hana lagi.

“Kita mau kemana?”

“Makan malam. Ada sesuatu untukmu nanti.”, aku menyunggingkan senyum terbaikku pada Hana.

Aku menyetir dengan perasaan yang campur aduk. Aku senang tapi juga gugup. Tapi aku sudah menetapkan hatiku pada Hana. Kami banyak terdiam dalam perjalanan.

“Apa ini tak terlalu mewah, Jiyongie?”, Hana terkesan dengan private dining yang telah kusiapkan. Aku senang dengan hasil yang kudapatkan.

“Aku akan memberikan yang terbaik untukmu mulai sekarang.”, aku menuntun Hana duduk di kursi yang di set berhadapan. Pandangan mataku tak lepas dari sosok Hana sepanjang acara makan malam kami. Hana sendiri sampai rikuh karena ulahku.

“Kau kenapa, Jiyongie? Jangan pandang aku begitu. Aku merasa aneh.”, ucap Hana.

“Kau begitu menawan malam ini, chagiya.”, aku mengambil tangan kiri Hana. Aku menggenggamnya dan mencium jemarinya.

“Aku membuat tattoo baru.”, aku memperlihatkan sela antara jari-jari tangan kiriku pada Hana.

“Kau tahu artinya?”, Hana menggeleng.

Money, Love, Family, A Lady, Faith.”, jelasku.

“Jiyongie.”

“Hana, ma’afkan aku selama ini mengabaikanmu. Aku begitu egois.”

“Aku tak pernah marah padamu, Jiyongie.”

“Aku bahkan membentakmu terakhir mengobrol di telepon kemarin. Ma’afkan aku, Hana.”, aku mengusap tangan Hana lembut.

“Jiyongie. .”

“Hana,”, aku merogoh kotak beledu ungu dalam kantungku.

“Malam ini aku ingin menyatakan perasaanku padamu.”, aku membuka kotak beledu ungu yang berisi sebuah cincin. Cincin dengan sebuah batu amethyst yang diasah cantik. Secantik Hana malam ini. Hana terkejut dan menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Hana menatapku sendu.

“Ma’afkan aku yang membutuhkan waktu lama untuk mengakuinya. Seharusnya sudah sejak dulu aku melakukan ini, chagi. Aku mencintaimu Hana-ya. Maukah kau menjadi milikku? Untuk sekarang, esok dan selamanya?”, aku sedang melamarnya sekarang. Hatiku berdebar begitu keras. Ini rasanya lebih gugup dibandingkan menghadapi ribuan VIP di berbagai negara. Hana menatapku intens. Buliran bening lolos dari sudut matanya yang cemerlang. Aku mendekatinya dan berlutut di samping kursinya. Ku usap lembut pipinya. Aku tak tahu apa arti air mata wanita 30 tahun yang mencuri hatiku ini. Deru tangisnya makin deras, aku bertambah bingung.

“Apa aku salah, chagi?”, tanyaku kemudian mengajaknya bangkit. Dia menggeleng. Hana memelukku dan terguncang dalam isakannya. Aku merasa ada sesuatu yang lain yang ingin disampaikannya.

Aku menepuk dan mengelus punggungnya pelan untuk menenangkannya. Hana perlahan menghentikan tangisnya.

“Bawa aku ke suatu tempat, Jiyongie.”, dia mengusap air matanya dan mengajakku pergi. Tak lupa ia membawa kotak beledu ungu yang tadi aku berikan padanya. Aku yang masih bingung menuruti keinginan Hana. Jujur saja, aku tak menyangka akan begini respon yang diberikan Hana.

 

Malam begitu dingin diluar sini. Tapi Seoul begitu cantik dari tempatku berdiri sekarang bersama Hana. Dia memeluk lenganku bersandar. Kami tak saling bicara sejak dari hotel tadi. Hana kemudian duduk di sisi depan mobilku. Aku memandangnya, menunggunya bicara.

“Jiyongie.”

“Ya?”, aku mengikutinya duduk disampingnya.

“Aku tak tahu harus mulai darimana.”

“Aku akan mendengarkanmu, chagiya.”, Hana tampak mencari sesuatu di dompetnya. Ia mengeluarkan ponselnya. Dia kemudian membuka sesuatu di dalam ponselnya.

“Kau ingat ini?”, Hana menunjukkan foto-foto USG dalam sebuah folder. Aku membukanya satu per satu.

“Itu foto calon bayi kita yang tak bisa kujaga dulu. Aku menyimpannya berharap suatu saat bisa menunjukkannya padamu.”, aku masih memperhatikan foto-foto tadi. Ada rasa bersalah menelusup dalam hatiku.

“Meski tak bisa bertahan, sekarang aku sudah melihatnya.”, ucapku.

“Dulu, aku memiliki harapan saat masih mengandungnya.”, aku memandang Hana tak mengerti.

“Harapan suatu saat aku akan bersatu denganmu. Kau tahu, aku jatuh cinta padamu jauh sebelum kau meniduriku?”, Hana tertawa kecil. Aku mengangkat alisku, aku baru tahu fakta ini.

“Aku memiliki impian bisa menjadi bagian dari hidupmu. Tapi semua harapan itu sirna saat aku kehilangan calon bayi kita.”, aku tak ingin menyela kata-kata Hana. Aku ingin tahu apa yang ia rasakan selama ini.

“Harapan kembali muncul saat kau datang menjengukku. Aku sering merasa dilema. Di satu sisi, aku begitu mendambakanmu. Tapi di sisi lain, aku juga tak bisa berharap banyak darimu. Karirmu sedang cemerlang. Aku tak ingin menjadi penghalang bagi kesuksesanmu.”, Hana menghela napas panjang. Dalam hatiku aku memaki diriku sendiri. Sedalam inikah perasaan Hana? Aku begitu jahat padanya. Lelaki macam apa aku ini?

“Aku menghilang bukan tanpa alasan. Sebenarnya aku menjalani beberapa pengobatan setelah keguguran untuk membersihkan dan menormalkan kembali rahimku. Selain kehilangan calon bayi, ada kelainan dalam rahimku.”, aku terbelalak.

“Kau tak pernah cerita padaku, chagi.”

“Pernahkah kau membiaran aku bicara?”, pertanyaan Hana bagai tamparan keras di wajahku. Aku memang selalu memutuskan sendiri tanpa membiarkan Hana bicara. Aku begitu egois.

“Aku ke LA untuk menjalani pengobatan dari dokter yang menangani kasus keguguranku. Aku sengaja minta Yang Hyun Suk-hyung untuk memberiku tugas di LA dengan alasan aku ingin mencari pengalaman baru.”, aku tak menyangka Hana memanggul beban yang begitu berat sendirian.

“Dan dari sanalah semuanya berawal.”, aku menoleh pada Hana. Berawal?

“Dokter Nam, dokter yang menanganiku, dia yang selalu mendengar ceritaku. Dari awal kehamilanku sampai aku benar-benar kehilangan calon bayi kita.”

“Dia menemaniku berobat di LA. Dialah yang selalu memberiku support.”, aku mengernyit tak suka saat mendengar nama lelaki lain dekat dengan Hana. Ada rasa terbakar di dalam hatiku.

“Dia juga yang memberiku ruang untuk bercerita. Dia prihatin akan kehilangan calon bayiku.”

“Jadi itu jugalah alasan kenapa kau menghindariku selama setahun?”, potongku sinis. Aku mulai dikuasai emosi.

“Kenapa kau bicara seperti itu, Jiyongie?”, Hana terkejut dengan responku.

“Tentu. Aku tak pernah berhenti memikirkanmu selama itu. Aku bahkan rela menunggu berbulan-bulan untuk bertemu denganmu di sela-sela kesibukanku!”, aku benar-benar kalut dalam emosi. Nadaku mulai meninggi.

“Saat ada kesempatan malah kau pulang ke Seoul. Kau seolah menghindariku! Sekarang malah kau menyebut nama lelaki lain di depanku! Kau berselingkuh, Hana!”, lagi, aku membentak Hana. Hana terkejut dengan kata-kataku. Tangannya melayang dan menamparku keras. “Plakk!!”

Aku memegangi pipiku yang perih. Hana memandangku nanar.

“Selingkuh? Pernahkah kau mengikatku dalam sebuah hubungan?”, ujar Hana tegas. Aku terdiam. Hana benar, aku bahkan tak mengikatnya menjadi kekasihku.

“Pernahkah meski sekali saja kau bilang ‘aku mencintaimu‘ padaku?”, aku menggeleng pelan.

“Aku mungkin jauh lebih tua darimu, Jiyongie. Tapi aku adalah seorang wanita. Aku tak bisa menunggumu terus menerus. Meski hatiku terus berharap kau akan berpaling padaku suatu saat. I just too in love with you so bad. Tapi yang ku dapat hanya janji dan kekecewaan, Jiyongie.”, ada jeda yang tercipta untuk menetralkan emosi kami.

“Dokter Nam melamarku Agustus lalu. Aku tak menjawabnya, berharap aku mendapat kepastian darimu.”, aku menoleh ke arah Hana kaget.

“Tapi yang aku dapatkan adalah kekecewaan, lagi. Kau bahkan tak membiarkanku bicara mengapa aku pulang ke Seoul. Kau malah membentakku. Aku begitu sedih menghadiri pemakaman nenekku, dan sejak itu, aku juga mengubur namamu dari hatiku.”, mata Hana menerawang jauh. Aku tak bisa bicara. Segala keegoisanku selama ini ternyata membuahkan petaka bagiku.

“Apa kau tak lagi mencintaiku?”, tanyaku.

“Aku mencintaimu. Masih sangat mencintaimu, Jiyongie. Kau cinta pertamaku. Tapi semuanya sudah terlambat.”, Hana merogoh sesuatu dari dompet tasnya. Dia mengangsurkan sebuah undangan berlabelkan namaku. Undangan berwarna ungu tua bertuliskan tinta emas.

“Aku akan menikah dengan Dokter Nam bulan depan, Jiyongie. Itulah mengapa aku menangis. Mengapa kau begitu lama menyadari perasaan hatimu?”, Hana menatapku sendu dan meneteskan air mata kembali. Aku tercenung memandangi undangan penikahan Hana. Aku menggigit getir bibir bawahku. Kenapa semuanya menjadi seperti ini?

 

Aku mengantar Hana dalam diam. Kami tak saling bicara selama perjalanan hingga mencapai gedung apartemen Hana.

“Apa kita kabur saja? Lalu menikah di suatu tempat? Aku yakin bisa membahagiakanmu.”, aku mengatakannya dengan pandangan kosong.

“Jangan bodoh! Kau masih muda. Kesuksesan masih bisa kau genggam.”

“Aku minta ma’af Hana-ya. Aku mencintaimu. Saranghaeyo.”, aku menoleh pada Hana. Dia membelai pipiku. Hana kemudian mencium bibirku dalam. Ingin rasanya terjebak selamanya bersama Hana seperti ini, tapi aku harus kembali kepada kenyataan meski begitu pahit.

“Itu untuk yang terakhir kalinya.”, Hana keluar dari mobil dan melambai pada seseorang. Seorang pria menghampirinya, Young Bae?

Mereka tampak bicara kemudian Hana melambai pergi. Young Bae masuk ke mobilku.

“Kau?”

“Hana mengirimiku pesan berisi kau sedang dalam hari terberatmu. Jadi aku sepertinya harus menjemputmu.”, Young Bae tersenyum. “Ah, ini.”, Young Bae mengangsurkan kotak beledu ungu. Hana mengembalikan cincin pemberianku. Aku menerimanya lalu melemparnya ke dashboard.

“Jangan begitu. Bisa kau pakai melamar wanita lain kan?”, Young Bae mengambil kotak tadi dan memasukkannya di kantung jaketku. Dia lalu menepuk pundakku seolah ingin membuatku lebih baik.

Don’t comfort me. I’m okay!“, aku menepis tangan Young Bae. Aku bohong. Aku sedang tak baik. Hatiku hancur. Aku membiarkan Young Bae menyetir pulang. Aku meringkuk di kursiku. Aku benci perasaan ini! Aku menangis dalam hening. Tuhan, inikah balasan untukku yang selama ini telah menyia-nyiakan Hana?

 

***

 

Seoul, Februari 2013

“Aku bangunkan Jiyong-ah dulu.”, ujar Seungri. Aku sebenarnya sudah bangun, tapi malas untuk acara hari ini.

“Ayo bangun, Jiyong-ah.”, Seungri mengguncang tubuhku.

“Aku tak ikut, Seung-ya. Aku malas.”, jawabku.

“Hei! Ini pernikahan Hana-noona. Masa kau tak datang?”, Seungri nampak kecewa.

“Kau bersiap-siaplah, Seung-ya.”, Young Bae menyuruh Seungri bersiap dan berganti membangunkanku.

“Masa kau cengeng begini Jiyongie?”, bujuk Young Bae.

“Diam dan pergilah Young Bae. Aku tak datang. Dan berhentilah membuat namaku terdengar manis.”

“Tak selamanya kau harus seperti ini, kan?”

“Kau bisa berkata seperti itu karena kau tak mengalaminya.”, Young Bae menepuk punggungku dan berdiri.

“Kami akan ada di gereja.”

“Aku tak peduli.”, Young Bae dan lainnya akhirnya pergi tanpaku. Aku bangkit dari ranjangku. Aku duduk tercenung. Aku menilik meja disampingku. Disana terserak undangan pernikahan Hana. ‘Haruskah aku datang?‘, pikirku. Aku merasa konyol terus menerus bad mood dan patah hati. Tapi siapa yang bisa menutupi rasa sakit hati ketika melihat wanita yang kau cintai (bahkan wanita itupun masih mencintaimu) menjadi mempelai pria lain? Aku bangkit dan memutuskan untuk mandi.

 

Kulihat banyak orang bersorak sorai di emperan Gereja. Kutemukan Hana diantara kerumunan. Dia masih cantik, bahkan makin cantik dalam balutan gaun putih yang merekah menjuntai. Dia menggamit mesra lengan pria disampingnya, yang kutahu sekarang sudah resmi menjadi suaminya. Dia tertawa bahagia bersama para tamu undangan. Aku, pria paling menyedihkan saat ini, hanya bisa memandang iri semua kebahagiaan itu dari kejauhan, dibalik kaca tak tembus pandang luar di dalam mobilku. Aku tak sanggup bepura-pura “everything is okay“, lalu ikut berpesta, sementara hatiku masih begitu perih menerima kenyataan yang ada.

“Buka pintunya, Jiyongie.”, Young Bae mengetuk pintu mobilku. Aku membukanya dan membiarkan Young Bae masuk.

“Tidak ikut bergabung?”, goda Young Bae. Aku mendelik menatap Young Bae yang kemudian tertawa.

“Itu tidak lucu!”, aku kesal dengan candaan Young Bae. Aku menyalakan mesin dan menyetir pulang. Aku sudah merasa adalah hal yang konyol datang ke pemberkatan pernikahan Hana. Tapi aku ingin melihat Hana, mungkin untuk terakhir kalinya. Setidaknya setelah ini aku benar-benar bisa merelakannya pergi bersama pria lain. Pria yang bisa membahagiakannya. Pria yang bisa menjaga Hana.

 

***

 

Aku baru saja datang ke YG saat kulihat sedikit kerumunan di depan kantor staff. Aku menghampirinya karena penasaran.

“Ada apa, hyung?”, tanyaku pada Nam Guk.

“Ah, kami sedang mengadakan farewell party untuk Hana.”, aku mengangkat alisku. Farewell party? Memangnya dia mau kemana? Aku tak berniat tahu lebih lanjut. Aku pergi ke studio untuk melanjutkan proses recording ku.

 

Aku baru saja melewatkan jam makan siangku saat sebuah pesan masuk ke ponselku.

Temui aku di rooftop.‘, dari Hana. Aku mengernyitkan dahiku. Untuk apa Hana memintaku bertemu dengannya? Dengan enggan aku menemui wanita yang pernah menjadi ratu di hatiku.

Aku menemukan Hana berdiri di sisi balkon. Dia menyambutku dengan senyumnya yang selalu cerah.

“Ada apa, noona?”, aku mulai membiasakan diri memanggil Hana dengan sufiks –noona lagi. Hana tampak terkejut tapi tak melunturkan senyum dari bibirnya.

“Kau melewatkan makan siangmu.”, Hana menyerahkan bekal yang dibawanya. Aku ragu tapi menerimanya juga. Aku duduk di lantai semen dan membuka bekal yang dibawa Hana. Hana mengikutiku duduk di lantai. Aku menemukan sushi, sepertinya buatan Hana sendiri. Tak urung aku menyuapkannya ke mulutku juga. Aku benar-benar lapar.

“Aku akan pindah ke Los Angeles.”, Hana membuka pembicaraan. Aku berhenti mengunyah sebentar, tapi kemudian meneruskan makan dan mengangguk.

“Aku akan tetap bekerja di YG, hanya saja menjadi perwakilan di LA.”, lanjut Hana. Aku masih tak menyahut dan melanjutkan acara makanku.

“Kau dengar aku tidak, Jiyongie?”, Hana merajuk. Aku menatapnya sesaat. Lalu meminum air mineral.

“Aku harus bagaimana? Aku sudah benar-benar kehilangan dirimu, bahkan sejak kau belum pergi sekarang ini.”, aku tertawa getir. Aku memang orang yang terus terang. Hana hanya tertawa.

“Aku akan merindukanmu.”

“Jangan memberiku harapan.”

“Hei, aku akan jarang-jarang melihatmu.”

“Suamimu?”

“Dia akan menjalankan sebuah klinik di LA.”, aku hanya mengangguk.

“Aku hanya ingin meluruskan hubungan kita.”

“Tak ada yang perlu diluruskan, noona. Aku sudah bisa menerimanya sekarang.”

“Aku senang kau jujur seperti itu, Jiyongie.”, aku menyelesaikan suapan terakhirku.

“Aku hanya berusaha menerima dan mencoba mengambil sisi positifnya.”

“Aku harap kau jadi pria yang lebih dewasa, Jiyongie. Jaga dirimu baik-baik.”, aku hanya mengangguk. Hana bangkit dan menepuk-nepuk roknya. Sungguh aku masih sangat mengagumi wanita ini. Aku masih sangat mencintainya. Aku ikut bangkit.

“Terima kasih, noona.”

“Ne. Semoga sukses dengan albummu, ya.”

“Ya. Semoga kau bahagia bersama suamimu di LA. Jangan lupa kirim kabar.”, aku tulus mengucapkannya. Hana mengangguk pasti. Kami turun bersama. Ponsel Hana berbunyi.

“Aku pulang dulu ya, Jiyongie.”

“Hati-hati, noona. Salamku untuk suamimu.”, Hana melambai tanda berpisah. Aku tak tahu apakah akan mudah melupakan Hana dalam waktu sekarang ini. Perpisahan tak harus berujung kepedihan. Aku tahu kami berdua telah terluka. Tinta cinta kami tak lagi mewarnai lembaran putih takdir kami berdua. Tapi bukan berarti kami harus berhenti menjalani hidup. Hana sudah memulai lembaran barunya. Begitu pula aku, aku harus mulai membuka lembaran baru hidupku. Mengisinya dengan tinta-tinta baru yang akan ku temukan seiring berjalannya waktu. Entahlah, untuk sekarang aku hanya ingin mengikuti takdir Tuhan. Tak selamanya pengalaman pahit akan membawamu kedalam lubang kesengsaraan. Kau hanya harus banyak belajar dari pengalaman hidup. Matahari masih terus bersinar, musim pun masih silih berganti. Aku menyenandungkan When I was Your Man milik Bruno Mars sembari berjalan menuju mobilku. Suka atau tidak, hidup ini harus terus berlanjut, kan?

 

-FIN-

A/N:

Aaarrrgghhh!!!! OK ini storyline keempat saya. Entah darimana ide gila ini nyasar! Berawal dari tweet Jiyong yang bilang dia sedang mendengarkan “When I Was Your Man – Bruno Mars” sebelum tidur, munculah ide aneh ini. Saya ga bermaksud bikin Jiyong yadong. NO!! Saya sangat menghormati pribadi dia. Tapi saat saya dengar I am Mugler yang khusus dibuat Jiyong untuk Nicola, otak saya tambah kacau. Juga pas nemu update-an instagram dia yang kadang nyeleneh & ga malu mengkspresikan apa yang Jiyong rasakan saat itu. Saya bangga punya idol kaya dia #nangisharu. Saya juga suka sikap dia yang apa adanya, padahal aslinya dia itu pemalu lho!! #whatakawaii

Akhir kata, daripada banyak omong ini author, semoga terhibur dengan terbitnya storyline ini! Bolehlah kalo mau kenal sama saya ini, di follow @realtabina #promo. Mohon tinggalkan jejak