16_DSCN1991rev1

Nama author : michellejr

Cast(s) : Elizabeth Sommers, Taeyang, Seunghyun

Genre/rating/length : romance, PG-13, oneshoot 3000+

Disclaimer : NO BASH. DON’T COPY PASTE.

A/N : aa, ff ini dibuat untuk mengenang masa pertemuan saya dengan Taeyang *dirajam*. enjoy reading^^

twitter : @michelletjr

 

 

Duri

“Aku tidak mau menikahinya, eomma!” jerit Elli kesal.

“Wae? Dia adalah pria yang kaya raya! Kau bisa membeli baju-baju mewah!”

Elli tidak mau mendengar perkataan eommanya lagi. Ia sudah muak. Berkali-kali umpatan kasar diucapkan Elii dalam batinnya sambil mencibir, melecehkan. Bukan eommanya yang dilecehkan, melainkan pria yang menurut eommanya itu kaya raya dan tampan.  Tetapi tidak sama sekali bagi Elli.

Elli terhuyung-huyung, menuju ke pintu rumah. Ia membuka pintu itu disertai deritan kasar, lalu menutupnya dengan kasar pula. Andai saja Elli bisa membaca pikiran, ia pasti akan membaca pikiran eommanya sekarang juga. Mengatakan Elli anak yang durhakalah, bodohlah, atau apalah yang menggunakan lah-lah begitu.

“Kenapa eomma selalu begitu!” omelnya sambil menendangi kerikil di sepanjang trotoar. Matanya terus memancang kebawah, seolah ia sedang menghitung setiap langkahnya yang berat itu. Tetapi, pandangannya itu kosong.

Sungai. Sudah lama Elli tak jumpa dengan sungai yang jernih. Matanya bak bayangan tubuhnya sendiri. Ia merasa hanya dirinya saja yang memperdulikan keadaannya. Semenjak Park Bom eonni harus kembali ke Seoul, ia merasa kesepian disini. Di California. “Hanya aku saja..” lirihnya, hampir menangis.

Ia melanjutkan ‘melarikan dirinya’ ke arah yang lain. Menjauh sebelum ada bayangan atau mahkluk halus yang menggodanya untuk menibakan tubuhnya sendiri ke jurang. Matanya berkaca-kaca. Elli ingin menangis, tetapi tidak bisa.

“Melarikan diri, sayang?” tanya Seunghyun, si pria bangkotan itu. Sebenarnya dia tidak bangkotan. Hanya saja wajahnya berubah paruh baya ketika ditekuk. “Eommamu menghubungiku,”

Merasa mahkluk itu tidaklah penting, Elli meneruskan jalannya, menjauh dari pria paruh baya itu. Usahanya menjauh bisa dibilang lumayan sia-sia. Apapun yang Elli rencanakan untuk kabur, menghilang, jurus kamehameha, menelpon polisi, atau apapun, semuanya pasti gagal total. Untung saja pria bangkotan itu bukan tukang hipnotis atau semacam dukun berhala. Bisa-bisa dibuatnya Elli khilaf dan mulai menggilainya.

“Bisu?” Seunghyun mengajukan pertanyaan menyinggung. Elli dengan kasar mengebaskan rambut coklatnya itu ke wajah Seunghyun, “Maumu apa?” tanya Elli berubah. Bukan berubah menjadi mahkluk superhero seperti spiderman atau semacamnya power-rangers. Apalagi pria kalong.

Tak jauh dari tempat Elli berdiri, ada Jiyong yang sedang menggosipi artis kala yang memiliki banyak selingkuhan. Apa yang sedang Jiyong oppa lakukan, ya? pikirnya seperti anak dungu yang tersesat. Elli mulai melangkah, mendekati dimana Jiyong berdiri, Elli berlari. Dan seperti biasa, ia dikuntit oleh pria berbadan setengah gemuk nan seksi itu yang seolah-olah akan terus disisi Elli sebagai body-guardnya.

Langkahnya gontai dan berubah sia-sia. Percuma berlari, menghabiskan nafas, mengeluarkan cairan tubuh, atau apalah. Atau berlari akan menguras dompet Elli setelah guling-guling melihat sebotol Pocari dingin yang disimpan di kulkas supermarket. Jarang Elli berlari. Ia lebih suka duduk diam, membaca, dan bernafas.

“Oh, hai, Elli.” sapa Jiyong setelah menyadari bahwa teman yeoja-nya itu mengarah ke tempatnya berdiri. “Kau membawa calon suamimu, ya? Betapa romantis.”

Eh?! Apa calon suami? Siapa sudi!

“Demi apa. Menikah dengannya? Mimpi diujung tanduk.” Elli menolak pujian romantisnya Jiyong. Ia terus menggeleng seraya mengambil beribu-ribu oksigen secara gratis tanpa harus membayar pajak dengan kartu kredit maupun membayar dengan daun yang sudah dikotori Gaho, anjing Jiyong.

“Bagaimana kau tahu dia calon istriku, Ji? Ah, kau memang sahabat yang baik.”

Sejak kapan hah, Jiyong bersahabat dengan Seunghyun? Setauku, mereka sering mojok dan bermesra-mesraan di kolong jembatan tanpa melupakan Gaho yang minta dikawin Charlie, Elli mengkhayal. Ia menatap Jiyong dengan sorot tidak puas akan pujiannya yang barusan Jiyong ucapkan 10 detik yang lalu.

“Sudah. Aku pergi.” Elli meninggalkan Jiyong dan Seunghyun yang memulai percakapan kecil. Kali ini, Seunghyun berhenti menguntit, dan beralih pada selingkuhannya, calon tunangan dungunya, si Master Kwon Jiyong. “Gadis itu lebih aneh dari kalong-man.” Jiyong menggeleng.

“Batman.” dengan tolol Seunghyun membenahkan. Maklum sama-sama tolol, setengah berjiwa sehat.

 

xxx

“Tidak ada waktu untuk berlama-lama di kamar mandi, Elli!” jerit eomma Elli dari lantai bawah yang sedaritadi kesal menunggu anaknya yang jabang bayi bandel itu tidak kunjung keluar dari kamar mandi. “Eomma dan Seunghyun akan meninggalmu!”

“Ya, tinggal saja.” balas Elli ketika mendengar bahwa ada Seunghyun disana. Dengan suara tidak jelasnya dan serak-serak gimana gitu ia menjawab, “Aku lebih baik mati membeku disini, daripada harus bergabung dengan kalian!”

“Elli!” eommanya mulai membangkitkan selera marahnya. Ia hendak naik ke lantai atas, mengomeli nya habis-habisan, tetapi Seunghyun mencegahnya. Seunghyun tersenyum tipis, “Tidak baik memarahi gadis bandel sepertinya. Memarahinya hanya akan membuantya bebal, kau tahu.”

Seunghyun menaiki tangga yang berjumlah 20 batang itu, lalu mendekati ambang pintu kamar mandi sambil menatap kuat-kuat pintu kamar mandi itu dengan mata elangnya, seolah ia bisa melihat apa isinya.

“Sedang apa didalam?” tanya Seunghyun sambil mengetuki pintunya berkali-kali, hingga berpuluh-puluh dan berlusin-lusin kali. “Jika kau tidak bisa mandi, aku bersedia memandikanmu, sayang.”

“Keji! Enyahlah!” jerit Elli dari dalam kamar mandi.

“Aku bisa mendobrak pintu kamar mandi ini dengan mudah.” jelas Seunghyun. “Jika kau tidak keluar dalam hitungan yang ke-5, aku akan mendobraknya.”

Dia pasti sudah terkena virus Jiyong, gumam Elli. Giginya gemerutuk ketakutan. Ia buru-buru memakai sweater bulu hitamnya dan celana panjang. “Mahkluk dungu, pergilah! Aku lebih baik di kamar mandi!”

“Satu.” Seunghyun mulai menghitung. “Dua.” Angka genap sudah dilontarkan dengan halus. “Tiga.. empat..”

“Mana bisa member jarak antara angka tiga dan empat dalam singkat waktu?!” protes Elli.

“Empat setengah.”

BRAK. Elli membuka pintu dengan kasar, lalu berjalan menabrak sisi tubuh Seunghyun, menyampaikan kebenciannya. Seunghyun menguntit lagi, dan mulai bertanya. “Aksi apa yang kau lakukan sebagai kalong-man di dalam kamar mandi?”

Sorot wajah eommanya berubah cemas. “Apa yang kaulakukan disana?”

Elli menarik bibir bawahnya dan menunjukkan beberapa sariawan yang bersarang disana. Mulutnya yang kebak sariawan itu seolah mengemis ciuman sang pangeran.

“Ayo kita berangkat.”

 

xxx

“Terlalu beruntung!” jerit seorang pria muda yang berpakaian compang-camping, tetapi sekilas tampak rapi dan cakap. “Aku ini gelandangan yang paling beruntung!” jeritnya lagi, kali ini sambil memamerkan duit hasil dari pekerjaan buruknya, mencuri.

Teman sekerabatnya sehidup sematinya menelengkan kepala keji. “Bangga benjet mencuri.”

Pria belia yang bernama Taeyang itu berlari menuju ke bandara. “California, tunggu aku!” jeritnya bangga. Karena tempat tinggal kardus segala kardusnya tidak jauh dari bandara, ia lantas sangat cepat sampai. Dengan lagak katroknya, ia berlari ugal-ugalan menuju ke lapangan penerbangan.

“Woo, permisi tuan. Apakah kau membawa tiket?” tanya sang penjaga yang mencegahnya masuk ke dalam pesawat yang tentunya bukan pesawat tempur.

“Apakah harus membawa tiket? Tidak bisakah aku langsung pergi?”

“Kau ini dungu atau idiot?”

“Aku bisa memberi separuh uangku kepadamu!”

“Oh, kau bisa menyumbangkannya ke panti asuhan, tuan. Nah, sekarang silahkan keluar dari sini.”

xxx

Merasa kesal, Elli tidak mengambil kopornya. Ia membiarkan eomma atau mahkluk alien jelmaan monster itu yang mengambilnya. Dengan langkah yang dipercepat, ia meninggalkan bandara dan menuju ke jalanan yang asing baginya.

“Ini Seoul, ya.” gumamnya senang bercampur duka. Ia mulai berjalan menyusuri trotoar sambil terus menunduk.

“Hai, nona.” sapa seseorang, mengejutkan. Elli mengalihkan pandangannya ke arah pria yang mengajaknya bicara.

“Siapa kau?”

“Taeyang.”

“Nama macam apa itu.”

“Siapa namamu, nona?”

“Elli. Elizabeth Sommers.”

“Nama macam apa itu.”

Elli menatap pria itu sinis, seolah baru saja dipermainkan. Padahal, dia sendiri bertindak dungu. Tetapi, ada yang membuatnya tertarik akan pria itu. Bukan karena uang atau apalah. Hanya saja, pria itu menawan.

“Kau tampak seperti bangsawan. Apakah suamimu kaya raya?”

“Aku tidak punya suami, asal kau tahu.”

“Hm… gadis sepertimu cocok mendapat pria kaya raya.”

“Oh, jadi kau sependapat dengan eomma-ku, ya? Baguslah. Kalian cocok.”

Taeyang hanya terkekeh.

Seunghyun datang membopong kopornya yang berat. “Sedang apa kau disini? Bersama gelandangan?”

Elli menarik kopornya dari tangan Seunghyun yang sekuat baja itu sambil menatapnya dengan sorotan super-sinis. “Jaga ucapanmu, bangkotan. Jika kau ingin dihormati, maka kau harus menghormati, bangkotan.”

“Kau baru saja melakukan hal yang kau ucapkan nona,”

“Diamlah.”

“Oh, dia pacarmu, ya?”

“Elli, tidak baik berlama-lama disini bersama gelandangan sepertinya.” tutur Seunghyun seolah memberi yang terbaik bagi Elli. Elli kali ini tidak menggubris apa yang dikatakannya mengenai Taeyang. “Dimana eomma?”

Tepat pada saat itu, taxi kuning melaju kencang dan berdiri tepat di depan mereka. Eomma Elli muncul dari balik pohon cedar dan member isyarat kepada Elli dan Seunghyun untuk segera masuk ke dalam taxi. Eommanya sepertinya sedang sibuk bertelpon-ria.

“Selamat tinggal, Taeyang.” pamit Elli ramah.

“Jangan ucapkan selamat tinggal. Kita pasti akan bertemu lagi. Iya, kan?” Taeyang menjelaskan. Elli terpaku dengan perkataannya. Ya, benar. Suatu saat mereka pasti akan dipertemukan secara tidak sengaja. Selamat tinggal bukanlah kata-kata yang tepat. “Selamat jalan!”

“Sampai bertemu lagi!” jerit Elli dari dalam taxi. Seunghyun mendorongnya kuat-kuat, agar perbincangan mereka terputus.

Elli, Seunghyun, dan eomma Elli berangkat. Entah, pastinya ke hotel berbintang lima berbekal duit Seunghyun. Taeyang menatap kepergian mereka dengan wajah bahagia, seolah baru saja bertemu dan diajak foto oleh ratu Elizabeth.

Aku akan tinggal di Korea, tekadnya.

xxx

-Elli’s POV-

Hari pertama tinggal di Korea. Hanya itu-itu sajalah. Semuanya membosankan. Apalagi harus hidup bersama dan sekamar dengan pria bangkotan itu. Pekerjaanku hanya menghabiskan isi kulkas yang baru saja diisi kemarin malam. Aku tidak takut akan kehabisan makanan. Karena separuh dari pabrik si bangkotan ini ada di Korea. Duit gampang, tinggal cabut dari ATM saja dompet sudah penuh.

“Elli, hari ini kau berencana untuk apa?” tanya Seunghyun dengan lagak sok sopannya begitu eommaku berdiri di ambang pintu. “Jika waktumu kosong, ayo kita jalan bareng.”

“Enggak.” jawabku seketus-ketusnya meski terdengar ramah. “Aku sibuk.”

“Mau kemana? Apakah aku perlu mengantarmu, sayang?”

“Aku mau ke mall. Tidak perlu diantar, naik taxi saja sudah cukup, kok.”

“Tidak bisa.” eomma yang sama bangkotannya ini ikut-ikutan. “Di luar bahaya. Lebih baik calon suamimu yang mengantarkan.”

“Eomma?!”

“Sudahlah, persiapkan dirimu, sayang.” ujar Seunghyun tersenyum tipis. Ia berjalan meninggalkan aku dan eommaku, entah kemana. Mati sajalah. Aku bosan melihat tampangnya. Lebih baik aku menikah dengan kambing daripada harus menikahi laki-laki yang dikata pleiboi cap kampak itu. Sayup-sayup gossip sudah menyebar hingga kupingku ini. Katanya, bangkotan sugih itu pernah memacari begitu banyak gadis-gadis yang seksoy dan bohay. Demi apa aku menikahinya. Semoga saja pertunangan ini segera berahkir, dan aku tidak harus menjadi deketif untuk mencari-cari selingkuhannya itu.

“Sayang,” sosok Seunghyun berdeham seksi. “apakah aku perlu menemanimu?”

“Tidak, terimakasih.”

“Mau belanja apa? Nanti aku bayari.”

“Siapa yang mau belanja dan berfoya-foya denganmu?”

“Hmm..”

“Aku hanya ingin beradaptasi di sekitar mall. Tour seharian tidak akan mengganggu, kan?”

“Tour lebih baik jika ada yang memberi penjelasan di setiap tempatnya.”

“Aku sudah pintar, jadi, kau ini jangan sok pintar.”

Seunghyun terkesiap. Mungkin aku ini terlalu kasar. Tetapi tak apalah. Aku mau mencari beribu cara supaya laki-laki yang ternyata seksoy itu membenciku.

“Sudah sampai,” Seunghyun menepi. Mobilnya yang super-keren, Chevrolet Camaro Concept berwarna kuning itu sangat menggiur para pecinta mobil. Aku buru-buru turun dan memasuki pintu mall sebelum ada yang merajamku karena iri melihatku turun mobil yang mahal dan mewah Seunghyun. Oh ya, aku ini terlalu ge-er.

Aku mulai berjalan, berkeliling-ria didalam mall raksasa itu. Tidak ada apa-apanya. Tetapi sungguh mall yang nyaman dikata. Bingung harus kemana, aku hanya melelahkan kaki saja sambil bergumam beribu kali. Seharusnya aku menuruti Seunghyun. Bangkotan tua itu ada benarnya pula. Haruskah aku menelponnya? Memelas, bersujud didalam ponsel? Ah tidak. Aku ini siapanya. Aku makin pusing ketika ponselku sudah lowbatt. Mana tak ada stopkontak pula. Sungguh mimpi buruk begini. Mungkin di luar mall ada wartel. Kalau begitu, aku bisa menghubungi Seunghyun untuk menjemputku pulang. Dengan semangat 45, aku berjalan menuju ke luar mall.

“Annyeong.” suara merdu yang tak kalah seksoynya dari Seunghyun menyapa telinga. Hanya saja suara ini tidak berat. Lembut. Sangat.

Pandanganku beralih pada orang yang mengajakku bicara. Dan ternyata.. “Taeyangie? Yang kemarin bertemu di bandara, ya? Hallo!”

“Nona, seharusnya kau membiasakan diri berbicara dalam bahasa Korea.” tuturnya. “Annyeong itu untuk hallo.”

“Aku ini tidak bodoh. Kau sendiri tinggal di Korea mengapa pakai bahasa Inggris? Pabbo. Lalu, jangan panggil aku nona. Itu membuatku tua.”

“Sejak kapan kau muda?”

“Kau bilang apa?!”

“Masa mudamu berlangsung selama 12 bulan saja setelah lahir.”

“Sudah cukup bicaranya?!”

“Lebih dari cukup.”

“Kau ini menyebalkan, ya?”

“Siapa yang memulai.”

“Memang aku bilang apa?”

“Hahaha. Yang kubilang benar, kan? Sudah pikun walau belum keriput.”

Arrrghhh. Pria ini malah membuatku semakin jengkel. Aku ingin mengikat lidahnya dengan tali tambang, lalu membuang jasadnya ke dalam sungai. Mungkin aku tidak perlu menjawabnya. Menelpon Seunghyun, lalu kembali ke alam kapuk dan selonjor-ria menikmati sutra. Pasti menyenangkan daripada harus berdebat dengan dia.

“Mau kemana?”

“Ke alam baka. Ya ke rumahlah!”

“Cepet kali perginya? Kau belum lama disini.”

“Oh ya?”

“Sebaiknya jalan-jalan bersamaku sebentar.”

Belum sempat aku menjawabnya, tanganku sudah ditarik. Kami berlari bersama entah kemana. Aduh, ini malah ditambah masalah pula. Masakah aku harus menolaknya? Aku iba. Mungkin pria ini kesepian, sehingga harus mengajakku pergi. Entah kemana!

Kami keliling taman. Hmm.. bagaimana ya. Kami itu terlalu canggung. Bagaimana jika aku dan dia? Ya sudahlah. Aku dan dia keliling taman bersama, berdua, dalam keadaan bergandengan tangan. Tidak ku hiraukan genggaman kuat tangannya, pemandangan taman itu membuatku terpaku. “Taman apa ini?”

“Tapgol Park!” ujarnya sambil terus berlari. Kapan berhentinya? Kakiku sudah keriting.

“Oppa, oppa! Berhenti! Aku sudah capek berlari!”

“Kukira kau suka berlari..” ujarnya dengan nafas tersengal-sengal. Aku dan dia, ehem. Behenti berlari. “Disini indah, ya? Aku dulu pernah punya pacar yang kaya raya. Ketika aku mengajaknya kesini, dia memutuskanku.”

“Apa?! Yang benar saja!”

“Siapa yang bohong! Dia lebih suka diajak ke restoran bintang lima. Kantong bolong ini bagaimana bisa menyenangkannya..” jelasnya. Nafasnya masih tidak stabil. Apalagi aku! “Kau pasti benci disini.”

“Siapa yang benci? Aku suka disini..”
Aku mengangkat tangan tinggi-tinggi, merenggangkan otot-ototku lalu mulai berteriak. “AKU BEBAS!” jeritku tanpa malu. Kali ini aku memang benar-benar merasa sangat bebas. Entahlah.

“Kau tadi memanggilku oppa, kan?” Taeyang mendekatiku yang masih tetap angkat tangan.

“Eh? Itu tidak sengaja..” astaga, pipiku memerah.

“Aku tahu kau menyukaiku,” pe-de.

“Si.. siapa?! Jangan kepedean gitulah!” memerah sampai ke leher.

“Tapi.. aku menyukaimu, Elli!”

Eh?

-Elli’s POV end-

xxx

Gadis berambut coklat itu terjaga dari tidurnya. “Dingin..” gumamnya sambil memeluk tubuh mungilnya. Udara di Seoul sangat dingin. Apakah ada bola salju raksasa yang digelindingkan pagi ini? Ataukah semua penduduk Seoul berlomba-lomba membuka pintu kulkas? Ini janggal.

“Selamat pagi, gadis kalong.” sapa Seunghyun. Wajahnya tidaklah menyenangkan dan ramah seperti layaknya Taeyang. Ia murah senyum, bukan murah diri. Ia rendah hati bukan rendah diri. Anjingnya Boss bukan Gaho. Atau apa, terserah. “Pagi ini mau makan apa, sayang?”

“Aptuyulah.” Elli beranjak dari tempat tidurnya dan segera menuju ke dapur. Dapur kosong, diikuti Charlie yang lapar. Oh ya, aku belum bercerita jika Seunghyun memiliki anjing bernama Charlie yang tentunya bukan anggota ST-12 yang sudah ganti nama band itu. Cemilan Charlie itu sandal karet. Tisu juga doyan.

“Aku mau ke mall lagi. Bolehkah eomma?” tanya Elli dengan wajah gembira. Elli labil. “Di mall sangat banyak orang dan makanan yang enak.”

“Baiklah, asalkan Seunghyun juga ikut. Oke?” eommanya berkelakar.

“Ya, eomma. Seunghyun lebih suka jalan-jalan ke bar, jadi kita harus berpisah.”

“Kemarin aku makan di mall, kok.” Seunghyun berkecimpung.

“Whatever. Kalau saja Seunghyun ikut pergi ke mall, mending tidak usah saja eom!”

“Elli!”

“Tidak apa, eomma.” kata Seunghyun sok baik. “Aku akan pergi ke tempat lain sembari menunggu Elli.”

“Eomma dengar sendiri, kan? Sudahlah, ayo berangkat. Aku muak disini.”

Seunghyun membukakan pintu mobil Chevrolet kuningnya itu yang bling-bling. Bahkan lebih bling-bling daripada pedang power-rangers. Elli masuk, Seunghyun juga masuk ke dalam mobil, lalu menyalakan mesin. “Bersikaplah sopan pada eommamu, El.” nasihat Seunghyun, sok. Lagi-lagi sok. Begitu tangan pria perkasa itu memegang kemudi, mobilnya dijalankan halus.

“Kau beruntung punya eomma seperti dia, memilihkan pria yang tepat untukmu.” Seunghyun berkelakar. “Bagaimana jika eommamu menyuruhmu untuk menikah dengan gelandangan? Apakah kau tidak sengsara setengah mati setengah hidup?”

Lantas Elli menutup kupingnya dengan jari telunjuk. Elli berpikir jika ia harus mengeluarkan jurus kamehameha, jurus saringan, cakar, ninjusut atau jurus yang di ucapkan Mas Narut si rambut kuning di film kartun Jepang. Ia kesal mendengar semua ucapan Seunghyun. Elli memilih untuk mencium ikan buntal daripada mendengar suara sang master uciha Seunghyun yang terus menerus berkotbah demi kejahatan Elli.

Mobil kuning bling-bling itu menepi lagi. Elli turun tanpa mengucap sepatah katapun. Apalagi berpamitan. Ia enggan. Seunghyun dianggap supir dan vampir. Pirpiran.

“Taeyang dimana, ya?” batinnya sambil cengar-cengir. Ia mendapati pria berambut hitam pekat yang di mohawk dengan baju alakadarnya berdiri di ambang pintu mall seolah menanti kedatangan Elli untuk menemuinya, lagi.

“Annyeong, chagi.” Taeyang menyongsong kedatangan Elli.

“Chagii~” Elli berlari membuka lengannya lebar-lebar.

“Elli.. ELLI!”

“Eh?!” hanya mimpi. Elli menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Kau pasti sudah tidak sabar menikahiku.” Seunghyun mengedipkan matanya. “Chagi itu lebih romantis daripada sayang, ya? Oh, mulai sekarang aku akan memanggilmu chagi.”

Aduh..

 

xxx

Kali ini bukan mimpi. Seunghyun usai mengantarkan Elli, Elli segera mencari Taeyang. Ia berharap mimpinya terwujud. “Eh? Kenapa aku jadi mencari Taeyang? Ah, apa ini..” Elli berpisah dari pendiriannya. Elli sok jual mahal.

Ia berjalan menyusuri trotoar, bukannya masuk ke dalam mall. Hatinya berharap Taeyang kunjung datang dan menyapanya. Mengajaknya ngobrol, pergi ke taman, atau yang menyenangkan. Semuanya pasti menyenangkan! Kemarin Elli masih tidak habis pikir. Laki-laki miskin yang super-ganteng itu ternyata jatuh cinta kepadanya.  Tapi.. dia sudah tidak miskin lagi. Iya, kan?

“BA!” lamunan Elli buyar, ketika si ganteng mengejutkannya dari belakang.

“Apaan sih?!” salting.

“Oh.. gara-gara kemarin, ya.. kau pasti membenciku.”

“Ah, tidak kok! Aku hanya kaget saja.”

“Kaget yang mana?”

“Dua-duanya.”

“Jadi, bagaimana? Kau menerimaku?”

“Engg.. aku nggak tau!”

“Iya-iya..”

Taeyang menatap langit-langit. Seperti namanya, Taeyang, yang berarti matahari, ia memancang arah pandangnya ke matahari. Apakah tidak silau melihat matahari secara langsung? Bahkan matahari lebih silau daripada kamehameha.

“Apa yang kaupikirkan?” aku mencoba bertanya.

“Orang yang ada di depanku.”

“Aku? Aku kenapa?”

“Sangat cantik!”

“Kau ini, terlalu frontal.”

“Memangnya apa? Yang kutahu, calon suamimu itu menyatakan cinta lewat ponsel. Iya, kan?”

“Hm.. bagaimana kau tahu?”

“Kebanyakan orang.”

“….”

“Aku lebih suka terbuka, secara langsung. Aku bukan laki-laki setengah wanita.”

Elli terpaku.

“Ayo jalan-jalan sebentar.”

Taeyang menggandeng tangan Elli dan mengajaknya ke Tapgol Park lagi. Mereka berjalan berdua, seperti orang pacaran. Seraya berjalan dan bergandengan tangan, Elli kembali melamun memikirkan pria yang tengah berjalan disebelahnya. Pandangannya kosong melompong. Ia tidak peduli barusan menginjak apa. Batu, rumput, atau kotoran Gaho dkk. Ia senang di gandeng Taeyang. Saking senangnya hampir menangis.

“Mau es krim?” tawarnya ramah.

“Tidak.. aku kenyang, sungguh.”

“Begitu, ya.”

“Tolong carikan tempat yang privasi..” lirih Elli, seolah siuman pingsan yang baru saja menjadi korban tabrak lari.

“Disini privasi semua. Kalau perlu, kita pergi ke tengah-tengah hutan. Yang bisa mendengar hanya lutung dan kawannya.” canda Taeyang sambil terkekeh. “Disini saja. Tidak ada yang memperdulikan kita, kok.”

Elli menarik tangan Taeyang ketika merasa tempat yang disarankan Taeyang tidaklah aman. Mungkin di bawah pohon cedar itu aman. Ia berjalan dengan langkah setengah gontai, menggandeng tangan Taeyang.

“Apa? Kau berubah pikiran?” terka Taeyang.

“A-apa? Memangnya aku berpikir apa?”

“Cepatlah. Kau ini mau ngomong apa?”

Elli menelan ludah. Tidak sanggup berkata-kata. “Apa? Kau membenciku? Jangan takut, aku tidak marah kok.” Taeyang terus berbicara, sampai-sampai tangan Elli gatal.

“Emm.. aku tidak mau ngomong apa-apa kok. Disini kan adem.” alasan Elli. Pipinya memerah, seperti kepiting rebus.

“Oh ya,” Taeyang merogoh sakunya. “Kau suka mawar?” ia mengeluarkan setangkai mawar merah dari sakunya. “Aku memetiknya di pekarangan rumahku. Indah bukan?”

Elli mengambil alih mawar itu dari tangan Taeyang, lalu menatapnya lekat-lekat. Elli suka mawar. Ia lahir di antara mawar-mawar merah. Bahkan ia hampir diberi nama Rose Sommers. Ia tidak sadar, jika bibirnya dibungkam Taeyang. Eh?

“Errr!” suaranya tidak jelas dalam bungkaman bibir Taeyang.

Clak! Dan tepat pada saat itu, telunjuknya berlumuran darah segar yang menggoda para vampir untuk menyedotnya hingga tetes terahkir. Elli tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Ia menjatuhkan mawar pemberian Taeyang.

Taeyang oppa...

 

FIN