Hope 3 cover

Disclaimer: Semua orang yang ada dalam fanfic ini adalah milik tuhan (kecuali OC), aku Cuma minjem nama doang kok, Sedangkan plot adalah milikku or kisahku???,,, Sedangkan poster, untuk sang cewek dikasi Mbah Google, sisanya ya ku edit sendiri.

Warning:OC, OOC, Abal, GaJe, Tipo(s), dll

Title: Hope

Cast: Kwon Ji Yong, Choi Riah (OC)

Support Cast: Choi Seunghyun, Lee Chairin (CL), Lee Seunghyun (Seungri)

Genre: Romance, Friendship, dll

Rated: PG-15 (T)

Author : Dandeliona23(@Ayik_Aryoni)

A/N:

Annyong Reader🙂 Seneng banget baru tahu komen di ch 2,,, Oh yea masalah karakter, aku memang mungkin terlalu banyak makek OC kali yea,,, berikut ini ku jelaskan :

Choi Riah punya 3 sahabat yaitu Lee Dae Hee, Choi Ni Ra, dan Han Yeon Ka. Lee Dae Hee itu sepupu Lee Chairin a.k.a CL.🙂

 

Sebelumnya : HOPE (Part 1) | (Part 2)

 

Happy Reading

Weekend ini, sudah entah untuk yang keberapa kalinya Dae Hee menyeret Riah untuk mengikuti sebuah kencan buta. Riah dengan seluruh Kekuatannya mencoba melepaskan diri dari genggaman tangan Dae Hee. Tapi tentu saja tubuhnya yang lebih kecil dan pendek sangat merugikannya kali ini.

“Ayolah Dae Hee-ah lepaskan aku,” kata Riah memohon untuk yang kesepuluh kalinya untuk hari itu. Bila dihitung-hitung mungkin dia telah mengatakan lebih dari seratuskali sejak seminggu yang lalu.

Ani, aku tak akan berhenti sebelum kau melupakan ‘dia’,” jawab Dae Hee keras kepala.

Dengan setengah hati akhirnya Riah merelakan dirinya untuk berkencan dengan seorang namja yang bahkan tidak dia ketahui tampangnya. Tak lama setelah dia duduk di meja cafe tersebut. Seorang namja yang tak bisa di bilang jelek, menghampirinya dan duduk di depannya.

“Kwon Jung Ra imnida,” kata namja tersebut sambil mengulurkan tangannya pada Riah. Aish, apa maksud Dae Hee dengan mencarikannya seorang teman kencan bermarga Kwon. Riah hanya tersenyum menanggapi uluran tangan namja bermarga Kwon tersebut. Namja didepannya itu mulai memaparkan tentang dirinya, layaknya seorang yang sedang melakukan interview untuk lamaran kerja.

‘Mereka sangan berbeda,’ jerit batin Riah sebal.

Tapi mungkin saja mereka sama-sama brengsek. Ah apa yang di katakannya, ‘dia’ tidak begitu. Yeah, setidaknya dulu. Pikiran Riah melayang-layang seperti sebuah mahkota bunga dandelion yang sedang mencari tempat yang tepat untuk jatuh. Benar saja pikirannya kini teralihkan pada sebuah kenangan manis dengan sunbae yang  bermarga Kwon tersebut.

Flashback

Hari itu sangat membosankan bagi siswa kelas X7, Miruen High School. Bagaimana tidak, hampir semua jam pelajaran hari itu kosong. Bukannya Riah tidak bersyukur, tapi sungguh dia merasa sangat sebal pada teman-temannya yang dengan gembira mengganggunya yang sedang asyik browsing. Akhirnya dengan kepala yang sudah meledak, Riah menutup laptopnya dan keluar dari kelas.

“Ya, Riah kemana kau akan pergi?” tanya Ni Ra terlihat kecewa.

“Menemui Chagiku,” jawab Riah sambil lalu.

Diapun berjalan dengan sedikit enggan menuju ruang musik di lantai empat. Dia yakin jam-jam begini pasti kekasihnya itu sedang bersembunyi di sana. Benar saja, terdengar alunan gitar dan seseorang yang sedang ngerap dari ruangan itu.

[GD] (Monster)
Neo eom-neun salmeun jongshinhyeong sesanggwah danjeoldwaeh dol jikyeon-giya
Yo, dunia tanpamu seperti hukuman mati Dunia tidak pergi benar tanpamu

Neoran jonjae-neun gojilbyeong shiryeonye yeonsong ma-eumsong miryeoniya
Keberadaanmu telah menjadi penyakit tak tersembuhkan bagiku

Lirik lagu terdengar menyedihkan dan sekaligus romantis. Dengan hati-hati Riah membuka pintu ruang musik tersebut. Namja di depannya masih sibuk dengan gitar dan dan sebuah mp3 player hinggga dia tidak menyadari kedatangan Riah.

Oppa, apa aku menggangumu?” tanya Riah sambil melepas salah satu aerophone di telinga kekasihnya.

“Ya, sejak kapan kau disini?” tanya Jiyong terkejut.

“Sejak Neo eom-neun salmeun jongshinhyeong sesanggwah danjeoldwaeh dol jikyeon-giya,” kata Riah mencoba mengikuti suara Jiyong.

Jiyong tertawa mendengar suara kekasihnya yang bisa dibilang sangat aneh. Tapi dimata Jiyong suara itu terdengar sangat lucu. Sedangkan Riah hanya bisa memanyunkan bibirnya melihat reaksi Jiyong.

“Ya, kenapa kau melakukan itu, kau terlihat sangat jelek,” kata Jiyong sambil menjewer pipi Riah.

Tapi Riah masih saja cemberut dan memanyunkan bibirnya. Jiyong lalu menarik Riah untuk duduk dan tidur di pangkuannya. Riah tidak menolak sedikitpun perlakuan Jiyong terhadapnya.

“Kenapa kau ada disini, sejak kapan kau hobi meniruku?” tanya Jiyong sambil mengusap kepala Riah.

Ani, kelas hanya sedang kosong. Semua temanku menggangguku, jadi aku memutuskan untuk kabur kesini,” gumam Riah sambil menatap langit-langit ruang musik.

“Mwo? Kau nakal,” kata Jiyong sambil mencubit hidung Riah.

Jiyong kemudian mulai memetik senar gitarnya lagi. Mengalunkan nada-nada indah yang menenangkan hati. Riah merasa kelopak matanya semakin berat. Dan akhirnya Riah menyerah pada rasa kantuk yang tiba-tiba menyerangnya.

***

Riah merasakan cahaya yang sangat menyilaukan jatuh di matanya. Dengan berat hati Riah dengan perlahan membuka kelopak matanya. Cahaya matahari senja, tunggu dulu, Senja? Tanpa pikir panjang lagi Riah langsung mengangkat tubuhnya dari sesuatu yang ditidurinya.

Oppa!” kata Riah sedikit terkejut melihat kekasihnya itu.

“Kau silau?” tanya Jiyong melihat Riah yang menyipitkan matanya.

Riah akhirnya sadar bahwa tadi dia tertidur di pangkuan Jiyong.  Dia lalu mengangguk sambil mengucek matanya layaknya gadis berumur lima tahun.

Kajja, kita pulang,” kata Jiyong sambil mengulurkan tangannya pada Riah.

Tanpa tedeng aling-aling Riah langsung membalas uluran tangan Jiyong. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan di sepanjang koridor. Saat itu sekolah sudah bubar jadi tidak akan ada orang yang menatap aneh pada mereka. Tapi tiba-tiba Riah ingat sesuatu. Tasnya, yah pantas saja punggungnya terasa sangat ringan. Hampir saja besok dia ke sekolah tanpa tas.

Oppa, ranselku?,” kata Riah menghentikan langkahnya.

Aigo, kau melupakannya lagi, kajja kita ambil tasmu,” kata Jiyong yang kini berbalik diikuti oleh Riah.

Mereka yang tadinya akan pulang, kini kembali berbalik menuju kelas Riah. Tapi disana mereka hanya menemukan sebuah memo yang ditempel di papan tulis.

 

Untuk Riah yang pergi entah kemana

Tasmu sudah di bawa pulang oleh sepupu Pandamu,  jadi kau bisa meneruskan kencan dadakan dengan Nagamu J

Dae Hee ‘sahabat terbaikmu’

 

Sahabat terbaik? Iya tentu saja sahabat yang meninggalkan sebuah memo bodoh. Bagaimana jika dia tidak datang kemari sekarang? Bagaimana jika seseorang membacanya? Bagaimana, bagaimana, oh terlalu banyak bagaimana di kepalanya saat ini.

“Sudahlah, mari kita pulang,” kata Jiyong sambil merobek memo tersebut.

Jiyong lalu berjalan sambil menarik tangan Riah menuju gerbang sekolah.  Riah hanya mengikutinya dengan tampang masam. Akhirnya Jiyong menyerah dan menghentikan langkahnya yang secara tak langsung membuat Riah ikut berhenti juga.

Waeyo?” tanya Riah dengan nada kesal.

“Hah, Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu berhenti memasang tampang masam itu?” tanya Jiyong menyerah dengan tingkah Riah yang kekanankan.

Riah hanya terdiam mendengar pertanyaan yang terlontar dari Jiyong.

“Baiklah,” kata Jiyong tiba-tiba sambil menarik Riah menuju Kesuatu tempat.

YA Oppa!!!,” teriak Riah tidak mengerti dengan maksud Jiyong.

Jiyong terus saja menarik Riah menuju kesuatu tempat sedangkan Riah masih saja setia memasang tampang masam di wajahnya. Setelah sampai di sebuah bukit Jiyong akhirnya melepaskan pegangan tanganya pada Riah.

YA Oppa, kenapa kau membawaku kesini?” tanya Riah dengan sebal.

“Berteriaklah, keluarkan semua amarahmu,” kata Jiyong tanpa memandang Riah.

Riah termenung menatap Jiyong, hingga akhirnya dia menarik nafas panjang dan mulai berteriak.

“DAE HEE MENYEBALKAN, KAU SAHABAT YANG MENYEBALKAN. KAU BUKANLAH SAHABAT YANG BAIK!!!” teriak Riah sampai kehabisan nafas.

“Sudah puas?” tanya Jiyong sambil menatap Riah yang lebih pendek darinya.

Ne,” jawab Riah sambil tersenyum.

Kajja kita pulang dan berhenti menanggapi sesuatu secara berlebihan!” kata Jiyong sambil mengacak rambut Riah.

End Of  Flashback

“Riah-sshi apa kau mendengarku?” tanya Kwon Jung Ra saat melihat Riah hanya menatapnya dengan tatapan kosong.

Riahpun akhirnya tersadar dari lamunannya.

“Ah Mianhe, sepertinya aku harus pergi. Aku berjanji untuk pulang lebih awal pada Oppaku hari ini. Jeongmal Mianhe,” kata Riah sambil mengambil tasnya dan langsung berlari meninggalkan tempat itu.

Dia tidak bisa melakukan ini. Dia tidak bisa membohongi hatinya sendiri, dia belum bisa bernar-benar melupakan ‘dia’.

 

TBC

A/N: Bagaimana? Mian kalo pendek. Apa aneh Riah marah sama Dae Hee hanya karena memo???? Hahaha maaf kalo aneh, aku buat Riah ini gampang banget kecewa n’ agak cengeng🙂 . Yang terakhir mohon komennya,,,🙂