smiling angel cover

Senyum bagiku adalah segalanya. Ketika kau tersenyum, tak peduli betapa buruknya perasaan orang yang melihatmu tersenyum, akan menularkan hawa positif bagi orang itu. Bukannya menganggap enteng segala urusan hidup, tapi justru dengan tersenyum mengajarkanku untuk lebih menghargai hidup. Maka dari itu aku terheran dengan sikap Moon yang dulu, ya benar, dulu Moon tak pernah tersenyum. Iya, kan Moon? Ah, Moon memang gadis yang unik.

 

Tabina Hatake (@realtabina) present

 

SMILING ANGEL

 

 

Cast: Kang Daesung BIGBANG; Park Moon (OC); BIGBANG members; other cast(s) that can’t mentioned here

 

Genre: Mild Romance; Friendship

 

Rate: General

 

Lenght: Oneshot

 

Disclaimer: Kang Daesung; BIGBANG members; and other cast(s) are belong to God and themselves. The OC is mine. Common topic but idea is purely mine.

 

Warning: My first Kang Daesung storyline! This is Daesung’s POV storyline. Sorry for the unperfect Daesungie’s description. No plagiarism acception. Take out with full credit and permission. Happy Reading!!

 

Seoul, Januari 2012

“Daesung-ah.”, panggil seorang pria tegap berbadan kekar dibelakangku. Aku menoleh dan menyunggingkan senyum lebar pada pria tadi.

“Ah, hyung! Ada apa?”, tanyaku.

“Aku selalu menyukai momen saat memanggilmu. Senyummu tak pernah tertinggal. Begitu menyejukkan.”, ujar Seung Hyun atau yang lebih dikenal sebagai T.O.P-hyung. Aku hanya tertawa menanggapinya.

“Mau kemana setelah ini?”

“Tidak kemana-mana. Ingin istirahat dirumah saja, hyung. Ada apa, hyung?”

“Tidak. Hanya saja tak ada salahnya kau pergi keluar melihat dunia lagi. Kau sudah lama tak mencari udara segar.”, aku hanya tersenyum simpul. Memang benar apa kata Seung Hyun. Sejak kasus yang menimpaku tahun lalu, ini adalah kali pertamaku keluar dari dorm.

“Ya, sudah. Aku duluan.”, Seung Hyun menepuk pundakku dan pergi berlalu. Sejujurnya, aku sendiri belum memiliki kepercayaan diri yang cukup untuk tampil kembali ke depan publik. Aku tak tahu apakah publik bisa menerima comeback ku bersama grup.

Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri sampai tak kusadari ada seseorang berjalan didepanku dari arah berlawanan.

“Akh!”, aku menabrak wanita itu. Dia jatuh terjengkang, kalah dengan badanku yang jauh lebih besar dan menjatuhkan beberapa dokumen bawaannya.

“Aigoo!! Mianhae, nona!”, aku bergegas menolongnya bangkit dan memungut kertas-kertas yang terserak di lantai. Dia ikut memunguti kertasnya, tapi tak terlihat ekspresi sedikitpun diwajahnya.

“Ah, ma’afkan aku, nona. Aku tidak melihat jalan.”, aku menyerahkan kertas yang berhasil kupungut pada gadis tadi. Dia menerimanya dan hanya mengangguk. Benar-benar tak ada ekspresi apapun di wajahnya, sedikit aneh bagiku. Dia kemudian membungkuk mohon diri dan pergi. Aku hanya melihatnya berlalu dengan mengangkat alisku.

Aneh.’, pikirku.

“Hei, apa yang kau lihat, Daesung-ah?“, tegur Hyun Gon mengejutkanku.

“Ah, tidak.”

“Kau sudah ditunggu diluar, ayo.”, ajak Hyun Gon. Perhatianku kemudian teralih pada ajakan Hyun Gon untuk keluar dari YG building.

 

***

 

Aku dan member lain akan melakukan fitting costume hari ini. Butuh banyak kostum yang akan kami gunakan selama Alive Tour nanti. Beberapa kostum adalah buatan designer YG sendiri, dan kami akan memilih bebarapa nanti.

“Ah, sepertinya warna putih yang dulu itu bagus juga, hyung.”, ucap Seungri bicara pada Young Bae.

“Iya.”, jawab Young Bae pendek.

“Keputusan bukan ada padamu.”, aku menyeletuk menanggapi Seungri. Seungri tampak memicingkan mata padaku.

“Aku juga tak bicara padamu, hyung.”, jawab Seungri.

“Hei! Kau ini sungguh!”, aku gemas melihat Seungri menjulurkan lidahnya padaku. Aku baru saja akan menjenggit rambutnya.

“Ya ampun kalian ini berhentilah menjadi anak-anak.”, desis Jiyong menghentikan niatku untuk memberi pelajaran pada Seungri, daripada nanti Jiyong mengamuk.

Kami sampai di ruang fitting, ruangan yang penuh sesak dengan berbagai kostum bergantung rapi. Kami mencoba beberapa kostum yang akan kami gunakan untuk tampil seragam dan juga membenahi beberapa bagian yang dirasa kurang pas. Saat aku sedang mencoba kostum bagianku, aku berpapasan dengan nona yang kutabrak tempo hari. Aku melemparkan senyum padanya dan mengangguk ramah. Dia, masih sama seperti kemarin, hanya membalas anggukanku dan pergi begitu saja. Jangankan senyum, merubah ekspresi, bahkan menarik bibirnya sedikit saja tidak. Aku kembali merasa aneh dengan sikap gadis itu.

“Hei! Kenapa melamun?”, Young Bae menepuk bahuku, membuatku terkejut.

“Ah, hyung mengagetkanku saja.”, aku terhenyak dengan tepukan Young Bae.

“Mianhae. Apa yang kau lihat?”

“Tidak ada. Hanya saja..”

“Apa?”

“Tidak penting, hyung. Kostummu sudah kau coba?”, aku mengalihkan topik pembicaraan.

“Sudah. Ayo.”, Young Bae merasa aneh dengan tingkahku tapi kurasa dia mengabaikannya dan mengajakku berkumpul dengan yang lain. Jujur saja aku penasaran dengan sikap yang ditunjukkan gadis tadi.

Apa dia membenciku?’, sempat terlintas pikiran semacam itu didalam otakku mengingat musibah yang pernah menimpaku tahun lalu. Tapi aku mengenyahkannya segera. Aku segera berkumpul dengan yang lainnya untuk melanjutkan fitting costume kami.

“Kamsahamnida, kami pergi dulu, noona.”, Jiyong berpamitan pada Gee Eun. Kami pun pergi. Aku berjalan paling belakang. Secara tidak sengaja, aku melihat gadis yang tempo hari kutabrak, lagi. Dia nampak sibuk dengan pekerjaan yang ada di depannya. Sepertinya dia bekerja sebagai salah satu staff Gee Eun. Dia benar-benar datar, tak memiliki ekspresi.

“Daesung-ah. Ada apa kau ini? Sering melamun.”, Seung Hyun menyadarkanku.

“Ahaha, tidak juga, hyung. Ayo.”, aku menggamit tangan Seung Hyun dan mengajaknya keluar. Dia hanya menatapku aneh. Tidak penting juga kalau dia tahu, aku hanya penasaran pada gadis tadi. Apa yang membuatnya tak memiliki keramahan padaku?

 

 

***

 

“Daesung-ah. Tadi Gee Eun berpesan padaku agar kau menemuinya. Ada yang ingin dia bicarakan, soal kostum katanya.”, Ssabu-hyung menepuk pundakku saat aku selesai beres-beres. Aku baru saja selesai latihan di gym bersama member lain.

“Ah, terimakasih hyung. Aku akan kesana setelah ini.”

Aku bergegas ke tempat Gee Eun setelah berpamitan dengan yang lain.

“Annyeong!”, ucapku sembari masuk di ambang pintu kantor Gee Eun. Sepi. Aku memutuskan masuk dan memeriksa ruang kantornya. Sepertinya Gee Eun sedang keluar. Aku mengedikkan bahu dan berbalik akan keluar dari kantor Gee Eun saat seseorang membuka pintunya.

“Omo!”, aku terkejut karena hampir saja ayunan daun pintu mengenai wajahku. Aku mendapati seorang gadis yang membuka pintu tadi. Dia tak tampak terkejut melihatku. Hanya mengangguk dan berlalu.

Kenapa dengan gadis ini? Dia hampir menghajarku dengan daun pintu!’, pikirku.

“Ah, nona. Bisa kutahu kemana Gee Eun-noona? Dia bilang dia mencariku.”, aku bertanya pada gadis itu. Dia berhenti tapi tak menoleh padaku.

“Dia sedang keluar. Tunggu saja, sebentar lagi akan kembali.”, jawabnya. Dia kemudian duduk di sebuah meja kerja di seberang sofa. Aku memutuskan untuk menunggu sejenak, toh aku tak ada jadwal setelah ini. Aku memperhatikan sekeliling kantor Gee Eun. Rapi dan beberapa pajangan dinding berupa artikel-artikel fashion tertata apik berjajar. Mataku menangkap sosok di depanku. Gadis yang tak kutahu namanya. Untuk ukuran seorang staff stylish, dia cukup kuno dengan selera fashionnya. Sweater turtle neck nya berwarna hijau tua polos tanpa pola. Rok abu sebetisnya tadi ia padukan dengan boots hitam. Rambutnya lurus sepunggung diikat seadanya dengan poni yang hampir menutupi matanya. Sebenarnya akan terlihat indah jika ia menggerainya. Sepertinya lingkungan kerjanya tak berpengaruh banyak pada dirinya. Tiba-tiba mata gadis itu teralih padaku. Lebih mirip pandangan dingin yang kosong. Aku tergeragap tertangkap basah sedang memperhatikannya.

“Oh, kau sudah tiba, Daesung-ah? Ma’af membuatmu menunggu.”, Gee Eun pada saat yang sama masuk dan menyapaku.

“Ah, ya noona. Tidak apa-apa. Apa yang ingin noona bicarakan?”, aku segera menghampiri meja Gee Eun sekaligus untuk menghindari tatapan aneh gadis tadi.

“Soal kostummu. Ada sedikit perubahan yang aku lakukan. Kuharap kau tidak keberatan.”, Gee Eun mengambil kostum yang dimaksud dan menyerahkannya padaku.

“Moon, tolong kau pos kan beberapa surat ini. Setelah itu mampirlah ke tempat Nam Guk. Ada dokumen yang kutinggalkan disana.”, Gee Eun tampak bicara pada gadis tadi dan gadis tadi langsung pergi melaksanakan tugas yang diberikan Gee Eun. Aku hanya melirik dari sudut mataku.

“Bagaimana, Daesung-ah? Ada yang ingin kau perbaiki?”

“Tidak, noona. Kurasa ini lebih baik.”

“Baguslah.”, aku menyerahkan kembali kostumnya ke Gee Eun.

Noona?”, panggilku.

“Ya?”, Gee Eun menoleh.

“Dia tadi siapa?”

“Oh, dia Park Moon. Asisten pribadiku. Dia juga akan ikut dalam Alive Tour nanti.”

“Ooh begitu.”, jawaban Gee Eun sebenarnya tidak memuaskanku. Tapi tidak ada kepentingannya juga jika aku bertanya lebih lanjut.

“Kau merasa aneh dengan sikapnya?”, Gee Eun melanjutkan ucapannya. Aku mengerjapkan mata kecilku dan tersenyum.

“Moon memang seperti itu. Dia pribadi yang introvert. Dia menderita Schizoid Personal Disorder.

“Schii.. Apa? Apa itu?”

Schizoid, Daesung-ah. Semacam gangguan kepribadian. Bukannya gila, tapi dia kehilangan ekspresi dan emosi dalam kesehariannya karena trauma yang ia alami.”, tandas Gee Eun.

“Sepertinya rumit. Trauma?”

“Dia kehilangan orang tuanya dalam kecelakaan saat usianya 15 tahun. Semenjak itu ia hidup sendiri dan tumbuh menjadi pribadi yang tertutup. Aku mengetahui cerita itu dari bibinya yang adalah temanku.”

“Bagaimana noona bisa mempekerjakan orang dengan gangguan kepribadian seperti itu?”, heranku.

“Jangan begitu, Daesung-ah. Dia memang aneh. Tapi dia stylish handal. Jangan dilihat dari luarnya saja.”, Gee Eun tertawa mendengarku. Aku hanya mengangguk mengerti. Aku kemudian pamit pulang kepada Gee Eun. Dalam perjalanan pulang entah mengapa aku masih memikiran tentang Moon. Aku pernah mengalami hal serupa saat skandal kecelakaanku tahun lalu. Aku memang sempat terpuruk, tapi aku berhasil bangkit. Tapi seburuk itukah pengaruh trauma yang ia alami hingga bahkan hanya untuk menarik bibirnya saja Moon tak mampu melakukannya? Kurasa, aku masih lebih beruntung dan merasa prihatin untuk Moon.

 

***

Nagoya, Mei 2012

Aku baru saja memulai Alive Tour bersama grup keliling dunia. Aku sangat bersemangat mengingat ini adalah kali pertamanya bagi kami semua. Ini adalah musim semi yang paling hangat yang aku rasakan. Aku baru saja selesai check in di hotel tempat ku menginap bersama yang lain. Aku berniat berjalan-jalan di areal hotel saat kutemukan sosok yang membuatku banyak berpikir akhir-akhir ini.

“Annyeong!”, sapaku. Gadis itu mengangkat kepalanya dan memandangku dingin, ya karena hanya ekspresi itu yang bisa ia tunjukkan.

“Annyeong.”, jawabnya datar. Dia duduk disebuah kursi taman hotel, diteduhi pohon yang mulai bersemi.

“Boleh aku ikut duduk?”, tanyaku masih dengan senyum yang setia menghiasi wajahku. Dia tak menjawab ataupun menoleh, hanya mengangguk. Dia kembali menekuni kertas dipangkuannya. Tampaknya dia sedang menggambar sesuatu, semacam sketsa.

“Jadi, kau bekerja untuk Gee Eun noona?”

“Ya.”, jawabnya singkat.

“Sudah lama bekerja dengan Gee Eun?”

“Ya.”

“Kau belajar tentang fashion juga?”

“Ya.”, hanya jawaban singkat yang keluar dari mulut kecilnya. Itupun dengan jeda yang cukup lama sebelum dia membuka suara.

“Kau sedang apa?”, dia tak menyahut kali ini. Aku melirik gambarnya. Dia membuat sketsa beberapa gaun dan setelan pria.

“Gambarmu bagus. Aku suka gaun itu.”, komentarku sambil menunjuk gambar yang sedang dia kerjakan. Dia tampak berhenti dari kesibukannya. Dia menatapku lurus, masih datar serupa pandangan kosong. Sepertinya aku berhasil menarik perhatiannya, lebih tepatnya mengganggunya. Entah mengapa aku merasa senang bisa membuatnya memandangku.

“Aku Kang Daesung.”, aku mengulurkan tanganku dan tersenyum. Dia memandang tanganku tercenung agak lama.

“Siapa namamu?”, tanyaku karena merasa tak mendapatkan respon dari gadis di depanku ini.

“Park Moon.”, jawabnya singkat tanpa menyambut uluran tanganku. Lalu dia mengalihkan pandangannya pada kertas yang ia kerjakan tadi.

“Senang berkenalan denganmu.”, aku menarik tangan kanannya secara paksa dan menjabatnya. Moon segera menariknya. Bukannya aku tidak sopan, tapi bagiku Moon begitu unik. Entah mengapa, aku ingin membantunya mendapatkan dirinya kembali.

Moon kemudian berdiri dan menunduk tanda mohon diri. Dia tak mengucapkan apapun, langsung berbalik pergi setelah mengemasi kertas-kertasnya. Aku memandang sosoknya dari belakang sambil tersenyum. Kurasa sebenarnya Moon adalah gadis yang ceria, sayang sekali kesendirian membuatnya begitu terpuruk dan kehilangan emosinya.

 

***

“Sedang apa, Daesung-ah?”, tanya Seung Hyun.

“Ah, tidak hyung. Hanya sedang iseng.”, aku sedang browsing di ponselku. Aku membaca artikel tentang Schizoid Personal Disorder di internet. Moon menyita banyak perhatianku akhir-akhir ini.

“Ah, membaca artikel gangguan kepribadian?”, Seung Hyun melongok layar ponselku dan membaca judulnya.

“Memangnya kau bisa mengerti hal serumit itu, hyung?“, suara sumbang itu terdengar seolah merendahkan kemampuan intelejensiku. Entah sejak kapan si mata panda itu ada di belakang kursiku. Seung Hyun hanya tersenyum menanggapi Seungri.

“Apa maksudmu?”, tanyaku.

“Iya, sepertinya bacaan berat. Memangnya kau..”

“Aku tak sebodoh baka panda sepertimu.”, potongku ketus.

“Ah, hyung! Kenapa mengataiku baka??”, Seungri tampak tak terima.

“Kau yang memulainya. Tentu saja aku mengerti.”

“Aku kan hanya bertanya!”

“Pertanyaanmu itu melecehkan!”

Hyung saja yang begitu perasa!”

“Kalian bisa tidak sehari saja diam dan akur?”, Jiyong mendelik mendengar perdebatanku dan Seungri.

“Aku hanya bertanya dan dia begitu galak.”, komentar Seungri.

“Pertanyaanmu menghinaku.”, belaku.

“Aku kan..”

“Sudah hentikan! Bukan hal penting yang kalian ributkan!”, Jiyong tampak gemas dan memotong pembelaan Seungri. Aku mendelik ke arah Seungri tapi enggan mengeluarkan argumen lagi. Seung Hyun tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Seungri masih tampak bergumam kesal dan menghampiri Young Bae. Dasar pengadu!

 

Aku kembali menekuni ponselku, meneruskan membaca artikel tentang gangguan Schizoid Personal Disorder. Disana banyak kutemukan fakta bahwa sebenarnya penderita SPD masih bisa disembuhkan dengan terapi individu melalui teman dekat maupun ke ahli. Ah, tapi sayang Moon tak memiliki teman dekat, dan kurasa dia juga tak akan mau menemui psikolog.

“Ayo, membacanya nanti saja. Kita harus segera ke tempat konser untuk rehearsal.”, Jiyong menepuk pundakku. Aku pun segera bangkit dan mengikuti member lain menuju van. Andai ada yang bisa kulakukan untuk Moon yang malang.

 

***

Yokohama, Mei 2012

“Daesung-ah, kami mau keluar dulu. Ikut atau tidak?”, Jiyong sepertinya akan keluar bersama Young Bae.

“Ah, tidak hyung. Aku mau di hotel saja.”, aku agak lelah lagipula setelah konser. Akhirnya Jiyong dan Young Bae meninggalkanku sendiri di hotel. Ah, semua member sibuk dengan pekerjaan mereka sendiri. Aku memutuskan turun ke lobi untuk mencari sedikit udara segar. Lobi sudah cukup sepi saat aku turun. Hanya ada beberapa pegawai hotel yang nampak masih sibuk. Aku baru akan membeli minuman di vending machine saat kulihat sosok yang familiar di sudut lobi. Aku membeli dua espresso panas dan menghampiri orang tadi.

“Belum tidur?”, tanyaku. Moon tak menjawab. Dia, sedang membaca sebuah buku fiksi. Aku menyodorkan segelas espresso padanya.

“Kau suka membaca? Aku tahu beberapa judul yang bagus meski membaca bukanlah hobiku.”, Moon masih tak menjawab tapi dia menerima espresso dariku. Ada jeda sesaat ketika aku menyesap kopiku. Moon tampak mengikutiku dan meminum kopinya.

“Aigoo. Ini pahit sekali.”, komentarku. Aku melirik Moon sesaat.

“Kau tahu apa arti namamu?”, sambungku. Moon hanya memangku kopinya dalam genggaman kedua tangannya. Kami berdua duduk memandangi langit dari dalam bangunan hotel.

“Bulan. Orang bilang bulan itu cantik.”, aku tersenyum dan menoleh pada Moon yang menunduk memandang gelasnya.

“Tapi sayang sekali jika sepahit kopi ini.”

“Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?”, setelah sekian lama akhirnya Moon menanggapiku.

“Hidup tak selamanya pahit, nona Park.”, aku menatapnya intens. Moon kemudian meletakkan gelasnya dan berdiri. Aku sudah menduga dia akan pergi. Kali ini dia langsung berlalu tanpa mohon diri.

“Hidup tak akan menjadi lebih baik jika kau terus menutup dirimu.”, Moon memang tak menoleh tapi aku yakin dia mendengarku. Aku kembali menyesap kopi pahitku sendiri.

“Kau harusnya tak menyia-nyiakan hidupmu, Moon.”, aku bergumam sembari berjalan kembali ke kamarku. Aku tak habis pikir, kenapa Moon rela kehilangan kehidupannya yang bisa sangat berwarna hanya untuk tenggelam dalam kesedihannya.

 

***

Osaka, Juni 2012

Hyung?”, Seungri tampak memanggilku. Kami sedang ada rehearsal sebelum konser.

“Hmm.”

“Aku selalu kesulitan di bait ini. Bisa membantuku?”, tanyanya. Aku mengalihkan pandanganku padanya.

“Lagu ini sudah puluhan kali kau nyanyikan, kenapa masih juga kesulitan?”

“Mau bagaimana lagi. Aku sering kehilangan napas di pertengahan nada.”, keluhnya putus asa. Aku hanya tersenyum melihat ekspresinya.

“Begini saja.”, aku mulai mencontohkan teknis menyanyi bait milik Seungri agar dia tak kehabisan napas di tengah nada. Pada saat yang bersamaan aku melihat Moon sedang berlalu, entah mau kemana.

“Annyeong, Moon.”, aku sengaja menyapa Moon. Moon menoleh dan hanya mengangguk hormat padaku. Dia meneruskan berjalan tanpa melemparkan sedikitpun ekspresi.

“Siapa, hyung?”, tanya Seungri.

“Ah, dia asisten Gee Eun. Moon.”, Seungri hanya mengangguk.

“Dia aneh.”, aku mengangkat sebelah alisku.

“Maksudku, dia tak balas menyapamu. Lagipula tak ada salahnya jika tersenyum.”, Seungri yang sadar akan keherananku mendongak dan menyambung ucapannya.

“Dia memiliki gangguan kepribadian.”, jawabku.

“Mwo?”, Seungri membelalakkan matanya.

“Kau ingat artikel yang kubaca tempo hari? Yang kau kira aku tak mampu memahaminya?”

“Ah, jangan membahasnya lagi, hyung. Mianhae.”

“Aku juga tak benar-benar marah padamu.”, aku tertawa.

“Dialah yang membuatku tertarik untuk mencari tahu tentang gangguannya.”, aku menceritakan apa yang kutahu pada Seungri. Kupikir aku bisa meminta saran padanya yang sering mendekati wanita.

“Tipe wanitamu aneh, hyung.”, komentar Seungri yang sukses membuatku menjenggitnya. Dia hanya meringis sambil mengeluh kesakitan.

“Bukan begitu. Aku hanya kasihan padanya. Aku pernah mengalami hal serupa. Tapi aku bisa bangkit. Kenapa dia tidak.”

“Ne, benar juga. Lagipula dia cukup cantik sebenarnya.”

Ya! Kau ini.”

“Dekati saja, hyung. Siapa tahu dengan komunikasi intensmu bisa membantunya. Kau juga bisa tahu apa yang membuatnya menutup diri.”, aku mengangguk setuju.

“Kalau sembuh kan lumayan. Bisa kau jadikan pacar, hyung.”, kali ini jitakan manis mendarat di kepala Seungri.

“Wae? Sudah ah, aku berlatih dengan Young Bae-hyung saja.”, aku hanya tertawa. Seungri nampak mengadu tentang jitakanku pada Young Bae. Tapi apa yang dikatakan anak itu ada benarnya juga. Mungkin saja komunikasi yang kulakukan bisa membantu Moon. Tapi tentang aku menyukainya? Aku tak yakin. Aku hanya prihatin melihat apa yang Moon alami. Sejauh ini begitu. Aku kembali meneruskan latihan vokalku sebelum konser nanti malam.

 

Aku memilih untuk kembali ke hotel dengan berjalan kaki sendiri. Jepang sudah cukup familiar bagiku. Aku ingin sedikit mencari udara segar sembari meredakan rasa gugupku untuk konser nanti malam.

“Brukk!”, kudengar ada suara benturan di ujung tikungan jalan. Tak lama sebuah mobil tampak tergesa melaju. Orang-orang mulai tampak berkerumun melihat apa yang terjadi. Aku yang penasaran ikut membelah gerombolan manusia tadi. Sebenarnya ini seperti kurang kerjaan saja, tapi aku penasaran.

“Omo! Moon!”, aku terkejut mendapati Moon jatuh terduduk. Ada luka lecet di lengan dan kakinya. Ada beberapa orang yang ingin menolongnya tapi Moon menepis tangan mereka. Moon hanya meringis kesakitan, ekspresi pertama yang pernah kulihat.

“Biar aku saja yang menolongnya. Dia temanku. Tolong panggilkan ambulans saja.”, aku meminta tolong pada seorang disebelahku. Aku berjongkok dan mencoba bicara pada Moon.

“Apa yang terjadi, Moon?”, aku hendak menyentuh lengannya yang terluka, tapi lagi-lagi ia menepis tanganku keras. Orang- orang mulai bergumam Moon adalah gadis aneh. Aku hanya memandang Moon heran. Moon sendiri mulai menangis, entah karena kesakitan atau hal lain. Tak lama ambulans sudah tiba. Aku membiarkan tim medis membawa Moon. Aku juga masuk dalam ambulans. Dalam perjalanan Moon hanya tersedu dan terus bergumam “Jangan sentuh aku.”, entah apa maksudnya. Aku mengabari Jiyong dan Gee Eun tentang keberadaanku dan Moon agar mereka tidak panik.

 

“Setelah ini kau bisa langsung pulang.”, aku dan Moon duduk di ruang tunggu rumah sakit. Moon sudah selesai ditangani. Dia hanya menunduk dan diam. Kami menunggu staff YG yang akan menjemput kami.

“Apa masih sakit?”, tanyaku. Moon hanya menggeleng. Aku menyentuh pundaknya, membuat Moon tersentak.

“Sudah kubilang jangan sentuh aku!”

“Ma’af. Tapi aku tak bermaksud apa-apa, Moon.”, aku terkejut dengan sikap Moon yang sudah banyak mengeluarkan ekspresi, seperti sekarang. Moon tampak marah, dan itu membuatku semakin tak mengerti.

“Daesung-ah. Apa yang terjadi?”, Byung Yung sudah tiba untuk menjemput kami.

“Dia menjadi korban tabrak lari.”, aku menjelaskan situasi pada Byung Yung sementara Gee Eun membantu Moon kembali ke van kami.

“Kau tak tahu?”, Byung Yung tiba-tiba bertanya.

“Tahu apa, hyung?”

“Dia pasti menolakmu menyentuhnya, kan?”, aku mengangkat alisku. Bagaimana Byung Yung tahu?

“Dia takut kau tertular.”, Byung Yung menepuk pundakku. Aku semakin tak mengerti apa yang dikatakan Byung Yung.

“Apa yang kau maksud, hyung?”

“Nanti kau akan mengerti.”, aku sebenarnya ingin bertanya lebih lanjut tapi toh jawabannya hanya akan nihil. Kami pulang ke hotel dalam diam siang itu.

 

***

Saitama, Juni 2012

“Ah, aku lapar hyung. Ayo cari makan dulu.”, kami baru sampai di hotel. Aku bersama grup kembali ke Jepang untuk memenuhi jadwal Alive Tour kami.

“Kau saja duluan. Aku mau istirahat dulu.”, Seung Hyun memilih ke kamar dulu. Akhirnya aku pergi sendirian mencari restoran di hotel ini.  Aku baru akan memilih menu saat aku melihat Moon duduk di sebuah meja sendirian. Aku segera memesan dan meminta pelayan mengantar makanan ke meja Moon, aku akan duduk disana.

“Annyeong.”, sapaku. Moon menatapku sesaat dan kembali menekuni menunya.

“Annyeong.”, jawabnya lirih. Aku duduk di kursi tepat berhadapan dengannya.

“Sudah sembuh?”, Moon hanya mengangguk pelan. Tak lama berselang pelayan sudah mengantarkan makananku. Moon mengernyitkan dahinya.

“Tak apa kan aku makan disini?”, Moon hanya terdiam dan kembali menekuni makanannya. Kami terdiam selama acara makan.

“Uhukgh!”, tiba-tiba Moon tersedak. Aku baru akan bangkit memberikan air padanya, tapi Moon menolaknya. Ada darah keluar dari sisi bibirnya.

“Aku tidak apa-apa. Aku menggigit sisi lidahku. Itu saja.”, ujar Moon sambil mengusap bekas darah di sudut bibirnya.

“Jangan terburu-buru, Moon. Kau yakin tak apa-apa?”, Moon hanya mengangguk. Perasaanku saja atau memang Moon sekarang lebih “manusiawi” padaku. Tanpa sadar aku terus memandanginya sambil makan.

“Apa yang kau lihat?”, Moon tak memandangku saat mengatakannya, tapi bisa kulihat ada semburat merah di pipinya. Lucu sekali.

“Tidak, kau hanya banyak berubah.”

“Kau tidak mengetahui apa-apa. Bagaimana bisa tahu aku berubah?”

“Ya, tapi karena itulah aku bisa melihat perubahanmu.”

“Kau ini sok tahu.”, Moon mengangkat wajahnya dan menyunggingkan sebuah senyuman. Ya, dia tersenyum dan aku melihat lengkungan indah bibirnya itu untuk pertama kalinya. Dia menatapku yang terpaku pada wajahnya.

“Gomawo, Daesung-ssi untuk semuanya.”, ucapnya lirih.

“Ah, aku tak melakukan apapun. Lagipula panggil saja Daesung.”, jawabku senang. Moon, benar-benar sudah banyak berubah. Ponselku berdering, panggilan dari Jiyong.

“Ya.. Baik, hyung aku segera menyusul.”, aku menutup sambungan ponselku.

“Aku pergi dulu. Ma’af ya.”

“Kenapa minta ma’af?”, lagi Moon tersenyum geli.

“Ah, tidak.”, aku menggaruk belakang kepalaku aneh. Entah mengapa aku menjadi salah tingkah melihat senyum Moon.

“Ya sudah pergilah.”

“Ahaha.. Ya, tentu.. Moon?”

“Ya?”

“Ternyata kau cantik jika tersenyum.”, aku lalu membungkuk mohon diri. Aku merasa konyol mengatakan hal itu. Aku bergegas menyusul Jiyong dan lainnya dengan perasaan senang. Entahlah, senyum Moon sepertinya memberi energi yang besar bagiku hari ini.

 

***

Fukuoka, Juni 2012

Fukuoka akan menjadi destinasi Jepang terakhir Alive Tour sebelum final dome nanti. Aku baru saja mendarat bersama staff di bandara.

“Annyeong, Daesung-ah.”, sapa Gee Eun.

“Ah, annyeong noona.”, aku menoleh pada Gee Eun dan menyapanya balik.

“Masih semangat?”

“Tentu, noona.”, aku melihat sekeliling.

“Apa yang kau cari, Daesung-ah?.”

“Ah, tidak. Moon tidak kelihatan?”, aku sedikit salah tingkah.

“Kau merindukannya?”

“Ah, noona bisa saja.”, aku sedikit tersipu.

“Dia ijin kali ini. Entahlah, dia bilang ada urusan kecil.”, aku hanya mengangguk.

“Dia banyak bercerita tentang dirimu akhir-akhir ini. Dia juga jadi banyak bicara dan mengekspresikan diri. Dia juga bertanya padaku tentang penampilannya. Kupikir itu sedikit aneh. Apa yang kau lakukan padanya?”, Gee Eun mengangkat alis dan memandangku geli.

“Sedang membicarakan apa?”, Seung Hyun tiba-tiba merangkul pundakku dari belakang.

“Ah, berat hyung.“, sambutku sambil tertawa.

“Daesung-ah sedang dekat dengan gadis.”

“Ah, noona jangan bercanda!”, aku mengibaskan kedua tanganku.

“Semakin kau menampiknya, semakin terlihat kau memiliki rasa yang lain pada gadis itu, hyung.”, Seungri yang entah sejak kapan ada di samping Gee Eun ikut buka suara.

“Ah, ini bukan seperti yang kalian kira!”, aku semakin salah tingkah. Wajahku sudah mirip kepiting rebus karena merona. Aku juga tak mengerti mengapa aku merona hanya karena membicarakan Moon. Yang lain hanya tertawa melihatku.

“Ini. Siapa tahu kau ingin menghubunginya.”, Gee Eun mengangsurkan sebuah kartu nama, milik Moon ternyata. Aku menerimanya dengan canggung.

“Terima saja, hyung. Kan, sudah kubilang siapa tahu bisa kau jadikan pacar.”, Seungri kembali menggodaku.

“Hei, kemari kau!”, aku mengejar Seungri yang sudah kabur lebih dulu. Awas saja kalau tertangkap!

 

Aku tercenung menatap kartu nama yang diberikan Gee Eun di bandara tadi. Aku duduk di ranjang kamar hotelku, menimbang apakah aku akan menghubungi nomor di kartu nama itu atau tidak. Aku meraih ponselku, mengetik deretan nomor dan memanggilnya. Ada nada tunggu yang cukup lama sebelum suara di seberang pesawat menjawabnya.

“Yeoboseo?”, aku terdiam. Suara itu mengacaukan kalimat yang tadi sudah susah payah kususun.

“Yeoboseo?”, ulang suara familiar itu. Aku langsung memutus sambungan telepon tadi. Pabbo! Aku mengacak rambutku sendiri. Tak lama berselang ada panggilan masuk, dari nomor tadi. Dengan sangat bodoh aku hanya menatap layar iPhone 5 ku.

Haruskah aku mengangkatnya?‘, pikirku. Satu panggilan tak terjawab. Betapa pengecutnya aku. Ponselku kembali bergetar. Satu pesan masuk.

Mianhae. Apa aku mengenalmu?‘, dari nomor Moon. Aku mulai mengetik pesan balasannya.

‘Annyeong, Moon. Mian mengganggu. Ini aku, Daesung.’, aku menunggu balasannya dengan sedikit berdebar.

Ah, ternyata kau. Tidak apa-apa. Ada apa?

Tidak ada. Hanya saja kau tak terlihat hari ini. Ma’af  bukannya ingin mencampuri urusanmu.

Aku ada keperluan di Seoul. Maka dari itu aku ijin untuk tour kali ini.’, aku bingung harus membalas apa sampai disini. Kenapa aku merasa begitu bodoh sekarang?

‘Begitu rupanya. Ya sudah aku tak ingin mengganggumu. Semoga harimu menyenangkan Moon.^^’

‘Tidak mengganggu, kok. Gomawo atas perhatianmu. Have a nice day too.’, balasan terakhir Moon. Aku menatap layar ponselku sambil tersenyum sendiri. Aku tak tahu rasa apa yang ada dalam hatiku, tapi hanya demi membaca pesan dan membayangkan sosok Moon rasanya begitu menyenangkan. Ah, aku tak ingin berspekulasi terlalu jauh. Aku bergegas mandi dan segera berkumpul dengan member lain untuk meeting.

 

***

Seoul, Juli 2012

Dua minggu sejak aku kembali ke Seoul. Dan dua minggu pula aku tak melihat Moon. Aku masih melakukan kontak dengan Moon, tapi tak benar-benar mengajaknya bertemu. Aku terlalu malu untuk mengajaknya keluar, atau bisa kau sebut berkencan. Aku tak pernah merasa begitu terganggu soal wanita sejak menenggelamkan diriku sendiri dalam karir bermusik, sampai aku begitu tertarik pada sosok Moon. Tiba-tiba sebuah pesan masuk di ponselku, mengejutkanku. Pesan dari Moon yang sedari tadi kupikirkan.

Keluarlah.’, pesan itu begitu pendek. Aku mencerna satu kata itu begitu lama. Apa maksudnya? Apa Moon salah kirim? Tidak mungkin kan dia benar-benar ada diluar rumahku dan menyuruhku keluar? Pikiran semacam ini terus berputar di otakku sampai sebuah pesan kembali masuk ke ponselku.

Keluarlah jika kau dirumah. Atau kau ingin menjemurku?^^’

Aku segera berlari ke arah jendela kamarku. Aku hampir tak mempercayai pandanganku. Di luar, kutemukan sosok Moon sedang berdiri. Aku bergegas turun dan membuka pintu untuk Moon.

“Moon! Hai! Tak kukira kau datang?”, sambutku ceria. Moon agak membelalak melihatku. Dia terkejut dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

“Kau kenapa, Moon?”, tanyaku heran.

“Kau yang kenapa? Lihat dirimu.”, Moon mengatakannya masih dengan menutup wajahnya. Aku bingung dan melihat diriku sendiri. Demi Tuhan! Karena terlalu semangat menemui Moon, aku lupa aku tadi hanya mengenakan celana panjang dan bertelanjang dada. Pantas saja Moon malu melihatku.

“Ah, mianhae Moon. Aku lupa. Sungguh. Masuklah dulu.”, aku langsung berlari masuk ke kamarku. Bodohnya aku begitu ceroboh. Entah mengapa, sekarang jika menyangkut nama Moon akan membuatku bertindak bodoh seketika.

Aku kembali turun dan menemui Moon yang sudah duduk manis di sofa tamu. Dia menatapku dan tersenyum. Aku hanya memamerkan cengiranku membalasnya.

“Kau sibuk?”, tanya Moon.

“Ah, tidak. Belum sih. Ada apa?”, aku duduk berhadapan dengan Moon.

“Temani aku jalan-jalan, ya.”, aku melongo mendengar ajakan Moon.

“Aku tak salah dengar, Moon?”

“Kalau tidak mau tidak apa-apa kok.”

“Eh, mau kok. Aku akan siap-siap sebentar. Tunggu dulu, jangan kemana-mana.”, tandasku kemudian. Aku bergegas ganti baju dan kembali turun menemui Moon. Moon berdiri menyambutku dan tersenyum.

“Kita mau kemana?”, tanyaku. Moon mendekat kearahku. Aku agak kikuk jadinya.

“Ini musim panas. Di Eurwangni ada festival. Mau kan menemaniku kesana?”, ujar Moon sambil membenarkan kancing kemeja teratasku. Aku hanya mengangguk canggung. Aku tak pernah berjarak sedekat ini dengan Moon. Mata hitam pekatnya ternyata begitu indah. Kami kemudian pergi ke tujuan menggunakan mobilku.

Sepanjang perjalanan aku sempat mencuri pandang beberapa kali ke arah Moon. Dia mengenakan summer dress orange selutut dengan kardigan putih longgar yang diikat di bagian perut. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai. Dia tampak nyaman dengan sandal tanpa hak nya.

“Apa yang kau lakukan?”, tanya Moon.

“Aku? Menyetir tentu.”

“Aku tahu. Tapi yang menjadi fokusmu seharusnya jalan di depan. Bukan aku.”, aku tertangkap basah memperhatikan Moon sedari tadi. Aku hanya tersenyum aneh karenanya.

“Ma’af ya mengajakmu begitu mendadak.”

“Tidak apa-apa, Moon. Aku senang.”

Aku malah bersyukur kau yang mengajakku keluar. Aku ingin mengajakmu kencan, tapi aku terlalu malu.‘, pikirku.

“Kau tak pernah meninggalkan senyummu itu ya?

“Ah?”

“Iya, kau hampir selalu tersenyum dalam semua hal yang kau lakukan.”

“Aku hanya merasa dengan tersenyum akan membuat hariku terasa ringan. Juga menularkan hawa positif bagi orang disekitarmu.”

“Aku bisa merasakannya.”, Moon lalu memejamkan matanya dan tersenyum. Dia menghirup udara dalam-dalam. Aku sendiri harus bersusah payah berkonsentrasi menyetir. Entahlah, melihat Moon yang sekarang membuatku agak kacau.

Aku memarkirkan mobilku di areal yang sudah disediakan. Kami sudah sampai di Eurwangni. Festival sudah dipadati ratusan pengunjung, baik domestik maupun turis luar negeri.

“Moon, apa boleh?”, aku menunjuk tangannya. Dia tampak berpikir sejenak lalu mengangguk mengijinkanku menggandeng tangannya. Aku ingat saat di Osaka dulu bagaimana ia menolak untuk disentuh. Untuk itu aku meminta ijinnya terlebih dahulu. Aku hanya tak ingin ia terpisah dariku diantara pengunjung lain.

Kami menghabiskan sesiangan menonton parade musim panas dan mengunjungi berbagai stan. Dan tidak seperti biasanya, aku bisa melihat Moon tertawa. Ya, dia tidak hanya tersenyum tapi juga tertawa memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi. Aku heran, tapi aku sangat menikmati momen ini.

 

“Apa ini tak akan menganggumu?”, tanya Moon.

“Tidak. Hari ini aku tak ada jadwal.”, jawabku sambil menggulung lengan kemeja kotak-kotakku. Moon menyusuri garis pantai di sisi yang sepi dari pengunjung. Dia menjinjing sandalnya sambil berlari-lari kecil bermain ombak.

“Moon?”

“Ya?”

“Ada apa denganmu?”

“Aku? Apanya?”

“Kau banyak berubah.”, Moon berbalik dan meneruskan jalannya.

“Tidak juga. Aku hanya belajar hal baru darimu.”

“Maksudnya?”, ada jeda sebelum Moon menjawab. Dia berjongkok. Aku memandangnya heran dan mendekatinya.

“Moon, apa yang.. Aahh!”, tiba-tiba Moon menyiramkan air laut ke arahku. Dia kemudian tertawa riang dan berlari. Aku mengejarnya untuk membalas. Aneh rasanya, tapi tawa Moon membawa atmosfer yang berbeda.

“Kemari kau, Moon!”, ancamku. Moon berbalik dan berlari sambil mundur. Moon menggodaku sambil menjulurkan lidah dan tertawa riang. Aku berhasil menangkap tangannya. Tapi Moon masih saja ingin menghindar. Akibatnya posisi kami terpelintir dan kami kehilangan keseimbangan.

“Akh!”, Moon memekik. Dia jatuh terlentang di hamparan pasir. Aku sendiri jatuh menelungkupi tubuh Moon di bawahku. Aku menahan tubuhku sendiri diantara kedua sikuku agar tak benar-benar menimpa Moon.

“Lagi-lagi aku terjatuh karenamu.”, ujar Moon sambil terengah-engah.

“Tapi kali ini aku ikut terjatuh.”, aku tertawa. Moon tersenyum. Aku terpaku pada wajah Moon yang terbingkai bulir-bulir keringat dan rambutnya yang basah.

“Apa yang kau lihat?”, Moon hendak bangun dan mendorongku, tapi aku tak bergeming. Aku malah menyibakkan anak rambut Moon yang basah ke samping telinganya. Kemudian aku mulai membelai pipinya perlahan. Moon menahan tanganku untuk berhenti. Aku melemparkan sebuah senyum terbaik yang ku miliki. Aku menahan kepalanya, menyelipkan jemariku diantara rambutnya dan mulai mendekatkan wajahku. Moon hanya menatap mataku dalam. Wajah kami benar-benar hanya berjarak satu napas pendek.

“Ya!”, sebuah deburan ombak yang cukup tinggi benar-benar membawa kami kembali ke dunia nyata. Moon sendiri terbatuk-batuk karena air yang lolos ke paru-parunya. Aku membantu menepuk-nepuk punggungnya.

“Bagaimana?”

“Aku baik-baik saja, Daesung.”, kami kemudian tertawa dan bangkit. Aku mengajak Moon menyingkir ke garis yang lebih jauh agar tak terpukul ombak lagi. Kami duduk berdampingan. Entah siapa yang memulai, kami menyandarkan kepala kami satu sama lain dan menikmati matahari senja berdua.

“Ayo pulang. Sudah gelap.”, Moon bangkit tiba-tiba dan menarik lenganku. Aku berdiri dan mengikuti Moon.

“Ma’af ya jok mobilmu jadi kotor karena ini.”, Moon menunjuk dress nya yang basah dan penuh pasir.

“Aku juga kotor.”, sanggahku. Moon kembali tersenyum. Kami kembali ke kota dalam diam. Ya, diam karena Moon meringkuk tertidur di kursinya. Wajahnya begitu lelah, tapi kebahagiaan begitu jelas terpancar di wajahnya. Aku tak tahu harus memulangkan Moon kemana, jadi mau tak mau aku menepi dan mencoba membangunkan Moon.

“Moon?”, panggilku. Dia tak menyahut.

“Hei, bangun dulu.”, aku menepuk pelan lengannya. Tapi dia tak meresponnya.

“Moon?”, aku mengguncang bahunya agak keras. Akibatnya dia merosot dari posisinya dan terkulai lemas.

“Ya Tuhan! Moon!?”, aku terkejut karena ternyata sepertinya Moon kehilangan kesadarannya. Aku memeriksa napasnya, masih teratur, tapi dia pingsan. Aku bergegas menuju ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan bagi Moon. Aku tak peduli betapa berantakannya penampilanku, keselamatan Moon lebih penting.

 

***

“Apa kata dokter, noona?”, tanyaku pada Gee Eun setelah selesai membersihkan diri. Aku sengaja mengabarinya setelah Moon mendapatkan penanganan medis. Aku juga menghubungi Hyun Gon, tapi karena Hyun Gon ada kepentingan lain, Byung Yung lah yang datang.

“Dokter belum selesai memeriksa Moon.”, jawab Gee Eun. Pintu ruang rawat kemudian terbuka.

“Apa kalian keluarga nona Park?”, tanya dokter. Aku, Gee Eun dan Byung Yung hanya berpandangan.

“Kami temannya. Moon sudah tak memiliki keluarga.”, jawabku kemudian.

“Sepertinya nona Park harus dirawat lebih lanjut. Dia kelelahan. Leukimianya membuat tubuhnya semakin lemah.”, ujar dokter.

Apa? Leukimia? Apa aku tak salah dengar?‘, tanyaku dalam hati. Aku hendak bertanya lebih lanjut, tapi Byung Yung menepuk pundakku.

“Kami mengerti dokter. Kamsahamnida.”, ujar Byung Yung kemudian. Byung Yung lalu berbicara lebih lanjut dengan dokter untuk mengetahui sejauh mana keadaan Moon di ruangan dokter. Aku memandang Gee Eun bingung.

“Leukimia?”, tanyaku.

“Jadi kau memang belum mengetahuinya, ya.”, Gee Eun kemudian mengajakku duduk di kursi tunggu terdekat.

“Moon menganggap dialah penyebab kematian orang tuanya. Moon merasa dirinya hanya membawa sial. Dia mulai menarik diri dari pergaulan. Pada usianya yang ke 16, Moon mendapat diagnosa leukimia. Dia semakin terpuruk dalam depresinya. Dia tak pernah mau dekat apalagi terbuka pada orang yang baru dikenalnya. Dia bahkan tak ingin orang lain menyentuhnya, dia takut akan menularkan segala kesialan yang ia alami.”, jelas Gee Eun.

“Itu tidak masuk akal, noona.”

“Aku tahu. Tapi begitulah mindset yang dimiliki Moon. Baru sekarang ini aku melihatnya bisa kembali tersenyum dan bahkan tertawa, setelah ia mengenalmu.”, jelas Gee Eun.

“Sudah berapa lama dia mengidap leukimia?”

“Enam tahun. Dia terus menjalani pengobatan selama ini. Dia tak ikut ke Fukuoka kemarin juga karena ia pergi berobat. Jika kau perhatikan, tubuh Moon semakin melemah akhir-akhir ini. Dia kehilangan banyak berat badannya.”, aku hanya tercenung mendengar segala penjelasan Gee Eun. Sekarang aku mengerti benar apa yang dirasakan Moon selama ini. Betapa hidup terasa tak adil bagi Moon.

 

***

Moon terbaring lemah di ranjangnya. Aku menjenguknya sendirian kali ini.

“Kau datang?”

“Ya. Aku membawakan bunga dan coklat.”, aku tersenyum menatapnya.

“Kenapa memaksakan diri untuk pergi kalau kau sakit?”, aku menggenggam tangan Moon yang terasa kecil dan dingin. Pandangan Moon begitu sendu.

“Aku tak memiliki banyak waktu. Anggap saja itu ungkapan terima kasihku.”

“Jangan bicara seperti itu.”

“Jangan mencoba menghiburku. Aku sadar kanker ini akan membunuhku. Aku tahu waktunya semakin dekat.”, Moon menyunggingkan senyum lemahnya.

“Kau harus berjuang, Moon. Kau gadis kuat.”, Moon menggeser posisi bebaringnya dan mengisyaratkanku untuk ikut naik ke ranjangnya.

“Aku akan menjalani operasi minggu depan, oppa.”, Moon menyandarkan kepalanya di bahuku. Dia memanggilku dengan sebutan “oppa” sekarang. Ada rasa bergemuruh di dalam dadaku demi mendengar panggilan itu. Aku melingkarkan tanganku, merengkuh tubuhnya yang ringkih, mengakomodasi kepalanya ke dalam labuhan dada bidangku.

“Aku tak akan bertanggung jawab jika kesialanku nantinya menular padamu.”

“Itu konyol. Tak ada kesialan yang menular.”, aku tertawa mendengar Moon.

“Aku terkadang lelah, oppa.”

“Moon..”

“Aku sudah hidup bersamanya 6 tahun, oppa. Aku sudah lelah. Aku hanya ingin bertemu kembali dengan Eomma dan Appa ku.”, pernyataan Moon seakan menohok hatiku.

“Kau tidak boleh putus asa. Aku ingin kau hadir dan ikut merayakan kesuksesan Alive Tour nanti di 2013.”

“Aku tak bisa janji, oppa.”

“Berjanjilah untukku.”, aku mengangkat dagu Moon. Wajahnya begitu pucat seperti kertas. Matanya yang cemerlang tempo hari meredup. Kutempelkan dahiku ke dahi Moon.

Oppa..

Hening. Entah apa yang menuntun kami, aku menangkup kepala Moon dan membawanya kedalam ciuman dalamku. Aku tak bisa menjelaskan apa yang kurasakan saat ini. Aku tak mengerti sensasi yang aku rasakan demi mengingat sosok Moon. Semua mengalir begitu natural seperti air dan oksigen. Aku, sekarang hanya ingin menikmatinya bersama Moon. Aku bahkan tak peduli apa yang akan terjadi esok atau sedetik kemudian setelah ini.

 

***

Seoul, Agustus 2012

Aku baru kembali dari Alive Tour bersama member dari China. Aku baru saja selesai bersiap-siap. Aku sudah mengenakan setelan rapi pagi ini.

“Ayo, hyung.”, ajak Seungri. Aku hanya mengangguk. Kami berlima akan menghadiri sebuah acara. Berlima, aku bersama member lain berangkat dalam satu mobil. Tak lama, kami mencapai tempat tujuan kami. Di sana, sudah banyak tamu berdatangan. Suasana terasa begitu mengharu biru. Kulihat Gee Eun berdiri sebagai penerima tamu. Aku membawa sebuket mawar putih dan ikut menunggu dalam barisan.

“Daesung-ah.”, sapa Gee Eun. Gee Eun menggenggam kedua tanganku erat. Matanya menyiratkan berbagai perasaan yang tak terucap. Aku hanya membalasnya dengan senyum simpul. Gee Eun kemudian membiarkanku melewatinya. Aku berjalan ke altar putih di depanku. Aku bisa melihat Moon disana. Dia begitu cantik dengan gaun putihnya. Dia mengenakan bandana jaring senada dengan gaunnya. Wajahnya begitu damai dan seputih kertas. Ada senyum tipis terpahat di bibir kecilnya. Ku beranikan diri mengusap pipinya yang dingin. Kini tak ada lagi derita yang harus ia tanggung. Moon memejamkan matanya selayak bayi tanpa dosa. Tubuhnya kini terbujur kaku dalam sangkar peti berukirkan salib. Ku letakkan mawar putih disamping lengannya.

“Kau sudah berjuang, Moon. Beristirahatlah dengan tenang.”, ingin rasanya aku meneriakkan rasa kesedihanku yang dalam. Aku hanya menggigit bibir bawahku getir. Semua kenangan yang mungkin hanya sejenak terakumulasi menjadi perasaan yang begitu menyesakkan hatiku. Buliran bening mulai terkumpul di pelupuk mata kecilku dan lolos begitu saja menuruni rahang tegasku. Membentuk parit kecil yang menjejak di sepanjang wajahku.

“Daesung-ah.”, Seung Hyun menepuk bahuku pelan. Aku tergugu dalam hening. Ingin rasanya memutar kembali waktu-waktu yang kuhabiskan bersama Moon. Aku mengusap wajahku, menghapus jejak-jejak kepedihan yang tecetak jelas.

Seung Hyun mengajakku duduk diantara para tamu yang hadir. Acara penghormatan terakhir untuk Moon begitu khidmat. Aku, tak bisa mengatakan apa-apa saat kudengar berita duka dari Gee Eun. Hatiku mencelos mendapati Moon sudah benar-benar tiada. Sepertinya baru saja bisa kudengar tawanya. Aku masih ingat betul momen dimana dia memanggilku dengan sebutan “oppa”. Lembut dan ringkih. Tapi sekarang Moon sudah benar-benar sembuh dan bahagia di sisi Tuhan.

 

“Daesung-ah. Ada sesuatu untukmu.”, Gee Eun mengangsurkan sebuah kertas padaku.

“Dari Moon.”, lanjutnya. Aku menerimanya dan membawanya pulang. Aku membuka surat Moon di sepanjang perjalanan pulang.

 

To: My Smiling Angel

Oppa.. Kalau kau menerima surat ini, itu berarti aku sudah tenang di surga sekarang. Kuharap oppa tak bersedih untukku. Aku sudah sembuh dan bahagia, Oppa. Ma’af aku tak bisa menepati janjiku, Oppa. Aku akan terus melihatmu dari tempatku sekarang.

Aku ingin berterimakasih padamu untuk hari-hari yang kau berikan untukku. Mungkin hanya sebentar, tapi Oppa membuka mataku. Karenamu aku bisa merasakan arti bahagia lagi sebelum aku benar-benar menutup mataku.

Aku tak ingin memupuk rasa berlebih padamu, Oppa. Aku sungguh menyukaimu. Tapi aku sadar waktuku tak banyak. Aku tak ingin meninggalkan luka lagi bagi orang lain. Jadi, aku tak ingin Oppa menangisiku. Aku tak ingin senyum Oppa terhapus air mata hanya karena aku. Tetaplah menjadi Smiling Angel-ku meski aku sudah tiada, Oppa. Terimakasih untuk semua yang telah kau lakukan untukku. ^^ Saranghaeyo, Oppa..

 

Moon

 

Aku melipat kembali kertas dengan tulisan tangan Moon. Aku menyandarkan kepalaku yang berat di jok mobil. Kupejamkan mataku erat, memutar kembali memoriku ke saat pertemuanku dengan Moon.

Hyung?”, Seungri yang duduk di sampingku menggamit lenganku dan menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Ada apa, Seung-ya?

“Tidak ada.”, Seungri tersenyum dan mengeratkan pelukan tangannya. Aku tahu maksud anak ini, menenangkanku dengan caranya yang terkadang kekanakan. Aku mengacak rambutnya pelan. Jiyong  menyetir dalam hening. Tak satupun dari kami berlima menciptakan perbincangan dalam perjalanan pulang. Awan mendung mulai berarak di bulan pergantian musim. Disana, di atas sana Moon akan terus melihatku. Moon, kau adalah gadis paling unik yang pernah kutemui. Kau juga akan terus menjadi malaikat dalam hatiku. Kau telah membuatku mencicipi sensasi perasaan untuk seorang gadis meski hanya sekejap. Tuhan tahu yang tarbaik. Moon yang dulu murung, sekarang akan benar-benar tertawa bahagia bersama malaikat Tuhan di atas sana. Selamat Jalan, Moon. Aku akan selalu merindukanmu.

 

-FIN-

 

A/N:

Yak! Akhirnya storyline kelima selesai dengan gaje nya =_=. Mianhae, saya agak kesulitan menggambarkan sosok Daeppa. Ide saya benar-benar mentok. Setahu saya Daeppa itu laki-laki baik, itu saja. Jadilah konflik yang agak membosankan ini. Saya sendiri sebenarnya kurang puas! Aaarrgghh!! Semoga ini ga aneh! Ma’af jika readers ga suka. Tapi utang saya akhirnya sah buat @youngdinna. Utang berikutnya Drabble Bang buat 5 member! #semangatlagi

Budayakan review, ne! Boleh berupa pujian atau kritik, tapi kalo pedes kudu bawain es krim juga ya! #abaikan. Amal buat author biar semangat nulis lagi. ^^ #maksa. Atau mo follow twitter?#promo Di @realtabina ya, nanti saya followback deh!

Akhir kata, saya ini author dan hanya manusia biasa. Jadi kekurangan jelas ada pada saya. Sempurna hanya milik Tuhan semata. Wish you a very happy reading, everyone! ^^