Dreaming

Author: Robotic Hackers

Tittle    : Dreaming

Twitter  : @robotichackers

Cast     :

-Kang Daesung

-Gong Minzy

-Park Bom

-Dong Young Bae

Genre  : Romance,Family, Sad

DISCLAIMER: Jangan Copas, Jangan di BASH , hasil pemikiran saya dan orang2 yang berpengaruh di sekitar saya^^

Sebuah lantunan merdu terdengar dari dalam ruangan audisi YG Entertainment. Seseorang tengah berada di dalam ruangan tersebut untuk memulai menggapai mimpinya. Kang Daesung, pemuda yang berasal dari Choen-an ini memilih hidup merantau ke kota terbesar di Korea Selatan. Dengan tekad yang sudah disiapkan dengan matang, ia berangkat untuk memulai mencapai mimpinya, yaitu sebagai seorang penyanyi.

Sudah sejak umur 9 tahun, ia bercita-cita sebagai penyanyi. Cita-cita yang sebenarnya sangat luar biasa untuk orang yang memang mempunyai bakat sepertinya. Ya, ia selalu berlatih dan berlatih agar bisa mewujudkan mimpinya itu. Ia bahkan harus membantah ayahnya saat ia tak diijinkan untuk merantau ke Seoul. Namun, karena kegigihannya itu, ia berhasil meyakinkan ayah dan ibunya bahwa ia pasti sukses.

Pengorbanannya untuk mengikuti audisi ini sangatlah besar. Bahkan ia rela untuk meninggalkan kekasihnya, seorang yeoja berumur 2 tahun lebih muda darinya, Gong Minzy. Untunglah ia memiliki kekasih yang bisa mendukung segala mimpinya. Ia tak perlu lagi khawatir kalau-kalau ia harus kehilangan Minzy. Karena ia yakin, gadis itu bukan tipe wanita yang suka sekali bergonta-ganti pasangan.

 

“Daesung-ssi, kau diterima di management kami untuk menjalankan training. Ingat, ini baru training. Kau belum benar-benar diterima sebagai artis kami. Kau membutuhkan waktu untuk belajar bagaimana itu menyanyi, menari, dan yang pasti kau akan diajarkan kedisiplinan. Suaramu memang bagus. Tapi kau masih perlu untuk belajar lagi,kau masih merasa dunia ini milikmu sendiri saat kau bernyanyi. Jadi mulai besok kau harus sudah tinggal di basecamp kami dan akan menjalankan training sampai kau benar-benar siap untuk debut.” Ucap seseorang yang disebut sebagai pemilik agensi ini. YangHyun Suk.

Gomawoseumnida~.” Daesung mengucapkan terima kasih dengan menundukkan badan.

 

******

 

Cuaca yang sangat panas, membuat beberapa dari mereka mengeluh. Mereka yang sedang menjalani masa training di YG Entertainment. Pria maupun wanita bergabung menjadi satu untuk menerima pembelajaran. Mereka akan belajar bagaimana seorang artis harus bersikap.

Daesung memandang pelatih di depannya dengan tatapan hampa. Ia hanya merasa rindu pada seseorang yang berada di Choen-an. Sudah selama satu bulan ini ia menjalani masa training. Dan selama itu juga ia tak bisa berkomunikasi dengan Minzy. Perusahaan melarang setiap peserta training memegang alat komunikasi. Hal inilah yang menjadi cobaan terberat Daesung saat ini. Ia hanya ingin mengetahui bagaimana keadaan orang-orang tersayangnya.

 

“Daesung-ah, apa kau sudah selesai latihan?” sapa salah seorang peserta training yang juga merupakan teman Daesung. Park Bom

“Ah, Noona. Aku sudah selesai.” Jawab Daesung datar. Kemudian Park Bom duduk di sebelah Daesung seraya memberikan sebotol minuman. “Gomawo.” Lanjut Daesung

“Sedang apa kau disini,?”

“Aku merindukan keluargaku. Aku ingin sekali menghubungi mereka. Tapi perusahaan ini sangat ketat. Dan tentu aku tak bisa membantahnya.” Daesung  menghembuskan nafas beratnya.

“Ini baru satu bulan! Kau masih membutuhkan banyak waktu untuk bisa menelepon keluargamu. Memang agensi ini terkenal dengan peraturannya yang sangat ketat. Tapi kau harus bertahan untuk bisa mencapai mimpimu.” Ucap Park Bom memberi semangat.

“Aku tahu.” Jawab Daesung pasrah.

“Sudahlah, Daesung Ayo kita berlatih lagi.” Park Bom  menarik tangan Daesung untuk mengajaknya latihan.

 

********

 

Seorang gadis bertubuh mungil tengah bingung mencari tempat berteduh. Entahlah, padahal sekarang adalah musim panas di Korea. Namun, tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya. Gadis itu segera mempercepat langkahnya untuk mencari tempat yang setidaknya bisa sedikit membuatnya tak basah.

Ia berlari menuju sebuah rumah saat dirasa ia sangat hafal siapa pemilik rumah itu. Gong Minzy– gadis itu – segera memencet bel pintu agar bisa menumpang untuk berteduh. Tak lama setelah itu, pintu pun terbuka dan menampakkan seorang wanita paruh baya tengah berdiri di hadapannya.

 

Annyeong haseyo, ahjumma.” Sapa Minzy seraya menundukkan badannya.

“Ah, Minzy-ah. Kau darimana sampai kehujanan seperti itu?” tanya orang yang dipanggil ahjumma oleh Minzy tadi.

“Tadi eomma menyuruhku untuk membeli beberapa cemilan, tapi ternyata hujan datang sebelum aku sampai di rumah. Apa aku boleh mampir disini,ahjumma? Setidaknya sampai hujan sedikit reda?” ujar Minzy

“Tentu saja boleh, Minzy-ah. Kau sudah seperti anak kami sendiri. Mari masuk. Ahjumma akan membuatkanmu teh, agar badanmu sedikit hangat.”

“Tak usah, ahjumma. Aku hanya ingin berteduh. Aku tak ingin merepotkanmu.” Minzy mencoba menolak, namun penolakan itu jelas tak diterima oleh sang pemilik rumah.

 

Setelah beberapa menit, wanita paruh baya itu kembali menemui Minzy dengan secangkir teh ditangannya.

 

Gamsahamnida, ahjumma.” Ucap Minzy.

“Semenjak Daesung berada di Seoul, kenapa kau jarang sekali main kemari? Padahal kau kan setiap minggu selalu kesini bersama Daesung.” Sahut wanita tersebut yang ternyata adalah ibu Daesung– kekasih Minzy. Ya, ia sedang berteduh di rumah kekasihnya.

Mianhamnida ahjumma. Tugas kuliahku benar-benar banyak. Apa sudah ada kabar dari Daesung oppa?” tanya Minzy.

“Belum, ia belum menelepon kami sejak satu bulan yang lalu. Ia sedang menjalani masa training dan ia sama sekali tidak diperbolehkan memegang alat komunikasi.”

“Ooh..” jawab Minzy ber-O ria. “Ku dengar agensi-agensi di Seoul memang sangat ketat peraturannya.”

“Memang seperti itu. Semoga saja Daesung bisa menggapai mimpinya itu.”

 

*****

 

Waktu yang ditempuh oleh para peserta training itu kini sudah memasuki bulan ke sepuluh dan mereka sama sekali belum diberi kesempatan untuk  menghubungi keluarganya. Kerinduan yang dirasakan para peserta itupun semakin menjadi. Tak terkecuali Daesung. Setiap hari ia hanya bisa berdiam diri saat sudah selesai latihan. Rencananya, ia akan mengawali debut sebagai penyanyi solo tiga bulan ke depan. Inilah yang membuatnya semakin kesepian. Bahkan, seluruh teman trainingnya sudah mempunyai grup masing-masing. Hanya Jong Woon-lah yang dijadikan sebagai penyanyi solo.

Ia disini hanya sendiri sebagai seorang training. Teman-temannya yang lain sudah dipindah tempat untuk menjalani masa training dengan teman satu grupnya.

Suara ketukan dari balik pintu kamar Daesung membuyarkan lamunannya. Ia segera bangkit dan membuka pintu tersebut untuk melihat siapa yang sedang mengganggu aktivitas melamunnya. Saat sudah bisa melihat siapa yang mengetuk pintu, Daesung segera mempersilahkannya masuk. Dia adalah seseorang yang nantinya akan menjadi manager Daesung

“Young Bae hyung, ada apa?” sapa Daesung

“Aku baru mendapat kabar dari perusahaan bahwa setiap peserta training dibolehkan untuk mengubungi orang yang dirindukannya. Kalian diberi waktu selama sepuluh menit untuk menelepon. Ini ponselnya. Ku tunggu kau diliar.” Ucap orang yang dipanggil Young Bae  hyung oleh Daesung

Daesung menimbang-nimbang sebaiknya ia menelepon siapa. Apakah keluaganya, atau kekasihnya, Minzy. Akhirnya, dengan mantap ia memilih untuk menghubungi keluarganya.

Yeoboseyo.” Sapa sebuah suara di seberang telepon.

Eomma.. Ini aku Daesung. Aku merindukanmu , eomma. Bagaimana kabar kalian disana?” tanya Daesung yang tak bisa menyembunyika rasa bahagianya.

Aigo Daesung-ah, eomma juga merindukanmu. Kami disini baik-baik saja. Kau harus jaga kesehatanmu ya? Eomma tak mau dengar kalau kau sampai sakit. Arraseo?”

Ne,eomma. Aku akan menjaga kesehatan. Aku hanya diberi waktu sepuluh menit untuk menelepon eomma. Bagaimana kabar Minzy? Apa dia tak pernah mengunjungi rumah?” tanya Daesung kembali.

“Kekasihmu sering mampir kemari. Hanya saja dia semakin sibuk dengan kuliahnya. Kau cepatlah pulang. Apa kau tak merindukan kami? Minzy juga merindukanmu, Daesung-ah.” Ucap ibu Daesung

“Aku belum bisa pulang, eomma. Tiga bulan lagi, aku akan debut. Doakan saja, semoga semuanya lancar. Sudah dulu ya,eomma. Waktuku sudah habis. Salam untuk Appa, Bora Noona dan Minzy.” Tutt..tutt..tutt.. sambungan pun terputus.

 

Daesung bisa bernafas lega setelah menghubungi keluarganya. Ia bisa sedikit tenang dalam menjalani hari-harinya di Seoul. Ia tak perlu mengkhawatirkan lagi keadaan Minzy Memang hanya sepuluh menit waktu itu, dan itu sudah bisa mengobati rasa rindu Daesung.

**************

Tepat pukul 12.00 am KST, Gong Minzy  menapakkan kakinya di kota Seoul. Ya, ia sedang mendapat tugas dari dosennya untuk membuat sebuah makalah tentang bagaimana kehidupan sosial orang-orang di Seoul. Untuk itu, ia memutuskan untuk mendatangi kota tersebut. Kesempatan ini juga dimanfaatkannya untuk bertemu dengan kekasihnya, Daesung.

Meskipun keinginannya itu sangat kecil, namun ia harus yakin bahwa ia akan bertemu Daesung. Setidaknya ia merasa senang karena kini ia berada di tempat yang sama dengan Daesung bernafas

Selama kurang lebih satu bulan, ia akan menyewa sebuah apartment kecil di daerah ini. Ia tak ingin menghambur-hamburkan uang dengan menginap di hotel. Karena, menurut pengetahuannya, hotel di Seoul sangat mahal.

Hari ini adalah hari keduanya berada di kota Seoul. Minzy berniat menghilangkan kepenatannya dengan berjalan-jalan di sebuah taman. Dengan mengenakan kaos berwarna putih yang disertai kemeja dengan warna yang sama, dan sebuah celana panjang yang sangat pas dikakinya, ia berjalan menyusuri tanah berlapis rumput tipis itu.

Matanya menerawang tajam ke setiap sudut taman ini. Ia menikmati pemandangan ini dengan senyum mengembangnya. Seketika matanya menyipit saat ia melihat seseorang yang sangat dikenalinya sedang berada di tempat yang sama pula. Ia kembali memfokuskan pandangannya untuk memastikan bahwa ia tak salah orang.

Minzy pun memutuskan untuk lebih dekat dengan orang tersebut. Setelah ia sudah dapat melihat orang tersebut dalam jarak pandang yang lumayan dekat, ia pun yakin bahwa dugaannya memang benar.

‘Daesung oppa, apa yang kau lakukan dengan wanita itu? Kenapa kau melakukan ini,oppa?’ batin Minzy tak karuan. Ia melihat kekasihnya tengah duduk di sebuah kursi taman dengan seorang wanita.

Ia melangkah menuju tempat dimana Daesung dan wanita itu berada. Ia berusaha sekuat tenaga agar air matanya jangan sampai menetes.

“Daesung oppa!” sapa Minzy dengan nada yang sedikit bergetar.

“Minzy-ya? Kau berada disini?” tanya Daesung tak percaya saat melihat kekasihnya berada di depannya.

“Siapa dia,oppa? Kenapa kau melakukan ini? Aku sudah lama menahan rindu ini, dan kau disini malah bersenang-senang dengan wanita ini?” Minzy tak bisa menyembunyikan air matanya lagi. “Aku kecewa padamu,oppa.” Setelah mengucapkan hal itu, Minzy segera berlari meninggalkan mereka berdua yang masih bingung dengan ucapan Minzy

“Minzy-ah, berhenti. Aku akan menjelaskannya. Kau salah paham.Minzy-ya, dengarkan aku dulu.” Minzy tak merespon teriakan Daesung. Ia terus berlari menembus beberapa orang yang berada di taman tersebut.

 

Setelah  sampai di tepi jalan, Minzy segera menyeberangi jalan saat lampu untuk kendaraan bermotor berwarna merah. Dengan tergesa-gesa ia menyeberangi jalan tersebut. Jong Woon masih mengejarnya. Namun sayang karena ia tak melihat bahwa lampu telah berubah warna. Teriakan orang-orang menggema meneriakinya, namun tak direspon oleh Jong Woon. Sampai akhirnya…

 

BRAAAAKKKKK….

 

Tubuh lelaki itu terpental cukup jauh. Kini ia tengah tergeletak dengan wajah pucat yang dihiasi oleh darah yang berasal dari kepalanya. Ia kini lemah, dan hanya bisa memanggil nama yang daritadi dikejarnya.

“Minzy-ah…”

 

*****

 

Seorang perempuan kini hanya bisa menangis terisak melihat keadaan kekasihnya melalui jendela kecil di pintu ruang ICU. Minzy menyesali perbuatannya yang telah membahayakan nyawa kekasihnya, Kang Daesung. Bersama seorang wanita—yang tadi bersama Daesung—dan seorang pria yang diketahuinya sebagai manager kekasihnya itu, ia menunggu dokter keluar dari ruangan tersebut.

Tak lama kemudian, dokter tersebut keluar dari ruangan serba putih itu.

“Bagaimana keadaan kekasih saya, Uisanim?”tanya Minzy tak sabar.

“Keadaan Tuan Daesung sangat parah. Tulang bahu kanannya retak, serta wajahnya yang banyak sekali luka. Kami akan melakukan operasi untuk memperbaiki bahu  kanannya.” Jelas dokter tersebut.

“Kira-kira berapa lama ia harus memulihkan keadaannnya?” tanya Young Bae

“Mungkin sekitar 2-3 bulan ia bisa kembali normal.”

“Lakukan yang terbaik untuknya ,Uisanim.” Pinta Young Bae

Setelah mendapat informasi dari dokter, Young Bae segera menelepon perusahaan untuk memberikan kabar  tentang  Daesung saat ini. Direktur YG Entertainment mengatakan bahwa Daesung tidak akan dikeluarkan dari agensi karena masalah itu, hanya saja kesempatan debutnya akan diundur sampai Daesung benar-benar siap menjadi artis kembali.

 

******

 

Akhirnya operasi itu berjalan dengan lancar. Daesung dipindahkan menuju ruang inap. Dengan setia, Minzy menungguinya. Ia bahkan sudah lupa apa tujuan awalnya datang ke Seoul. Ia hanya ingin memastikan bahwa keadaan kekasihnya baik-baik saja.

Minzy menggenggam tangan Daesung dengan erat. Ia ingin menyalurkan kekuatan yang ia miliki, pada Daesung. Sampai ia merasakan jemari Daesung bergerak sedikit demi sedikit. Menyadari akan hal itu, Minzy segera memanggil uisa melalui alarm pemanggil.

Tak lama kemudian uisadatang dan segera memeriksa keadaan Daesung. Dokter menyatakan bahwa Daesung sudah melewati masa kritisnya dan bahkan sekarang sudah sadar. Setelah mengucapkan terima kasih, Minzy kembali memasuki ruangan itu untuk melihat keadaan kekasihnya.

“Mnzy-ya..” ucap Daesung serak.

Wae,oppa? Aku disini.” Minzy tak bisa menyamarkan air mata bahagianya karena melihat Daesung telah sadar.

“Maafkan aku..” Daesung meminta maaf seraya mengusap air mata Minzy menggunakan tangan kirinya.

“Jangan mengatakan apapun,oppa. Aku sudah tahu semuanya. Bom Eonni yang memberitahuku. Maafkan aku,oppa..” Minzy semakin terisak.

“Tidak, aku harus menjelaskan padamu. Aku dan Bom Noona  tak ada hubungan apapun. Saat itu, perusahaan sedang berbaik hati memberi kami waktu untuk keluar. Aku tak punya teman yang bisa ku ajak, karena yang lain sudah berkumpul bersama member grup masing-masing. Sedangkan aku sendiri karena aku akan debut sebagai solois. Lalu, aku mengajak Bom Noona untuk menemaniku, karena kebetulan ia tak punya teman juga. Dan…” ucapan Daesung terputus saat Minzy menempelkan bibirnya pada bibir Daesung. Ciuman itu hanya terjadi beberapa detik karena kemudian Minzy melepaskannya.

“Cukup,oppa! Kau tak perlu menjelaskannya. Semua sudah jelas. Kau tak pernah melakukan hal itu padaku. Terima kasih karena kau sudah menepati janjimu untuk setia padaku.” Daesung hanya tersenyum mendegar kekasihnya berbicara seperti itu.

 

*******

 

Hari ini adalah hari yang sangat dinantikan oleh Kang Daesung. Mulai hari ini, ia akan menjadi seorang penyanyi yang siap menggebrak industri musik Korea. Ia tengah  berada di belakang panggung untuk menunggu gilirannya bernyanyi.

Ia merasakan seseorang menepuk pundaknya dari belakang, dan Daesung segera menoleh untuk mengetahui siapa orang itu.

 

“Minzy-ya.. Kau kenapa bisa ada disini?” Daesung  kaget melihat kekasihnya yang tiba-tiba muncul dihadapannya.

“Aku ingin melihat kekasihku ini tampil pertama kali di layar televisi. Kau sangat tampan ,oppa!” ucap Minzy memuji.

Gomawo, Minzy-ya. Sebentar lagi aku akan tampil, kau tunggu aku disini,ya?” pinta Daesung

Arraseo!” Minzy tersenyum manis.

Daesung  pun segera menaiki panggung pertamanya itu untuk membuktikan bahwa ia memang bisa menjadi penyanyi. Minzy yang melihat kekasihnya beraksi di atas panggung, hanya bisa menangis terharu. Kerja keras kekasihnya itu sangat besar, jadi ia pantas mendapatkan posisi seperti sekarang ini.

 

‘Kau berhasil,oppa!’

 

END

 

Mohon komentarny ya ^^ , Author Baru jadi ya…. Hehehe tau sendiri lah ^^