baseball in love cover

BASEBALL IN LOVE

Main cast:

  1. Kwon Jiyong
  2. Han Min Ki (OC)

Other cast:

  1. Dong Young Bae
  2. Choi Seung Hyun

Disclaimer: Jiyong, Seunghyun, and YoungBae are belongs to themselves, and this storyline is belongs to me.

Warning: AU, pasaran mungkin, some of typo(s),and semoga tidak OOC..^^.

Genre: Fluff, Romance, and teenage.

Word: 3194words.

 

Youngdinna Presents

“Baseball in Love”

Hanya Kwon Jiyong yang mampu membuat seorang Han Min Ki

menahan nafas setiap pemuda itu melempar bola baseball-nya..

April 2013

Pagi ini langit kota Seoul nampak lebih terang dari biasanya. Setidaknya tidak ada lagi awan mendung yang menggantung di atas sana, terganti oleh awan putih yang bergumul di langit biru yang cerah. Han Min Ki, gadis yang masih duduk di bangku SMU kelas dua itu nampak sibuk memulai aktivitas rutinnya. Pagi ini, seperti biasanya ia akan berangkat sekolah menaiki bus dan melewati lapangan baseball yang biasa di pakai para remaja kompleks-nya untuk bermain.

Min Ki menyukai saat ia akan berangkat sekolah seperti sekarang. Bukan karena ia menyukai pelajaran di hari Senin pagi ini, tetapi karena ia tahu hari ini pemuda itu pasti akan berlatih di lapangan baseball yang akan ia lewati, dan itu artinya ia bisamelihatnya. Pemuda ramping bernama Kwon Jiyong. Pemuda yang teramat ia kagumi.

Min Ki bukanlah seorang penggemar Kwon Jiyong, setidaknya ego-nya membuat Min Ki menolak status ‘penggemar’ melekat pada dirinya. Min Ki berbeda dengan gadis di kompleks-nya, ia tak pernah sekalipun berteriak genit dan mendekati Jiyong. Ia terlalu malu untuk melakukan itu semua, dan merasa perbuatan itu bukanlah hal yang pantas di lakukan seorang gadis baik-baik.

Eomma, aku berangkat..”, seru Min Ki. Eomma-nya nampak menengok sekilas dan tersenyum lebar ke arah putri bungsunya. Gadis itu mempercepat langkahnya, sesekali ia melirik arloji hitam yang melingkar di tangan kirinya. Ah, ia harus segera sebelum bus-nya pergi.

Min Ki sedikit memperlambat lajunya saat ia melewati lapangan baseball. Perlahan, pipinya merona saat melihat sosok Jiyong yang nampak berlatih sendirian di lapangan itu.Ia nampak mempesona dengan keringat mengalir di pelipisnya dan rambut setengah basah yang menempel di dahinya.

Aigoo..aku harus cepat!”, Min Ki segera tersadar ketika ia melihat lagi arlojinya. Terlambat di hari Senin adalah hal terakhir yang ia inginkan.

@@@@@@

Min Ki menyenderkankepalanya di jendelabus, hari ini ia lelah sekali. Ia bersyukur tadi pagi ia tidak terlambat masuk gerbang sekolah. Meskipun, ia sempat di tegur oleh guru BP-nya karena ia berlarian di koridor, dan menimbulkan sedikit kebisingan. Min Ki menghela nafas, menimbulkan kaca bus di sampingnya menjadi sedikit berembun. Min Ki mengernyit saat merasakan ponselnya bergetar.

‘Kau mau mampir untuk membelikan beberapa minuman ringan? Tolong antarkan minumannya nanti ke lapangan baseball ya.. Gomawo..Min-ah^^’.

Seunghyun-oppa.

Min Ki mendengus malas, hari ini ia sangat capek dan lapar, kenapa sepupunya ini harus menyuruhnya di saat yang tidak tepat?.Min Ki segera melompat turun begitu bus berhenti di halte. Sebelum ia memasuki gang rumahnya, ia sempatkan untuk membeli pesanan sepupunya.

‘Berapa yang harus kubeli, ya?’, gumam Min Ki dalam hati. Akhirnya, ia memutuskan untuk membeli 15 kaleng minuman soda. Mungkin saja mereka butuh banyak, pikirnya. Jarak antara mini market dan lapangan baseball tak begitu jauh, ia hanya perlu berjalan beberapa meter untuk mencapai lapangan tersebut.

“Ah, Min-ah!”, Min Ki segera tersenyum demi mendengar panggilan sepupunya, Seunghyun. Seunghyun adalah pemuda yang tinggi dan tampan.Ia bekerja sebagai pelatih baseball di kompleks rumah ini.

“Ini, aku sudah bawa pesananmu..tapi, kau harus membayar ganti uangnya.”, tagih Min Ki. Seunghyun tersenyum kecil.Ia mengacak pelan rambut Min Ki. Bagi Min Ki, memiliki sepupu seperti Seunghyun sedikit membuatnya senang. Senang karena ia bisa mendekati Jiyong tanpa menimbulkan kecurigaan yang berarti. Min Ki menghempaskan dirinya di bangku penonton, menonton aktivitas para pemain dari jauh sambil menegukminuman kalengnya.

“Boleh minta sedikit?”, Min Ki hampir menyemburkan minumannya kala Jiyong mendekat dan melempar senyum ke arahnya. Ia balas tersenyum, meski hatinya berdebar tak nyaman. Gadis itu mengangsurkan kaleng minuman lain yang masih utuh.

“Ah, segarnya!Kau..HanMinKi,adik perempuan pelatih?”, tanya Jiyong ikut menghempaskan diri di samping Min Ki.

‘Oh, Tuhan!Ia duduk di sampingku!’, pikir Min Ki panik. Bingung apa yang harus ia lakukan, Min Ki hanya mengangguk kaku. Setelah itu, baik Jiyong maupun Min Ki tak ada yang memulai percakapan. Mereka sibuk melihat anggota lain berlatih. Min Ki bisa melihat Dong Young Bae, penangkap dan pelempar bola terbaik itu masih berlatih dengan anggota lain. Min Ki mengenal Young Bae, bisa di bilang mereka adalah teman baik.

Min Ki selalu menyukai saat-saat Young Bae memberinya nasihat.Min Ki juga selalu menceritakan semuanya pada Young Bae, entah itu masalahnya ataupun rahasia terbesarnya.Termasuk, rahasianya yang menyukai Jiyong.

“Young Bae memang hebat!”, komen Jiyong tiba-tiba. Min Ki menoleh, Jiyong tersenyum, pandangannya masih di depan.

“Setidaknya itu yang selalu mereka katakan, Jiyong ‘si pelempar payah’, dan Young Bae ‘si penyelamat’. Tidakkkah kau juga berpikir begitu?”, tanya Jiyong menoleh ke Min Ki. Gadis itu bisa melihat sorot kesedihan di mata Jiyong.

Min Ki tahu, ia sangat tahu kalau Jiyong bukanlah pemain terbaik di antara semua anggotabaseball. Bisa di bilang Jiyong-lah yang paling buruk.Namun, Min Ki tak pernah berpikir kalau Jiyong itu buruk. Memang, pemuda ramping itu buruk dalam hal stamina, namun ia selalu bisa bekerja sama dengan Young Bae. Setiap pertandingan, tak jarang Young Bae memberi kode penyemangat agar Jiyong mampu melempar bola tipuan untuk lawan, dan itu selalu berhasil.

“Tidak juga.”, ucapan Min Ki lantas membuat Jiyong menaikkan alisnya heran. “Menurutku, Young Bae bisa bermain bagus karena dukungan dari pemain lain yang mau bekerja sama, termasuk kau..”, ucapan Min Ki membuat Jiyong melebarkan senyumnya. Tak pelak Min Ki pun ikut tersenyum.

“Menurutmu begitu?”, Min Ki mengangguk demi mendengar pertanyaan Jiyong. Jiyong lalu tertawa kecil, setelah itu ia melompat berdiri, sebelum ia pergi ia menolehkan kepalanya lagi ke arah Min Kidan tersenyum cerah. Min Ki terhenyak.

Gomawo, Minnie-ah..kau tak hanya menghilangkan hausku, tapi kau membuatku kembali bersemangat!”, dan saat itu Min Ki hampir lupa cara ia bernafas dengan benar.

@@@@@

Ini merupakan perkembangan yang baik, setidaknya itu yang ada dalam pikiran Min Ki, gadis sederhana yang pemalu. Tak pernah terlintas dalam otaknya kalau ia akan mengobrol dan menyemangati Jiyong seperti yang ia lakukan dua hari yang lalu. Seperti saat ini.Min Ki melebarkan senyumnya saat Jiyong datang menghampirinya dan duduk di sampingnya sehabis latihan.

“Ini. Kau pasti haus.”, ucap Min Ki sambil menyodorkan air mineral. Jiyong menyambutnya dengan senang.

Inilah yang Min Ki sebut ‘perkembangan yang baik’. Bermula dari ia yang hanya berani menatap Jiyong dari jauh, mengobrol dan menyapa meski masih malu-malu. Namun, sekarang ia bisa mengobrol ringan dengan pemuda yang ia kagumi ini. Seiring dengan berjalannya waktu, Min Ki juga merasa ia semakin dekat dan akrab dengan Jiyong.

Ia tak mempermasalahkannya, ia justru senang kalau Jiyong nyaman berada di sekitarnya. Masalahnya sekarang adalah perasaannya makin tak menentu.Min Ki paham betul dan sangat yakin kalau Jiyong hanya menganggapnya teman mengobrol yang enak, bukan lebih.

“Jangan terlalu cepat menyimpulkan Min-ah..bisa saja, kan?Ia punya rasa yang sama denganmu.”, ucap Young Bae kala pemuda berperawakan sedang itu selesai berlatih sendirian.Hari ini hari minggu, dan latihan di liburkan. Namun, karena kegundahan hati Min Ki akhirnya ia mendatangi Young Bae yang ternyata sedang berlatih sendirian. Min Ki menghela nafas.

“Entahlah, aku hanya merasa tidak yakin..aku tidak mungkin menyatakannya duluan.”, ucap Min Ki. Young Bae terkekeh pelan.

“Seleramu memang unik Min-ah..”, ucap Young Bae. Mereka berdua berjalan beriringan keluar lapangan.Cuaca hari ini agak terik, dan Min Ki menyesali dirinya yang tak memakai topi.

PUK..

“Ini kebesaran, Bae-ya..”, keluh Min Ki saat Young Bae memakaikan topi baseball-nya. Namun, pada akhirnya mereka tertawa bersama.Mereka tak menyadari kalau ada seseorang yang menatap mereka dengan mata penuh kekecewaan.Sosok itu menghela nafas sambil mengacak rambutnya.

“Heh, sama saja..”, gumam Jiyong sambil mendengus sinis. Ya, sosok yang sedaritadi memperhatikan Min Ki dan Young Bae adalah dia. Matanya terus menatap kepergian Min Ki dan Young Bae dengan pandangan penuh kekecewaan.

@@@@@

“Out!”, seru Seunghyun. Ia lalu menggaruk pelan pelipisnya, sedikit frustasi. “Konsentrasi Jiyong, kau harus fokus. Young Bae bersiaplah lagi.”, ucapnya lagi. Young Bae mengangguk, Jiyong kembali mengulang lemparannya, ia segera mengambil ancang-ancang untuk melempar.

Lagi-lagi bolanya keluar lapangan, dan hal itu membuat Seunghyun menghela nafas.Ia tidak mengerti, padahal kemarin ia melihat peningkatan dari Jiyong. Kenapa tiba-tiba fokusnya menurun?, pikir Seunghyun bingung.

“Stop!Kita hentikan latihannya, Jiyong..kau belum boleh pulang sampai fokusmu kembali, mengerti?”, ucap Seunghyun. Jiyong hanya mendengus, ia berjalan malas menuju tepi lapangan.

“Young Bae, kau bisa membantuku?”, tanya Seunghyun begitu pemuda berperawakan sedang itu mendekat. Young Bae menatap bingung, namun ia tetap mengangguk.

“Tentu..apa yang bisa kubantu, pelatih?”,tanya Young Bae.

“Kau berteman dekat dengan Jiyong, kan?Tanyakan apa yang terjadi padanya, mungkin kau juga bisa memberinya semangat. Kulihat, akhir-akhir ini semangatnya turun.”, jelas Seunghyun.

“Akan kuusahakan.”, ucap Young Bae sambil tersenyum meyakinkan.Seunghyun menepuk pelan bahu Young Bae sebelum pemuda itu pergi menuju ruang manager.

Sebenarnya perubahan Jiyong juga membuat Young Bae heran.Ia senang karena pada akhirnya Jiyong bermain untuk pertandingan yang akan di adakan lusa besok, ia juga tahu kalau Jiyong sudah lama mengharapkan hari di mana ia bisa keluar dari kursi cadangan. Namun, lagi-lagi ia di buat heran oleh teman kurusnya itu yang tiba-tiba kehilangan semangat.

“Jiyongie?”, panggil Young Bae begitu pemuda itu mendekat ke pinggir lapangan. Jiyong mengacuhkannya, ia lebih memilih meminum air soda dengan cepat, membuatnya tersedak.

“Hei, pelan-pel-“.

“Singkirkan tanganmu!”, ucap Jiyong sambil menepis tangan Young Bae kasar. Young Baemengerjap bingung.

“Kau ada masalah?”, tanya Young Bae, ia lalu duduk di samping Jiyong.

“Bukan urusanmu!”, ucap Jiyong ketus. Young Bae menaikkan alisnya heran, ia lalu menghela nafas.

“Baiklah, maaf aku mengurusi urusanmu..tapi, kau tahu?Pelatihmengkhawatirkanmu”, ucap Young Bae.“Ia khawatir karena akhir-akhir ini kau seperti kehilangan semangat.”, tambahnya.Jiyong mendengus kesal.

“Kurasa ia tak perlu khawatir, ia punya kau.Pemain terbaik di sini.”, komen Jiyong dingin.

“Hei, kenapa kau jadi sewot begitu?Bukankah kau menantikan hari ini?”, ucap Young Bae.

“Akh, sudahlah aku malas berdebat denganmu!Sana pergi, jangan memperumit masalahku!”, ucap Jiyong.

“Makanya aku tanya kau ada masalah apa?Aku mungkin bisa membantumu.”, ucap Young Bae mulai gemas.Jiyong mendesah keras.

“Kau!”, ucap Jiyong tiba-tiba.

“Apa?Apa maksudmu?”, tanya Young Bae tak mengerti. Jiyong mengacak rambutnya gemas.Kenapa belum mengerti juga?, pikir Jiyong kesal.

“Kau itu masalahnya!Aku kesal melihatmu, paham?”, ucap Jiyong. “Aku..aku kesal melihatmu, melihatmu bersama adik pelatih..”, ucap Jiyong lagi, kali ini dengan suara pelan. Young Bae mengerjap pelan, berusaha mencerna kalimat Jiyong tadi. Baru setelahnya ia mendengus menahan tawa.

“Hei, ini tidak lucu, Bae!”, keluh Jiyong, mukanya memerah. Young Bae terkekeh pelan, ia lalu berdeham. Berusaha mereda tawanya.

“Kau cemburu padaku?”, tanya Young Bae.

“J-jangan besar kepala, ya!.Aku tidak cemburu!”, ucap Jiyong, agak tergagap. “Aku..-“.

“Kami tak punya hubungan apapun, percayalah padaku.”, potong Young Bae cepat.Ia lalu tersenyum sambil menepuk bahu Jiyong.

“I-itu bukan urusanku, sudahlah, aku mau latihan!”, ucap Jiyong menghindar. Pemuda kurus itu pergi menuju lapangan, meninggalkan Young Bae yang masih tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

Jiyong kembali meraih glove baseball-nya dan memakainya. Perlahan, ia tersenyum kecil mengingat percakapannya dengan Young Bae tadi.

“Kami tak punya hubungan apapun, percayalah padaku.”,Jiyong kembali mengukir senyumannya sambil bersiap melempar bolanya. Namun, lagi-lagi bola itu keluar lapangan.Ia mendesah pelan, namun ia tetap tersenyum.

Han Min Ki, mungkin gadis itu yang selama ini membuat fokusnya menurun. Jiyong senang setiap Min Ki datang dan melempar senyum malunya ke arahnya, memberinya semangat kala Jiyong akan menyerah, mengobati rasa lelahnya tiap kali ia kelelahan, entah dengan memberinya minuman atau memberikannya senyuman.

“Jiyong-ssi?”, panggilan lembut itu sontak membuat Jiyong menoleh. Jiyong memperlebar senyumnya saat mengetahui kalau pemilik suara itu Min Ki.

“Latihan sendirian?”, tanya Min Ki. Jiyong mengangguk, ia lalu menyodorkan pemukul ke arah Min Ki.

“Mau menjadi partner-ku sebentar?”, tanyanya. Min Ki mengerjapkan matanya pelan.Ia lalu mengangguk pelan, membuat Jiyong makin melebarkan senyumnya.

“Tapi, aku tak yakin bisa memukulnya sampai jauh.”, ucap Min Ki.

“Tidak apa-apa.Cukup pukul saja pelan-pelan.”, ucap Jiyong.Mereka berdua lalu bersiap di posisi masing-masing.Jiyong membuang nafasnya sebelum melemparkan bolanya.

DUAK..

Aigoo!Minnie-ah!”, Jiyong segera berlari mendekati Min Ki yang memegangi kepalanya. Tadinya, ia berharap fokusnya kembali begitu ia dekat dengan Min Ki. Namun, sepertinya ia salah mengira, bola itu memang tidak keluar lapangan lagi, tapi bola itu sukses mengenai kepala gadis itu.

Mianhae..aku, apa itu sakit?Sungguh, aku tidak bermaksud. Dasar bola sialan!”, umpat Jiyong sambil memegangi kepala Min Ki. Min Ki tersenyum, meski kepalanya sakit.

Gwenchanayo..ini bukan salahmu, kok.”, ucap Min Ki. Jiyong menatap cemas, ada sedikit bekas lebam merah di pelipis Min Ki.

“Tunggu di sini.”, ucap Jiyong, sebelum pergi menuju pinggir lapangan. Min Ki menatap kepergian Jiyong dengan heran.Pemuda itu kembali dengan membawa handuk kecil basah.

“Akh!Sakit”, seru Min Ki saat Jiyong menempelkan handuk basah di pelipisnya.Ia hendak menghindar, tapi Jiyong menahannya.

“Tahan dulu..kalau tidak di kompres, nanti bengkak.”, ucap Jiyong sambil mengeluarkan ekspresi berlebihan. Min Ki tersentak.

“Apa bengkaknya besar?”, tanya Min Ki cemas. Jiyong berusaha mati-matian untuk tidak tertawa.Ia mengangguk pasti.

“Iya, bengkaknya bisa sebesar buah apel, kau tahu?”, ucap Jiyong lagi. Min Ki menatap ngeri, ia lalu menekan pelipisnya lebih keras dengan handuk, membuat Jiyong tertawa.

“Kenapa tertawa?”, tanya Min Ki heran. Ia menatap curiga ke arah Jiyong.

“Kau..kau bohong!”, seru Min Ki saat Jiyong makin tertawa keras. Gadis itu lalu mengerucutkan bibirnya.

“Hei, jangan marah..”, ucap Jiyong setelah tawanya reda. Min Ki melengos, ia sedikit ngambek. Jiyong tersenyum, melihat Min Ki ngambek menurutnya adalah pemandangan yang manis dan sangatlangka.

“Hei, mianhae..aku tidak bermaksud menertawakanmu.”, ucap Jiyong lagi sambil menggenggam tangan Min Ki. Min Ki menoleh, mendapati pemuda kurus itu sedang menatapnya penuh harap.Min ki lalu mengukir senyumnya, membuat Jiyong tersenyum lega.

“Besok, kau harus menontonku.”, ucap Jiyong, sambil memainkan jari-jari tangan Min Ki.Min tersenyum kecil.

“Pertandinganmu hari minggu, tentu aku bisa menontonnya.”, ucap Min Ki. Jiyong menatap intens, ia lalu menggenggam tangan Min Ki. Membuat hati Min Ki berdesir tak nyaman.

“Kau harus datang, okay?”, ucap Jiyong lagi. Min Ki bersusah payah tersenyum, meski hatinya belum berhenti berdebar keras.

Ne..”, ucap Min Ki.

@@@@@

05 Mei 2013

Hari ini mungkin adalah hari yang paling membuat perasaan Min Ki campur aduk. Gadis itu menepati janjinya kepada Jiyong, ia menonton jalannya pertandingan baseball dari awal sampai detik terakhir.

Semua penonton (apalagi pendukung tim kompleks rumah Min Ki) tegang saat angka tim lawan menyamai tim kesayangan mereka. Detik-detik itu akhirnya terlewat saat Jiyong berhasil mengecoh pemukul dari tim lawan, berganti dengan sorak kemenangan yang penuh sukacita. Min Ki tersenyum senang saat teman-teman Jiyong mengerubungi pemuda itu dan menggendongnya tinggi-tinggi.

‘Kau hebat..Jiyong-ssi.Kau lebih hebat dari siapapun.’, gumam Min Ki dalam hati. Min Ki hendak mendekat namun ia mengurungkan niatnya saat beberapa gadis mulai mengerubungi Jiyong. Min Ki juga ingin mendekatinya, memberinya ucapanselamat.Namun, gadis itu sepenuhnya sadar, ini bukanlah tempatnya.

Min Ki menghela nafas kecewa. Memangnya apa yang di harapkannya?Ia bukan siapa-siapa bagi Jiyong, kan?.Mungkin bagi pemuda seperti Jiyong, sosok Min Ki hanyalah selingan dalam hidupnya, itu saja.

“Minnie-ah!”, langkah Min Ki terhenti saat panggilan itu terdengar. Panggilan yang menurut Min Ki, paling berbeda di antara panggilan-panggilan orang lain padanya.Min Ki menoleh, mendapati Jiyong tersenyummenghampirinya.

“Kau datang?”, Min Ki tersenyum sambil mengangguk. Ia bingung saat Jiyong menariknya ke tengah lapangan, membuat orang-orang melempar pandangan heran ke arah mereka. Bahkan, beberapa gadis melempar pandangan seakan-akan mengatakan ‘Menjauh dari Jiyong, gadis tengik!’.Min Ki sedikit bergidik.

“Jiyong-ssi.. Apa yang kau lakukan?”, Min Ki bertanya dalam bisikan. Jiyong hanya melebarkan cengirannya.Namun, lagi-lagi Min Ki di buat terkejut saat tiba-tiba Jiyong berjongkok dan melilitkan rumput ke jari manisnya.Membentuksebuahcincin.

“J-Jiyong-“.

“Maukah kau jadi yeojachingu-ku?”, tanya Jiyong lantang. Membuat Min Ki dan sebagian besar orang di sana terperangah kaget. Min Ki menatap Jiyong yang masih melempar senyumannya, senyuman lembut yang jarang sekali Jiyong tampakkankepadaoranglain.

Ini bukan mimpi, kan?Selama ini, tak pernah terlintas dalam otak Min Ki kalau ia akan (beranikah ia menyebutnya?), mendapatkan cinta Jiyong. Min Ki menatap ke dalam mata Jiyong, berusaha mencari kebohongan di dalam sana.

“Kau..bersungguh-sungguh?”, tanya Min Ki lirih. Jiyong menggaruk rambutnya kikuk, membuat Min Ki menahan senyum geli.

“Maaf, karena aku belum membelikan cincin..jadi karena ini darurat, aku membuatnya dari rumput lapangan.”, ucap Jiyong memamerkan senyum malu. Min Ki tersenyum kecil.

“Sudahlah, Min-ah..terima saja!”, Min Ki menoleh saat beberapa pemain lain ikut-ikutan memberinya stimulus untuk menerima Jiyong. Min Ki menatap Jiyong yang kini menatapnya cemas, ia lalu tersenyum lembut.

Ne, tentu aku mau..”, ucap Min Ki. Ucapan singkat yang sukses membuat orang-orang di sekitar mereka bersorak girang, ikut larut dalam sukacita(minusparagadis).Min Ki terkejut saat tiba-tiba Jiyong menariknya dalam pelukan hangatnya.MembuatMinKibisamenciumaromamaskulinyangbegituiadambakan.

Gomawo..saranghanda, Minnie-ah.”, bisikan Jiyong lantas membuat Min Ki tersenyum. Ia balas memeluk pemuda kurus itu hangat.

Nadosaranghae..oppa.”, ucap Min Ki.

Like a baseball glove, you always clutching my heart..

Like a baseball bet, you always hit my heart..

Like a baseball ball, you make my heart bounce and bounce..

*FIN

Aigooo…!!!!T.T. Maaf ne, kalo jadinya jeleeeek bgts..ide saya mentok dan ini sangaat buruk. Mianhaeyo, Ji-oppa..#nangis pundung. Halo, ni ff keempat saya, dengan tokoh uri leader kesayangan kita, Kwon Jiyong.. Akh, entahlah akhir-akhir ini ide saya agak mampet, kayak wc tetangga…#plak-abaikan..hehe, tapi semoga ff ini tidak mengecewakan chingudeul sekalian… Oke, kali ini temanya juga gak seberat ff ketiga ya..#sengaja, biar kalian gak bosen.. dan disini Jiyong ceritanya berumur 20-an gitu..(jd dia bukan pedhopil)..hehe.Okeh deh, akhir kata tinggalkan jejak kalian ya..boleh komentar, kritik, pujian kalo ada..

Kansahamnida@youngdinna (Mau follow twitter juga silahkan^^, di @youngdinna).