long journey 2

Title       : Long Journey

Author  : Sholasido

Cast       :   Sohee (Wonder Girls) as Ahn Sohee

                    G-Dragon (Big Bang) as Kwon Jiyong

Genre/ length   : Romance / Two Shoot

Disclaimer           : Sebatas nyewa nama, seluruh karakter dan ide cerita murni fiksi bikinan sendiri

A/N                        : Yup setingkat lebih maju, setelah sebelumnya hanya mampu bikin drabble, ficlet, n paling banter vignette sekarang akhirnya bisa bikin two shoot. Mungkin ada beberapa keluputan dari penulis tapi tetep, semoga ga ngecewain n jangan lupa, kritik n sarannya, kamsahamnida J

Twitter                 : @sholakhiyya

 

Musim Dingin 2009

Lagi-lagi aku menunggunya, lima, sepuluh, dua puluh menit berlalu tapi tak juga tampak tanda-tanda kehadirannya. Badanku sudah membeku di tengah hawa dingin sore ini, mantel tebal yang kukenakan tak juga mampu mengurangi dinginnya musim ini.

Baiklah, dua menit lagi, kalau kau tak juga muncul, aku pergi.

Aku mengetatkan pelukanku ketika kulihat akhirnya sedan hitam itu melintas menembus tebalnya salju jalanan dan berhenti tidak jauh dari tempatku duduk. Seorang lelaki kurus dengan perawakan kecil turun dari mobil tersebut. Seolah tak mempedulikan dinginnya musim ini, ia hanya mengenakan jaket tipis, sepatu boot semata kaki, dan… aksesoris, sungguh fashionista sejati, ya dialah Kwon Jiyong, teman satu kampusku, satu-satunya yang menyematkan title sahabat kepada gadis dingin sepertiku.

“Aku tidak akan mau lagi bertemu denganmu kalau kau selalu tidak tepat waktu,” kataku ketus tanpa melepaskan pelukanku.

“Ah mianhae Sohee-yah, sebagai balasannya aku akan menraktirmu makan malam bagaimana?”

Aku mengiyakan bukan karena tidak punya uang sehingga mengharapkan makanan gratis darinya, tapi tubuhku benar-benar sudah membeku dan aku belum mau mati kedinginan. Untuk saat ini, mobilnya adalah tempat terhangat, setidaknya mesin penghangat disana selalu tersetel sempurna.

“Jadi ini yang kau bilang mau menraktir?” kataku saat akhirnya mobilnya berlabuh di sebuah kedai ramen kecil di tepi jalan

“Bukankah kau paling tidak suka kalau aku membawamu ke restoran mewah?”

Aku tidak benar-benar kecewa, karena mie ramen memang paling enak di tengah salju sedingin ini. Aku segera turun dari mobil, memasuki kedai kecil itu dan mulai memesan makanan.

“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?” tanyaku sembari menunggu pesanan mie keduaku yang sedang dibuat. Aku ingin menghukum Jiyong dengan makan sebanyak-banyaknya, meskipun beberapa mangkuk mie pasti tidak akan berpengaruh terhadap neraca keuangannya.

“Hehe akhirnya kau mau bicara juga,” katanya sambil tersenyum senang

“Sohee-yah… sepertinya aku sedang jatuh cinta,” untung saja aku tidak sedang mengunyah sesuatu, kalau iya seketika itu juga pasti sudah kusemburkan ke mukanya.

“Siapa gadis malang itu?” tanyaku setelah akhirnya bisa mengendalikan diri kembali

“Go Ahra, kau pasti mengenalnya, dia juniormu di klub radio,” cukup lama aku mengingatnya, aku tidak begitu populer, juga tidak mengenal banyak orang meskipun hanya di lingkup kecil seperti klub radio kampus yang hanya memiliki tidak lebih dari tiga puluh anggota.

“Oooo,”

“Yah, setidaknya berilah komentar sesuatu,”

“Sudah menyatakannya?” tanyaku basa-basi, sejujurnya aku tidak suka mendengar cerita cinta orang lain, meskipun dari sahabatku sendiri.

Jiyong menggeleng, namun raut percaya diri itu terpancar jelas dari senyum cerahnya. “tapi aku yakin, dia juga merasakan hal yang sama denganku,”

“Oh ya?” dengusku

“Aku melihatnya, kalimat itu tertulis jelas sekali di bukunya, I Love You KJY,” aku tertegun mendengarnya

“Kau yakin?” tanyaku setelah sekin lama terdiam

“Tentu saja, KJY, Kwon Jiyong, waktu itu aku tak sengaja menabraknya dan menjatuhkan buku-bukunya, waktu kubantu memungutinya, saat itulah aku melihatnya, meskipun ditulis tipis, tapi aku sangat yakin dengan penglihatanku,” jawabnya bersemangat.

“Yah baguslah, apa lagi yang kau tunggu…” beruntung saat itu pesanan mie keduaku datang, kalau tidak aku pasti tidak bisa berdalih atas berairnya kedua mataku. Kepulan asap dari mie ramen dan bubuk cabe yang kutaburkan banyak-banyak di atasnya membuatku bebas terisak, bahkan getaran lemah di suaraku tidak menimbulkan kecurigaan darinya.

Aku menyeruput mie ramen keras-keras dan berpura-pura menikmatinya, berharap Jiyong akan menangkap sinyal yang kuberikan dan akhirnya mengalihkan pembicaraan karena kuanggap cukup membosankan, tapi tidak, sepanjang panas dan pedasnya mie ramen di hadapanku, sepanjang itu pula cerita Jiyong memanaskan hatiku.

“Kau dekat dengan Ahra kan Sohee-yah?”

“Anii, dia di tingkat pertama, paling sebatas mengenal namanya,” jawabku jujur

“Kalau begitu mulai sekarang kau harus mendekati, membantu, dan menjaganya,” aku meletakkan sumpitku, dan memandangnya lekat

Tak cukupkah dia mendapatkan perhatian darimu-

“Saat aku mengikuti wajib militer,” Kejutan apa lagi ini? Aku menunduk memandang mie ramen di hadapanku, saat ini aku benar-benar berharap sedang mengunyah sesuatu, agar bisa beralasan ketika menyembur muka memuakkannya.

“Jangan bilang kau-“

“Kau masih muda, kaya, apa tujuanmu mengikuti wamil secepat ini?” bukan senyum itu reaksi yang kuharapkan.

“Kau memang pintar Sohee-yah, itulah sebabnya aku selalu senang bersamamu selama tiga tahun ini. Seperti katamu, aku memiliki tujuan, tapi untuk saat ini aku belum bisa mengatakannya. Jadi…. Kau bisa membantuku menjaga Ahra kan?”

“Dua tahun bukan waktu yang singkat, aku tidak bertanggung jawab jika Ahra diambil orang,” jawabku ketus.

“Tenang saja Sohee-yah, aku percaya pada perasaan dan pilihanku, dua tahun ini akan kuanggap sebagai ujian untuk kami berdua, jadi kumohon selama dua tahun ini kau bisa membantu dan menjaganya”

Aku menatapnya nanar, tidak bisakah hanya aku dan bukan karena Ahra atau yang lainnya yang ada dipikirannya, tidak masalah dengan title sahabat itu, asalkan hanya aku, dan kenapa aku harus menjaga orang yang dicintainya?

Kau benar-benar mau menghukumku Jiyong-ah?

Baiklah, hanya ini satu-satunya cara untuk melindungi hatiku.

“Aku hanya temanmu Jiyong-ah, harapan besar apa yang bisa kau tumpukan pada ikatan semacam ini? Kau bukanlah siapa-siapaku saat aku bersama dengan temanku yang lain, jadi kumohon jangan membebaniku dengan hal semacam itu. Kalau kau ingin wamil, silahkan pergi, itu berarti mungkin ini pertemuan terakhir kita, karena aku berencana lulus tahun depan,”

Yah, kau tentunya tidak lupa Jiyong-ah siapa Ahn Sohee yang duduk di depanmu ini. Bukan tanpa alasan tidak ada satupun teman wanita yang ingin menjalin persahabatan denganku. Jika memang diperlukan, aku bisa berubah menjadi sedingin salju di malam ini, bagaimanapun juga hatiku lebih penting untuk kulindungi.

Seperti yang kuduga, reaksinya tidak berbeda dengan semua orang yang pernah kuhadapi, tampak terpukul dan diam seribu bahasa.

“Kalau tidak ada lagi yang mau dibicarakan, sebaiknya aku pulang. Terima kasih atas makanan gratisnya, kuanggap sebagai hadiah perpisahan,” tidak harus menjadi seorang aktor hebat untuk bisa berakting tersenyum, karena aku telah sukses melakukannya, “Ah tidak perlu mengantarku, aku ada janji dengan Song Ji Eun,” setidaknya aku bisa menangis sepuasnya di bis dalam perjalanan pulang ke apartemenku.

JJJ

Musim Semi 2010

 

“Eonnie Camkkanman,” aku menoleh dan menemukan gadis itu berlari-lari kecil menyongsongku

“Wae?” tanyaku singkat, dengan peluh yang membasahi seluruh keningnya, Go Ahra masih terlihat cantik, itu menurut pandangan orang-orang normal tidak untukku yang dirundung cemburu.

“Boleh aku meminjam lagi rekap program radio punya Eonnie?” hanya sekretaris yang mencatat rekap program radio, dan meskipun aku bukan sekretaris, untuk mengisi waktu luangku, dengan senang hati aku mencatat rekap tersebut sebagai catatan pribadiku sendiri.

“Kenapa kau tidak meminjam saja punya klub, ini catatan pribadiku, dari awal seharusnya tidak kupinjamkan padamu,” sebelumnya Ahra memang pernah meminjam catatanku

“Ah nee… tapi punya klub tidak serapi punya Eonnie, aku tidak begitu memahaminya,” jawabnya malu-malu, sepertinya jabatan sekretaris kali ini dipegang olehnya, aku tidak heran, gadis-gadis sepertinya selalu jadi favorit.

“Nah kalau begitu bisa sekalian kau rapikan kan?” Untuk orang yang sudah mengenalku, sikapku yang seperti ini adalah normal. Tanpa mempedulikan reaksi selanjutnya, aku melenggang meninggalkannya.

“Ah Eonnie camkkanman,” katanya, kembali menghentikanku, “eum… kenapa akhir-akhir ini Eonni selalu sendirian, mak… maksudku Jiyong Oppa tidak pernah lagi terlihat bersama Eonnie,”  Jadi inikah maksud sebenarnya?

Kau pasti senang mendengarnya Jiyong-ah….

Aku bukan munafik yang akan menyerang orang dari belakang, ataupun pengecut yang dengan halus menggagalkan rencana orang lain, jadi kukatakan apa yang memang kuketahui.

“Dia wamil, jenguklah sekali-kali,” jawabku singkat

“Mwo? Kenapa? Bukankah dia masih sangat muda?” Ahra tampak terkejut sekaligus sedih mendengarnya

“Itu juga yang kukatakan padanya, aku masih ada kuliah jadi… selamat tinggal,” kataku singkat

JJJ

Musim Panas 2010

 

Meskipun aku berkata selamat tinggal pada Jiyong, hubunganku dengannya belum benar-benar berakhir, bagaimana tidak, dia selalu saja punya cara untuk menghubungiku, dan pada panggilannya yang kesekian kali, hatiku akhirnya luluh dan menerima telepon darinya. Namun selama hampir dua bulan kepergiannya, belum pernah sekalipun aku menjenguknya.

“Kupikir dia akhirnya menjengukmu?”

“Aniii, hanya ibu dan Yumi yang menjengukku,” jawab Jiyong dari seberang telepon, Yumi adalah adik perempuan Jiyong. Lalu untuk apa Ahra menanyakan kabar Jiyong kalau pada akhirnya tidak menjenguknya?

“dan kau, kapan kau akan kesini hah?” aku tidak mempedulikan nada jengkel dalam suara Jiyong, pikiranku tertuju pada Ahra, apa dia terlalu malu untuk menjenguk Jiyong?

“Yah Sohee-yah, kau tidak tidur kan? Jangan menyia-nyiakan waktuku, aku tidak punya banyak waktu,”

“Kalau begitu berhentilah menelponku,” jawabku singkat kemudian memutus sambungan.

Ada apa dengannya, jelas-jelas Ahra sangat tertarik saat menyinggung soal Jiyong. Ini tahun terakhirku di kampus jadi sudah tidak aktif lagi di klub, aku tidak pernah lagi bertemu Ahra sejak dia meminjam rekapku.

Musim Dingin 2010

 

“Sohee-yah bagaimana kabar Ahra?” aku terdiam mendengar pertanyaan Jiyong

“Jiyong-ah, apa kau lupa, aku sudah tidak kuliah lagi,” ini pertama kalinya aku mengunjungi Jiyong sejak kepergiannya untuk wamil, dia benar-benar marah ketika melihatku akhirnya mengunjunginya.

Aku benar-benar tidak pernah berhubungan lagi dengan gadis itu, jika tidak sengaja bertemu dia memang menyapaku, tapi itu sudah lama sekali, dan aku tidak cukup dekat dengannya sehingga tahu nomer teleponnya.

“Kenapa kau tidak menelponnya?” tanyaku kemudian, yang dijawab dengan gelengan kepala

“Permainan bodoh apa sih yang kalian mainkan?”

“Hehe kau tertarik?”

“Ah terserah kau, aku tak peduli,”

 

 

Musim Gugur 2011

Pekerjaan sebagai Music Director di salah satu radio terkenal di Seoul cukup menyita waktuku, hampir delapan belas jam waktuku kuhabiskan disini, namun kali ini kuputuskan untuk sekali-kali berjalan-jalan menghirup udara segar. Aku meminta asisten MD untuk menggantikanku sementara waktu.

Langkahku terhenti di sebuah kedai kopi kecil yang cukup sepi, nyaman untukku merenungkan sesuatu, dan yang pasti kopi selalu membantu menenangkanku.

Cappucino please,” pintaku halus kepada seorang pegawai wanita

“Nee Cappuci- Oh Sohee Eonnie?” aku mendongak memandangnya

“Mian, apa aku mengenalmu?” tanyaku ragu, mencoba mengingat-ingat

“Omo… Shin Bora Eonnie, aku memang tidak begitu terkenal, tapi aku satu klub radio dengan Eonnie,” jawabnya bersemangat, “Aku sangat senang bisa bertemu lagi dengan Eonnie,”

“Oh, kau… bukankah kau yang selalu bersama Go Ahra?” akhirnya aku berhasil menggali memoriku yang tidak terlalu kuat ini

“Nee,”

“Kau masih kuliah?”

“Nee… ini tahun ketigaku, Eonnie semakin cantik saja, aku selalu mengagumimu Eonnie,” apa dia bilang? Kagum? Sebuah kata yang sangat tidak pernah kudengar ditujukan kepadaku

“Bagaimana kabar Ahra?” kurasa, ini satu-satunya aksesku mengetahui kabar Go Ahra

“Eonnie belum mendengarnya? Ahra meninggal setengah tahun yang lalu,”

Hal pertama yang muncul dibenakku adalah, bagaimana aku mengatakannya pada Jiyong. Aku tidak mengenal akrab Ahra, jadi sewajarnya aku tidak merasakan kesedihan ini, tapi tanpa bisa kucegah, air mata ini mengalir mulus dari sudut mataku.

……

To be continued