d

Chain of Dreams

storyline by Atikpiece

Main Cast :

Kang Daesung (BIGBANG) | Gong Minji (2NE1) | Others

Genre : Family, (bit) Hurt, Friendship, Life

Rating : G

Length : Twoshot

 

Another my Big Bang fic’s with genre ‘life’

| Seungri | G-Dragon |

You can read them first before you read this fic ^^

.

Read this slowly!

Summary:

Di satu sisi, aku tidak punya banyak mimpi,

Namun jika boleh, dapatkah aku memilih satu untuk masa depanku?

.

.

.

 

Chain of Dreams

Chapter 1

Incheon, 1997

Suasana ruang kelas yang kutempati kini cukup sunyi. Seluruh muda-mudi di dalamnya saling berdiam diri ketika guru berkepala botak itu memperhatikan keadaan di sela kicauannya. Yang dapat kudengar saat ini hanyalah suara kertas yang bergesekan lantaran beberapa dari mereka tengah memilah malas halaman buku diktat Geografinya, ditambah suara berisik pensil yang diketuk ke meja berulang kali, bunyi-bunyi aneh yang berasal dari gadis-gadis penggosip di ujung sana beserta dengkuran salah seorang murid yang duduk di belakangku.

Aku yakin seratus persen—atau mungkin lebih—bahwa ini bukanlah suasana yang kali pertama dilihat oleh guru itu. Yang ada, dia cuma menggeleng pelan mendapati nuansa membosankan ini. Dan dengan tidak bersalahnya, dia masih terus saja melanjutkan penjelasannya meski tak ada yang mendengarkan. Dasar, kupikir ini sudah biasa baginya, mungkin, ratapku dalam hati. Akan tetapi, setidaknya dia bisa memaklumi bahwa Geografi itu rumit, dan tidak semua pelajar menyukainya, termasuk aku.

Tidak lama kemudian, si kakek tua itu kembali menghadap papan tulis, berceloteh, disusul aku melirik teman sebangkuku. Selama pelajaran berlangsung, kepalanya sudah diletakkan di meja. Dia mengantuk, namun tidak tertidur. Cuma memejamkan mata, begitu seterusnya sampai ia benar-benar bosan.

Satu menit, dua menit, dia menguap untuk kesebelas kalinya, dan beberapa detik setelahnya, dia mengeluarkan PSP dari balik laci dan berakhir dengan dua kata—main game—tanpa volume.

Aku mengernyit, lalu menghela napas. Demi Tuhan, aku ingin semuanya cepat berakhir hari ini. Dan entah mengapa, lima menit terasa begitu lamban berlalu, sementara seluruh penghuni kelas sudah ambruk di meja masing-masing. Tidakkah guru itu sangatlah hebat karena dapat meluluh lantakkan banyak murid tak berdosa ini? Oke, itu benar. Dia luar biasa, aku tahu.

Desahan menjengkelkan meluncur lewat bibirku. Kutopang kepalaku dengan tangan lalu kumiringkan ke arah luar jendela. Senja kian menjemput, dan sebentar lagi hari akan berubah gelap. Kuderapkan sepatuku berkali-kali sembari bersungut.

Ayolah, sampai kapan aku akan terus di sini?

Aku mau pulang!

 

KRIING!!

 

*****

“Daesung-ah!”

Dengan malas aku pun menoleh, mendapati teman masa kecilku—Gong Minji—melangkahkan kakinya lebar-lebar menghampiriku. Kemudian kutegakkan punggungku lalu mengerjap dua kali ke arahnya. Aku heran, karena semenjak memasuki gedung sekolah hingga pulang, gadis mungil itu masih saja menyunggingkan senyum cerianya seperti biasa kendati penat menyelimutinya. Sementara aku? Menginjakkan kaki di sini saja rasanya seperti akan melompat ke neraka.

“Ada apa?”

“Kau mau pulang?”

“Tentu saja. Memangnya mau ke mana lagi?”

“Oh,” balas Minji datar. Sebelum dia berkata lagi, sejenak aku mengedikkan bahu, lalu berjalan mendahuluinya. Tidak jauh, hanya beberapa senti. Merasa jika aku benar-benar tidak akan berhenti menunggunya, Minji bergegas menyejajarkan langkahnya denganku dan bersama-sama melewati gerbang sekolah. Suasana di ruas jalan depan sekolahku pun tak seramai sebelumnya. Berhubung hari mulai petang, maka tidak banyak anak-anak yang masih menunggu dijemput oleh orang tua mereka.

“Kukira hari ini kau mau mengikuti bimbel.” Lalu aku melihat Minji sedikit memiringkan kepalanya menatapku. “Bukankah Selasa itu jadwalmu?”

“Itu memang jadwalku.”

“Lalu, kenapa tidak datang? Padahal dulu kau selalu girang saat ikut bimbel karena kau bisa bertemu si gadis pujaanmu itu. Siapa namanya… err… oh, Kang Jiyoung!”

Seketika paru-paruku terasa menyempit, akibat napasku yang sengaja kutahan. Dan aku tidak berniat untuk melepaskannya begitu saja, entah mengapa. Cukup sakit, tapi kurasa itulah satu-satunya cara yang dapat membantuku untuk melupakannya. Kemudian aku mendesah sedemikian beratnya karena tak kuat.

Astaga, kenapa kau mengingatkanku akan masalah itu lagi, kawan kecil?

“Tidak ada gunanya, Nona Gong.” Aku memutar bola mataku malas, cukup enggan untuk mengatakannya tapi…

“Dia sudah punya pacar…”

.

.

Hening.

.

.

Aku meliriknya, dan dia pun menatapku tak percaya. Lalu dia mendekatiku, menatap bola mataku dalam seolah hendak menelisik apa yang saat ini tengah kurasakan.

Dan—akh, dasar bodoh. Bagaimana bisa aku berhasil mengatakannya juga?

“Oh, ya ampun!”

Oke, itu adalah pekikan yang paling sering kudengar dari seorang Minji ketika aku telah kehilangan sesuatu, lalu bisa kulihat dia cukup terkejut mendengar pernyataanku. Dan tidak tanggung-tanggung lagi apabila dia segera memelototiku dengan matanya yang sebulat kelereng.

“Jadi, kau kalah cepat? Ah… aku turut prihatin.”

Kemudian dia berubah murung, sesekali melirikku dan mengangkat kepalanya tiba-tiba.

“Hei, itu hanya masalah kecil.” Aku memberengut, sedikit mengusap kepalanya dengan lengan kiriku. “Tidak perlu sampai begitu. Mungkin suatu hari nanti aku bisa menemukan yang lebih baik dari Jiyoung.” Aku berbicara setenang mungkin. Kupikir itu hanya bertujuan untuk menghibur diriku sendiri, sepertinya.

“Hm, aku tahu.” Minji menunduk. “Dan kuharap kau bisa menemukannya nanti.”

Tentu saja.

Aku membatin, kemudian mempercepat langkahku. Namun tidak sampai sedetik, Minji kembali mengekoriku, berjalan bersamaku. Tetapi anehnya, nuansa di wajah chubby-nya mendadak berubah 180 derajat menjadi lebih segar dari sebelumnya. Dan ketika aku melihatnya, dia tersenyum amat lebar ke arahku, serta menunjukkan deretan giginya yang putih.

Melihat dia tersenyum seperti itu memang sudah menjadi hal biasa untukku, tetapi ketika melihatnya tiba-tiba dapat merubah suasana hatinya yang kalut menjadi begitu bahagia hanya dalam waktu singkat, itu adalah hal yang paling luar biasa semenjak 13 tahun aku mengenalnya.

Hm, menarik sekali.

“Jadi sekarang, kau tetap tidak mau berubah pikiran? Kau tetap pulang?”

“Ya. Aku capek. Pokoknya aku mau pulang, titik.”

Minji seketika mengerutkan keningnya. Kurasa ia cukup tercengang mendapati ucapanku yang terkesan lembut namun angkuh. Dan benar, itulah yang sering kali kulakukan akhir-akhir ini. Padahal sewaktu kali pertama aku menempati bangku kelas duaku, bertemu Minji, kemudian bertukar sapa dengan teman-temanku, aku dikenal sebagai anak ceria yang selalu tersenyum lebar ke mana-mana. Aku tersenyum ketika bertatap muka dengan guruku, tersenyum ketika merawat Minji yang sedang sakit (karena gadis ini memang terkenal sangat rentan terhadap penyakit), tersenyum ketika teman-teman menyapaku, dan tersenyum ketika membantu seorang nenek tua yang hendak menyeberang jalan.

Akan tetapi, jangan harap aku juga akan tersenyum kalau memang ada sesuatu yang membuatku benar-benar tidak ingin tersenyum, seperti terjatuh, tidak dianggap, ditipu, maupun disogok oleh berbagai macam tugas dari sekolah. Bayangkan saja, dalam sehari aku bisa mendapatkan tujuh tugas dengan mata pelajaran yang berbeda-beda.

Dan hari ini, aku mendapat tugas merangkum satu buku diktat Geografi yang harus dikumpulkan paling lambat besok lusa! Belum lagi tugas Matematika, Ilmu Hayat, dan yang lainnya.

Lihat, siapa yang sudi tersenyum jika pekerjaan rumahnya menumpuk sebegitu banyaknya seperti itu?

“Kau sedang dilanda banyak pekerjaan, ya? Pantas saja wajahmu kelihatan lesu begitu.”

Tiba-tiba suara Minji membuatku menoleh. Dia menyambutku dengan senyum kemudian mendesah menatap langit. Aneh, meski tadinya aku merasa sungguh malas menanggapi ucapannya, namun dia masih bisa menyunggingkan lengkungan bibir menyenangkan itu padaku.

Dan lagi, sepertinya Minji benar-benar bisa membaca pikiranku hari ini.

“Yah, hidup seorang pelajar memang seperti itu, Dae.”Gadis itu kemudian menghela napas, lalu kembali bergumam, “Hidupnya hanya diisi oleh pelajaran, tugas yang berjibun, ulangan, mendapat poin jelek, kesal, dimarahi, atau mendapat poin bagus, mendapat peringkat, lalu dipuji-puji, mungkin, kemudian belajar lagi dan… hm, seperti itulah.”

Iya, aku tahu, dan itu memang menyebalkan.

“Tetapi bagiku, itu adalah hal yang wajar. Kalau kata orang tuaku, kita belajar seperti itu demi masa depan. Yah, aku percaya, sebab zaman sekarang sudah banyak orang yang sukses karena rajin belajar, tapi tidak sedikit juga yang menjadi pengangguran meski otaknya cemerlang sekalipun.”

Aku terdiam, tidak berniat untuk mengatakan apapun. Mendengar apa yang baru saja dikatakan Minji membuatku tertegun, seolah dia benar-benar memahami bagaimana situasi di Korea saat ini. Orang pintar itu banyak, tetapi cuma segelintir yang bisa dibilang benar-benar sukses. Malah terkadang, orang berilmu bisa jadi kalah sukses dengan orang-orang yang dahulunya selalu mendapat poin nol dalam pelajaran.

Mungkin saja suatu saat mereka bisa menjadi aktor, artis terkenal, atau pemimpin perusahaan ternama, daripada orang-orang pintar yang cuma menjadi pegawai tetapi sombongnya melebihi batas, atau bahkan lebih rendah dari—oh, maafkan aku jika ungkapanku barusan terasa menyinggung berbagai pihak. Kurasa karena efek berbagai macam tugas sehingga aku benar-benar tidak bisa menjaga mulutku hari ini.

Akan tetapi pengecualian, mungkin, jika ada beberapa dari mereka—orang-orang pintar—yang tetap bersikap rendah hati pada siapapun, sekaligus memiliki keahlian, bakat, semangat berusaha dan…

“Mimpi.”

Lagi-lagi suara mungil yang terdengar ceria itu mematahkan gelombang hening kami, dan lagi-lagi gadis itu seakan baru saja membaca jalan pikiranku. Keherananku sejurus saja menampakkan diri untuk kedua kalinya. Bagaimana bisa dia dapat melihat isi di dalam otakku hanya dengan berjalan seraya membisu di sampingku? Aku bahkan sedikit meragukan apabila anak ini benar-benar memiliki keahlian untuk membaca pikiran orang lain, mengingat wajah polosnya yang selalu menguar di manapun.

Namun di detik itu pula, ekspresinya kontan berubah serius.

“Dae,” panggilnya, hampir mirip seperti bisikan, lalu kubalas dengan menatap wajahnya lekat kemudian bergumam kecil.

“Apa kau punya mimpi?”

Mimpi?

Aku agak terkejut, dan diam menyelimutiku begitu saja. Suasana hening namun mencekam seolah mendekap erat tubuhku. Entahlah, aku bahkan baru merasakannya sekali seumur hidup. Buru-buru aku mendelik dan sedikit memalingkan wajahku darinya.

 

Mimpi…

 

 

Mimpi…

Akh, aku bingung memikirkannya, sebagaimana orang-orang yang kebingungan mengungkapkan perasaannya di saat gejolak hati menguasai lingkup inderanya. Dan tidak dapat dipungkiri lagi, bila Minji menatapku dengan alis berkerut tanpa suara.

“Kau tidak punya?”

Ucapan Minji membuat batinku seakan tergerak sepersekian mili, kemudian aku berusaha mengumpulkan suaraku untuk menanggapi. Namun entah mengapa, dengan gampangnya aku hendak membual.

“Mimpi? Kau bercanda? Hei, tentu saja aku pu—“

“Aku punya banyak.”

Belum sempat kujawab, suaranya kembali menyerbu. Di sela-sela mataku yang hampir membelalak, dia masih sanggup mengeluarkan senyumnya dengan tenang, kemudian tertawa kecil ketika aku sedikit ragu memikirkan apa yang akan kukatakan tadi.

Aku hampir saja berbohong, padahal aku sendiri benci apabila dibohongi.

Bodoh.

Bagaimana bisa di usiaku yang hampir 16 tahun ini, aku sama sekali tidak punya mimpi?

Aku bergeming beberapa saat demi merutuki diriku.

“Dulu, sewaktu aku kecil, aku punya banyak sekali mimpi,” kata Minji mengawali pembicaraan. Dia berjalan begitu lambat sampai aku sendiri juga memperlambat langkahku untuk mendengarkannya. Tanganku menggeliat di saku celana kala uap putih itu menyeruak melalui bibirnya. “Aku pernah bermimpi menjadi seorang dokter, guru, pilot; apapun yang akan diungkapkan dari dalam pemikiran seorang anak berusia 5 tahun ketika ditanya apa mimpi dan cita-citanya oleh orang tuanya.”

Sekali lagi aku tidak ingin mengatakan apa-apa. Hanya mendengarkan nada bicaranya yang lembut sembari menunduk.

“Kau tahu, itu hanya ungkapan polos dari anak-anak, yang selebihnya belum bisa menentukan apakah benar mereka akan meraih mimpi-mimpi itu.”

Minji agak memiringkan kepalanya lagi, lalu menatapku cukup lama dan kembali berkata, “Tetapi, setidaknya mereka punya mimpi, karena bermimpi itu penting, dan bermimpi itu perlu.”

Sesaat aku tercenung. Baik, aku merasa bahwa kalimatnya yang terakhir itu seolah menyindirku. Namun selebihnya aku mengerti akan apa maksud di balik kata-katanya. Memang benar, di usia dini aku pernah berkata bahwa ingin menjadi seorang pilot suatu hari nanti. Itu impianku dulu—atau bisa dibilang impian kosong yang tidak akan pernah kucapai. Karena itu hanyalah ungkapan seorang anak kecil. Buktinya sampai sekarang, aku sama sekali tidak tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan ilmu penerbangan. Apalagi semacam kinematika gerak maupun pengendalian tombol-tombol mesin yang luar biasa banyaknya di dalam ruang kontrol pesawat.

Karena itu memusingkan. Dan aku berharap tidak akan mencobanya meski sekali seumur hidupku.

“Maka dari itu aku merasa cukup prihatin, melihat sebagian dari anak remaja zaman sekarang yang hampir melupakan mimpi-mimpi mereka akibat kesenangan duniawi. Bukankah mereka lebih memilih untuk menikmati segala hal yang sudah ada tanpa ada niat untuk mengubah dunia?”

Ah, rupanya Minji benar-benar orang yang pandai berbicara, mengolah kata-katanya seolah ingin membuatku benar-benar tertohok. Bila sudah seperti ini, haruskah aku masih akan tetap mendengar gelombang suaranya yang jelas-jelas menyinggungku?

Hampir saja aku ingin berteriak kalau saja aku tidak bisa menahan amarahku. “Kalau kau bisa berbicara seperti itu, lalu apa mimpimu?”

“Mimpiku?” Minji menunjuk dirinya sendiri tanpa menghayati nada bicaraku yang cukup kasar. Dan yang lebih membuatku agak terperangah, dia masih bisa tersenyum cerah ke arahku meski perkataanku barusan sama sekali tidak menimbulkan nuansa menyenangkan.

“Meski aku punya banyak, tapi bukankah kau sudah tahu? Aku bermimpi menjadi seorang dancer terkenal,” ucapnya bersemangat, kemudian kembali menatap langit dan mendesah. “Kau tahu sendiri kan kalau aku suka sekali menari? Di manapun dan kapanpun, meski di saat itu aku sedang dilanda cukup banyak masalah. Tetapi paling tidak, meliukkan sebagian dari tubuhku saja aku sudah merasa sangat senang, seakan bebanku hilang saat itu juga.”

Minji mendesah cukup pelan, lalu mengalihkan pandangannya ke arahku yang masih mengerutkan kening tanpa sebab. Aku tahu itu bukan hal aneh, sebab aku sendiri tak tahu bagaimana menanggapinya. Yah, bisa kumaklumi bila gadis ini memang pintar. Dan tanpa kutelaah lebih jauh, Minji memandangku lekat seakan tak mau melepaskan diri.

“Menari adalah hidupku, tanpa menari aku merasa seperti bukan aku. Maka dari itu aku akan berjuang keras untuk menjadi dancer. Demi mewujudkan impianku, aku akan berusaha untuk terus berlatih dan meluangkan waktuku untuk menari minimal tiga jam sehari, bahkan lebih,” lanjutnya.

“Karena siapa tahu, dengan impianku ini aku bisa mengubah dunia.”

Alis sebelah kiriku terangkat tinggi, melihat tingkah Minji yang amat bersemangat jika sudah membahas perihal mimpinya. Apalagi jika ia harus menceritakannya di depan teman-teman. Kau bisa bayangkan sendiri betapa berkobarnya dia.

Dan apa yang baru saja dia katakan? Mengubah dunia?

“Mengubah dalam arti pemikiran anak-anak di seluruh dunia ini dengan usaha dan perjuangan, maksudku.”

Nah, apa kubilang? Dia benar-benar bisa membaca pikiranku. Aku hampir saja dibutakan oleh keheranan kalau saja dia tidak menatapku dengan senyum manisnya yang menenangkan. Walau pada kenyataannya posisi Minji sungguh membuatku merasa seperti sedang diberi petuah oleh orang tuaku, tetapi aku merasa sedikit malu bila harus mengaku pada diri sendiri bahwa aku juga termasuk orang-orang yang Minji bicarakan sebelumnya. Seseorang yang hanya bisa menikmati sesuatu yang sudah ada, tanpa ada usaha untuk mengejar mimpi-mimpi mereka terdahulu. Seolah segalanya lenyap begitu saja karena pengaruh lingkungan.

Lalu sekarang, apa yang harus kulakukan?

Aku memandangi setiap lekuk wajah Minji yang terarah ke depan, lalu bergegas menatap langit malam yang dipenuhi banyak bintang.

Kulihat ada satu bintang yang ukurannya paling besar, dan sinarnya pun paling terang dibanding yang lain. Entah mengapa jika aku boleh bilang, aku merasa malam ini terasa begitu indah karena kehadirannya. Apa karena tak ada siluet awan mendung yang menutupinya? Atau karena aku sendiri saja yang merasa bahwa bintang itulah yang paling bersinar?

Kurasa cukup menggelikan memang. Namun di dalam pikiranku, aku sangat ingin seperti itu.

Menjadi bintang yang hanya bersinar sewaktu gelap.

Sebelum aku menoleh ke arah Minji, tiba-tiba suara mungilnya menyusup masuk ke gendang telingaku.

“Lalu, bagaimana denganmu? Apa kau juga punya mimpi yang bagus untuk kauperjuangkan, Dae?”

*****

2 days later…

Di sepanjang perjalananku menyusuri trotoar daerah Incheon yang dipenuhi oleh para pejalan kaki, aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kota yang mayoritas diisi oleh anak-anak sekolah menengah. Mereka menjejakkan kakinya seakan tanpa beban, berlari tiada henti sembari memikul tas masing-masing di pundak. Tidak luput dari penglihatanku jika mereka sendiri tengah tertawa bersama hingga menerobos traffic light saking bahagianya.

Ah, andai aku bisa seperti itu sekarang.

Tertawa bersama teman-temanku sepanjang hari, bebas melakukan apa saja demi menyenangkan diriku.

Tapi, sepertinya itu tidak akan mungkin terjadi padaku. Menarik sudut bibirku saja sudah jarang, apalagi tersenyum. Bahkan aku sendiri lupa kapan terakhir kali aku tersenyum.

Aku mendesah berat kemudian menyipitkan mataku. Angin musim gugur menyambutku sesaat setelah aku mendongakkan kepalaku. Kulihat ada banyak sekali gedung tinggi yang memperlihatkan siaran langsung berita terkini di layar besar yang sengaja dipasang pada permukaan gedung. Lalu aku memperhatikan wanita pembaca berita itu nampak sangat fasih dalam menyampaikan berita, dengan pembawaannya yang formal tetapi komunikatif. Sehingga dapat memberikan respon menarik terhadap penduduk sekitar, terutama kepada sebagian besar orang yang gemar akan berita.

Kelihatannya memang menarik.

Tapi, apa aku bisa menjadi presenter seperti itu?

Ah, kurasa tidak. Karena aku tidak seperti Minji yang pandai berbicara sejak kecil. Aku merasa agak kesulitan ketika harus berbicara di hadapan orang banyak, apalagi dalam acara resmi seperti itu. Jujur, pekerjaan seperti itu dirasa memang tidak cocok untukku.

Kemudian aku kembali melangkah sembari melihat-lihat. Di antara hiruk-pikuk orang-orang yang memadati kawasan ini, aku masih bisa mendengar suara peluit yang menyeruak di sela konsentrasiku memperhatikan jalanan. Dari nada suaranya hanya dapat didengar di satu titik, dan begitu aku memutar kepalaku ke belakang, ada seorang polisi dengan postur tinggi tegap sedang mengatur lalu lintas di perempatan jalan. Namun ketika aku kembali berkeliling, sepertinya tidak hanya satu. Ada dua orang polisi lain yang sedang patroli sambil membawa alat pemukul beserta seekor anjing di depan mereka.

Dari perawakannya saja, sudah kelihatan jelas bahwa mereka berdua sangat keren.

Sepertinya menjadi polisi itu menyenangkan.

Bagaimana jika aku bermimpi menjadi polisi? Aku memutar bola mataku ketika aku tengah membayangkan bagaimana rasanya.

Tapi…

Ah, tidak, tidak. Mana mungkin aku bisa menjadi polisi. Tugas polisi itu sangatlah berat, mulai dari menangkap penjahat, menyelidiki berbagai kasus, mengusut banyak peristiwa pembunuhan, dan masih banyak lagi. Melihat pencuri yang sudah memasuki rumah dan hendak mengobrak-abrik properti rumahku saja aku sudah ketakutan setengah mati, apalagi jika harus melawannya. Lagipula aku sendiri phobia anjing, tidak mungkin kan jika aku menjadi polisi tetapi takut melihat anjing sendiri?

Sekali lagi aku membawa kakiku berkeliling kota. Dan di saat langkahku terhenti di sudut jalan, ada seorang penjual kue yang tengah melayani para pembelinya dengan ramah. Di atas meja beralaskan taplak putih itu, ada beberapa bentuk dan jenis kue yang beraneka macam,  dan salah satu kue favoritku—pie apel—juga berada di sana. Aku memfokuskan pandanganku ketika melihat penjual itu tetap tersenyum ketika menghadapi pembelinya saling berebut untuk memesan kue. Dan sepertinya membuat kue-kue yang enak semacam itu akan terasa sangat menyenangkan, ditambah dapat memberikan kepuasan tersendiri.

Atau lebih tepatnya, menjadi chef khusus untuk hidangan penutup.

Bagaimana kalau aku bermimpi menjadi chef?

Tetapi, aku kan tidak bisa memasak. Membuat telur gulung saja aku tidak bisa, meskipun aku sudah beberapa kali mengikuti kursus memasak kepada Minji. Itupun telurnya sudah keburu gosong duluan, ditambah bagian dalam telurnya yang sama sekali tidak mau matang. Padahal waktu itu aku sudah berusaha memperkecil api kompornya, namun ketika aku memperbesar apinya, malah bagian luarnya yang hampir hangus.

Ah, aku memang tidak berbakat dalam hal kuliner.

Lalu, aku harus bagaimana sekarang?

Aku mendesah amat berat sembari menyeret kakiku untuk terus berjalan, mencari mimpiku yang tidak kunjung ketemu. Aku hampir putus asa karena sama sekali belum menemukan apa mimpi yang bagus untukku, untuk karirku, untuk masa depanku kelak. Entah aku harus menjejakkan kakiku ke mana lagi jika aku sendiri sudah merasa sangat lelah. Seragam sekolahku pun masih melekat di badanku, padahal hari sudah menjelang petang.

Tapi, aku sudah berjanji pada Minji bahwa tidak akan pulang sebelum menemukan mimpiku.

Ukh, andai saja aku bisa menarik kata-kataku tadi.

Aku menepuk jidatku cukup keras, merutuki diriku, dan beberapa menit setelahnya, aku kembali ke tempat di mana aku bisa melihat gedung tinggi itu lagi. Sejauh mataku memandang, seluruh penjuru kota telah dipenuhi oleh lampu-lampu jalan yang bersinar warna-warni seperti aku sedang berada di tengah-tengah parade keliling. Sejenak aku dibuai sepersekian detik oleh sinar-sinar itu, tetapi kemudian, mataku pun kembali terpaku pada sebuah layar lebar di permukaan gedung. Di layar kali ini sedang menyiarkan langsung acara musik dari luar negeri.

Hm, sepertinya tidak apa-apa jika aku berdiri di sini beberapa menit demi melihat acara itu, pikirku.

Namun tak berapa lama, tiba-tiba saja aku mendengar teriakan orang-orang yang cukup membahana di sekitarku, sesaat setelah seseorang di layar gedung muncul diiringi oleh sorot lampu yang terus mengikutinya. Di sisi lain, aku hampir merasakan jantungku berhenti berdegup, seiring bibirku yang hampir terbuka lebar. Mataku perlahan membelalak seakan orang yang berada di hadapanku tengah membuatku melupakan sejenak permasalahan yang kuhadapi.

Sembari melantunkan nada lagu dengan tuts pianonya yang kian menyentuh,

Aku melihat Stevie Wonder sedang bernyanyi…

.

.

“Daesungie, tolong nyanyikan sebuah lagu untukku,” rajuk Minji sembari mengerucutkan bibirnya dan menarik lengan baju Daesung berulang kali. Daesung menoleh ke arahnya dan menatap Minji dengan alis mengerut.

“Tapi, aku tidak bisa menyanyi.”

“Siapa bilang?” Minji memekik, tidak membenarkan ungkapan Daesung barusan. “Jangan coba-coba menipuku. Aku tahu kau bisa menyanyi. Buktinya, Ibu guru dan teman-teman sangat menyukai suaramu,” tambahnya, hingga suaranya hampir menjatuhkan dedaunan yang bertengger di ranting pohon. Dan seperti yang kalian tahu, mereka tengah duduk bersandar di bawahnya, menikmati angin semilir di saat jam istirahat berlangsung. Tapi sepertinya itu tidak akan mungkin terjadi pada Daesung yang kini sedang dilanda masalah dengan Minji yang terus mendesaknya bernyanyi.

“Bagaimana mereka bisa tahu?”

“Mereka mendengarmu bernyanyi di ruang musik sendirian, dan ketika kau sudah tidak ada di sana, si cengeng Sandara bergegas menemuiku dan mengatakan bahwa kau bisa menyanyi. Dia bilang suaramu terlalu bagus untuk didengar, kau tahu?”

“Ta—tapi, aku tidak sungguh-sungguh melakukannya.”

“Bohong.”

“Aku serius, Minji, percayalah padaku. Aku hanya iseng…”

Kedua alis Minji pun seketika terangkat seirama. “Bagaimana bisa menyanyi hanya dijadikan untuk bahan candaan?” pekiknya lagi. Kelopak mata Minji terbuka amat lebar menatap mata sipit Daesung dalam-dalam sembari masih mencengkeram lengan bajunya. Kemudian ia mendesah lalu memberengut cukup lama. Entah apa yang berada di dalam pikiran Daesung kalau saja ia tidak merasa panik ketika Minji kembali mengoyak bajunya serta menatapnya cukup tajam.

”Dengar, kau tahu sendiri kan, kita masih sangat muda, baru berusia 6 tahun, tidak mungkin kedua telinga teman-teman kita tidak bisa membedakan mana suara yang bagus dan mana yang tidak. Mereka belum cukup tuli untuk mendengarnya. Dan berhubung hari ini aku ulang tahun, jadi sekarang, bernyanyilah untukku.”

Daesung pun mendesah perlahan sembari agak memalingkan wajahnya dari Minji, hendak menghindari tatapan mematikan dan sikap suka memaksa Minji yang membuatnya tak suka. Tetapi karena sedari tadi Minji terus menggoncang tubuhnya tanpa henti, hingga kepalanya mulai terasa pusing, akhirnya ia pun menyerah.

“Iya baiklah, baiklah, aku akan bernyanyi. Tapi sebelumnya, tolong lepaskan tanganmu dari bajuku.”

Minji pun tersenyum penuh kemenangan, dan senantiasa melepas cengkramannya dengan senang hati. Rasanya cukup menyenangkan ketika ia sudah membuat Daesung luluh untuk memenuhi permintaannya, meski kini bisa ia lihat sendiri bahwa Daesung tengah menatapnya dengan tatapan jengkel.

“Kau mau lagu apa?”

“Hm… bagaimana kalau twinkle-twinkle little star?”

“Astaga, tidak ada lagu lain?”

“Oh, ayolah, aku sedang ingin mendengarkannya, Dae. Jebal…”

Daesung hanya bisa mendengus, kemudian mempersiapkan diri dan mengatur napasnya.

Angin sepoi pun menyapu wajahnya di sela ia menutup mata,

.

.

.

Twinkle, twinkle, little star

 


How I wonder what you are

 


Up above the world so high

 


Like a diamond in the sky

.

.


Twinkle, twinkle little star

 

.

.


How I wonder what you are

 

When the blazing sun is gone

 


When he nothing shines upon

 


Then you show your little light

 


Twinkle, twinkle, all the night

 

.

 


Twinkle, twinkle, little star…

 

.

.


How I wonder what you are…

 

.

.

.

 

 

“Waah…” Minji bertepuk tangan dan tersenyum cerah ketika Daesung telah menutup mulutnya mengakhiri.  Lalu  gadis itu pun bergegas menyikut lengan Daesung dan berkata, “Nah, sudah kubilang, kan? Suaramu benar-benar bagus. Kuakui tadi itu keren.”

Minji kembali memekik dan tertawa riang, disusul Daesung yang menundukkan kepalanya. Sebelum dia menoleh ke arah gadis itu, suara nyaringnya lagi-lagi terdengar. “Di samping kau yang terkadang suka pendiam, ternyata kau punya bakat menyanyi juga. Terima kasih sudah bernyanyi untukku. Aku senang sekali mendengarnya.”

Daesung cuma bisa tersenyum ketika Minji sengaja memperlihatkan deretan giginya yang rapi ke arahnya, dan di balik senyuman Minji yang—menurut Daesung—sangatlah manis, ia hampir saja mengira bahwa bagi Minji, ini adalah hadiah yang paling indah untuknya di antara semua hadiah yang lain. Terbukti dengan ekspresinya yang sebesit pun tak pernah terlihat ketika teman-temannya memberinya kado sebelum ini. Memang kelihatannya bocah laki-laki ini sok tau atau semacamnya, tetapi percayalah, ia melihatnya dengan mata kepala sendiri bahwa tidak biasanya Minji akan tersenyum semanis itu.

Gadis kecil itu memang bahagia, namun Daesung baru kali ini melihat Minji nampak lebih dari bahagia dibanding hari ulang tahunnya yang lalu.

Di sela ia memandang Minji dengan tatapan teduhnya, dengan sekali genggaman, ia segera menarik tangan Minji, kemudian menggumam di saat bola mata gadis itu membulat seraya tersenyum.

 

“Selamat ulang tahun, Minji-ya… semoga Tuhan memberikanmu umur panjang.”

“Tetaplah menjadi teman baikku sampai akhir, ya. Dan tetaplah di sisiku ke manapun aku pergi…”

.

.

 

BRAK!

“Aku pulang.”

“Dari mana saja kau?”

Aku menghentikkan langkahku sejenak di depan anak tangga menuju kamarku ketika sosok pria paruh baya itu berdiri dari sofa dan menatapku tajam. Aku menghela napas panjang dan hendak memutar kepalaku. Tetapi sepertinya saat ini aku lumayan takut melakukannya, apalagi jika harus menatap kedua manik Ayahku yang menurut Ibuku sendiri cukup mengerikan. Aku paham benar akan suasana hati Ayah kini yang sama sekali tidak menyenangkan. Bagaimana tidak? Karena ini semua salahku karena pulang larut malam tanpa memberitahunya.

“A—aku sedang mencari sesuatu.”

“Mencari apa?”

“Mimpi.”

Lalu kami sama-sama terdiam. Ayahku sendiri bahkan hampir tidak memercayai telinganya setelah mendengar jawabanku barusan. Oh, seharusnya aku bisa mengarang kalimat yang bagus untuk kukatakan padanya. Tetapi, sepertinya aku terlalu jujur mengungkapkannya pada Ayahku.

Kemudian aku mendengar derap langkahnya yang mendekatiku, berjalan melewatiku lalu berdiri tepat di hadapanku. Aku yang mulanya menundukkan kepalaku dalam-dalam, dengan perlahan kudongakkan hingga aku bisa bertemu mata dengan Ayahku. Dia cuma menatapku sembari berkacak pinggang dan membisu.

Lihat, sekarang dia benar-benar terdiam. Apakah ini berarti aku bisa pergi ke kamarku sekarang?

“Bagaimana bisa anak seusiamu masih sibuk mencari mimpi? Kau sendiri pernah bilang padaku akan menjadi pilot, kan?”

Oh, rupanya Ayah masih ingat dengan apa yang aku katakan padanya sewaktu usiaku masih 4 tahun. Aku bahkan hampir ingin tidak mengingatnya sama sekali ketika teringat bahwa aku mengatakannya dengan hati yang riang gembira, dengan wajah tanpa dosa, seolah tak ada secuilpun penyesalan di akhir kalimatku.

Akan tetapi, entah mengapa aku baru merasakan penyesalan itu setelah aku dewasa.

Huh, itu hanya impian konyolku, Ayah.

“Aku tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu.”

“Dan itu berarti kau mengingkarinya?”

Mataku terbelalak, kemudian menatap kembali Ayahku dengan kening berkerut. “Ayah, waktu itu aku tidak serius mengatakannya. Aku dulu hanya seorang anak kecil yang selalu mengatakan apa saja sesukaku. Aku belum begitu mengerti apa itu mimpi, dan aku tidak tahu bagaimana mimpi itu berpengaruh dalam hidupku.”

Seketika keheningan menyelimutiku. Begitu juga dengan pria ini. Kedua pergelangan tangannya masih merayap di pinggang sembari menatap dan mencerna kalimatku. Entah bagaimana reaksinya setelah ini ketika mengetahui bahwa dengan sengaja aku merelakan waktuku berjam-jam hanya untuk mencari sesuatu yang kuharapkan ada dalam diriku.

Kurasa itu cukup keterlaluan. Tapi mau bagaimana lagi. Ini sudah menjadi janjiku kepada Minji, dan bisa kalian pahami bahwa Minji adalah gadis yang—meskipun hanya kebetulan—bisa membaca pikiran orang lain. Sudah sekian lama aku berteman dekat dengannya, jadi sudah semestinya dia mengetahui segala jenis gerak-gerikku ketika aku telah melakukan kesalahan besar. Jika aku berbohong, atau mengingkari janji, maka semuanya akan berakhir dengan sepatunya yang melayang mengenai kepalaku hingga menyebabkan benjolan.

“Tapi, Ayah tidak perlu khawatir, karena sekarang aku sudah menemukannya.”

Alis tipis Ayah nampak semakin berpaut saja, mendapati ada perihal mengganjal dalam kalimatku akan apa yang telah kutemukan. Dia cuma butuh waktu untuk memahami dan merestui sesuatu yang ada dalam pikiranku.

Aku menarik napas dalam hendak mengatakan.

 

Kumohon, kuharap dia mau menerimanya.

 

“Ayah, aku ingin menjadi seorang penyanyi.”

.

Aku sudah mengatakannya.

.

Aku hampir tidak berani membuka mataku dan menatap guratan-guratan yang membuat jantungku sebentar lagi akan terjun bebas dari tempatnya, saat kutahu angin malam berembus melewati celah jendela yang sekejap membuatku gugup. Aku tak pernah berhenti berpikir akan sejauh mana aku bakal seperti ini menunggu respon dari Ayahku yang tidak kunjung terlontar, manakala aku sendiri tidak yakin jika Ayah akan menyetujuinya.

Tetapi sepertinya ini lain. Aura Ayah kelihatan sangat berbeda. Aku hampir tidak memercayai indera pendengarku, saat Ayah berdeham berusaha mengalihkanku dari gelapnya lingkup pandanganku ketika aku masih menutup mata. Namun di saat aku perlahan menemukan cahaya bohlam lampu yang bertengger di atasku, menemukan tatapan dan raut wajah tak percaya itu lagi, aku hampir saja ingin memekik dalam hati mendapati kedua lengan besarnya hinggap di kedua pundakku, kemudian meremasnya.

 

Seolah suatu hal yang tidak kumengerti akan terjadi padaku.

 

Ataukah hanya perasaanku saja?

.

.

.

To be continued

 

A/N : Haloo~ xD

Setelah sekian lama akhirnya aku bisa nulis juga. Aku nggak tahu ini bakal jadi kayak gimana FF ini, karena mulai besok aku udah semesteran huhuhu T^T ditambah kata-katanya absurd banget, nggak tertata (kayaknya) .__. Maaf kalo banyak kalimat yang susah dipahami, dan yang pasti, aku bakal ngelanjutin FF-nya dengan waktu yang sangaaat lama (sepertinya, tapi semoga enggak ya, Amin! :D )

Terima kasih sudah membaca. Mind to leave your comment?