two-cups-of-coffee-in-sunlight-breezekaze

Two Cups of Coffee

By : Atikpiece

Cast

Kwon Jiyong (BIGBANG) | Jenny Kim

Genre : AU, Romance, Fluff

Rated : PG-17

Length : Ficlet

.

.

.

“Dia tidak menyesap kopinya sedikitpun, membiarkannya mendingin dan memilih untuk mengabaikannya karena suatu hal.”

.

.

.

 

Sepertinya bukan Jenny namanya apabila tidak melakukan sesuatu di bawah rinai hujan yang merintik di atap rumah. Pemilik surat rambut panjang kecokelatan itu meringkuk di kursi berbahan kayu cendana sambil memainkan laptop-nya hingga menimbulkan bunyi-bunyi aneh. Di balkon tempatnya biasa menyendiri, ia rela duduk berjam-jam demi menghabiskan episode game Angry Bird favoritnya. Selama tidak ada yang mengganggu, membuyarkan konsentrasinya meski hanya dengan ketukan pintu sekalipun.

Sekitar satu menit berlangung, ia melepaskan sorotan matanya pada layar, mendesah untuk kesekian kalinya sembari menyandarkan kepalanya menatap hujan. Kelihatannya semakin lama semakin deras saja, tidak luput dari embusan angin yang kini membuatnya agak menggigil. Paling tidak, hal itu telah berhasil mengingatkannya pada sebuah peristiwa di mana mantel berbulu itu menyelimutinya, jemari tangan kurus itu menggapai lengannya, menyebabkan sensasi hangat menjalar di tubuhnya, dan kekehan kecil yang membuatnya mau tak mau harus tersenyum juga. Sesederhana itu.

KLIK.

“Hai, Jenny.”

Tidak ada jawaban. Yang ada, gadis itu hanya terdiam ketika layar ponselnya menempel pada telinga.

“Bisakah kaubuatkan aku secangkir kopi?”

Bisa ia dengar suara berisik hujan sebagai latar belakangnya. “Dingin sekali di sini…”

Jenny tersenyum kecut, kendati suara pria di ujung sana cukup meredakan kerinduannya semenjak dua bulan tidak bertemu. Manakala kekasihnya bekerja sebagai produser yang tidak ada habisnya menggarap musik dan film ternama, sampai mereka tidak punya waktu bertatap muka secara langsung. Namun sekarang, sepertinya seorang Kwon Jiyong sudah bisa meluangkan sisa hari bekerja untuk membuat dirinya basah kuyup demi bertemu gadisnya setelah sekian lama.

Kedua kaki jenjangnya melangkah lebar-lebar menuju pintu masuk. Jemari bercat kuku merah muda itu mulai merayap pada kenop, memutarnya, dan mendapati seseorang yang nampak seperti telah diguyur beribu liter air di hadapannya. Mata sayunya menatap Jenny cukup lama, lalu memaksakan diri tersenyum meski kini tubuhnya benar-benar gemetaran.

“Masuklah.”

Pria itu menurut sembari cepat-cepat melepas mantel, menggantungnya di jemuran dan bergegas mendekat ke pemanas. Sepertinya akan terasa hangat jika ia juga mengusap lengannya bersamaan, tetapi kelihatannya itu juga belum cukup, sebelum menyadari bahwa ada yang membuatnya merasa lebih hangat dibanding alat itu. Ditambah senyum intens yang akan selalu merekah setiap lencir tubuhnya berada tepat di depan matanya.

“Bagaimana dengan filmnya? Semua baik-baik saja, kan?”

Kepulan uap dua cangkir cappuccino menguar sekenanya diterpa partikel udara, menyambut indera penciuman Jiyong yang terasa sangat sensitif bila menemukan minuman berkafein itu. Cappuccino memang bukan favoritnya, namun rasanya yang manis mengingatkannya pada Jenny jika gadis itu selalu memintanya menyeduh secangkir per hari supaya tubuhnya agak berisi. Tetapi ia berpikir lain, bahwa terlalu sering minum kopi justru akan membahayakan organ tubuhnya. Seperti serangan jantung, mungkin? Atau semacamnya.

Hal itu bertepatan pula setelah ia mengendap menuju dapur lalu menyambar tubuh Jenny dari belakang. Dekapannya begitu erat, menyebabkan gadis itu agak kesulitan bernapas. Seharusnya ia menjawab pertanyaan Jenny sebelumnya, namun pria itu malah sibuk menelisik setiap jengkal leher dengan dagu berada di atas bahu si gadis seraya tersenyum kecil.

“Hei, bajumu basah. Apa-apaan kau ini.” Jenny berjengit.

“Kenapa? Tidak ada yang salah.”

“Kau belum menjawab pertanyaanku.”

“Mengapa harus? Kau tentu tahu bahwa project-ku sudah sukses besar sekarang.”

“Ya, ya. Tetapi semestinya hari ini kau masih bergumul bersama beberapa skenariomu.”

Tangan mungil Jenny menyentuh lengan Jiyong perlahan. Semenit, dua menit, ia mendesah, ketika embusan napas pria itu mengudara lagi di leher, kemudian beralih menciumi hingga bibir kemerahan itu mendekat ke daun telinganya.

“Kau tidak merindukanku?”

Entah karena apa, bisikannya menjadikan gadis itu tersenyum seiring tubuhnya menggeliat di pelukan pria kurus yang berulang kali menghirup aroma mawar di sela anak rambutnya. “Kurasa begitu.”

Sekali lagi uap putih meluncur lewat bibir Jenny ketika kecupan kecil berhasil mendarat di bahu kanannya. Setelah beberapa hari membayangkan sentuhan itu menjalar di sekujur tubuhnya, kini ia merasakannya kembali ketika tangan kekasihnya mulai menelusup di sela kemeja, mengusap perutnya perlahan. Akan tetapi Jenny menepisnya.

“Ayolah, Ji, jangan menggodaku…”

Jiyong tahu gadisnya berdusta, dan ia menganggap bahwa itu adalah sebuah isyarat jika Jenny tengah luar biasa menginginkannya saat ini. Bukankah mendapati jemarinya mengusap lembut di tiap bagian tubuhnya merupakan candu yang teramat besar baginya? Mengingat bahwa mereka pernah melakukannya sebelum tetesan air hujan turun membasahi sekitar dua bulan lalu. “Aku tidak akan berhenti sebelum kau jujur padaku.”

Kening Jenny berkerut disusul senyum lebar menghias parasnya. “Mau jujur seperti apa lagi? Yang aku tahu, kau adalah seorang maniak yang selalu mempermainkanku sesukamu.”

“Bukankah itu bukti bahwa aku tidak akan melepaskanmu begitu saja?”

Gadis itu berbalik sesaat setelah melepas lengan pria yang melilit perutnya tujuh menit yang lalu. Matanya bergerak memandangi sorot mata yang tak terdefinisi dari lawan bicara dengan posisi tubuh hampir sejajar dengannya. Pria itu juga menatapnya sembari menundukkan kepalanya karena sedikit bingung. Bukan apa-apa, hanya saja Jenny tidak begitu yakin dengan nada bicara yang ia tangkap sebelum tangan Jiyong menjelajah lebih dalam lagi.

“Seperti itukah?”

“Kau meragukanku?”

Jenny berdecak tidak percaya.

“Aku selalu melihatmu bersama gadis-gadis menyolok di televisi. Merangkul mereka, mencium pipi mereka, lalu apa lagi? Aku perlu bukti.”

Dengusan pria itu menimbulkan tatapan sarat akan makna dari Jenny. Itu teramat sangat memuakkan, meski gadis itu masih mampu tersenyum walau sedikit, di samping Kwon Jiyong sendiri yang kini kembali menghias wajahnya dengan raut santai dan tidak membebani. Di saat seperti ini ia masih bersikap seolah ia bukanlah orang yang patut disalah. Maka dari itu picingan matanya terarah hendak meyakinkan, dan itu menyebabkan Jenny terkejut seraya menahan dada Jiyong yang hampir mendekat.

“Kau perlu bukti? Baik. Akan kutunjukkan padamu.”

Bibir tipisnya sejurus saja menyentuh bibir Jenny, melumatnya lebih dalam, seraya menarik si gadis supaya mendekat. Tubuhnya makin lama makin melemah, dan ia seringkali meremas lengan baju pria itu, mengharapkan lebih. Jantungnya pun berdetak tidak normal seiring tangan si pria bergerak nakal di punggungnya. Lambat laun hatinya pun berucap bahwa betapa Jenny sungguh menginginkannya sekarang, ketika Jiyong menggigit bibir bawahnya, memberikan sensasi tersendiri kala jemari sang pria menyusup ke sela anak rambutnya, demi meningkatkan nafsu untuk terus membuat Jenny kehabisan napas, mendesah nyaman, dan untuk membuktikan jika Jiyong benar-benar serius memilihnya.

Kegiatan mereka berlangsung sekitar tiga setengah menit dan terasa begitu lamban berlalu, bertepatan dengan tubuh Jenny yang sudah terduduk di atas meja. Ia mengatur napas sejenak setelah pria itu bermain di area leher dan dadanya. Namun di saat ia melihat Jiyong menyeringai, diikuti tatapan ingin menyentuhnya lebih jauh, Jenny pun tersenyum cukup lebar.

“Aku sudah membuktikannya. Kau puas? Dan oh…” Jiyong mendesah tiba-tiba ketika bibir Jenny menempel di telinganya, kemudian ia tersenyum kembali dan berbisik.

“Baiklah, sepertinya ranjangmu sudah menunggu.”

Tangan kurusnya bergegas membawa gadis itu menuju ke tempat tujuan, hendak mencicipi bibir Jenny lebih lama lagi, tanpa memedulikan si gadis yang tengah sibuk melirik ke arah meja dapur. Sampai akhirnya ia jadi teringat akan dua cangkir cappuccino yang masih melekat di atas sana.

Seperti yang ia lihat, apabila uap putihnya sudah tidak kelihatan, atau bahkan tidak akan pernah kelihatan lagi.

.

.

.

“Dia tidak menyesap kopinya sedikitpun, membiarkannya mendingin dan memilih untuk mengabaikannya karena suatu hal.”

.

“Yakni sibuk mencumbuiku.”

.

.

.

-FIN-

A/N : Maaf kalo kecepetan ditambah ceritanya aneh sekali >,< Dan jangan salahkan saya kenapa alur ceritanya kayak begitu. Salahkan otak saya aja. Salahkan!! #plakk

Tapi terima kasih banyak bagi yang sudah membaca. Mind to leave your comment?