long journey 2

Author  : Sholasido

Title       : Long Journey

Cast       :   Sohee (Wonder Girls) as Ahn Sohee

G-Dragon (Big Bang) as Kwon Jiyong

Genre/ length   : Romance / Two Shoot

Disclaimer           : Sebatas nyewa nama, seluruh karakter dan ide cerita murni fiksi bikinan sendiri

A/N                        : Yup setingkat lebih maju, setelah sebelumnya hanya mampu bikin drabble, ficlet, n paling banter vignette sekarang akhirnya bisa bikin two shoot. Mungkin ada beberapa keluputan dari penulis tapi tetep, semoga ga ngecewain n jangan lupa, kritik n sarannya, kamsahamnida🙂

Twitter                 : @sholakhiyya

 

 

Aku menunggu Bora menutup kedainya untuk mendengarkan cerita selangkapnya. Setelah menunggu sekitar sepuluh menit akhirnya Bora keluar dari kedai kecil tempatnya kerja sambilan. Aku mengajaknya makan malam di sebuah restoran yang cukup mahal, aku yakin mahasiswa sepertinya jarang makan di tempat seperti ini, karena dulu aku pernah mengalaminya.

“Eonnie tidak perlu menraktirku di tempat seperti ini,”

“Gwenchana,”

Aku hanya menemaninya makan, tapi tidak ikut memesan makanan. Awalnya aku berniat menunggunya sampai selesai makan namun Bora lebih dulu membuka pembicaraan tentang Ahra.

“Ahra selalu mengagumimu Eonnie, ah anii… tidak hanya Ahra, tapi kami semua, terus terang aku masuk klub radio karena ada Eonnie,”

“Wae?” aku benar-benar jujur ingin tahu alasannya, tidak pernah ada yang mengagumiku sebelumnya

“Wae? Kenapa tidak Eonnie, siapa yang tidak mengagumimu, Eonnie cantik, pintar, dewasa dan… kau benar-benar keren,” aku tidak mengerti bagian mana dari diriku yang terlihat keren, “maksudku kau… kau sangat cool, tidak peduli dengan cemoohan orang, tidak pernah ikut menggosipkan sahabatmu, dan selalu kemana-mana sendirian, kau sangat dewasa Eonnie, sebuah panutan yang kami semua idamkan ” tunggu, jadi dimata orang tidak punya teman dan kesepian itu berarti keren?

“dan bersama Jiyong Oppa kalian benar-benar serasi,” aku tercengang mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Bora

“Eum… sebelumnya kami minta maaf, sebenarnya dibelakang Eonnie kami sering membicarakan kalian berdua, tapi hal itu membuat kami bahagia, Eonnie yang cool dan dewasa dengan Jiyong Oppa yang ceria dan konyol merupakan pasangan serasi dimata kami,”

“Ca.. camkkanman … siapa yang kau maksud kami?” entah mengapa sejak awal aku merasakan sesuatu yang tidak benar

“Tentu saja aku, Han Siyeon, Kim Juri, Ahra, Lee Yoon Hee, dan beberapa anak angkatan pertama lainnya,”

“Ahra?” tanyaku kaget

“Ya, Ahra paling semangat jika membicarakan kalian berdua, makanya dia sangat sedih ketika mendengar Jiyong Oppa wamil dan tidak bersama Eonnie lagi, padahal tidak lama lagi Eonnie akan lulus, dan mungkin… saat itu dia menyadari waktunya tidak lama lagi,”

 

Kenyataan apa ini, kenapa semua jadi rumit seperti ini, Jiyong bilang Ahra mencintainya, tapi kenapa Bora mengatakan….. ucapan siapa yang sebenarnya bisa dipercaya? Tapi Bora adalah sahabat Ahra, kecuali Ahra seorang munafik yang akan mengatakan segala omong kosong kepada sahabatnya.

Jalanan sudah semakin sepi ketika kami berdua memutuskan untuk berpisah, Bora meminta nomer teleponku agar bisa terus menghubungiku.

Aku memilih untuk langsung pulang ke apartemen dan tidak kembali lagi ke kantor. Keputusan meninggalkan pekerjaan dan menghirup udara segar ternyata justru menimbulkan kepeningan yang mendalam. Kepingan-kepingan yang terkumpul justru semakin memperumit keadaan, karena kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan.

Kenyataan bahwa Ahra tidak pernah mencintai Jiyong, Ahra yang mengira aku dan Jiyong sebagai pasangan kekasih, dan kematian Ahra akibat radang paru-paru yang begitu mendadak, bagaimana bisa aku mengatakan ini semua pada Jiyong?

Bijaksanakah jika aku membiarkannya mengetahui sendiri kenyataan ini? Ya, mungkin itu yang terbaik.

JJJ

 

Musim Dingin 2011

 

Sejak mengetahui semua kenyataan dari Shin Bora aku kembali menjaga jarak dengan Jiyong, aku tidak pernah lagi mengunjunginya, telepon darinya juga tidak pernah kuangkat. Hari ini adalah kepulangannya dari wamil, aku tidak tahu harus bagaimana menghadapinya nanti. Cepat atau lambat Jiyong pasti mencariku, aku yakin itu. Beberapa hari ini kuputuskan untuk menginap di apartemen salah satu teman kerjaku.

Aku memandang layar hand phone yang tak lagi menyala setelah selama dua hari kemarin tak henti-hentinya berdering. Dan hanya satu inisial yang menghiasinya, KJY, singkatan dari Kwon Jiyong. Waktu itu aku sedang terburu-buru dan Jiyong memaksaku mencatat nomer hpnya, alhasil hanya inisial namanya yang kutulis, dan tanpa sadar aku belum menggantinya sampai sekarang.

Aku hampir menjatuhkannya ketika hp ditanganku tiba-tiba bergetar menunjukkan adanya pesan masuk. Lagi-lagi dari KJY, awalnya aku sempat ragu untuk membukanya namun rasa penasaran dan khawatirku mengalahkannya.

Kau sudah tahu tentang kematian Ahra kan?

Sore nanti temui aku di tempat biasa

 

Apa yang kutakutkan? Bukan aku yang menyebabkan kematian Ahra, bukan aku juga yang membuat Jiyong bertepuk sebelah tangan, lalu kenapa aku harus menghindarinya?

Sore itu kuputuskan untuk menemui Jiyong  di tempat biasa kami sering bertemu dulu. Tidak seperti biasanya, kali ini Jiyong akhirnya sudah lebih dulu sampai dan menungguku. Jadi seperti inikah pemandangan ketika diriku dulu menunggu Jiyong? Tampak lemah dan menyedihkan, pantas saja Jiyong senang sekali mengolok-olokku.

Jiyong mendongak ketika menyadari keberadaanku yang semakin dekat dengannya. Tak tampak senyum yang selalu menghiasi wajahnya. Mantel hitam itu juga sangat tidak cocok dengannya yang selalu tampil cerah.

“Kenapa tidak memberitahuku?” tanyanya kemudian, setelah aku duduk disampingnya

“Aku juga baru tahu,” jawabku jujur

“Kemana saja kau? Apa yang kau lakukan? Sudah kubilang untuk menjaga dan mengawasinya, aku tidak main-main saat mengatakannya!” baru kali ini Jiyong memarahiku, aku pernah beberapa kali melihatnya marah kepada orang lain tapi sekali pun tidak pernah ia marah kepadaku.

Satu hal yang tidak pernah kau mengerti dariku Jiyong-ah, sekali kau mencoba menekanku, maka semakin kuat pertahananku. Sampai kapanpun kau tidak akan pernah bisa mengintimidasiku jika begini caramu.

“Berapa upah yang mampu kau berikak hah?” jawabku tenang

“Kenapa dari awal kau tidak mengatakan kalau kau butuh upah? Aku akan membayarmu berapa pun kau minta!”

“Mungkin harusnya dari awal kau menyewa detektif yang bisa mengawasinya selama dua puluh empat jam penuh,”

“Teganya kau,” aku mendengus mendengarnya

“Kau tahu kenapa aku buru-buru ikut wamil?” aku memalingkan muka tak peduli

“Agar aku bisa menunda kuliahku dan kembali dua tahun lagi untuk bisa satu kelas dengan Ahra, aku akan kerja sambilan sambil menyelesaikan tahun terakhir kuliahku bersamanya, setelah lulus aku berencana menikahinya,”

Teganya kau, tidak cukupkah kau menghukumku dengan menyalahkah kematian Ahra padaku, dan sekarang mengatakan semua rencana masa depanmu bersamanya?

Satu kalipun aku tidak berani memandang muka Jiyong, aku yakin mata ini sudah basah oleh air mata yang tiba-tiba menguar. Berkedip pun aku tak berani, takut air mata ini akan tumpah nantinya.

“Aku mempercayaimu Sohee-yah, kau satu-satunya sahabat yang benar-benar mengerti diriku. Seandainya kau menjaganya aku pasti tidak akan terlambat, setidaknya aku bisa menemuinya untuk menyatakan perasaanku, tapi sekarang semuanya sudah berakhir, ia sudah pergi, apa yang harus kulakukan?”

Aku tidak sanggup lagi mendengarnya. Getar dalam suaranya menunjukkan segalanya, kesedihan yang teramat dalam. Akhirnya kuputuskan untuk meninggalkannya sendirian di tengah salju yang turun semakin deras.

Semoga salju ini bisa mendinginkan amarahmu, memberi sedikit kesejukan pada hatimu.

Inikah akhir dari segalanya? Sejak mengetahui ketertarikannya pada Ahra, aku sudah memutuskan untuk melupakannya, tapi kenapa ia selalu menyerertku masuk dalam kehidupannya? Apa tujuannya sebenarnya?

Kuharap kali ini kau benar-benar bisa melepaskanku Jiyong-ah.

JJJ

 

Musim Gugur 2012

 

Seindah apapun negeri tetangga, negeri sendiri memang lebih baik, berdasar ungkapan tersebut, akhirnya kuputuskan untuk pulang ke kota kelahiranku Busan. Aku sudah mendapat banyak ilmu di Seoul dan sudah saatnya memanfaatkannya untuk memajukan kota tercintaku.

Aku sedang membereskan pakaianku ketika suara ketukan pintu terdengar. Kutinggalkan kegiatanku dan beranjak untuk membuka pintu, dan betapa terkejutnya aku ketika yang berkunjung adalah… Jiyong.

“Annyeong…” katanya sambil tersenyum simpul

“Annyeong,”

“Bagaimana kabarmu?”

“Seperti yang kau lihat, ada apa?” kataku tanpa mempersilahkannya masuk

“Kudengar kau akan pulang ke kampung halamanmu dan… tidak kembali,” aku mengangguk mengiyakan

“Apakah karena aku?” aku mendengus tak percaya

“Anii,”

“Dengarkan aku Sohee-yah, aku… aku menyesal telah melimpahkan kesalahan itu padamu, aku benar-benar minta maaf, saat itu aku sangat terpukul, jadi kumohon-“

“Anii, kubilang ini bukan karenamu, aku tidak bisa selamanya disini, keluargaku, semuanya ada di Busan,” kataku jujur, aku menunggu sampai ia mengatakan sesuatu

“Begitu..” entah kenapa aku seolah melihat raut kekecewaan, “kalau begitu, mau kubantu membereskan?” jika bukan karena cerita persahabatan masa lalu kami, aku pasti sudah mengusirnya.

Aku mempersilahkannya masuk, dan itu cukup untuk membuatnya senang.

“Whoa…. Sohee-yah aku baru tahu kalau kau penggemar Linkin Park,” beberapa poster LP memang terpajang di apartemenku, aku menjadi penggemar beratnya sejak album Meteora.

Meskipun sudah bertahun-tahun kami bersama, tak sekali pun kuijinkan Jiyong memasuki apartemenku, pengecualian untuk kali ini karena kurasa ini akan menjadi kali pertama dan terakhir.

“Memangnya apa yang kau tahu dariku?”

Aku hanya menjawabnya sambil lalu tapi ternyata begitu membekas di pikiran Jiyong, untuk beberapa lama ia hanya terdiam mengamati apartemenku, aku membiarkannya saja dan melanjutkan aktifitasku.

“Kau benar Sohee-yah, apa yang sudah kutahu darimu? Aku bahkan tidak tahu makanan kesukaan ataupun warna favoritmu, kenapa kau tidak pernah mengatakan semua itu padaku?” seolah telah merenungkannya, pikiran-pikiran tersebut tiba-tiba muncul di benak Jiyong

“Karena kau selalu bicara dan tidak pernah mendengar ataupun memperhatikan,”

“Kau kan bisa menyelanya, atau setidaknya-“

“Kau benar-benar tidak mengenalku ya Kwon Jiyong, dan kau masih berani menganggapku sahabat?” sebuah kalimat dariku tersebut ternyata mampu membungkam mulutnya.

Kami membereskan barang-barang dalam diam, agak membuatku jengah karena Jiyong tidak pernah bertahan lebih dari lima menit jika kusuruh diam. Sebisa mungkin aku menghindar darinya, tidak berada di satu ruangan yang sama dengannya. Aku membereskan beberapa pakaian di ruang tidur dan Jiyong membereskan buku-bukuku di gudang.

“Sohee-yah seberapa dekat kau dengan Ahra?” aku tertegun mendengarnya, apakah Jiyong kesini hanya untuk mengorek tentang Ahra?

“Hanya senior dan ju-“

“Kalian bahkan saling meminjamkan buku catatan?” aku mendongak dan mendapati Jiyong sudah berada di pintu kamarku dengan sebuah buku di tangannya

“Bahkan orang awam pun akan meminjamkan bukunya jika ada yang meminta,” kataku wajar

“Jadi Ahra meminjam buku ini darimu?”

“Iya, musim gugur beberapa tahun yang lalu, kurasa dia memerlukannya untuk rekap ulang, dia sekretaris klub radio,” aku benar-benar tidak mengerti ke mana arah pembicaraannya.

“Kau tahu Sohee-yah, musim gugur beberapa tahun yang lalu, aku tidak sengaja menabrak Ahra dan menjatuhkan buku-bukunya, waktu membantu memungutinya, aku melihat dengan sangat jelas tulisan tangan itu di buku sampul kulit ini,” Jiyong menunjukkan tulisan I Love You KJY yang kutulis asal-asalan untuk mengisi kebosananku saat rapat klub. Apa yang harus kulakukan? Aku benar-benar tak sadar waktu menulisnya, karena kupikir tak ada orang lain yang menyentuh buku itu kecuali diriku.

“Oh.. aku tidak tahu dia menuliskannnya disana,” jawabku mencoba menyanggah.

“Kupikir semua orang pasti sudah mengenal Ahn Sohee, dan gadis seperti Ahra tidak akan berani mencorat-coret catatan pribadi seorang Sohee,” Ya Tuhan, kenapa disaat seperti ini otaknya bisa bekerja ekstra?

Jiyong kini melangkah masuk dan tepat berada di belakangku.

“Ini tulisanmu Sohee-yah,” katanya memastikan, seolah ingin benar-benar memojokkanku

“Ya, itu tulisanku, lalu kenapa? Itu tidak ada hubungannya denganmu,” aku mencoba mengalihkan perhatian dengan kembali menyibukkan diri menata pakaianku

“Tak ada kau bilang?”

“KJY, kau tidak berpikir itu dirimu kan?” aku berusaha berpikir secepat mungkin

“Lalu siapa?”

“Sejak kapan kau begitu peduli dengan urusanku?”

“Sejak aku bertemu denganmu,” aku mendengus mendengarnya

“Kim Jae Yoo,” hanya itu nama yang terpikirkan olehku

“Aku tidak pernah tahu kau memiliki teman,”

Sialan kau Jiyong, bagaimana aku menjawabnya? Kalau kau bilang tidak memiliki teman bernama Kim Jae Yoo aku masih bisa berdalih, tapi ini?

“Tentu saja pu-“

“Tentu saja punya, dan dia adalah Kwon Jiyong,”

Skak mat! Aku tidak tahu harus menyanggah seperti apa lagi, aku hanya diam membelakanginya.

“Kenapa kau membuatku seperti bad boy Sohee-yah? Bagaimana kau bisa menahannya selama ini?”

Aku memutar badanku dan menatap lekat lelaki di depanku

“Sudahlah, itu sudah sangat lama, tidak ada pengaruhnya sama sekali,”

“Ada,”

“Apa? Kau pikir orang akan jatuh cinta hanya karena melihat tulisan itu Jiyong-ah?”

“Itulah yang kurasakan pada Ahra,”

“Kau salah, kau sudah lebih dulu menyukainya, kau hanya tinggal mendapat kepastian untuk meyakinkan perasaanmu,”

“Tak ada bedanya dengan perasaanku saat ini,”

“PERSETAN DENGAN PERASAANMU!!” Aku benar-benar sudah lepas kendali

“Jiyong-ah kumohon pulanglah…”

“Kumohon… tetaplah disisiku,”

JJJ

 

 

Di mana kau?

Di bus menuju Busan

Kau gila!

 

Aku mematikan hand phoneku berharap tidak lagi mendapat pesan darinya yang hanya akan membuatku ragu untuk pulang ke kampung halaman. Sudah kuputuskan untuk pulang ke Busan, tak ada seorang pun yang bisa menghalangi, tidak juga Jiyong.

Apakah aku kabur? Mungkin saja, tapi kurasa tidak juga, sekarang Jiyong sudah tahu perasaanku, dan bukankah aku juga sudah menghadapinya?

Ataukah… tanpa kusadari aku meminta sedikit pengorbanan darinya? Hukuman karena selama ini selalu membuatku sakit hati? Entahlah… Kita lihat saja nanti, seperti apa akhir dari perjalan cintaku ini.

Setelah sekitar tiga setengah jam perjalanan, akhirnya sampai juga ke kampung halamanku. Aku memilih menaiki bus karena ingin menikmati pemandangan di sepanjang jalan yang sudah lama aku rindukan. Sudah setahun lebih aku tidak pulang, orang tuaku juga tidak pernah memaksaku pulang, rasanya sangat canggung kembali lagi kerumah setelah bertahun-tahun meninggalkannya.

Kuputuskan untuk mampir dulu ke kedai kopi sebelum pulang kerumah. Kopi selalu bisa menenangkanku, dan saat ini aku sangat membutuhkannya untuk menghadapi orang tua dan keluargaku dirumah.

Aku tak peduli pada pandangan orang lain tapi ini keluargaku, satu-satunya yang peduli padaku, yang mau mengerti dan menerimaku, bagaimanapun aku ingin terlihat membanggakan di mata mereka.

Capuccino please,” pintaku kepada seorang pegawai pria yang tampak sibuk di depan meja kasir.

“Nee,” Sambil menunggu, aku melihat-lihat kue-kue di lemari kaca di samping meja kasir

“Akhirnya sampai juga, kau tahu hampir satu jam aku menunggumu disini,” aku mendongak memandang pekerja yang kupikir berbicara denganku, tapi ternyata dia masih sibuk melakukan pekerjaannya

“Sohee-yah,” aku menoleh dan akhirnya menemukan sumber suara yang memanggilku tidak jauh dibelakangku

“Apa yang kau lakukan disini???” aku benar-benar terkejut melihat Jiyong sudah berdiri di depan mataku dengan penampilan yang cukup berantakan

“Menunggumu,”

“Mwo? Bagaimana mungkin?”

“Aku kehabisan tiket pesawat, untungnya masih sempat mengejar kereta terakhir,” untuk beberapa detik aku hanya bisa memandangnya ngeri.

“Pabo ya! Sudah berapa lama kau menungguku?” udara diluar sangat dingin, dan dia hanya mengenakan jaket tipis.

“Tidak selama, kau menungguku,” aku tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa padanya

“Tunggu… bagaimana kau tahu aku disini?” Jiyong tampak tersenyum simpul, senyum yang sudah lama tidak kulihat

“Itulah yang mengejutkanku, anehnya, aku ingat sekali bahwa seorang Ahn Sohee yang selalu percaya diri bahkan saat presentasi di depan ribuan mahasiswa satu kampus, selalu gugup jika menghadapi keluarganya sendiri, dan hanya kopi yang bisa menenangkannya, jadi kuputuskan untuk mencari kedai kopi terdekat dari rumahnya dan menunggunya disana,” katanya penuh percaya diri, aku hanya tercengang mendengarnya

“Ta.. tapi-

“Maaf capuccinonya?” aku menoleh ke arah pegawai yang mengulurkan kopi pesananku dan segera membayarnya.

Aku menyambar tangan Jiyong, dan mencari tempat duduk kosong di kedai itu.

“Apa maumu?” tanyaku kemudian

“Kau,” jawabnya singkat

Lama aku menunduk terdiam, seolah memberi kesempatan untuk memikirkan jawabanku, dengan sabar Jiyong menunggu tanpa berkata apa-apa.

“Aku sudah disini Jiyong, aku tidak bisa kembali ke Seoul begitu saja,” kataku pada akhirnya

Inilah keputusanku, aku tidak bisa membiarkan orang sinting ini bertindak lebih gila lagi

Awalnya Jiyong tampak kebingungan mencerna kalimatku, namun kemudian ekspresi Jiyong berubah kegirangan, seolah telah menemukan harta karun. Aku hanya bisa tersenyum miris melihatnya, kenapa tidak dari dulu kukatakan perasaanku padanya, pasti dia tidak akan semenderita ini, dan jauh di dalam lubuk hatiku, aku benar-benar merasa bahagia.

“Tentu saja, untuk apa buru-buru ke Seoul, lagi pula ada sesuatu yang harus kubicarakan dengan Appa, Eomma mu,” katanya kemudian, setelah akhirnya berhasil mengendalikan diri

“Mwo? Apa maksudmu?” Jiyong mengambil koper dari tanganku dan beranjak meninggalkan kedai

“Sohee-yah, aku tidak mau dibilang mencuri anak gadis orang, setidaknya aku harus memberi salam kepada calon mertuaku hehe,”

“Yah Jiyong-ah  Camkkanman, KWON JIYOOOONG!!!”

 

End

 

Hoho… anehkah? Anehkah? Saia berjuang sekuat tenaga buat nyelesein cerita nista ini dan akhirnya rampung juga. Mianhae jika endingnya ternyata tidak sesuai dengan harapan cingu, ide saia beloknya kesitu, jadi kalo kurang puas silahkan di bayangkan sendiri, hehe.

Plis kritik dan sarannya, kamsahamnida