My heart I give to you

Author :Uisaokke

Cast   :

Lead Male     : Kwon Ji Yong( G-Dragon/ 18 y.o)

Lead Female  : Ji Sia (OC/ 17 y.o)

Side Cast       :

–       Kwon Family (Kwon Appa/Kwon Omma/Kwon Dami)

–       Se7en/T.O.P/Taeyang as Kwon Ji Yong’s bestfriends

–       Seungri/Daesung as Sia’s bestfiends

–       Kiko Mizuhara as Sia’s rivals/Kwon Ji Yong’s girlfriends

–       Nicole as Daesung girlfriends

–       UEE as Seungri girlfriends

–       Gummy as Japanese sensei

–       Ji Shato & Ji Shina (OC/Sia’s parents/Death)

–       Yang Tsuna & Yang Jira (OC/Bestfriends of Ji & Kwon family)

WARNING RATE    : M/NC-21/Rape scene (LEMON)

Genre                         : Angst/Hurt & Comfort

Length                       : One-shoot

Disclaimer                : Fanfic ini hasil Remake of my 1st fanfiction di Fanfiction.net ‘Give Me Your Heart’ YAOI pairings of Sasuke><Naruto (Original story of sasunaru’s anatomy).

WARNING & NOTE ! 

Para readers yang baik sebelum membaca fanfic saya yang satu ini harus lihat WARNING RATE (M/NC-21/Rape Scene/LEMON) !!Jadi, kalau mau baca harus persiapan dulu ya soalnya bahasa sangat hardcore sekali! dan kalau masih ada yang nekat baca saya gak bertanggung jawab apapun yang nanti akan terjadi, ya! Resiko tanggung sendiri-sendiri ^_^v

Tips : kalau mau tetap baca & gak mau liat scene LEMONnya… di-ignore aja! Soalnya ada pemberitahuan WARNING LEMON SCENEdan diakhiri END OF LEMON

~My Heart I Give To You~

Pagi hari yang cerah di kediaman keluarga Kwon, suasana yang tenang dan damai tiba-tiba menjadi ramai oleh pertengkaran antara seorang anak laki-laki dengan seorang anak perempuan yang memecahkan keheningan rumah yang mewah itu.

“Hei, Sia… bawa tasku ke bawah!”

“Aku bukan pembantumu tau! Memangnya kamu gak punya tangan ya, Ji Yong?”

“Kamu itu disini tinggal gak gratis, Sia!”

“Ji Yong… siapa bilang aku tinggal disini gratis, hah!Kalo gak menghormati Ahjushi dan Ahjumma sudah ku bunuh kau, Ji Yong!”

“Hn… memangnya seorang Sia bisa membunuh Ji Yong yang kau cintai ini, HAH?!”

“KAU… orang yang paling menyebalkan Ji Yong!”

XXX

Diruang makan, semua keluarga Kwon berkumpul, yaitu sebagai kepala keluarga, Kwon appa dan ibu rumah tangga, Kwon omma. Kemudian ada KwonDami, anak tertua dalam keluarga Kwon berumur 20 tahun dan anak kedua dalam keluarga Kwon berumur 18 tahun yaitu Kwon Ji Yong dan yang terakhir, Ji Sia adalah anak adopsi keluarga Kwon berumur 17 tahun, Sia tetap memakai nama keluarga aslinya.

Keluarga Kwon adalah keluarga yang paling terhormat di Seoul.Mereka memiliki perusahaan terbesar ke tiga setelah keluarga Yang dan keluarga Park.Pada saat 17 tahun yang lalu, keluarga Kwon memiliki hubungan persahabatan dengan keluarga Ji yang pada saat itu merupakan keluarga terkaya no. 4 setelah Keluarga Kwon.Namun, keluarga Ji mengalami musibah, yaitu 16 tahun yang lalu terjadi perampokkan besar dikediaman mereka.Sehingga menyebabkan Ji Shato dan Ji Shina meninggal saat melindungi anak mereka yaitu Ji Sia. Sebelumnya Ji Shina, ibunya Sia, pernah meminta kepada Kwon omma untuk melindungi, menjaga dan merawat Sia karena hanya keluarga Kwon lah orang kepercayaan mereka.

Kwon omma dan Kwon appa menganggap Sia sebagai anak mereka sendiri. Mereka sama sekali tidak membeda-bedakan antara Sia dengan kedua anaknya. Kwon omma malah sangat memanjakan Sia, Sebenarnya sejak masih dalam kandungan, Kwon omma dan Ji Shina ingin sekali menjodohkan anak mereka.Sejak kecil, Kwon omma berusaha menjodohkan Sia dan Ji Yong agar mereka timbul perasaan cinta tapi hal tersebut malah membuat Ji Yong bersikap dingin dan tidak peduli kepada Sia, sedangkan Sia sejak awal memang menyukai Ji Yong. Sia juga berusaha untuk menjadi seorang yang dicintai oleh Ji Yong namun itu sangat tidak mudah. Malahan Ji Yong mengganggap Sia seperti pembantu padahal sebenarnya Sia melakukan semua pekerjaan rumah untuk bisa menjadi istri yang baik buat Ji Yong.

“Appa, omma… aku pergi dulu…” Kata Ji Yong.

“Iya.” Jawab Kwon appa dan Kwon omma bersamaan, lalu disusul oleh Dami yang akan pergi kuliah dan Kwon appa yang akan pergi kerja, kemudian baru Sia.

“Ahjumma… Sia pamit dulu ya pergi ke sekolah…”

“Iya, Sia. Tunggu sebentar, tolong berikan bekal ini ke Ji Yong ya! terus ini bekal mu… hati-hati ya!”

“Iya, ahjumma. Makasih ya bekalnya pasti ku makan. Bekal untuk Ji Yong juga akan ku antarkan.”

Sia pun keluar rumah dan bergegas menuju stasiun kereta yang tidak jauh dari rumah kediaman keluarga Kwon. Sebenarnya ini sudah agak terlambat, pasti kereta akan penuh, ramai dan sesak. Sebenarnya ia bisa saja pergi ke sekolah bersama Ji Yong yang memakai mobil pribadinya tetapi karena sepertinya Ji Yong tidak rela memberi tumpangan, yah apa boleh buat, naik kereta sajalah. Jadi, Sia harus naik kereta deh tiap pagi padahal sekolahnya elit banget lho hampir semua muridnya bawa mobil dan motor. Jarang banget ada yang naik bus ataupun kereta seperti Sia.Sia sebenarnya bisa membeli mobil dengan peninggalan harta dari orang tuanya. Namun ia pikir lebih baik dipakai untuk membiayai sekolahnya sampai tinggi dan hingga ia sukses agar bisa membalas kebaikan keluarga Kwon yang selama ini merawatnya.

Sia akhirnya sampai juga di stasiun dan langsung membeli karcis kemudian naik ke kereta yang sudah penuh dan sesak.Perjalanan dari kediaman keluarga Kwon sampai ke sekolah menggunakan kereta kurang lebih 15 menit.Sia berusaha untuk bertahan agar tidak terjatuh dan mencoba untuk menjaga napasnya supaya tidak kehabisan napas karena sesak. Setelah 15 menit, akhirnya ia bisa keluar juga dari kereta yang sumpek itu dan berlari ke arah sekolahnya yang lumayan dekat dari stasiun sambil melihat jam ditangannya. 5 menit lagi pintu gerbang sekolah akan ditutup dan bel masuk pun akan berdentang.

Ia berusaha berlari dan selamat sampai di sekolah. Belum cukup melewati gerbang sekolah, ia harus segera masuk ke kelas. Untung sekali ia datang bertepatan dengan bunyi bel berdentang. Dengan langkah gontainya, ia berjalan menuju tempat duduknya dan berusaha untuk menyelaraskan napasnya kembali. Keringatnya bercucuran.’Lumayanlah, olahraga’ pikir Sia.Ya, olahraga.Olahraga yang menjadi rutinitasnya setiap pagi. Dengan kata lain, setiap hari ia terlambat.

~0~

Seungri dan Daesung adalah sahabat Sia yang paling sejati mau dalam keadaan susah ataupun senang mereka selalu ada untuk Sia. Mereka juga tau semua tentang masa lalu Sia yang pedih dan juga rasa cinta tak berbalas Sia kepada Ji Yong yang menurut mereka sangat berlebihan.Sia memang sering sekali menjadi bahan lelucon Ji Yong, dan pasti menurut orang waras yang melihat kejadian itu, beranggapan bahwa Ji Yong sangat kejam dan menyebalkan.Sia memang mencintai Ji Yong, namun ia sama sekali tidak menyadari kalau itu membuat sahabatnya terluka melihat Sia yang terlalu mudah memaafkan kelakuan Ji Yong yang kasar kepadanya dan mempermalukannya didepan orang. Sia dan Ji Yong memang sering bertengkar namun Sia yang selalu mengalah.Seungri dan Daesung ingin sekali menjauhkan Sia dari Ji Yong dan menyadarkannya kalo Ji Yong tidak pernah mencintainya, Ji Yong hanya bisa menyakitinya.

“Sia, hari ini kau keliatannya sangat capek…” kata Seungri.

“Hew… seperti biasa aku lari…” jawab Sia ngos-ngosan.

“APA? Kau lari dari rumah sampai sekolah?” Tanya Daesung kaget.

“Duh, lebai banget sih…Siapa yang bilang lari dari rumah sampai sekolah? Aku hanya bilang lari tepatnya dari stasiun sampai sekolah… untung masih keburu… fiuh…” jawab Sia sambil menghela napas.

“Ohh…”

Gummy sensei masuk ke dalam kelas, perbincangan mereka berakhir dan pelajaran pun dimulai. Selama pelajaran Sia berusaha untuk konsentrasi tapi jantungnya agak morat-marit nih, belum bisa terkendali seperti biasanya. Keringatnya pun keluar.Gummy sensei yang dari tadi memperhatikan Sia kemudian bertanya kepada Sia tentang keadaannya.  .

“Sia,apa kau sakit? Mukamu terlihat pucat.Kalau kau sakit, kau boleh ke ruang UKS sekarang.” Spontan semuanya melihat ke arah Sia yang memang terlihat pucat.

“Gak apa-apa kok, Sensei.”Ucap Sia dan Gummy pun melanjutkan pelajaran.akhirnya sedikit demi sedikit, keadaan tubuh Sia pun kembali normal.

Saat istirahat tiba, Sia mengambil bekal Ji Yong dan mengantarkannya ke kelas Ji Yong yang ada disebelah kelasnya dengan wajah yang amat riang sedangkan Seungri dan Daesung pergi ke kantin untuk beli makanan.Sia mencari-cari Ji Yong, disana ia melihat Ji Yong sedang mengobrol dengan Kiko, gadis yang paling cantik disekolah. Sia pun agak sedikit jealous tapi apa mau dikata Ji Yong memang pantas kok sama Kiko. Kiko melihat kearah pintu kelas dan disitu sudah bertengger Sia yang membawa bekal. Kiko tau kalo Sia itu salah satu fans Ji Yong jadi bekal itu pasti buat Ji Yong. Jadi Kiko mencoba untuk bermesraan dengan Ji Yong agar Sia membatalkan niatnya untuk memberikan Ji Yong bekal.

“Ji Yong, hari ini kamu ada acara gak? aku ingin memperkenalkan mu dengan orang tuaku, jadi maukan setelah pulang sekolah kau main kerumah ku? Mau ya Ji Yong? Please! ” tanya Kiko dengan puppy-eyesnya dan tidak lupa memegang tangan Ji Yong.

“Hn.”Jawab Ji Yong yang artinya setuju.

“Oh, terimakasih ya Ji Yong” Kata Kiko gembira dan lalu mencium pipi Ji Yong.

Sia yang melihat adegan itu sangat cemburu, marah, kesal dan juga sedih.Ia pun masuk tanpa permisi dan meletakkan kotak bekal didepan meja Ji Yong dengan kerasnya sehingga membuat Ji Yong dan Kiko kaget. Untuk Ji Yong ekspresi kagetnya datar.

“Hei, Kau ini siapa sih? Gak usah gitu dong ngasihnya?” Tanya Kiko marah.

“Sia sedang apa kau dikelasku, HAH?” Tanya Ji Yong yang keliatan marah dan memasang tatapan yang mematikan sehingga Sia menunduk.

“Itu bekalmu dari Ahjumma!” jawab Sia singkat dan berjalan keluar kelas Ji Yong.Sebelum sampai ke pintu Sia mendengar percakapan Kiko dan Ji Yong.

“Siapa orang itu, Ji Yong? Kau kenal dengan dia?” tanya Kiko sambil mengelus-ngelus dadanya gara-gara kaget. Ji Yong pun tanpa ekspresi menjawab, “Sia itu pembantuku.”

Saat mendengar hal itu Sia sudah tidak bisa menahan emosinya, ia pun berbalik dan menuju tempat duduk Ji Yong dan memukul meja ditempat Ji Yong dan Kiko berada.

“HEI… KWON JI YONG! Aku bukan pembantu mu dan JANGAN PERNAH memanggilku pembantu… AKU MEMBENCI MU…” Teriak Sia penuh kemarahan dan bergegas keluar.Ji Yong belum pernah melihat Sia semarah itu kepadanya. Biasanya dirumah, jika Sia marah, terakhirnya ia pasti selalu bilang ‘AKU MENCINTAIMU, JI YONG!’. Tapi belum sekali pun ia pernah bilang benci kepada Ji Yong. Ji Yong melihat wajah Sia yang merah padam dan terlihat seperti akan menangis. Tentu saja Sia menahan dengan menggunakan berbagai jurus agar air matanya tidak jatuh.

“Apa-apaan sih, cewek itu membentak mu seperti itu? Kau gak apa-apakan, Ji Yong? Hem… jangan-jangan dia itu salah satu fans kamu, ya? Udah gak usah dipikirin nanti dia juga bakal mendapatkan ganjaran yang setimpal kok” kata Kiko sambil menggenggam tangan Ji Yong.

“Kiko, apa kau bisa diam sebentar! Kau itu wanita yang paling cerewet yang pernah ku kenal! Bisa menyingkir dari tempat dudukku?! Kau mengganggu!” Kata Ji Yong dengan tatapan yang amat sangat dingin.

Kiko pun menganggukkan kepalanya dan pergi ketempat duduknya.Ji Yong mulai membuka bekal dari Kwon omma dan memakannya.Bekal itu udah hancur gara-gara tadi Sia menaruhnya sangat kencang diatas meja.Ia sama sekali gak menghiraukan teman-temannya yang ribut dikelas. Taeyang, T.O.P dan Se7en menghampiri Ji Yong… dan mulai mengobrol… mereka adalah sahabat Ji Yong ya dari keluarga kaya semuanya… mereka berempat sering hang out bareng ke berbagai bar-bar yang terkenal atau juga ke diskotik. Ji Yong kadang-kadang ikut tapi dia termaksud anak baik jarang pergi ketempat seperti itu ya… satu dua kali boleh kan?

“Ji Yong, kau terlihat murung… ada apa dengan Kwon yang satu ini?” tanya Taeyang.

“Entahlah, hei, Ji Yong… kau kenapa?” tanyaT.O.P.

“Hn… kalian ini berisik gak liat apa orang lagi makan.”Jawab Ji Yong dingin.

“Ji Yong, kau taukan si pembantu mu itu?”tanya Taeyang.

“Jangan panggil Pembantu!Karena hanya aku aja yang boleh manggilnya dengan sebutan pembantu!”Jawab Ji Yong marah.

“Iya…iya siapa nama pembantumu itu? Si…Si…siapa?” Tanya Taeyang.

“Sia.”Jawab Ji Yong singkat.

“Iya… Sia… gimana kalo kita ngerjain dia?Kita kan butuh mainan baru, bukan begitu, Ji Yong?” usul Taeyang.

“Memang kalian mau ngerjain dia kaya gimana?” tanyaJi Yong.

“Hem, gimana kalo dia kita jadiin bahan lelucon satu sekolah dengan cara mempermalukan dia… kamu memaki dia didepan umum gimana? Keren bangetkan ide ku…” jawabTaeyang

“Hn… boleh juga… kapan?”tanyaJi Yong

“Ya…sekaranglah… katanya satu jam ini gak ada sensei mereka rapat dan kita bisa bebas ngerjain dia… itu cukup banget, satu jam lagi…” jawab Taeyang.

XXX

Sia kembali ke kelasnya, ia mencoba untuk menahan airmatanya. Ia memakan bekalnya namun rasanya ia sama sekali tidak lapar. Untung ada Seungri dan Daesung disampingnya.Seungri dan Daesung mengajak Sia ke kelasnya Nicole dan UEE.Mereka adalah teman-teman yang baik.UEE adalah pacarnya Seungri sedangkan Nicole adalah pacarnya Daesung. Walaupun begitu Sia disini gak akan jadi kambing conge. Mereka mengobrol di kantin dan pas di kantin, Ji Yong dan teman-temannya datang kemeja Sia dan pada saat itu Sia sedang melihat ke luar jendela.Sia gak sengaja menumpahkan jus jeruknya ke baju Ji Yong.

“Ah, Mianhaeyo, Mianhaeyo…”kata Sia sambil menundukkan kepala.

“Hei, kau ini gak punya mata ya lihat baju Ji Yong jadi kotor!” teriak Taeyang.

“Hah, Ji Yong… maaf…”kata Sia sekali lagi.

“Sia, kau sedang melihat kemana sih? Kau ini menyebalkan! Seumur hidup ku kau terus saja mengganggu ketenangan ku!”

“Ji Yong, aku gak sengaja dan lagi pula ngapain kamu dekat-dekat meja aku, HAH?”

“Sia, kau! Kau yang bersalah…! Kenapa kau tidak ikut enyah dengan keluargamu, hah?kau merasa senang di atas rasa kesal orang lain?kau ini benar-benar orang yang paling menyedihkan diseluruh dunia! Pantas orang tuamu meninggalkan mu! Kau pantas untuk ditinggalkan karena kau orang yang paling menyusahkan, kau tahu itu! Orang tuaku memungutmu cuma karena kasihan kepadamu! Mulai saat ini jangan pernah menampakkan mukamu didepanku dan ingat satu hal jangan pernah berbicara dengan ku lagi karena suaramu memecahkan gendang telingaku, MENGERTI KAU SIA!! Dan satu hal lagi seumur hidupku aku tidak akan pernah mencintaimu… jangan terlalu berharap!” Bentak Ji Yong penuh kemarahan dengan gaya cool nya yang sedingin kutub utara.

Seketika tubuh Sia membeku mendengar perkataan Ji Yong yang barusan… ia jadi berpikir bahwa yang dikatakan oleh Ji Yong tadi memang adalah dirinya yang telah lama ia sadari namun ia mencoba untuk menutupinya dengan menjadi orang yang selalu ceria, gembira dan cerewet.

‘Ternyata aku seperti itu, ya.’ pikir Sia.Ji Yong pun pergi keluar kantin menuju toilet… bajunya jadi kotor dan lepek.

‘Semua ini gara-gara, Sia!’ pikir Ji Yong.

Taeyang, T.O.P, dan Se7en mengikuti Ji Yong ke Toilet dan disana mereka pun langsung membahas tentang permasalahan tadi.

“WAW… daebak… Ji Yong… kau sukses besar mempermalukannya didepan semua orang… tapi apa itu gak kelewatan Ji Yong? Kau membawa-bawa orang tuanya yang sudah meninggal…” Kata Taeyang

“Menurutku ini bukan sekedar mempermalukannya tapi ini curahan hatimu ya Ji Yong…? tadi kulihat ekspresi wajahnya Sia sangat terluka… ini bukan main-main lagi, Taeyang! Ji Yong, kau harus segera minta maaf kepadanya…” Tambah Se7en.

“Iya… aku setuju dengan Se7en. Kau harus minta maaf kepadanya kalo merasa gengsi, bisa minta maaf dirumah kan.” Saran T.O.P

“Sudah diam saja!Ini usul kalian bukan?Aku tidak akan pernah menarik lagi ucapanku… aku mau pulang…bilangin aku izin!” balas Ji Yong.

XxxX

Sejak kejadian itu Sia sama sekali tidak berbicara bahkan menampakkan wajahnya didepan Ji Yong. Dirumah ia hanya keluar untuk membantu Kwon omma di dapur menyiapkan makanan setelah itu ia kembali ke kamar. Sia juga meminta Kwon omma untuk tidak memaksanya makan dimeja makan bersama dengan yang lain dengan alasan mau belajar karena ada test di sekolah. Kwon omma pun mengizinkannya.Hari-hari Ji Yong benar-benar damai dan tentram di rumah maupun di sekolah karena Sia tidak berlalu lalang. Setiap Kwon ommanya menitipkan bekal kepada Sia selalu orang lain yang mengantarkannya. Sia merasa Ji Yong tidak ingin melihatnya.Sia bisa bersikap seperti biasa didepan teman-temannya.Ia bilang tidak terpengaruh oleh ucapan Ji Yong waktu itu kepada teman-temannya. Sebenarnya, Sia sangat terluka.Setiap pulang ke rumah, ia selalu saja berlari ke kamar dan mengunci diri. Kwon omma tadinya khawatir tapi ia memutuskan untuk tidak ikut campur. Ia juga merasa aneh. Biasanya Ji Yong dan Sia selalu bertengkar hingga sulit dipisahkan, membuat rumah ini menjadi ramai dan gaduh, namun sejak hari itu rumah ini menjadi sepi, sunyi dan seperti ada yang hilang.

Sia selalu menangis dikamarnya dan terus menangis mengingat semua perkataan Ji Yong. Semua itu benar… sebagai penghibur dukanya, ia menuangkan kesedihannya dalam buku diary yang selalu ia tulis sejak umur 6 tahun.

XXX

Dear, diary…

Sia,5 April

Kutulis di kertas mu ini bagaimana hancurnya hatiku… ketika ia mengatakan sesuatu yang sangat menyakitkan. Bagai beribu-ribu tamparan diwajahku dan bagai beribu-ribu kunai yang menusuk hatiku… perkataannya benar-benar menyakitkan hatiku…

“Sia… kau! Kau yang bersalah…! Kenapa kau tidak ikut enyah dengan keluargamu, hah?kau merasa senang di atas rasa kesal orang lain?kau ini benar-benar orang yang paling menyedihkan diseluruh dunia! Pantas orang tuamu meninggalkan mu! Kau pantas untuk ditinggalkan karena kau orang yang paling menyusahkan… Orang tuaku memungutmu cuma karena kasihan kepadamu! Mulai saat ini jangan pernah menampakkan mukamu didepanku dan ingat satu hal jangan pernah berbicara dengan ku lagi karena suaramu memecahkan gendang telingaku, MENGERTI KAU SIA!! Dan satu hal lagi seumur hidupku aku tidak akan pernah mencintaimu… jangan terlalu berharap!”

Ji Yong mengatakan hal itu… tidak sepatah katapun yang luput dari ingatanku, sebegitu bencinya dia kepadaku, Diary… aku tau aku memang orang yang paling menyedihkan, menyusahkan, dibenci, dikucilkan… aku memang orang yang paling pantas mendapatkan semua itu… tapi aku harus bagaimana diary…?

Aku gak punya siapa-siapa? Bila aku matipun tidak akan ada yang bersedih berlama-lama, aku orang yang tidak pantas untuk ditangisi. Aku ingin pergi dari kehidupan ku ini, kenapa sulit menghapus rasa yang menyebabkan sakit yang dalam seperti ini? Aku mencintainya… aku mencintainya… diary… walaupun dia menganggapku sampah sekalipun, aku tetap mencintainya… aku makhluk yang paling tidak tau diri… aku masih mengharapkannya…

Dear, diary…

–Sia–, 6 April

Hari ini masih sama dengan yang kemarin… aku masih belum bisa melupakan perkataannya. Dia benar aku orang yang paling menyedihkan didunia. Aku gak punya siapa-siapa sekarang. Aku ingin pergi selamanya bertemu sama omma dan appa. Hidupku pasti disana sangat tenang dan bahagia karena ada mereka.Kenapa semua perkataannya itu benar? Seharusnya aku ikut sama omma dan appa jadi gak nyusahin Ahjushi, Ahjumma, Dami eonni dan juga Ji Yong… aku mencintainya tapi aku sudah capek, lelah… sakit banget rasanya hati ini… aku sudah gak sanggup lagi untuk hidup… untuk apa aku hidup?

Aku gak punya impian lagi, aku gak punya alasan untuk hidup lagi.seumur hidup mengharapkan cintanya tapi sepertinya gak mungkin lagi… dia tidak mencintaiku sama sekali… malahan dia membenciku. Aku gak mau dia berhenti memanggil namaku Sia… walaupun aku kesal… aku rindu suaranya, aku rindu melihat wajahnya… tapi dia sudah gak mau melihat wajahku lagi… dia udah membenciku… aku berusaha untuk menghindar darinya… dan sekarang berhasil… belum pernah sekali pun aku melihat wajah dinginnya tapi sayup-sayup aku mendengar suaranya… aku sangat suka suaranya… aku gak tau harus gimana lagi, Diary…

Aku menyerah, aku capek, aku ingin dia bahagia selamanya… jika ini buat dia bahagia… aku juga bahagia… SEMANGAT SIA!! Kamu pasti bisa!! Keep smile.

XXX

Sia hatinya benar-benar sudah hancur, di sekolah ia selalu bersikap seperti biasa tapi Seungri dan Daesung tau kalau semua itu palsu. Seungri dan Daesung berusaha menyembuhkan luka hati temannya itu.Tapi sudah terlambat, Sia sudah menutup dirinya.Siang itu, Sia berjalan ke belakang sekolah. Disana ada sebuah taman sakura yang indah dan jarang sekali siswa yang datang ke tempat itu. Saat Sia sampai ditempat itu, entah kenapa hatinya mencair dan airmata keluar dan membasahi pipinya.Disana sebenarnya ada Ji Yong yang sedang mengobrol dengan Kiko. Sepertinya mereka sedang berpacaran (mungkin),saat Kiko mencoba untuk berciuman dengan Ji Yong, tiba-tiba dia melihat Sia sedang melihat kearah pohon sakura… ia menangis dan airmatanya memantulkan cahaya sinar matahari. Sia sama sekali tidak menyadari keberadaan mereka sampai ia melihat kesamping. Betapa terkejutnya ia melihat Ji Yong sedang melihatnya dan Kiko mencoba untuk mencium Ji Yong.

Sia langsung membungkukkan badannya (tanda kalau dia minta maaf telah mengganggu mereka) dan berlari meninggalkan mereka berdua.Entah mengapa Ji Yong sangat merindukan sosok gadis periang itu, wajahnya, senyumannya, suaranya, tawanya, marahnya… kenapa ini? Sudah 3 minggu sejak kejadian itu ia belum melihat Sia. Saat melihatnya tadi, ia baru sadar apa yang selama ini rasanya hilang.

Sia berlari keruang UKS yang memang selalu sepi karena letaknya paling pojok di sekolahan.Sia menangis sekencang-kencangnya, tidak ada yang mendengar tangisannya.Ia larut dalam kesedihannya.

XXX

Hari ini Kwon omma dan Kwon appa pergi keluar untuk menghadiri pesta dan kemungkinan besok pagi baru pulang sedangkan Dami pergi ke Jeju untuk bertemu tunangannya. Sedangkan Ji Yong pergi keluar bersama teman-temannya, biasanya Ji Yong kalau pergi sama temannya gak pernah pulang. Entah kenapa hari itu merupakan hari kebebasannya Sia karena ia bisa menikmati rumah yang besar ini tanpa takut berpapasan dengan Ji Yong. Ia bisa memasak ramen dengan nyaman dan bisa nonton TV diruang tamu. Setelah melakukan semua itu Sia memutuskan untuk tidur tapi ada yang mengetuk pintu.

“Duh… siapa sih malam-malam gini yang datang…? Iya tunggu sebentar…” kata Sia lalu ia turun dan berjalan menuju pintu kemudian membukanya. Sungguh terkejutnya Sia, ternyata itu Ji Yong, ia pulang dalam kondisi mabuk.Ji Yong pun berjalan gontai, Sia membopong Ji Yong menuju kamarnya. Mulut Ji Yong benar-benar bau alkohol dan sepertinya ia mabuk berat.Sia berpikir, ‘hebat banget nih anak bisa pulang selamat dalam keadaan mabuk.’

Sia mungkin nanti akan menyesal setelah ia menolong Ji Yong malam ini, karena ia akan kehilangan sesuatu yang amat berharga bagi seorang wanita yaitu kesuciannya yang sebentar lagi akan direngut oleh Ji Yong.

WARNING : LEMON SCENE

Sia membantu Ji Yong ke kamarnya, sesampainya dikamar, tangan Ji Yong mengunci pintu kamarnya.Sia merebahkannya di tempat tidur.Lalu pergi menuju pintu namun pintunya gak bisa dibuka.Tiba-tiba dari belakang Ji Yong memeluk Sia dan nafas hangat Ji Yong yang berhembus tepat ditengkuknya Sia membuat Sia deg-deg-an plus panik.Sia mencoba untuk memberontak dan melepaskan pelukan Ji Yong yang kuat.Ji Yong menjilat kuping Sia sehingga membuat tubuhnya menggeliat.Sia sama sekali tidak mengeluarkan suara dan terus memberontak. Ji Yong membawa Sia ketempat tidur dan melucuti semua pakaian Sia sambil memainkan puting susu Sia dengan memelintirnya, menciumnya hingga mengencang. Diremas-remasnya puting susu Sia. Sia berusaha menahan sensasi yang ditimbulkan oleh kelakuan Ji Yong itu.Ia mencoba untuk tidak mengeluarkan suara yang bisa meningkatkan birahi Ji Yong. Sia hanya bisa pasrah dan menangis.Ia sudah lelah memberontak karena cengkraman Ji Yong yang begitu kuat.

“Sia, lama tidak berjumpa… aku ingin kau memanggil nama ku mengapa kau tidak berbicara Sia? Aku ingin mendengar suaramu lagi…” Ji Yong membisikkannya ditelinga Sia.Sia hanya menangis.Seluruh tubuhnya sudah dijelajahi oleh lidah Ji Yong sehingga tubuhnya mengkilat oleh ludah Ji Yong.Ji Yong mencium bibir Sia dengan ganasnya.Sia tidak bisa menerima semua itu ia hanya menangis dan menangis. Ciuman itu akhirnya dibalas juga oleh Sia. Lidah Ji Yong masuk kedalam mulut Sia… kurang lebih mereka bergulat dengan ciuman ganassssss itu 15 menit…

Kemudian setelah Cigan ( ciuman ganas )… Ji Yong melancarkan tindakan yang baru, ia menciumi tubuh Sia dari dahi , turun ke leher, turun lagi ke dada dan tidak luput juga di sepasang puting Sia yang merah tua… dan kemudian turun ke perut… dan sampailah ke daerah tersakral seorang wanita. Ji Yong menjilati dan menciumi bibir kemaluan Sia ia kecup daerah tersebut.

“Hem.. Sia ternyata kau lumayan juga ya… ayolah, Sia keluarkan suaramu yang indah itu… kalo kau belum mau mengeluarkan suara mu itu aku akan memasukkan ini kedalam mu.”

Sia melihat apa yang dimaksud oleh Ji Yong yaitu alat kelamin Ji Yong yang ukurannya, wow fantastic baby. Tapi Sia saat itu benar-benar tidak bisa mengeluarkan suaranya karena ia sedang menikmati orgasmenya.

Dengan kasar akhirnya Ji Yong mengambil lotion dan membalurnya ke jari-jari Ji Yong yang panjang-panjang. Dengan perlahan ia membisikkan sesuatu ketelinga Sia, ” Sia, ini tidak akan sakit tapi setelah beberapa saat kau akan merasa nyaman… tunggu saja kau pasti akan memintanya… kau menikmatinya bukan, Sia…” Sia hanya mengangguk dan menangis.

Ji Yong memasukkan jari telunjuk kedalam lubang vaginanya Sia.satu persatu secara perlahan agar membuat lubang yang terlihat sempit itu sedikit lebar. Setelah semuanya masuk, ia berhenti dulu biar Sia relaks dan saat tidak ada perlawanan ia memaju-mundurkan. Terlihat sekali Sia sangat kesakitan, karena ia menggigit ibu jarinya dan airmatanya yang keluar derasnya.

“Ayolah, Sia… keluarkan lah suara seksi mu itu, aku ingin mendengarnya…” ucap Ji Yong mencoba menggoda Sia

Setelah semua yang barusan dilakukan Ji Yong dengan cepatnya memasukkan penisnya yang besar itu ke dalam lubang kemaluan Sia. ia mendiamkannya sebentar menunggu Sia benar-benar relaks dan siap. Setelah ia kira cukup, Ji Yong pun langsung menggoyangkan pinggulnya kemudian menarik keatas dan kebawah dengan kecepatan yang semakin lama semakin cepat… akhirnya Ji Yong mendengar erangan Sia…

” shhhhhh…mmm…ohh…st…st..st.. hiks…”

” Ayolah Sia panggil nama ku…” kata Ji Yong dengan suara yang seksi dan menggoda tanpa mengurangi kecepatan in-outnya ( u know what I mean… hehe nosebleed ,) .

” Shhh…St…stop… hentikan ini JI YONG…”

” Tidak akan… sampai aku mencapai klimaks dan kau menikmati orgasme.” Kata Ji Yongdengan mempercepat sodokkannya.

” AHHHH… Ji~Young…”

” SIA………” teriak Ji Yong.

Ji Yong pun akhirnya mencapai klimaks yang bersamaan dengan Sia pula. Seluruh tubuhnya terasa sangat lelah dan Ji Yong pun akhirnya terlelap sambil memeluk Sia. Sia menangis dan berusaha untuk bangun namun rasanya sakit.Sia mengambil seluruh pakaiannya dan akhirnya ia bisa keluar dari kamar Ji Yong. Dikamar ia menangis. Sia merasa benar-benar kotor.Ia pun mandi berjam-jam untuk menghilangkan noda itu. Semua tanda yang dibuat oleh Ji Yong ditubuh Sia ingin dihapusnya.’Hilang! Hilang!’ batin Sia, ia terus menggosok tanda- tanda itu agar hilang, tetapi tetap saja tanda-tanda itu tetap terlihat jelas dia terus mencoba menghilangkannya hingga kulitnya merah dan terasa perih. Setelah ganti pakaian, ia menangis… ia sedih, merasa kotor, terhina, marah namun disatu sisi di hatinya yang paling dalam ada rasa bahagia. ‘Tapi, benarkah Ji Yong melakukan itu karena dia mencintaiku?? Bolehkah aku merasa ia mencintaiku?? Apa dia melakukannya karena pengaruh alkohol saja?’Batin Sia.Sia tertidur dengan air mata mengalir terus menerus.

END OF LEMON

XXX

Sejak kejadian pemerkosaan itu Sia benar-benar menghilang dari pandangan Ji Yong. Dan Ji Yong sama sekali gak mengetahui tentang kejadian malam itu karena ia dikendalikan alkohol. Ia sama sekali gak merasakan apa-apa paginya. Suasana rumah hening sampai kedatangan orang tuanya.Sias ama sekali belum keluar dari kamarnya dan kejadian itu hanya teringat oleh Sia. mulai saat kejadian itu, Sia kehilangan keceriaannya, ia jadi pemurung dan pendiam.

Dua bulan pun berlalu, saat itu Sekolah sedang mempersiapkan acara tahunan, disitu ada yang lainnya.hampir seluruh murid ikut andil… ada Ji Yong dan juga Sia tentunya. Tapi Sia benar-benar menghindar dan untungnya ia tidak sekelompok dengan Ji Yong. Ji Yong sering pulang malam karena harus rapat mengenai dekorasi acara tahunan itu, ia benar-benar capek sehingga sampai rumah ia langsung tidur tanpa melepaskan seragamnya. Ia tidur sangat lelapnya, didalam tidurnya Ji Yong sering bermimpi dan mimpinya itu adalah kenangannya bersama Sia sejak kecil sampai besar dan diakhir mimpinya ia melihat tubuh Sia dipenuhi oleh luka dan darah. Ia merasakan Sia tidak bernyawa dan bernapas. Ji Yong pun bangun dari tempat tidurnya dan kemudian berlari ke kamar Sia.Untung saja pintunya nggak dikunci.Ji Yong langsung masuk ke kamarnya Sia dan untung sekali Sia masih ada ditempat tidurnya tanpa luka dan terlihat sangat lelap dan damai tidurnya.Ji Yong gak bisa memungkiri kalau ia merindukan wajah itu, wajah yang imut dan manis. Ia pun langsung keluar kamar dan merasa menyesal dengan semua perkataannya. Ia merasa kehilangan, amat sangat kehilangan Sianya yang sangat ceria,dia telah menyakiti hati Sia… Namun ego didalam dirinya yang sangat tinggi memusnahkan pikiran itu dan kembali tidur.

Saat ia bangun dari tidurnya ada sebuah bingkisan berwarna biru, tidak ada namanya. ia pun membuka bingkisan itu dan ternyata didalamnya ada syal berwarna putih. Entah dari siapa bingkisan ini yang pasti ini untuk dirinya padahal dia sama sekali gak ulang tahun dan ini bukan hari spesial untuk memberikan kado tapi ia suka sekali dengan syal itu lembut dan hangat.

Ia pun segera mandi dan berpakaian lalu turun kebawah, sebelum itu ia sempat berhenti didepan kamar Sia dan memegang knok pintunya, sayang terkunci… itu berarti Sia sudah pergi ke sekolah. Saat di ruang makan banyak sekali makanan enak.

“Wah, omma makanannya banyak banget, mana mungkin kita ngabisin ini semua… oh, ya omma tau siapa yang menaruh bingkisan biru tua dikamarku?” Tanya Ji Yong sambil mengambil susu dan kemudian meminumnya.

“Iya nih, semua yang masak Sia lho!omma bangun udah banyak gini makanannya. Hemm, itu kado dari Sia.Omma, appa dapat juga.Kalo omma dapat sweater warna ungu… bagus banget… kalo appa dapat sarung tangan warna biru donker.” Jawab Kwon omma

“Aku juga dapat topi rajut warna hitam dan ada gambar awan merah. Hahaha… Sia, tau banget kesukaanku.Kalau kau dapat apa uri dongsaeng ji yongie?” Tambah Dami dan kemudian menanyakan Ji Yong apa yang diberikan Sia kepadanya.

“Hn… dapat syal… tumben dia memberikan kita hadiah padahal ini bukan hari khusus kan?” jawab Ji Yong dan kembali bertanya

“Gak aneh kok, Ji Yong…Dia tadi bilang buat hadiah aja karena dia udah sukses buat rajutan ini.Katanya banyak yang udah selesai daripada ditumpuk dikamar ya Sia kasih.Sia sering memberikan omma dan appa bingkisan rajutan seperti ini kok… iya, kan yeobo?” jelas Kwon omma

“Hn… malah udah lengkap…” Kwon appa menanggapi dan menyeruput kopinya.

“Iya aku juga sering dibuatin rajutan sama Sia.” Tambah Dami.

“Oh… aku pergi dulu ya, Omma”

Ji Yong pun pergi ke sekolah menggunakan mobilnya. Sesampainya disekolah seluruh murid sudah berkumpul di aula untuk siap-siap karena seminggu ini mereka tidak akan belajar tapi ya kerja nyiapin acara tahunan ini. Saat masuk ke dalam aula, Ji Yong mencoba mencari Sia tapi gak menemukannya kemudian Kiko datang dan biasa ngegelayutin Ji Yong.saat asyik-asyiknya Ji Yong dan Kiko mengobrol dari atas ada seseorang yang berteriak, “Awas… baloknya jatuh!”.

Balok-balok itu tepat diatas Ji Yong dan Kiko, dari arah samping Sia mendorong Ji Yong dan Kiko agar mereka terhindar dari balok itu dan sayangnya Sia yang akhirnya tertimpa balok itu.Seluruh tubuhnya tertimpa balok, luka-luka dan darah pun banyak yang keluar.Ji Yong syok dengan keadaan Sia yang sekarang, sama seperti mimpinya yang tadi malam. Ji Yong langsung berlari menghampir Sia dan menyingkirkan balok yang menimpa tubuh Sia.

“Panggil ambulans!” teriak Ji Yong.Ia merangkul tubuh Sia.

“Sia… Sia… Sia… Sia… bukalah matamu, Sia!” kata Ji Yong panik dan takut sambil menyentuh pipi Sia.

“Ji yooong…Sa..rang..haeyo..Syu… syukurlah kau selamat.”Sia membuka mulutnya lalu berbicara dengan terbata-bata.Sia menatap Jiyong dengan penuh cinta. Kemudian ia tidak sadarkan diri dengan wajah yang tersenyum.

‘Anak ini benar-benar mencintaiku… betapa bodohnya aku !’ pikir Ji Yong. Sia mencintainya.Begitu mencintai dirinya yang bodoh itu.Ia sangat mencintainya sampai berani berkorban nyawa untuk dirinya yang tidak pernah sekalipun memperdulikannya. Air mata mengalir dengan deras di kedua belah pipi Ji Yong.

“SIA!! BERTAHANLAH!! Hiduplah untukku!! Hei, bangun!! CEPAT BANGUN!!” Ji Yong berteriak sembari menangis.Tangannya mengusap wajah damai Sia.Damai, namun penuh dengan darah.Ia terus memeluk tubuh Sia yang telah ternoda merahnya darah.

Ambulans pun datang, Sia dibawa kerumah sakit. Ji Yong terus berada disampingnya menggenggam tangannya sambil menyebut nama Sia berulang-ulang kali, airmatanya pun tak terasa terus mengalir. Sungguh, ia belum siap untuk kehilangan Sia.

Ji Yong menyesal… sangat menyesal… ia bahkan belum mengatakan perasaannya yang sebenarnya kepada Sia… Ia masih berharap akan terjadi keajaiban yang dapat membawa Sia kembali ke sisinya.

~0~

Bunyi sirine ambulans mengiringi perjalanan Sia menuju Rumah Sakit Seoul Medical Center.Darah yang keluar dari tubuhnya sangat banyak, dia mengalami pendarahan hebat.Ji Yong yang ada disebelahnya terus saja memegangi kedua tangan Sia dengan erat. Entah telah berapa kali Ji Yong memanggil-manggil nama Sia. Namun tidak sedikit pun ada respon yang diberikan Sia. Paramedis yang berada di dekat Sia terus membantu agar ia tetap bernapas dengan cara memegangi alat bantu pernapasan.

Ambulans tiba di rumah sakit dan dengan sigap dokter beserta beberapa perawat langsung membawa Sia ke ruang UGD.Ji Yong menunggu dengan harap-harap cemas di luar ruang UGD.Ia ingin sekali masuk ke ruangan itu untuk terus menggenggam tangan Sia. Dia benar-benar menyesal, sedih dan sangat bersalah.Semua kecelakaan ini adalah kesalahan dirinya.Saking cemasnya, Ji Yong kehilangan kesadarannya dan perawat pun membawanya ke salah satu kamar rawat inap.

JI YONG POV

Aku terbangun dari tidurku.Mengapa aku tertidur dalam keadaan seperti ini? bagaimana keadaan Sia? aku merasa berada di tempat yang berbeda… ini bukan rumah sakit tapi ini rumah ku… apa yang terjadi? Aku berjalan menyusuri tangga menuju lantai atas… Aku mulai berpikir apakah tadi itu mimpi?

Untuk memastikan hal itu, aku memutuskan untuk pergi ke kamar Sia dan sungguh mengherankan, biasanya kamar ini terkunci namun sekarang tidak. Aku masuk ke kamar itu namun tidak ada seorang pun di dalam.Kamar itu sangat rapi dan bersih.Kemudian aku memutuskan untuk pergi ke kamar ku.Apakah yang tadi itu mimpi atau kah yang sekarang ini mimpi? Mengapa rumah ini kelihatan sepi? Biasanya omma selalu bersenandung ria di dapur hingga terdengar oleh ku. Aneh, sebenarnya aku ada dimana…

Aku masuk ke kamarku dan sungguh terkejutnya aku… ada seseorang ditempat tidurku. Dari ciri-cirinya, ia adalah Sia. Aku pun langsung memanggilnya, “Sia, apa kau tidak apa-apa?” tanya ku dan aku sempat melihat airmata yang masih membasahi pipinya.

“Ji Yong, kau bisa melihat ku? HuwaAAAaaa… dari tadi aku berkeliling rumah gak ada orang dan saat aku bertemu dengan paman, bibi dan Dami onnie semuanya mengacuhkan ku, Ji Yong…” Jawab Sia terisak-isak.

“Sia, kau sama sekali gak terluka kan?”

“Apa? Aku terluka? Ji Yong, aku memang terluka.”

“Bagian mana yang sakit, hah?” tanyaJi Yong panik

“Hatiku yang terluka dan sakit, Ji Yong.Aku sadar ini mimpi dan ini bukan kenyataan… apakah kau mengkhawatirkan aku, Ji Yong?” Jawab Sia sambil tersenyum dan mengusap airmatanya.

“Tidak mungkin ini mimpi, Sia… kau kelihatan sehat… aku sangat senang… akhirnya aku bisa melihatmu tersenyum lagi dan mendengarkan suaramu lagi.”Ji Yong berkata sambil memeluk Sia tapi Sia malah menangis lagi.

“Hei, Sia… mengapa kau menangis lagi? aku suka melihat senyum mu… aku sangat amat merindukan senyuman mu itu…”

“Ehm… hiks…hiks… mianhaeyo Ji Yong tapi ini mimpi. Aku datang dalam mimpi mu untuk mengucapkan selamat tinggal untuk yang terakhir kalinya dan mungkin untuk selamanya.”

“Apa maksudmu, Sia?” Tanya Ji Yong heran sambil meletakkan kedua tangannya di pipi Sia yang halus.

Sia pun menggenggam tangan Ji Yong dan berkata, “Ini adalah pertemuan kita yang terakhir Ji Yong. Sebelumnya, aku ingin meminta maaf kepadamu. Aku gak pernah sama sekali memikirkan perasaanmu, Ji Yong… selama ini aku selalu mengganggumu dan mendesakmu untuk menyukaiku… aku ini orangnya emang gak peka seperti mu, Ji Yong… aku hanya bisa seperti itu untuk mengungkapkan rasa cinta ku kepadamu… aku mencintaimu, Ji Yong… Saranghaeyo… aku tau kau tidak akan pernah mencintai ku tapi aku sudah berusaha. Semua yang telah kau katakan tentang ku itu benar… Aku memang orang yang paling menyedihkan di dunia. Aku orang yang paling menyusahkan dan aku hanya ingin dicintai dirimu, Ji Yong… Percayalah Ji Yong ini adalah mimpi dan kecelakaan itu benar terjadi. Aku akan pergi ketempat kedua orang tua ku tinggal dan itu untuk selamanya… aku akan mengikuti semua perkataan mu… aku akan benar-benar lenyap dari kehidupan mu Ji Yong dan ku berharap kau akan terus bahagia dan tersenyum untuk keluargamu. aku…” belum sempat Sia menyelesaikan omongannya aku menutup mulutnya dengan sebuah ciuman yang hangat dan lembut tepat dibibir Sia. Aku benar-benar ingin mencium bibirnya yang lembut itu dan menghentikan omongannya yang menyakitkan itu.

“Apa kau sudah selesai dengan omongan mu itu? Kau cerewet sekali, Sia… lupakan semua yang pernah ku katakan… kau tidak boleh meninggalkan ku disaat aku mulai men..” sekarang giliran Sia yang memotong pembicaraan ku dengan meletakkan telunjuknya didepan mulutku.

“Kumohon dengarkan semua perkataanku ini, karena waktuku benar-benar sudah habis… aku tahu kau pasti suatu saat akan menyadari dan mengatakannya kepada ku… tapi itu terlambat… hidupku sudah diambang kematian Ji Yong.”Sia terlihat sekali menahan emosinya dan aku tau sebenarnya ia ingin sekali mendengar kalimat itu keluar dari mulut ku.

Aku mencoba menyingkirkan tangan Sia dan saat ini aku sudah habis kesabaran. Aku benar-benar takut kehilangan Siadan mulai berteriak,

” Sia, aku mencintai mu… Kumohon bertahanlah demi aku, Sia… mengapa harus kau yang tertimpa balok-balok itu? Mengapa kau selamatkan aku? Seharusnya aku yang ada diposisimu sekarang? Mengapa kau mau meninggalkan aku disaat aku menyadari kalau aku sangat amat menyukaimu, merindukanmu, mencintaimu? Aku tidak bisa hidup tanpamu, Sia! aku menyesal…” teriak ku dan aku mulai menangis dan kemudian memeluk Sia sangat erat… aku tak akan pernah membiarkan Sia pergi dari ku. Aku belum pernah merasakan hal yang paling menakutkan seperti ini sehingga membuatku menangis.

“Ji Yong, Mianhaeyo. seharusnya memang aku yang meninggal… aku yang harus terkena balok-balok itu karena aku yang menginginkannya. Aku sudah tidak kuat menanggung semua ini, Ji Yong… aku bahagia hidup dengan keluargamu dan dirimu… bagiku itu sudah cukup membuatku bahagia, Ji Yong… ketika semua orang meninggalkan ku, tidak ada yang merawatku, keluargamu yang merawatku… aku harus menyelamatkan mu untuk membalas semua kebaikan keluargamu … Ji Yong, jika kau yang diselamatkan tidak akan ada yang sedih berlarut-larut, tidak akan ada yang marah kepada ku seumur hidup karena aku menolong mu, kau lebih berharga dariku Ji Yong… semua orang menyukaimu, mencintaimu… sedangkan aku jika aku meninggal sama sekali gak ada orang yang akan sedih berlarut-larut dan peduli dengan kematianku… seharipun mereka bisa melupakan aku… aku itu orang yang sebenarnya tidak berharga sedikitpun dibandingkan kau… kalau kau yang pergi… semua orang akan sedih, keluargamu akan membenciku dan juga semua orang akan membenciku… aku gak bisa menanggung semua derita itu, Ji Yong… terimakasih, kau mencintai aku. Aku tau itu… hanya kata maaf dan terimakasih… Saranghaeyo… Hari ini aku banyak sekali berbicara sudah lama aku tidak berbicara banyak dengan mu… waktu ku habis… saat kau buka mata mu… aku sudah tidak ada lagi.”Sia berkata seperti itu dengan linangan airmata dan saat terakhir ia tersenyum dengan senyuman termanisnya.

Aku ingin terus memeluknya namun lama-lama Sia pun menghilang dari pelukkan ku. Aku tidak bisa membayangkan semua ini.

“SIA…!!!”

Real POV

Diruang operasi seluruh Dokter telah panik terutama Dokter wanita yang bernama Yang Tsuna.Dokter itu terus saja berusaha menyelamatkan nyawa Sia padahal Sia sudah tidak bernapas lagi.Asistennya Shizu sampai menarik-narik Yang Tsuna untuk keluar dari ruang operasi karena Sia sudah tidak bernyawa lagi.

“Dokter Tsuna… dia sudah meninggal… Dokter…Dokter… ayolah… Dokter..”

Teriak Shizu sambil menghentikan penyelamatan Yang Tsuna yang sia-sia itu.

“Shizu… apa kata mu? Dia akan hidup…. Sia gak akan meninggal… dia gak bisa meninggal…” Teriak Yang Tsuna dan airmatanya pun mengalir hingga membasahi pipinya.

“Sia, sudah meninggal Dokter Yang Tsuna… kita sudah sering melihat ini terjadi Dokter Yang Tsuna… keluarganya harus diberitahu Dokter!” Shizu akhirnya bisa menyadarkan Yang Tsuna untuk tegar dan pergi dari ruang operasi menuju ruang tunggu yang ada di luar.

Yang Tsuna benar-benar lemas sehingga semua peralatan yang dipakai Yang Tsuna harus dilepaskan oleh Shizu. Dari pakaian operasi, sarung tangan yang berlumuran darah, topi operasi… Shizu mencuci tangan Yang Tsuna… sepertinya Yang Tsuna sangat syok atas kematian Sia… Sia adalah anak dari sahabatnya yaitu Ji shina… padahal baginya Sia sangat berarti dan anak yang baik.

Seharusnya, Sia tinggal dengan Yang Tsuna tapi karena kelihatannya Yang Tsuna sibuk jadi ia meminta Kwon omma untuk merawat Sia. Yang Tsuna sangat menyayangi Sia seperti anak kandungnya karena ia tidak dikarunai anak. Sia sering sekali main ke rumahnya ataupun ke rumah sakit ini untuk menjenguk Yang Tsuna yang memang umurnya udah gak muda lagi namun ia terlihat berumur sekitar 30 tahun. Yang Tsuna itu merupakan salah satu dokter ternama dan paling hebat seantero Konoha.

Shizu memapah Yang Tsuna untuk bertemu dengan keluarga Kwon.Yang Tsuna benar-benar gak bisa berdiri dan akhirnya terjatuh.

“Yang Tsuna…bagaimana keadaan Sia?”Tanya Kwon omma yang panik dan menangis tersedu-sedu.

“Kwon omma…” Yang Tsuna memeluk Kwon omma dan menangis sampai sesenggukkan.

“…”

Semua orang diam, disitu ada Kwon appa, Kwon omma, Dami, Shizu, Yang Jirai (suami Yang Tsuna) dan juga Yang Tsuna… semuanya larut dalam kesedihan.Tiba-tiba ada seseorang yang berlari. Itu… Ji Yong… Ji Yong melihat semua orang menangis, ia sudah menduga pasti terjadi sesuatu kepada Sia. Ji Yong terlihat amat sedih dan ia berjalan menuju keluarganya.

“Omma…Appa, Sia…bagaimana keadaannya?” tanya Ji Yong.

Kwon appa mendekati Ji Yong dan memeluk anaknya itu kemudian ia menepuk-nepuk punggungnya dan berkata, “Kau harus sabar, Ji Yong… Sia sudah meninggal.”

Akhirnya tangisan Ji Yong meledak, ia menangis sambil berteriak, “SIA, AKU MENCINTAI MU…KAMU GAK BOLEH NINGGALIN AKU SEPERTI INI!!! SIA…SIA…!!!” semua orang yang mendengar jeritan Ji Yong ikut larut dalam kesedihan itu.

XXX

Malam itu kediaman keluarga Kwon diliputi suasana sedih dan berkabung.Seluruh tetangga, para sensei yang mengajar Sia, semua murid SMA YG datang terutama Seungri dan Daesung.Saat peti mati Sia tiba, banyak sekali yang menangis.Seungri dan Daesung sangat terpukul dan sedih ketika mendengar kematian Sia.Mereka sedih, marah dan rasanya ingin memukul Ji Yong sampai babak belur.

Disana juga ada Kiko yang sedang menangis, entah kenapa ia merasa sedih, ia merasa bersalah… Sia tidak pernah berbuat kasar kepadanya malah sama sekali gak mengganggu hubungannya dengan Ji Yong tapi Sia menolongnya. Kiko mencoba untuk mendekat ke Ji Yong yang terlihat sangat terpukul.Ia duduk dipinggir tangga rumahnya. Ia menangis tanpa memperlihatkan raut wajahnya, wajah yang sangat datar dan airmatanya yang deras mengalir.

“Ji Yong…Ji Yong…” Kata Kiko namun Dami menggenggam tangan Kiko dan menjauhkannya dari Ji Yong menuju taman belakang rumahnya.

“Kiko, ku mohon jangan ganggu Ji Yong dulu… ia masih syok atas meninggalnya Sia! Ku mohon kau bisa mengerti dan satu hal lagi Kiko… ku peringatkan adik ku sama sekali gak mencintaimu! Aku memang gak seharusnya bicara hal ini dan kumohon jangan pernah ganggu adikku!” Kata Dami sambil memegang tangan Kiko lalu meninggalkannya disana seorang diri, entah apa yang sekarang di pikirkan oleh Kiko…

Daesung menyeret Ji Yong keluar dan mulai memukul Ji Yong tepat diwajahnya yang tampan itu lalu memukul perut Ji Yong berkali-kali.Ji Yong sama sekali gak melawan.Seungri yang melihat kemarahan Daesung, sama sekali tidak mau memisahkan malah ia senang sekali Daesung menghajar lelaki brengsek itu. Tiba-tiba Nicole dan UEE datang, mereka langsung menarik Daesung.

“Daesung oppa, apa yang sedang kau lakukan, HAH? Ini hari berkabungnya Sia… kalo Sia melihat semua ini ia akan sedih! Daesung oppa ku mohon hentikan!” Nicole mencoba menarik tangan pacarnya itu dan berusaha menenangkan Daesung yang pada dasarnya tempramental.

“Nicole, jangan ikut campur! Sia meninggal karena cowok brengsek ini, dia harus mati untuk membayar semua ini!” Teriak Daesung.

“Daesung… hentikan nanti dia bisa mati… kau mau dipenjara, HAH!!!Seungri… apa yang kau lakukan disitu? jangan berdiam diri seperti itu Seungri… tolong hentikan Daesung… dia sudah seperti anjing gila!” Teriak UEE yang melihat ke arah Seungri, ia belum pernah melihat pacarnya yang satu ini terlihat berdiam diri, sedih dan marah.

“Biarkan saja Daesung memukul cowok gak tau diri itu!”Jawab Seungri sangat dingin.Seungri berjalan mendekat ke arah Ji Yong dan memukulnya sangat keras sehingga dari mulut Ji Yong keluar darah.

“Ini pembalasan atas rasa sakit yang selama ini kau torehkan dihati Sia!!! Namun ini semua tidak seberapa dengan rasa sakit yang dialami Sia!!! Kau beruntung cowok brengsek!!!”Bisik Seungri ditelinga Ji Yong sambil memegang kerah baju Ji Yong lalu menarik Daesung pergi.Nicole dan UEE bingung mereka harus bagaimana? Menolong Ji Yong atau ikut dengan pacar mereka. Akhirnya mereka memutuskan untuk menolong Ji Yong.

“Ji Yong, kau gak apa-apa kan? Bertahanlah kami akan memanggil bantuan! Nicole cepat panggil seseorang kesini!” UEE panik dan Ji Yong hanya mengangguk dan airmatanya terus mengalir.

“I…iya, UEE.”

Se7en, T.O.P dan Taeyang juga Dami datang atas panggilan Nicole dan mereka membawa Ji Yong ke kamarnya.Untung ada Yang Tsuna dan Shizu, Ji Yong akhirnya bisa diobati.Setelah itu Ji Yong tidak sadarkan diri.

Sudah seminggu sejak kematian Sia.Ji Yong tidak ikut menguburkan Sia karena sejak kejadian pemukulan itu Ji Yong masih belum sadarkan diri.Kwon omma dan Kwon appa sangat sedih melihat keadaan Ji Yong yang sekarang. Akhirnya mereka memutuskan akan membawa Ji Yong ke rumah sakit untuk dirawat. Masalah pemukulan ini sama sekali gak di permasalahkan. Kwon omma dan Kwon appa bukanlah orang yang pendendam.

Pada malam itu, Kwon omma, Kwon appa, Yang Tsuna dan Yang Jirai berada didalam kamar inap Ji Yong… mereka sedang mengobrol, sudah lama sekali mereka tidak seakrab itu. Yang Tsuna sebenarnya baru menyadari adanya sebuah keganjilan dalam meninggalnya Sia.Penyebab utama Sia meninggal yaitu kehabisan darah.Darah yang keluar dari tubuhnya sangat banyak apalagi bagian alat kemaluannya.Saat para dokter membersihkan Sia ada segumpal daging yang sangat kecil keluar dari alat kemaluannya Sia. Saat Yang Tsuna meneliti lebih lanjut itu adalah sebuah embrio… Ini tidak mungkin menurut akal sehat Yang Tsuna…

“Kwon omma, apa selama ini Sia menyembunyikan sesuatu darimu?” Tanya Yang Tsuna.

“Memang ada apa, Yang Tsuna? Kalo ku ingat-ingat kurang lebih 4 bulan ini Sia sering mengurung diri di kamar.Sepertinya dia sedang menghindar dari sesuatu. Aku juga gak tau apa itu…” Jawab Kwon omma.

“Hmm… apakah Sia diperkosa ya?”

“Apa maksudmu, YANG TSUNA?”Tanya Kwon omma, Kwon appa dan Yang Jirai bersamaan.

“Aku mendengar laporan dari dokter yang membersihkan Sia… ia melihat ada gumpalan daging yang keluar dari tubuh Sia dan itu seperti embrio… Menurut ku Sia kehabisan darah gara-gara keguguran..” jawab Yang Tsuna serius.

“Maksudmu Sia hamil pada waktu itu?” tanya Kwon omma.

“Iya… tapi siapa yang melakukan hal itu?” Jawab Yang Tsuna dan balik lagi bertanya kepada yang lain.

“Yang Tsuna, apakah mungkin itu terjadi?”Yang Jirai menanyakan itu dengan ekspresi tidak percaya.

“Kalau itu benar terjadi.ya, tuhan… aku sungguh berdosa kepada shina dan sato…Kenapa anak itu pendiam sekali? Mengapa dia tidak menceritakannya kepadaku?” Kwon omma mulai menangis lagi dan Kwon appa pun memeluknya.

Tanpa mereka sadari Ji Yong mendengar hal itu dan ia pun teringat saat malam dimana dia memperkosa Sia. Semuanya terekam kembali.Ia menangis karena ia sudah tidak kuat lagi. Ia harus menyusul Sia dan ia gak akan sanggup hidup tanpa Sia.

‘Tenang Sia sebentar lagi aku akan menyusulmu.Kau pasti kesepiankan disana? Aku akan datang. Sebentar lagi… tolong tunggu aku sebentar lagi… dan pada saat itu hatiku akan ku berikan untuk mu.’ batin Ji Yong menangis.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~TBC~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Terima kasih sudah membaca dan mohon direview ya, terima saran, kritik & flame! Hwaa, akhirnya aku memberanikan diri meremake my 1st fanfic Give me your heart yang original pairingnya adalah YAOI no.1 yaitu Sasuke & Naruto. Sebenarnya aku takut untuk remake jadi live action gini apalagi aku bersumpah sudah tidak akan membuat fanfic dengan LEMON scene lagi tapi sejak kembali nulis lagi timbul deh buat remake nih fanfic. Bahasanya terlalu vulgar dan inilah yang paling aku takutkan buat dipublish atau gak ya di BBFI, kalau dipublish syukurlah.

Aku minta maaf ya telah menghancurkan karakter Big Bang member disini apalagi abang Ji Yong, maaf sekali ya… Bad boys abis ini aku buat karakter mereka. Maaf kalau ada typo ya soal karakter aslinya (ver sasunaru) sedikit-sedikit masih ada.Ini benar-benar naskah asli yang aku ubah namanya aja.

Terima kasih admin BBFI yang sudah bersedia membaca dan mempublish fanfic aku ini, maaf pas ngirim banyak revision abis pas lagi di cek ternyata masih ada yang typo.

Kalo ada yang mau liat ver YAOI sasunaru silakan mampir ke homepage ku http://fantasyworldofuisaokke.wordpress.com/fanfiction-2/