I will be a father for your baby cvr

Nama author : Riska Auliana

Cast(s) : Kwon Jiyong, Hwang Miyoung, Lee Donghae.

Genre/rating/length : Romance/PG-15/One Shot

Disclaimer : Cerita ini bener-bener hasil pemikiran sendiri loh. Waktu pengerjaannya aja lama bangettttt. Kebanyakan mikirnyoh-_-

A/N : Warning Typo yoh!! -_-v suka ada yang gaje gitoh >//<

twitter : @KaRiskaAulia

Persahabatan yang sudah terjalin sedari kecil memang kadang menimbulkan begitu banyak kenangan. Mau itu kenakalan mereka ataupun kesedihan yang mereka alami. Semua orang pasti mempunyai seorang sahabat. Entah itu sedari kecil maupun sudah besar. Itulah yang dialami seorang gadis bernama Miyoung dan sahabatnya bernama Jiyong. Umur mereka pun hanya terpaut satu tahun, lebih tua Jiyong.

Saat ini mereka sudah dewasa, persahabatan yang mereka jalin hampir selama 15tahun menimbulkan banyak kenangan. Karena lamanya jalinan hubungan persahabatan mereka, mereka pun sudah saling mengenal bagaimana sifat masing-masing. Jiyong sangatlah dekat dengan keluarga Miyoung, terkadang Jiyong menginap dirumah Miyoung kalau orang tua Jiyong berpergian ke luar negeri untuk urusan bisnis. Orang tua Jiyong selalu menitipkan anak semata wayangnya pada eomma Miyoung sedari kecil. Jadi bukan lagi hal yang aneh kalau mereka sering tidur bersama sewaktu kecil. Namun ketika mereka beranjak dewasa eomma Miyoung tidak menginjinkan Jiyong untuk satu kamar dengan Miyoung lagi.

Pada tahun 2012 Jiyong dan Miyoung kini memasuki usai 23 dan 24 tahun, mereka kuliah disalah satu universitas terbaik di korea selatan yaitu Seoul National University . Selama mereka bersahabat baik Jiyong maupun Miyoung tidak pernah mempunyai seorang pacar, tapi setelah mereka berdua masuk ke universitas. Miyoung menemukan lelaki yang sangat ia sukai. Dia pun meminta bantuan Jiyong untuk mendekatkannya dengan lelaki itu.

“ Jiyong-ahh .. kau tahu siapa dia?”.

“ Nugu???”.

“ Itu… namja yang sedang duduk dibawah pohon itu…”. Miyoung menunjuk namja tersebut.

“ Oh. Dia….. Wae? Kau suka padanya?”. Jiyong terus membalik kertas buku yang sedang ia baca.

“ Ahehehe… dia tampan yaaa? Hmmm”. Ucap Miyoung malu-malu.

“ Masa sih? Lebih tampan aku kemana-mana”.

“ Mwo??!!”.  Miyoung langsung memukul kepala Jiyong.

“ AAHH!! Kenapa kau memukulku??!!”. Ucap Jiyong melotot.

“ Ya habisnya kau percaya diri sekali!! Tentu saja lebih tampan dia!!”.

“ Ahaha kenapa kau baru membicarakan seorang lelaki padaku? Kau pasti baru mengalami masa pubertas ya? Haha”. Ejek Jiyong

“ YYA!!! Aku sudah menyukai seorang lelaki pada saat SMA… tapi aku tidak pernah bilang padamu!”. Miyoung memukul kepala Jiyong lagi.

“ AAahhh!!”. Ucap Jiyong merapikan rambutnya yang sudah berantakan akibat perbuatan Miyoung.

“ Lalu bagaimana denganmu??? Kau juga tidak pernah memperkenalkan sorang wanaita padaku?!”.

“ A… A…ku??”. Ucap Jiyong sedikit kikuk

“ Ne!”.

“ Banyak wanita mengejarku.. namun aku menolak mereka semua karena aku lebih suka sendiri seperti ini”. Jiyong mencoba mengelak dari pertanyaan Miyoung

“ Aaah keurae??? Gotjimal!”.

“ YAA!! Aku benar!! Kenapa kau tidak percaya padaku…!!”.

“ Ya tentu saja aku tidak percaya padamu… karena setahuku kau suka padaku.. hahaha”.

“ M…Mwo???…………………”.

Sesaat Jiyong membeku dan membisu, mendengar ucapan Miyoung barusan. Yang memang membuat jantung Jiyong berdetak begitu cepat.

“ Ah sudah … nanti kau kenalkan dia padaku ya……”.

Miyoung pergi meninggalkan Jiyong yang masih berfikir tentang ucapan Miyoung.

“Benarkah seperti itu? Aku menyukainya?? Andwae!!! Kalau aku memang sedang ingin sendiri memangnya kenapa? Tidak boleh?!!”.

**

Keesokan harinya..

“ Jiyong-ahh kau sudah mendapatkan informasi darinya??”. Miyoung datang dan duduk disamping sahabatnya tersebut.

Jiyong melihat kedatangan Miyoung dan menggeser sedikit posisinya, agar Miyoung dapat duduk dengan lega.

“ Belum”.

“ AH Jiyong… kau tahu kan aku suka padanya??? Bantulah sahabatmu ini…….”. ucap Miyoung sedikit manja.

“ YA! Ada apa dengan nada bicaramu?? Menjijikkan!!”.

“ Ya makanya kau bantu aku yayayayayayayaaaa”.

Seketika Miyoung mendekatkan wajahnya dengan Jiyong, Jiyong pun kaget dengan hal itu dan langsung menjauhkan wajahnya dari Miyoung.

“ AH micheosseo!! Namanya Donghae… Lee Donghae! Kau puas!!!”.

“ AH Jinjja???? Baiklah mulai besok aku akan mendekatinya…. Gomawo Jiyong-ahh”.

Miyoung memeluk Jiyong. Jiyong kikuk seketika. Dia merasa jantungnya berdebar sangat cepat. Dan setelah Miyoung melepaskan pelukannya Miyoung pun pergi meninggalkan Jiyong yang masih duduk dengan wajah terbengong-bengong.

-Ah ada apa ini??? – sebenarnya saat Jiyong membantu Miyoung, Jiyong merasa berat hati untuk melakukannya. Kini ia benar-benar tidak tahu apa yang ia rasakan pada sahabatnya itu.

**

Hari demi hari Miyoung terus mendekati Donghae. Satu minggu masa pendekatan akhirnya Miyoung berpacaran dengan Donghae. Miyoung terus bercerita tentang Donghae pada Jiyong, Jiyong merasa risih jika Miyoung terus membicarakan Donghae. Risih atau cemburu Jiyong pun tidak tahu akan hal itu. Sebab selama Miyoung berpacaran dengan Jiyong, mereka berdua menjauh. Miyoung selalu tidak ada waktu untuk Jiyong. Jika Jiyong kerumah Miyoung, Miyoung tidak pernah ada dirumah. Jiyong pun merasa sangat kesepian.

-Jiyong POV-

Miyoung berubah saat dia berpacaran dengan Donghae. Mungkinkah sifatnya itu wajar. Sekarang aku sendiri, tidak ada lagi yang memukul-mukul kepala ku lagi. Ah sangat membosankan. Bahkan saat Miyoung dan Donghae berpacaran, Miyoung tidak pernah mengirim pesan padaku lagi. “Kenapa ia berubah sebegitu drastisnya??”.

Untuk menghilangkan rasa bosan, aku mengunjungi rumah Miyoung. Aku yakin pasti dia tidak akan ada dirumah. Dan kulihat dirumah Miyoung hanya ada Eommanya sedang memasak.

“ Bibi Hwang….”. ucapku sedikit mengagetkan.

“ Ahh… Jiyong. Kau mengagetkanku saja”.

“ Ahhehehe mianhae bi…. Kau sedang masak apa??”.

“ Aku sedang membuat sup, kau mau? Pasti eomma mu tak masak kan? Kau makan malam disini saja….”.

“ Ne bi… kau tahu saja haha”.

“ Jiyong-ahh “. Kini raut wajah Bibi Hwang terlihat lebih serius.

“ Ne.. waeyo?”.

“ Kau tahu siapa pacar Miyoung sekarang??”.

“ Aku tahu bi…. Memang ada apa?”.

“ Aku merasa aneh dengan sifatnya belakangan ini. Dia menjadi jarang sekali dirumah, walaupun itu hari libur. Dan terkadang ia pulang sangat malam. Aku sudah memarahinya, tapi dia selalu bilang kalau ada pelajaran tambahan dikampusnya. Benarkah itu??”.

“ Ah Jinjja??? Mollayo bi.. aku dan Miyoung beda jurusan kelas. Nanti akan ku cari tahu bi…”.

“ Gomawo Jiyong-ahh… hanya kau yang bisa bibi andalkan”.

-End Jiyong POV-

-Miyoung POV-

“ Donghae-ahh mau kemana kita sekarang??”. Tanya ku.

“ Kita makan direstoran biasanya saja”.

“ Makan di restoran lagi??? Ah tidak adakah yang lain??”.

“ Kau mau yang lain??”. Wajah Donghae berubah sedikit nakal.

Aku pun hanya mengangguk.

“ Kau yakin? “. Donghae meyakinkan.

“ Iya…. Tentu saja…”.

Donghae pun membawaku kesuatu tempat. Dan memang sebelumnya aku belum pernah ke tempat ini.

“ Donghae-ahh ini tempat apa??”.

“ Ini apartemenku”.

Donghae dan aku pun masuk kedalam apartemennya. Aku tidak pernah sama sekali berfikir apa yang akan dia lakukan.

“ Kau duduk dulu disini… aku ingin mengganti baju dulu”.

“ Ah ne….”.

Selama 10 menit aku menunggu. Donghae pun datang, tapi kenapa hanya memakai handuk? Apakah dia habis mandi?

“ Ah kau menunggu lama??”.

“ Tidak Juga….. apa kau habis mandi?”.

“ Ne….”.

Donghae pun jalan mendekatiku yang terduduk di sofa. Dia pun duduk disampingku dan berkata sesuatu.

“ Kau bilang kau ingin hal yang lain untuk kita lakukan malam ini kan?”.

Aku pun hanya diam. Aku juga sedikit merasa takut padanya. “Apa yang akan dia lakukan padaku? Mungkinkah semua orang berpacaran melakukan hal seperti ini juga?? “. Pacaran adalah hal pertama untukku, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Donghae pun mendekatkan wajahnya ke wajahku, mengangkat daguku dengan tangannya. Dan dia mencium bibirku dengan lembut.

“ Aku sayang padamu Miyoung-ahh”.

**

Sebuah cahaya menusuk mataku, seakan berat membuka mata. Tapi ku paksa untuk membukanya. Aku pun bangun dan melihat isi ruangan ini. Tapi kenapa interior ruangan ini tidak sama seperti kamarku. Aku terus mengucek mata ku untuk memastikan. Dan memang benar ini bukan kamarku. Lalu kulihat disampingku ada seorang namja tertidur tanpa memakai baju, dan hanya tertutupi oleh selimut. Aku kaget bukan main setelah aku melihat diriku juga yang memang sudah tidak ada satu lembar benang yang menempel ditubuhku.

“Ah apa yang ku lakukan semalam??? Seingatku aku dan Donghae minum soju bersama. Tapi setelah itu aku lupa……. Mungkinkah????”

” AAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKKKHHHHHHHHH!!!!!!!!!”. Teriakku sekencang-kencangnya hingga membuat Donghae terbangun.

“ Yaaaaaaaaaa!! Ada apa kau pagi-pagi teriak-teriak seperti itu???”. Donghae terlihat masih mengantuk dan mencoba membuka matanya

“ K…kk…kau.. dan a.. a.. ku…… apa yang kita lakukan tadi malam???”. Ucapku sambil menutup tubuhku dengan selimut.

“ Kau tidak ingat??? Kita melakukannya……”. Ucap Donghae santai.

“ Melakukan? Melakukan apa?? T.. tapii jika nanti aku……..”. Aku mulai panik dan takut.

“ Tidak akan terjadi.. kau tenang saja”. Ucapnya kembali tidur.

“ AH benarkah??? Kau yakin?? Aku sangat takut…”.

“ Hmmm DOnghae-ahh bisakah kau antarkan aku pulang? Aku takut eomma ku mencariku”.

Donghae pun hanya diam. Dan ternyata dia sudah kembali tertidur. Aku pun memutuskan untuk menghubungi Jiyong dengan menggunakan ponsel Donghae, menuyuruhnya menjemputku.

-Author POV-

Di lain tempat..

Eomma Miyoung kalang kabut mencari Miyoung. Karena semalam dia tidak pulang kerumah. Dia pun meminta bantuan pada Jiiyong.

“ Jiyong-ahh …. Kau tahu kemana Miyoung pergi?? Ah aku sangat khawatir padanya”. Ucap Eomma Miyoung dengan raut wajah sangat panik.

“ Aku tidak tahu bi…. Kau sudah coba menghubunginya??”.

“ Ponselnya tidak aktif Jiyong. Apa kau bisa bantu cari???”.

“ Aku harus cari kemana bi??? Aku tidak tahu……”.

Tiba-tiba dalam kepanikan mereka berdua, ponsel Jiyong bergetar menandakan ada sms. Namun nomor tersebut tidak ia ketahui. Jiyong pun membukanya, dan isi pesannya adalah…

From: 081264xxxxxx

Jiyong ini aku.. kau bisa jemput aku dihalte dekat SMA Shinhwa? Aku tunggu secepatnya ya….

“ Whoah bibi.. Miyoung mengirim pesan padaku.. aku disuruh menjemputnya. Kau tenang saja bi.. sepertinya dia tidak apa-apa”.

“ Baiklah, gomawo Jiong-ahh kau selalu membantu”.

Jiyong langsung meluncur ke tempat yang sudah diberitahu Miyoung. Setelah sampai terlihat Miyoung sedang duduk. Jiyong pun datang menghampiri wanita berambut coklat tersebut.

“ YA! Kau membuat kami khawatir!! Menginap dimana kau semalam??!!”.

“ Ayo pulang”. Miyoung meninggalkan Jiyong yang masih belum selesai memarahinya.

Didalam mobil Miyoung hanya diam, tak banyak bicara. Jiyong pun merasa aneh dengan sikapnya, dan sepertinya dia terlihat lemas.

“ Kenapa kau diam saja? Kau terlihat sangat lemas… gwaenchanha?”.

“ Uh? Gwaenchana”.

“ Kau belum menjawab pertanyaanku…. Semalam kau menginap dirumah siapa? “.

“ Kenapa kau ingin tahu sekali? Ini bukan urusanmu.. sudah menyetir saja dengan benar”.

Miyoung merasa badannya sangatlah tidak enak, mungkinkah semua ini karena baru pertama kali ia melakukannya…

Miyoung terus diam sampai mereka di rumah Miyoung. Jiyong menatah Miyoung kekamarnya, karena dilihat Miyoung kurang sehat. Sekali lagi Jiyong menanyakan hal yang sama.

“ Miyoung.. kau benar tidak apa-apa??”.

“ Ne.. Jiyong. Gomawo sudah menjemputku.. sekarang kau bisa pulang”.

Jiyong pun meninggalkan Miyoung yang kembali tertidur. Dan menemui Eomma Miyoung.

“ Kau tahu dimana dia semalam menginap?”. Eomma Miyoung masih terlihat panik.

“ Aniyo bibi…. Dia tidak memberitahuku. Aku curiga dengannya”.

“ Ahh…….. kenapa dia begitu? Bukankah dia selalu bercerita padamu?”.

“ Iya.. biasanya memang cerita. Tapi untuk kali ini dia sama sekali tidak menjawab pertanyaanku”.

“ Yasudah Jiyong gomawo untuk hari ini….. kau sudah sangat membantuku”.

“ Cheonma bibi.. kalau begitu aku pulang ya. Besok aku akan menjemput Miyoung untuk ke kampus bersama”.

“ Ne…”.

**

Keesokan harinya Miyoung sudah kembali ke sifat cerianya. Melupakan masalah kemarin semalam, karena dia percaya tidak akan terjadi apa-apa. Tapi dia tetap memutuskan untuk tidak menceritakannya pada Jiyong.

“ Jiyong-ahh kau tahuu.. Donghae sudah menciumku loh… hihi”. Ucap Miyoung seperti orang sedang kasmaran.

“ AH! Jinjja??!!!”. Ucap Jiyong melotot kaget.

“ YA! Kau kenapa kaget begitu?? Hihihi wajarkan kalau orang pacaran melakukan itu”.

“ Ya.. wajar”. Ucap Jiyong dengan nada lebih rendah.

Jiyong merasa harapannya sudah tinggal di ujung tanduk. Orang yang ternyata ia sayangi, memilih orang lain untuk melabuhkan hatinya. Jiyong pun hanya diam saat Miyoung terus membicarakan Donghae.

-Tiffany POV-

“ ……… yasudah ah.. aku ingin mencari Donghae dulu.. bye Jiyong”.

Aku pun meninggalkan sahabatku itu. Aku pun celingak-celinguk mencari Donghae. Beberapa tempat kucari dia tidak ada. Dan selama ku mencari akhirnya dia kutemukan. Dia sedang berada di halaman belakang sekolah, tapi dia bersama seorang yeoja. Dengan rasa penasaran aku pun menghampirinya. Namun disaat aku menghampirinya yeoja itu pergi.

“ Siapa dia Donghae?”.

“ Dia teman sekelasku.. kenapa??”.

“ Oh hihi aniyo”.

“ Kemarin kau pulang dengan siapa?”.

“ Ah aku pulang dijemput oleh sahabatku Jiyong”.

“ Oh baguslah kalau begitu”.

-Author POV-

Hari terus berlalu, sampai pada bulan pertama Miyoung tidak datang bulan. Miyoung pun panik akan hal itu. Namun ia terus berusaha tenang. Ia berusaha melupakan hal-hal negative yang ia takutkan selama ini.

Malam ini Jiyong berencana mengajak Miyoung untuk makan malam. Karena sudah jarang sekali mereka menghabiskan waktu berdua. Karena memang Miyong yang terlalu sibuk dengan Donghae.

“ Miyoung-ahh kau ingin makan malam? Apa kau sudah makan? Aku akan mentraktirmu”. Ucap Jiyong

“ Belum. Benar kau akan mentraktirku?? Oke kajja!!!”.

Mereka pun makan disebuah restoran. Lalu disaat pertengahan makan malam mereka. Tiba-tiba Miyoung merasa tidak enank badan, dan seperti ingin muntah. Jiyong pun khawatir dengannya.

“ Miyoung kau tidak apa-apa? Tadi kulihat kau baik-baik saja?”.

Tanpa menjawab Miyoung pun langsung pergi ke kamar mandi. Rasanya sangat mual.

“ Ueeekkk Uekkk “.

Namun selama ia merasa mual dan muntah, tidak ada satupun yang keluar dari mulutnya itu.

“Mungkinkah?? Aku hamil??? ANDWAE!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”.

JIyong pun khawatir pada Miyoung, karena Miyoung lama sekali dikamar mandi. Ia pun mendengarkan dari luar kamar mandi, terdengar Miyoung terus muntah-muntah.

“ Miyoung-ahh gwaenchanha???”. Ucap Jiyong panik.

Miyoung pun keluar dengan membersihkan mulutnya yang basah hanya oleh salivanya.

“ Kau tidak apa-apa? Ayo kita pulang saja..”.

“ Ne.. aku hanya tidak enak badan. Kita tidak usah pulang”.

“ Waaeyo?? Aku akan kena marah bibi kalau tidak membawamu pulang kerumah”.

“ Tidak akan,,, selagi aku bersamamu. Eomma tidak akan masalah”.

Jiyong pun membawa Miyoung yang masih lemas kerumahnya.

“ Kau ingin kubuatkan teh?”.

“ Aniyo.. aku ingin ke kamar mandi”.

Tetapi disaat Miyoung jalan kearah kamar mandi, ia berjalan melewati Jiyong. Miyoung pun tersandung oleh karpet yang terlipat. Jiyong langsung menahan Miyoung kedalam pelukannya agar ia tidak jatuh. Kontak mata pun terjadi diantara mereka berdua.

kau sangat cantik Miyoung….. aku sangat mencintaimuuu.. kenapa kau tak pernah lihat kesungguhanku??”. Batin Jiyong.

Jiyong pun kontak mata dengan Miyoung cukup lama. Tiba-tiba Jiyong mengeluarkan kata-kata yang sebenarnya kata-kata itu keluar sendiri dari mulutnya tanpa ia perintah.

“ Miyoung-ahh.. kau sangat cantik…..”.

“ M… mwoo???”. Ucap Miyoung sedikit heran dengan kelakuan sahabatnya itu.

Jiyong mendekatkan wajahnya dengan wajah Miyoung.. Tak terfikir oleh mereka berdua kalau mereka adalah seorang sahabat, bahkan Jiyong sudah tidak memikirkan kalau Miyoung sudah memiliki seorang pacar. Semakin dekat wajah kedua insan tersebut, akhirnya terjadilah….. Jiyong mencium Miyoung. Namun herannya Miyoung diam saja, dan malah menutup matanya. Seraya menikmati kelakuan sahabatnya itu.

Namun beberapa saat Miyoung menyadari kalau perbuatan mereka berdua salah. Miyoung pun membuka matanya dan melepaskan ciuman mereka. Dan beranjak berdiri tegak, menghilangkan rasa salah tingkahnya Miyoung menggaruk-garuk kepalanya.

“ Hmm aku lupa.. aku ingin ke kamar mandi”. Miyoung meninggalkan Jiyong yang masih diam, merasa bersalah atas apa  yang ia lakukan pada sahabatnya itu.

Setelah Miyoung kembali, mereka merasa sangat canggung dan kaku. Diam membisu diantara mereka. Jiyong merasa bersalah dan akhirnya Jiyong memulai pembicaraan.

“ Hmm Miyoung mianhae …….”

“ Untuk apa ?”. Tanya Miyoung tanpa melihat wajah Jiyong.

“ Soal tadi …. Kuharap kau lupakan saja, anggap tidak pernha terjadi”.

“ Uh…… ohiya aku tidur dimana?”. Ucap Miyoung mencairkan suasana.

“ Dikamarku saja. Nanti aku tidur di sofa”.

“ Kenapa? Kau tidur saja bersamaku”.

“ MWO? Aniyo Miyoung!”.

“ Wae?? Bukankah dulu kita sering tidur bersama. Aku percaya padamu, kau tidak akan melakukan apa-apa.. karena kau kan tidak suka wanita…….. haha”.

“ YA! Enak saja kau!!”

**

Keesokan harinya Miyoung berencana untuk memberitahu Donghae tentang hal ini. Namun disaat ia menemukan Donghae. Dia bersama dengan wanita kemarin, dan mereka sedang berpelukan.

“Apa maksudnya ini Lee Donghae???” . jerit Miyoung didalam hatinya.

Setelah mereka selesai melakukan itu, Miyoung menghampiri mereka berdua dengan raut wajah sangat kesal. Dan lagi-lagi wanita itu langsung pergi.

“ Kenapa kau berpelukan dengannya? Ada hubungan apa kau dan dia?”.

“ Ah aniyo Miyoung-ahh … ngomong-ngomong ada apa kau mencariku?”.

“ Aku hamil “. Ucap Miyoung langsung to do point.

Donghae langsung  membulatkan kedua matanya.

“ M…Mwoo??? Tidak mungkin!!! Itu pasti bukan anakku!!!”. Elak Donghae.

“ YA!! Bagaimana bisa ini bukan anakmu??? Jelas-jelas kejadian satu bulan yang lalu itu…..”.

“ Kau pasti tidur dengan laki-laki lain kan??!”. Potong Donghae

“ YA! Mana mungkin… aku hanya baru melakukannya padamu! Sekarang aku minta pertanggung jawabanmu!!”.

“ Tanggung jawab??!! Andwae!!!!”. Donghae mendorong Miyoung dan menyebabkan Miyoung tersungkur ditanah.

“ Ige Mwoya???”. Ucap Miyoung menangis terisak-isak.

-Jiyong POV-

Lusa adalah ulangtahun Miyoung, aku ingin memberikan ia sebuah kalung. Agar bisa ia pakai nantinya. Aku membelinya di store. Tapi ketika aku berjalan-jalan mencari, tiba-tiba terlihat itu Donghae.. berjalan dengan seorang wanita, bukan Miyoung..

Aku pun menghampirinya.. mungkinkah dia berselingkuh?? Tanpa berfikir panjang aku pun langsung memukul pipinya dengan tanganku, dan membuat ia jatuh tersungkur. Aku terus memukulnya, pipi kiri dan kanannya sudah mulai memerah.

“ KAU!!! Kau berselingkuh dibelakan Miyoung?!!!!!”.

“ Siapa kau???!!!! Tiba-tiba memukulku seperti ini??!!!”.

Donghae dan Jiyong pun berdiri. Donghae pun merapihkan bajunya yang berantakan akibat Jiyong.

“ Apa kau Jiyong? Hahahahaa …. Miyoung sudah tahu semua ini!!”.

“ Mwo??? Apa maksudmu???”. Ucapku kembali memukul Donghae.

“ YA!! Miyoung sudah bukan milikku! Sekarang kau ambil saja bekasku!! Hahah”.

“ Apa maksudmu dengan bekasmu???!!!!! HAH!!!”. Ucapku makin emosi.

“ Miyoung sudah ku pakai!! Sekarang dia hamil!! Ahahaha sedari awal harusnya tidak usah kau kenalkan dia dengan aku!! Dia polos sekali.. sampai aku melakukan hal itu dia diam saja!! Bodoh!!!”.

“ YYYAAAA!!! Berani sekali kau!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”. Aku pun kembali memukul Donghae lebih kencang lagi.

Serasa cukup menghabisinya. Akhirnya aku meninggalkan Donghae dengan pacarnya itu. Aku terus memikirkan perkataan Donghae tadi..

“Benarkah itu?? Miyoung hamil??? Donghae berselingkuh dengan wanita lain? Lalu bagaimana dengan perasaan Miyoung???”.

Aku memutuskan untuk kerumah Miyoung, memastikan ia tidak apa-apa.

Author PV-

Dirumah Miyoung

“ Apa gunanya anak haram ini sekarang?? Aku tidak akan membiarkan anak ini lahir tanpa mempunyai seorang ayah…. Kenapa aku begitu bodoh?? Mencintai orang yang salah!!! Bahkan aku tidak berani bilang semua ini pada eomma… eomma pasti sangat marah dan sedih atas kelakuan anak satu-satunya. Bahkan aku sudah tidak pantas lagi untuk hidup!!!”.

Miyoung berencana mengakhiri hidupnya dan anaknya. Miyoung mengambil pisau didapur dan membawanya kedalam kamar.

“ Bibi…. Dimana Miyoung???”. Ucap Jiyong panik

“ Raut wajahmu kenapa panik sekali?? Miyoung ada dikamarnya…”.

Jiyong pun langsung berlari kearah kamar Miyoung. Dan Jiyong mencoba membuka pintu kamar Miyoung, namun terkunci. Jiyong terus memanggil Miyoung.

“ Miyoung!! Miyoung!! Buka pintunya!!! Kau didalam kan???”.

Namun tidak ada suara yang menyahut. Jiyong makin panik, dengan apa yang akan dilakukan oleh Miyoung. Karena Jiyong sudah sangat mengenal bagaimana sifat Miyoung. Dia akan sangat nekat. Jiyong pun memutuskan untuk mendobrak pintu kamar Miyoung.

“BRAKKK!!!!!”.

Pintu kamar Miyoung berhasil terbuka. Terlihat Miyoung dengan raut muka putus asa, siap menggoreskan pisau itu diurat nadinya. Jiyong yang melihat itu langsung berlari menahan perbuatannya.

“ Miyoung jangaaaaaannn!!!!!!!!!!!!!!!!!”.

Dan Jiyong pun berhasil membuang pisau yang dipegang oleh Miyoung, dan memeluknya seerat mungkin.

“ K…kau kenapa melakukannya”. Ucap Miyoung dengan nada sangat lemas.

“ Kau gilaaaaaaa??!!!”. Ucap Jiyong sambil terus memeluk Miyoung.

“ Iya,,, aku gilaaa..”.

“ Aku sudah tahu semuanya Miyoung….”. Jiyong melepaskan pelukannya dan menatap Miyoung selekat-lekatnya.

Miyoung pun hanya diam. Mungkin saat ini dia merasa malu dan takut.

“ Kau tak perlu melakukan itu Miyoung!!! Kau akan membahayakan dirimu dan bayi dalam kandunganmu”.

“ Aku memang ingin menghancurkannya! Aku takut pada eomma, aku takut bayi ini akan malu kalau tahu dia adalah anak haram”. Miyoung terisak.

“ Aku yakin bibi akan menerimanya…. Kalau sudah terjadi seperti ini mau berkata apa lagi???”.

“ Kau mau bantu aku untuk bicara pada eomma? Kau dan eomma sangat dekat… jadi tolong bantu aku”.

“ Ne Miyoung aku pasti akan selalu membantumu”.

Jiyong kembali memeluk Miyoung, menghilangkan rasa stress Miyoung. Jiyong memeluk dengan penuh rasa kasih sayang. Selama 15tahun, baru kali ini dia memeluk Miyoung.

“ Sekarang kita temui bibi.. dan membicarakannya secara dingin. Oke?!”.

Miyoung pun hanya mengangguk. Dan mengikuti langkah Jiyong dari belakang. Terlihat eomma Miyoung sedang menonton TV. Miyoung dan Jiyong pun menghampiri. Terlihat Miyoung sudah sangat stress.

“ Miyoung-ahh kau habis nangis?? Wajahmu kucel sekali??”.

“ Bibi……… kami ingin bicara padamu”.

“ Kenapa wajah kalian serius sekali? Kalian ingin bicara apa???”.

Jiyong pun memulai pembicaraan, namun Miyoung hanya menunduk dan diam.

“ Ini semua sudah terjadi… tidak ada yang bisa menghentikan.”

“ Maksudmu apa Jiyong?”.

“ Ini semua kecelakaan bi…..”.

“ Aku tidak mengerti dengan ucapanmu”.

“ Miyoung…………….”.

“ Iya.. kenapa Miyoung?”.

“ Hmmmmm Miyoung hamil bi……….”.

Eomma Miyoung pun kaget dan sontak melotot kearah mereka berdua.

“ MWOOOOOOOOOOOOOOOO?????!!!!!! JIYONG!!! Selama ini aku percaya padamu .. tapi kenapa kau melakukan itu pada anak semata wayangku?!!!!!!!! “.

Eomma Miyoung terus memukuli Jiyong dengan bantal sofa yang ada didekatnya. Jiyong pun kesakitan dan berusaha menjelaskan kembali.

“ AH.. ah… ah… Bibi….. tunggu dulu.!!!! Dengar dulu penjelasanku…”.

“ Penjelasan??!! Penjelasan apa lagiii????!!!!!”. Eomma Miyoung terus memukuli Jiyong.

“ A…a….a….a…ahh Bibi tunggu dulu!!! Bukan aku yang melakukan itu………….. aku hanya membantu Miyoung menjelaskan”.

Mendengar itu, eomma Miyoung pun berhenti memukul Jiyong. Dan mengalihkan matanya kearah Miyoung.

“ MIYOUNG!!!!! Kau hancurkan perasaan Eomma!! Kenapa kau lakukan ini!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”.

“ Mianhae eomma”. Ucap Miyoung terus menangis

“ Siapa laki-laki itu????!?!? Sekarang kau minta tanggung jawab lelaki yang menghamilimu itu!!!!”.

“ Ahh bibi…… yang jadi permasalahan…. Lelaki itu …. Tidak mau bertanggung jawab….”.

“ MWWWWWWWWOOOOOOOOOOO?????????!!!!!!!!! Ah kepalaku.. kepalaku………”.

Eomma Miyoung terlihat memegangi kepalanya, dan langsung melemas.

“ Bibi……….. gwaenchanha???”.

“ Eommaaa…….. kau tidak apa-apa?? Mianhae eommaaaaa”.

**

-Jiyong POV-

Hari ini aku berencana mengajak Miyoung jalan-jalan, menghilangkan rasa penat hatinya. Agar bisa melupakan Donghae.

Aku berkunjung kerumahnya, dan mengetuk pintu rumahnya. Dan eomma Miyoung yang membukakan pintu.

“ Ah Jiyoung…. Ada apa?”.

“ Miyoung mana bi?”.

“ Ada didalam kamarnya, ia belum keluar dari semalam. Kurasa ia masih memikirkan itu. Padahal bibi sudah mencoba menerima itu. Mau berbuat apa lagi kalau sudah begini”.

“ Iya bi…. Kau dan Miyoung harus banyak bersabar”.

“ Kau ajak dia jalan-jalan saja Jiyong, agar dia tidak murung terus menerus”.

“ Ne bi….. “

Aku pun jalan menuju kamar Miyoung. Dan ketika kubuka pintu kamarnya tidak dikunci. Namun pada saat ku masuk, ternyata Miyoung habis mandi. Kami berdua saling melihat. Dan satu sama lain berteriak.

“ AAAAKKKK!!! Mianhae Miyoung mianhae”. Ucapku dan meningalkan kamar Miyoung

Selang beberapa menit Miyoung pun selesai dan menghampiriku dan Bibi yang berada di ruang tamu.

“ YA! Kenapa kau main masuk saja?!”.

“ Ya ini salahmu, kenapa kau mandi tapi tidak mengunci kamar?!”. Ucapku mencoba membela.

“ Cihh… ada apa kau kesini?”.

“ Dia ingin mengajakmu jalan-jalan Miyoung”. Ucap Bibi

“ Ani.. aku sedang tidak mood”.

“ YA! Kau ini!!! cepat ikut dengannya!!!”. Ucap Bibi Hwang sedikit melotot pada Miyoung

“ Aishhh…. Ne eommaaaaaaa “. Jawab Miyoung sedikit terpaksa.

-Author POV-

Jiyong pun membawa Miyoung ke Namsan Tower. Jiyong mengajaknya ke pusat orang menuliskan namanya disuatu gembok.

“ Untuk apa kita kesini??”. Tanya Miyoung.

“ Ya untuk menulis nama kita”.

“ Kita?? Aku dan kau tidak pacaran, kenapa kita harus menulisnya”.

“ Kau benar…… baiklah kita jangan kesini”.

Jiyong menarik tangan Miyoung, terlihat Jiyong sedikit kesal dengan sikap Miyoung yang tak kunjung peka dengan perhatian Jiyong pada Miyoung.

“ Kita duduk disini saja. Aku lelah berjalan terus”. Miyoung mengajak Jiyong duduk di bangku taman.

Mereka berdua diam, Jiyong memang agak sedikit kesal dengan Miyoung. Miyoung menyadari kalau Jiyong kesal dengannya. Tapi Miyoung membiarkan saja. Tiba-tiba Miyoung melihat sebuah baju yang sudah sangat tidak asing dipakai oleh orang lain.

“ Oh baju itu……….”. ucap Miyoung terus memandangi baju yang dikenakan orang.

“ Baju? Waeyo?”.

“ Baju itu sama persis dengan punya Donghae……”.

Jiyong pun diam, dan pergi meninggalkan Miyoung. Jiyong tambah kesal dengan Miyoung.

“ YA! Jiyong kau mau kemana? Kenapa kau tinggalkanku? Jiyong!!……..”. Miyoung berhasil menarik tangan Jiyong.

“ Bukankah tadi kau yang mengajakku jalan-jalan?? Kenapa kau malah tinggalkan aku begitu saja?!”.

“ Untuk apa kita jalan-jalan berdua. Kalau fikiranmu masih ada pada orang lain. Sedangkan kini kau sedang bersamaku!”. Jiyong melepaskan tangan Miyoung.

Miyoung merasa bersalah. Memang benar apa yang dikatakan Jiyong. Namun Miyoung tidak bisa secepat itu melupakan Donghae. Walau Donghae sudah menyakiti hatinya, dan membuat adanya jabang bayi didalam tubuh Miyoung.

“ Jiyong tunggu! Mianhae…”. Miyoung berlari mengejar Jiyong. Namun tiba-tiba Miyoung terjatuh. Jiyong pun berbalik kearah Miyoung dan menghampiri Miyoung.

“ Ah… Miyoung… Gwaenchanha??”.

“ Ah lemas sekaliii…………”.

“ Kenapa kau harus berlari?!”.

“ Tentu saja aku mengejarmu bodoh!”.

“ Ishh “.

Jiyong pun menggendong Miyoung ke mobilnya. Dan menyudahi jalan-jalannya kali ini.

**

Usia kandungan Miyoung kini sudah menginjak 4bulan. Namun Miyoung masih belum bisa melupakan Donghae. Orang yang sudah jelas-jelas menyakitinya. Jiyong terus berada disamping Miyoung, walaupun dia tahu Miyoung tidak akan pernah peka dengan hatinya.

“ Miyoung, kau tahu teman kita Yoona dengan Siwon? Kita diundang keacara pernikahannya besok malam. Kau mau datang??”.

“ Yoona? Siwon? Hah? Bukankah dia bersahabat? Ko bisa?”.

“ Tentu saja bisa!! memang sahabat tidak bisa menikah?! Semua bisa terjadi kalau mereka saling mengerti perasaan mereka masing-masing”.

Terlihat Jiyong sedikit memberi kode pada Miyoung, namun lagi-lagi Miyoung tidak peka akan hal itu.

“ Oh keuraeyo?? Yasudah kita datang besok”.

“ Huftttt”. Jiyong menghela nafasnya, seakan mulai lelah dengan kepolosan Miyoung.

**

Acara pesta sangat meriah, terlihat Yoona dan Siwon sangatlah bahagia. Miyoung selalu mendongkol jika melihat orang bisa menikah, namun yang dialami Miyoung sangatlah miris, dihamili dan ditinggalkan.

“ Apa kau mau terus berdiri disini? Ayo ucapkan selamat padanya”.

Suara Jiyong membuyarkan lamunan Miyoung.

“ Ah… nde…”.

Semua menikmati acara tersebut, namun hati Miyoung masih memikirkan Donghae. Ia berharap Donghae datang ke acara pernikahan ini. Karena Donghae adalah teman dari Siwon.

“ Jiyong-ahh aku ingin ke toilet dulu.. kau tunggu sini ya”.

“ Uh… ne…”.

Miyoung pun hendak pergi ke toilet, namun ditengah perjalannya. Ia melihat donghae dengan wanita itu lagi, lebih jelasnya adalah pacarnya. Miyoung langsung lemas melihat hal itu, kedua kakinya seakan lumpuh dan tidak lagi kuat menopang badannya. Miyoung pun ambruk.

Jiyong khawatir pada Miyoung karena ia terlalu lama ke toilet. Ia pun memutuskan untuk menyusulnya. Namun ia melihat Miyoung sudah terkapar dilantai. Sepi tidak ada orang disana. Jiyong pun panic dan langsung membawanya kerumah sakit.

Jiyong menunggu diruang tunggu, menunggu kabar baik datang dari dokter. Ia sangat tidak ingin terjadi apa-apa pada sahabat kesayangannya itu.

Setelah lama menunggu Dokter pun keluar, dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak.

“ Siapa wakil dari Miyoung-ssi??”.

“ Aku.. aku… bagaimana dokter? Tidak terjadi hal buruk kan?”.

“ Apa kau suaminya?”.

“ Uh?”. Jiyong masih belum bisa mencerna pertanyaan yang menurutnya itu sangat canggung baginya.

“ Istrimu terlalu banyak pikiran, dia mengalami stress ringan. Kau harus selalu mengontrolnya agar dia tidak terlalu lelah dan banyak fikiran”.

Seorang halmeoni pun datang menghampiri Dokter dan Jiyong.

“ YYA!! Jika kau suami yang baik.. kau tidak akan membiarkannya menderita. Aishhhh apalagi sampai stress begitu…!!”. Halmeoni itu memukul kepala Jiyong.

“ A … Ah halmeoni… sakit… ahhh… bukan.. bukan aku……”. Jiyong mendelik.

“ Ini akan berdampak negative pada bayi dalam kandungannya. Sebaiknya kau menjaganya dengan hati-hati”. Ucap Dokter.

“ Ndee.. ndee… khamsahamnida”.

Jiyong pun masuk keruangan tempat dimana Miyoung dirawat. Miyoung tertidur sangat pulas.

“Miyoung-ahh kenapa nasibmu sebegini rumitnya? Maukah kau membagi kerumitan masalahmu itu kepadaku? Agar kita bisa menanggungnya berdua.. aku sangat iba padamu Miyoung….”

Terlihat Miyoung menggerakan jarinya, itu menandakan bahwa dia sudah mulai siuman.

“ Ah kau sudah bangun ? bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja kan?”.

“ Uh? Ne.. aku baik-baik saja”. Miyoung terus memegangi kepalanya.

“ Sebenarnya apa yang membuatmu pingsan begitu? Dokter bilang kau terlalu banya pikiran.. dan kau tahu? Seorang halmeoni memukulku, dikira aku tidak menjadi suami yang baik.. ishhhh”.

“ Mwo?? Suami? Hahaha lucu sekali”.

“ Lucu? Itu sama sekali tidak lucu”. Wajah Jiyong terus datar.

“ Whoahaha kenapa kau berubah menjadi seserius itu”.

“ … Kau belum jawab pertanyaanku”.

“ Mwo?”.

“ Kenapa kau bisa pingsan?”.

“ Ah itu… pada saat di pesta, aku lihat Donghae dengan pacarnya”. Raut wajah Miyoung berubah sedih.

Jiyong pun hanya diam, dan tiba-tiba pergi meninggalkan Miyong.

“ Yaa…YAaa!! Kau mau kemana?? Kau tidak ingin menemaniku disini?”.

“ Aku akan menghubungi bibi Hwang untuk menemanimu”.

Jiyong tidak membalikkan badannya terus langsung pergi, setelah ia bicara.

“ Uh… ada apa dengannya??”.

Miyoung pun heran dengan kelakuan sahabatnya itu. Menurutnya ia sama sekali tidak mengucapkan suatu hal yang menyakiti hati Jiyong.

***

Keesokan harinya Jiyong pun tak kunjung datang untuk menjenguk Miyoung, mungkin Jiyong kali ini sudah tidak tahan dengan sifat Miyoung. Namun Miyoung memang tidak pernah sadar akan hal itu. Tapi Miyoung merasa ia sangat kesepian jika Jiyong tidak ada. Didalam ruang rumah sakit hanya ada Miyoung dan Eommanya.

“ Eomma….”. Panggil Miyoung kepada sang eomma yang sedaritadi memperhatikan Miyoung yang sedang melamun.

“ Waeyo?”.

“ Kau tahu kemana Jiyong? Hari ini dia tidak mengunjungiku untuk menjengukku?”.

“ Mollayo…. Tadi malam ia hanya bilang untuk menjagamu baik-baik”.

“ Apa maksudnya? Apa dia marah padaku?”. Miyoung mengubah posisinya dari tiduran menjadi menyandar disebuah bantal.

“ Marah? Wae? Apa kau mengucapkan suatu yang salah padanya?”.

“ Aku rasa tidak”.

“ Lalu kenapa kau tiba-tiba pingsan?”.

Miyoung tertunduk sejenak, berusaha kuat untuk membahas suatu hal yang telah membuatnya seperti ini. Serasa sudah siap, Miyoung pun menatap eommanya.

“ Tadi malam…. diacara pernikahan Yoona dan Siwon. Aku melihat Donghae dan pacar barunya eomma….”.

Raut wajah Miyoung berubah sedih, namun sebaliknya ditunjukkan eomma Miyoung-bibi Hwang- ia merasa sangat kesal dengan Miyoung, karena hanya masalah seperti ini Miyoung sampai pingsan. Dan menyebabkan kandungannya lemah.

“ YYAA!!!! Hanya masalah seperti itu kau sampai pingsan? Ah benar-benar!!”. Bibi Hwang mendengus.

“ Ya tentu saja eomma. Aku sangatlah sakit hati, aku tidak kuat melihatnya”.

PLAKK!!!!”. Bibi Hwang memukul kepala Miyoung karena jawaban Miyoung yang sangat ia benci.

“ AH eommaa.. sakitt!! Kenapa kau memukulku???”. Miyoung memegangi kepalanya yang kesakitan.

“ Tentu saja aku memukulmu! Malah seharusnya aku menendangmu!! Ah jinjja!!!”.

Miyoung pun hanya diam, melihat kemarahan eommanya. Sesudah amarah eomma padam,akhirnya eomma kembali mengobrol pada anaknya masih dengan wajah kesal.

“ Lalu… kau bilang itu pada Jiyong?”.

“ Ne… dia bertanya padaku, ya tentu saja aku jawab”. Jawab Miyoung polos.

PLAKKK!!!!”. Eomma Miyoung kembali memukul Miyoung.

“ YYAA!!! EOMMA!! Aku ini pasien disini! Kenapa kau memukulku terus??!”.

“ Ahhhh Jinjja!!! Kenapa aku punya anak sebodoh dirimu!!!”. Bibi Hwang kembali marah pada Miyoung.

“ Ada apa lagi eomma??!! Ahh!!”. Miyoung mendelik merasakan sakit kepalanya.

“ Cih… pantas saja Jiyong tidak datang menjengukmu!!”.

“ Kau tahu kenapa eomma??”. Suara Miyoung memelan, tidak lagi berteriak seperti sebelumnya.

“ Ya tentu saja dia sakit hati padamu! Kau tahu?! Jiyong yang membawamu kesini, tapi kau malah menyebut-nyebut nama Donghae, yang telah membuatmu seperti ini!”.

“ Keundae eomma…. Kenapa dia harus marah? Dia kan tahu kalau aku masih suka pada Donghae”.

“ YAA!! Benar-benar kau ini!! jangankan Jiyong! Bahkan aku pun sudah muak mendengar nama itu!!!”.

Miyoung pun tertunduk, ia takut kalau Bibi Hwang kembali memukulnya.

“ Kurasa Jiyong menyukaimu”. Ucap Bibi Hwang sedikit pelan.

“ Mwo? Hahah tidak mungkin”. Miyoung tertawa.

“ AH!! Bicara padamu sangat sulit! Karena otakmu itu terlalu bodoh!!”.

Bibi Hwang pun meninggalkan Miyoung yang masih memikirkan kata-kata eommanya itu.

“ Jeongmal? Dia suka padaku? Keundae….. dia sahabatku”.

Miyoung terus berfikir akan hal itu. Menurutnya Jiyong hanyalah peduli padanya, tidak pernah memikirkan hal –hal lain. Ia pun teringat sesuatu.

Mulai waktu itu ia menciumku…. Lalu saat ke Namsan Tower, dia marah padaku karena aku tidak mau menulis nama kami di gembok…. Lalu saat aku melihat baju yang sama persis dengan punya Donghae, dia marah padaku dan ingin meninggalkanku…. Dan sekarang saat dia tahu aku pingsan karena Donghae, dia bahkan tidak ingin menemuiku…. Benarkah??”.

**

Semenjak kepulangan Miyoung dari rumah sakit 2hari yang lalu. Jiyong benar-benar tidak mengunjungi Miyoung sama sekali. Sampai pada akhirnya Miyoung penasaran dan datang ke rumah Jiyong. Namun dirumah Jiyong, Miyoung hanya bertemu dengan pembantu rumahnya.

“ Jiyong tidak ada dirumah … dia sedang…”. Pembantu Jiyong tidak meneruskan perkataannya.

“ Sedang apa Bi? Kenapa kau tidak melanjutkan perkataanmu?”. Ucap Miyoung penasaran.

“ Sebenarnya tuan tidak mengizinkan untuk memberitahumu.. tapi kulihat kau sangat mengkhawatirkannya”.

Kenapa dia tidak ingin aku tahu dia kemana.. mungkinkah dia benar-benar marah padaku? Sehingga dia tidak ingin bertemu lagi denganku?”. Batin Miyoung.

“ Non? Kenapa diam saja? Kau benar-benar ingin tahu Jiyong dimana kan?”. Ucap Pembantu Jiyong membuyarkan lamunan Miyoung.

“ Ah ndee.. aku ingin tahu dimana dia….”.

“ Sebenarnya dia saat ini sedang keluar negeri, dia bilang dia ingin refreshing, dan bertemu dengan kedua orang tuanya. Tepatnya dia China”.

Refreshing?? Serumit itukah perasaannya sampai saat ini, sampai butuh refreshing? Ah mianhae Jiyong”. Miyoung kembali melamun.

“ Dia kembali lusa nanti…. Kulihat fikirannya memang sedang sangat kacau non..”.

“ Ah keuraeyo? Dia tidak bilang apa-apa lagi padamu?”.

“ Aniyo.. dia tidak bilang apa-apa lagi padaku. Tapi non…”.

“ Waeyo Bi?”.

“ Sebenarnya ini privasi Jiyong, tapi kurasa kau harus tahu soal ini..”.

“ Soal apaa?”.

“ Kurasa Jiyong menyukaimu non… kuharap kau jangan menyakiti Jiyong”.

Miyoung kembali terdiam memikirkan perkataan wanita paruh baya depannya saat ini. Ia bingung harus berbuat apa saat ini. ia bahkan bingung untuk menjawab pertanyaannya.

“ Non? Hmmm Aku merasa iba dengan Jiyong. Sejak kecil ia sudah banyak ditinggalkan oleh orangtuanya. Aku merasa dia sudah menjadi anakku sendiri, bahkan ketika fikirannya sedang buruk seperti sekarang ini. aku serasa ingin merangkulnya dan menenangkannya”.

“ Mianhae bi.. aku akan mencoba yang terbaik bagi Jiyong. Tapi kenapa kau mengira Jiyong seperti ini karena aku?”.

“ Sebelumnya aku minta maaf karena sudah lancang berbicara padamu. Aku hanya kasihan padanya… kau tahu? Dikamar Jiyong begitu banyak foto kalian berdua, mulai kalian sangat kecil. sampai sudah besar seperti sekarang”.

“ Oh.. Jeongmal?”.

Miyoung merasa sangatlah bersalah, karena tidak pernah menyadari akan hal itu. Bahkan dikamar Miyoung tidak ada sama sekali foto mereka berdua. Saat ini Miyoung benar-benar merasa ia telah menyakiti seorang sahabat yang sangatlah ia sayangi.

Neomu Neomu Mianhae Jiyong”.

***

Hari ini adalah hari kepulangan Jiyong. Bibi Hwang meminta Miyoung untuk menjemput Jiyong dibandara sekaligus untuk meminta maaf pada Jiyong, atas kelakuan Miyoung. Dan Miyoung pun menuruti perkataan eommanya.

Miyoung menunggu Jiyong dipintu A . akhirnya Miyoung melihat kedatangan Jiyong dan menghampiri Jiyong. Miyoung pun melambai-lambaikan tangannya pada Jiyong. Jiyong pun nampak kaget dengan kedatangan sahabatnya itu.

“ Mwo? Miyoung kau sedang apa disini?”.

“ Jiyong….. “. Miyoung berteriak seakan-akan mereka tidak bertemu selama bertahun-tahun.

“ Ya…! Haha ada apa denganmu?”.

Miyoung pun merentangkan kedua tangannya , untuk meminta Jiyong memeluknya.

“ Apa itu ?”.

“ Peluk aku… kau tidak rindu padaku?”.

“ Aku tidak mau… “.

Raut wajah Miyoung pun berubah sedikit sedih. Jiyong pun terkikik melihat wajah lucu Miyoung . dan dia pun menghampiri Miyoung lebih dekat dan memeluknya.

“ Bogoshipo Jiyong”.

“ Haha ku rasa kau sedang sakit”.

“ Sakit? Haha aku dalam keadaan baik Jiyong”.

Mereka berbincang sambil terus berpelukkan.

“ Kau tidak kangen padaku ?”.

Jiyong kembali terkikik dengan perkataan Miyoung yang sangat polos.

“ Hahaha nado Miyoung”.

Mereka berdua pun melepaskan pelukan mereka.

“ Sebelum pulang, aku ingin minum coffee dulu denganmu. Bagaimana?”. Tanya Miyoung.

“ Baiklah”. Jawab Jiyong.

**

Mereka pun minum coffee bersama, tertawa seperti biasanya. Sepertinya Jiyong sudah melupakan kelakuan Miyoung minggu lalu. Miyoung pun memutuskan untuk meminta maaf pada Jiyong.

“ Jiyong-ahh”. Raut wajah Miyoung berubah serius.

“ Wae? Kenap awajahmu menjadi serius begitu?”. Ucap Jiyong menenggak coffeenya.

“ Mianhae “.

“ Untuk apa?”.

Suasana diantara mereka berubah menjadi sedikit canggung.

“ Untuk semuanya.. semua kelakuanku… dan…. “.

“ Dan apa?”.

“ Apa kau menyukaiku?”. Miyoung menatap Jiyong.

Jiyong pun berdeham, ia sangat kikuk ketik Miyoung bertanya seperti itu. Jiyong  pun berusaha untuk menjawabnya dengan tetap bisa mengontrolnya.

“ Ahaha kau bercanda mana mungkin…?”. Jiyong kembal menenggak coffeenya, menghilangkan rasa canggungnya.

“ Kau jangan bohong Jiyong”. Miyoung kembali menatap Jiyong dengan sangat lekat.

Jiyong pun menelan ludahnya, ia ingin mengakuinya. Namun serasa mulutnya tidak ingin mengakuinya. Jiyong pun memutuskan untuk diam sejenak.

“ Yong.. kenapa kau diam? Aku juga sangat ingin melupakan Donghae. Mungkin saja, jika aku bersamamu. Aku dapat melupakan Donghae”.

Jiyong pun tiba-tiba berdiri. Raut wajahnya kini sangatlah marah dan kesal. Miyoung pun terbingung-bingung dengan kelakuan Jiyong.

“ Kalau kau ingin menggunakanku sebagai tamengmu. Kau jangan pernah harap akan bisa!!!”.

Jiyong pun bergegas meninggalkan Miyoung. Namun Miyoung berhasil menarik tangan Jiyong.

“ Kenapa? Kau kenapa tiba-tiba seperti ini?? kenapa kau tiba-tiba marah??”.

“ Kau fikirkan ucapanmu barusan!”.

Jiyong pun melepaskan tangannya, dan berlalu meninggalkan Miyoung. Miyoung pun kembali duduk dengan lemas. Ia tidak tahu kenapa Jiyong kembali marah.

**

“ Kenapa kau pulang dengan wajah lesu begitu? Ku sudah bertemu Jiyong?”. Bibi Hwang heran melihat anaknya yang baru pulang dengan perasaan yang sepertinya sedih.

“ Ne. aku bertemu dengannya…”.

“ Lalu? Kau sudah meminta maaf padanya?”.

“ Sudah…………. aaahh!!! Eommaa!!! Tapi kenapa tiba-tiba dia marah lagi padaku?!!!”. Miyoung pun mengacak-acak rambutnya.

“ Dia marah lagi padamu? Kenapa? Apa yang tadi kau ucapkan padanya?”.

Miyoung pun menceritakan hal-hal yang ia bicarakan pada Jiyong. Bibi Hwang pun ikut marah pada Miyoung, setelah ia mendengar cerita Miyoung.

“ YA! Hwang Miyoung!!! Tentu saja dia marah padamu!! Kenapa kau harus menjadikan dia tameng untuk melupakan Donghae??!! Cara bicaramu itu salah !!!”.

“ Ahhhh lalu aku harus bagaimana eommaaa??? Apa yang ku katakan intinya memang seperti itu”.

“ Tapi!! Kau tidak harus bilang kata Mungkin jika bersama Jiyong kau akan melupakan Donghae!!”.

“ Aishhhh… aku bingung eomma…”.

“ Sekarang kau kerumahnya dan kembali meminta maaf. Jelaskan padanya bukan begitu maksudmu…”.

“ Ne eomma….”.

Miyoung pun datang kerumah Jiyong. Dan kebetulan saat dia mengetuk pintu, Jiyonglah yang membukanya.

“ Annyeong “. Dengan wajah gembira dan mengangkat tangannya persisi orang melambai, Miyoung menyapa Jiyong.

Tahu Miyoung yang datang, Jiyong pun segera menutup pintunya. Menandakan jika ia tidak mau bertemu dengan Miyoung.

“ Jiyong tungguu!!!”.

Jiyong pun menutup pintunya. Di depan pintu Miyoung pun terbengong sejenak.

“ Jiyong-ahh .. ku tahu kau masih dibalik pintu sana.. dengar! Kalau kau masih peduli padaku, temui aku di taman sekarang. Aku akan menunggu sampai kau datang”.

Jiyong pun mendengarkan perkataan Miyoung dari belakang pintu. Jujur saja, Jiyong pun masih sangat peduli pada Miyoung.

“ Untuk apa malam-malam seperti ini dia pergi ke taman?”. Jiiyong pun melihat kearah jam sudah menunjukkan jam 10.00 . Jiyong khawatir akan terjadi apa-apa pada Miyoung, akhirnya ia pun memutuskan untuk menemui Miyoung di Taman.

Jiyong melihat Miyoung sedang duduk sendiri dibangku taman. Namun disampingnya terdapat sebuah botol soju. Jiyong pun panic dan berlari menghampiri Moyoung.

“ YA!!!!”. Teriak Jiyong.

“ Wae?? Kenapa kau datang-datang  malah teriak-teriak seperti itu??”.

“ Aku tahu fikiranmu sedang tidak bagus.. tapi kenapa kau malah mabuk!?!?! Itu sangat berbahaya bagi kandunganmu!!!”.

“ Mabuk??”. Miyoung pun melirik kearah botol soju disampingnya yang sudah tidak ada isinya.

“ Ahahahaha soju itu??? Kau kira aku yang meminumnya? Haha itu sudah ada sejak aku disini, aku tidak tahu itu punya siapa”.

Jiyong pun diam, dia merasa sangat malu. Karena perkiraannya itu salah. Miyoung yang melihat Jiyong menjadi salah tingkah pun terkikik. Dan Miyoung pun berdiri dihadapan Jiyong.

“ Kekekekk~ wae? Ternyata kau sangat khawatir padaku?”.

Jiyong pun menyentil dahi Miyoung, dan menyebabkan dahi Miyoung merah.

“ YA! Sakit ahhh!!!”.

Jiyong pun duduk dibangku, sedangkan Miyoung masih berdiri menahan sakit di dahinya.

“ Ada apa kau menyuruhku kesini?”. Jiyong mulai bicara.

Miyoung pun duduk disamping Jiyong.

“ Menyuruh? Aku tidak menyuruhmu .. kau yang datang sendiri kesini”. Ledek Miyoung.

“ YA! Serius! Aku tidak punya banyak waktu!”.

“ Ehem..”. Miyoung berdeham, pertanda ia akan mulai serius.

“ Kau marah lagi kan padaku? Aku tahu.. aku salah. Bukan maksudku berbicara seperti itu. Aku memang sudah tahu kalau kau menyukaiku. Bibi –pembantu Jiyong- yang memberitahuku………”.

“ Ah bibi…..”. Ucap Jiyong pelan.

“ Kenapa kau malu sekali mengungkapkan itu Yong?”. Miyoung menatap namja disampingnya tersebut.

“ Eoh??”. Jiyong semakin kikuk dan tak bisa bicara apapun.

“ Mulai dari kau menciumku waktu itu, kejadian di Namsan Tower, di Rumah Sakit, dan terakhir di Café tadi….”.

“ Ah.. itu…”. Jiyong benar-benar tidak bisa bicara apapun.

Miyoung meneteskan air matanya, ia sudah tidak kuat menahan semuanya. Jiyong melihat Miyoung menangis, dan Jiyong sangatlah tidak tega melihat itu.

“ Kau kira tangisanku saat ini untuk donghae? Aniyo … ini untuk sahabatku”.

Jiyong masih membisu. “ Aku sedih karena saat ini sahabatku yang satu-satunya ku punya, tidak punya rasa peduli pada ku. Bahkan dia tidak mau membantuku, untuk melupakan seseorang yang sudah menghianatiku”.

“ Bagaimana aku bisa membantumu. Kalau hatimu masih untuk orang lain?!!!!”. Jiyong kembali kesal dan sergap berdiri.

“ Kenapa setiap aku membicarakan masalah ini kau selalu ingin pergi meninggalkanku Jiyong??!”. Airmata Miyoung semakin deras(?).

“ Aku kesal jika kau terus membicarakan DONGHAE!!”. Jiyong masih berdiri tanpa menghadap arah Miyoung yang masih terduduk.

“ Kau tahu bagaimana susahnya melupakan orang yang jelas-jelas sudah menumbuhkan seorang jabang bayi di perut ini? itu sulit Yong! Tidak semudah itu melupakannya. Apakah salah bagiku meminta bantuanmu??”. Miyoung sedikit berteriak karena kesal.

“ ……….. Ah aku tahu.. kenapa kau tidak mau…..”. Nada bicara Miyoung terdengar lebih pelan

Jiyong berbalik menatap Miyoung. “ Kau tidak mau mempunyai seorang wanita yang sudah tidak murni.. benarkan? Ahaha harusnya aku tahu itu……………”. Miyoung berusaha menghapus airmatanya.

“ Miyoung-ahh bukan seperti itu”. Amarah Jiyong seketika redup, oleh perkataan Miyoung.

“ Mana ada laki-laki yang mau dengan wanita yang sudah pernah hamil dengan orang lain….? Tentu saja mereka menginginkan sesuatu yang masih murni”.

Miyoung pun berdiri tepat di depan Jiyong. “ Baiklah… semua laki-laki sama saja.. Terimakasih sudah mau menjadi sahabatku selama ini”.

Miyoung meninggalkan Jiyong, karena dia sudah sangat tidak kuat. Hatinya saat ini seperti ditusuk oleh ribuan jarum.

“ Miyoung tunggu… bukan seperti itu!”. Jiyong menarik tangan Miyoung, namun Miyoung melepasnya. Miyoung benar-benar marah dengan Jiyong. Karena Miyoung hanya berfikir sepihak, tanpa tahu alasan Jiyong yang sebenarnya.

 Kenapa dia tiba-tiba marah? Bukanlah itu alasannya Miyoung… ahhh!!!!”. Batin Jiyong.

*****

Setelah kejadian malam itu Miyoung dan Jiyong tidak pernah bertemu lagi. Sampai pada bulannya, anak Miyoung pun akan lahir. Bibi Hwang mencoba menghubungi Jiyong dengan ponsel Miyoung untuk memberitahu bahwa anak Miyoung akan lahir hari ini.

Jiyong pun secepatnya datang ke rumah sakit, untuk melihat kelahiran bayi Miyoung. Bibi Hwang dan Jiyong menunggu didepan ruangan. Bibi Hwang terlihat sangat khawatir.

“ Bibi? Kau kenapa sangat khawatir?”.

“ Aku takut..”.

“ Takut kenapa bi?”.

“ Miyoung pasti akan sangat sedih, melahirkan anak tanpa seorang suami disampingnya”.

Jiyong pun terdiam, dia iba dengan Bibi Hwang dan juga dengan Miyoung. Namun disaat mereka berdua terdiam, seorang Dokter keluar dari ruangan tersebut.

“ Dimana wali Hwang Miyoung?”. Tanya Dokter.

“ Kami… kami disini”. Bibi Hwang dan Jiyong pun menghampiri Dokter tersebut.

“ Bayi dalam kandungan sulit untuk keluar, karena Ny.Miyoung kehabisan tenaga. Biasanya jika seorang ibu melahirkan selalu ada suami disampingnya, untuk memberinya support agar dia berjuang dan semangat. Dimana suaminya?”.

“ Uh? S… suami?”. Ucap Bibi Hwang makin panik, karena dia tahu kalau Miyoung tidak mungkin punya suami.

“ Aku… aku suaminya…”. Suara itu pun muncul dari namja disamping Bibi Hwang.

“ J…. Jiyong?”. Bibi Hwang menatap Jiyong. Jiyong pun memberikan keyakinan pada Bibi Hwang kalau dia bisa membantu.

“ Baiklah. Ttarawa”. Jiyong pun masuk mengikuti Dokter dari belakang.

“ Jiyong….. Gomawo.. kau selalu jadi penyelamat bagi Miyoung”. Bibi Hwang bersyukur atas kebaikan Jiyong.

Jiyong memegang tangannya Miyoung, ia merasa sangat kasihan pada Miyoung. Berjuang untuk melahirkan seorang anak, yang ayahnya malah sedang bersenang-senang dengan wanita lain.

“ Terus… ayoo terus dorong… kau bisaa….”. Ucap dokter menyemangati.

“ AAHHH…. Ya!!! Jiyong kenapa kau ada disini?!!”. Miyoung terus berteriak kesakitan dan masih sempat-sempatnya ia bertanya itu pada Jiyong.

“ Ya!!! Itu tidak penting!! Sekarang kau harus berusaha untuk anak itu!! Ayo Miyoung kau bisa!!”. Teriak Jiyong.

“ AAAHHHHHH!!!!!!”. Miyoung menarik rambut Jiyong yang membuat Jiyong teriak kesakitan.

“ AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!”. Miyoung terus teriak menahan sakit.

Seorang suster pun berhasil mengambil sebuah bayi, yang ternyata sudah keluar. Namun Miyoung masih terus menarik rambut Jiyong.

“ Ya Miyoung-ahh!! Bayi mu sudah keluar! Kenapa kau masih menarik rambutku? Ahh sakit ahh!!”.

Miyoung pun melepaskan rambut Jiyong dan beralih ke seorang bayi yang telah digendong oleh seorang suster.

“ Selamat Ny.Miyoung anakmu seorang laki-laki”.

Miyoung dan Jiyong pun menghela nafas panjang seraya bersyukur atas keselamatan Miyoung dan anak tersebut.

2 jam kemudian…….

Bibi Hwang dan Jiyong pun masuk ke ruangan Miyoung. Melihat bagaimana keadaan cucunya itu.

“ Eomma “. Ucap Miyoung dengan suara serak menggendong bayi tersebut ditangannya.

“ Oh lucu sekali cucuku”. Ucap Bibi Hwang menggendong bayi tersebut dari tangan Miyoung yang masih berbaring.

Jiyong dan Miyoung pun saling bertatapan. Miyoung pun mengankat tangannya, menyuruh untuk Jiyong mendekat padanya.

“ Berantakan sekali kekekek~”. Miyoung terkikik melihat rambut Jiyong yang berantakan karena Miyoung tadi mengacak-ngacaknya.

“ Ah ini karenamu”. Jiyong merapikan rambutnya.

“ Mianhae”. Miyoung tersenyum.

“ AH gwaenchanha “. Jiyong pun duduk disamping ranjang.

Wajah Miyoung tiba-tiba menjadi sedih, mata Miyoung mulai berkaca-kaca. Jiyong pun sadar akan hal itu.

“ Kau ingin menangis? Menangislah.. aku tahu ini sulit bagimu…”.

Miyoung pun menangis . Bibi Hwang hanya memandangi mereka berdua. Karena ia tahu Jiyong dapat menyelesaikannya.

“ Aku takut… aku takut anak itu akan malu. Jika dia tahu dia tidak mempunyai seorang ayah”. Miyoung terisak.

Jiyong pun tidak tahan melihat itu. Jiyong pun mulai kerkaca-kaca.

“ Apa yang harus aku katakan, jika suatu saat nanti dia bertanya dimana ayahnya?”. Miyoung makin menangis.

Bibi Hwang pun terlihat ikut menagis melihat kesedihan anaknya itu. Tiba-tiba Jiyong mengeluarkan sebuah kata yang membuat Miyoung dan Bibi Hwang kaget.

“ Aku . Aku akan menjadi ayah untuk bayimu “. Ucap Jiyong tidak menatap arah Miyoung.

Seketika Miyoung pun mengehentikan tangisannya. Bibi Hwang pun menghampiri mereka berdua.

“ Yong?? Apa yang kau ucapkan barusan?”.

Jiyong masih tertunduk, ia masih dilanda rasa bingung atas ucapannya barusan. Dan Miyoung pun masih diam dalam bisu menatap Jiyong.

“ Aku serius… aku akan menjadi ayah bagi bayi itu sekaligus menjadi suami bagimu Young”.

“ Yong………”. Ucap Miyoung.

“ Wae?”. Jiyong mengangkat wajahnya dan menatap Miyoung.

“ Sekarang kau keluar dari sini!”.

Bibi Hwang dan Jiyong pun heran dengan ucapan Miyoung.

“ Wae Miyoung?? Jiyong ingin membantumu……”. Ucap Bibi Hwang.

“ Eomma tolong suruh orang ini keluar sekarang!!”. Miyoung membalikkan tubuhnya membelakangi Jiyong.

“ MIYOUNG!!”. Teriak Bibi Hwang.

“ Ah gwaenchanha bi… aku akan keluar”. Jiyong pun keluar meninggalkan mereka berdua.

“ Miyoung!!! Ada apa denganmu?!! Seseorang yang ingin menjadi ayah bagi bayimu kenapa kau malah bersikap seperti itu?? Hah?!!”.

Miyoung pun membalikkan badannya kembali, menghadap eommanya.

“ Eomma…. Aku tidak mau. Jiyong adalah laki-laki yang baik. Dia pantas dapatkan yang lebih baik, daripada seseorang yang sudah kotor sepertiku”. Miyoung makin menangis.

Bibi Hwang pun terdiam, ia berfikir bahwa ucapan anaknya itu benar.

“ Ne.. kau benar Miyoung. Jiyong sudah sangat membantu kita. Lalu apa kau akan mengurus bayimu ini sendiri terus?”.

“ Aku akan berusaha membesarkannya sendiri eomma”.

“ Kau bicarakan masalah ini secara baik-baik pada Jiyong. Kau jelaskan padanya alasan kau tidak menerimanya”.

“ Ne eomma..”.

Bibi Hwang pun makin menangis melihat seorang bayi digendongannya saat ini.

“ Ku yakin walaupun kau tidak mempunyai ayah, kau akan menjadi anak yang baik nak”.

**

Sudah 2 Minggu kelahiran Hwang Jisung-anak Miyoung- Miyoung pun masih repot mengurusi keperluan sang bayi. Karena ini hal pertama baginya mempunyai seorang bayi, apalagi ia mengurusinya sendiri tanpa seorang suami disampingnya. Hubungannya dan Jiyong pun tiba-tiba lost contact. Ia pun tidak tahu bagaimana keadaan Jiyong sekarang. Ingin Miyoung mengunjungi rumah Jiyong, tapi selalu tertunda oleh kesibukannya mengurus Hwang Jisung.

Kali ini ia akan pergi ke supermarket membawa anaknya dengan kereta bayi(?) untuk membeli keperluan sang bayi yang sudah habis. Semua keperluan sudah ia beli, saatnya ia membayar.

“ Semuanya jadi 5000 won”. Ucap sang kasir supermarket.

“ Eoh? Ne …”. Miyoung pun siap mengeluarkan dompetnya.

Namun……..

Miyoung lupa membawa dompetnya.

“ Ahhh dompetnya…………….”.

“ Ada apa ?”. Tanya sang Kasir.

“ AH ituu…”. Miyoung pun panic.

“ 5000 won? Ini uangnya”. Ucap seseorang dari belakang Miyoung. Miyoung pun berbalik untuk melihat siapa yang membayar belanjaannya itu.

Setelah Miyoung berbalik, orang itu hanya tersenyum padanya. Miyoung pun membisu sejenak, dan mengucapkan terimakasih.

“ YA! Tunggu”. Panggil Miyoung pada Orang itu setelah selesai membayar.

Orang itu pun berbalik menghadap Miyoung. “ Waeyo?”.

“ Bisakah kita mengobrol sebentar?”. Ucap Miyoung.

Mereka berdua pun duduk dibawah sebuah pohon bersama dengan kereta bayinya.

“ Tampan…..”. Ucap orang itu menatap wajah bayi Miyoung.

Miyoung pun hanya tersenyum.

“ Yong…..”. Panggil Miyoung.

“ Rasanya sudah lama tidak bertemu denganmu.. bagaimana keadaanmu?”.

“ Seperti yang kau lihat.. aku baik-baik saja”.

“ Jiyong……… aku minta maaf untuk kejadian disaat bayi itu lahir”.

Jiyong pun hanya diam. “ Apa kau marah padaku?”.

“ Marah? Kenapa aku harus marah?”. Jiyong tersenyum dengan terpaksa.

“ Aku yakin kau marah…. Bukan maksudku untuk menolakmu tapi…..”.

“ Siapa nama anakmu Young?”. Jiyong tiba-tiba mengalihkan pembicaraan Miyoung.

“ Yong! Jangan mengalihkan pembicaraanku! Aku ingin membahas itu agar kau tidak bersikap kaku seperti ini lagi padaku!”.

Jiyong pun kembali terdiam. “ Kau laki-laki yang terlalu baik untuk wanita sepertiku… kau lebih pantas mendapatkan wanita yang lebih”.

“ Apa kau hendak membahas masalah bayi itu?”. Tiba-tiba Jiyong bicara.

“ Hmmmm “. Jawab Miyoung.

“ Miyoung… apa kau fikir semua orang tidak punya kekurangan? Kalau dari awal aku mempermasalahkan bayi itu, aku tidak akan mengucapkan semuanya pada waktu itu!”. Jiyong menatap Miyoung.

Sekarang Miyoung yang terdiam . “ Apa kau fikir wanita sepertimu tidak boleh mendapatkan laki-laki yang baik? Kau sudah menderita menanggung semua masalah ini. Akan lebih baik jika kita menanggung masalah ini bersama! Setidaknya itu bisa menebus segala kesusahan hatimu selama ini”.

Miyoung masih terdiam tanpa melihat wajah Jiyong.

“ Young…. “. Panggil Jiyong.

Miyoung pun menoleh kearah Jiyong. “ Kau lihat bayi itu? Bagaimanapun dia butuh figure seorang ayah. Terlebih lagi dia seorang laki-laki”.

“ Tapi Yong….. “.

“ Itu keputusanmu. Aku akan terus menunggu jawabanmu. Karena kau tahu? Hanya kaulah wanita yang kucintai. Tidak memandang bagaimana keadaanmu. Aku akan tetap menerimanya”.

Miyoung pun tiba-tiba menangis. “ Jiyong….. apa kau serius akan hal itu.. aku takut hal dulu akan terulang kembali”.

“ Young… apa kau mengenalku baru 1 atau 2 hari yang lalu? Tidak kan?! Kita sudah bersama lebih dari 16 tahun. Kau tahu bagaimana aku, aku tahu bagaimana kau! Jadi tidak mungkin aku melakukan hal yang kau takutkan itu”.

“ Yong…. “. Miyoung makin terisak, terharu mendengar perkataan Jiyong.

“ Bagaimana? Apa kau bisa menerimaku sebagai ayah dari bayi itu?”. Jiyong mengangkat wajah Miyoung yang sedaritadi menunduk.

Miyoung pun tetap membisu. “ Aku akan pastikan tidak akan ada lagi air mata seperti ini”. Jiyong menghapus airmata dipipi Miyoung.

Miyoung pun memeluk Jiyong. Dan didalam pelukannya itu Miyoung menganggukkan kepalnya menandakan bahwa ia mau jika Jiyong menjadi ayah dari bayinya. Jiyong pun tersenyum.

**

August 2013

Dibulan agustus, tergelar sebuah acara pesta. Terdapat banyak orang disana, pesta tidak terlalu mewah. Dan hanya dihadiri oleh keluarga besar, dan kerabat dekat. Kebahagian tercipta di pesta itu. Terutama pada 2orang manusia yang saling mencintai itu.

Hari ini adalah hari pernikahan Jiyong dan Miyoung. Mereka memutuskan untuk mempercepat pernikahan mereka, karena memang Jiyong yang sudah merasa kasihan pada Miyoung. Mereka pun mengucap janji didepan pendeta dan tamu-tamu yang hadir.

Acara pernikahan berakhir dan mereka hidup bagaimana layaknya seorang suami-istri yang baru menikah. Setiap hari hanya ada kebahagian yang terlihat dikeluarga kecil mereka. Bersyukur atas adanya bayi kecil itu, pada akhirnya mereka dapat bersatu.

-END-

“ Mencintai seseorang tidak harus memandang mereka yang masih murni atau tidak, karena pada akhirnya semua akan kembali pada kebahagian. Akan lebih baik kekurangan tersebut diisi dengan kesempurnaan dan cinta antara kedua insan”.