Don't go coverAuthor                         : ttokii_pino

Cast                             : Sandara Park | Kwon Jiyong

Cameo                         : Im YoonA | Lee Seungri

Genre                          : Angts, Hurt

Length                         : Oneshoot

Rathing                       : G+

Song                            : 2NE1 – It Hurts | Suzy – I still Love You | Britney Spears – Everytime

Disclaimer                   : This fanfiction is original my imagination. Don’t plagiarism or bashing if you don’t like my fanfiction.

Twitter                        : @minoo_irra

A/N                             :Annyeong. . Sedikit cuap – cuap dari saya🙂 ini Bukan kali pertama saya sebagai pencetus cerita tapi ini kali pertama saya menitipkan ff di blog BIGBANG. Saya berharap ff saya berkesan baik disini yahhh~ walau kata – kata yang saya tuangkan kedalam ff saya rada aneh kagak jelas absurd pula. Pii ini namanya juga fanfiction. . khayalan tingkat tinggi saya kkkk~

Okayy. . karena kebetulan saya VIP n Blackjack 21Bang Shippers. Oh pastinya. . DARAGON shipper \(‘-‘)/ ~(‘-‘~) ~(‘-‘)~ (~’-‘)~ berharap semuanya bisa menerima ff saya dengan baik. Gomapta🙂

©©©

 Hari pertama aku bertemu denganmu. Aku masih ingat dengan jelas apa yang kau katakan denganku saat kita bertemu untuk pertama kali. Kau menolongku membawakan setumpuk buku yang susah payah aku membawanya, membuat peristiwa kecil terjadi. Senyuman hangat itu terukir tulus dibibirmu. Apa kau masih ingat? Ingat semua tentang itu.

 

02 Maret 2004

-Brukk-

Secara tidak sengaja aku menjatuhkan buku – buku itu. Pagi hari yang cerah ini, aku harus berurusan dengan setumpuk buku perpustakaan. Membuatku kesusahan berjalan dan melihat. Tepat jam 07.30 tadi, Han Sonsengnim menghukumku karena insiden terlambatku masuk sekolah. Yah~ Entah keberapa kalinya aku terlambat. Mungkin lebih tepatnya –Miss Telat- adalah gelar yang cocok untukku. Sandara Park gadis kelas XII IPA 1 yang suka terlambat masuk kelas. Gadis bertubuh kecil sepertiku, bisa berbuat apa membawa buku sebanyak ini? Seharusnya Han Sonsengnim mempertimbangkan soal ini. Tapi betapa killernya guru itu? Selalu mendahulukan kedispilanan tanpa melihat –betapa kasihannya muridku ini-. SAMA SEKALI TIDAK! Mr. Killer Perfecto mungkin lebih tepat untuknya. Guru yang selalu memandangi keburukan dari segi kecil apapun itu. Sedikit kita melakukan kesalahan pasti akan kena hukuman darinya. MENYEBALKAN! Memang. . itu yang selalu aku pikirkan ketika bertemunya. Melihat wajah datarnya saja sudah membuatku mulas ingin mual saja, apalagi mendengarkan teriakan super oktaf yang bisa memecahkan gelendang telingamu.

“Need help?”

“Eh?” Kudongakkan kepalaku ketika melihat sebuah kaki tepat berada dihadapanku. Seorang pria bertubuh kecil sepertiku terlihat tersenyum tanpa dosaku terhadapku. Hah? Pria kecil seperti dia bisa membantu apa? Itulah yang aku pikirkan ketika melihat tubuh kecilnya sama halnya dengan tubuh kecilku, tapi melihat senyumannya itu membuatku terpana. ANIYO! Hanya sedikit maybe -__-

Karena tak mendapatkan respon dariku. Pria itu yang –sok jadi pahlawan kesianganku bukan tapi kepagianku- berjongkok dihadapanku dan memunguti buku – buku itu dengan sendiri tanpa mendapatkan persetujuan dari aku. Masa peduli. . setidaknya dia mau membantuku dalam hal sekecil apapun.

“Kemana?” Tanyanya dengan halus. Sepertinya aku masih terpana dengan wajah tampannya itu. Yah~ aku tak bisa pungkiri. Wajahnya begitu tampan sangat tampan jika dilihat dari dekat.

“Hello. . Noona where going this books?”

“Eh?” Aku gelagapan sendiri. Malu. Kenapa aku terlihat bodoh dihadapan pria yang tak kukenal ini? Oh~ Dara come on! You not like SANDARA PARK! Gadis yang terkenal jutek dihadapan pria, tapi kenapa sekarang kau terlihat begitu bodoh dihadapan pria ini. Ini terdengar seperti ‘SI KERAS KEPALA SANDARA PARK JATUH CINTA’.

“Are you okay?” Sepertinya dia menyadari keadaanku yang tak cukup baik sekarang.

“I’m Fine.” Kataku singkat. Yah~ setidaknya memawikili diriku yang begitu kikuk dihadapannya.

“So…”

Aigoo. . Tatapannya begitu hangat. Kenapa jantungku? Dia menatapku dengan lekat sangat lekat. Tatapan matanya itu seakan mengunci mataku untuk menatapnya terus secara mendalam. DARA!! WHAT HAPPEN WITH U? Kugelengkan kepalaku dengan refleks. Aku tak boleh terlihat bodoh dihadapan pria. Aniyo.. tidak boleh!

“Ikuti aku. .” Kataku ketika berhasil menetralisir jantungku. Setidaknya ini lebih baik daripada seperti tadi. Oh~ Dara??

 

*****

 

Saat itu, aku mulai merasakan ada sesuatu yang aneh dalam diriku. Dan mulailah aku menyadari bahwa sesuatu yang aneh dalam diriku itu adalah CINTA. Bisa dibilang terlalu cepat, bukan? Secepat itukah aku mencintaimu? Maybe yes or no! itu terjadi karena silih berganti waktu. Silih bergantinya hari yang membuat kita saling mengenal dan menjadi sangat dekat. Saat itulah, aku mengenalmu dengan baik. Mengetahui siapa pria yang memiliki senyuman manis itu. Kwon Jiyong itulah namamu. Pria yang duduk di kelas XII IPA 2 , aku baru menyadari ternyata kita satu jurusan tapi beda kelas. Tapi kenapa aku baru melihatmu di sekolahku? Cukup mudah karena kau baru pindah ke sekolahku. Waktu itu, kau membutuhkan seorang teman karena gelarmu masih menyandang –SISWA BARU-. Mungkin aku orang pertama yang menjadi temanmu, itulah mengapa kita terlihat begitu dekat dan kebersamaanlah membuat perasaan ini mulai tumbuh.

 

10 Maret 2004

“Darong. .” Teriakanmu itu sukses membuat jantungku memekik untuk berdetak 2kali lebih cepat dari biasanya. DARONG? Singkat cerita. . Satu nama yang dia berikan untukku, bukan? Aku menyukainya. Dia sendiri yang memanggilku seperti itu. Entahlah. . Satu kali pun dia tak pernah memanggilku dengan panggilan dara selalu saja Darong. Mungkin pernah dia memanggilkku dara ketika kita masih awkward agak kaku karena belum kenal begitu akrab. Tapi sekarang sepertinya tidak.

“Apa yang kau lakukan disini Ji?” Tanyaku heran. Tak seperti biasanya dia akan berlari tergesa menghampiriku di perpustakaan. Bahkan teriakannya itu membuat puluhan mata yang berada didalam perpustakaan menatapnya tajam. Ji? Dia suka memanggilku darong dan begitupula aku suka memanggilnya Ji –singkat padat dan jelas- lebih tepatnya panggilang yang super simple hanya mempunyai dua suku kata.

“Bisakah kau membantuku?” Sifatnya yang tak pernah lepas dalam dirinya. Selalu berlari tergesa – gesa kearahku kalau sedang membutuhkan bantuanku.

“Mwoya?” Tanyaku walau kedua mataku tetap terfokus dengan buka bacaanku. Ah~ sebenarnya aku melakukan ini hanya untuk menghindari kontak mata dengannya. Kalian pasti tau alasannya dengan tepat. Yah~ cukup simple aku tak mau melihat tatapan matanya itu, apalagi melihat senyumannya yang begitu manis. Ah~ tidak tidak! Aku harus focus dengan belajar karena sebentar lagi aku harus mengikuti ulangan kimia.

“Bisakah kau datang kerumahku sepulang sekolah nanti? Aku butuh bantuanmu untuk merawat gaho. Hari ini aku sibuk karena harus mengerjakan tugas kelompok.” Pintanya memohon.

“Baiklah. Aku mau,” Satu kata yang tepat, aku selalu mau menuruti kemauannya dalam jenis apapun.

“Jeongmal? Darong. . Kau memang teman terbaikku. Kau—”

“Wait a minute!” Aku menyela perkataannya terlebih dahulu. Mencoba kembali mencerna permintaannya tadi –merawat gaho-. Gaho? Aku mengenalinya dan itu semacam hewan peliharaan Jiyong. Gaho?

“M-mwo? Gaho?” Menyadari apa yang akan aku rawat nanti sepulang sekolah. Sukses membuatku berteriak kencang dan mendapatkan amukan dari puluhan penghuni perpustakaan.

“Apa kau gila Ji?”

OH~ TIDAK! Aku tidak bisa merawat hewan peliharaan semacam anjing. Because why? Sesuatu yang menakutkan pernah aku alami dulu, membuatku sangat menakuti hewan berbulu semacam anjing. Aku membencinya!

“Darong. . jebal! Hanya kamu yang bisa membantuku. Aku mohon. .” Melihat wajah memohonnya itu membuatku urung untuk menolongnya. Bukankah sudah aku bilang? Segala jenis kemauannya pasti aku mau menolongnya. Karena inilah aku yang tak bisa menghindar dari sosok Kwon Jiyong. Takut atau tidaknya tetap saja kepalaku ini mengangguk sendiri tanpa menunggu persetujuan dari empunya kepala. Dara. . setidaknya kau perlu hari khusus untuk nge-date dengan gaho anjing kesayangan jiyong. Kenapa tidak dengan sang majikan saja ya?

 

****

 

Pertama kalinya aku merawat seekor anjing. Mungkin kalau tidak karenamu aku pun tak mau. Kenangan itu masih sangat jelas teringat dimemori ingatanku. Cinta ini tak akan pernah pudar. Ji. . Apa kau juga masih ingat dimana ketika kenaikan kelas? Bisa dibilang takdir atau tidak kita berada dalam satu kelas dan duduk sebangku. Kau sendiri yang memintaku untuk duduk sebangku denganmu, walau aku tahu itu resikonya bisa dibilang berbahaya karena banyak beberapa fans-mu yang memberiku hujatan cacian. Itu sama sekali tak membuatku menghindarimu. Kau yang akan selalu ada disampingku, memarahi para fans-mu. Aku pikir kau itu seperti pangeran yang dikhususkan untuk diriku, seperti cerita dinegeri dongeng. Tapi. . Satu hal yang sempat membuatku sakit hati. Hari – hari yang sangat menyakitkan bagiku. Hal tersulit yang harus aku jalani dan membuatku harus menjauhimu. Sakit, apa kau tahu itu? Aku sakit ketika tahu kau memiliki seorang kekasih waktu itu. Wanita yang selalu kau ceritakan padaku itu adalah sosok wanita yang selama ini menjadi musuh bebuyutanku Im Yoona. Benar dia lebih cantik dariku tapi aku lebih baik darinya. Dia wanita buruk yang tak pantas untukmu waktu itu Ji. Seharusnya kau tak memilihnya jika itu membuatmu merasa terkhianati.

 

17 Juli 2005

“Oh— benarkah itu? Chukkae. .” Aku hanya bisa berucap didalam kesedihan. Melihatmu tersenyum bahagia seperti itu, membuatku juga merasakan kebahagiaan itu. Tapi sepertinya itu hanyalah sebuah ucapan belaka, karena melihatmu bahagia membuat hatiku sakit hancur berkeping – keping. Cinta itu memang menyakitkan. Tak seindah apa yang kita pikirkan. Boleh kita berucap asalkan dia bahagia bersama dengan orang yang dicintainya kita juga akan merasakan kebahagiaan itu. BULSYIT! PEMBOHONG! Orang yang kita cintai bahagia dengan orang lain tapi sedangkan kita? Melihat kebahagiaannya dengan kesedihan yang amat memelaskan penuh dengan belas kasihan. Kita hanya bisa tersenyum penuh kepalsuan dihadapannya. Menandakan bahwa sesuatu tidak terjadi apa – apa. Kebohongan itu karena kita tidak mau terlihat lemah dihadapannya, tidak mau terlihat hancur dihadapannya karena cinta yang kita miliki tak terbalaskan. Dan saat itulah, kita berinisiatif untuk menghindarinya. Menjauhinya dengan segala hal alasan bodoh yang tergambar tak masuk akal untuknya. Berusaha untuk menghapus kenangan dan rasa cinta dalam diri kita. Walau itu semakin membuatmu bodoh. . bodoh.. dan bodoh. Bodoh karena mau melupakan orang yang kita cintai. Bodoh karena menghindarinya tanpa alasan yang tepat. Bodoh karena kita melukai hati kita sendiri dikarenakan keegoisan yang begitu besar untuk memilikinya. EGOIS!

Ya. . Benar aku menjauhi sosok Kwon Jiyong. 1 Bulan lebih aku tak menyapanya, tak lagi duduk sebangku dengannya, melihat tatapannya, jalan bersama dan pulang bersama. Aku melakukan itu untuk melupakan perasaanku tentang dirinya. Berulang kali dia berusaha mendekatiku, tapi percuma saja karena aku terus dan terus menghindarinya. Tapi sejujurnya aku merindukannya. Merindukan sosok Kwon Jiyong yang dulu. Jiyong yang selalu ada disampingku. Biarlah aku egois, karena aku hanya ingin Jiyong disampingku.

“Dara. .” Sepertinya tak ada lagi panggilan –Darong- untukku. Untuk apa dia harus memanggilku seperti itu? Dara lebih baik daripada darong nama konyol yang entah darimana dia dapatkan itu.

“Dara. .” Suara itu memanggil namaku lagi, tapi aku tetap berpura – pura focus dengan bacaanku. Walau hati kecilku selalu membujukku untuk membalas panggilannya.

“Dara ada apa denganmu eoh? Kau selalu menghindariku akhir – akhir ini. Apa ada yang salah denganku? Dara. . Aku mohon jelaskan denganku.” Kau berulang kali mengucapkan kata – kata itu. ‘Ada apa denganmu?’ ‘Apa ada yang salah denganku?’ ‘Dara beri aku penjelasan?’ Mungkin kau harus tau sebenarnya. Semua ini terjadi karena dirimu Kwon Jiyong. Kau yang telah membuatku menyukaimu. Membuatku yang harus tersakiti dengan perasaan yang tak jelas. Sakit.

Kututup bacaanku, lalu beranjak berdiri dari tempat dudukku. Aku sadar dia terus mengikutiku tapi aku tak peduli. Ego-ku lebih besar daripada aku harus menuruti perkataan hatiku yang tiap hari selalu memohon untuk berbicara dengannya.

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum menceritakan semua kesalahanku denganmu. Dara. .” Teriakan itu sukses membuatku berhenti. Bukan karena aku ingin berbicara dengannya, tapi genggaman tangannya yang sukses menghentikan langkahku. ‘JLEB’ Seakan ribuan bunga bertaburan. Jiyong memelukku? Mungkin orang melihatnya seperti itu. Antara senang dan tidak. Aku senang karena kau memelukku tapi aku sedih karena kau memelukku disaat perasaanku sedang memburuk tentang dirimu.

“Lepaskan aku Ji. .” Cukup kalimat itu yang aku ucapkan untuk pertama kali berbicara denganmu. Berharap kau mau melepaskan pelukanku sebelum kekasihmu itu melihatnya.

“Aku tidak akan melepaskannya sebelum—”

 -Plakk

Maafkan aku karena telah menamparmu sebelum aku mendengarkan penjelasanmu. Aku hanya menatap wajahnya dengan sedih. Betapa bodohnya aku? Melukai orang yang sedikit pun tak punya salah denganku. Seharusnya tamparan itu untuk diriku sendiri.

“A-a. . A-aku. .” Kata – kataku menggantung karena aku terlebih dahulu berlari menjauhimu. Aku hanya tak ingin kau melihat air mataku yang mulai keluar ini. Menyesali perbuatan sendiri itulah aku. Kenapa harus ada cinta didalam diriku? Ini hanya akan menyakitkanku saja. Kenapa harus seperti ini? Why?

 

Tepat beberapa minggu setelah kejadian itu, aku tak pernah lagi melihatmu. Benar – benar tak melihat keberadaanmu. Aku menyesal sangat menyesal. Apalagi ketika mendengar bahwa kau telah resmi putus dengannya. Aku senang karena kau tak bersama dengannya lagi, tapi aku sedih karena telah melakukan hal bodoh denganmu. Marah? Apakah kau marah denganku? Aku merindukanmu sangat merindukanmu.

 

****

 

Saat itu aku menyesal karena telah menamparmu. Ji. . hidup karena cinta itu tak seindah apa yang kubayangkan. Aku pikir setelah kejadian itu, kau akan membenciku tetapi dugaanku salah. Kau malah memaafkanku dan memulai kembali pertemanan kita yang sempat terpisahkan karena cinta. Kau tau Ji? Saat itulah aku berjanji pada diriku untuk tidak mengulangi kesalahanku kedua kalinya.

 

05 Mei 2006

“Horee. .” Semua berteriak gembira karena berhasil menempuh kelulusan masa SMA tak terkecuali aku dan dia. Bahkan saking bahagianya aku tak sadar telah memeluk tubuhnya dan mencium sekilas pipinya. Benar – benar memalukan. Bodoh! Kenapa disaat seperti ini aku terlihat bodoh lagi?

“Chukkae. .” Katamu memberiku selamat begitupula dengan diriku memberimu ucapan selamat. Aku tersadar mungkin setelah ini, kita akan menempuh jalan masing – masing. Melepaskan masa SMA dan pergi kejalan masing – masing untuk menempuh masa depan kita.

“Setelah ini kau ingin kemana?” Tanyaku. Mungkin ini suatu pertanyaan untuk menghilangkan rasa kecangguangkan yang tadi secara sengaja atau tidak sengaja telah mencium pipinya.

“Sesuatu yang sangat jauh dan kau tak bisa menemuiku. Maybe. .”

“Hah?” Pengakuannya yang tak masuk akal itu sukses membuatku membelalakan mataku tak percaya. Tapi kau hanya menanggapinya dengan gurauan kecilmu itu membuatku bersungut kesal saja. Kebersamaan seperti inilah yang selalu ingin aku lakukan bersamamu selamanya.

“Darong. . Bisakah kau berjanji padaku?”

“Janji?”

“Setelah tahun berikutnya dan berikutnya. . Berjanjilah kau akan selalu disampingku. Bulan depan tepat dihari ulang tahunku, bisakah kau menungguku ditempat biasa kita bermain?”

“Hah?” Aku tak mengerti dengan makna dibalik perkataannya. Tapi mendengar pengakuannya memintaku untuk selalu berada disampingnya membuatku bahagia. Mungkin tak perlu kau pinta pun aku akan selalu ada disampingmu.

“Apa kau mau melakukannya untukku?” Aku menganggukan kepalaku dengan pasti. Lagi senyumanan tulus itu untukku. Melihat senyumanmu itu membuatku bahagia. Senyuman yang selalu aku tunggu.

“Gomapta,”

-Cup-

Aku terdiam memaku ketika merasakan bibir itu menyentuh bibir mungilku. Dia menciumku? My first kiss? Aku tidak percaya kalau dia menciumku dihadapan begitu banyak orang. Walau ciuman itu berkisar sebentar tapi aku bisa merasakan bibir lembut miliknya. Ciuman hangat itu dia berikan untukku.

 

***

 

Ciuman pertamaku. . kau mengambilnya begitu saja tanpa meminta izin dariku. Kurasakan kilaun bening mulai berjatuhan dari pelupuk mataku. Kuusap pelan bilauan bening yang biasa disebut air mata. Air mata ini selalu menetes ketika kesini. Ji. . Aku sudah menepati janjiku, bukan? Aku selalu datang ditempat ini menunggu kedatanganmu tepat dihari ulang tahunmu setiap tahun dan setiap tahun. Aku selalu menunggu kedatanganmu dan senantiasa selalu berada disampingmu. Walau itu terlihat percuma saja bagiku. .

Karena sesuatu yang aku tunggu setiap tahunnya tidak akan mungkin datang ketahun yang akan datang dan tahun yang akan datang esok nanti. .

Hanyalah sebuah janji dan janji. . Kehilangan. .

 

08 Agustus 2006

Lebih dari 2 jam aku menunggu kehadirannya. Aku telah berjanji untuk bertemu dengannya setelah 2bulan lebih tak bertemu dengannya. Udara dingin menyeruak masuk kedalam tubuhku, untunglah aku memakai jaket yang tebal membuatku merasa lebih hangat. Kutatap jam tangan yang sedari tadi melingkar manis ditanganku. Jam sudah menunjukkan 04 PM tapi orang yang sedari tadi aku tunggu tak kunjung datang.

“Dia pasti datang. .” Kataku menyakinkan diriku sendiri. Kupandangi bingkisan kado yang aku buat khusus untuknya. Hari ini adalah ulang tahunnya, aku tak akan melupakan itu.

“Ji?” Aku tersenyum senang ketika dari jauh melihat seorang pria berjalan kearahku. Aku pikir itu adalah pria yang sudah aku tunggu berjam – jam –Kwon Jiyong- tapi sepertinya dugaanku salah. Dia bukanlah Jiyong melainkan Lee Seungri saudara sepupunya membuat senyumanku hilang begitu saja.

“Apa yang kau lakukan disini? Dimana Jiyong?” Tanyaku tak sabaran. Seungri hanya diam tak menanggapi pertanyaanku. Sedari tadi dia hanya memasangkan wajah sendu, sedih, menyesal entahlah. . aku tak tahu makna dibalik gambaran raut wajahnya itu. Seungri menyodorkan sepucuk surat yang tak kuketahui apa isi surat tersebut. Aku menerimanya penuh dengan rasa penasaran.

 

“Ini untukmu dari jiyong hyung. .” Kata – kata Seungri sukses membuatku tak mengerti. Kenapa jiyong memberiku sepucuk surat? Kalau dia tak bisa datang setidaknya dia bisa menghubungiku. Tapi ini? Aku merobek ujung surat tersebut, lalu mengambil kertas berwarna kuning kesukaannya. Sekilas aku menatap mata sendu Seungri yang membuatku merasa penasaran saja. Tak mengerti akan maksud semua ini. Debaran jantungku berdetak lebih cepat. Aku membacanya walau air mataku terus berjatuhan tak tertahankan lagi.

 

To: Darong

 

Darong. . apakah kau menepati janjimu? Hahaha. . kau pasti menepati janjimu karena itulah darong yang aku kenal. Sosok gadis yang bernama Sandara Park. Gadis bertubuh mungil, bergaya agak tomboy, memiliki mata indah, hidung mancung, bibir mungil dan senyuman yang manis. Gadis yang tak pernah aku temui sebelumnya. Sangat keras kepala! Kkkkk~ Sejak pertama mengenalmu kau telah merubah semua segala aspek tentang diriku. Kau yang merubah gaya hidupku, mendatangkan kebahagiaanku dan senyumanku yang telah lama hilang ini.

 

Hari – hari aku lalui denganmu. Disekolah maupun diluar sekolah. Kau selalu bisa membuatku tertawa dengan celotehanmu yang bisa dibilang sangat konyol dan tak masuk akal itu. Karena itulah dara yang aku kenal.

 

Huh~ Aku tak menyangka akan secepat ini merasakan hal seperti ini denganmu. Awalnya aku tak percaya, untuk mengilahkan semua itu. Semua tentang perasaanku denganmu. Aku mencoba menjalin hubungan dengan Im Yoona gadis yang selalu mengejarku walau aku tahu dia bukan gadis baik untukku. Tapi apa yang terjadi? Gadis yang sebenarnya aku cintai menjauhiku begitu saja selama berbulan – bulan tanpa mau mengatakan apa kesalahanku.

 

Tamparan itu, kau ingat? Tamparan itu menyadarkanku bahwa aku benar – benar kehilangan dara-ku. Aku mencintainya tulus. . Saat itulah, aku memutuskan hubungan dengan Yoona. Aku senang. . karena kita telah kembali akrab seperti dulu.

 

Kita bersama dan bersama selalu. . membuatku takut. Membuatku takut karena perasaan ini akan selalu ada dan ada. Aku takut ketika mencintaimu. . aku tak bisa bersamamu. Sesuatu yang telah lama aku ketahui kusembunyikan darimu. Aku takut kau akan merasakan sedih atau merasa kasihan dengan takdir yang telah menimpaku. Menyedihkan memang!

 

Tapi tenang saja. . selama dara selalu ada disampingku. Aku Kwon Jiyong berjanji akan selalu bertahan hidup hanya untuk dara. Tapi. .

 

Tuhan. . Aku mencintainya, secepat inikah aku harus meninggalkannya? Aku juga ingin hidup bahagia dengannya. Tapi. .

 

Apakah kau juga mencintaiku? Aku berusaha untuk tidak mengatakan aku mencintaimu tapi hati kecilku selalu menyuruhku untuk mengatakannya. Saat pesta kelulusan itu. . aku ingin mengatakannya tapi aku hanya berani mencium. Oh~ lihatlah wajahmu waktu itu. Kkkk~ aku benar – benar ingin ketawa melihatnya.

 

Aku memintamu untuk menungguku dihari ulang tahunku dan selalu berada disampingku selamanya. Tapi mungkin.. ketika kau menungguku. Sedikit pun kau tidak akan menemukanku melainkan hanya sepucuk surat ini. Dara. . Mian aku tak bisa menepati janjiku. Mian aku telah membuatmu menunggu. Mian. . Karena aku telah mencintaimu. Saranghaeyo sandara. . saranghaeyo yeongwonghi,

 

Jiyong—

 

“Sejak kecil Jiyong hyung telah menderita leukimea. Dan selama itu juga, dia tak mau menceritakan tentang kondisinya denganmu noona. Jiyong hyung hanya tak mau melihatmu menderita. Dia terlalu mencintaimu noona. . Jiyong hyung hanya mencintaimu noona sejak pertama bertemu.”

Selama ini? Dia yang lebih terluka daripada aku? Kenapa disaat seperti dia harus mengatakan yang sejujurnya. Kenapa tidak dari dulu?

“Ji-jiyong. .” Aku terjatuh lemah tak berdaya. Tanganku masih mengenggam surat darinya. Alasan inikah kenapa dia tak bisa datang untuk menepati janjinya? Apa tidak ada alasan yang lebih baik daripada ini?

“Hiks hiks hiks. .” Sakit sungguh sakit. Kenapa aku tak menyadarinya dari dulu? Aku. . benar – benar payah. Seharusnya aku mengetahuinya dari dulu. Bersama memegang tangannya memberinya semangat hidup. Tapi. . Itu hanya sebuah alasan penyesalan belaka. Dia. .

***

Aku hanya bisa menangis dan menangis saat itu dengan surat sepeninggalanmu. Dan sekarang. . aku hanya bisa menatap batu nisan milikmu. Hal terkonyol yang sampai sekarang tetap aku lakukan adalah menunggumu dan menunggu kehadiranmu. Tak peduli kau akan datang atau tidak karena aku akan menunggumu. Cinta ini. . Akan selalu menunggu kehadiranmu Ji. Tak peduli dengan orang yang mengatakan bodoh denganku, aku tak peduli itu.

 

“Itu hanya masa lalumu Dara. . Lupakan dia!”

 

“Jangan bodohi dirimu dengan perjanjian yang tak ada gunanya itu, Dara!”

 

“Dara. . Ingat! Dia sudah menjadi abu beberapa tahun lalu. Tubuhnya sudah hilang tak menginjakkan kaki dibumi ini. Lupakan saja pria itu!”

 

“Dara. . Carilah pria lain!”

 

“Dara.. Kubur hatimu itu!”

 

“Dara. .”

Kata – kata bodoh dari orang yang tak tahu tentang diriku. Ji. . Aku akan terus mencintaimu walau semua orang menyuruhku untuk berhenti mencintaimu. Karena. . Dihatiku selamanya hanya dirimu. Kau yang pertama untukku. Don’t go. . Ingin aku mengatakan itu tapi mustahil! Biarpun orang mengatakan kau telah mati tak menginjakkan kaki dibumi lagi. Bagiku. . Jiyong yang aku cintai masih hidup. Hidup didalam hatiku selamanya. .

“Sesuatu yang sangat jauh dan kau tak bisa menemuiku. Maybe. .”

“Setelah tahun berikutnya dan berikutnya. . Berjanjilah kau akan selalu disampingku. Bulan depan tepat dihari ulang tahunku, bisakah kau menungguku ditempat biasa kita bermain?”

Aku memintamu untuk menungguku dihari ulang tahunku dan selalu berada disampingku selamanya. Tapi mungkin.. ketika kau menungguku. Sedikit pun kau tidak akan menemukanku melainkan hanya sepucuk surat ini. Dara. . Mian aku tak bisa menepati janjiku. Mian aku telah membuatmu menunggu. Mian. . Karena aku telah mencintaimu. Saranghaeyo sandara. . saranghaeyo yeongwonghi,

Kita akan menjadi bodoh, kalau harus melupakan orang yang kita cintai. SALAH! Jika kalian mengatakan cinta kita telah hilang bersamaan dengan abu itu. TIDAK! Karena sesungguhnya Tuhan telah menghadirkan cinta ini untukku. Membiarkan cinta ini selalu tumbuh didalam hatiku menemaniku sepanjang tahun dan tahun hingga aku harus menutup usaiku. Cinta. . inilah kekuatan cintaku untuknya. Hanya untuk pria yang telah menjadi abu. Ji. . mungkin sebagian orang berpikir bahwa cinta ini hanyalah sebuah beban berat yang harus kita pikul sendiri. Itu tidak bagiku. Ini adalah kasih sayangku hanyalah aku yang mencintainya. Mencintai pria yang akan selalu hadir disampingku dan menemaniku. Perasaan ini dicitptakan untuknya. Hanya dia. .

 

Nado saranghaeyoKwon Jiyong.

 

 

END