Memories coverAuthor             : ttokii_pino

Cast                 : Kwon Jiyong | Sandara Park

Genre              : Romance ,Hurt

Rathing           : G+

Length             : Ficlet

Disclaimer       : This fanfiction is original my imagination.

Twitter             : @Minoo_irra

A/N                  : Terimakasih saja buat semua admindeul yang mau nge-post ff saya ^^ gomawo admin🙂

 

MEMORIES

©©© 

“hahaha”

 

Apa ini? Suara tawa itu. Dua anak kecil itu. Pria kecil itu bukankah aku? Itu masa kecilku? Kenapa? Ada apa denganku? Semua memoriku seakan membawaku untuk masuk kedalam kenanganku. Dimana aku sebenarnya? Bukit? Aku ingat ini. Tempat dimana aku selalu pergi bersamanya. Di bukit inilah, aku selalu berbagi kebahagiaan dengannya. Mengenggam tangannya dan melihat indah pemandangan dari atas bukit.

 

“Dara. . .”

 

Aku melihatnya lagi. Itu masa kecilku bersamanya. Pertama kali, aku berani memanggil namanya ‘Dara’. Gadis kecil itu, dia adalah Sandara Park. Aku? Berada diantara Dara kecil dan diriku sendiri? Oh~god.

 

“Ji. . Lihatlah!”

 

Sama halnya apa yang dilihat diriku sendiri semasa kecil. Aku melihat pemandangan yang ditujuk oleh Dara. Oh~ pemandangan yang sangat indah. Matahari membenamkan dirinya. Sungguh menakjubkan! Benar – benar indah berkilaun.

 

Apa lagi ini? Kenapa itu memudar. Kemana aku pergi? Tempat apa ini? Ini seperti kamarku sendiri. Oh~ benarkah itu?

 

“Hiks hiks. . Shireo! Aku tidak mau pulang. Aku tidak mau melihat perpecahan keluargaku. Ji. .aku takut. Aku takut.”

 

Aku ingat! Peristiwa itu terjadi ketika umur kita 16th. Dara berlari kerumahku bersembunyi didalam kamarku. Dia menangis ketakutan. Dia bersedih karena harus menghadapi pertengkaran kedua orangtuanya. Membuatku ikut merasakan kesedihan itu. Untuk pertama kalinya aku memeluk tubuhnya. Memberinya bahu untuk menangis. Aku sadar waktu itu tak tega melihatnya menangis apalagi dihadapanku. Kesedihannya adalah kesedihanku juga. Sakit yang dirasakannya juga rasa sakit yang aku rasakan.

 

“Uljima, Dara~ah. . Ada aku disisimu.”

 

Kata – kata yang bisa aku lontarkan untuk menenangkannya. Oh~Tuhan. . Jangan biarkan dia menangis lagi. Air mata itu tak seharusnya keluar dari pelipis matanya. Dia terlalu rapuh jika harus merasakan kesedihan itu.

 

Kilauan cahaya itu membuat pandanganku terhalangkan. Ada apa ini? Semuanya hilang begitu saja. Pergi kemana lagi diriku? Kembali kebukit ini lagi? Itu. . Bukankah diriku bersama Dara. Kenapa suasana diantara kami terlihat begitu canggung? Kenangan ini. .

 

“Dara. . Kau tahu? Kita selalu bersama sejak kecil. Berbagi kebahagiaan dan kesedihan bersama. Sekarang. . kau harus tau. Maukah kau menjadi sahabatku?”

 

Sahabat? Bukankah selama ini aku sudah bersahabat dengannya? Kenapa aku bodoh mengatakan hal ini? Mungkinkah waktu itu aku grogi? Atau— Wait!

“Ji. . Selama ini kita sudah menjadi sahabat malahan sejak kecil. Kenapa sekarang kau memintaku untuk menjadi sahabatmu?”

 

“Eoh? Bukan seperti itu. . A-aku a-ku.”

 

Aku menanti apa kelanjutan perkataanku waktu itu. Oh~ Ayolah Jiyong lanjutkan perkataanmu itu. Jangan membuatnya penasaran. Aish~ Aku kesal sendiri dengan diriku sendiri. Aku mendekatinya. Ingin aku menyentuh diriku sendiri tapi aku tak bisa. Aku hanyalah sebuah bayangan disini? Sepertinya percuma saja kalau aku menyentuhnya. Mungkin aku hanya bisa menunggu kelanjutan perkataanku itu.

 

“Ji. .”

 

“Dara. . Jadilah sahabatku. Iya sahabatku. Okay, aku tahu kita sudah bersahabat sejak kecil tapi ini. . Aku hanya ingin kau menjadi sahabatku seumur hidup. Sahabat yang akan menemaniku selalu ada disampingku hingga akhir hayatku. Sahabat yang selalu mencintaiku. Sahabat yang bersedia berbagi kesedihannya dan kebahagiaannya dengan kasih sayangnya. Sahabat yang akan selalu berbagi cinta satu sama lain.”

 

Kata – kata itu seakan menyihirku juga. Mengingatkanku bagaimana dulu aku ingin mengungkapkan perasaanku terhadap gadis pujaan hatiku DARA. Sahabat. . Iya aku paham sekarang tentang arti itu.

 

“Ji.. . Kau yakin?”

 

“Aku tahu setiap orang akan mengatakan cinta dengan pujaan hatinya dengan mengatakan apakah kau mau menjadi kekasihku? Aniyo! Aku hanya ingin mengatakan perasaanku dengan caraku sendiri terhadap kamu Dara. Aku mencintaimu. . Jadilah sahabatku. Aku mohon. .”

 

Aku berlutut dihadapannya untuk pertama kalinya. Waktu itu, aku sungguh mencintainya. Aku ingin mengungkapkan perasaanku dengannya menggunakan caraku sendiri. Aku hanya ingin dia satu – satunya gadis dalam hidupku.

 

“Ji. .”

 

Dara menarikku untuk beranjak berdiri. Dia memegang tanganku. Sungguh! Aku masih bisa merasakan kelembutan sentuhan tangannya itu. Tangan yang lembut dan hangat.

 

“Ji. . Aku bersedih menjadi sahabatmu. Sahabat yang akan menemanimu seumur hidup. Selalu mengenggam tanganmu. Sahabat yang akan menemanimu hingga akhir hayatku. Sahabat yang selalu mencintaimu dan berbagi kebahagiaan serta kesedihan bersamamu.”

 

Kedua kalinya aku memeluk tubuhnya. Waktu itu, aku sangat bahagia karena Dara mau menjadi bagian dari hidupku bukan kekasih tapi sahabat yang selalu aku cintai. Sahabat yang akan selalu berada disampingku saling berbagi kebahagiaan dan kesedihan. Serta sahabat yang akan membagi cinta.

 

“Saranghae. .”

 

“Nado Saranghae Ji. .”

 

Saat inipun, aku masih mengingat. Pertama kalinya aku mencium kening, dua kelopak matanya, pipi dan terakhir bibir mungil. Bibir mungil yang lembut. Aku bisa merasakannya. Bibir lembut miliknya itu.

 

Hilang. . Kebahagiaan itu menghilang dari pandanganku. Oh~ Shit! Kemana lagi aku pergi? Tempat apa ini? Ini seperti gedung tua. Gedung tua yang terlihat begitu using tak terpakai lagi. Banyak kotoran yang menempel dan jarring laba – laba yang bersarang didinding.

 

“Dara. . Aku bisa jelaskan semuanya. Waktu itu, aku . . A-aku. Dara. . Aku mohon percaya padaku. Aku hanya mencintaimu. Kamu satu – satunya wanita didalam hidupku. Wanita yang akan menuntunku kejalan kebahagiaan. Aku ditipu! Apa kamu hanya percaya penglihatan manipulasi itu? Dara. .”

 

Kejadian ini, mungkin terjadi ketika kelulusan sekolah masa SMA. Waktu itu, Dara berlari masuk kedalam gedung tua ini. Dia menangis didalam. Menangis karena kesalahanku. Iya. .. Aku masih ingat dengan jelas. Saat itu, ada seorang wanita yang ingin mencoba memisahkan aku dan Dara. Wanita itu sangat menyukaiku tapi aku sama sekali tak menyukainya. Dia berusaha menjebakku. Membuat Dara tak percaya lagi denganku.

 

“Dara. . Aku hanya mencintaimu. Aku telah berjanji hanya akan mencintai satu wanita didunia ini yaitu kamu. Dara. . Sebanyak apapun wanita cantik didunia ini. Bagiku kamu hanya wanita cantik itu. Wanita cantik yang sengaja diturunkan dari surga hanya untukku. Percayalah padaku. . Dara,”

 

“Ji. . Mian.”

 

Dia memelukku. Ya. . Memelukku dengan erat. Bahkan aku bisa merasakan pelukannya itu. Betapa beruntungnya aku bisa mendapatkan wanita sebaik Dara.

 

“Saranghae yeongwonhi. .”

 

Ini bisa dibilang untuk kedua kalinya aku mencium bibir mungilnya. Bibir mungil yang lembut. Lagi? OH~ Kepergi kemanakah aku. Bukit lagi? Bukitnya tak terlihat seperti dulu. Terlihat begitu ramai dengan kehadiran orang. Cantik. Benar – benar cantik! Aku melihat sosok Dara yang tengah berjalan digandeng ayahnya. Pernikahan? Oh~ Aku ingat. Setelah kejadian itu, aku mencoba melamar Dara. Ya. . usahaku berhasil waktu itu. 1 Tahun setelah kelulusan masa SMA-ku, dimana umur-ku genap 21th aku menikahinya. Aku menikahi pujaan hatiku, Sandara Park. Betapa bahagianya aku. Tepukan tangan menggema leluasa ketika aku dan Dara selesai mengucapkan mengucapkan janji suci. Kini, Dara resmi menjadi milikku seutuhnya.

 

“Hahaha. .hati – hatilah Ji. Jangan buat Leo pusing.”

 

Ini? Dara dan aku. Anak kecil itu? Leo? Malaikat kecilku bersama Dara? Semua kenangan ini kemana terlihat begitu jelas didepan mataku. Kenapa semua cahaya memudar? Aku jatuh didalam jurang? Apa yang akan terjadi denganku.

 

“Ji. .Irona jebal! Ji. .”

 

“Appa. . Hiks hiks”

 

Benarkah itu aku dimasa sekarang? Aku yang tak berdaya didalam ruangan UGD. Hanya alat – alat itu yang membantuku. Siapa aku yang berdiri disini? Aku sudah mati? Tidak! Aku tak bisa matiku begitu saja meninggalkan keluargaku. Dara. . Leo.

 

Kedua malaikatku menangis. Dara terlihat begitu terpuruk melihat keadaanku. Dia hanya bisa merangkul malaikat kecilku dengannya Leo. Tuhan. . Apa yang terjadi denganku? Jangan biarkan kedua orang yang aku cintai menangis karena diriku. Aku mencintai mereka. Alasan aku hidup hanya mereka berdua. Mereka membutuhkanku. Membutuhkan keberadaanku disampingnya.

 

“Dok. . Bagaimana keadaan suami saya?”

 

“Mian. .”

 

Apa yang dikatakan dokter itu? Mian? Semudah itukah dia mengatakannya. Ada apa dengan diriku? Dara. .

 

“Appa baik – baik saja. Eomma yakin itu. Appa masih hidup. Iya. . Leo percayakan?”

 

Aku hanya bisa mematung tak berdaya memandangi dua malakait dalam hidupku. Tidak! Aku tak bisa mati begitu saja. Aku tak bisa membiarkan mereka bersedih hanya karena aku. Aku . .

 

Why? Kenapa semuanya terlihat buram. Dimana keberadaan istri dan anakku? Kenapa aku tak bisa melihat keberadaannya. Ada apa denganku? Suara itu. . Suara tangisan itu.

 

“Appa. . hiks hiks. Appa. . Leo sayang appa. Appa Ireona!”

 

“Ji. . Ireona. Jebal. .”

 

Dara. . Leo. .

 

~XXX~


2 Bulan Kemudian. .

 

“Appa. .”

Teriakan anak kecil itu membuatku lepas dari lamunanku. Kuputarkan kursi rodaku. Kulihat malaikat kecilku tengah berlari kecil kearahku. Kupeluk tubuhnya dengan erat. Dibalik punggung kecil milik malaikat kecilku, kulihat sosok gadis cantik tengah tersenyum denganku. Dara. . menghampiriku. Kuraih pergelangan tangannya. Kucium dengan lembut punggung tangannya itu.

 

Tuhan terimakasih. . Karena Engkau telah memberiku kesempatan untuk hidup lagi. Semua kenangan akan masa laluku, akan selalu aku simpan didalam ingatanku. Selamanya. .

 

“Appa. . Lihat ini.”

Leo –Malaikat kecilku- menunjukan sesuatu padaku. Sebelumnya, kutarik tubuh kecil Leo untuk duduk diatas pangkuanku. Betapa semangatnya anak kecil ini menunjukan kertas gambar miliknya itu. Oh~ gambaran yang sangat indah.

“Tadi Leo membuatnya disekolah. Ini Appa Leo dan Eomma. .Leo bahagia karena appa bisa bersama lagi dengan Leo dan Eomma.”

Aku tersenyum senang. Kukecup lembut kening satu – satunya putraku semata wayang. Dia sama persis denganku dan Dara. Sepertinya cukup bagiku untuk mendapatkan kebahagiaan itu. Hanya dengan bersama Leo dan Dara saja kebahagiaan itu akan selalu ada dalam hidupku.

 

Terimakasih Tuhan. . Terimakasih atas semuanya. Alasanku hidup adalah kedua malaikat dalam hidupku. Harta karun termahal yang Engkau berikan untukku. Gomawo. .

 

 

END