and the truth is... coverNama author   : Luthfinta Sudar

Cast(s)     :

–     Kwon Jiyong

–     Dong Yong Bae

–     Kirana (OC)

–     All Big Bang members

Genre              : Romance

Length             : One shoot

A/N                    : Halo, ini ff pertamaku. Maaf ya kalo geje. Dikomen dan jangan copas ya. Makasih sebelumnya🙂

twitter             : @fiinta

 

And The Truth Is..

 

“Promise me, oppa?” tanya seorang gadis sambil menyodorkan jari kelingkingnya penuh harap. Walaupun pandangan matanya tidak begitu jelas karena terhalang air mata di pelupuk mata, tapi gadis itu tetap bisa melihat keraguan di wajah Kwon Jiyong, lawan bicaranya. “Promise me you will reply all of my letter to you. Promise me, oppa?”

Jiyong masih diam. Berbagai macam pikiran berseliweran didalam kepalanya. Ditatapnya mata basah milik Kiran. Ia berharap mendapatkan keyakinan dalam dua manik mata itu. Tapi ketulusan dua bola mata itu seolah mengancamnya. Jujur, ia tidak ingin masuk lebih dalam lagi dan berakhir tersesat disana. Tetapi ia tidak mau menyakiti gadis itu. Tidak boleh.

Jiyong memaksakan sebuah senyum sebelum akhirnya pandangannya beralih pada kelingking mungil yang terjulur dihadapannya.

“I promise, Kiran-ah,” ucapnya memecah keheningan diantara mereka seraya mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking mungil milik Kiran.

Secercah senyuman terbit diwajah gadis itu.

“Well, I need to go now, Kiran. My plane is about to fly,” kata Jiyong masih tersenyum lembut.

“Oke oppa. I know,” kata gadis itu berat. Dilepaskan jari kelingkingnya dari kelingking lelaki dihadapannya. “I’m not gonna cry anymore. So don’t make this farewell-scene more dramatic, oppa!” lanjut Kiran sambil menyeka air mata dari kedua pipinya.

Arra,” timpal Jiyong sambil mengacak rambut Kiran.

“Hya Oppa!” teriak Kiran sambil menampik tangan Jiyong yang sudah terlanjur berhasil mengacak rambutnya. Jiyong tahu, gadis itu memang paling benci jika ada orang yg mengacak-acak rambut kesayangan Kiran.

“Hahahaha. You are not crying anymore. So that I can go in peace now,” kata Jiyong sambil terkekeh.

“Bye oppa!” kata gadis itu menahan air mata yang sepertinya akan jatuh lagi.

“Bye-bye!” balas Jiyong sambil melambaikan tangannya sebelum ia berbalik dan menghilang dibalik pintu bertuliskan ‘Departure’.

 

****

 

“Kirana,” ujar seorang gadis sambil menyodorkan tangan kanan tepat ketika sampai didepan seorang lelaki berkacamata yang kedua tangannya memegang secarik kertas bertuliskan ‘Kirana Suprapto’. Baju putih dan celana jins dipadu dengan sneakers tampak indah membalut gadis berperawakan mungil itu. Sebuah senyum ramah tersungging diwajahnya. Sementara tangan kirinya menurunkan pegangan koper yang sedari tadi ia seret.

“Dong Yong Bae,” balas lelaki berambut cepak dihadapan Kiran sambil menjabat tangannya. “But people call me Taeyang… mostly” lanjut Taeyang sambil tersenyum.

Ada kegetiran yang dapat ditangkap oleh Kiran dari senyum Taeyang barusan. Tapi keanehan yang muncul tiba-tiba itu cepat-cepat ia tampik.

Begitu acara jabat tangan selesai, Taeyang langsung mengarahkan tangannya pada gagang koper yang tadi dilepaskan Kiran dan langsung meraihnya. Ditarik koper berwarna biru itu seraya berkata, “Let me bring your bag in. It must be very heavy for you,”

“Ah tidak perlu repot-repot, Taeyang-ssi, aku bisa membawanya sendiri kok” sahut Kiran buru-buru dengan hati tidak enak. Ia tadi menaruh kopernya bukan karena keberatan, ia hanya merasa kurang sopan berjabat tangan sambil memegang koper.

“Wah, kau bisa berbahasa Korea dengan sangat baik Kirana!” kata Taeyang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. “Lebih baik daripada yang aku kira,”

“Hah?”

“Mak.. maksudku… Jiyong sudah banyak cerita tentangmu. Dia bilang kau belajar bahasa Korea. Tapi aku tidak menyangka kau bisa bicara sefasih ini,” tukas Taeyang cepat untuk menyembunyikan kegugupannya. Keringat dingin tiba-tiba mengaliri tengkuk lelaki itu.

“Oh Jiyong oppa sudah cerita banyak tentangku rupanya,” kata gadis itu sambil mengangguk.

Ne,” ungkap Taeyang lega. Dalam hati ia berjanji untuk lebih berhati-hati lagi jika berhadapan dengan gadis di depannya ini kalau tidak mau semua berantakan. “Sudah malam, mari kuantar ke hotel, Kirana-ssi,” lanjutnya seraya memimpin Kiran menuju ke mobil yang diparkir di depan bandara Incheon. Tangan kanannya masih menuntun koper Kiran yang besar.

“Baiklah, Taeyang oppa,” kata Kiran sambil mengikuti Taeyang masuk ke dalam.

Mendengar sebutan itu, refleks Taeyang memberhentikan langkah dan menoleh kebelakang, ke arah Kiran. Kiran yang tiba-tiba ditoleh seperti itupun jadi salah tingkah.

“Errr…. Benarkan aku memanggilmu ‘oppa’?” tanya gadis itu ragu. “Ku dengar, kau dan Jiyong oppa seumuran… jadi bukankah aku seharusnya memanggilmu ‘oppa’?”

Ditanyai seperti itu, Taeyang jadi ikut salah tingkah. “ohh hmm i.. iya benar,” katanya sambil meringis dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Mmm.. tapi kalau kau tidak nyaman, aku bisa tetap memanggilmu Taeyang-ssi kok..,” ujar Kiran cepat.

“Oh tidak-tidak jangan. Panggil aku ‘oppa’ saja tidak apa-apa kok,” tanggap Taeyang tak kalah cepat. Entah mengapa ada kesedihan yang menghampirinya sesaat setelah kalimat Kiran terakhir diucapkan. Tidak. Dia tidak mau terus menjadi orang asing bagi gadis itu. Tidak mau.

“Oh…. Baiklah, Taeyang… op..paaa,” kata gadis itu ragu. Tapi gadis itu tersenyum. Taeyang dapat merasakan organ-organ dalam perutnya jatuh ke lantai.

Lelaki itu tersenyum simpul untuk menutupi ke-eroran sistemnya hari ini. Ia pun berbalik dan meneruskan langkah menuju mobil diikuti Kiran dibelakangnya.

“Nah, silahkan masuk Kirana,” kata Taeyang mempersilahkan Kirana seraya membukakan pintu mobil untuk gadis itu.

“Terima kasih,” Kiran pun langsung memasukkan dirinya kedalam mobil pribadi Taeyang tersebut.

Setelah menutup pintu mobil, Taeyang beranjak ke bagasi. Diletakkannya koper berwarna biru milik Kiran di dalamnya. Setelah menutup bagasi, Taeyang masuk dan duduk dibalik kemudi mobil.

Setelah menutup pintu, Taeyang membuka dashboard disampingnya dan mengeluarkan satu botol teh hijau dan sebotol cola dari dalamnya. Disodorkan botol teh hijau kepada gadis yang tengah duduk disampingnya itu sebelum ia menutup dashboard tersebut kembali.

“Ini, silahkan diminum,” kata Taeyang kemudian.

Gomawo,” ucap Kiran sambil menerima botol dari lelaki yang kini tengah membuka botol cola disebelahnya. Dibacanya label merk yang melekat dibotol itu sebelum akhirnya berkata, “Waa oppa, kebetulan sekali ya, aku penggemar berat green tea!”

“Ohh i..iyaa. Kebetulan sekali ya Kirana-ah,” balas Taeyang gugup. Dipandanginya gadis disebelahnya itu. Dengan mata berbinar, Kiran sedang membuka tutup botol teh hijau dan ketika tutupnya sudah terbuka, gadis itu langsung menegaknya sehingga sebotol teh hijau yang semula berisi 600ml tinggal tersisa separuh.

“Aaah segar sekali rasanya. Maaf ya, oppa, aku haus sekali, sedari turun dari pesawat tadi aku belum minum apapun. Lagipula, Ini green tea Korea pertamaku,” ungkap Kiran blak-blakan sambil meringis. Taeyang dapat melihat sebuah lesung pipit yang tidak begitu kentara di pipi kiri Kiran. Dalam hati, Taeyang memuji kemanisan senyum gadis ini.

“Oh ya? Kalau begitu habiskan saja, di dorm masih ada kok,” kata Taeyang menanggapi.

Diminumnya cola yang sedari tadi lelaki itu genggam. Setelah meminum beberapa tegak, Taeyang menutup botolnya dan menaruh botol itu kembali ke dashboard. Dinyalakan mesin mobil dan semenit kemudian, mobil itu pun melaju.

“Omong-omong, bagaimana perjalananmu tadi dari Indonesia?” tanya Taeyang membuka obrolan.

“Lancar, oppa, syukurlah.Ini pertama kalinya aku ke Korea, oppa. Sesungguhnya aku sudah menunggu kesempatan ini sejak lama,” terang Kiran.

Taeyang dapat melihat perubahan raut Kiran. Matanya yang semula berbinar perlahan berganti kelabu. Ingin sekali lelaki itu menggenggam tangan Kiran untuk menenangkannya, tapi buru-buru diurungkannya niatnya itu.

“Entahlah oppa, mungkin kalau aku datang dengan suasana yang lain, aku pasti lebih bersemangat,” lanjut gadis itu dengan senyum yang dipaksakan.

Rasa bersalah mulai merambati hati Taeyang. Ditatapnya kedua mata Kiran lekat. Ditemukannya rasa sakit hati mendalam yang berusaha Kiran tutupi di dalam kedua maniknya. Taeyang terpaku tanpa mampu menemukan reaksi seperti apa yang perlu ia tunjukkan pada gadis disebelahnya.

“A..aku merasa semua ini tidak benar, oppa. Jiyong oppa tidak pernah berkata apa-apa sebelumnya..,” kata gadis itu lagi. Air mata menggenangi pelupuk matanya sekarang.

Hati Taeyang mencelos. Tenggorokannya tercekat. Bodoh sekali kau Taeyang! Maki lelaki itu dalam hati.

“Lalu… lalu kenapa kau kemari Kiran? Bukankah akan sangat menyakitkan jika kamu disini dan menyaksikannya langsung?” kata Taeyang menemukan suaranya kembali.

Gadis itu mendongak menatap Taeyang serius. Tangan Taeyang saat ini gatal, ya gatal, antara ingin menghapus air mata dipelupuk mata Kiran atau mencekik lehernya sendiri. Dan yah, saat ini ia benar-benar tidak punya keberanian untuk membalas tatapan Kiran. Pada akhirnya, Taeyang menekan setirnya erat dan memfokuskan pandangan ke jalan agar tidak melakukan niatannya tadi.

Oppa, tidak kah akan lebih baik jika aku mendengarnya langsung dari mulut Jiyong oppa?”

Taeyang menghembuskan napasnya berat, “Ya.. kau benar. Mungkin kalau aku ada diposisimu, hal itu juga yang akan aku lakukan,”

Keheningan menyelimuti mobil itu seketika. Keheningan yang menggerogoti hati Taeyang. Dari sudut matanya, ia dapat melihat Kiran sedang mengelap air matanya dengan punggung tangan.

Oppa…,” ujar Kiran akhirnya memecah keheningan.

“Ya?”

“Ku dengar hubunganmu dan Jiyong oppa sangat dekat,”

“Ya.. begitulah,”

“Apakah kau tidak keberatan sedikit saja bercerita padaku….. tentang pernikahan itu?”

 

****

                Jam ditangan Kiran sudah menunjukkan pukul delapan malam ketika Mbak Yem, pembantu rumahnya, membukakan pintu utama rumah bercat putih yang ia dan keluarganya tinggali.

“Kok baru pulang, Non?” tanya mbak Yem

“Iya nih mbak, ada tugas yang harus dikerjain tadi di kampus,” jawab Kiran sambil tersenyum. “Papa Mama dimana mbak?” tanya Kiran kemudian.

“Lagi pada di kamar. Ibu lagi siap-siap, Non,”

“lho siap-siap memangnya mau ada apa mbak?” tanya Kiran heran.

“Lho Non Kiran tidak tahu? Ibu kan besok pagi mau ke Korea,” jawab Mbak Yem polos.

“Hah? Ke Korea? Memang Mama ada acara apa? Kenapa tiba-tiba ke Korea?” tanya Kiran semakin heran.

“Wah kalau itu saya kurang tahu, Non,”

“Oh oke, makasih mbak,” ucap Kiran pada mbak Yem sebelum akhirnya bergegas ke kamar orang tuanya.

Kiran mendapati Mama sedang memasukkan gaun pesta ke dalam koper berukuran sedang ketika gadis itu membuka pintu kamar orang tuanya. Mendengar ada pintu dibuka, Mama pun mendongak dan lalu menyapa putri semata wayangnya itu.

“Sayang, baru pulang ya?” tanya Mama retoris.

“Ma, kata Mbak Yem,  Mama mau ke Korea ya besok pagi?” tanya Kiran mengabaikan pertanyaan Mama.

“Iya, sayang. Kamu ingat Jiyong? Dia akan menikah dua hari lagi. Papa diundang ke pernikahannya tapi pada hari itu Papa ada urusan penting  di luar kota, jadi tidak bisa datang. Sebagai gantinya, Mama saja yang datang,” terang Mama. Wanita itu kembali memasukkan barang-barangnya ke dalam koper tanpa memperhatikan perubahan ekspresi putrinya.

Mendengar penjelasan Mama barusan, Kiran bagaikan tersambar petir. “Jiyong Ma? Kwon Jiyong? Yang dua tahun lalu pertukaran pelajar dua minggu disini?” tanya Kiran setengah berteriak.

“Iya, Kwon Jiyong, orang Korea yang kita house-fam-in, yang tidur di kamar tamu sebelah kamarmu waktu  dia tinggal disini. Yang sekarang sudah jadi artis itu lho, sayang,”

Tidak mungkin! Tidak mungkin Jiyong oppa menikah! Batin Kiran. Kaki gadis itu limbung. Saat ini seluruh koordinasinya seakan lumpuh.

“Ma, kok aku sama sekali tidak dengar beritanya?” bukan…. Kenapa Jiyong oppa tidak pernah bilang kalau…..

“Berita kalau dia berkencan?” tanya Mama. “Kan dia selebriti, sayang. Mama dengar kalo selebriti Korea kan memang kencannya diam-diam. Apalagi sekelas Jiyong, dia pasti tidak mau membuat skandal yang akan berdampak pada karirnya kan?” jelas Mama yang kini sibuk memasukkan kosmetik kedalam tempat make-up portable.

Kiran terdiam. Ia berusaha mencerna semua informasi yang baru saja ia terima dari Mama-nya itu. Tapi semakin ia berpikir, semakin sakit kepalanya. Ia berusaha mencari penjelasan atas semua yang Mama terangkan padanya. Gadis itu memutar cepat seluruh kejadian dua tahun ini di kepalanya untuk mencari jawaban, tapi jangankan ditemukan, mendekati saja tidak. Sungguh, hal ini membuat Kiran benar-benar frustasi.

“Mama,” panggil Kiran.

“Ya, sayang?” jawab Mama tanpa memberhentikan aktivitasnya mengepak barang.

“Bagaimana kalau aku saja yang datang ke sana mewakili Papa?”

 

***

“Gadis itu seorang model. SooJoo namanya,” kata Taeyang sambil menatap mobil yang melaju di depan mobilnya.

“Sudah berapa lama mereka berkencan?” Taeyang dapat merasakan kesedihan dalam suara parau Kiran.

“Sekitar setahun…,”

“Wah, sudah lama rupanya..,” tukas Kiran lebih kepada dirinya sendiri.

“Begitulah,”

Hening kemudian. Taeyang menoleh ke arah gadis disampingnya. Sementara yang dilihat hanya duduk diam melihat jalan. Ekspresi terluka jelas terpancar dalam raut wajahnya.

Rasanya Taeyang sangat ingin memeluk tubuh Kiran yang mungil. Ingin merasakan air mata gadis itu merembes dibajunya. Ya, ia benci melihat Kiran menangis, tapi ia lebih benci jika melihat gadis itu menahan emosinya agar tidak menangis. Ia ingin Kiran memuntahkan segala emosi terhadap dirinya dan bukan malah menahannya.

“Seni seorang playboy,” tukas Kiran tiba-tiba sambil tertawa sinis.

“Maksudnya?”

“Berhubungan dengan dua gadis, atau mungkin lebih, dalam satu waktu. Bukankah itu hebat, oppa? Bukankah itu seni?”

Taeyang terdiam tidak mampu berkata-kata.

 

****

                Taeyang langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa ketika memasuki ruang duduk apartemen yang ia gunakan bersama empat orang member Big Bang lainnya. Masih digenggamnya amplop-amplop yang baru saja diberikan TOP sebelum masuk apartemen tadi. Surat penggemar, begitu kata hyung-nya itu. Ada sekitar 12 amplop yang ia pegang saat ini.

Ia sedang memilah satu per satu amplop yang ada di tangannya ketika matanya menangkap salah satu amplop berwarna biru dengan alamat pengirim dari Jakarta, Indonesia. Diperhatikannya amplop itu dan ditemukannya tulisan ‘For Kwon Jiyong’. Aigo, TOP hyung pasti terselip memberikan surat untuk Jiyong ini kepada ku, batin lelaki itu sambil menggeleng kepala.

Taeyang memisahkan surat untuk Jiyong di meja sebelah sofa dan melanjutkan aktivitas membaca surat penggemar.

Tak berapa lama, terdengar gagang pintu dibuka dan keluarlah Jiyong dari kamarnya dengan tergesa-gesa. Melihat temannya itu, Taeyang jadi ingat surat biru dari Indonesia untuk Jiyong.

“Jiyong-ah, ini ada surat untukmu!” panggil Taeyang setengah berteriak.

“Surat penggemar?” tanya Jiyong menghentikan langkahnya sambil menoleh ke arah Taeyang.

“Ya, itu diatas meja,” jawab Taeyang sambil mengedik ke arah meja.

“Sudahlah untukmu saja aku sedang terburu-buru,” tanggap Jiyong sambil membuka pintu keluar dan langsung berlalu.

“HYA Jiyong-ah! Bagaimana bisa ini surat dari Indonesia!” kata Taeyang cepat sambil berteriak. tapi sepertinya Jiyong sudah terlanjur jauh dan tidak mendengar suaranya.

Dasar Jiyong, sudahlah sini biar aku baca saja, kasihan surat ini sudah menempuh perjalanan jauh, ucap Taeyang dalam hati.

Diraihnya amplop biru itu lalu dibukanya. Dibacanya setiap kalimat berbahasa Inggris yang tertulis dalam secarik kertas dengan seksama. Lelaki ini menemukan keasyikan tersendiri ketika tahu bahwa ini bukan surat penggemar untuk Jiyong, melainkan surat pribadi.

Setelah membaca surat itu sampai selesai, Taeyang dapat menyimpulkan bahwa gadis yang menulisnya adalah gadis yang sangat menarik. Diam-diam Taeyang berharap dapat mengenal gadis ini lebih jauh.

“Kirana Suprapto?” gumam Taeyang.

 

****

                “ Taeyang oppa, dimana Jiyong oppa sekarang? Kenapa kau yang menjemputku?” tanya Kiran sambil menengok ke arah Taeyang yang sedang mengemudikan mobilnya.

“Dia…..,”

Arra, dia pasti sedang disibukkan pernikahannya yang tinggal besok,” ucap Kiran memotong jawaban Taeyang yang belum selesai.

Ya Tuhan, darimana aku harus mulai menjelaskan semuanya pada gadis ini?

 

****

                “Orang tuanya baru saja memberitahuku kalau gadis itu yang akan datang, Yongbae-ah” kata Jiyong sambil menyeruput kopi yang dari gelas yang ia pegang.

Mereka berdua tengah duduk santai di lobi kantor YG Entertainment setelah menyelesaikan beberapa urusan mengenai CF yang akan mereka lakukan bersama dua minggu lagi.

“Dia masih belum tahu apa-apa?” tanya Jiyong pada Taeyang yang seketika itu langsung menggeleng pasrah.

“Sama sekali. Dia sama sekali tidak tahu,” jawab Taeyang sedih. Ditangkupkan kedua tangan ke wajah tampannya, tanda ia benar-benar depresi.

“Wah, ini mulai serius Yongbae, bukannya aku mau menambah pikiranmu, tapi aku takut ia akan menyabotase pernikahanku…,” ucap Jiyong khawatir.

Mendengar pernyataan sahabatnya itu, Taeyang merasa tertampar.

“Dia bukan gadis seperti itu, Jiyong-ah” tanggap Taeyang setengah tidak yakin.

“Ku harap…,”

“Karena aku yang memulai, biar aku yang bertanggung jawab Jiyong, serahkan gadis itu padaku,” tandas Taeyang sambil menegakkan kepalanya. “Aku tidak yakin akan bisa menghadapinya, tapi aku pastikan padamu, pernikahanmu akan baik-baik saja,”

 

****

                Mobil berhenti didepan sebuah mini market ditepi jalan Seoul yang padat.

“Sebentar ya, Kirana, TOP hyung menitipiku sesuatu,” pamit Taeyang sambil membuka pintu mobil dan keluar. Kiran hanya mempersilahkannya dengan anggukan kecil dan menunggu sampai Taeyang selesai membeli barang titipan TOP.

Kirana sedang asik mengamati lampu-lampu jalan yang menyinari kota Seoul dari dalam mobil ketika terdengar ada suara ponsel berbunyi. Setelah mencari agak lama, Kiran dapat menemukan sumber suara itu dari handphone Taeyang yang lelaki itu letakkan di laci sebelah rem tangan. Tadinya Kiran tidak ingin menggubris suara telpon itu, tetapi ketika layar ponsel itu mengedipkan nama ‘G-Dragon’ ia tidak dapat menahan tangannya untuk tidak mengangkat ponsel Taeyang.

Dengan hati berdebar, Kiran menggeser garis hijau pada layar telpon Taeyang yang sudah ia genggam. Sejurus setelah ia menempelkan ponsel itu di daun telinganya, Kiran dapat mendengar kekalutan dari orang diseberang sana.

“Yeobuseo, Yongbae-ah! Bagaimana? Sudahkah kau menjelaskan semuanya padanya? Bagaimana reaksi Kiran?” tanya suara itu beruntun.

Kiran terdiam. Apa maksudnya? Gadis itu lalu menarik napas dan menjawab, “Kenapa tidak kau saja yang menjelaskan semuanya, oppa? Kenapa kau diam saja selama ini? Kenapa kau membuatku seperti orang bodoh? Dan kenapa kau melibatkan Taeyang oppa dalam urusan kita? Pengecut sekali,” rentet gadis itu.

Tanpa bisa dikuasai, air mata yang sedaritadi ditahannya tumpah. Sesungguhnya ia agak menyesali ledakan emosinya ini. Seharusnya ia dapat menahan emosi sampai bertemu Jiyong langsung. Gadis itu kan berniat datang kemari untuk membicarakan hal ini secara langsung dan bukan lewat telpon.

“Ki..Kirana..,” kata Jiyong tertegun

“Playboy kau oppa! Selama dua tahun ini kau pasti seperti mendapat hiburan kan setiap menerima pesanku? Hiburan atas kebodohanku karena tidak tahu menahu tentang ulahmu disana. Berapa banyak gadis lagi yang kau kirimi pesan, oppa? Berapa hati yang saat ini tengah kau patahkan?” ledak Kiran.

“Kirana… aku… aku….,”

Kirana tidak mampu mengatakan apapun. Hanya isakan tangis yang mampu keluar dari bibirnya saat ini. Akhirnya seluruh kekesalannya tumpah juga.

Hening sesaat sebelum akhirnya Jiyong berkata dengan ragu.

“Kirana, sejujurnya selama ini….. aku tidak pernah menerima pesanmu…”

 

***

                Bunyi ponsel membuyarkan Dina dari kegiatan mengetiknya. Dia dan sobatnya, Kiran sedang di perpustakaan kampus  mengerjakan paper yang harus dikumpulkan besok pagi.

“Kiran, ponselmu,” kata Dina sambil menunjuk ponsel Kiran yang tergeletak di meja.

“Iya sebentar,” jawab gadis dihadapannya.

Setelah Kiran menyelesaikan satu paragraf, ia pun menengok pesan di ponselnya dan tersenyum cerah.

“Pacarmu?” tanya Dina menggoda sahabatnya yang hanya dijawab dengan anggukan dan senyuman malu-malu.

 

***

 

Lutut Taeyang terasa sangat lemas begitu ia tidak bisa menemukan Kiran dimanapun. Sekembali dari membelikan pesanan TOP di mini market pinggir jalan, ia tidak mendapati Kiran di jok mobilnya. Ia telah turun dan mencari disekitar mini market itu dan tidak dapat menemukan Kiran dimanapun. Ia juga sudah bertanya pada orang-orang disekitar tapi tidak ada yang melihat Kiran. Ia benar-benar cemas. Bagaimana kalau gadis itu diculik? Lagipula ini kan pertama kalinya Kiran ke Seoul.

Dengan pasrah ia mengambil ponselnya di laci bawah rem tangan dan mencoba menghubungi nomer ponsel Kiran karena itulah harapannya satu satunya.

Setiap nada sambung yang mengalun membuatnya semakin gila. Angkat Kiran…. Angkat… batinnya tidak tenang. Dan akhirnya, pada dering ke tujuh, ada suara yang sangat ia kenali menjawab panggilannya. Secercah harapan menyesapi hati lelaki itu.

Yeobuseo,”

“Kiran-ah, dimana kamu? Kenapa tidak ada di mobil?” rentet Taeyang tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.

Oppa…,” kata suara diseberang sana. Ia dapat mendengar kesedihan dari suara itu. Entah mengapa perasaan Taeyang semakin tidak baik.

“Ya, Kiran?”

Keheningan menguasai percakapan telepon diantara mereka. Dan sesaat sebelum Kiran menutup percakapan mereka, gadis itu bertanya dengan lirih.

“Green tea di dashboard mobilmu itu bukan suatu kebetulan, kan?”

Dan perasaannya terbukti benar.

****

“Setahun lalu, surat itu aku yang membalasnya, Jiyong, maafkan aku,” aku Taeyang. Ia tidak berani menatap mata lawan bicaranya sama sekali. “Aku meminta nomer ponselnya dan kami berhubungan lewat telpon dan SMS…,”

Jiyong menatap nanar sahabatnya itu. Pantas saja tidak pernah ada surat dari Kiran… ucapnya dalam hati.

“Aku menyukainya, Jiyong,” kata Taeyang frustasi.

“Kalian berpacaran?” tanya Jiyong hati-hati.

Taeyang mendongak dan menelan ludah sebelum akhirnya mengangguk.

Tanpa diduga, Jiyong tersenyum dan berkata, “Cukhae Yongbae-ah!” dengan tulus.

Reaksi Taeyang berikutnya sangat diluar dugaan Jiyong. Bukannya tersenyum atau menampakkan wajah heran seperti yang Jiyong terka akan Taeyang lakukan, lelaki dihadapannya itu malah menatapnya sedih.

“Kenapa orang yang jatuh cinta bisa terlihat begini sedih?” tanya Jiyong tidak mengerti.

Dengan ragu-ragu Taeyang menjawab, “Kiran tidak tahu bahwa dia sedang berpacaran denganku,”

“Maksudnya?”

“Aku berhubungan dengannya sebagai…..,” Taeyang berhenti sesaat dan menghela napas sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya. “…..sebagai kau, Jiyong-ah,”

Jiyong terperangah. Ia hampir tidak bisa mempercayai ucapan sahabatnya barusan. Tapi bagaimanapun, Jiyong dapat merasakan ketulusan dan kesedihan karibnya itu disaat yang bersamaan. Jiyong pun mengangguk, “Arraso,”

“Tapi ini sudah setahun, Yongbae. Setahun sejak kau berpacaran dengannya dengan berpura-pura menjadi aku. Kau tidak bisa terus begini. Cepat atau lambat gadis itu harus tahu,”

“Aku memang berencana memberitahunya, tapi disisi lain aku takut dia akan meninggalkanku,”

“Kau pasti bisa Yongbae, Kiran pasti akan mengerti,” ujar Jiyong sambil menepuk bahu Taeyang.

 

****

                “Kau sudah menceritakan semuanya?”

Mianhe, Yongbae-ah” terdengar suara Jiyong yang sarat akan penyesalan diseberang telepon Taeyang.

Taeyang memukul setir mobil dengan keras. Kini perasaannya benar-benar kacau. Berbagai pikiran berkecamuk, menyiksanya hingga kepalanya serasa mau pecah. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kemana gadis itu? Bagaimana jika hal yang buruk terjadi padanya?

“Dia menghilang, Jiyong. Dia bahkan belum pernah ke Seoul sebelumnya. Aku benar-benar khawatir,”

“Coba cek ke Incheon, Yongbae. Menurutku, dia akan mencari penerbangan tercepat ke Indonesia,” jelas Jiyong.

“Bagaimana kau tahu?” tanya Taeyang heran. Secercah harapan mucul dibenaknya.

“Setelah aku jelaskan tadi, dia berpamitan padaku. Dia bilang dia tidak bisa datang ke acaraku besok pagi,” jeda sesaat sebelum Jiyong meneruskan. “Ku rasa ia pergi ke airport. Kemana lagi dia akan pergi ketika dia tidak tahu Seoul sama sekali dan ketika yang dikenalnya disini hanya kita berdua dan dia dalam posisi tidak ingin menemui satupun diantara kita?”

Gomawo, Jiyong,” kata Taeyang seraya menutup telepon.

Tanpa menunggu waktu, Lelaki itu memutar kunci mobilnya secara tergesa dan segera memacu mobilnya membelah jalan kota Seoul dengan kecepatan tinggi agar segera mencapai Incheon.

Please be there, Kirana…. Please…..

 

****

 

Dua jam lagi, begitu kata petugas airport yang Kiran tanyai ketika ia mencari tahu kapan penerbangan tercepat ke Indonesia sebelum akhirnya ia membeli sebuah tiket pada petugas itu.

Sambil duduk di depan jendela besar yang membentangkan langit malam kota Seoul, Kiran menggigit roti yang ada digenggamannya. Ia tadi baru saja membeli roti itu di counter makanan dalam airport lima menit setelah ia mendengar bunyi rintihan dari perutnya.

Teringat olehnya bahwa hal terakhir yang melewati tenggorokan gadis itu adalah green tea pemberian Taeyang sekitar satu setengah jam lalu.

Ah Taeyang oppa…. ucapnya dalam hati.

Semua kenangan selama dua tahun ini berputar cepat dalam pikirannya membentuk sebuah puzzle yang tidak lengkap. Dan ketika ia memikirkan seluruh perkataan Jiyong di telpon beberapa menit lalu, puzzle itu terasa lengkap tersusun dan membentuk sebuah wajah. Wajah Taeyang.

Satu gigitan roti kembali meluncur di tenggorokan Kiran.

“Ah bodoh bodoh bodoohhhh,” kata Kiran sambil mengentakkan kakinya di lantai. “Bagaimana bisa sih aku tidak sadar? Bagaimana bisa aku tidak menyadari bahwa selama ini yang aku telpon itu bukan suaranya Jiyong oppa? Bodoh sekali kau Kiran!” omelnya lagi.

Gadis itu masih sibuk mengutuki dirinya sendiri ketika ada sebuah suara yang ia kenali dari belakang punggungnya dan membuatnya menoleh cepat.

“Jangan marah-marah menggunakan bahasa Indonesia, aku kan tidak mengerti,”

Kiran hanya memandangi Taeyang yang tiba-tiba muncul dengan heran. Kiran dapat melihat ekspresi lega yang kentara dari wajah lelaki yang kini tengah mendudukan diri disampingnya tanpa dipersilahkan. Aku pasti telah membuatnya benar-benar khawatir, batin gadis itu.

Ketika lelaki itu sudah duduk, pandangan Kiran kembali pada kaca jendela dan digigitnya lagi roti yang ada masih tersisa di tangannya.

“Kau dapat tiket untuk malam ini?” tanya Taeyang lembut yang hanya dijawab Kiran dengan anggukan kecil.

“Pukul berapa?”

“Dua jam lagi,” jawab gadis itu pelan.

Sepi menyelimuti mereka. Dari sudut matanya, Kiran dapat melihat Taeyang menengok ke arah jam tangan yang melingkar di tangan kiri lelaki itu sebelum akhirnya memaksakan sebuah senyum kecil.

“Berarti kau hanya mengahabiskan waktumu sekitar empat jam di Korea dan hanya sebatas di Incheon dan mobilku saja,”

Keheningan kembali menyelimuti dua sejoli itu. Kiran masih menatap jendela tanpa tahu harus bereaksi bagaimana. Sesungguhnya saat ini ia tengah berkompromi dengan hatinya sendiri. Disisi lain ia tidak ingin melihat wajah Taeyang dan disisi lainnya ia sedang merasakan hawa tentram yang menyelimuti hatinya ketika mendengar suara lelaki disebelahnya ini. Ia cepat-cepat menggigit rotinya lagi untuk mengembalikan fokus.

Mianhe, Kiran-ah. Jeongmal mianhe,” kata Taeyang akhirnya memecah keheningan diantara mereka. “Aku sedari tadi ingin memberitahumu, Kiran, sungguh…,”

Gadis itu menoleh dan akhirnya menjawab, “Kenapa kau tidak memberitahuku?” Kiran menemukan suaranya kembali. “Bukan. Kenapa kau tidak memberitahuku sejak awal? Kenapa kau harus menipuku?”

Taeyang memberanikan diri menatap dua bola mata Kiran sebelum akhirnya menjawab nanar, “Aku… aku takut kau akan meninggalkanku. Aku takut kau akan membenciku,”

Kiran melihat kesedihan menyelimuti lelaki disampingnya. Melihat kesedihan itu, Kiran memalingkan wajah. Ia benar-benar tak kuasa menyaksikan pemandangan ini.

“Sudahlah oppa, semuanya sudah terjadi,” ujar Kiran. Ia dapat merasakan sedikit lagi bendungan air matanya akan bobol.

“Kiran-ah….”

“Bohong kalau aku tidak marah, oppa. Bohong kalau aku tidak kecewa,” jangan menangis Kiran jangan menangis, gadis itu mencoba menyugesti diri sendiri.

“Aku akan melakukan apapun agar kau mau memaafkan aku,” ucap Taeyang penuh kesungguhan. “Apa saja,”

“Apa saja?”

“Apa saja,” jawab Taeyang yakin.

“Jangan hubungi aku,” kata Kiran mantap.

Kiran melihat luka yang baru saja dia goreskan tepat di bola mata Taeyang ketika kepalanya mendongak menatap lelaki itu. Mereka terdiam. Kiran dapat merasakan usaha Taeyang untuk menguasai emosinya kembali.

Ketika lelaki itu membuka mulut dan menyebut namanya sekali lagi dengan tidak yakin, Kiran meneruskan ucapannya.

“Aku harap kau mau menghargai keputusanku, oppa, jaga dirimu baik-baik,”

Kiran berdiri dan meraih kopernya setelah kalimat tadi usai ia ucapkan. Ia harus segera pergi sebelum lelaki yang masih duduk membatu itu dapat melihat air mata yang sudah diambang pelupuknya.

“Annyeong,” bersamaan dengan melenggangnya Kiran dari bangku itu, Taeyang tahu, hubungannya dengan Kiran juga sudah berakhir.

 

****

Lelaki itu sedang mengeringkan keringatnya dengan handuk sambil berjalan menuju ruang tunggu Big Bang. Ia baru saja usai mengisi konser pergantian tahun yang diadakan salah satu televisi nasional bersama ke-empat membernya.

Setelah sampai di ruang tunggu, lelaki itu meletakkan tubuhnya di atas sofa dan meraih tasnya yang ia letakkan tidak jauh dari sofa. Diaduk-aduknya isi tas sampai ia menemukan benda kecil yang ia cari. Ponsel kesayangannya. Dibukanya kunci ponsel itu dengan mengetik beberapa digit nomer. Ketika kunci ponsel terbuka, ditemukannya beberapa pesan sudah menunggu untuk dibaca.

Ia lantas membuka menu pesan dan mengecek siapa sajakah yang mengiriminya pesan selama ia diatas panggung tadi. Kekecewaan lagi-lagi menyinggahi hatinya dikala dia tidak menemukan nama sesorang dari sekian banyak pengirim pesan yang masuk ke ponselnya.

“Bukankah sudah jelas, Yongbae, mana mungkin…” katanya pada dirinya sendiri sambil tersenyum pahit. Matanya masih menatap ponsel di tangannya.

“Bicara sendiri, hyung?” tanya Daesung mengagetkan.

“Oh kau Daesung-ah,” ujarnya sambil menengadahkan kepala.

“Ku perhatikan sudah sekitar enam bulan ini hyung selalu uring-uringan setiap melihat ponsel. Apa kau sudah begitu bosan dengan ponselmu yang sekarang, hyung?” tukas donsaeng-nya itu sambil mendudukan diri disebelah Taeyang.

Andwe, aku masih sangat menyukai ponselku kok,”

“Ya kalau begitu jangan dicemberuti terus ponselnya, kasihan,” kelakar Daesung.

Taeyang tersenyum mendengar kata-kata Daesung. Iya, sudah enam bulan…. Diam-diam dia merenungi kata-kata yang baru saja diucapkan lelaki berambut abu-abu disebelahnya itu.

HYUNG!!!!!” terdengar suara Seungri bersamaan dengan bunyi pintu yang dibuka dengan kasar sehingga mengagetkan semua orang yang ada di ruangan itu.

Mwo??” tanya Daesung sambil menoleh ke arah Seungri.

“Bukan kau hyung!” balas Seungri sambil menatap Daesung. “TAEYANG HYUNG! Ada yang mencarimu!” lanjut Seungri menghadap Taeyang.

“Hah? Siapa?”

“Tunggu sebentar,” jawab Seungri sambil menoleh keluar pintu meninggalkan Daesung dan Taeyang bertukar pandangan dengan penuh tanda tanya seraya berkata, “Noona, silahkan masuk!”

Begitu Seungri menyingkir dari pintu untuk membuka jalan, Taeyang dapat melihat sosok mungil yang sangat ia kenali memasuki pintu ruangan. Gadis itu! Gadis yang sangat ia rindukan! Berkali-kali matanya mengerjap tidak percaya akan pemandangan dihadapannya ini. Tidak mungkin…

Anyeong oppa,” kata sosok itu ragu sambil menunduk sopan.

Hening sesaat. Mata Taeyang mengincar manik mata gadis yang kini tengah berdiri dihadapannya dan Daesung. Seketika Taeyang berdiri  untuk menyejajarkan diri dengan gadis itu dan terpaku. Ia dapat merasakan ada rindu yang sama dalam kedua mata yang tengah ditatapnya.

“Kiran… Kiran-ah” bisik Taeyang.

“Ya, oppa..” jawab Kiran sambil tersenyum.

Sepi menyelimuti ruangan itu lagi. Setiap kepala sedang mencerna kejadian ini masing-masing. Tak terkecuali Daesung dan Seungri.

“Daesung hyung! Kau tahu, ruangan sebelah adalah ruang tunggu girl band baru. Temani aku kesana, hyung!” teriak Seungri memecah keheningan.

Daesung yang langsung mengerti keadaan pun langsung mengikuti Seungri tanpa ba-bi-bu lagi meninggalkan Taeyang dan Kiran dalam ruangan itu.

Sekitar satu menit setelah pintu ditutup, Taeyang mampu menemukan suaranya kembali, “Ke.. kenapa kau bisa ada disini?”

Kiran tersenyum sebelum akhirnya menjawab, “Tentu saja untuk menemui pacarku yang sangat aku rindukan,”

Mendengar itu, Taeyang dapat melihat tubuhnya bergerak menuju gadis itu dan merengkuh tubuh mungilnya dalam pelukannya. Perasaan lega membanjiri hatinya.

Mianhe, Kiran-ah, aku berjanji tidak akan pernah berbohong dan membuatmu menjauhi aku lagi. Mianhe,” ucapnya sungguh-sungguh.

Taeyang dapat merasakan airmata gadis itu merembes membasahi bajunya. Seketika ia melepaskan pelukan itu dan ditatapnya wajah Kiran yang memerah.

“Kenapa kau mena…..”

Saranghae oppa,” ucap Kiran cepat memotong kata-kata Taeyang. Buru-buru gadis mungil itu membenamkan kembali wajahnya pada dada Taeyang.

Taeyang tersenyum. Seolah ada kembang api yang baru saja meledak dihatinya. Sungguh ia tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini. Dielus puncak kepala gadis dalam pelukannnya sambil berkata pelan, “Na do saranghae, Kiran,”

Terima kasih, Kiran. Terima kasih karena tidak pernah berbohong kepadaku. Terima kasih karena kau…. mencintaiku….

****

 

“Halo, oppa?” tanya Kiran. Ia sedang memastikan bahwa telepon jarak jauhnya masih tersambung dengan baik.

“Apa yang akan kau lakukan jika suatu hari nanti aku mengecewakanmu, Kiran?”

“hmmmm,”

“Kau akan meninggalkanku?” Kiran dapat mendengar kekhawatiran dari suara lawan bicaranya.

“Kau sudah menjadikanku pacarmu setahun dan masih menilaiku sesempit itu, oppa?” goda Kiran.

“Kau tidak akan melakukannya?”

Kiran menghela napas. Ada senyuman yang tersungging diparasnya walau ia tahu lelakinya di Korea sana tak akan mampu melihat senyum itu saat ini.

“Tentu saja aku akan mencari cara untuk memaafkanmu secepatnya. Karena kurasa….. aku mulai tidak bisa hidup tanpamu, oppa,”

 

*end*

Makasih ya udah baca🙂 maaf geje dan amatir banget, maklum, ini bener-bener FF pertamaku  nih. hehehe ditunggu banget komen kritk sarannyaaa yaaa🙂