scareborough Fair revisiScarborough Fair

 

Main cast: Park Bom 2ne1, Choi Seunghyun a.k.a T.O.P Big Bang.

Support cast: Find by yourself.

Warning: AU, pasaran mungkin, song fiction of Sarah Brightman – Scarborough Fair, this is ff collab with @realtabina, typo(s), and manymore.

Genre: Romance, Life, and Sad.

Length: One-shot.

 

Youngdinna and @realtabina presents

“Scarborough Fair”

Are you going to Scarborough Fair?

Parsley, sage, rosemary and thyme

Remember me to one who lives there

He once was a true love of mine

 

Desember 2012

Kala itu butiran salju putih masih setia menghujani kota Seoul, membagi hawa dingin, dan warna putih di sekitarnya. Aku tersenyum sambil menengadahkan satu tanganku, berusaha menangkap butiran salju itu di telapak tanganku yang terbungkus sarung tangan rajut.

Bomie?” aku tolehkan kepalaku begitu suara berat itu mengalun di udara. Aku kembali menyunggingkan senyum, kali ini lebih lebar tentu saja.

Hyunnie..” ku sambut kedatangannya dalam pelukan eratku, menghirup sedalam mungkin aroma maskulin yang selalu menjadi candu tersendiri bagiku.

Ia tersenyum sambil mencium puncak kepalaku. Tangan kekarnya menarikku lebih dalam ke pelukannya.

“Ayo.” ia hanya mengangguk ketika aku menariknya lembut memasuki area taman lebih dalam, tempat di mana aku sedaritadi menunggunya. Setiap langkah yang kami buat selalu saja menimbulkan tipak jejak di tanah yang kini di lapisi salju. Kami berjalan dalam diam, hanya desau angin musim dingin yang terkadang iseng menyelip ke leher kami. Ia tertawa pelan saat aku tiba-tiba mengeluh sambil mengusap kedua cupingku sendiri.

“Kita duduk di sana?” ia menunjuk sebuah bangku besi dekat sebuah kolam yang membeku dengan telunjuknya. Aku tersenyum sambil mengangguk mengiyakan. Mata bulatku menelusur, memandang segelintir orang yang ada di sana. Taman ini sangat jarang di kunjungi bila cuacanya seperti sekarang. Orang-orang lebih memilih bergelung di dalam rumah sambil bercengkrama dengan keluarga mereka sepertinya. Aku membuang nafasku sambil mendudukkan diriku di sampingnya, uap putih keluar dari hidungku ketika aku melakukannya.

“Kau bilang ada yang ingin kau katakan.. Ada apa?” aku memecah keheningan yang cukup lama menghinggapi kami. Mataku melempar ekspresi bertanya pada dirinya yang nampak memandangi salju jatuh.

“Saljunya indah..” aku mengikutinya menatap salju yang masih turun meski sedikit heran dengan jawabannya yang sama sekali tak koheren dengan pertanyaanku.

“Tapi terkadang.. Aku merasa mereka seperti menyimpan sesuatu.” aku mengernyit, tak mengerti dengan apa yang dia katakan.

“Misalnya?” aku bertanya penuh ingin tahu. Ia mengukir senyum kecil, ada sedikit kesenduan di senyum itu.

“Kesedihan.. Aku selalu merasa salju begitu dominan dengan sebuah kesedihan yang mendalam.” ia menghela nafas. “Apa kau juga merasakan hal yang sama denganku?” ia balas menatapku bertanya. Aku tersenyum kecil.

“Tidak juga. Salju akan turun ketika bulan Desember datang. Bulan di mana hari natal ada di dalamnya..” aku menjeda sebentar. “Bulan yang menurutku sama sekali tak mengandung hawa kesedihan, meski di bulan ini di dominasi oleh cuaca mendung dan dingin.” ia mengukir senyum tipis begitu mendengar jawabanku. Keheningan yang cukup lama kembali menyelimuti kami. Aku sendiri memilih menyibukkan diri memandangi salju yang jatuh.

“Bisakah kita akhiri ini sekarang?” aku sedikit terhenyak dengan suaranya yang kembali terdengar oleh indera pendengaranku.

“Apa maksudmu?” kali ini aku memusatkan penuh perhatianku pada dirinya. Ia nampak menggenggam kedua tangannya. Mata elangnya masih menatap ke depan.

“Hubungan kita.. Aku merasa ada yang aneh.” aku mulai mengerti arah pembicaraannya.

“Kau ingin kita mengakhiri hubungan kita? Itukah yang ingin kau bicarakan?” aku menatapnya lama, berusaha mencari kebohongan di kedua mata yang biasanya selalu membiaskan kehangatan. Pahit kurasakan saat kebohongan sama sekali tak kutemukan di sana.

“Aku tahu, kau pasti menganggap ini aneh, kan? Tapi aku merasakan sesuatu yang berubah..” ia menghela nafas pelan. “Kasih sayang yang kau curahkan padaku, aku merasakan kasih sayangmu itu bukanlah rasa kasih sayang seperti seorang kekasih.” aku paksakan tersenyum.

“Lalu apa yang kau rasakan? Katakan padaku.” ia menatapku lama, ia lalu menghela nafas.

“Kasih sayang seorang kakak.” Baik aku maupun dirinya sama-sama terdiam. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing.

Aku memejamkan mataku saat desau angin lagi-lagi iseng berhembus membelai wajahku. Angin yang juga menularkan hawa dingin yang diam-diam menyusup ke relung hatiku, menusuk dan mengoyak jiwaku yang menjerit, melolong kesakitan.

Itukah sebabnya ia membicarakan tentang kesedihan padaku? Aku menghela nafas sambil membuka kedua mataku. Aku kembali menyunggingkan senyumku saat dirinya menanti jawabanku dengan cemas.

“Baiklah, kita akhiri hubungan kita.”

“Aku tidak sedang bercanda, Bomie.” aku tertawa kecil sampai-sampai menutupi mulutku, berusaha menyembunyikan kesakitanku.

Aigoo.. Lihat ekspresimu! Serius sekali kau ini.. calm down..” ia nampak merengut, tak suka melihatku menertawakannya.

“Hei.. Kau marah?”

“Kau membuatku takut. Kukira kau akan marah padaku.” aku melempar tatapan sendu tanpa ia sadari. Marah? Tidak, tapi kau berhasil membuatku sakit.

“Jadi.. Kau benar-benar tidak apa-apa dengan ini semua?” aku kembali menyunggingkan senyum palsu. Aku menepuk bahunya bersahabat.

“Tentu saja..” ia nampak mengukir senyum lega. Mungkin senang karena sudah mengatakan hal yang sebenarnya.

Kansahamnida, noona.” hatiku kembali teremas kencang saat ia berkata begitu. Noona? Apakah kau baru saja memanggilku begitu? Kenapa rasanya begitu sakit?

Ne, cheonman Seunghyunnie..” setitik airmataku menetes tanpa ia sadari saat itu. Sedikit berharap airmata ini akan ikut membeku, bersama-sama dengan hatiku sekarang juga.

 

Tell him to make me a cambric shirt

Parsley, sage, rosemary and thyme

Without no seams nor needle work

Then he’ll be a true love of mine

 

***

“Tidakkah kau merasa aneh?” ujar wanita berbadan kurus di depanku.

“Aneh apanya?”

“Tidakkah kau ingat? Dia dululah yang memenggal jarak diantara kalian. Lalu untuk apa dia kembali dan meminta kau menemuinya?”

“Kurasa itu normal.”

“Apa kepalamu terbentur?” Dara menangkup kedua pipiku, meneliti wajahku, mungkin ada memar.

“Kau berlebihan. Sudahlah.”

“Aku tidak akan sudi menemuinya jika aku jadi kau.”

“Bagaimana jika Seunghyun itu Jiyong?” Dara merengut tak senang karena aku membandingkan lelakinya dengan Seunghyun. Aku mengulas sebuah senyum simpul.

“Aku bukan Bom yang dulu, Daroong.”

“Kuharap dia datang bukan untuk menyakitimu, Bomie.” aku hanya tertawa kecil menanggapinya yang kemudian mohon diri. Aku kembali membuka ponselku, membaca sebuah pesan singkat dari Seunghyun.

Aku pulang noona. Bisakah kita bertemu?

Ini sudah setahun sejak kepergiannya. Aku hampir tidak mendengar kabarnya selama itu. Untuk apa dia kembali menghubungiku?

Selamat datang. Masih ingat kafe cokelat sudut jalan kampus? Jam 8 malam.

Aku tak berharap banyak, tapi semoga usahaku bangkit setahun terakhir tidak sia-sia.

 

 

“Datang lebih awal?” sapaku pada sosok lelaki yang duduk tercenung sejak tadi.

Noona!”

“Hai, kau tampak hebat.” aku memberinya senyum terbaik yang kumiliki.

Kansahamnida. Apa kabar?” dia bangkit dan menarik kursi yang akan kududuki. Sudah lama sekali aku tidak diperlakukan seperti ini.

“Baik. Kapan pulang ke Seoul?” aku mendudukkan diriku di kursi yang berhadapan dengannya. Bisa kulihat tatapan tajamnya yang terus mengikuti gerakku. Lama tidak mendapat perhatian matanya itu, membuatku sedikit kikuk.

“Tiga hari ini. Noona tidak banyak berubah.” aku mulai memesan sebuah menu, bersama Seunghyun tentunya.

“Benarkah? Aku bertambah tua.” dia tertawa kecil mendengar argumenku.

“Ini untukmu.” Seunghyun mengangsurkan sebuah kotak ungu sedang.

“Apa ini? Pandora?” dia kembali menyunggingkan senyum di bibirnya, melumerkan kesan tegas di rahangnya yang kekar.

Aku membukanya, dan kutemukan sebuah kalung dengan bandul berbentuk kristal salju lengkap dengan tahta berliannya.

“Kukira noona masih menyukai salju.” seorang pelayan datang mengantar pesanan kami.

“Ya. Aku selalu menyukai kristal salju. Tapi ini terlalu mewah.” aku menyeruput cappucino langsung dari gelasnya.

“Mewah?”

“Sebutir salju itu sangat sederhana dan langsung mencair ketika kau menyentuhnya. Kau mengerti maksudku?”

“Tunggu.” Seunghyun mencegah tanganku yang hendak menyuapkan gelas cappucinoku lagi. Dia mengusap awan busa cokelat yang menjejak di sepanjang bibir atasku dengan jemarinya secara lembut. Seunghyun lalu menjilat ibu jarinya sendiri, bekas cappucinoku. Aku menatapnya hampir tidak percaya. Hanya perasaanku saja, atau memang Seunghyun memperlakukanku berlebihan? Bangun Bom! Bangun!

“Ah, kau mencurinya, tapi terimakasih. Sebenarnya kau tidak perlu melakukannya.” dia kembali tersenyum hangat ke arahku, sambil meminum lattenya dengan anggun.

“Semudah itukah salju meleleh, noona?”

“Eh?” aku mengangkat kedua alisku.

“Meski aku sudah menciptakan musim dingin sepanjang tahun untukmu?”

“Apa maksudmu, Hyunnie?”

“Bisakah kita memperbaikinya?”

“Kita? Tunggu dulu. Jangan berbelit-belit dengan kapasitas otakku yang terbatas, Hyunnie.” aku serius, aku hanya tidak mengerti arah pembicaraannya.

“Aku ingin kau kembali padaku, noona.”

“Apa?” ingin rasanya aku mengorek telingaku yang mungkin tersumbat karena dinginnya hawa diluar tadi.

“Jadilah Bomie ku yang dulu, noona. Biarkan aku melelehkan musim salju yang kuciptakan dahulu.” Seunghyun menggenggam kedua tanganku. Hangat, dan aku menyukainya – tangannya. Dengan lambat aku mencerna kata-katanya barusan. Dia memintaku kembali, kan?

“Kembali?” seketika aku tertawa dengan fakta yang baru kutemukan. Aku bahkan terpaksa menutup mulutku untuk meredamnya. Wajah Seunghyun yang melihatku benar-benar tidak bisa dijelaskan.

“Apa noona baik-baik saja?”

“Ehmm.. Mianhae. Aku hanya terkejut dengan kata-katamu. Sedikit.” aku berdeham untuk menetralkan suaraku lagi.

“Jadi, darimana kau belajar drama ini?”

“Aku serius noona.”

“Kau bukan Seunghyun yang aku kenal. Apa yang membuatmu berani menyatakan perasaanmu? Untuk kedua kalinya?” kurasa mungkin Seunghyun mengalami benturan keras selama diluar negeri kemarin.

“Aku banyak berpikir selama ini. Aku salah noona.” Seunghyun menatap gelas lattenya yang hampir tandas.

“Aku begitu egois menganggap jarak usia kita dulu terlalu jauh.”

“Jadi itukah alasanmu dulu?”

“Aku juga begitu bodoh menganggap kasih sayangmu yang tulus hanyalah sebatas kasih sayang seorang kakak.” aku menatapnya intens. Menelusuri garis wajahnya yang resah.

Well, setidaknya aku menerima alasanmu.”

Noona?”

“Mungkin hatiku mendingin seiring kepergianmu. Mungkin hatiku membeku kehilanganmu..” Seunghyun menatapku, mengernyitkan keningnya dalam.

“Tapi aku tidak pernah terpuruk karenanya. Aku tidak menyimpan dendam pada apa yang pernah kau lakukan padaku, Seunghyun. Adalah salah jika kau menganggapku selemah itu. Kau juga tidak perlu menyalahkan dirimu atas putusnya hubungan yang pernah kita miliki.”

“Tapi aku ingin memperbaikinya, noona.”

“Tidak ada yang perlu diperbaiki, Seunghyun. Jika memang aku merasa ada yang salah, aku tidak akan mau menemuimu seperti sekarang ini.”

“Jadi noona menolakku?”

“Pernahkah aku menunjukkan sikap kontra atas segala keputusanmu?” Seunghyun terdiam, mungkin membenarkan perkataanku.

“Bohong jika aku tidak sakit hati dulu. Dan sakit itu akan membuatku berpikir dua kali.”

Mianhae, noona.”

“Sejujurnya maaf itu sudah terlambat hampir satu tahun ini, Hyunnie.” Seunghyun menggigit bibir bawahnya getir.

“Aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kau memintanya langsung dariku.” Seunghyun menatapku lekat.

“Aku menukarnya dengan rasa kasih ku padamu.”

“Masih pantaskah aku mendapat rasa kasih itu?”

“Mungkin. Tapi keledai pun tidak akan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.”

“Apa yang noona ingin aku lakukan? Demi membuktikan rasa cinta yang kumiliki untukmu.” aku hanya menatapnya sendu. Ego hatiku memerintahku untuk menerima uluran cinta Seunghyun, tapi tetap saja aku pernah tersakiti karenanya. Haruskah aku menerimanya begitu saja?

“Apa kau yakin bisa memenuhi apa yang kuminta?”

For you, I will.”

“Sederhana saja jika kau ingin mendapatkan jawabannya.” Seunghyun menatapku antusias.

“Jawab aku. Kau bilang aku menyukai salju, itu karena aku memang seperti salju. Salju akan memiliki kehidupan sejak jatuh dari gumpalan awan hingga akhirnya menyentuh tanah. Setelah itu, salju akan mati, meleleh terkena sinar matahari.” aku membalas tatapan mata Seunghyun dengan ulasan senyum simpulku.

“Jika kau merasa mengetahui isi hatiku, apa bedanya kehidupan salju itu? Saat dia masih menjalani kehidupannya di udara, lalu mati meleleh di tanah?”

“Hidup dengan nyawa dan mati tak bernyawa.”

“Ah, tidak. Bukan itu maksudku, dan jawabanmu terlalu mudah ditebak. Lagipula salju itu benda mati, Hyunnie.”

“Memangnya apa jawabannya?”

“Hei, jika aku memberitahunya, ini bukan lagi sebuah pertanyaan untukmu.” aku tersenyum geli ke arah Seunghyun yang tampak bingung.

“Aku tidak memberi batas waktu untukmu. Aku ingin lihat kegigihanmu, membuktikan jika kau memang menginginkan aku kembali padamu. Jangan terburu-buru. Lihat ke dalam hatimu, dan kau akan menemukan jawabannya.” aku bangkit berdiri dari kursiku.

Noona mau kemana?”

“Pulang. Ini sudah cukup larut.”

“Kuantar, ya?”

“Tidak buruk. Kau masih ingat rumahku, kan?” Seunghyun hanya tertawa mendengar gurauanku barusan. Seunghyun menggamit jemariku, layaknya seorang kekasih. Aku tidak menolaknya, tapi aku tidak bermain-main dengan apa yang kukatakan. Hati kecilku mungkin berharap dia bisa menjawab pertanyaanku, tapi pun tidak menjadi masalah jika Seunghyun menyerah. Aku bukanlah Bom yang dulu, kan?

 

Tell him to find me an acre of land

Parsley, sage, rosemary and thyme

Between salt water and the sea strands

Then he’ll be a true love of mine

 

***

“Barusan kau bilang apa?” Dara tampak menatapku tak percaya. Mata kecilnya membesar penuh keheranan.

“Aku tak akan mengulangnya.” aku berujar pendek. Kedua tanganku masih sibuk merapikan meja kantorku. Manik mataku melirik gadis kurus di sebelahku kala ia mengerang pelan.

“Dia itu.. benar-benar tak tahu diri.. Bisa-bisanya dia menyuapmu dengan berlian agar kau mau kembali ke sisinya, menyebalkan!” Dara menjeda. “..dan kau! Bisa-bisanya kau memberinya tantangan konyol itu!”

“Aku juga tidak mengharapkan ia bisa menemukan jawabannya.. Aku bukan Bom yang dulu..” aku berkomentar pendek. Jam dinding di kantor kami sudah menunjukkan pukul 20.00, sudah saatnya kami pulang.

Bomie?”

“Hm?” aku menyahut pendek sambil kembali menatap Dara. Gadis kurus itu nampak menatapku sayu.

“Katakan yang sejujurnya.. Apa kau masih mencintainya?” aku terdiam cukup lama, hanya suara sol sepatu kami yang mengalun di sepanjang koridor, terdengar nyaring karena suasana kantor yang sudah mulai lengang. Aku kembali menyunggingkan senyumanku, menepuk bahu gadis kurus di sampingku bersahabat.

“Aku bukan Bom yang dulu.” Dara nampak mengukir senyum lega. Aku tahu, ia pasti mengkhawatirkan aku. Kami menolehkan kepala begitu suara klakson yang begitu familiar menjerit keras.

Aish.. Ya! Pelankan suara klaksonmu itu! Aku tidak tuli!” aku tertawa saat Dara melempar protes pada pemilik mobil yang juga merupakan pelaku yang membunyikan klakson. Pemuda kurus itu menampilkan cengiran khasnya sambil menghampiri kami.

Annyeong, noona.” aku tersenyum saat sosok Jiyong sudah menghampiri kami. Dara masih melempar tatapan protes.

“Hei, sudahlah.. Jangan bertengkar terus.” Jiyong terkekeh mendengarku kembali berujar.

“Memang seperti itulah cara Sandara Park menunjukkan kasih sayangnya padaku-ouch!” Jiyong mengaduh sambil mengelus pinggangnya saat Dara berhasil mencubitnya. Aku tersenyum lembut.

“Kami pulang dulu, Bomie. Soal si brengsek itu jangan terlalu di pikirkan.” aku geli mendengar Dara menyebut Seunghyun brengsek.

“Siapa?” Dara mendelik ke arah pria kurus di sampingnya. Gemas dengan ketidakpekaan Jiyong.

“Sudah. Jangan bertengkar lagi.” Dara hanya mendengus. Gadis itu melambaikan tangannya ke arahku, sebelum dirinya benar-benar pergi dari hadapanku bersamaan dengan perginya mobil Jiyong.

Aku melangkah dalam diam. Bulan Desember tahun ini terasa lebih dingin dari tahun lalu yang menurutku lebih ramah, aku masih bisa merasakan angin dingin meski sudah mengenakan mantel dan syal yang tebal. Aku menghela nafas, menimbulkan asap putih yang kembali keluar dari mulutku. Aku merapatkan mantelku, mendudukkan diriku di halte, menunggu datangnya bus yang biasa kunaiki ketika aku pulang kerja.

PIM PIM..

Aku menekuk keningku saat sebuah mobil berhenti tepat di depan halte. Kedua alisku naik saat mengetahui si empunya mobil itu adalah pria yang tadi di sebut Dara sebagai ‘si brengsek’.

“Seunghyun?” ia melempar senyumnya, senyum yang mengingatkan aku akan dirinya setahun yang lalu. Dirinya yang saat itu masih menjadi kekasihku.

“Baru pulang kerja?” aku hanya mengangguk, menjawab pertanyaannya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku heran.

“Oh, hanya kebetulan lewat.” baik dia maupun aku sama-sama terdiam. Ia sendiri malah mendudukkan dirinya di sampingku.

“Mau kuantar?” ia memecah keheningan, aku melirik sekilas.

“Tidak buruk.” ia tersenyum senang. Bak de ja vu, ia kembali menggamit tanganku, seperti yang ia lakukan kemarin dan membukakan pintu mobil untukku.

“Bagaimana kalau kita mampir makan malam? Aku yang traktir?” aku tersenyum sekilas menanggapi tawarannya.

“Boleh.” kembali keheningan menyelimuti kami usai aku berujar pendek.

 

 

“Biar aku yang putuskan.” Seunghyun mencegahku memesan menu sendiri. Aku hanya tersenyum sekilas saat dia memesan sup jagung untukku.

“Kau..”

“Aku masih ingat kalau noona sangat menyukai jagung.” aku sedikit terkejut saat tiba-tiba ia kembali menggenggam tanganku. Tindakannya lebih berani sekarang. Aku biarkan ia melakukannya, meski sebenarnya aku risih. Aku diam bukan berarti menerimanya begitu saja, hanya saja aku sendiri juga bingung harus melakukan apa.

“Turun salju lagi..” aku menyunggingkan senyum kala butiran benda putih lembut itu berjatuhan di luar sana. Mereka indah, dan aku selalu mengaguminya. “Indah sekali.”

“Sama seperti dirimu.” aku mengernyit memandang Seunghyun yang menatapku menggoda. Ia nampak kecewa ketika aku melepaskan genggaman tangannya, tapi ia diam saja.

“Pesanannya sudah datang.” aku tersenyum, pelan aku menyuapkan sesendok sup ke dalam mulutku. Manis dan gurih, aku memang menggilai sup jagung.

Noona?” aku mendongak menatap Seunghyun.

“Apa?” Seunghyun nampak kesulitan menyampaikan keinginannya.

“Mengenai pertanyaanmu itu.. Aku rasa aku sudah menemukan jawabannya.” aku menghentikan kunyahanku sejenak, kemudian menatap Seunghyun yang tersenyum, merasa menang mungkin?

“Sungguh? Lebih cepat dari yang kukira.” ia tertawa pelan. “Apa jawabannya?”

“Hidup itu adalah kesempatan, kesempatan yang di berikan kepada kita agar kita mencari tujuan yang ingin kita capai..” ia menjeda sejenak. “jadi sebelum kau kehilangan kesempatan itu, lakukanlah hal terbaik untuk mencapai tujuan itu.” aku tersenyum, sedikit kagum dengan kegigihannya.

“Lalu bagaimana dengan mati?” aku sedikit menelengkan kepalaku.

“Mati.. mati adalah waktu dimana kesempatan itu harus di hentikan, tak peduli apakah kau sudah mencapai tujuan itu atau belum.” Seunghyun kelihatan puas, aku hanya menyunggingkan senyumku lagi.

“Bagaimana menurutmu noona?” aku menyeruput air mineralku, aku membuang nafas setelahnya.

“Belum tepat.”

Mwo? Apa maksudmu, noona?” aku tersenyum sekilas.

“Jawabanmu itu benar, tapi bukan itu yang sebenarnya kutanyakan padamu.” Seunghyun nampak mengeluh.

“Padahal aku sudah berusaha memikirkannya semalaman.” aku tertawa kecil melihatnya.

“Kau boleh berhenti kalau kau lelah mencari jawabannya.” aku melanjutkan kembali makanku, Seunghyun juga nampak tak berbicara lagi. Aku kembali menatap keluar jendela, saljunya kian menumpuk saja di luar.

“Sebaiknya aku pulang, saljunya semakin menebal saja.” aku berucap sambil beranjak dari dudukku. Seunghyun mencegahku.

“Aku antar pulang?” aku tersenyum, lagi-lagi dia menawariku lagi.

“Boleh saja.” ia tersenyum. Kembali, ia menggamit tanganku keluar dari restoran kecil itu, dan lagi-lagi ia membukakan pintu mobilnya untukku.

Perjalanan pulang kami hanya di isi kesenyapan, tak ada di antara kami yang berusaha memulai suatu obrolan. Aku kembali menatap salju dari dalam mobil Seunghyun. Saljunya masih turun.

“Sudah sampai.” Seunghyun melepaskan seat-belt yang kupakai, aku tidak tahu apa maksud tatapan matanya padaku, aku lebih memilih mengabaikannya.

Noona?” aku kembali menolehkan kepalaku, Seunghyun nampak tersenyum ke arahku.

“Aku tidak akan berhenti mencari jawabannya.” aku masih terdiam mencernanya. Ia lalu menyalakan mesin mobilnya.

“Sampai jumpa, noona.” aku tersenyum sambil melambaikan tangan, mengantarkan kepergiannya. Perlahan mobil hitam itu lenyap, membelok ke tikungan. Aku kembali menggantungkan lenganku.

“Ya, kau tidak akan berhenti mencarinya.”

Salju masih saja turun di minggu pagi ini, membuat beberapa orang malas terbangun dari ranjang hangat mereka. Aku menghela nafas sambil menuang air panas dari ketel, secangkir cokelat panas adalah minuman terbaik di cuaca sedingin ini. Aku terkikik pelan saat Summer, anjing kecilku sudah bangun dan menjilati kaki telanjangku.

Morning, sweety, how’s your dream?” aku menggendongnya dan menaruhnya ke pangkuanku. Minggu pagi ini aku tak memiliki kegiatan yang berarti. Aku menatap layar televisi yang menayangkan acara kartun, acara kartun yang termakan usia karena sudah berulang kali di tayangkan.

Aku sedikit heran saat ponselku bergetar sebentar, tumben sekali. Kuraih benda persegi itu, sedikit mengernyit saat menemukan pesan dari Seunghyun. Apa yang membuatnya mengirimiku pesan di pagi hari ini?

Pagi noona! Bagaimana kalau pagi ini kita sarapan di luar? Aku yang traktir.’ Aku menghela nafas pelan, dia benar-benar gigih dalam berusaha. Aku segera mengetikkan pesan balasan untuknya. Summer nampak kecewa ketika aku meletakkannya di atas sofa, tak lagi memangkunya.

Oh, so sorry Summer.. I have to go.” aku tersenyum sambil memasuki kamar mandi. Bersiap untuk menemui Seunghyun.

 

 

“Kau datang lebih awal lagi?” Seunghyun hanya tersenyum simpul saat aku menyapanya, sekedar basa-basi.

Seperti hari-hari sebelumnya, ia selalu memakai pakaian yang rapi dan elegan. Ah, apa yang kupikirkan? Memang sejak kapan pria di depanmu ini menjadi cuek soal penampilan, Bom?

Noona sudah makan?”

“Kalau aku sudah makan, aku tak mungkin datang menemuimu.” Seunghyun nampak tersenyum kikuk mendengar komentarku. Tak berselang lama, pesanan kami (lebih tepatnya pesanan Seunghyun) datang. Kulihat dari ekor mataku pemuda itu tak segera menyentuh makanannya. Ia malah memperhatikanku yang sedang makan.

“Kau tidak lapar?” aku bertanya heran, ia hanya tersenyum sekilas, perlahan ia menyuapkan makanannya sendiri.

Noona?”

“Hm?”

“Mengenai pertanyaanmu itu..” kini aku sepenuhnya memfokuskan perhatianku padanya. “aku kesulitan menemukan jawabannya.” aku mengerjapkan kedua mataku, oh.. apakah itu artinya ia menyerah?

“Jadi.. kau ingin bilang kalau kau menyerah?” aku bertanya setelah lama diam. Seunghyun menghela nafas.

“Tentu saja tidak, aku hanya kesulitan menemukan jawaban yang menurutmu tepat.” ia memandangku sejenak. “Bisakah noona memberiku sedikit petunjuk?” pertanyaan Seunghyun itu lantas membuatku menghentikan makanku. Aku menyunggingkan senyum tipis.

“Apakah dulu kau juga memberiku petunjuk?” Seunghyun nampak menyesal telah meminta petunjuk padaku, pembicaraan ini sepertinya membuatnya merasa tak enak.

Mianhae, noona..” ia hanya berujar lirih. Aku kembali menyunggingkan senyum tipis.

“Temukan jawabannya.. Kau mengenalku, kan? Kau akan bisa menjawabnya kalau kau sungguh-sungguh mencarinya, Hyunnie..” ia menatapku putus asa. Aku mengalihkan perhatianku darinya saat ponselku berbunyi.

Yeoboseyo? Ah, jinjja?!” Seunghyun terus menatapku, penasaran siapa yang meneleponku.

Ne, aku akan segera ke sana.” aku kembali menatap Seunghyun yang melempar pandangan bertanya.

“Maaf, aku harus pergi sekarang. Teman baikku sakit, terimakasih sudah mentraktirku.” aku sama sekali tak memberi Seunghyun kesempatan untuk bicara. Bahkan usai berterimakasih tadi, aku langsung meninggalkan dirinya pergi begitu saja. Sempat kulihat sekilas tadi, ia nampak kecewa. Aku segera menginjak pedal gas mobilku, mengendarainya menuju rumah sakit, tempat di mana aku akan pergi menemui teman baikku bersama Dara.

 

Tell him to reap it with a sickle of leather

Parsley, sage, rosemary and thyme

And gather it all in a bunch of heather

Then he’ll be a true love of mine

 

***

Aku memeluk diriku sendiri dalam balutan mantel hitamku. Disampingku, Dara terisak dalam tangisnya. Jiyong dengan sabar terus menenangkannya dalam dekapan kasih. Aku, merasa kehilangan sama seperti Dara, hanya saja aku lebih tegar.

“Kenapa kau pergi dalam usiamu yang begitu muda, Jen.” isak Dara lagi.

“Dia sudah tenang disana, chagi.” Jiyong tampak mengusap lengan Dara. Aku mengulas senyum lembut ke arah Dara.

Daroong.. Jen tidak akan menyukai caramu merelakannya.”

“Tapi tetap saja, Bomie. Dia akan menikah bulan depan. Andai saja..” Dara tidak lagi meneruskan ucapannya, terlarut dalam tangisnya sendiri.

Para pelayat yang tadinya memadati acara pemakaman, mulai berangsur berkurang sedikit demi sedikit. Aku, Dara dan Jiyong masih setia menekuri pusara sahabat semasa kuliah kami, Jen. Tak kusangka migrain yang biasa dia derita bisa merenggut nyawanya.

Dari kejauhan, kulihat sesosok pria yang datang mendekat. Dia membawa sebuket bunga lily, bunga favorit Jen lengkap dengan pakaiannya yang serba hitam.

“Dia..” aku berbisik lirih, tapi tetap membuat Dara menoleh penasaran.

“Uh? Untuk apa dia datang kemari?” Dara yang tadinya menangisi Jen pilu, berubah menjadi ekspresi bersungut tak suka.

“Siapa, chagi?” tanya Jiyong.

“Tuh!” tunjuk Dara dengan dagunya, beserta bibirnya yang mengerucut bagai paruh gagak, membuatku tertawa geli disela rasa sedih yang menggelayutiku.

“Jangan begitu, chagi. Tidak baik.” komen Jiyong setelah melihat ke arah tunjukan dagu Dara.

“Kau tentu membelanya. Kau sama-sama pria!” lagi-lagi Dara mendebat kekasihnya.

“Bukan begitu..” Jiyong pasrah dengan sikap Dara, menghindari pertikaian yang mungkin akan dimulai Dara.

“Dia juga sahabat Jen.” ujarku.

“Tapi tetap saja aku tidak suka.”

“Sebaiknya kita pulang.” ajak Jiyong ke Dara.

“Aku ingin menemani Bomie. Bisa saja dia berbahaya.” tunjuk Dara ke arah Seunghyun yang semakin dekat.

“Dia bukan serigala, chagi.”

“Tapi..”

“Pulanglah, Daroong. Aku akan baik-baik saja.” Dara tidak lagi mampu menolak argumenku. Akhirnya dia menuruti usulan Jiyong dengan pesan ‘Jangan percaya dia‘, dalam bisikan ke telingaku. Aku hanya tersenyum mahfum ke arah Dara dan Jiyong setelah mereka mohon diri.

 

“Maaf terlambat, noona.”

“Lagipula ini bukan kelas. Tidak ada larangan terlambat.” Seunghyun tampak mengusap nisan Jen sejenak setelah meletakkan buket lily di atas pusaranya. Sudah seminggu sejak aku terakhir bertemu dengannya.

“Dia pasti senang, akhirnya kau menjenguknya juga.” aku mengulas senyum hampa. Yang kutahu, Seunghyun adalah cinta pertama Jen yang tidak terungkap. Aku sendiri baru mendengarnya dari Jen sendiri sesaat sebelum Jen meninggal. Tragis sekali.

“Itu masa lalu, noona. Aku tidak ingin mengingatnya.”

“Aku juga masa lalumu.” potongku iseng. Seunghyun langsung meraih tanganku, menggenggamnya erat.

Noona lebih dari sekedar masa lalu.”

“Jangan begitu yakin. Hei, lagipula aku hanya bercanda.” aku tertawa geli karenanya. Aku mengajak Seunghyun keluar dari areal pemakaman dalam gandenganku.

Mianhae, noona.”

“Kenapa kau begitu sering meminta maaf padaku?”

“Aku menghilang satu minggu terakhir.”

“Ah, kenapa kau begitu serius? Aku tidak mungkin marah. Aku bukan siapa-siapa.” Seunghyun tampak tersenyum lega. Sebenarnya aku sedikit kasihan pada pria disampingku ini, bukan maksudku mempermainkannya.

Noona?”

“Hn?”

“Soal pertanyaan yang tempo hari..”

“Ah, ya. Bagaimana? Sudah kau temukan jawabannya?”

“Sebenarnya aku kurang yakin.”

“Menyerah?” godaku.

“Belum, noona. Kuharap kali ini benar.” Seunghyun tampak menarik napas dalam sebelum melanjutkan ucapannya.

“Tidak ada perbedaan dari keduanya. Hidup dan mati itu seperti cinta. Penuh warna, sama seperti jalan hidup kita. Cinta akan seperti sebuah hidup ketika kau mendapatkan balasannya, sedang hanya akan serasa mati ketika cinta itu bertepuk sebelah tangan.” jelas Seunghyun panjang.

“Kau menyindirku?” tanyaku dengan kerling iseng.

“Sebenarnya lebih ke arah menyindir diriku sendiri. Aku merasa mati, tanpa cinta noona.”

“Kau sekarang pandai merayu, eoh?” aku tertawa mendengar penjelasan Seunghyun.

“Aku sungguh-sungguh, noona. Jadi bagaimana?” Seunghyun membalikkan tubuhku ke arahnya, memandangku penuh harap.

“Sayang sekali bukan jawaban itu yang ku inginkan.” aku mengulas senyum lembut sambil mengelus pipinya. Aku berjalan mendahuluinya yang tampak kecewa.

“Jangan mempermainkanku, noona.”

“Aku? Tidak. Kau sendiri yang ingin aku kembali padamu. Aku hanya meminta jawaban yang sederhana darimu. Jawaban yang mewakili diriku, hatiku. Apakah itu artinya aku mempermainkanmu?” aku menatapnya lembut. Ada gurat gelisah diwajahnya yang tampan itu.

“Aku lebih suka kau memintaku melakukan hal lain, membelikanmu apapun yang kau mau, noona.” keluh Seunghyun akhirnya.

“Sedangkal itukah aku bagimu? Itu artinya kau belum mengerti apapun tentangku. Meski kau pernah mengisi hatiku, pergi, lalu ingin kembali masuk di hidupku.” bagai tertohok ribuan balok dikepalanya, Seunghyun menarik lenganku, lalu memelukku tanpa tertahankan lagi. Bisa kuhirup lagi  aroma maskulinnya yang menyenangkan.

“Aku sungguh-sungguh menyesal pernah mencampakkanmu. Dan aku rela menukar apapun, termasuk nyawaku demi mendapatkanmu kembali.” Seunghyun mencium puncak kepalaku dalam. Mungkin dia kesal dengan syarat yang kuajukan.

“Jangan bicara seperti itu, Hyunnie.”

“Tapi semakin aku memikirkan jawabannya, aku semakin menyadari kesalahanku, noona. Aku terus menghukum diriku dengan pengandaianku jika saja aku tidak memutus tali cinta kita dulu. Mungkin sekarang kau sudah menjadi teman hidupku.” aku merasakan buliran yang jatuh di pipiku. Bukan, bukan air mataku. Seunghyun melepaskan dekapannya dan memandangku dengan matanya yang berair.

“Kau menyerah?” tanyaku. Dia hanya diam, tidak mampu melontarkan argumennya. Aku mengusap pipinya lembut.

“Sebenarnya cukup mudah, Hyunnie. Bagiku, hidup adalah sebuah pertanyaan.” Seunghyun menatapku bingung. Aku kembali menggandengnya, berjalan menyusuri jalanan sepi di tepi trotoar.

“Kau sendiri dengan begitu mudah mengasumsikan aku akan kembali ke pelukanmu saat kau minta, kan?” Seunghyun hanya mengangguk.

“Seperti itulah. Kau tidak akan pernah bisa memprediksikan apa yang terjadi sebelum benar-benar mengalaminya. Sama sepertiku yang dulu tak pernah menyangka kau akan memutuskan hubungan kita.”

Noona..

“Aku tidak apa-apa. Aku lebih kuat setelah aku hidup bersama pertanyaan-pertanyaan yang bisa saja muncul di tiap detik hidupku.”

“Lalu tentang mati?”

“Ah, mati adalah jawaban dari kehidupan. Mati adalah sebuah jawaban yang tak bisa kau tolak. Berbeda dengan hidup yang memiliki pertanyaan yang bisa kau jawab dengan berbagai cara, tapi tidak dengan kematian. Tak seorangpun bisa menolak jawaban akhir itu, kematian.” jelasku.

“Semudah itukah?”

“Jika kau mengenalku, kau akan mendapatkan jawaban yang sama, Seunghyun. Kau tahu, kan. Aku orang yang sederhana.”

“Jadi, apa aku tidak berhak mendapatkanmu kembali?” kami berhenti di areal parkir, di depan mobilku.

“Aku tidak ingin berspekulasi, Hyunnie. Jujur saja, aku tidak ingin tersakiti dua kali.”

“Aku ingin menunjukkan bahwa aku yang sekarang berbeda, noona.”

“Kurasa kau sudah mengetahui jawabannya.” Seunghyun mengulas senyum kecil.

Kansahamnida, noona.”

“Untuk apa?” tanyaku heran.

“Kau benar. Hidup adalah pertanyaan yang akan selalu menuntutmu untuk menjawabnya. Kau juga adalah salah satu pertanyaannya. Mungkin saat ini aku belum mendapatkan jawaban yang kuinginkan.”

“Dasar Seunghyun keras kepala. Aku pulang dulu.”

“Hati-hati, noona. Aku tidak akan menyerah pada pertanyaan ini. Aku akan selalu mencintaimu hingga aku menemui jawabanku yang tak terelakkan.” aku melambai padanya tanda berpisah. Apa itu tadi artinya dia akan mencintaiku hingga ajal menjemputnya? Entahlah, aku tidak ingin banyak berharap untuk sekarang. Biarlah Tuhan yang nantinya akan menjawab seiring berjalannya waktu. Salju kembali turun menghiasi jalanan Seoul yang hitam. Tidak lebat, hanya lembut disertai desir angin yang menggelitik tengkuk telanjang. Entah hanya perasaanku saja, atau memang hatiku mulai menghangat sekarang. Aku baru saja menemukan satu makna baru dalam hidupku. Menemukan jawaban akan perjuanganku bangkit dari keterpurukan, yaitu menjalani takdir dengan menerima jalan yang diberikan Tuhan. Kembalinya Seunghyun sepertinya tidak buruk juga. Aku tertawa kecil menyadari opiniku, Dara akan membunuhku jika mendengarnya. Aku menyetir menyusuri sore yang memutih diselimuti salju segar dari langit. Kunyalakan DVD player untuk menemani perjalanan sunyiku pulang.

 

Are you going to Scarborough Fair?

Parsley, sage, rosemary and thyme

Remember me to one who lives there

He was once a true love of mine

 

-FIN-

 

A/N:

Annyeooooongggggg!!!!#teriak serempak..

Kami berdua dari: Kwon Bersodara! #digetok

Bukan, deng.. Ini storyline collaboration antara @realtabina sama @youngdinna yang pertama! #tumpengan. Gaya menulis kami begitu berbeda jika readers sekalian perhatikan! Saya (@realtabina) dengan gaya poetry yang puitis, sedang adik saya (@youngdinna) yang lebih fleksibel (bisa menyesuaikan diri sendiri gitu) Bisakah readers membedakan?

Kami membagi tugas di empat scene yang berbeda, dua dua gitu. Adik saya (@youngdinna) di scene satu dan tiga, sedang saya (@realtabina) di scene dua dan empat. Kami membuatnya ga rembugan lhoh! Jadi saya harus bin kudu nerusin konflik yang adik saya bangun di scene pertama n ketiga tanpa tahu apa yang dia tulis. Jadi baca, terus bikin lanjutannya. Begitu pula dengan adik saya.. ^^ Seru juga ternyata. O, iya kalau mau dapet feel-nya, dengerin aja lagunya sambil baca nih ff..(judulnya sama kok, yg nyanyi Sarah Brightman).

 

Baidewei, kalo sudah membaca, harap meninggalkan jejak ne! Kami sangat menghargai review baik itu berupa kritik saran konkret atau bahkan flame sekalipun #wink. Akhir kata maaf jika ada kesalahan ejaan, EYD, atau typo(s) yang bertebaran. Authors hanyalah manusia biasa, dan sempurna hanyalah milik Tuhan semata. Enjoy your time reading, PeepZ!!