RILBLOOD-Teaser

rbfanfiction by Nadia

.

.

.

Yah, awal taun yang gila. Meski vampire sekarang hidup berdampingan dan memiliki hak yang sama dengan manusia. Memang agak aneh jika aku berada disini. Ya di kota Hyeol, tempat dimana vampire berkumpul. Jika di seoul, kehadiran mereka tidak banyak di ketahui orang, terselubung seperti bunglon, tetapi disini aku dapat melihatnya secara terang terangan, mengingat curah hujan disini cukup tinggi dan vampire alergi dengan matahari. Jika bukan karena biaya hidup yang rendah, aku bersumpah tak akan menginjakkan kaki disini.

Dimana banyak pecandu V Juicy (darah vampire) berkeliaran. Konon katanya V juicy itu candu yang lebih nikmat dan mematikan dari narkotika atau morfin jenis apapun di dunia ini. Lucu memang jika sekarang manusialah yang berbalik memburu vampire. Tapi karena untuk menjaga stabilitas Negara maka dari itu perdagangan V Juicy di larang oleh pemerintah. Sudah menjadi rahasia umum jika para pejabat Negara menandatangi kontrak untuk tak saling menyerang antara lintah penghisap darah  itu dengan manusia. Vampire juga masuk kedalam parlemen, menjadi gubernur, badan intelejen Negara  dan kabar terhangatnya adalah  22 menteri terbaru kabinet tahun ini juga vampire. Angka yang cukup mencengangkan bukan, angka yang cukup untuk merasa jika dirimu sudah berpijak di bumi yang tidak ramah lagi.

 Tapi saat aku menginjakkan kaki pertama kali, sulit untuk tak jatuh cinta pada tempat ini, memang tidak ada hiruk pikuk ala metropolitan, tidak ada mall, tidak ada gedung pencakar langit atau lampu warna warni yang aku sukai seperti di Seoul. Tapi hei, ini tidaklah buruk kau tahu. Tetangga saling menyapa, biaya hidup murah dan pajak tanahnya pun gratis. Jadi ini adalah tempat sempurna untuk orang sepertiku. Wanita umur 26 tahun, yatim piatu dan masih harus membiayai sekolah adik laki laki satu satunya, Henry yang baru saja naik ke kelas 3 SMA. Karena hanya sedikit orang yang tinggal di sini segala pekerjaan disini di bayar tinggi. Dan disinilah aku, di café bergaya country di pinggir hutan kecil. Café ini sangat cozy, bau-bauan yang didominasi oleh bau kayu dan rumput basah benar-benar menenangkan otak. Ada sungai disampingnya, airnya jernih pula. Mungkin aku bisa mencoba mencelupkan kaki disana sesekali.

 

*Caroline POV*

          “Permisi agashi, anda ingin pesan apa?” tanya seorang pelayan wanita dengan senyum manisnya. Kulihat nama di celemek kerjanya. Minzy.

“Hmm, sebenarnya aku tak ingin memesan. Aku hanya memastikan apakah pengumuman ini masih berlaku?” Aku menunjukkan pemberitahuan yang kusobek dari depan pintu.

“Oh, kau ingin melamar menjadi pelayan baru? Memang agak aneh jika ada pelanggan manusia datang sepagi ini. Sebentar ya”

Minzy bersiul memanggil seseorang di balik dapur. Namja bertato pun mendongakkan kepala. “Oppa, ada yang ingin melamar!!” Minzy berteriak. Wanita ini cantik, tapi tak kusangka suaranya dapat merusak gendang telinga.

“Yak, Minzy aku tidak tuli! Siapa yang mau dilamar? Siapa yang mau menikah?”  

“Kau bicara apa sih oppa, bukan melamar seperti itu. Wanita ini melihat pengumuman yang kau pasang kemaren didepan. Katanya kau ingin mencari pelayan baru.”

Namja tadi mematikan kompor dan mengintipku dari konter dapur. Dia datang membawa 3 gelas esspreso ke mejaku. Minzy duduk di depan mejaku bersama namja macho itu. Dia berotot, bertato, tapi berkutat dengan hal-hal dapur. Err..agak aneh.

“Jadi kau ingin jadi pelayan disini? Mengapa? Sepertinya kau newbie ya?” Dia melihatku dari atas kebawah. Aku dapat menangkap sedikit pikiran kotor diotaknya. Dia sedang mencari cara bagaimana dapat meniduriku, oh Tuhan yang benar saja.

Oh ya, kau belum tahu ya jika aku punya kekuatan supranatural. Aku dapat membaca pikiran orang lain sejelas aku membaca buku. Tapi aku kesulitan membaca pikiran orang gila, pikirannya meloncat loncat dan cepat (ngelanturrr..) Kekuatan ini aku dapatkan dari kakekku yang kebetulan keturunan langsung dari suku Aztec atau apapun itu namanya.

“Well, aku bukan asli korea. Aku asli Canada. Pindah ke seoul 3 tahun lalu, 6 bulan yang lalu orang tuaku meninggal. Dan ternyata Ayahku punya rumah yang cukup besar di hyeol. Tepatnya 20 blok dari sini (sekitar 10 km. kalo pake mobil bisa ditempuh 10-15 menit). Aku tinggal dengan adikku yang perlu diberi makan dan aku butuh uang untuk itu.” Jawabku dingin.

Aku menjelaskan panjang lebar dan namja itu hanya menguap bosan. Apa?? Tidak sopan.

“Bisa pinjam KTPmu?” Aku menyerahkannya sambil berdoa. Dia harapanku satu-satunya. Selagi dia meneliti KTPku, aku mengedarkan pandangan kesekitarku. Lumayan, interiornya bagus.

“Ya, baiklah kau diterima.” Dia mengulurkan tangannya dan tersenyum. “Aku Teddy. Aku pemilik café ini. Ini Minzy, adikku. Dan juga nanti ada 3 pelayan disini dan sayangnya mereka belum datang.”

Untunglah pikiran kotor tentang tidur denganku sudah hilang tak berbekas.

“Gomawo oppa, hmm kapan aku bisa mulai kerja?”

Senyum yang tadi terpasang dimukanya hilang berganti dengan seringai menjengkelkan, “sekarang. Memang kapan lagi kau mau memulainya?!” Teddy membentakku dan kembali kedapur, berkutat kembali dengan dagingnya.

“Hei, santai saja. Tak usah tegang. Memang seperti itulah oppaku. Khas Teddy, tak bisa ditebak”

apa katanya? Tak bisa ditebak? Bahkan aku dapat menebak dengan sangat tepat pikiran kotornya tadi!

Well, Its okay. Anggap saja itu shock therapy. Jadi apa kau bisa menunjukkanku bagaimana kerja barang-barang yang ada di sana.” Kataku sambil menunjuk mesin pembuat minuman dan mesin kasir di pojok ruangan.

Minzy menarikku dengan tak sabar. Dia menjelaskan satu persatu kegunaan barang disana dengan senang hati. Dan tibalah di satu alat seperti dispenser namun lebih besar, isinya berwarna merah pekat, teksturnya kental. Aku tidak bisa mencium baunya karena dispenser ini ditutup dengan sangat rapat.

“Ini mesin Rilblood. Jika ada vampire yang memesannya kau bisa mengambilkannya dari sini. Ini rilblood golongan A, dan ini B, yang ini O. yang pojok AB. Golongan A negatifnya kosong. Katanya rasa itu yang paling digemari.” Minzy menjelaskan tanpa beban, belum usai kekagetanku, Minzy menunjuk ber krat-krat botol yang tersusun rapi di pojok, “kalau itu rilblood yang bisa dibawa pulang. Golongan darahnya bisa kau lihat di tutp botolnya.”

“Sebentar..sebentar Rilblood?” aku memastikannya sekali lagi.

“Iya, memangnya kau tak tahu rilblood?” Nadanya mengejek, begitu juga hatinya. Tapi bukannya aku tak tahu.

Di jaman gila ini siapa sih yang tak tahu rilblood? Darah sintetis buatan jepang yang menggantikan darah manusia untuk memuaskan dahaga para vampire. Konon rasanya sama, begitu juga teksturnya. Jadi tak ada lagi vampire yang menghisap darah manusia (kecuali kepepet) Tapi yang membuat aku kaget adalah, disini dijual bebas! Jika di Seoul hanya 12 dari ribuan café yang menjual rilblood. Dan baru baru ini Hansel and Gretel menjualnya juga. Bahkan jika kita membelinya kita harus mempunyai kartu pengenal yang diberikan king of vampire dari setiap tempat yang vampire tinggali.

“Ya Ampun Carol…” aku mengerutkan kening, dia memanggilku dengan apa? Carol? Bagus sekarang dia punya sebutan sendiri atas namaku.

“Bukannya aku tidak tahu. Tapi mengapa disini dijual bebas? bukankah..”

“Geez, kau ini hidup di jaman apa sih? Kabar ini kan sudah tersebar. Memangnya kau tak tahu jika kota ini kan sekarang menjadi tempat transit resmi dari seluruh vampire yang ada di korea. Kau sepertinya perlu baca Koran lebih sering Carol. Bisa bisa kau kena serangan jantung melihat vampire sering berkeliaran disini” Dia memberikan koran terbitan 3 hari yang lalu kepadaku. Setelah memastikanku membacanya, dia berlari sambil bersenandung menuju dapur.

“Namaku Caroline, bukan Carol.” Aku setengah berteriak. Minzy hanya menjulurkan lidahnya kearahku.

“Carol itu nama yang bagus. mengingatkaku pada salju disaat natal. Lagipula memanggilmu caroline itu terlalu panjang. Membuang tenaga.”

“Memang apa hubungannya salju denganku?”

“Kau itu wanita yang cool seperti salju. Dan itu keren!”

Mau tak mau aku tersenyum mendengar pujiannya, aku tidak bisa memungkiri, untuk ukuran orang yang baru kukenal, aku sangat menyukainya. Dia, Minzy punya hati yang sangat tulus meskipun lidahnya sangat tajam.

Aku lalu berkutat dengan Koran di tanganku. Minzy benar. Sangat benar. kota ini, tempat dimana aku tinggal adalah tempat transit resmi dari  vampire seluruh Seoul. Bahkan pemerintah mengangkat king of vampire terbaru untuk masa jabatan yang tak terbatas karena vampire ini termasuk vampire tertua di korea.

Jadi sekarang hidupku dikelilingi mahkluk-mahkluk berwajah sempurna penghisap darah itu? Bagus. bagus sekali. Seperti kata Minzy, kelihatannya aku harus benar-benar membaca Koran dengan rutin.

 

-to be continue-