rilbloodRILBLOOD

Part 1-The First Taste

Author: Nadia

Genre : Romance, Dark Fantasy

Rating : Untuk saat ini masih bisa dibaca segala umur. Tapi nggak tahu untuk sequelnya😛

Twitter            : @ndiafirdaus

Cast:

G-DRAGON

TOP

Ahri Caroline Lau/Caroline Lau

SOL/TAEYANG

D.LITE/ DAESUNG

V.I/SEUNGRI

Teddy Park

Hendry Lau SUJU-M

2NE1 member

Disclaim: I’m Newbie Author  but This FF 100% belong to me. FRESH FROM MY BRAIN. SO, DON’T BE A PLAGIATOR. Untuk karakter dan umur, dibuat agak berbeda😀

Annyeong! *bow* perkenalkan nama saya Nadia dan saya istri sah G-DRAGON dan selingkuhannya TOP *langsungdihajarmassa* saya disini membawa FF dari imajinasi saya yang gila, liar dan tak terkendali. Sebenarnya, saya penyuka FF thriller jadi selera saya sedikit banyak mempengaruhi FF ini. Untuk karakter, lupakan tentang cewek manja nan imut seperti FF lainnya. Karena saya nggak suka *Evil laugh*. Saya membawa karakter yang Dingin, dewasa dan SEKSI *lebayy*. Cerita ini memang terinspirasi dari serial tv kabel amerika di channel HBO ‘TRUE BLOOD’ yang sudah menginjak session 6 (dan juga dapet penghargaan Grammy Award *nggak tanya*). Saya suka karakter pemeran utama di true blood, sookie. Dan saya menghidupkan karakter itu di FF saya, hanya saja lebih dewasa dan matang. Jangan membayangkan cerita cinta antara Bella dan Edward di FF saya. Karena bisa jadi FF saya ini tidak seromantis itu atau bahkan lebih romantis *oh ya?*. Entah, siapa yang tahu. Bagi siapapun yang sudah nonton true blood, lupakan tentang adegan ‘panasnya’ karena saya tidak akan membuat FF seperti itu *sorak-sorak bareng TOP* and, Check it out!

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pagipun tiba. Bagai menanggung beban yang sangat berat, Caroline tak bisa berdiri. Badannya sungguh pegal karena ramainya café kemaren. Dan belum lagi si bawel Teddy sudah mulai memarahinya karena Caroline memecahkan 2 piring di hari pertama bekerja. Dia melirik jam wekernya. Jam setengah 7. Ahh, dia lupa. Dia harus menyiapkan sarapan untuk adiknya.

“Noona…” Sapa adiknya dari balik pintu. “Apakah kau sakit?”

*Caroline’s POV*

“Noona…” Sapa Henry dari balik pintu. “Apakah kau sakit?”
Ani, mianhae aku tak membuatkamu sarapan. Aku sangat capek.” Ujarku tersenyum

lemah.

“Bagaimana kerjamu kemarin? Apakah menyenangkan? Apakah kau sudah melihat wujud vampire dari jarak dekat?” Henry mulai menggodaku dengan menjambak rambutku. Aku malas meladeninya.

Aku hanya mengangkat bahuku, “Belum, aneh. Aku hanya di suruh mengantarkan 3 tong rilblood ke salah satu rumah di ujung jalan dekat café. Rumahnya sangat besar, seperti istana. Bayak mobil-mobil keren yang terparkir disana.”

Jinjja? Pasti itu rumah salah satu vampire yang punya jabatan tinggi disini. Kau Tahu noona, aku punya teman sekelas vampire. Dia sangat cantik. Dan juga pucat.”

Aku dapat membaca pikirannya jika dia agak tertarik oleh kecantikan yeoja itu. Hanya kecantikan. Tidak lebih. Tapi tetap saja aku takut jika ketertarikan biasa itu berlanjut menjadi lebih dalam.

“Jangan mendekatinya Henry~ah. Atau kau akan jadi santapannya.”. Perkataanku memang terkesan kuno, tapi aku tidak main-main.

“Ayolah noona, mereka tak akan memangsaku. Memang mereka ingin dihukum Raja Vampire jika melakukan itu?”.

Henry mendahuluiku berjalan menuju dapur, aku berjalan mengikutinya. Dan kami duduk di meja makan kayu. Ternyata sudah ada 4 iris roti bakar strawberry disana.

“Memang apa yang kau tahu tentang Raja vampire itu?”. Henry memutar bola matanya. Dia menganggapku benar-benar kolot sekarang.

Aigoo noona, kau ini tidak pernah baca Koran atau lihat berita?”

“Ya memang benar aku tak pernah! Aku terlalu sibuk cari uang!”

Sekarang akulah yang sewot. Tapi dia seakan tak perduli dan mulai mengoceh lagi.

“ Raja Vampire itu bertugas menjaga hubungan baik manusia dan vampire. Dengan adanya rilblood, vampire tak akan memangsa manusia lagi. Jika ada yang melanggar, raja vampire akan memberi hukuman seperti yang ada di undang-undang vampire. Kalo masalah isi undang-undang, aku tidak tahu.”

Oh, jadi begitu. Maka dari itu orang-orang disini begitu santai bergaul dengan lintah darat itu. Sepertinya aku harus membiasakan diri.

Tiba-tiba Henry memelukku, “sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Disini memang banyak sekali vampire daripada di seoul, tapi ini tidak buruk kan noona. Berhentilah overthinking atau kau akan punya uban diusia 26 tahun. Sudah aku mau berangkat dulu”.

Aku hanya tersenyum, “Ya, nappeun namja! Jika aku berhenti berpikir bagaimana aku bisa mencari uang untukmu!!”.

Aish percuma aku berteriak toh Henry sudah hilang dari pandangan. Dengan takut, kulirik jam dinding, wuah…setengah 8. Sebaiknya aku harus cepat-cepat mandi atau si bawel Teddy akan mulai memarahiku lagi.

*Author’s POV*

Caroline sudah selesai berbenah. Dengan segera dia menyambar kunci mobil dan menancap gas menuju café. Sesampainya di café, Teddy sudah merengut didepan pintu.

“Kau telat 10 menit Carol. Cepat bersihkan meja-meja yang ada di luar!” Teddy Mengacak-acak rambut Caroline. Baik, sekarang dia tidak Cuma memarahiku. Tapi memanggilku Carol, batinnya.

Caroline mulai membersihkan semua meja, kaca, hingga lantai. Tiba-tiba ada yang menginjak kain pelnya. Dia mendongakkan kepalanya, “Annyeong”. Perempuan itu membungkukkan tubuhnya kearah Caroline.

“Oh, annyeong. Hmm, nuguyo?”

“CL Imnida. Kau pegawai baru ya unni?”

“Caroline Imnida. Ya, aku memang pegawai baru. Waeyo?”

“Tidak apa-apa. Sudah terlihat jika kau pegawai baru. Kau begitu kikuk.”

CL lalu pergi meninggalkan Caroline dengan angkuhnya. Sebelum dia pergi, dia menghentakkan sepatunya diatas kain pel Caroline.

Sebelumnya dia sudah menangkap sinyal-sinya buruk saat Cl datang dihadapannya. Hormat diawal dan menyebalkan selanjutnya. Yang paling menyebalkan lagi, CL meninggalkan jejak kecoklatan pada lantai yang baru dia bersihkan.

Aigoo, anak itu benar-benar! Jika tidak di café, sudah aku cakar-cakar mukanya”.

Caroline memulai lagi pekerjaannya dari awal, tiba-tiba Teddy  keluar dari ‘habitatnya’ sambil berkacak pinggang, “yak! Caroline Lau! Kau ini bisa mengepel tidak sih? Mengapa masih ada bekas lumpur disini?!”.

Caroline hanya menghela napas, dia malas meladeninya kali ini. Dia dapat menangkap apa yang dipikirkan Teddy, dia hanya mengajaknya bercanda. Tapi Caroline merasa itu tidak lucu. Setelah menyadari air muka Caroline yang mulai keruh, Teddy mendekatinya.

”Sudah, semua perkataan CL tadi jangan diambil hati. Dia hanya cemburu karena aku terlalu memperhatikanmu.” Teddy mengedipkan satu matanya. “Sudah, letakkan. Biarkan saja. Sebentar lagi hujan jadi sepertinya percuma jika kau mengepelnya.”

Caroline kali ini benar-benar naik pitam,”Ya, Oppa! Jika kau sudah tahu akan turun hujan lalu kenapa kau menyuruhku mengepel tadi? Aish, kau benar-benar na…”

Belum selesai Caroline berbicara, telunjuk Teddy sudah mendarat terlebih dulu di bibirnya. Namun dengan sekali sentakan, jari itu sudah enyah dari depan bibirnya.

“Sstt, jangan protes. Ayo ikut aku ke belakang. Ada 5 penggorengan menunggu untuk di cuci.”. Teddy merangkul bahu Caroline.

Caroline merasakan aura cemburu berkobar disudut ruangan. Ekor mata CL terus saja mengikutinya sampai hilang dari pandangan.

*Caroline’s POV*

Semua pekerjaan cuci mencuci sudah, mengelap piring sudah, membantu menghitung stok daging sudah. Baiklah sepertinya kali ini aku harus kembali ke depan untuk membantu Minzy. Sepertinya dia agak kewalahan dengan padatnya café. Teddy pernah bilang jika selain CL ada 2 pegawai lagi, tapi mengapa sampai saat ini aku tidak melihanya ya?

“Hai, Minzy. Capek? Sini aku bantu”

Aku segera menggesernya dari meja kasir. Dia hanya tersenyum lemah sambil menepuk-nepuk pundaknya.

Gomawo Carol. Kaki dan bahuku pegal sekali. 1 jam aku berdiri disini. Keramaian ini benar-benar membunuhku!”

Minzy terduduk di lantai dan memijat-mijat betisnya. Aku tergelitik untuk mengetahu isi pikirannya. Dan hasilnya, dia tak memikirkan apa-apa. Baru kali ini aku menemukan orang yang otaknya kosong tak memikirkan apa-apa -.-

“Ngomong-ngomong mana pegawai lainnya?” Aku mencoba membuka pembicaraan.

“Pegawai? Oh, 2 orang sialan itu? Jangan Tanyakan mereka kepadaku.”

Aku hanya mengulum senyum. Ternyata mereka melarikan semua uang milik café ini. Pantas saja Minzy kesal sekali.

“Gara-gara mereka aku belum mendapat gajiku bulan kemaren” bibirnya mengerucut.

“Mengapa? Dia melarikan uang Café?” Ah, aku keceplosan.

“Uh? Bagaimana kau tahu itu?”

“Err…kan kau tadi bilang kalau gajimu tidak dibayarkan. Jadi aku hanya mengambil kesimpulan saja.”

“wooo, kau cepat dalam mengambil kesimpulan, hati hati dengan kebiasaanmu itu. Tapi sifat seperti itu cocok sekali dimiliki oleh pengacara. Mengapa kau tak jadi pengacara saja?”

Aku mendenggus, “tidak, lebih baik aku bekerja untuk membiayai adikku. Dia lebih perlu itu.” Minzy hanya mengelus-elus punggungku tanda perhatian. Hatinya sungguh tulus.

OMONA, Hujan!! Carol bisakah kau mengambil celemek yang kujemur dibelakang? Jebal, kakiku masih sakit.” Minzy mulai merajuk. Tapi dia tak bohong. Dia berkata jujur.

“Baiklah, kau jaga meja kasir, aku akan keluar.” Aku segera mengambil jaket yang kugantung dan berlari lewat pintu belakang.

Letaknya memang tidak terlalu jauh, namun campuran lumpur pekat dan lumut membuat jalanan menjadi licin, ini cukup menyulitkan langkahku. Jadi aku hanya bisa berjalan setapak demi setapak dan membiarkan rambutku basah kuyup.

“Argh!!! Lepas…” aku terjingkat.

Suara apa itu?? Kutajamkan telinga. Aura jahatnya sangat kuat. Ketamakan, kukuasaan, rasa sakit. Apa ini? Mengapa aura seperti itu ada di sekitar café.

Tanpa ragu, aku berlari mengikuti apa yang ditangkap semua indera istimewaku. Aku terus berlari sampai masuk kedalam hutan. Tak perduli hujan dan semak belukan melukai kakiku. Dan suara teriakan itu terdengar lagi, tapi lebih memilukan. “AAARGGH!”

Aku mengintip dibalik pepohonan. 2 namja sedang memegangi tangan dan kaki seseorang sedangkan satu orang lagi memegang botol dan pisau besar, pisau yang biasa di gunakan Teddy untuk memotong daging.

“YA! Apa yang kalian lakukan. Lepaskan Namja it… astaga!! Apa yang sedang kalian lakukan?”

Aku tak sanggup berbicara lagi. Pria yang berteriak itu penuh luka dan bertelanjang dada. Ada sayatan di kaki kananya, sedangkan perutnya terkoyak begitu pula lengannya. Aku bahkan bisa melihat serat-serat putih yang aku yakini sebagai ototnya. Apa apaan ini!! Mukanya pun sangat aneh. Mukanya meleleh, seperti orang yang baru tersiram air keras. Sedangkan dahinya tertempel kalung tembaga. Karena hujan, darahnya meleleh kemana-mana membentuk genangan kecil. Ini benar-benar lebih buruk dari film slasher. (genre film horror yang mengutamakan kesadisan dan potong memotong anggota tubuh. Contoh : film SAW)

“Tak usah ikut campur . lebih baik pulang kerumah dan tutup mulut. Atau kau ingin bernasib seperti dia, hah?” seseorang yang membawa pisau meneriakkan ancaman kepadaku.

Ternyata apa yang dia katakan tidaklah bohong, pria yang membawa pisau berlari kearahku. Aku kalah cepat, tanpa kenal ampun dia memukul mukaku. Aku melarikan diri dengan menendang tangannya sampai pisaunya terjatuh, namun dia berhasil menguasaiku lagi.

Aku hanya bisa menghindar dan menutupi muka dengan tanganku saat pukulan demi pukulan dilayangkan ke mukaku, aku benar-benar terkapar saat dia memukul sudut mata kiriku. Tapi entah apa yang terjadi, ada sinar yang menyilaukan dan tiba-tiba pria yang memukuliku jatuh terjembab ke tanah. Lalu teman-temannya lari ketakutan sambil membopong temannya yang memukuli mukaku tadi.

Sambil menahan perih di mata kiriku, aku berjalan menghampiri sang ‘korban’. Dia memegang tanganku, sepertinya dia ingin aku mencopot kalung tembaga di dahinya.

“Aw!” aku meniup-niup tanganku yang kemerahan. Kalung yang menempel dahinya sangat panas. Apa-apaan ini?

“Tolong aku, je…bal…” Rintihnya.

Rasanya aku ingin menangis. Apa yang harus aku lakukan. Aku kebingungan, mencoba aku menidurkan kepalanya di pahaku dan melepas kalungnya perlahan. Aku bahkan tak perduli darah di hidung dan mulutku mengalir, yang penting bagiku adalah melepaskan kalung ini karena dia terlihat begitu tersiksa. Mulut pria itu terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu, akibatnya darahku masuk kemulutnya.

“Ah, mianhae, aku tak tahu kalau darahku mengenai mukamu. Ayo berdiri, aku akan memapahmu sampai café. Cafe tempatku bekerja dekat dari sini.” Tapi pria itu mencengkeram mukaku dan membiarkan darah tadi masuk kemulutnya.

“Tidak. Jangan. Biarkan seperti ini. Aku membutuhkan ini..”

Ini apa? Dia membutuhkan apa? Darah?

“Aromamu sungguh manis. Kau bersinar. Kau berbeda…” ujarnya terbata-bata.

Apa dia sedang merayuku? Di saat seperti ini? Aku mulai memutar otak, tembaga di dahinya sangat panas, dia juga membuka mulutnya dan membiarkan darahku masuk kekerongkongannya. Dia bilang aromaku manis. Apa maksudnya? Lalu tubuhnya! Mengapa orang-orang tadi menyayat nyayat tubuhnya? Dan yang membingungkan mengapa aku tak bisa membaca pikirannya sedari tadi??

Terdengar suara koyakan kecil saat aku menoleh kearah pria itu. Wajahnya, wajahnya tak lagi rusak bagai lilin meleleh. Mukanya utuh meskipun masih terlihat jelas luka bekas sayatan di dahi dan pipinya. Aku bersumpah melihat taringnya saat dia menyeringai. Sekarang aku hanya bisa mengutuki ke-pabo-anku. Damn, he is a vampire!

Aku segera menjauhi tubuhnya. Yang ada dipikiranku adalah LARI! Tapi entah mengapa kakiku sangat lemas.

“Ja..jangan mendekat…” Hanya itu yang bisa aku ucapkan. Vampire itu terus memamerkan taringnya, seakan-akan meyakinkan kalau dia ini vampire. Iya, iya aku tahu kau vampire, tidak usah pamer. Bisakah kau menutup mulutmu sekarang!

Aku tidak tahu apa yang terjadi, karena beberapa detik yang lalu dia berada jauh dari jangkauanku dan sekarang dia sudah berjongkok dan mensejajarkan mukanya didepanku.

“Aromamu…mengapa begitu manis? Dan mengapa tubuhmu mengeluarkan sinar? Kau ini sebenarnya apa?” dia mengulangi pertanyaan yang sama, tapi sama mengerikannya.

Aku tak bisa berpikir, ketakutanku memuncak. Meski lemas aku memaksakan diri untuk berdiri. Pusing datang tanpa permisi. Entah itu efek dari rasa takut atau kehujanan ataukah rasa frustasi tak bisa membaca pikirannya. Aku hanya bisa berjalan mundur sambil sempoyongan,

“Jangan mendekat!!!” Aku mulai berteriak. Dia berdiri samnil mengangkat kedua tangannya sembari tersenyum. Dan disaat itu aku melarikan diri.

Aku terus berlari namun takut menoleh. Tapi, sejauh ini tak ada yang mengikutiku. Vampire sangatlah cepat, jika dia memang ingin menangkapku dia pasti sudah mendapatkanku saat pertama kali aku melangkahkan kaki. Mungkin dia merasa berhutang budi kepadaku, jadi melepaskanku begitu saja. Tapi aku tak boleh lengah. Aku harus terus berlari. Yah, sebentar lagi. Lampu café sudah terlihat dari kejauhan.

*Vampire’s POV*

Walaupun dia sudah menyelamatku dengan sinar aneh yang keluar dari tubuhnya, tapi aku benar-benar tak yakin dia bisa membopongku. Aku benar-benar tak bisa melakukan apapun. Tiba-tiba aroma manis yang selama ini menggodaku berasal dari darahnya. Aromanya, sungguh memabukkan. Tak pernah aku mencium aroma seperti ini selama eksistensiku. Begitu menenangkan. Matanya sangat teduh, walau sekarang bengkak akibat pukulan. Aku berjanji demi tembaga yang menyakitkan ini aku akan membunuh pria yang sudah membuat mata gadis ini bengak.

“Ah, mianhae, aku tak tahu kalau darahku mengenai mukamu. Ayo berdiri, aku akan memapahmu sampai café. cafe tempatku bekerja dekat dari sini.”

Tidak, tidak. Biarkan seperti ini dulu. Jebal, aku ingin seperti ini. Aromanya, rasanya, benar-benar berbeda. Darahnya, entah mengapa hanya meminumnya beberapa tetes sebagian besar dahagaku terpuaskan. Sifat tamakku mengatakan aku ingin meminumnya sebanyak yang aku bisa. Tapi disisi lain, aku tak ingin. Dia begitu berharga untuk dibunuh.

“Tidak. Jangan. Biarkan seperti ini. Aku membutuhkan ini..” Apa yang aku katakan? Aku membutuhkan apa? Membutuhkan darahnya ataukah membutuhkan pelukannya?

Ya, aku membutuhkan dua duanya. Tak pernah aku merasakan ada orang yang rela menolongku. Selama ini aku selalu dianggap iblis tak tahu diuntung. Jujur, beratus ratus tahun aku rindu ketulusan seperti ini. Rasa nyaman seperti ini. Rasa dilindungi seperti ini.

“Aromamu sungguh manis. Kau bersinar. Kau berbeda…” Entah sadar atau tidak, dia mengelus bekas luka akibat tembaga sialan yang ditempekan di dahiku. Lalu tubuhnya menegang.

Dia menjauhiku dan mendekati sebilah balok kayu. Tiba-tiba taringku bereaksi dengan adanya bahaya. Tidak, ternyata dia tak ingin mengambil balok kayu itu. Dia hanya melewatinya. Sepertinya dia bersiap untuk kabur. Damn! She saw my fang!

“Ja..jangan mendekat…”

Hahaaa. Dia ketakutan. Wajahnya terlalu dingin untuk mengekspresikan rasa takut. Sunguh lucu.

Aku mendekatinya, tergelitik untuk bertanya, “aromamu…mengapa begitu manis? Dan mengapa tubuhmu mengeluarkan sinar? Kau ini sebenarnya apa?”. Pertanyaan yang konyol. Tapi aku benar-benar penasaran.

Alih-alih menjawab, dia malah berdiri dan mulai berlari. Apa-apan dia? Aku kan butuh jawaban. Mengapa dia malah menghindariku? Apa dia pikir dia bisa lepas dari cengkeramanku setelah membuatku tertarik?

*Author’s POV*

Tinggal 5 langkah lagi Caroline menggapai pegangan pintu, tiba-tiba vampire tadi sudah berada di depan pintu melambaikan tangan. Gerakannya sangat cepat. Sangat cepat, dan kecepatannya tak main-main.

“Kau!! Kau..apa yang kau inginkan dariku? Jangan ganggu aku jebal!!” Caroline berteriak frustasi.

Wae? Kau tidak menjawab pertanyaanku tadi. Kau ini apa? Aku tak akan menyakitimu.”

Caroline terus berjalan mundur. Dia begitu ketakutan. Vampire itu menyungingkan senyum sinisnya yang membuat Caroline semakin takut. Sebenarnya tak ingin bermaksud sinis, tapi karena Caroline ketakutan dan muka sang vampire masih banyak bekas sayatan jadi terlihat mengerikan tanpa harus berusaha.

“Awas belakangmu!” Vampire itu beteriak tapi tidak mencoba menghentikannya. Alhasil Caroline jatuh dan kepala bagian belakang terbentur. Dia pingsan seketika.

“Hey yo! Ada apa? Oh gosh Carol!!”

Teddy yang tadinya berniat high five dengan vampire itu berlari menuju Caroline. Suara nyaring Teddy membuat Minzy, dan CL keluar café. Bahkan para pelanggan melongok lewat jendela.

“Aigoo, tak usah histeris seperti itu. Dia tak akan mati.”

Vampie itu berkata santai, tapi tak mau mendekati tubuh Caroline yang bersimbah darah. Minzy pun sama histerisnya seperti Teddy. Keluarga heboh memang -.-

“OMONA! YAK OPPA! APA YANG KAU LAKUKAN PADA TEMANKU” Dia berteriak tepat di telinga sang vampire.

“Ya! minji~ya. Jika aku tuli, mana ada dokter yang bisa mengobatiku. Berhentilah berteriak di telingaku sebelum ada dokter THT khusus vampire.” Minzy hanya merengut mendengarnya.

Dia sudah tak tahan lagi, akhirnya dia yang menggangkat tubuh Caroline, “Mianhae, jeongmal mianhae.”bisiknya ketelinga Caroline, seperti dia bisa mendengarnya saja.

“Memang ada apa sih kau dengannya? Mengapa dia ketakutan seperti itu.?” Teddy mengamati penampilan vampire itu sesaat, “aku tahu kau ini seksi, tapi kau kemanakan bajumu? Kenapa tubuhmu banyak bekas luka?”

Vampire itu hanya terus berjalan menuju ruangan Teddy. Teddy mengikuti si vampire sambil memegang kepala Caroline. Menjaga agar kepalanya tidak menggantung.

“Kau kan Vampire, gerak reflekmu sangat bagus. mengapa kau tak memeganginya agar tak jatuh?”

Si vampire hanya diam. Dia menidurkan Caroline di sofa milik Teddy.

“Cepat Panggil dokter. Kepalanya bisa infeksi jika tak diobati” Vampire itu menyodorkan telepon wireless yang tergeletak sembarangan di meja.

“Ya, kau belum menjawab pertanyaanku G-Dragon-ssi. Wae?”

G-Dragon, ya vampire itu menatap mata Teddy dengan tatapan yang tidak bisa Teddy mengerti, dan itu membuat Teddy bingung. Tak ada yang berani beradu mata dengan G-Dragon kecuali Teddy. Karena Teddy dan G-dragon berteman sudah cukup lama.

“Jika tak begini, aku tak akan bisa menyentuhnya…”

 

~TBC~

Hohooohooo. Gimana? Garing? Kokokkk! Jangan jadi silent readers yah. Pokoknya yang baca wajib meninggalkan jejak ato koment. Kritik saran bebas, asal jangan pake bahasa yang menyinggung satu sama lain😀

Buat yang sudah membaca Gomawo. Tunggu next Chapter yah^^