rilbloodRILBLOOD

Part 2- Amour étrange

Author: Choi HyoRin/Nadia

Genre : Romance, Dark Fantasy

Rating : Untuk saat ini masih bisa dibaca segala umur. Tapi nggak tahu untuk sequelnya😛

Twitter            : @ndiafirdaus

Cast:    G-DRAGON

TOP

AHRI CAROLINE LAU/CAROLINE LAU

SOL/TAEYANG

D.LITE/ DAESUNG

V.I/SEUNGRI

Teddy Park

Henry Lau SUJU-M

2NE1 member

Disclaim: I’m Newbie Author  but This FF 100% belong to me. FRESH FROM MY BRAIN. SO, DON’T BE A PLAGIATOR. Untuk karakter dan umur, dibuat agak berbeda😀

DON’T BE A SILENT READERS, ngasih komen masih gratis kok😄

“Jika tak begini, aku tak akan bisa menyentuhnya…”

*Author’s POV*

Dokter sudah memeriksa luka dikepala Caroline. Seperti kata G-dragon sebelumnya, itu hanya luka ringan, sobeknya tidak harus dijahit. Tapi tetap saja hal itu membuat khawatir seluruh penduduk café, kecuali CL tentunya. Namun dia tetap berada di dalam ruangan agar bisa melihat Teddy.

“Hanya luka kecil tidak perlu dijahit. Tapi, jika dia terbangun dia mungkin akan merasakan sedikit pusing. Saya akan memberikan antibiotic supaya kuman-kuman di lukanya mati dan dapat cepat tertutup. Tolong obatnya dioles di luka sebelum tidur” Dokter itu mulai mencoret-coret buku resep dan diberikan kepada Teddy.

Saat Teddy akan membayarnya, segera dicegah oleh G-Dragon, “Biar aku saja.”

Dia memberikan beberapa lembar uang untuk sang dokter. Teddy dan CL mengantarkan Dokter keluar dan tinggalah 3 orang dalam ruangan. Minzy langsung mencecarnya dengan banyak pertanyaan.

Oppa, memangnya apa yang terjadi sih? Bagaimana kau bisa bertemu dengannya? Lalu kemana bajumu? Kenapa tubuhmu penuh bekas luka?”

Ditodong seperti itu, G-dragon hanya mengurut keningnya. Dia menatap Minzy kesal.

“Selama masa eksistensiku, aku belum dan tak akan pernah sakit kepala.“

“Memang tidak. Kau kan vampire…”

“Tapi saat ini ya! aku pusing mendengar ocehan bawelmu,” G-Dragon mendorong kepala Minzy dengan telunjuknya.

“Ah, kau bohong! Cepat ceritakan padaku…!”

“Minji~a aku ingin istirahat. Jika tidak, luka-luka akan lama sembuhnya. Lagipula aku harus minum rilblood.”

“Baik aku akan mentraktirmu 1 gelas.” Minzy mencoba bernegoisasi.

“1? Itu hanya mengganjal tenggorokanku saja, ah…aku ingin istirahat saja,”

Dengan sigap tangan minzy mencegah G-dragon keluar. Dia mengerucutkan bibir, berpikir, “berapa yang kau mau? 2? 3? Aish, kau membuatku bangkrut!”

“3! Okay deal” G-dragon tersenyum mengejek.

“Tapi jangan bilang Teddy oppa ya? Bisa-bisa gajiku di potong lagi. Tunggu disini dulu,” Minzy melesat untuk mengambil rilblood.

Dengan adanya kesempatan hanya berdua didalam ruangan, G-Dragon mendekati Caroline, mengamati wajahnya dari dekat. Tapi momen itu tidak berlangsung lama karena Minzy masuk membawa 2 gelas besar rilblood.

“Kok 2? Katanya 3? Ah, tidak asyik” G-Dragon mulai menggoda Minzy.

“Yak, oppa! Bersyukurlah kau kuberi gratis. Sebagai orang yang berpenghasilan besar, aku harusnya malu menodongku seperti ini.”

“Siapa yang menodong? Kan kau yang mengajakku bernegoisasi? Jika kau keberatan, aku bisa…”

“Ah sudah diam, sekarang ceritakan padaku ppaliii..”G-dragon hanya tersenyum melihat tingkah Minzy, sesekali dia mengelus puncak kepalanya sayang.

G-dragon menceritakan semuanya, minus bagian Tubuh Caroline mengeluarkan sinar tentunya. Hanya dari bagian sebelum Caroline datang, sampai Caroline datang menyelamatkannya.

“Jadi mafia-mafia sialan itu balas dendam? Aigoo… badanmu jadi seperti ini. Lalu bagaimana jika mereka mendatangimu kembali?”. G-Dragon merebahkan kepalanya di sandaran sofa.

“Tak akan, aku sudah menelpon kepolisian. Mereka itu kan buronan internasional, jadi pasti banyak yang memburu. Mereka tak akan bisa melarikan diri lebih lama. Aku bertaruh sekarang mereka sudah tak ada di korea.”

“Pakailah ini untuk menyangga kepalamu,” Minzy menyodorkan bantal sofa yang tergeletak di lantai, “tapi, ada yang membuatku heran, mengapa mereka bisa kalah dari Caroline? Memang sih badan Caroline tinggi tapi dia kan kurus. Lagipula pria-pria yang menyekapmu tadi pasti berotot, mana mungkin Caroline berhasil mengalahkannya seorang diri?”

G-Dragon memasang tampang tenang. Padahal hati rasanya menciut mendengar pertanyaan Minzy. Keingintahuan Minzy yang sangat tinggi itu membuatnya takut

“Tentu saja aku juga menolongnya…” G-Dragon mencoba mencari alasan yang logis.

“Jinjja? Bukannya fisikmu masih lemah? Kau kan kehilangan banyak darah. Belum lagi ada tembaga yang menempel di dahimu..”

“Aku memukulnya dengan kayu. Lalu mereka lari. Mereka kira aku masih punya tenaga untuk membunuh. Padahal tidak. Tenaga terakhirku ketika aku memukul salah satu dari mereka. Jika saat itu mereka bukannya pergi malah menghajarku, aku benar-benar mati.”

“Mati? Kau kan memang sudah mati. Kau itu vampire oppa. Dasar.” Minzy menjulurkan lidahnya sambil berlalu.

G-Dragon bernapas lega karena Minzy sama sekali tak curiga. G-Dragon akhirnya memejamkan matanya dan mengistirahatkan otot-ototnya. Tiba-tiba pendengaran tajamnnya menangkap suara langkah kaki. Dia segera membuka matanya, Caroline sudah berjalan menuju pintu.

“Kau tak tahu cara berterimakasih huh?” G-Dragon memejamkan matanya kembali.

*G-Dragon’s POV*

“Kau tak tahu cara berterimakasih huh?” aku memejamkan mataku kembali. Lelah.

Aku tak mendengarkan langkah kaki lagi. Sepertinya dia tak berniat kabur lagi. Anak pintar.

“Kau ini apa?” Yang kutanya tak kunjung memberiku jawaban. Aish, aku tak suka ini. “Mengapa kau diam saja Caroline? Aku paling tak suka jika bertanya tak di jawab.”

“Kau tahu namaku darimana? Mengapa kau mengikutiku?” Suaranya bergetar ketakutan. Aku membuka mataku untuk melihat ekspresinya. Aku hanya tertawa.

“Mengapa tertawa?” Oh, rupanya dia tersinggung.

“Mukamu lucu. Ekspresimu datar tapi suaramu membohongi ekspresimu.”

Aku berdiri dan berlari kearahnya. Sepertinya dia kaget dengan kecepatanku. Sebelum dia melangkahkan kaki aku sudah mencengkeram lengannya. *banyangkan Edward Cullen kalo lari kan cepet banget, ya si GD juga gitu*

“Sekali lagi kutanya kau. Kau Ini sebenarnya siapa? Kau ini apa?” Aku memelankan suaraku.

“Aku manusia. Mengapa sih kau tanyakan ini berulang ulang? Dan mengapa kau bicara bisik bisik?” aku menarik halus tangannya menuju sofa. “Mari kita bicarakan ini sambil duduk”

Tapi dia menolak. Dia tetap berdiri ditempat. Tatapan matanya seperti ingin membunuhku. Ah..yang benar saja. Tanpa basa-basi aku menarik keras tangannya dan menyeretnya. Aku berani jamin ada tanda lebam dikulit pualamnya. Tapi dia tidak menunjukkan tanda-tanda kesakitan sedikitpun. Tangguh.

“Kau ingin tahu mengapa aku berbisik? Tempat ini tidak aman jika mereka tahu sebenarnya tentang kau! Nasibmu akan sama sepertiku saat kau menemukanku di hutan tadi. Kau mau?”

Dia dia…argh… dia tidak menghiraukan perkataanku! Dia menghentakkan tangannya dari genggamanku lalu duduk di sofa.

“Mengapa kau berdiri? Tadi kau menyuruhku duduk!” Aku hanya tersenyum. Caroline hahaha, bad girl.

Kau ini apa?” Tanyaku ulang sembari duduk disampingnya.

“Aku benar-benar tak tahu maksudmu. Tentu aku manusia!” Dia memutar bola matanya tak sabar.

“Jika kau manusia, mengapa darahmu mempunyai rasa dan aroma berbeda? dan jika kau manusia, mengapa badanmu mengeluarkan sinar tadi saat dihutan? Kau bukan manusia Caroline. Pasti ada yang tidak beres dengan tubuhmu!”

“Tunggu, apa maksudmu mengeluarkan sinar? Yang mengeluarkan sinar itu kan tubuhmu Bukan tubuhku! Anyways darah orang kan memang berbeda beda.” Dia tertawa bosan. Aku hanya menggelengkan kepala.

“Tidak, golongan darah itu berbeda. Tapi rasanya tak jauh berbeda. tapi darahmu itu, benar benar bukan seperti darah yang biasanya aku minum. Darahmu itu lebih…manis…atau gurih…pokoknya berbeda!” Aku berteriak frustasi. Dia hanya mengernyitkan dahinya.

“Aku tak takut darah, tapi membayangkan rasa darah seperti apa itu menjijikkan.”

Aku tersenyum simpul. Bukan kali ini saja orang menyebutku dan makananku menjijikkan. Aku memang telah terbiasa, tapi entah mengapa hatiku begitu sakit jika dia yang mengatakannya. Belum lagi wajahnya sangat meremehkanku. Selain Teddy an Minzy, tak ada yang berani berlaku seperti itu kepadaku. Jujur harga diriku tak menerima ini.

Dia menoleh kearahku dan dengan kejamnya dia berkata, “Kenapa dengan mukamu? Kau tersinggung? Memangnya vampire bisa tersinggung?”

“Aku memang pembunuh, lintah darat, atau apapun yang dikatakan sebangsamu. Tapi aku juga punya perasaan. Aku punya rasa tersinggung. Bahkan saat manusia aneh berlidah kejam sepertimu melukai harga diriku.” *Bahasa gw lebayy*

Mianhae…” Katanya sambil acuh tak acuh.

“Lupakan saja. Lama-lama aku akan terbiasa dengan mulut tajammu.”

Dia membelalakkan matanya, “lama-lama terbiasa? Apa yang kau maksud lama-lama terbiasa? Jadi ini bukan pertemuan terakhir kita? Kau berniat mengikutiku setiap hari? Apa sih maumu?”

“Siapa bilang aku akan menemuimu setiap hari? Aku memang kesini setiap hari karena Teddy dan Minzy itu sudah kuanggap seperti saudara. Jangan terlalu berharap agasshi, jangan terlalu percaya diri. Siapa dirimu hingga aku ingin menemuimu setiap hari huh?!” Aha, sepertinya sekarang harga dirinya-lah yang terluka.

“Woo, kemampuanmu melecehkan orang bagus juga. Untuk ukuran penghisap darah terlaknat, kau sangat hebat.” Ucapnya sinis.

“Ku anggap perkataanmu itu adalah sebuah pujian.” Aku tersenyum puas.

Caroline mengibaskan tangannya bosan. Mata elangku menangkap tanda yang sudah lama aku cari selama ini. Tanda itu ada di tangan kanannya. Tanda itu menyingkap semua apa yang terjadi dan siapa dia. Aku mencengkeram tangannya.

“Ahh! Appooo…! yak! Wae?”

“Ini…? Ini asli kan? Ini bukan tattoo kan?”

“Ah, lepas!” Dia berusaha melepaskan cengkraman tanganku.

“Kau itu kenapa sih? Kau selalu menanyakan hal-hal yang tidak penting dan aneh?”

“Tolong, kali ini saja kau menjawab pertanyaanku. Darimana kau mendapatkan tanda seperti ini?”

“Aku tidak mau menjawabnya. Itu bukan urusanmu! Cepat lepaskan tanganku!” Tangannya yang bebas menampar pipiku. Tapi aku tak bergeming. Dia menamparku lagi.

“Aish, kau ini benar-benar…!” Caroline mendesis penuh dendam. Sepertinya dia tak menemukan kata-kata yang cukup kejam untuk di ucapkan.

“Sekali lagi aku Tanya kepadamu, tanda ini, dimana kau mendapatkannya!!!”. Kali ini aku tak bisa menahan emosiku dan mulai meneriakinya. Bukannya takut dia malah balik menantangku. Dia, sukses sekali dia membuatku frustasi.

“Sekali lagi aku katakan padamu, aku tak akan memberi tahumu apapun yang kau ingin tahu dalam diriku. Memang apa yang akan kau lakukan jika aku tak menjawabmu hah? Kau akan membunuhku? Kau ingin mati? Aku akan mengadukanmu kepada Rajamu”

Apa yang dia bilang? Dia benar-benar mengancamku? Berani sekali dia. Memangnya dia pikir dia siapa?

“Aku tak takut dengan ancamanmu. Sama sekali aku tak takut. Jika aku membunuhmu, tak ada ada yang berani menangkapku.”

“Tidak rajamu pasti akan mencarimu dan…dan… membasmimu!” Dia berpikir terlalu keras. Membasmi? Dia pikir aku hama? Dibasmi?

“Aku dibasmi? Hah! Aku ingatkan kepadamu agasshi, aku ini vampire. Aku itu sudah mati. Jadi berhentilah bicara omong kosong dan cepat jelaskan sesuatu tentang tanda ini.”

Caroline’s POV*

“Tolong, kali ini saja kau menjawab pertanyaanku. Darimana kau mendapatkan tanda seperti ini?”

Vampir sialan ini terus mendesakku mengatakan hal yang benar-benar tak ku ketahui. Jika aku tahupun aku tak akan memberitahukannya. Memang dia siapa mencampuri urusanku?

“Aku tidak mau menjawabnya. Itu bukan urusanmu! Cepat lepaskan tanganku!”. Dia tak juga menuruti perkataanku. Habis sudah kesabaranku.

“Aish, kau ini benar-benar…!” Sampai kulayangkan beberapa tamparan di pipinya pun dia tak melepaskan tanganku, dia ini mau apa sih?

“Sekali lagi aku katakan padamu, aku tak akan memberi tahumu apapun yang kau ingin tahu.” Tapi jujur aku memang tak tahu. “Memang apa yang akan kau lakukan jika aku tak menjawabmu hah? Kau akan membunuhku? Kau ingin mati? Aku akan mengadukanmu kepada Rajamu”

“Aku tak takut dengan ancamanmu. Sama sekali aku tak takut. Jika aku membunuhmu, tak ada ada yang berani menangkapku.”

“Tidak, rajamu pasti akan mencarimnu dan…dan… membasmimu!” Aish, otakku tak bisa diajak kompromi.

Dia tertawa melecehkanku, “Aku dibasmi? Hah! Aku ingatkan kepadamu agasshi, aku vampire. Aku itu sudah mati. Jadi berhentilah bicara omong kosong dan cepat jelaskan sesuatu tentang tanda ini.”

Tiba-tiba pintu terbuka. Tedy, Minzy dan CL masuk tanpa permisi. Dari tampangnya, seperti Teddy sudah siap menendangku keluar. Mungkin teriakan kami membuat pelanggangannya takut dan pergi.

“Apa yang kalian lakukan? Jika kalian ingin bertengkar, jangan disini. Disini bukan sasana tinju G-Dragon-ssi dan Caroline-ssi. Jadi tolong…” Kata-kata Teddy terhenti saat melihat tangan kananku. Matanya membulat dan melotot.

“Tanganmu…Caroline kau ini…” Aish, namja satu ini juga mau mempermasalahkan ini? Memangnya ada apa sih?

“Kalian semua ini kenapa sih? Mengapa hari ini semua orang menanyakan hal yang benar-benar tidak penting?”

“Kalian berdua tetap disini. CL, Minzy kalian keluar.” Minzy dan CL saling bertatapan penuh tanda tanya, walau akhirnya mereka keluar juga.

Teddy mengunci pintu. Sebelum menutupnya dia menoleh ke kanan dan kekiri seperti memastikan tak ada satu orangpun yang mendengarkan pembicaraan kami.

“Caroline, kau benar benar harus mengatakan tentang tanda ini. Jika tidak riwayatmu benar-benar akan habis…”

“Berhentilah bicara omong kosong Teddy, aku hanya ingin pulang!!” Aku berteriak tepat di telinganya. Ya Tuhan, aku bebar-benar frustasi.

“Yak! aku lebih tua darimu dasar tidak sopan!!!” Teddy memukul puncak kepalaku sangat kerat. Agak pening rasanya.

Demi apapaun aku tak perduli, aku hanya ingin pulang, makan lalu tidur. Aku benar-bener salah kerja disini. Tidak, memilih tinggal ditempat ini SANGATLAH SALAH!. Kesalahan yang sangat FATAL!

  1. Aku harus mempunyai boss yang ingin meniduriku
  2. Pada hari pertama bekerja, aku sudah mempunyai musuh CL
  3. Menolong seseorang yang ternyata vampire. Seharusnya aku pura-pura tak mendengar teriakannya, jadi aku tak akan terjebak disini. Bersama boss yang ingin meniduriku dan vampire sialan yang terus bertanya ini itu tentang diriku.

Ya Tuhan, jika satu scene ini sudah selesai, tolong bangunkan aku…

TBC