rilblood 3RILBLOOD

Part 3- You Smell Like Dinner

Author: Choi HyoRin

Genre: Romance, Dark Fantasy

Rating : Untuk saat ini masih bisa dibaca segala umur. Tapi nggak tahu untuk sequelnya😛

Twitter : @ndiafirdaus

Cast:    G-DRAGON

TOP

AHRI CAROLINE LAU/ CAROLINE LAU

TEDDY PARK

TAEYANG

DAESUNG

SEUNGRI

HENRY LAU SUJU-M

2NE1 MEMBER

Disclaim: I’m Newbie Author  but This FF 100% belong to me. FRESH FROM MY BRAIN. SO, DON’T BE A PLAGIATOR. Untuk karakter dan umur, dibuat agak berbeda😀

*Caroline’s POV*

Setelah vampire sialan itu bercerita panjang lebar, Teddy menyodorkan buku usang kehadapanku. Bahasanya tidak kuketahui. Sekarang apa? Dia ingin mengajariku bahasa planet?

“Lihat ini” Dia menunjuk sebuah gambar. Gambar itu mempunyai kemiripan dengan dengan tanda ditanganku. Aku masih tak mengerti. “Apa maksudmu menunjukkan gambar ini?”

“Kau itu memiliki garis keturunan langsung dari suku…” ah cukup sudah aku tak tahan lagi!!

“Baiklah aku peri, dia vampire dan kau apa? Werewolf?” aku tertawa apatis.

“Bukan, aku hanya manusia.” Nadanya sangat menjengkelkan. Aku hanya memutar bola mataku.

“Cepat bicaralah, aku tak punya banyak waktu, adikku menunggu dirumah”

“Kau sudah tau kalau kau itu keturunan suku aztec?” Selidik Teddy.

“Ya, wae?”

G-Dragon menggebrak meja dan membentakku, “mengapa kau tak mau bicara dari tadi? Aku kan bertanya padamu berkali kali! Mengapa kau membuatku menjadi sulit?”

“Apakah itu urusanku?” Tanyaku sinis. “Lanjutkan bicaramu oppa” Aku mengalihkan perhatianku lagi kepada Teddy.

Teddy menghela napas berat melihat kami berperang mulut. Lalu dia kembali membaca bukunya sejenak, “Tapi apa kau tahu kalau kau itu adalah sebuah jimat hidup?”

Mw..mwoo? jimat hidup? Apa dia sudah gila? Sepertinya terlalu lama bergaul dengan vampire membuat kesehatan jiwanya terganggu. Coba aku pikir sejenak, jika aku adalah jimat hidup, lalu mengapa 1 jam yang lalu aku jatuh, kepalaku mengenai batu dan pingsan? Bukankah aku jimat hidup? Seharusnya aku bisa melindungi diriku sendiri. Apa yang mereka katakan sangat tiak mendasar.

Teddy mengguncang tanganku tak sabar, aku hanya menatapnya tak mengerti lalu tertawa,”Apa salah satu dari kalian kerja di stasiun tv? Apakah aku masuk dalam acara hidden camera?  Baiklah kalian berhasil membuatku terkejut. Daebak..” Aku lantas bertepuk tangan.

“Caroline Lau, kau bukan berada dia dalam acara apapun. Coba buka pikiranmu, kau pasi punya kelebihanhan kan? GD bilang tubuhmu mengeluarkan sinar. Tidakkah kau berpikir, apakah yeoja normal dapat melakukan hal itu?” Kali ini aku terdiam.

Lagi-lagi Teddy menggenggam tanganku. Kali ini dia juga meremasnya dan mengeluarkan suara menggoda, “Atau mungkin kau ingin membicarakan ini di tempat yang lebih ‘pribadi’?” Aku bergidik mendengar perkataannya. Terdengar suara desisan dari belakangku. Rupanya vampir itu mendesis kearah Teddy. Tetapi Teddy hanya diam dan tetap menatapku.

Sebenarnya untuk suara semenggoda itu, dalam pikirannya tersirat rasa cemas yang sangat kuat. Tapi aku tak dapat membaca kemana arah pembicaraannya. Aku jadi penasaran dengan apa yang ingin dia bicarakan. Jadi aku menggangguk, menyetujui usulnya berbicara ditempat ‘pribadinya’ itu.

“Kau mau kemana?” Tanya GD pada Teddy.

“Aku akan bicara dengannya sebentar. Bisakah kau menjaga cafe ku sebentar?” Teddy tersenyum simpul.

“Tidak. Aku ikut.” Aigoo, aku benar-benar habis kesabaran. Beberapa menit yang lalu diabilang tidak ingin mengutitku. Tapi kenapa sekarang dia ingin mengikutiku kemanapun dia pergi.

“AKU BUTUH WAKTU PRIBADIKU BERSAMA TEDDY.” Kulambatkan kata-kataku agar dia mengerti bahwa aku tak suka dia disekitarku.

“Baiklah, tersarah saja. Aku akan bermain dengan Minzy” Dia Berjalan dengan langkah ‘normalnya’ kelaur dari ruangan Teddy.

Setelah aman, “Baiklah apa yang kau tau tentang diriku?” Aku benar-benar penasaran.

“Tidak. Jangan disini.” Teddy menggandengku keluar cafe lewat pintu belakang. Disana terparkir mobil sport merah. Aku hanya bisa membulatkan mulutku. “Tak usah terkejut,ini belum seberapa.”

Aku menatapnya tak percaya,”Aku tak tau jika cafe ini begitu sukses sampai sampai kau punya mobil sekeren ini. Daebak…”.Teddy tertawa ringan. “Cafe adalah pekerjaan sampinganku, jika aku mengelelola cafe ini selama 10 tahun pun, aku tak akan bisa mempunyai mobil ini.” Teddy menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Padahal aku ingin merasakan kehebatan mobil ini jika melaju kencang.

Sebentar. Apa tadi yang dia bilang? Pekerjaan sampingan? Jadi dia punya pekerjaan lain? Pria ini lebih misterius dari vampire itu. Aku berusaha berkonsentrasi untuk melihat kedalam pikirannya. Tapi aku tak menemukan apa-apa. Bukan kosong tak memikirkan apa-apa. Tapi seperti tersimpan di dalam brankas yang terkunci dan aku tak bisa melihat apa yang ada dalam brankas itu.

Tiba-tiba dia berhenti mendadak dan mendekatkan mukanya kepadaku. “Apa yang kau lihat? Apa yang kau cari dalam pikiranku?” Aku menahan nafas. Tak kusangka Teddy begitu tampan, pantas saja CL sangat menyukainya. Aish…apa yang kupikirkan!!

Teddy tertawa dan mengatur jarak muka kami dengan jarak normal. Aku menatapnya tak mengerti, “Kau bisa membaca pikiran manusia kan Caroline?” Aku hanya diam. Perasaanku tak enak. Aku tidak terbiasa berhadapan dengan orang yang tak bisa kubaca pikirannya. Bisa saja Teddy punya rencana jahat terhadapku.

“Aku sudah mengetahuinya dari awal Caroline. Aku sudah tahu. Apa kau pikir aku menerimamu kerja di cafe karena kau rajin? Tidak. Karena aku tahu ‘bakatmu’ itu.”

“Darimana kau tahu? “ Aku menelan ludahku dengan susah payah.

“Karena aku sama sepertimu Caroline. Aku bangsa sepertimu.”

Aku tak percaya aku menemukan orang lain selain aku yang punya kekuatan aneh ini. Senang tapi juga was was. Rasanya aku sekarang punya teman senasib yang tahu perasaan orang yang punya kelebihan sepertiku.

“Aku mungkin tak sepertimu, bisa membaca gerakan dan pikiran orang. Tidak bakatku bukan itu, tapi kita satu suku.” Aku terdiam, memberinya waktu untuk bercerita.

“Sepertinya GD tak tahu kelebihanmu yang sebenarnya. Kau itu bukan jimat carol, kau itu tameng. Dan aku adalah jimat.” Dia menatapku dan tertawa lelah. “Kasihan, sepertinya kemampuan otakmu sangat terbatas untuk mengerti perkataanku.”
“Apa katamu? Tentu saja aku mengerti!” Sialan, dia bilang aku bodoh?! Yang benar saja.

Teddy melanjutkan ceritanya. Dia tak lagi menatapku, dia menatap lurus kedepan, menerawang. “Dalam perang, kehadiran kita itu sangat menentukan kemenangan suatu clan (kelompok). Saat perang, tugasku itu dibelakang, merusak sistem kerja otak lawan agar linglung di medan perang. Aku juga punya brankas otak. Jadi jika jimat lain sepertiku ingin membuyarkan konsentrasiku, mereka tak akan bisa membaca ataupun membuyarkank. Yang ada malah kemampuannya akan terperangkap di otakku. Singkat kata, aku bisa menyerap kekuatan lawan dan mempunyai kekuatan seperti mereka dalam waktu singkat dan dengan jangka waktu yang singkat pula. Aku juga pintar dalam strategi perang, marketing atau guling menggulingkan suatu  pemerintahan dan mempertahankan suatu tahta. Oleh karena itu, jika berperang, clan yang menyewaku akan meletakkanku di tempat aman dengan penjagaan ketat supaya aku tidak terbunuh.” Dia menghela napasnya lagi. Aku juga menirukannya. Bukan maksud mengejek, tapi aku juga merasakan tegang yang dia rasakan.

Diam. Aku tak sabar menunggu cerita selanjutnya, “La..lalu, bagaimana denganku?”

“Kau. Kau mungkin tak punya kemampuan kompleks sepertiku. Tapi Kau bisa membaca pikiran lawan dan pegerakan lawan. Bukan hanya itu kau juga sangat kuat. Kau punya suatu kekuatan yang bisa membunuh orang yang kau mau, asal kau mau mengasahnya terus dan terus.  Kau bisa membuat kepala lawanmu lepas dari tubuhnya walau kau hanya mencekiknya dengan tangan hampa.” Jujur, aku tak bisa membayangkan aku sekuat dan semengerikan itu.

“Dalam perang tugasmu adalah mendampingi sang raja atau pejabat-pejabat negara. Hanya butuh 1 orang sepertimu untuk bisa melindungi 500 orang. Itu tandannya kau sangat kuat. Disamping itu kau juga bisa menangkis kekuatan magis yang tak terlhat disekitarmu. Karena dalam perang lawan kadang-kadang membawa cenayan atau dukun untuk memenangkan perang. Yang membuat kita selalu bersatu dan tak tepisahkan adalah, kita itu satu paket. Satu kesatuan. Aku mungkin punya kekuatan yang dahsyat, tapi aku bisa dibunuh dengan gampang. Kau mungkin tak punya bakat menakjubkan sepertiku, tapi kau kuat. Saat kau sudah memilih jalanmu untuk melindungi tuanmu, kau akan bertarung habis habisan. Jadi itulah mengapa aku dipanggil Jimat dan kau Tameng. Aku adalah otak, kau adalah badan.”

Aku menatapnya tak berkedip. Sekarang aku mengerti, mengapa kadang aku bisa membaca pikirannya kadang tidak. Karena dia bisa membuka dan menutup otaknya. Dan vampire itu, siapa namanya, ahh…GD! dia bilang tubuhku mengeluarkan sinar, sekarang aku tahu darimana itu berasal. Aku sungguh sungguh berterimakasih kepada Teddy. Sekarang aku merasa bersalah karena sudah berpikiran jelek tentangnya.

“Apa kau kaget?”

“Emm, iya. Aku hanya tak percaya jika aku, kau punya kekuatan seperti itu. Bahkan kita bisa menjadi sebuah perfect team.” Dia tersenyum.

“hati hatilah dengan rahasiamu itu. Bukan hanya vampire, manusiapun ingin memburu kita untuk dijadikan senjata hidup.”

“Bagaimana dengan teman vampiremu itu? GD?apakah dia juga menginginkan kita?” Aku tahu GD dan teddy itu berteman sangat baik, tak seharusnya aku bertanya seperti itu. Tapi aku kan penasaran.

“Iya, dia menginginkanku dan juga kau. Tapi dia memperlakukan ku dengan baik. Dia juga tak memaksa, jika aku berkata tak mau ikut campur urusannya, dia tak akan memaksa. Dan jika aku menyetujuinya, dia membayarku dengan sangat tinggi.”

“Benarkah? Walaupun kau gagal dia akan tetap membayarmu dengan harga tinggi?”

“Apa katamu? Maaf, agasshi, dalam eksistensiku aku tak pernah GAGAL.” Aku hanya meringis sembari mengacungkan V sign.

Dia terdiam. Dia juga masih mengunci otaknya rapat rapat,”Caroline, ada baiknya kau tak memberi tahu kekuatanmu yang sebenarnya pada GD.” Aku mengernyitkan kening.

“Wae oppa? Bukankah dia sudah tau?”

“Ani, dia memang tahu kau itu mempunyai garis keturunan sama sepertiku. Tapi dia tak tahu kau itu seorang tameng. Dalam suku aztec, banyak yang punya kemampuan supranatural, tapi tak sehebat, sebanyak dan sekompleks tameng dan jimat. Paling-paling dia hanya punya satu kemampuan saja. Tapi kita tidak. Kita punya banyak. Bahkan kau tidak tahu kemampuan apa lagi yang terpendam dalam dirimu. Jadi turuti saja perkataanku. Lebih baik biarkan GD mengira kau adalah cenayan suku aztec biasa yang hanya punya satu kelebihan. Kau masih terlalu muda masuk kedunia busuk seperti ini, kita itu satu suku kuanggap kau seperti keluargaku. Dan keluarga itu harus saling melindungi.” Aigooo..perkataannya sangat manis.

Aku mengangguk angguk mengerti dan tesenyum bodoh, “Jadi jika dia bertanya aku ini apa aku harus jawab apa?” Teddy langsung memukul keningnya tanda frustasi, “Maaf oppa, dalam situasi seperti ini otakku tak bisa bekerja dengan baik.”

“Bilang saja padanya jika kau itu cenayang biasa keturunan suku aztec. Beres kan?!” Teddy menyalakan mesin mobilnya kembali dalam diam dan membiarkanku terperangkap di dalam otakku sendiri.

~TBC~