painful chap. 1Nama author : Nay

Title : Painful

Cast(s) :

  • Kwon Jiyong
  • Choi Nayoung (OC)
  • other

Genre/rating/length : romance, friendship.

A/N : Gaah, ini ff pertamaku yang diluncurkan ke publik. Maafkan kalo gaje pake banget, soalnya masih pemula hehe :3 kritik dan saran ya J

twitter : @anan_nano

———————

 

Seperti biasa pagi ini aku pergi ke gedung YG, kantorku, ya bisa dibilang seperti itu. Tanpa mengatur acara apa yang harus aku lakukan disana, aku sudah tau mau kemana kaki ku ini akan melangkah, kebiasaan mungkin.

Tujuanku saat ini dan mungkin satu bulan kedepan cuman satu, ke studio Teddy hyung, kenapa tidak ke studioku sendiri? Aku juga tidak tahu.

Pekerjaan yang sangat monoton, setiap hari aku melakukannya. Naik lift, pergi ke studio Teddy hyung, membuka pintunya dan duduk di kursi sebelah kanan Teddy hyung. Ya, mungkin selama Yang sajangnim belum memberiku pekerjaan yang berarti seperti membuat album baru bigbang ataupun album baruku, aku mengklaim kursi sebelah kanan Teddy hyung adalah milikku. Yah mungkin, jika ada yang mau memakainya boleh saja asalkan aku tidak disana.

Tapi hari ini yang sebenarnya selalu sama bagiku terasa berbeda, entah mengapa aku merasakannya. Saat aku sudah berada di depan pintu studio dan lebih tepatnya sudah sedikit membuka pintu itu, aku merasakan keanehan di dalam diriku.

Yap, gejala ABG itu muncul kembali di dalam diriku. Oh god, aku hanya bisa menahan nafas saat melihatnya duduk di bangku kebangsaanku. Ya aku tidak yakin itu memang cintaku atau bukan, karena dia membelakangiku. Tapi saat aku menyentuh dadaku dan merasakan jantungku yang sedang kacau ini aku yakin dia cintaku.

“oh Jiyong, apa yang kau lakukan? Cepat masuk”

Teddy hyung menyadari keberadaanku yang masih mengintip dari celah pintu yang sangat sempit ini. Aku tertawa canggung dan membuka pintunya lebar dan membiarkan tubuhku yang sudah berkeringat dingin ini masuk.

Cintaku, sepertinya juga sudah menyadari keberadaanku, buktinya dia sedang melihat kearahku dengan matanya yang indah itu. Crap, harusnya aku tidak menatap matanya, itu memberikan efek yang kurang baik terhadap sistem saraf tubuhku.

Akupun berjalan dengan cepat dan berdiri di sebelah Teddy hyung, mungkin dia bingung mengapa aku tidak mengamuk ketika melihat kursi kekuasaanku di ambil alih orang, namun dia tidak ambil pusing dan menyangka aku tidak akan menyerang wanita. Sial.

Ruangan studio ini pun lenggang beberapa detik, dan akhirnya Teddy hyung menghela nafas dan menoleh kearahku. Biar kutebak, dia ingin menjelaskan kenapa cintaku berada disini.

“Nayoung ada di sini karena sedang berdiskusi masalah lagu denganku”

“eh, Nayoung-sshi ingin membuat lagu?”

Ya, itu aku yang bertanya. Entah mengapa pertanyaan itu spontan keluar dari mulutku. Akupun mengerjapkan mata dan menyadari betapa bodohnya aku bertanya kepadanya.

Uhm, ya ini aku G-DRAGON, jika kalian sering menonton variety atau semacamnya kalian mengenalku dengan sebutan ‘KING OF DATE’. Betapa menyedihkannya diriku yang sekarang.

Mungkin ini yang dinamakan kekuatan cinta sejati. Aku tidak pernah segugup ini di dekat wanita, ya kalian taulah maksudku.

“sshi? Kalian memang belum dekat? Bukannya Nayoung dekat dengan para member Bigbang?”

Oke, sekarang kalian boleh buang aku dari member bigbang, karena aku tidak dekat dengannya dan yang lainnya iya. Aku memang tidak dekat dengan Nayoung, tapi bukan aku yang menginginkannya seperti itu. Ayolah apa satu YG harus dekat dengannya? Aku terlihat sangat menyedihkan sekarang.

“ah, bukan begitu oppa, aku mengenal Jiyong-sshi, tapi kita jarang bertemu jadi aku belum dekat dengannya”

Oh God, ‘jarang bertemu’? Oh mungkin kau nayoung-sshi, bisakah kau merubah kata-kata ‘jarang bertemu’ dengan ‘jarang melirik Jiyong-sshi’?! oh, aku sedikit kesal sekarang, disetiap ada member bigbang pasti selalu ada aku, aku selalu menyaksikannya bercanda dengan yang lain. Dan dia masih bilang ‘jarang bertemu’? HOLY CRAP.

Dan, aku sangat ingin Nayoung memanggilku oppa, tidakkah itu manis? Orang yang kucintai memanggilku oppa, dan dunia akan berakhir saat dia mengatakannya. Poor me.

“ah iya hyung, kami sangat jarang bertemu. Mungkin ini pertama kalinya aku seruangan dengannya”

Bad joke, bad joke, BAD JOKE. Oh my god, aku mengucapkan kata kata yang salah! Aku melirik Teddy hyung yang sedang melihatku dengan mata yang disipitkan, dan tentu saja aku tidak berani melirik Nayoung.

“ten.. tentu saja aku bercanda hyung! Kami pernah bertemu beberapa kali tapi aku tak sempat menyapanya karena dia terlalu sibuk”

Aku memaksakan tertawa yang terdengar menyedihkan di kupingku, dan tentu saja Teddy hyung segera mengikutiku tertawa. Namun sepertinya Nayoung merasa tidak nyaman dengan perkataanku. Biar kutebak, apa dia merasa bersalah? Yeah, ide yang bagus, mungkin dia berniat menyapaku di lain waktu jika kita bertemu lagi. Semoga saja.

“ekhem, jadi apa Nayoung ingin membuat lagu?” aku bergaya sok cool dengan menyenderkan tubuhku ke meja dan melipat tanganku di depan dada. Dan tentu saja aku sengaja tidak menambahkan embel-embel ‘-sshi’ dibelakangnya. Kita lihat reaksinya.

“ah bukan begitu Jiyong-sshi. Well, karena brand yang aku iklankan baru-baru ini memintaku untuk bilang kepada Yang sajangnim untuk membuatkan lagu, dan Yang sajangnim memperbolehkannya. Aku juga bingung mengapa brand itu tidak minta langsung saja, apa mereka takut?”

Dia tertawa di akhir kalimatnya, aku yang tidak tahu mengapa dia tertawa dan aku hanya membalasnya dengan senyuman kecil. Entah mengapa kupingku seakan menuli saat dia mengatakan ‘Jiyong-sshi’.

Aku memberikannya kode dan dia tidak membalasnya?! God, padahal selama ini wanita yang aku beri kode akan….

Oh ya aku lupa, dia cintaku, dan dia berbeda dengan wanita yang lain.

Aku menghembuskan nafas pelan dan segera menegakkan tubuhku, aku tidak bisa berlama-lama disini.

“hyung, aku mau bertemu Hyunsuk hyung untuk membicarakan masalah album baru, aku pergi dulu hyung, Nayoung-sshi” aku membungkukan badanku dan segera membalikkan badanku dan melangkah pergi keluar.

Aku bisa mendengar sayup-sayup Teddy hyung memberikan selamat karena aku tidak akan menganggur lagi.

Bertemu dengan Yang sajangnim? Aku tidak tau mengapa mengeluarkan kebohongan seperti ini. yang aku tau, aku harus segera pergi dari studio ini.

—-

 

Aku termenung sebentar di depan pintu studio Teddy hyung. Aku menyentuh dadaku perlahan dan merasakan sakit disana. Aku menghembuskan nafas pelan, dan menyadari tenggorokanku ikutan sakit.

Aku berjalan sambil menundukkan kepalaku dan secara tidak sadar aku sudah memencet tombol lift. Aku menghembuskan nafas lagi dan mulai merencanakan akan kemana aku sekarang.

Tujuanku setiap hari adalah studio Teddy hyung, dan sekarang aku tidak bisa berada disana. Apa yang harus aku lakukan?

Pintu lift pun terbuka dan aku segera masuk kedalamnya, melihat deretan tombol bertuliskan angka dan menimang-nimang mana angka yang akan aku pilih. Akupun memencet tombol lantai paling atas. Atap, yah mungkin pemandangan gedung-gedung yang menjengkelkan bisa menjernihkan kepalaku.

Aku terdiam di lift sambil memperhatikan sepatuku. Mengapa lift ini bergerak sangat lambat? Ini menjadikanku semakin sesak diruangan sempit seperti ini.

TING!

Aku mendongakkan kepalaku dan menyangka aku sudah berada ditempat tujuan, tapi yang kulihat adalah Bom noona menatapku sambil meminum air dari botol minumnya. Diapun melangkah masuk dan mengambil jarak denganku.

“Jiyong-ah, jangan mendekat oke? Tadi Ssabu-nim memberikanku latihan yang sangat banyak karena dia mengira aku memakan jagung. Padahal hari ini aku tidak makan satupun! Aku sedikit berkeringat sekarang, dan mungkin aku sangat bau. Yakss benar aku sangat bau!”

Aku menatap Bom noona yang sedang menciumi dirinya sendiri, aku bahkan sama sekali tidak punya rencana untuk mendekatinya. Bom noona sekarang mulai menceritakan banyak hal seperti biasanya.

Biasanya aku sangat tertarik dengan ceritanya dan selalu meledeknya apabila ceritanya tidak masuk akal. Tapi sekarang aku sama sekali tidak punya tenaga dan dadaku merasa sangat sesak.

“ya, Jiyong-ah! Kau kenapa?”

Dia mulai mendekatiku, dan menundukkan mukanya untuk melihat wajahku. Oh ayolah baru saja berapa menit yang lalu dia bilang tidak boleh mendekatinya, sekarang malah dia yang mendekatiku.

“Jiyong, kalau kau ada masalah, cerita sama noona. Aku yakin aku bisa menyelesaikan masalahmu” noona tersenyum dan mulai menceritakan berbagai masalah yag berhasil dipecahkan dan mulai menamai dirinya sebagai detektif Bom.

Apakah aku harus menceritakannya kepada noona? Setidaknya bebanku akan hilang sedikit bila aku menceritakannya.

Dia mulai menggoyangkan tanganku dan mulai membujukku untuk menceritakan masalahku. Dan dia mulai memperlambat gerakannya saat aku menatapnya.

“noona, apakah aku seburuk itu?”

Ya, apakah aku seburuk itu sampai-sampai Nayoung tidak pernah melirikku? Apakah aku seburuk itu sampai-sampai Nayoung selalu canggung didekatku?

“eh?”

Noona sekarang mulai mengerjapkan matanya dan tampak kebingungan. Apakah pertanyaanku seberat itu?

“menurutmu aku seperti apa?”

Aku cepat-cepat mengubah pertanyaanku sebelum dia mulai menanyakan hal-hal aneh kepadaku. Aku melihatnya sedang berfikir dan menjentikkan jarinya.

“kau terlihat seperti anak laki-laki”

“m, maksudmu?”

“ya! Kau terlihat seperti anak lelaki”

Aku mengerjapkan mataku dan mulai melihat noona yang sangat bangga dengan jawabannya. “maksudmu aku terlihat sebagai bocah lelaki bukannya pria?”

Aku mengucapkan kata-kata itu lambat-lambat dan mulai menyadari maksud noona. Noona menganggukan kepalanya dan mulai menceritakan betapa kekanak-kanakannya aku.

Alu menatap bayanganku di cermin lift, dan tertawa miris. Mungkin ini alasan mengapa aku tidak bisa dekat dengannya, kekanakan. Aku menolehkan kepalaku kearah noona yang sekarang mulai menceritakan betapa menyebalkannya Ssabu-nim karena dia disuruh menghapus semua kutek yang ada di kukunya.

Ternyata bercerita kepada noona malah menambah bebanku. Liftpun terbuka dan aku segera keluar dari lift, aku mendengar noona berteriak memanggilku dan masih menanyakan keadaanku.

Aku menghiraukannya karena dia menambah beban di dadaku, dasar payah. Aku berjalan kearah pagar pembatas dan merasakan angin menerpa wajahku lembut, tidak kencang seperti biasanya.

Kursi? Memangnya ada kursi berjemur disini? Aku tersenyum melihat beberapa kursi berjemur berderet rapih disebelah sana. aku melangkahkan kakiku kearah sana dan memposisikan tubuhku dengan nyaman, dan mulai memasang earphone dikupingku. Sepertinya aku akan tidur disini sebentar.

—-

 

Gahh! Tidak bisakah aku tidur dengan tenang sebentar. Aku mulai terbangun saat mendengar suara kunyahan dan suara musik memasuki indra pendengaranku. Baiklah pelaku kedua yang mengganggu hidupku adalah Seungri, apa yang dia lakukan?

“oh hyung! Kau sudah bangun?”

Aku menatapnya yang sedang sibuk dengan iphone nya, dia memencet-mencet tombol iphonenya garang dan mengunyah keripik di mulutnya dengan perlahan.

Aku tebak dia sedang main taptap sekarang.

“YEAAY, hyung lihaaat, aku peringkat kesepuluh duniaa!! Aku harus men-capturenya”

Dia mulai asik dengan iphone nya dan mulai mengunyah keripiknya dengan normal. Dia menaruh iphonenya di meja dan mulai memakan keripiknya sambil melihatku.

“apa yang kau lakukan disini?”

“menunggui hyung bangun”

Sial, bukan jawaban itu yang aku inginkan. Aku mulai menyadari earphone dikupingku hilang bersama hp ku.

“Seungri, kau lihat iphone ku?”

“itu”

Dia menunjuk iphone yang sejak tadi dia mainkan, aku menghembuskan nafas kesal dan mengambil iphoneku. Baiklah batreku tinggal 4% sekarang.

“mengapa kau pake iphoneku?”

“karena batreku habis”

Dia mengedikkan bahunya santai, sambil mendesah kecewa bahwa keripiknya sudah habis.

“Seungri itu bukan jawaban yang aku inginkan, dan mengapa banyak sampah bertebaran disini?”

“baik-baik aku akan membersihkannya”

Seungri bangun dari duduknya dan mulai memunguti sampah-sampah yang bertebaran disekelilingnya. Kadang-kadang dia bisa sangat menjengkelkan. Aku menghembuskan nafas kesal dan mulai mendelik kearahnya.

“kenapa kau berada disini? Kenapa kau memakai iphoneku?”

“tadikan sudah kujawab hyung”

“Seunghyun!”

Baiklah kata-kata itu sangat ampuh. Seungri tau jika aku memanggilnya dengan panggilan ‘Seunghyun’ dia tahu aku sangat serius.

“ba, baiklah. Tadi beberapa jam yang lalu Bom noona mengirimkanku sms yang mengatakan kau mau bunuh diri..”

“hah?!”

“hyung, dengarkan aku dulu”

“ba.. baiklah lanjutkan”

Dia mulai memposisikan duduknya dan menatap mataku, dia menghembuskan nafas berat seakan-akan ceritanya akan sangat menyakitkan.

“karena mendengar hal itu aku segera berlari ke sini dan mendapati kau tidur bukannya bunuh diri, dan aku tahu bahwa noona membual. Jadi aku menungguimu disini sambil memainkan iphone ku dan aku tahu kau tidur akan sangat lama, jadinya aku turun kebawah untuk membeli snack di mini market. Aku kesini lagi dan mulai bermain taptap, karena itu batreku habis dan aku kebawah untuk men charge nya dan aku kesini lagi dan aku bosan. Jadi aku meminjam iphonemu dan mulai bermain taptap sampai kau bangun. Selesai”

Aku menatapnya tanpa berkedip, kenapa dia tidak langsung turun saja saat mengetahui bahwa noona membual? Ayolah mengapa Bom mengira aku akan bunuh diri? Dasar bodoh.

“ah ya, sepertinya Bom noona juga menceritakannya kepada Seunghyun hyung, Youngbae hyung, dan Daesung hyung. Kau mau tahu kenapa aku mengetahuinya? Karena mereka meng sms mu tadi!”

“kau membuka sms ku?”

“yap!”

“berani sekali kau!”

“hyung, itu bukan salah ku, salah sendiri mengapa kau tidak mengunci iphonemu. Lagipula itu sms dari para member, jadi tidak masalah aku membukanya”

Aku mulai mengecek iphoneku, dan benar saja ada sms dari mereka. Mereka menanyakan keadaanku dan bodohnya Seunghyun hyung mengatakan tidak memaafkan ku kalau aku bunuh diri. Aku tertawa kecil melihat sms dari mereka.

“syukurlaah..” kata Seungri.

Aku melihat kearah Seungri yang sedang tersenyum sanagt bahagia sekarang. Ada apa dengannya?

“ada apa?”

“akhirnya kau tertawa hyung, sejak tadi kau hanya memarahiku dengan kening yang berkerut. Dan sekarang kau tertawa. Baiklah ceritakan masalahmu hyung”

Seungri menatap ku penuh harap, dan mulai mengatakan jika ada masalah cerita saja kepadanya. Lah? Mengapa dia tahu kalu aku punya masalah, bukannya dia tahu noona hanya membual.

“hei hyung, sejak tadi kau tidur kau mengerutkan keningmu, itu terlihat sangat menyeramkan. Orang yang tidur seperti itu jika punya masalah sajakan?”

“ayolah, itu karena aku jarang tidur. Bukannya noona membual bahwa aku ingin bunuh diri? Jadi mungkin dia juga membual aku punya masalah. Aku hanya tidur disini karena anginnya sejuk. Sudah sana kau turun”

“menurutku kau tidak seburuk itu hyung. Penampilanmu oke, wajahmu tidak buruk-buruk amat, daaan sikapmu yah memang sedikit menjengkelkan tapi kalau kau di dekat wanita sangat gentleman.”

Aku terdiam mendengar perkataan Seungri, apa yang dia katakan?

“apa maksudmu? Mengapa kau bicara seperti itu?”

“Bom noona yang mengatakannya padaku, bahwa kau menanyakan ‘apakah aku seburuk itu?’ kepadanya. Menurutku kau tidak buruk hyung, serius!”

Baiklah terimakasih kepada Bom noona yang tanpa persetujuanku menceritakan hal ini kepada Seungri, dasar bodoh.

“ayolah, itu tidak ada maksud apa-apa”

“hyung, kau ada masalah dengan wanita bukan? Kalau kau menanyakan keburukan berarti tentang wajah, sikap, dan penampilan. Dan biasanya yang suka menilai dari segi itu hanya wanita. Ayo ceritakan, siapa wanita sialan yang menolakmu”

Oh ya, aku lupa, terkadang Seungri bisa sangat pintar, walaupun terkesan sok tau. Aku menimang-nimang, haruskah bercerita kepada Seungri?

“hyung, aku tahu banyak masalah tentang wanita. Jadi jangan sungkan-sungkan bercerita kepadaku”

Aku melihat kearah gedung-gedung yang memenuhi pandanganku. Haruskah? Haruskah aku bercerita kepada Seungri. Bukannya dia anak yang ‘comel’? aku menatap ke arahnya yang sekarang sedang membual betapa hebatnya dia.

Waktu itu Daesung pernah curhat ke Youngbae dan Daesung merasa sangat senang akan hal itu. Youngbae, dia sahabatku, mungkin dia memang ‘tempat’ yang pantas untuk menumpahkan semua isi hati.

Seungri sekarang menatapku dengan pandangan penuh harap. Apa yang harus aku katakan padanya?

“Seungri”

“ye hyung?”

“aku hanya merasa frustasi karena belum diberikan kerjaan berarti oleh Yang sajangnim, bukan masalah wanita. Aku serius, jangan menatapku seperti itu”

Seungri memperhatikan ku sekali lagi dan mengalihkan pandangannya kepada gedung-gedung.

“kau bohong hyung, apa hubungannya masalah album dengan pertanyaan seberapa buruknya dirimu?”

“aku hanya berfikir, apa aku seburuk itu sampai Yang sajangnim belum memberiku kerjaan? Bukannya selama ini pekerjaan yang aku kerjakan terlampau benar dan bisa dikatakan sukses? Aku hanya bingung, kita sudah hiatus berbulan-bulan tapi belum juga dapat kerjaan”

Entah mengapa ocehan itu keluar saja dari bibirku, dan setelah kupikir-pikir memang benar. Mungkin kerjaan adalah sebagian dari alasan mengapa dadaku terasa sesak. Setidaknya aku sudah bicara jujur kepada Seungri.

Seungri terdiam lama meresapi setiap kata-kataku dan mulai berfikir aku serius dengan kata-kataku. Dia menepuk bahuku pelan dan tersenyum.

“kau selalu melakukannya dengan benar kok hyung, mungkin Yang sajangnim sedang memikirkan sesuatu. Huh, kupikir kau mulai memikirkan wanita, ternyata otakmu tetap saja.”

Aku tertawa kecil mendengar nasihat-nasihat yang dilontarkan Seungri padaku. Ya, sang maknae sudah besar sekarang tapi masih saja aku dan yang lain memperlakukannya seperti anak kecil.

“yasudah sana kau turun, aku masih ingin disini dan tidak mau di ganggu, sekalian bawa sampah-sampahmu ini. Dan bilang kepada member yang lain aku baik-baik saja”

“oh my god hyung, aku sudah berjam-jam menungguimu bangun dan berakhir dengan pengusiran? Dasar.”

Seungri mengambil kantong plastik yang berisi sampah dan mulai berjalan keluar, aku masih mendengarnya menggurutu soal sikapku yang dianggapnya keterlaluan itu.

“Seungri-ah”

Seungri berhenti dan membalikkan badannya ke arahku, menunggu jawaban.

“gomawo”

“eh?”

“terimakasih sudah memperhatikanku”

Seungri mendengus geli dan segera berlari kepintu keluar. Setidaknya masih ada yang memperhatikanku di dunia ini.

-TBC-