rilblood 3RILBLOOD

Part 4-Your Side in my View

Author: Choi HyoRin

Genre : Romance, Dark Fantasy

Rating : Untuk saat ini masih bisa dibaca segala umur. Tapi nggak tahu untuk sequelnya😛

Twitter            : @ndiafirdaus

Cast:    G-DRAGON

TOP

AHRI CAROLINE LAU/ CAROLINE LAU

TEDDY PARK

TAEYANG

DAESUNG

SEUNGRI

HENRY LAU SUJU-M

2NE1 MEMBER

Disclaim: I’m Newbie Author  but This FF 100% belong to me. FRESH FROM MY BRAIN. SO, DON’T BE A PLAGIATOR. Untuk karakter dan umur, dibuat agak berbeda😀

*G-DRAGON’S POV*

“AKU BUTUH WAKTU PRIBADIKU BERSAMA TEDDY.” Kata-katanya seperti menegaskan bahwa dia sedang tak ingin di ganggu. Baiklah jika itu yang dia mau. Toh dia hanya pergi bersama Teddy, bukan orang lain.

“Baiklah, terserah saja. Aku akan bermain dengan Minzy,” atau lebih tepat mencari informasi dari Minzy.

Aku melangkahkan kakiku gontai. Memang dosa jika aku berprasangka buruk kepada Teddy. Tapi hati kecilku mengatakan mereka sedang merencanakan sesuatu. Dan rencana itu disembunyikan dibelakangku. Ah, kita liat saja nanti.

“Oppa!” Minzy memukul pundakku. Aku tersenyum lemah. “Hmm, waeyo?”

“Ani, aku hanya capek. Pegawai barumu itu sudah berapa hari bekerja disini?”

“Belum satu minggu, kenapa?”

“Apa dia imigran gelap?” G-dragon dan Minzy terkekeh, “apa dia dari luar kota?”

“Iya, dia dari seoul, tapi dia asli kanada. Kenapa sih kau bertanya terus oppa? Kau naksir dia?” Minzy mendekatkan mukanya. Aku  langsung meneloyor keningnya.

“Kau kan tau, kalau typeku itu sepertimu” Ucapku menggodanya.

“Huuuulllll” Dia berteriak tepat di kupingku. (‘hull’ aku nggak tau artinya. Tapi kalo sering liat 2ne1tv, mereka sering nyebutin itu) “Jika aku tipemu, belikan aku ponsel baru.”

“Memang kau mau yang seperti apa?”

“Yang seperti ini..” dia menunjukkan gambar dari Koran. Ah, ponsel ini.

“Baiklah, nanti aku belikan.”

“Yang warna hijau ya oppa,” CL meneriakinya dari dapur, Minzy langsung saja meninggalkanku, “Oppa aku kedapur dulu.”

Ah, dia sudah pergi. Aku kan belum tanya-tanya lebih mendalam. Aku mengedarkan mata ke sekitar bar, entah mengapa aku merasa sedang diawasi. Ah, biarlah, mungkin mereka melihat ketampananku. Ah, seungri!! Aku ingat, dia kan punya banyak teman, pasti dia punya seseorang yang membantuku.

“Hi, maaf V.I tak bisa mengangkat telepon, jika ada pesan kau bisa berbicara setelah nada *beep*” rekaman voicemailnya membuatku geram. Dia selalu saja tak ada jika aku membutuhkannya. Bertaruh, pasti dia sedang ada kencan.

Aku tak habis pikir, mengapa Teddy membawa pergi Caroline? Jika dia ingin bicara, mengapa tak dibicarakan bertiga? Lalu Caroline itu sebenarnya apa? Apakah dia hanya cenayang yang biasa kutemui? Ataukah dia tameng? Tapi akan sangat bagus jika dia tameng. Memiliki Teddy dan Caroline di pihakku jelas menguntungkan. Tapi, jika dia hanya cenayangpun itu juga menguntungkanku. Menambah koleksi.

“G-Dragon ssi, apakah kau menginginkan sesuatu?”. Sial CL membuatku kaget saja.

“Oh, ne. Rilblood satu. Ehmm, CL bisakah kau menelpon bossmu untuk menyuruhnya segera pulang? Apa dia ingin membuatku membusuk disini?”

CL mengernyit, “pulang? Memang dia pergi kemana?”

“Entahlah, dia pergi bersama pegawai barumu itu.” Aku mengangkat bahu berlagak tak perduli

Mwo? Caroline?! Yang benar saja.” aku dapat melihat sorot mata kecemburuan. Dia tersungut-sungut saat berjalan ke meja telepon, aku terus menatapnya, penasaran dengan apa yang dia katakana kepada Teddy.

“Dia bilang dia sudah dekat. Jika kau ingin pulang, pulanglah.”

Apa dia bilang? Pulang? Jelas-jelas aku menunggunya disini untuk mendengarkan penjelasannya tentang Caroline, bukannya segera pulang malah mengusirku.

“Ani, aku akan menunggunya disini.”

Seseorang menepuk pundakku, “Hei, maaf menunggu lama. Ternyata kau masih disini.”

“Hmm, apa yang kau bicarakan?” Aku melirik Caroline, dia sudah berlalu menuju dapur.

“Yah, aku bertanya banyak hal tentang kemampuannya. Dia..”

“Kita kan bisa membicarakan ini bertiga. Wae?” Dia sepertinya kaget aku

mencurigainya. Dia membelalakkan mata tak percaya, lalu tertawa.

“Kau sedang mengintograsiku? Kau sedang mencurigaiku sekarang?” Aku tetap diam, Teddy terkekeh, “demi darah yang kadaluarsa, hey bro, tidak ada konspirasi dibelakangmu! Aku tak menginginkan tahtamu, tenang saja.”

Aku menghela napas, seharusnya aku tidak boleh berpikiran seperti itu. Lagipula kita sudah bersahabat sejak lama. “Mianhae, aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya was-was.” Jawabku sekenanya.

Dia tersenyum lagi, “Dia hanya cenayang biasa. Jadi, tak ada yang special. Lepaskan saja dia.”

“Tidak, jika dia cenayang biasa sekalipun aku tak akan melepaskannya.” Aku menunggu reaksinya, karena diam aku melanjutkan argumenku, ”dia memiliki bakat yang berbeda dari cenayang yang aku punya. Itu sangat membantuku.”

“Apa maksudmu?” Teddy mengambil kursi dan duduk didepanku.

“Koleksi. Aku tak pernah punya cenayang seperti dia. Mungkin saja dia bisa menjadi prajurit barisan depan.”

Teddy hanya diam. Wajahnya tak berekspresi. Lalu dia berlalu masuk kedalam bar dan muncul kembali dengan celemek kebanggaanya. “Pulanglah, kau perlu istirahat atau wajah tampanmu tak akan kembali mulus. Lihat saja dahimu masih ada bekas luka.”

“Baiklah, jika ada apa-apa kabari aku”

“Aku selalu menomor satukanmu GD-ssi, kau tahu itu”

Yah, dia benar, tak seharusnya aku mencurigainya seperti itu. Aku selalu nomor satu untuknya.

*CAROLINE’S POV*

            PRRANGG!

“CAROLINE LAU!! Sudah berapa kali kau memecahkan piring hah? Tak bisakah tanganmu lebih berhati-hati? Kau mau membuat cafe ini rugi?!” CL meradang. Aish, baiklah ini piring kelima yang aku pecahkan. Demi Tuhan, aku sama sekali tak konsen gara-gara perkataan Teddy tadi.

“Maaf, maaf aku agak pusing, sepertinya ini dam…” Aku membungkuk untuk meminta maaf.

Mworago? Manja sekali kau. Kau berharap mendapatkan waktu istirahat lebih lama? Jangan mentang-mentang kau dekat dengan Teddy oppa  kau bisa seenaknya. Berhenti menggodanya”

Apa dia bilang? Dekat dengan Teddy?  Lalu dia juga bilang aku menggodanya? Dia cemburu? Jika dia cemburu seharusnya tak usah dibawa ke dalam pekerjaan. Rasanya aku ingin berteriak didepan mukanya. Aku tahu aku salah, tapi aku juga tak berniat memecahkan piring. Memecahkan piring sama dengan memotong gajiku!

“Menggoda? Jadi kau cemburu? Bisakah kau tak membawa perasaan cemburumu dalam pekerjaan? Tolong bersikaplah profesional.”

“Profesional? Aku seniormu, jangan membicarakan profesionalitas denganku pegawai baru!” Oh, beruntunglah aku mempunyai bakat membaca pikiran orang lain. Saat betengkar seperti ini, otakku lebih maju selangkah darinya.

“Jika kau pegawai senior, seharusnya kau tahu tepatnya apa profesionalisme itu bukan? Atau aku perlu mengajarimu supaya wawasanmu lebih luas?” aku benar-benar tidak tahan lagi.

Tanganku mencengkeram tangannya sebelum dia melayangkan tamparan di pipiku. Kali ini aku benar-benar beruntung punya bakat seperti ini. “JDAK!”. Kami sama-sama menoleh ke arah suara. Teddy sudah berdiri didepan pintu sambil membawa pisau daging. Dan dia memukulkan gagangnya ke meja agar membuat kami berhenti berkelahi.

“CL-ssi dan Carol-ssi, demi Tuhan ini bukan sasana tinju. Jika ingin adu otot bisakah setelah jam bekerja selesai? Kau tahu kan pelangganku diluar sana menunggu untuk diberi makan?!”

“Dia, dia memecahkan piring lagi.”

*AUTHOR’S POV*

“Dia, dia memecahkan piring lagi.” CL memulai peperangan kembali.

“Aku tahu aku salah,tapi dia tak berhak memarahiku dan memanggilku wanita penggoda. Dia bahkan bukan bosku!” Caroline mendorong bahu CL. Teddy mengernyit.

“Cukup!! Carol, kau benar benar ingin membuatku rugi? Ini hari kelima dan kau memecahkan 5 piring. Kau berniat menghabiskan stok piringku?”

Perkataan Teddy disambut senyum kemenangan oleh CL, tapi senyum CL pudar seketika saat Teddy berkata, “Carol, mulai sekarang menjauhlah dari tempat cuci piring. Kau bertugas mengantar pesanan saja.”

“Se..sebentar, lalu jika dia mengantar pesanan, siapa yang mencuci piring?” CL sama sekali tak berani menerka apa yang akan dikatakan Teddy.

“Tentu saja kau sayang, kau tadi bilang jika dia terus memecahkan piring. Kau tahu jika dia terus melakukan itu aku bisa rugi.”

“Tapi…” Teddy segera menutup bibir CL dengan telunjuknya. Caroline hanya memutar bola matanya. Ugh…

“Mengalahlah sejenak, demi diriku. Hmm?” Teddy membelai pipi CL, runtuh sudah rasa marahnya.

CL menghela napas berat, “Baiklah, tapi janji ini hanya sementara.”

“Iya, aku akan mencarikan pegawai tambahan agar kau tak terus terusan berkutat di tempat cuci piring ini. Mana mungkin aku membiarkanmu melakukan ini terus menerus.” Kali ini Teddy  menggenggam tangan CL erat.

Caroline yang sudah berada diujung pintu memekik, “Oi kalian yang disana, apakah kalian sedang bermain drama? Bisakah aku pulang? Sepertinya aku ingin muntah.” Teddy melayangkan tatapan membunuh kearahnya dan mengisyaratkan agar Caroline keluar.

Caroline menyambar mantel yang dia gantung dan menghampiri Minzy yang berjuang sendirian merapikan tumpukan piring.

“Hei, sini aku bantu.” Caroline segera menyambar tumpukan piring yang dipegangnya. Tapi Minzy kembali merebutnya.

“Sudah, tak usah. Pulanglah. Kau perlu istirahat Carol. Lukamu kan belum kering,”

“Mana bisa kau membiarkanmu bekerja sendirian. Aku selalu pulang jam setengah 11.” Carol merebut piringnya kembali. Tapi Minzy merebutnya dan meletakkannya di atas meja.

“Kan memang cafe ini tutup jam setengah 11.”

“Tapi pegawai tidak boleh pulang jam 11, pegawai harus emmbersihkan café dulu, bukankah begitu peraturannya? Aku tidak mau makan gaji buta.”

“ Sudahlah, aku tahu kau betengkar kan dengan CL gara-gara memecahkan piring kan? Jika aku menyerahkan piring-piring ini padamu, aku yakin bulan depan kau tak akan menerima gaji sepeserpun.” Carol memutar bola matanya, lalu memeluknya. “Kau memang yang terbaik Minzy. Dari semua kegilaan ini, lega rasanya mengenal orang sepertimu”

Minzy merengut, “Apa maksudmu?”

Ani, aku pulang dulu.” Minzy melambai tangannya bosan dan kembali berkutat dengan piringnya.

*CAROLINE’S POV*

Aku memacu mobil tuaku dengan kecepatan penuh menuju tempat laundry. Mobilku mengeluarkan suara sangat kasar, sampai-sampai orang-oreng menoleh saat berada di traffic light,”yah, mobil sialan berhenti membuatku malu.”

Lega rasanya mendapati laundy belum tutup, jika tidak pasti Henry besok tak akan berseragam saat pergi kesekolah. Sesudahnya aku segera berlari menuju minimarket diseberang jalan, TIIINNNN! Klakson memekakkan telinga mengagetkanku, “Bisakah kau memakai matamu saat menyebrang agasshi?!” Umpat sang pengemudi.

Aku hanya melambaikan tangan, tetapi sang pengemudi menyeringai menakutkan kearahku. Hmm, apakah aku mengenalnya? Rasanya sangat familiar. Sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja.

Setelah membeli susu dan ramen, aku menelpon rumah. Tapi tak ada jawaban, jangan-jangan Henry sudah tidur, aish mana aku lupa membawa kunci. Sial, sebaiknya aku segera pulang.

*AUTHOR’S POV*

Caroline menemukan banyak kejanggalan saat sampai didepan rumahnya. Dia menemukan tiang kayu kotak suratnya sudah patah dan teronggok begitu saja di tanah. Pintu depannya pun terbuka. Apa jangan-jangan telah tejadi perampokan? Jangan-jangan Henry disekap didalam.

Caroline masuk perlahan kedalam mobil untuk mengambil dongkrak mininya sebagai alat perlindungan diri. Dia mengendap-endap masuk kedalam, begitu shocknya dia karena darah sudah tercecer dimana mana. Perabotannyapun sudah tak karuan. Dia tak tahan lagi, dan akhirnya berteriak juga…

“HENRY……”. Tak ada jawaban.

“HENRYYY………..!!” Caroline berkeliling rumahnya. Kamar, dapur, halaman belakang, sampai kamar mandi, tapi tak ada tanda-tanda keberadaan Henry.

Andwae….! HENRYY!!” Caroline semakin panik karena tak ada tanda-tanda surat ataupun benda yang ditinggalkan si penculik. Tak banyak waktu Caroline segera menelpon cafe karena dia tak tahu nomer Minzy dan Teddy.

“Ayoo cepat angkat..ayo angkat” Caroline menghentak hentakkan kaki tak sabar.

“Yoboseo..” Suara disebarang sana terdengar bosan.

“Yoboseo…yoboseo Minzy kaukah itu??”

“Bukan aku CL, maaf cafe sudah tutup tolong telepon besok pagi saja, kamsahamnida“ CL berniat menutup teleponnya dan membuat Caroline berteriak histeris,

“CL!!! Jangan tutup telponnya jebal. Ini aku Caroline, tolong serahkan telponnya kepada Teddy!! Jebal, ini sangat penting!”

“Untuk apa kau mencari Teddy selarut ini. Dia sudah pulang!” Mungkin ini keterlaluan karena CL membohongi Caroline, tapi dia tak tahu jika Caroline tak bisa dibohongi.

“CL!! Jangan bohong padaku. Aku tahu  Teddy masih ada disana. Tolong ini sangat penting, ini menyangkut hidupku dan adikku!!”

“Itu hidupmu, mengapa kau harus membawa bawa Teddy dalam permasalahanmu? Kau kan…” Hening sejanak… terdengar sedikit keributan di ujung suara.

“Yoboseo…? Carol kaukah itu?” Suara CL tergantikan suara berat yang menenangkan hatinya.

“Teddy..ini aku. Teddy tolong aku! Adikku, dia.. hilang. Rumahku, darah, huuhuuhu berantakan. Adik..kkuu…tidak ada..diculik…tak ada pesan…” suaranya parau karena tangisnya pecah. Kata-katanya pun tidak tersusun dengan benar.

“Tenang, tenang. Aku akan kesana bersama Minzy. Kau tenang saja dulu..” Teddy mencoba menenangkannya. Tapi itu malah membuat Caroline geram.

“Aku tak bisa tenang!! Adikku…dia…” Tuutt..tutt..tut..sambungan teleponnya dipustus sepihak oleh Teddy.

“Huaaa…sialan..dia…sialan…jangan-jangan dia tak tahu rumahku..huaa…eomma…” Caroline terus menangis sampai Teddy dan Minzy mendapatinya terduduk disofa ruang tengah.

“Omo!! Apa yang terjadi??” Minzy mengedarkan pandangannya kepenjuru rumahnya yang berantakan. Dia melihat sesosok perempuan meringkuk dekat sofa, “Carol?”

Saat Caroline mendengar suara Minzy, dia mulai menangis lagi. Minzy segera memeluknya sedangkan Teddy melihat keadaan sekitar rumah Caroline. Setelah tenang, Caroline menceritakan apa yang terjadi saat dia pulang kepada Teddy dan Minzy.

“Apa kau merasa punya musuh? Atau adikmu?” Minzy bertanya dengan sangat hati-hati, takut jika Caroline berteriak histeris lagi.

Ani, aku tak punya. Adikku juga bukan tipe laki-laki yang suka berkelahi. Bahkan dia itu sering menghabiskan waktunya dirumah untuk belajar, dia jarang bermain keluar.”

Napas Caroline tersenggal-senggal. “Dia sangat baik,dia juga rajin supaya bisa masuk universitas dengan beasiswa, tapi mengapa…huaa..” Caroline kembali menangis.

“Aish, mengapa kau malah curhat seperti ahjumma!” PLETAK, Minzy menjitak kepala Teddy. “Mianhae minji~ya,aku hanya kesal”

“Apa kau tak berpapasan dengan orang mencurigakan sebelum masuk rumah? Karena jejak lumpur di kamar adikmu masih basah saat aku melihatnya tadi. Itu artinya..”

Saat Teddy berbicara, Caroline tak fokus dengan perkataannya. Dia memutar kembali otakknya kebelakang, apa dia mendapatkah clue sebelum sampai kerumah.

“Aku tak bertemu seseorang yang mencurigakan… kurasa begitu”. Caroline mulai bimbang.

“Kau yakin?” Pertanyaan Teddy membuat otaknya berputar semakin keras.

“Andwae…” Caroline mulai histeris lagi.

“Apa? Apa kau mengingat sesuatu? Cepat katakan,ppaliii…..! Uljimmaaaaa……!” Teddy mengguncang guncangkan bahunya.

“Yak, oppa! Dia itu shock! Mana mungkin kau menyuruhnya berhenti menangis!! Carol, tenang dulu. Lebih baik kau cepat ceritakan pada kami apa yang kau ingat. Lebih cepat lebih baik, jadi kami bisa membantumu secepatnya pula. Oppaku sangat hebat menangani kasus seperti ini…”

Caroline mengatur napasnya, “Kau ingat kejadian dimana aku menyelamatkan vampire sialan itu?”

“G-Dragon maksudmu?” Teddy pun segera memutar kembali ingatanya, secepat itu pula dia menangkap arah pembicaraan Caroline, “Jangan bilang jika mereka yang menculik adikmu? Mafia V Juicy itu?”

Caroline menangis histeris lagi, kali ini dia berteriak lebih keras, “TAPI MEMANG MEREKA PENCULIKNYA, AKU..AKU… BERPAPASAN DENGAN MEREKA SAAT AKAN KE MINI MARKET. MEREKA mereka…huhuhuu MEREKA MENYERINGAI JELEK KEARAHKU. Aku..aku…bodoh tak langsung mengingatnya…” Caroline menangis sejadinya. Ini membuat Minzy menangis juga. Teddy mau tak mau dibuat pusing oleh 2 yeoja yang sedang menangis didepannya.

“Aish, minji~ya mengapa kau ikut menangis? Yak, carol apa kau yakin?” Teddy menegaskan sekali lagi.

“10000000% yakin, perasaan seorang kakak itu sangat kuat oppa. Mereka…mereka mengendarai mobil dari arah rumahku. Pasti di dalam mobil itu ada adikku..” Karena iba, Teddy memeluk Minzy dan Caroline bak teletubies.

“Tenanglah, tapi aku tahu orang yang bisa membantumu..” Teddy melepaskan pelukan mereka dan mengeluarkan ponsel. Sepertinya dia akan menelpon seseorang.

“Yoboseo..? Bro, i need you now, i got some trouble here…”

~TBC~