some words i have to say

Some Words I have To Say

  • Author: Ariant Dini
  • Main Cast: Kwon Jiyong, Moon Geun Young
  • Support Cast: Choi Seunghyun, Dong Youngbae, Moon Chae Woon, Miranda Park (OC)
  • Genre: Romance, Song Fic
  • Rating : PG 13
  • Inspired from : Love The Way You Lie part two (Rihana feat eminem), Bad Boy (Big bang’s song)

Summary :

Gadis itu berteriak bahwa sebrengsek apapun aku dia tetap akan mencintaiku, sadarlah aku betapa bodohnya gadis ini, didunia mana cinta yang ia pikirkan sebenarnya aku juga tidak mengerti. ‘Aku mencintaimu, maafkanku’ aku seharusnya mengatakanya dengan benar tapi yang kulakukan adalah mengikatnya disini bersama keegoisanku.

Some Words I Have To Say

On the first page of our story
the future seemed so bright
then this thing turned out so evil
I don’t know why I’m still surprised

(Love the way You lie Part Two-Rihana feat Eminem)

Ketapan-ketapan sepatu yang terbatuk batuk beradu dengan lantai bumi lembab sehabis guyuran hujan. Bukan langkah terburu resah akibat basah sekaligus dingin yang mulai membuat tidak nyaman sekujur tubuh tanpa payung. Si wanita mengurut keningnya pelan sebelum langkah kakinya terhenti ketika matanya  menemukan tujuan dan pikiran berucap “akhirnya rumah”

Ia menekan kode rumah tanpa perlu menghitung dalam hati seperti biasanya. Ditendangnya  heelsnya sembarangan akibat tergesa untuk memastikan keadaan rumah seolah ia pergi tanpa mengunci pintu. Tapi tentu saja ia tau betul apa yang akan ia dapati didalam.

Si wanita tidak menggubris atau enggan mengeksplorasi seberapa banyak kekacauan yang mungkin terjadi, matanya dengan segera menemukan sumber masalah sedang teronggok seperti daging tanpa tulang, lunglai separuh mengigau di sofa favoritenya.     

“Berapa kali aku harus bilang hentikan kebiasaan minum mu itu, demi Tuhan Jiyong entah kau keras kepala atau memang bodoh,” teriakan lelah yang tak tergubris, ia menggeram frustasi memandang kekasihnya yang terlelap di sofa, dengan satu sentakan ia merebut botol alkohol dari tangan prianya.

Mata si pria menggeletar terbuka, terkejut dengan serangan tiba-tiba. Sikapnya berubah defensif berusaha berdiri meski tentu saja keseimbangannya bermasalah karena sedang mabuk.

“YAA, MOON GEUN YOUNG!!!,”

‘Dia membentakku lagi’, pikir si wanita kesal.

“ARGGHH WHAT THE!!!

‘Dan mengumpat’ Young memutar bola matanya.

Seandainya tidak ingat bahwa kekasihnya sedang mabuk Moon Geun Young pasti tidak bisa menahan makian yang hampir meledak ditenggorokannya dan bisa dipastikan seperti malam-malam sebelumnya mereka akan melewatkan malam ini dengan berbagai cacian dan teriakan.

Young menghela nafas ketika melihat Jiyong kembali ambruk saat berusaha merebut botolnya lagi,  mau bagaimana lagi, jika ia bertengkar dengan Jiyoung malam ini artinya ia sudah tidak waras.

Jika begini tak ada pilihan lain selain  memapah kekasihnya itu kekamar dan menguncinya rapat-rapat sebelum pria ini mulai gila.

“Kau akan terus beginikan, setidaknya sesekali dengarkan omonganku,” kata-katanya hanya berupa gumaman pasrah yang tidak lagi bernada kesal seperti biasanya. Tiga tahun sudah hubungan mereka berjalan tapi kekasihnya tak juga berubah.

Sebenarnya bukan hanya sekali keraguan tentang apa yang ia pertahankan kembali dipertanyakan,  bahkan dirinyapun tidak mengerti  entah kutukaan apa yang membuatnya jatuh cinta pada pria brengsek ini, ia bahkan hampir tidak ingat bagaimana awalnya mereka bertemu dan menjalin hubungan.

Ia mencintainya, itu saja, mencintai si brengsek Kwon Jiyong bahkan dengan segala kebiasaan buruknya, berpesta dan mabuk-mabukan hanyalah sebagian kecil dari sifatnya yang mau tidak mau harus ditoleransi gadis itu. padahal beberapa bulan lagi mereka akan menikah, tapi Jiyong masih saja tidak bisa merubah kebiasaan-kebiasaan buruknya.

Berita bagusnya adalah kedua orang tua Young menetap di Australia, jadi ia tidak perlu selalu bersandiwara bahwa tunangannya adalah pria baik-baik, Young tidak bisa membayangkan kalau keluarganya tau anaknya akan menikahi seorang brandalan seperti Jiyong.

Meski begitu, meski kemungkinan hampir sama tipisnya dengan untaian benang Moon Geun Young tetap melakukan semuanya untuk sedikit membenahi kekacauan hidup Jiyong, tinggal bersama adalah salah satunya, sudah setahun ini ia pindah kerumah Jiyong berharap bisa mengontrol pria itu, tapi tentu saja seperti yang terlihat pria ini tidak tercipta untuk dikontrol.

Informasi lainya tentang pria ini adalah,  ia seorang seorang aktor sekaligus penyanyi yang tidak ingin Young tahu ketenarannya, ia bahkan heran PHnya masih mau mempekerjakan artis yang suka bikin ulah seperti Jiyong.

Dengan gontai Young berjalan keluar lalu  menjatuhkan tubuhnya disofa, ia memandang frustasi keseluruh ruang tamu yang luar biasa berantakan, botol disana-sini, puting-puting rokok dan tidak diragukan lagi pecahan-pecahan vas bunga kristal yang baru saja ia beli minggu ini diacara pameran.  Young menepuk kepalanya dan menguatkan diri  lalu mulai mengambil sapu dan penyedot debu.

Hampir satu jam ia habiskan untuk membersihkan ruangan sendirian, ia kembali harus mendesah saat membersihkan pecahan vas barunya, entah sudah berapa vas yang dipecahkan Jiyong dalam minggu terakhir ini.

Setelah ruangan bersih ia menyemprotkan pengharum ruangan dengan kalap berharap bisa mengusir bau alkohol dan rokok yang tersisa, namun tiba-tiba suara jeritan ponselnya mengejutkannya.

Sebuah pesan dari Choi Seung Hyun.

Apa kau sudah tiba dirumah dengan selamat? Aku mengkhawatirkanmu seharusnya tadi kupaksa saja kau untuk diantarkan.

 

Seulas senyum terukir diwajah lelah Young, pesan singkat Seung Hyun membuatnya sedikit rileks. Choi Seunghyun adalah atasan sekaligus teman bagi Young dan sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya, Seunghyun dan Jiyong memang bukan saudara secara biologis, karena ayah Jiyong dan Ibu Seung Hyun menikah ketika mereka sudah sama-sama memiliki seorang putra dari pasangannya terdahulu.

Tapi meski begitu Young tak habis pikir bagaimana mungkin dua pria itu memiliki sifat yang berlawanan? Padahal mereka tinggal bersama dalam waktu yang lama.

“Dari semua hal, yang paling tidak mengerti adalah, kenapa hatiku tidak bisa jika bukan kau?” gumam Young sambil membenahi selimut Jiyong, Jiyong tidur dengan nafas teratur, wajahnya tampak tenang dan polos tidak tersisa jejak-jejak kebrengsekan perilaku buruknya, Kasar, pemabuk, bertemprament buruk, egois dan kekanak-kanakan Young bertanya dengan semua sifat Jiyong mengapa ia tidak pernah bisa meninggalkan pria itu, meski berkali-kali ia mencoba untuk lari namun tak pernah sekalipun ia tidak kembali. Pria mengerikan ini adalah satu-satunya baginya.

Young pergi kekamarnya sendiri, sebenarnya ia ingin tidur akhir-akhir ini kepalanya sering pusing karena kurang tidur, tapi ia teringat sketsa-sketsa nya yang menumpuk dalam tas, ia berdecak dan menyambar tasnya lalu pergi kemeja kerjanya dan melupakan soal tidur.

Young berkerja sebagai desainer di KWON ARNOLD’S sebuah perusahaan fashion yang sedang berkembang pesat di Korea, sebuah tempat yang membuatnya mengenal Jiyong. Perkenalan bukanlah hal penting bagi Young, meski tentu saja ingatan tentang pertemuan pertamanya dengan pria itu selalu memberikan sensai nostalgia yang tidak biasa dalam ingatanya.

Ia ingat betul bagaimana pertama kali mereka bertemu dalam kepanikan terjebak dalam lift, well sebenarnya hanya Young yang panik, ia meringkuk memeluk lututnya, lift adalah hal yang paling ditakutinya.

Tapi hari itu keterlambatannya dihari pertama membuatnya terpaksa menaiki lift dan sialnya ia terjebak dalam lift yang tiba-tiba macet bersama seorang pria berwajah angkuh yang menyebalkan namun siapa sangka simenyebalkan itu tiba-tiba memeluk dan menenangkanya, mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja. Dan sungguh ajaib seketika setelah kata itu diucapkan Young langsung mempercayainya, bahkan dengan tubuh asing yang memeluknya.

Ingatan itu menyisakan kesedihan dalam hatinya, entah sudah berapa lama rasanya ia merindukan sikap hangat Jiyong.

 

“even angels have their wicked schemes
and you take that to new extremes
but you’ll always be my hero
even though you’ve lost your mind

(Love The Way You Lie Part Two-Rihana Feat Eminem)

PRANGGG…………

Young tersentak, ketika sebuah gelas melayang dan menabrak dinding tepat di sampingnya, nafasnya memburu seirama dengan suara pecahan gelas yang jatuh berdenting kelantai, lambat-lambat ia menyadari rasa perih diwajahnya sebuah goresan akibat pecahan kaca yang baru saja dilempar oleh kekasihnya.

“AKU SUDAH BILANG JAUHI DIA!!!” teriak Jiyong, kemarahan membutakan hatinya membakar semua belas kasih yang tersisa dari hatinya yang sekeras baja. Sementara itu gadisnya tak bergeming bahkan ketika sebaris darah segar meleleh dari guratan di pipinya.

“YA MOON GEUN YOUNG, JAWAB AKU!!!”

“Geumanhae, Jiyong-ssi,” desis Young ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat, berusaha menelan amarahnya.

“Mwo? Jiyong-ssi katamu? Kau memanggilku apa? KAU PIKIR KA-

I SAID STOP IT!!!” kilatan amarah tak dapat lagi ditahan Young, meski begitu ia tetap berusaha merendahkan suaranya. “Apa yang kau pikirkan Jiyong-ah? Berapa tahun kita bersama dan kau masih saja mencurigaiku, sikapmu keterlaluan!”

“DIA MENYUKAIMU SI BRENGSEK CHOI SEUNGHYUN MENYUKAIMU, KAU BUKANYA TAK TAU!”

“KWON JIYONG!!!”

“APA?”

“KAU MENCURIGAIKU, DENGAN SAUDARA MU SENDIRI?”

“AKU MENUDUHMU!!!”

“KAU TIDAK WARAS,”

“KAU MILIKKU, MILIKKU, JANGAN MEMANDANG PRIA LAIN, JANGAN TERSENYUM PADA PRIA LAIN,” Jiyong mencengkeram kedua lengan Young erat, gadis itu meringis pastilah bahunya akan segera membiru.

“HENTIKAN KAU MENGERIKAN!!!”

“ARHGGGGGGHHHH!!!!!” Jiyong berteriak gusar dan mengepalkan tinjunya, ia tau ia tak ingin melukai kekasihnya karena itu diraihnyanya apa saja yang dapat ia jangkau untuk kembali melemparkan benda-benda itu.

Dan seperti malam-malam sebelumnya rumah itu dipenuhi dengan amarah, emosi dan teriakan-teriakan yang seolah tak akan berhenti, dan kali inipun gadis itu tau ia harus kembali mengalah. kalau begini dimana cinta yang kau pikir kau miliki Moon Geun Young?

Now there’s gravel in our voices
glass is shattered from the fight
in this tug of war you’ll always win
even when I’m right
(Love The Way You Lie-Rihana Feat Eminem)

        “Aku sudah bertemu dengan manager perencanaan majalah Style Times, kurasa ia tertarik dengan desain busana musim panas kita dan berniat menjadikanya Trending Issue di edisi terbaru mereka. Mereka juga bersedia untuk menghadiri presentasi, kita tinggal menyiapkan materinya,” Young memandang kearah tim kerjanya meminta pendapat.

“Baiklah, kalau begitu kami akan segera menyiapkan semuanya, beberapa sample sudah siap kita tinggal meminta persetujuan Direktur Choi,” sahut salah seorang angota tim Young

“Oke, kalau begitu, ada yang ditanyakan lagi?” tanya Young.

Teman-teman timnya saling berpandangan, mereka menggeleng dengan wajah yang tiba-tiba berubah segar, mereka sudah terlalu lelah bahkan hanya untuk menanyakan sesuatu, mereka harus kerja lembur beberapa hari ini ditambah pertemuan-pertemuan ekstra diluar jam kantor membuat mereka benar-benar seperti mesin pekerja.

Young masih membereskan berkas-berkasnya ditemani salah satu teman kerjanya yang hanya memandangnya enggan.

“Kuberi tau kau Youngbae, kalu kau tidak berniat pulang lebih baik kau cek bagian produksi dari pada sekedar menontonku,” katanya sambil menjejalkan tumpukan-tumpukan map ke tasnya.

“Enak saja, bekerja juga ada batasnya,” kata pria dengan tatanan rambut aneh yang dipanggil Young Bae itu.

“Aku mau mengatarmu pulang,” katanya lagi, sambil mengedip jail.

Young memutar bola matanya. “Aku bisa pulang sendiri, inikan masih jam delapan,” tolak Young. Sebenarnya Young tidak keberatan diantarkan pulang oleh Youngbae, toh dia adalah sepupu dekat Jiyong, namun tetap saja kekasihnya itu dikenal dengan temperamen yang meledak-ledak, malam ini Young  sudah teramat lelah ia malas bertengkar.

“Oh ayolah, aku tau kau tidak membawa mobil, aku sekalian ingin menemui Jiyong…, masa aku harus memohon untuk bertemu saudaraku sendiri,” bujuk Youngbae, Young menjitaknya sambil berdecak namun akhirnya ia  tetap mengizinkannya.

            Jiyong melirik kearah ponselnya, ini sudah hampir jam 8 tapi Young belum pulang, ia bergerak-gerak gelisah sudah dua hari gadis itu menginap dikantor, dan sekarang ponselnya tidak aktif, Jiyong menimbang-nimbang apakah sebaiknya ia menjemput tunangannya itu.

“Ini sudah keterlaluan apa saja yang dilakukannya, dia bahkan lebih sibuk dari pada aku,” gerutunya kesal, Jiyong tau sikapnya menyebalkan, dan terkadang bertengkar juga membuatnya  lelah, namun seberapa keras ia berusaha mengendalikan emosinya, tidak pernah berhasil.

Bahkan dengan ketakutan bahwa gadisnya mungkin saja meninggalkanya suatu hari akibat sikap buruknya, ia tetap tidak berkata manis pada gadis itu. Entah kenapa semua yang ingin dikatakanya selalu berbanding terbalik dengan yang diucapkanya, kata-kata seperti “maaf” “aku merindukanmu” “aku mencintaimu” ia tak pernah mengucapkanya, meski begitu Moon Geun Young selalu mencintainya, meski selalu berlinang air mata, gadis itu tidak pernah benar-benar meninggalkanya walau sebenarnya  ia tau seorang pria baik-baik seperti Choi Seung Hyun menyukainya, tetap saja yang dilihat Young hanyalah Jiyong. Dan Jiyong sadar benar itu.

Memikirkan Young dan saudara tirinya yang tergila-gila padanya membuat amarah Jiyong kembali terpompa, ia menyambar sebotol wine dan langsung meminumnya, tapi winenya tidak berkerja dengan baik, efeknya sama sekali tidak membuatnya tenang seperti biasanya, ia hendak menyambar kunci mobilnya namun tiba-tiba sebuah panggilan masuk berbunyi dari ponselnya.

 Miranda Park Is Calling

            Jiyong mendesah ketika bukan nama Moon Geun Young yang muncul dilayar ponselnya, meski begitu ia tidak bisa mengabaikan sipenelpon.

“Yeoboseo,” suara Miranda terdengar lirih, seolah hanya sebuah desahan diantara hujan.

“Yeah,”

“G-Dragon-ssi,” panggil Miranda masih dengan suara lirihnya.

“Waeire? Aku sedang sibuk kita bicara nanti,” kata Jiyong hendak mengakhiri telpon, namun suara tangisan tertahan Miranda yang tiba-tiba menghentikannya.

“Aku sedang ada didepan rumahmu,” katanya lagi.

Benar saja mantan kekasihnya itu sudah berada didepan rumahnya dengan keadaan yang sangat kacau, bahkan tanpa  heels seperti biasanya.

Miranda menatap pria yang pernah menjadi bagian hidupnya ini lalu tersenyum walau dengan kelopak mata yang membengkak akibat menangis berjam-jam. Jiyong baru ingin bertanya namun Miranda tiba-tiba memeluknya.

“Aku mencintaimu…Kembalilah padaku Jiyong,” katanya mempererat pelukanya.

 

 

Dong Youngbae menghentikan mobilnya tepat didepan pagar rumah Jiyong, memandang heran mobil lain yang terlebih dulu parkir di depannya, entah perasaanya saja namun rasanya ia mengenali siempunya mobil.

“Mobil siapa itu, kalian ada tamu lain ya?” oceh Youngbae, namun orang yang diajaknya berbicara bergeming, tak lagi menyahuti ocehanya, Youngbae menoleh kearah Young heran, mata gadis itu melebar, ketekejutan membuat wajah gadis itu terguncang matanya tak sekalipun berkedip, Youngbae mengikuti arah pandang Young. Dan mengertilah ia.

“Moon Geun Young,” gumam Youngbae

Sebuah air mata mengalir dari sudut mata gadis yang baru saja ia panggil.

“Kembali kekantor Youngbae-ah,” pintanya.

‘cause you feed me fables from your hand
with violent words and empty threats
and it’s sick that all these battles
are what keeps me satisfied’

(Love The Way You Lie Part Two-Rihana Feat Eminem)

 

Hujan kali ini begitu deras, bahkan hanya memandanginya dari dalam ruanganpun Young tau mungkin kali ini hujan bisa saja berubah menjadi badai, udara begitu dingin tapi Young tidak berniat mematikan AC-nya, matanya masih memandang Hujan ruangannya, mengamati tusukan-tusukan hujan di kaca jendelanya, sejenak ia berharap seandainya jarum-jarum hujan itu menembus kaca tebalnya dan menyerang tubuhnya, mungkin akan terasa sakit, mungkin ia akan terkoyak.

Cemburu ternyata begitu menyakitkan tidak perduli ia berusaha berpikir positif dan dewasa, namun cemburu adalah emosi yang begitu kuat dan dahsyat. Young tau hubungan masalalu kekasihnya dengan artis keturunan Rusia itu, Hubungan Jiyong dan Miranda Park sudah berakhir lima tahun yang lalu bahkan sebelum ia dan Jiyong bertemu, selama ini sepertinya Jiyong tidak pernah berhubungan dengan Miranda, mereka juga jarang bermain di drama yang sama, lalu apa?

Ia tidak mungkin salah lihat, ada berapa kemungkinan kekasihmu akan mencampakanmu lalu pergi dengan mantan kekasihnya? Young berpikir sejenak sebelum kemudian memutuskan.

Banyak ada banyak kemungkinan.

Young menggigit kuku-kuku jarinya kebiasaan yang selalu ia lakukan ketika ketakutan, pikiranya berkecamuk tidak keruan, bagaimana dengan pernikahannya yang tinggal beberapa bulan lagi? Apa yang harus ia lakukan jika Jiyong benar-benar berselingkuh? Sebulir air mata kembali menyeruak dibalik kelopaknya.

“Aku harus bagaimana,”

“Moon Geun Young,” sebuah suara disertai ketukan menghentikan pikiran buruk Young.

“Ya, Direktur aku disini,” katanya sambil berlari membukakan pintu.

Choi Seung Hyun tersenyum ia menenteng tiga kotak Pizza dan dua Cup Coffe ditangannya. “Aku dengar kau menginap lagi malam tadi,” katanya.

“Ah ya, aku perlu memastikan materi kita sempurna,” katanya berkilah, kau berbohong Moon Geun Young, kau bahkan tak menyentuh pekerjaanmu tadi malam yang kau lakukan hanya menangis. Pikir Young

Tampaknya Seung Hyun juga menyadari kebohongan Young. “Bertengkar lagi?” tanyanya sambil menyerahkan kopi kepada Young.

Young tersenyum hambar. “Sepertinya aku tidak bisa menyembunyikan apapun darimu,” kata Young.

“Kau dan Jiyong bertengkar bukanlah hal yang mengejutkan bagiku, tapi kali ini ada masalah apa sampai kau menangis semalaman,” kata Seung Hyun sembari menyerahkan sepotong Pizza

Young menggigit Pizzanya dengan gigitan besar. “Dasar tuan sok tau,” godanya.

“Kalau kau ingin tetap menutupinya, kau seharusnya bisa menyembunyikan matamu yang sebesar bola golf itu,” Seung Hyun kembali menggodanya, Young tertawa, astaga ia bahkan lupa soal bengkak.

“Ah ya, kurasa aku memang tidak berbakat berbohong,”

“Meski begitu kau sering berbohong,”

“Aku tidak tau kalau kebohonganku tidak berhasil, jadi selama ini kau pura-pura mempercayaiku, Direktur,”

“Aku hanya berjaga-jaga, terkadang aku senang membuat orang lain puas dengan usaha mereka walaupun aku tau mereka gagal,”

“Well, asal kau tidak menertawakanku saja,”

“Sebenarnya, aku sudah kenyang tertawa dibalik punggungmu,”

“Astaga yang benar saja,”  Young menyipitkan matanya berpura-pura ngambek, Seung Hyun menjejalkan sepotong Pizza lagi kemulut Young, Young tertawa. Semudah ini tertawa bersama Seung Hyun, tak perlu memaksakan diri dan perang urat setiap harinya, rasanya seperti bernapas, Young mengunyah pizzanya pelan-pelan menunduk tau matanya akan tertumbuk pada tusukan tajam mata Seung Hyun jika ia mendongak.

Haruskah memilih yang lebih mudah? Yang ia yakin akan membuatnya bahagia setiap waktu atau yang dicintainya? Tapi bukankah ia tak kan bahagia jika meninggalkan yang ia cintai?

Young kembali tertawa ketika lagi-lagi Seung Hyun menggodanya, ia tidak sadar ketika  derap langkah berat menerobos ruangannya dan seorang pria berteriak marah tiba-tiba. Kwon Jiyong.

“YAAA MOON GEUN YOUNG!!!”

Young dan Seung Hyun hampir tersedak mendengar Jiyong yang tiba-tiba masuk dan berteriak.

“INI YANG KAU BILANG BEKERJA!”

Young mendesah, pria ini adalah pria yang sama dengan pria yang memeluk wanita lain kemarin, dan sekarang ia datang mencari Young dengan membawa kembali semua amarahnya.

“Kwon Jiyong, dimana etikamu? Ini kantor kau tidak bisa seenaknya berteriak disini,” sahut Seunghyun.

“Tutup mulutmu, jangan bicara padaku,” Jiyong tampaknya benar-benar kehilangan kendalinya.

“Kau berada dkantorku, ikuti aturanku,” geram Seunghyun.

Jiyong tertawa, taawanya terdengar seperti beruang tersedak ydan tatapan mata merendahkanya benar-benar kentara.

“Kantormu? Sejak kapan Choi Seung Hyun memiliki Kwon Arnold’S? Jadi ibumu berhasil menghasut ayahku untuk memberikan perusahaan ini padamu?”

Mata Seunghyun terbelalak mendengar kata-kata Jiyong, amarah berkumpul dikapalanya, membentuk bom yang tiba-tiba meledak ketika mendengar ibunya direndahkan, satu tinjunya melayang kewajah adik tirinya. Tapi perkelahaian adalah hal biasa bagi Jiyong, satu pukulan dibalas satu.

“Geumanhae, geumanhae,” kata Young sambil menyeruak berussaha mengenhentikan kedua pria itu, Young memeluk Jiyong menariknya paksa dari Seunghyun.

“Kau baik-baik saja Oppa?” tanya Young khawatir pada Seung Hyun. Dan tentu saja menambah emosi Jiyong ia menarik lengan Young kasar dan menyeretnya.

“Kau bukan pria jika berbuat kasar pada wanita,” ujar Seung Hyun sambil menarik paksa tangan Jiyong yang mencengkeram lengan Young, sekali lagi sebuah pukulan mengenai pelipis Seung Hyun.

“KAU TULI KWON JIYONG, AKU BILANG  BERHENTI,”

“YAAA, INI YANG KAU LAKUKAN DIBELAKANGKU? BERSELINGKUH DENGAN ATASANMU?”

Sebuah pukulan lain melayang.

Tamparan itu tak seberapa, bahkan tak terasa sakit sedikitpun, tak ada bedanya dengan pukulan-pukulan lain, bahkan tak meninggalkan jejak sedikitpun diwajah Jiyong tak ada rona merah yang tertinggal, tidak diwajahnya.

Air mata Young mengalir tanpa ia sadari, apakah pria ini baru saja menuduhnya berselingkuh? Tidak kah ia salah dengar?

Seolah waktu membeku beberapa saat bahkan keheningan yang canggung tak mengubah keadaan, guyuran hujan adalah satu-satunya suara yang memenuhi telinga-telinga mereka.

Young menunduk berusaha menyembunyikan air matanya, ia mengurut keningnya berjaga-jaga kalau-kalau kepalanya bakal meledak, gadis itu berbalik meninggalkan dua pria yang masih menatapnya syok, langkah-langkah kaki Young yang semula perlahan bergerak lebih cepat ketika menyadari seseorang mengejarnya, entah Jiyong atau Seunghyun, ia tidak ingin melihat mereka berdua.

“Young,” Jiyong mengejar Young, menerobos derasnya Hujan yang menusuk kulitnya, ada apa dengan gadis itu? Bertanya-tanya Apakah ia sudah keterlaluan kali ini? Ia mempercepat langkahnya dan menjangkau Young dalam satu tarikan.

“LEPASKAN, LEPASKAN!” Jerit Young.

Guyuran hujan bahkan tidak dapat menyembunyikan luka Young, Jiyong bisa melihatnya dengan jelas di kedua mata kekasihnya namun ia mengabaikannya.

“Kenapa sikapmu begini? Menamparku lalu pergi? Kenapa kau menangis?

Bukan itu. Sungguh bukan itu yang ingin Jiyong katakan, “Apa aku terlalu kasar? Aku membuatmu terluka? Aku minta maaf, bolehkah aku memelukmu?” Tapi Jiyong kembali menelan semua kata-kata itu, yang dia lakukan hanya kembali membentak dan berteriak ketika Young bahkan tidak menjawabnya.

Seluruh tubuh Young menggigil bukan karena hujan dan cuaca dingin yang terus-terusan mengguyur mereka, namun sesuatu dihatinya yang bergejolak, seolah ada makhluk yang mencakar-cakar bagian dalam dirinya, sorot mata hangat dan pengertian yang selalu ia lakukan disetiap pertengkaran mereka kali ini berubah menjadi sorot mata asing yang penuh dengan sinisme.

“Kau bertanya kenapa aku menangis? Jangan membuatku tertawa G-Dragon,” tidak pernah, sekalipun tidak pernah gadis itu memanggilnya dengan sebutan itu, Jiyong tau bahwa Young tau hanya Miranda lah yang memanggilnya dengan sebutan itu.

Jiyong terbelalak kaget tubuhnya membeku, bahkan diantara derasnya hujanpun Jiyong dapat mendengar nada terluka disetiap suku kata yang diucapkan Young.

“Ada apa? Apa aku salah? Aku bisa menoleransi semuanya, berpesta, mabuk-mabukan, bertengkar dan berteriak setiap saat, aku bahkan tidak bermimpi untuk memiliki hubungan penuh cinta seperti pasangan lainya, pernahkah kau sekali saja mengatakan bahwa kau merindukanku? Atau sekali saja mengalah disaat kita bertengkar? Aku menoleransi semuanya karena aku mencintaimu, tapi apa yang kau lakukan? Berlari padaku dan meneriakiku bahwa aku berselingkuh sementara kau memeluk mantan kekasihmu dirumah yang aku tinggali?”

Tangan Jiyong beergerak, hatinya memerintahkanya untuk menyeka airmata gadis itu dan memeluknya, namun sama seperti sebelum-sebelumnya ia mengurungkanya.

“Ayo kita pulang,” lagi-lagi sebuah perintah, Kwon Jiyong bukan itu yang ada dihatimu.

“Kau mencintainya?” tanya Young. “Miranda Park. Kau ingin kembali padanya? Kita akan menikah beberapa bulan lagi Kwon Jiyong, KAU PIKIR PERNIKAHAN ITU LELUCON?”

“Batalkan saja,” bisik Jiyong. “Pernikahan kita batalkan saja,” Young menatapnya tidak percaya.

“Mwo?” Tubuh Young membeku, seolah seluruh bumi baru saja menyedotnya, pemahaman perlahan berkelebat dipikiranya, ia mengerti sekarang, Jiyong masih mencintai mantan kekasihnya. Itulah sebabnya ia tidak pernah berkata manis, tidak pernah perduli pada pernikahan, karena yang dicintai Kwon Jiyong adalah Miranda Park. Bukan Moon Geun Young.

“Arraseo,” gumam Young, ia kembali menunduk lalu berjalan dengan langkah-langkah beku, ia kehilangan seluruh indra perasanya sekarang, ia membekap mulutnya sendiri menahan tangisan dan jeritan disana dan terus berjalan meninggalkan Jiyong di dalam Hujan yang tak kunjung reda.

Just gonna stand there and watch me burn
but that’s all right because I like the way it hurts
just gonna stand there and hear me cry
but that’s all right because I love the way you lie
I love the way you lie
Oh, I love the way you lie

(Love The Way You Lie Part Two-Rihana Feat Eminem)

            Jiyong membuka matanya perlahan, sebenarnya ia sudah bangun berjam-jam yang lalu tapi ia memaksa matanya untuk tetap tertutup, setidaknya gelap lebih baik dari pada cahaya hampa.

Perlahan ia duduk di kasurnya berharap mendengar suara gemericik air dikamar mandi, aroma omelet dan secangkir kopi di dapur, atau teriakan seseorang yang memarahinya. Jiyong berjalan melongok kedapur, tapi tidak ada siapa-siapa, tidak ada seseorang dengan celemek peach lusuh dengan tangan penuh tepung seperti pagi-pagi sebelumnya, Jiyong putus asa, ia kembali berjalan kekamar gadis nya perlahan memutar tuas pintu berharap menemukan kekasihnya tertidur pulas di kasurnya, namun lagi-lagi ruangan itu kosong, bersih rapi seolah tak pernah disentuh. keheningan berteriak dibalik lemari-lemarinya yang tak lagi berisi pakaian-pakaian  wanita yang tergantung rapi, seolah tempat ini tak pernah terjamah sebelumnya.

Untuk pertama kalinya sejak ia dilahirkan sebuah perasaan yang begitu dahsyat mencengkeram hatinya, mengalirkan buliran-buliran air mata yang tidak pernah terjadi sebelumnya, perlahan Jiyong menjatuhkan dirinya bersandar pada tempat tidur, memegang dadanya sendiri menjaga hatinya agar tidak berantakan.

“Ada begitu banyak paparazzi diluar, apa sih yang mereka pikirkan, mengambil keuntungan dari kehidupan pribadi orang lain, ya Ampun dasar tidak berperasaan,” Moon Chae Woon mengibaskan gorden nya kesal, sudah seminggu semenjak ia di Korea, namun rumah adiknya ini masih saja sesak oleh wartawan.

“Chae Woon,”Chae Woon menoleh ketika Young memanggilnya dengan suara kosong yang hampa, ia mendesah, seberapa terluka sebenarnya adiknya itu, patah hati sudah benar-benar mengubahnya menjadi pribadi yang asing sekarang, kosong dan tanpa kehidupan seperti zombie. inilah sebabnya ia tidak ingin dipusingkan dengan masalah cinta dan pria, tidak ada yang bisa menduga bagaimana akhirnya.

“Kau baru bangun? Mau kubuatkan sesuatu?” tawarnya mengabaikan mata kosong adiknya yang membuatnya pilu.

“Wartawan lagi?” tanyanya datar, Chae Woon mengangguk. Young tidak banyak bereaksi ia tau sejak hubungannya dengan Jiyong berakhir ia menjadi most wanted oleh para wartawan-wartawan pengejar berita itu, meski begitu itu semua tak terlalu menggangunya, bahkan dengan berita Jiyong yang kembali pada mantan kekasinya Miranda Park tak banyak berefek pada Young.

“Hey…hey, are you ok?” tanyaChae Woon khawatir.

“Tidak apa-apa,” bisik Young, Chae Woon menatapnya sedih lalu memeluk adiknya itu erat, tak perlu menanyakan apapun tak perlu bicara apapun, ia hanya ingin menyangga adiknya, setidaknya ia tidak ingin jadi orang yang tidak berdaya saat ini.

Perlahan isakan Young terdengar diantara keheningan yang sedari tadi tak kunjung mencair, ia benci menjadi lemah, menangisi pria yang mencampakannya sepanjang waktu dan tampak begitu menyedihkan sungguh bukan Moon Geun Young, but she can’t help it. Manusia mungkin mudah menyembunyikan luka tapi bukan berarti menghilangkanya, dan bagi Young lukanya bertambah parah setiap waktunya bahkan pergerakan jam hanya sekedar hitungan angka baginya.

“Tidak pernah. Satu kalipun aku tidak pernah berpikir untuk meninggalkanya,” bisik Young disela isakannya, Chae Woon memeluknya lebih erat membelai rambut adiknya berharap sentuhanya dapat sedikit menenangkan Young..

“Dia bahkan tidak menjelaskan apa-apa padaku, ia membatalkan pernikahan kami dan mencampakanku, menyakitkan sekali rasanya mengetahui bahwa aku bukanlah wanita yang dicintainya, bahwa aku hanya tempat sementara untuk hatinya, dan lebih menyakitkan karena meski begitu aku tetap merindukanya,”Chae Woon membiarkan air matanya mengalir seiring dengan kesedihan adiknya.

Listen to me honey… let’s go out from here, back to our home and forget about that’s guy, forget about Korea and try to live happy, Australly won’t be bad choice, our parent’s will be understand huh?” pinta Chae Woon, Young terdiam bahkan jika ia berada di galaksi yang berbeda dengan pria itu ia yakin melupakan bukanlah hal yang mudah, tapi Young tidak bodoh, ia tau sedihpun ada batasnya setidaknya jika ia tidak mendengar sesuatu tentang Jiyong lagi, jika ia pergi ketempat dimana tidak ada kenangan sama sekali mungkin saja ia bisa kembali mengumpulkan sisa-sisa hatinya yang berantakan.

Young melepaskan pelukanya dan menatap kakaknya lalu mengangguk dalam.

I was too harsh that night

I didn’t know you would really leave

The words like “I’m sorry” is too difficult

For us that we take to the end

Because I’m ill tempered

We fight over stupid things numerous times a day

You take off crying. I look around and think

‘She’ll come back tomorrow, She’ll def call me first in the morning

(Bad Boy-Big Bang)

 

“Ini sudah satu bulan Jiyong-ah, kau menolak semua drama, kau tidak menyanyi dan membatalkan semua show, kalau begini kau bisa jatuh miskin,” oceh manager Oh. “Bermuram durja juga sama sekali tidak membantu. kenapa kau persulit hidupmu sendiri,”

“Pulanglah, aku sedang tidak ingin mendengar ocehanmu,” sahut Jiyong datar.

“Aigoo bocah ini, yaa kau harus segera mengadakan konnferensi press kau tau media mulai berspekulasi yang tidak-tidak tentang scandalmu, setidaknya temui para wartawan haus berita itu dan segera tutup mulut mereka,”

“Hyung, kau tau pintu keluar rumahkukan?”

“Astaga,” sungut manager Oh lagi, ia lalu memilih diam dan menegak sekaleng coke-nya, diam-diam manager Oh menatap Jiyong yang masih duduk bersandar di soofa dengan tangan yang sedari tadi memencet remot tv, entah sudah chanel keberapa sekarang, karena Jiyong tidak benar-benar menonton.

“Entah apa yang terjadi dengan kau, Young dan si aktres pirang itu, kau seharusnya tau siapa yang paling kau butuhkan” Jiyong tidak menoleh ketika mendengar perubahan nada managernya itu. “Terlepas dari kerja sama kita Jiyong-ah, aku ingin bicara sebagai Hyungmu,”

Jiyong masih tak bergeming.

“Aku memang tidak tau hubungan seperti apa yang pernah kau miliki dengan Nona Park, yang kutau adalah Moon Geun Young begitu mencintaimu Meski kau kasar, bodoh dan bertemperament buruk dia adalah gadis yang akan selalu disampingmu, karena itu aku tidak mengerti kenapa kau membatalkan pernikahan kalian,”

Benar Jiyong tau kata-kata managernya benar. Lama ia terdiam mengendalikan kesedihanya sendiri, tidak ada amarah seperti biasanya hanya sedih.

“Saat itu kami bertengkar, ia berteriak bahwa sebrengsek apapun aku dia tetap akan mencintaiku, sadarlah aku betapa bodohnya gadis ini, padahal semakin mencintaiku hanya akan semakin mengecewakanya dan ia bilang, mengecewakanpun tak apa, itu membuatku sedih dan marah karena itu aku menyuruhnya meninggalkanku,”

“Tapi kemudian aku bangun dipagi hari dan gadis itu benar-benar sudah pergi. Aku memang telah mencampakanya meski begitu aku tetap berharap ia hanya menganggap kata-kataku hanyalah luapan emosi sesaat, tapi ternyata kali ini ia bertindak cerdas dan meninggalkan sibrengsek ini,”

“Setiap hari kami bertengkar, setiap hari aku membuatnya frustasi tapi ia selalu tersenyum disampingku seolah membuang rasa bersalahku, bahkan ketika ia melihatku berpelukan dengan wanita lain ia tetap bertahan, mengapa ada gadis yang begitu bodoh seperti itu didunia, aku juga tidak mengerti. Dan semakin aku mencintainya aku semakin melukainya, aku marah melihatnya tertawa atau berkata manis dengan pria lain, marah jika tiba-tiba ia tidak memberiku kabar, dan itu semua membuatku berpikir jika tidak sekarang mungkin suatu hari nanti entah itu Choi Seunghyun atau pria lainnya yang dapat membuatnya aman, Young akan kabur dariku, meski begitu aku harus berbelas kasih setidaknya satu kali dalam hidupku, ia adalah gadis baik karena itu ia juga harus bertemu dan menikahi pria yang baik,”

Jiyong tersenyum, rasanya sedikit lebih nyaman ketika ia bisa mengatakan yang sebenarnya ia rasakan meski sebenarnya bukan pada manager Oh ia ingin membicarakanya.

“Aku sudah menduga kebodohanmu itu sudah kelewatan,” manager Oh membukan sekaleng minuman untuk Jiyong. “Dari pada melepaskanya dan menyakiti kalian berdua dengan asumsi akan ada pria baik untuk Young kenapa bukan kau saja yang berusaha mengubah watakmu? Astaga, Sebenarnya pagi ini Seunghyun datang menemuiku, dia meminta tolong padaku untuk mengatakan padamu, bahwa Moon Geun Young akan kembali ke Australli,” Jiyong tersentak mendengar kabar itu, ia tidak menyangka Young   bahkan tidak sudi berada dalam satu negara bersamanya.

“Dia mungkin tidak kembali lagi. Kau bukan anak kecil lagi Jiyong-ah pikirkanlah,” Manager Oh beranjak dari sofa dan pergi meninggalkan Jiyong yang masih terdiam.

Moon Geun Young menutup lemari pakaiannya perlahan, hari ini ia akan pulang kerumah orang tuanya di Australli, tapi ia hanya membawa beberapa lembar pakaian saja di ranselnya. Mungkin sedikit konyol dan berlebihan namun Young ingin meninggalkan semuanya disini, ia tidak ingin membawa kenangan apapun tentang Korea.

“Young-ya, kau yakin akan meninggalkan semua barangmu?” tanyaChae Woon, Young menangguk sambil tersenyum simpul. “Well, terserah kau saja. Omong-omong Choi seunghyun sedang menunggumu diruang tamu,”

“Aku akan segera turun,” jawab Young. Ia sudah tau Seunghyun pasti akan kembali membujuknya untuk tetap di Korea, Young bukanya tidak tau tentang perasaan pria itu kepadanya hanya saja saat ini rasanya ia cukup memperhatikan hatinya yang berantakan.

Ah seandainya saja hati dapat diatur, Seunghyun pastilah menjadi pilihan pertama Young.

Young menyempatkan diri mengambil sekotak susu untuk Seunghyun yang sedang menunggunya dengan seikat bunga.

“Entah sejak kapan bungan terlihat cantik,” puji Young ketika Seunghyun menyerahkan bunga padanya, namun raut wajah Seunghyun sama sekali tidak terpengaruh pada pujian gadis yang teramat dicintainya itu.

“Moon Geun Young please, you shouldn’t do this, hmm” pintanya, tatapan matanya yang tajam kini mencair berubah sendu dan sarat kesedihan. “Jangan Pergi,”

I have to go Oppa,” sahut Young lalu menunduk.

“Kau tau aku selalu mencintaimu kan, yeah ini memang bukan saat yang tepat untuk menyatakan perasaanku, sebenarnya tapi well-aku hanya… aku harus memastikan perasaanku tersampaikan dengan benar,”

Oppa, aku benar-benar minta maaf,” kata Young, ‘oh kenapa tidak bisa kau saja jadi pria yang kucintai?’ Sesalnya dalam hati.

Well,” Seunghyun terluka tentu saja, dia sedang ditolak dengan gadis yang sudah lama ia cintai, bagaimana mungkin ia tidak sakit hati. “Aku mengerti, but. Kau tau kehidupan akan terus berjalan bukan? Karena itu jika suatu hari nanti kau akan mencoba membuka hatimu lagi, aku-euhm kau tau aku ingin selalu jadi orang pertama,”

Young tersenyum. “Aku tidak ingin kau menyia-nyiakan waktumu untuk menungguku Oppa,” katanya sedih.

Choi Seunghyun mendesah, ia tau keadaan tidak akan berubah Young begitu mencintai Jiyong, mungkin ia salah bukan hanya Young yang harus belajar membuka hatinya kembali, karena jika gadis itu jatuh hati pada pria lain lagi mungkin saat itu hati Seunghyun tidak akan tertolong lagi, ini sungguh menyedihkan.

“You must be really love him, right,” ini bukan pertanyaan. Young terdiam, bahkan tanpa menyebutkan nama pun hatinya sudah terluka, ini adalah pembicaraan sensitif.

You should fine another girl also Oppa, the one who will give all of her heart for you too,”

“Aku tidak tau apakah ada yang seperti itu,” canda Seunghyun mencoba mencairkan suasana.

“Tentu, kau akan menemukan satu untukmu,” seperti sebuah janji, Young mengucapkanya dalam kata penuh keyakinan. “Aku mungkin akan iri setengah mati pada gadis itu nantinya,” tambahnya jujur, Seunghyun tertawa. Meski begitu hatinya masih tidak bisa menerima apa yang dikatakan Young.

“Kau akan mengantarkanku kan?”

“Tentu,”

“Aku tidak suka membayangkan kita tidak akan bertemu lagi,” Seunghyun membantu Young dan Chae Woon memasukan sedikit barang yang dibawa Young kedalam bagasi mobil, sementara itu Chae Woon berpura-pura ia tidak ada disitu dan memilih menyingkir, diam-diam ia berharap seandainya pria yang dicintai adiknnya adalah Choi Seunghyun dan bukanya si Brandalan G-Dragon itu.

“Kenapa tidak bisa?”

“Apa kau akan kembali?”

Young terdiam, ia benar ia bahkan tidak tau apakah ia akan kembali.

“Kau akan menjadi alasanku untuk kembali,” hibur Young, dan tentu saja membuat wajah Seunghyun merona sangat kontras dengan wajah antagonisnya.

“Aku takut aku akan mempercayai kata-katamu padahal kau hanya mengggodaku,” sungutnya.

“Aku selalu menyayangimu Oppa, aku tidak ingin hubungan kita berakhir buruk,” Seunhyun menunduk, inilah masalahnya. Yang paling membuatnya terluka adalah Young hanya menyayanginya seperti saudara laki-laki.

“Well, kurasa kita harus berangkat sekarang,”Chae Woon muncul dengan senyum lebar, seolah mereka hendak berpiknik dan bukanya perpisahan.

888

            She wont come back

            She wont come back

            She wont come back

 

Itu adalah sebaris kata yang sangat mengganggu, hanya sebaris. Tapi lebih dari sejuta kata lainya, hal ini akan segera menghancurkan Jiyong, semuanya hal tampak tak berguna bagi Jiyong. bahkan ketika dia sedang memenggang microfon dan bernyanyi sebagai bintang. ketika para penggemarnya bersorak padanya seperti orang gila. Ataupun seorang gadis yang pernah ia pikir ia cintai telah kembali padanya.

“Kau akan terus mengabaikanku, G-D-ah?” Miranda Park menuangkan segelas wine lagi digelasnya sendiri, Jiyong bahkan tidak menyentuh gelasnya, itu membuatnya kecewa.

“Kau sudah mabuk, sampai kapan kau akan dirumahku?” Jiyong menatap Miranda yang sudah setengah mabuk, astaga gadis ini tahu ia tak kuat minum bahkan sekedar dua gelas wine.

Miranda tertawa sebentar lalu menggeleng. “Yang benar saja, kau bahkan mengusirku?” kata gadis berambut pirang itu.

“Ayolah, aku akan mengantarmu pulang,” Jiyong menarik Miranda, memaksanya berdiri tapi gadis itu malah memeluknya.

Miranda membenamkan wajahnya dibahu Jiyong tidak perduli pria itu tidak membalas pelukannya, “Apa kau tidak kan kembali padaku Kwon Ji Yoong?” bisiknya. “Kurasa aku terlambat sekarang,”

“Geumanhae Miranda, kau benar-benar mabuk,”

“tidak apa-apa, ini akan jadi yang terakhir kalau begitu. Aku mungkin harus kembali ke Rusia untuk sementara,” kata Miranda sembari melepas pelukannya.

“YAAA… ada apa dengan kalian semua? Kau akan pulang ke Rusia karena masalah ini? Dan sibodoh itu juga akan pulang ke Australia, kenapa aku harus memiliki hubungan dengan gadis-gadis asing bodoh seperti kalian,” amuk Jiyong.

“Dia baru saja pergi,” sebuah suara tiba-tiba menyahut tapi bukan Miranda. Youngbae sepupunya datang dengan sebuah kain hitam terikat dikepalanya, ia selalu begitu ketika frustasi.

“Apa?”

“Moon Geun Young baru saja pergi ke bandara.  Kau ! apa yang kau lakukan dengan gadis ini? Kenapa kau tidak menghentikan Young, YAAA KAU BENAR-BENAR… Youngbae mendesah berusaha untuk tidak bertengkar dengan seppunya kali ini.

“Kau tau ini mungkin kesempatan terakhirmu memperbaiki hubungan kalian, kau bisa menyusulnya dipenerbangan kedua, kau…

Jiyong bergerak dengan tiba-tiba dan berlari kekamarnya, ia menyambar tas ransel birunya lalu berlari dengan tergesa tidak memperdulikan Youngbae dan Miranda yang beteriak memanggilnya, ia mengemudikan diatas rata-rata kecepatan normal, tapi kemudian ia berusaha berpikir jernih dan menurunkan kecepatanya. Ia tidak punya waktu untuk ditilang hari ini.

Telponnya berdering, sebuah pesan masuk dari Youngbae, ia mengirimkan alamat orang tua Young di Australia, yang bahkan Jiyong sendiri tidak memikirkan sebelumnya, ia mungkin tidak akan sempat mengejar Young tapi tentu saja cara lain kan? Dan alamat sangat diperlukan tapi lebih dari itu yang sebenarnya membuat kepala Jiyong hampir meledak adalah apa yang akan dikatakanya pada Young nanti? Apakah memohon akan meluluhkan hati gadis itu? Ia bahkan sama sekali tidak memberi tau tentang kepergianya ke Australlia, apa dirinya begitu memuakan untuk gadis yang begitu dicintainya itu? Entahlah apapun itu yang jelas jika ia kehilangan Young kali ini mungkin ia tak kan bertahan lagi.

Asing sekali rasanya, jendela besar bertirai biru laut yang sesekali  berkibar tertiup angin, meja belajar yang penuh dengan buku yang tersusun rapi disi kanan kirinya, atau ranjang besar dengan kelambu pastel yang terlihat begitu menjajikan kenyamanan saat tidur. Itu semua terasa asing bagi Young, sudah hampir tiga jam ia berbaring disofa kamarnya, ia berguling kesana kemari dengan gelisah, bukan hanya tentang cuaca dan bahasa yang mulai membuatnya gerah, tapi tentang hatinya, ia baru beberapa jam yang lalu menginjakan kakinya dirumah orang tuanya tapi ia justru mulai merindukan Korea, entahlah ia tidak yakin entah itu Korea atau tentang kisah cintanya yang berantakan.

Mungkin ia seharusnya berdamai dengan hatinya sendiri dan secara adil mengakui bahwa ia merindukan Jiyong, tidak perduli seberapa terluka hatinya karena pria itu, ia tetap merindukannya.

Lagi-lagi menangis, ah seharusnya ia tau pergi bukanlah penyelesaian. Hanya lari tidak akan membuat permasalahan berakhir, lari tidak membuat semua kenanganya terbang dan menghilang seperti bunga dandelion yang tertiup angin. lari juaga tidak membuatnya berhenti mencintai Jiyong.

Young perlahan beranjak kepalanya begitu pusing bukan hanya soal hatinya tapi juga karena perjalanan panjang yang membuatnya Jet lag, sekarton susu dingin mungkin dapat memberi kesegaran jadi ia berjalan kearah dapur, ibunya menyapanya dengan hangat ketika ia melewatinya diruang keluarga. Orang tuanya tentu saja tidak berpura-pura menutup mata tentang kegalalan rencana pernikahan putri bungsunya,Chae Woon sudah menelpon ayah dan ibunya sehari sebelumnya dan menjelaskan segalanya, sebenarnya ia lebih banyak mengarang cerita dibanding menjelaskan fakta yang sebenarnya terjadi antara   Young dan mantan calon suaminya.

Dan wajah suram Young membuat kedua orang tuanya menunda semua pertanyaan, dan memilih berusaha menciptakan suasana baru untuk putrinya.

Ponsel Young menjerit dari kamarnya, tapi ia tidak menghiraukannya ia masih duduk bertelungkup dimeja makannya sambil memeluk karton susunya.

Dear,” tiba-tiba ibunya duduk disebelahnya.

I’m fine mum, I’m just tired,” Young menolak memandang wajah sendu dan khawatir ibunya.

Ibunya memebelai rambutnya sebentar lalu menyorongkan ponselnya yang telah berhenti berbunyi. “There are so many missedcall on your cellphone, maybe your Korean neighbour need to hear that you just arrived safely here,”

I’ll Call them back latter mum,” rengek Young masih tidak mengangkat wajahnya.

Ibunya mendesah lalu kembali mengelus rasmbutnya, “I Love you sweatty,” bisik ibunya lalu beranjak meninggalkan putrinya.

Setelah itu segalanya kembali hening, Young meraih ponselnya, ibunya benar ada begitu banyak panggilan, dari Seunghyun, Youngbae dan beberapa teman kantornya, orang-orang yang setidaknya ingat untuk menanyakan apakah ia tiba dengan selamat, ada begitu banyak panggilan tapi tidak ada satupun dari seseorang yang sejenak tadi diharapknya. Dan itu semakin membuatnya merindukan Jiyong.

Ponsel bergetar lagi, kali ini dari nomor yang tidak dikenalinya tapi tentu saja dari Korea, dengan malas Young mengangkatnya.

“Yeoboseo,” bisiknya, ia berencana akan menutupnya dikesempatan pertama. Tapi suara khawatir yang jelas sekali milik Youngbae mengurungkan niatnya, Youngbae meracau tidak jelas namun Young masih bisa menangkap bahwa yang dimaksudnya adalah sesuatu tentang Jiyong, ya Tuhan ia bahkan berniat melupakan pria itu, bagaimana mungkin ia terus menenerus mendengar namanya bahkan ketika ia sudah berada dipulau yang berbeda.

“Dong Youngbae, kau bicara apa aku sedang lelah, aku akan menelponmu nanti,”

‘Tunggu dulu, tunggu dulu, aku bertanya apa kau melihat berita?” tanya Youngbae khawatir.

“Apa maksudmu? Youngbae aku benar-benar…

“Jiyong-ii,” apakah Youngbae baru saja menangis? Ia menangis setelah menyebut nama Jiyong? Ada apa ini.

“Apa?”

“Pesawat yang ditumpangi Jiyong… ia berniat menyusulmu dengan penerbangan pertama setelah pesawatmu, tapi… kurasa-kurasa ia takkan ditemukan, pesawatnya…

 

Ya Tuhan apakah ini lelucon? Apa hari ini tanggal satu april? Tapi Yongbae bukanlah orang yang suka bercanda tentang kematian.

Benarkah ini cara tuhan untuk menghentikan segalanya? Dengan memusnahkan Jiyong dari hidup Young selamanya? Seolah nyawanya baru saja dicabut paksa Young membelalak syok lututnya yang lemas membentur lantai dapurnya masih terengar isakan suara Yongbae diponsel dalam genggamanya.

Young mencoba bangkit dengan sisa-sisa kekuatanya pergi kearah ruang keluarga dan melihat ibunya sedang menonton siaran berita tentang jatuhnya pesawat beberapa jam yang lalu.

Yongbae tidak berbohong, itu artinya berakhir. Ini lebih dari sekedar patah hati pria itu menyusulnya dan mati? Apa pria itu berniat untuk mencegahnya? Apa pria  itu masih mencintainya? Ia bahkan tidak bisa mendapatkan perpisahan yang manis dari pria yang dicintainya, dan sekarang tiba-tiba pria itu meninggalkannya selama-lamanya? Melukainya lebih dalam dari sebelumnya.

Lelucon macam apa ini? Kepada siapa ia harus meluapkan kemarahnaya. Young membuka pintu rumahnya dengan tubuh gemetar, ini adalah Australinya yang sama dimasa kecilnya, namun sekarang Australlinya terlihat memuakan, segalanya terlihat memuakan.

Young berlari tanpa tujuan, tidak memperdulikan pandangan aneh orang-orang yang menatapnya.

Ia takakanpernahmelihat pria itu lagi, cintanya akan benar-benar jadi masa lalu sekarang, segalanya berakhir bahkan tepat disaat Jiyong hendak memulainya dari awal lagi, Young menahan jeritanya dengan tinjunya dan terus berlari, tidak ada langit yang kelabu atau rintik gerimis yang mendramatisir keadaan, hanya matahari yang bersinar dahsyat dan angkuh seolah mengejek kehidupan Young yang menyedihkan. Berkali-kali jatuh terjerembab menimbulkan luka disana-sini namun anehnya luka itu sama sekai tidak perih seperti yang seharusnya, mungkin karena ia telah mati rasa.

Kaki Young terbelit sesuatu yang membuatnya jatuh berguling ditepi jalan. jalanan tampak lebih padat hari ini, bgeitukah?. Young menumpukan semua berat bandanya pada peganngan kursi jalan dan duduk menunduk tanpa berpikir.

Semburat Jingga menyebar di kaki langit terlihat seperti lantai raksasa yang memiliki gradasi warna menakjubkan. Gadis itu Moon Geun Young masih belum beranjak dari bangkunya darah dibeberapa lukanya bahkan sudah kering.

Inilah akhirnya bukan? Akhir yang membahagiakan hanya ada dalam dongeng, Young mulai menangis lagi, mungkin kali ini orang-orang akan menelpon rumah sakit jiwa untuknya, lalu kenapa? Berakhir dirumah sakit jiwa bahkan pemakaman? Apa bedanya sekarang?

Young menyebut nama Jiyoung disela tangisannya, takdir sungguh keterlaluan bisakah manusia mempertanyakan bagaimana takdir seharusnya berjalan. Bagaimana cinta dan harapan kadang berakhir dengan kisah yang tak terduga, sisa-sisa kehidupan yang dimiliki Young sekarang terbakar seketika dengan kesedihan yang memeras jantungnya, senja mungkin hening dan tak mengerti, meski begitu waktu akan terus berjalan meski setiap langkah seolah mematikan, dan tangisan Young takkan merubah apa-apa, tak dapat mengembalikan detik-detik saat ia seharusnya mampu menjaga cintanya,ataupun memanggil seseorang yang sudah mati, cinta mungkin berakhir namun tidak dengan hidup.

Sesuatu bergetar di kantong jeans Young, ia meraih ponselnya perlahan, tangannya bergerak menekan tombol end ketika sebuah nama dilayar mengejutkanya.

“STUPID LIAR Is Calling”

 

Apa ? apa-apaan ini… apa ini lelucon kedua, atau hantu Jiyong benar-benar sedang menelponya? Tangan Young bergetar ketika menjawab panggilanya dan begitu terkejut sampai rasanya ia bisa mati beberapa kali dalam sehari sekarang.

“Yeoboseo.” Itu suara Jiyong, Young yakin benar itu dari seluruh suara didunia ini suara Jiyong adalah favoritenya tidak mungkin ia tidak mengenalinya. “Yeoboseo, Yaaa kau tidak berniat menyahutiku?”

Astaga apa lagi ini? Bukankah beberapa jam yang lalu pria ini baru saja mati? Benarkah hantu bisa menggunakan ponsel? Tapi bahkan dalam keadaan gila sekalipun Young tau tidak ada yang seperti itu.

“YAA MOON GEUN YOUNG,” Jiyong memanggilnya dengan suara yang lebih keras, Young masih terdiam terlalu lemah untuk menyadari situasi, yang ia inginkan hanya mendengar suara ini lebih lama lagi. “Astaga anak ini,” gumam Jiyong. “Yaa sampai kapan kau akan duduk dengan posisi aneh seperti itu, kau terlihat jelek dan mengerikan,” Young terkejut, ia berdiri dengan refleks matanya mengitari seluruh penjuru, sekarang ia harus mulai mempertanyakan kewarasanya sendiri, mungkin Jiyong benar-benar menjadi hantu.

 

Tapi tidak ternyata tidak.

Cinta kadang berakhir dengan tidak terduga bukan? Terkadang kau tidak bisa menyalahkan sesuatunya. Dan pria itu Kwon Jiyong sedang berdiri diseberang jalan diantara kepadatan  lalu lintas, ia terlihat kepayahan, namun ia memandang Young dengan senyum favoritenya.

Young melangkahkan kakinya yang tiba-tiba terasa ringan dan tergesa menyebrangi jalanan mengacuhkan teriakan orang-orang tentang mengganggu lalu lintas, Jiyong menariknya dalam pelukan.

“YAA apa otakmu hilang? Kau bisa saja tertabrak,” omelnya.

Young mengeratkan pelukannya, ini adalah benar-benar Jiyongnya, bahkan jika ini adalah hantu ia takkan melepaskannya.

“Maafkan aku, maafkan aku, maaf membuatmu khawatir, maaf karena tidak pernah mengatakan hal yang seharusnya, maaf untuk semuanya.

“Tutup mulutmu,” kata Young menghentian Jiyong. “Kau membatalkan pernikahan kita dan membuatku patah hati. Lalu apa yang kau lakukan disini?”

“Aku…

“Aku bahkan baru saja mengira kau mati dalam kecelakaan pesawat, membuatku berpikir untuk bunuh diri! Kwon Jiyong seberapa banyak kau ingin menghancurkan aku.

 

“Aku mencintaimu…” Jiyong kembali memeluk Young, “Tak pernah ada gadis lain, kau seharusnya orang yang paling tau itu, aku tau ini terlambat, tapi aku ingin sekali saja mengatakan hal yang sebenarnya kurasakan padamu, aku mencintaimu Young-ah, dengan semua kebodohan dan sifat burukku aku masih berani mencintaimu, aku bukan orang yang belajar dengan cepat tapi aku akan melakukan apapun untukmu karena itu meski sangat sulit bersamaku, bisakah kau tetap disisiku?”

“Keras kepala, bodoh, dasar brengsek tentu saja kau tau benar bagaimana perasaanku,” bisik Moon Geun Young ditengah keramaian senja bersama matahari yang tenggelam keperistirahatanya.

 

Dan cinta bukanlah hitungan matematika, kau mungkin tidak akan menemukan jawaban yang tepat seperti bagaimana segalanya bermula, cinta yang sempurna dengan keseimbangan akan sangat indah tapi kita tentu saja tidak bisa memilih kepada siapa kita akan jatuh cinta meski tanpa keseimbangan  bahkan tanpa  ciuman penuh kebahagiaan Moon Geun Young tau benar tidak akan ada pria lain yang akan dicintainya, tidak perduli seberat apapun nantinya, jika itu adalah Jiyong, semuanya akan baik-baik saja bagi Young.

 

FIN