Terra HoseaTerra Hosea

Cast :

–          Terra Hosea

–          All big bang’s member

–          Raja Herfiuz

–          Ratu Avriel

Genre : Fantasy, Romance, Action.

Rating : PG 16

Author : @FYA_VIP (Follow ya, mention for follback :D)

-FYA’S Presents-

Leviathan berulang kali menyemburkan api dari mulutnya kepada GD. Api itu berwarna biru kemerahan dan menyala – nyala. GD yang menunggang naganya berusaha keras mennghindari semburan api dari Leviathan. Sekali terkena semburan itu, ia akan lumpuh dan yang lebih parah, bisa sampai mati.

Leviathan adalah salah satu dari The Seventh demons. Prince Of Hell yang memiliki salah satu sifat dalam The Seventh Deadly Sins, Envy.Ia memiliki seorang kakak yang bernama Lucifer. Lucifer adalah seorang kakak tertua yang juga merupakan pemimpin dari The Seventh Demons yang tinggal di neraka. Lucifer juga memilki sifat dari salah satu Seventh Dealdly Sins. Sifat yang ia miliki adalah Pride. Dimana ia selalu menyombongkan diri atas segala sesuatu yang ia miliki. Bahkan pada saudaranya yang lain sekalipun.

GD mengeluarkan sayap di punggungnya.Ia menggunakan sayap itu agar mampu lebih leluasa terbang mendekati Leviathan dan menyerangnya dengan menusukan pedang merahnya ke tubuh leviathan. Namun semuanya sia – sia, segala pedang yang mengenai tubuh Leviathan tak akan berefek apapun padanya. Bahkan tombak, anak panah dan javelin pun juga tak mampu melukainya. Satu – satunya cara untuk menghancurkannya adalah dengan membelah kepalanya menjadi beberapa bagian.

GD nampak frustasi karena pedangnya tak mampu melukai Leviathan. Bahkan hanya untuk meninggalkan jejak goresan luka di kulitnya saja tak mampu. Jika harus membelah kepala Leviathan menajdi beberapa bagian untuk saat ini, jujur saja ia tak mampu. Semua ksatria Kerajaan Iris yang saat ini sedang bersamanya sudah terkapar di bawah karena terkena anak panah api yang keluar dari mulut Leviathan. GD menatap sendu ke arah teman – temannya yang terkapar di bawah dengan tubuh memerah. Ia khawatir jika Dlite dan Solar tak dapat disembuhkan. GD memikirkan keadaan teman – temannya terlalu serius dan disaat yang salah. Akibatnya konsentrasinya menghilang dan hampir saja terkena semburan api dari mulut Leviathan juga, jika naganya tidak segera menariknya menjauh.

Para prajurit membawa tubuh Solar dan Dlite kembali ke kerajaan. Terdengar suara Leviathan yang tertawa bahagia karena mampu mengalahkan ksatria dan prajurit Kerajaan Iris tanpa bantuan siapapun.

“Sial!,” umpat GD yang menunggangi naganya dan terbang kembali ke Kerajaan Iris. Ia memandangi persediaan senjata baru mereka yang dicuri oleh Leviathan. Mata hazlenya hijaunya berubah menjadi warna merah yang menyala ketika ia mulai menghadapi Leviathan yang tiba – tiba datang menghadangnya dan teman – temannya. Rambutnya yang berwarna merah menyala nampak melambai – lambai di terbangkan oleh angin. GD hanya mampu menatap kepergian senjata – senjata baru untuk kerajaannya dengan sendu dan membuat mata hazlenya yang sebelumnya berwarna merah menjadi biru seketika.

“Maafkan hamba yang mulia. Hamba tak berhasil membawa senjata – senjata baru untuk kerajaan kita selamat sampai di kerajaan” GD menunduk di depan singgasana Raja Tabi, meminta maaf atas kegagalannya menunaikan amanat.

“Tak apa. aku sudah menduganya, yang terpenting kalian semua selamat!” Raja Tabi berdiri dari singgasananya dan menatap lukisan orang tuanyayang sudah meninggal dengan perasaan sedih.

“Apakah mereka akan baik – baik saja?” GD nampak khawatir dengan keadaan temannya

“Tentu,” jawab Raja Tabi, tersenyum menyeringai.

“Apa yang sebenarnya terjadi yang mulia?” GD yang melihat raut wajah Raja Tabi yang berubah drastis ketika menerima laporan darinya nampak bingung dengan sikap aneh rajanya tersebut.

“Ini semua sudah diramalkan lama sebelum aku lahir. Sejak dahulu kala neraka dan Kerajaan Iris tidak pernah bersahabat. Peramal mengatakan kalau akan ada saat dimana para Seventh Demons yang dibuang oleh Tuhan ke bumi akan merebut Kerajaan Iris di pemerintahan Raja Iris yang ke tujuh dan raja ke tujuh itu adalah aku!” Mata indah Raja Tabi yang nampak indah bak zamrud khatulistiwa itu nampak sangat sendu. Mata sendunya itu menyiratkan kesedihan, ketakutan dan kehawatiran yang teramat dalam.

“Pasti ada jalan agar Kerajaan Iris agar tidak direbut bukan?”

“Ada, tapi aku tak yakin mampu memenuhinya.”

“Apa itu?”

“Satu – satunya yang dapat menyelamatkan kerajaan kita adalah dengan menemukanTerra Hosea kembali. Dengan begitu ke empat Pedang Es bisa digunakan dan di satukan kekuatannya.”

“Terra Hosea? Apa itu?” Alis GD nampak berkerut dan terangkat.

“Bukan apa, tapi siapa. Ia adalah Dewi Bumi, sekaligus Dewi Penyelamat. Itu tersirat dari namanya Terra yang berarti Dewi Bumi dalam Mitologi Romawi dan Hosea yang artinya keselamatan dalam Bahasa Yunani. Dia tinggal dunia manusia. Namun aku aku tak mampu menemukannya sampai saat ini. Ia menghilang bersama ibunya dan keberadaan mereka tak di ketahui hingga sekarang. Prajurit yang aku tugaskan untuk mencarinya sejak aku menjadi raja tak mampu menemukannya hingga sekarang. Aku sangat bingung! Apa yang harus aku lakukan!” Raja Tabi kembali duduk di singgasananya. Kedua tangannya memegangi kepalanya yang  frustasi.

“Bagaimana kalau saya yang mencarinya?”

“Tapi kau juga harus melatihnya ketika kau sudah berhasil menemukannya. Itu  semua tak mudah karena berarti kau harus pergi ke Dunia Bawah Tanah untuk mengambil Pedang Es Perak di Pulau Amahara dan keKerajaan Atlantis untuk meminta bantuan Ratu Avriel mengajarinya menggunakan Pedang Es Perak tersebut.”

“Aku tak akan menyerah. Beri saya kesempatan yang mulia!” Sekali lagi GD menundukan kepalanya di depan Raja Tabi dan memintannya untuk mengijinkannya mencari seseorang yang bernama Terra Hosea yang di sebut – sebut sebagi Dewi Bumi dan Keselamatan itu.

“Aku mengijinkanmu. Semoga Tuhan melindungimu. Aku hanya bisa mendoakanmu dari sini dan cepatlah kembali sebelum kerajaan ini luluh lantah oleh Prince Of Hell. Jangan lupa untuk meminta bantuan Raja Herfiuz dan Ratu Avriel untuk ikut andil dalam peperangan!”

“Baik yang mulia. Saya tidak akan membuang – buang waktu lagi. Saya akan segera berangkat sekarang juga. Tolong obati luka Solar dan Dlite. Jaga mereka baik – baik. Saya permisi” GD memberikan penghormatan terakhirnya kepada Raja Tabi dan beranjak pergi meninggalkan Kerajaan Iris menuju ke dunia manusia.

Sayap GD tersangkut di ranting, pendaratannya kurang sempurna kali ini. Entah karena apa, ia tak bisa berkonsentrasi sehingga gerak sayapnya tak dapat ia kontrol. Alhasil sayap merahnya menyangkut di ranting pohon dan membuat tubuhnya melayang di udara. GD melihat sayapnya yang terluka dan menatapnya nanar. Beberapa saat kemudian sayap itu menghilang. GD terjatuh dan melakukan pendaratan yang tidak sempurna untuk kedua kalinya.

“Aw..” GD memekik ketika tubuhnya menyentuh tanah dari terjun bebas di atas pohon. GD terjatuh dengan posisi duduk. Ia hanya mampu nyengir dan menggaruk – garuk tengkuknya melihat tingkah bodohnya.

GD mundur beberapa senti dari tempatnya saat ini. Ketika seorang gadis memandangi wajahnya lekat – lekat dari jarak yang sangat dekat.

“Kau siapa?” GD nampak memperhatikan gadis itu dengan serius, tatapannya dingin.

Gadis itu berjongkok di depan wajah GD. Ia memperhatikan wajah GD yang mulus bak porselen. Rambut merah menyalanya yang seperti api membara. Mata hazle merahnya yang berkilauan karena terkena cahaya bulan. Bibirnya yang nampak merah alami. Alisnya yang tebal dan tubuhnya yang tak terlalu tinggi.

“Kau tampan!” tangan gadisitu berusaha menyentuh wajah GD.

Namun GD menepis tangan mungil itu. Sesaat kemudian keadaan menjadi hening. Mata mereka bertemu. Mereka saling menatap satu sama lain. Desahan angin yang menyapu rumput – rumput di tanah saat malam hari sangat menggelitik di telinga. Rumput dan dedaunan pohon sukses dibuat melambai – lambai olehnya. Bulan tampak menjadi satu – satunya penyinar tempat itu saat ini. Listrik di daerah sekitar tempat itu sedang mati.

GD memandang gadis itu sekilas. Walaupun dalam kegelapan, GD dapat melihat wajah gadis itu dengan jelas. Rambut coklatnya yang di kuncir kuda. Hidungnya yang mancung. Mata keperakannya yang berkilau dan tubuhnya yang mungil dan terlihat ringkih untuk ukuran bangsa Iris.

Angin yang bertiup itu juga menerbangkan rambut GD dan gadis itu. Gadis itu menatap GD dengan intens, namun GD membuang wajahnya dan tak ingin wajahnya terus dilihat oleh gadis itu. GD lebih memilih untukmenatap rumput – rumput di depannya yang menari – nari dengan lihai seolah mengajaknya turun ke lantai dansa untuk ikut bergoyang daripada membiarkan wajah innocentnya di amati oleh seorang gadis yang tak ia kenal.

GD menyapu rumput – rumput itu dengan tangannya. Ia menengadahkan wajahnya ke langit, ke arah cahaya bulan dan bintang yang bertebaran dan bersinar dengan terang. Ia memejamkan matanya, lalu membuka kedua tangaannya lebar – lebar. Ia menarik nafasnya dalam – dalam lalu mengeluarkannya perlahan. GD mencoba menikmat udara malam hari di dunia manusia yang ternyata sedikit berbeda dengan Kerajaan Iris.

“Kau tak apa?” Gadis itu tampak memperhatikan GD dengan serius.

GD terbangun dari keheningannya menikmati keindahan malam karena suara gadis tersebut. “Iya, aku tak apa. Apa yang sedang kau lakukan disini?” GD menjawab pertanyaan gadis tersebut dengan ketus.

“Aku hanya berjalan – jalan”

“Bukankah ini sudah tengah malam? Aku rasa seorang gadis tak akan pergi ke luar rumah di saat seperti ini.”

“Aku kesepian.” Mata Hosea yang berkilau karena terkena cahaya bulan menatap rumput – rumput di taman.

“Kalau begitu kenapa kau tak pergi ke rumah temanmu saja? Kenapa kau malah pergi ke tempat sepi seperti ini dan mengangguku?”

Gadis itu nampak kecewa mendengar ucapan GD yang mengusirnya secara halus. Tapi mau bagaimana lagi? Akhirnya ia memilih untuk meninggalkan GD duduk sendirian di keheningan malam yang gelap gulita tersebut. Gadis ituberdiri dan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan GD.

GD menghela nafas lega melihat gadis itu sudah pergi dari hadapannya. Ia nampak bersemangat untuk mulai melanjutkan aktivitasnya menikmati indahnya malam di dunia manusia yang tadi sempat terganggu karena gadis tersebut. Tangan GD menyapu rerumputan di sekitarnya lagi. Entah kenapa ia sangat suka ketika rumput – rumput yang sedang bergoyang itu menyentuh telapak tangannya.   “Aw..” GD memekik ketika ia mendapati tangannya menyentuh suatu benda tajam dan membuat jemarinya terluka hingga mengeluarkan darah.GD memandang lekat – lekat ke arah jemarinya yang terluka.

GD mencari – cari sesuatu di atas rerumputan yang tadi melukainya dengan hati – hati. Takut jika benda itu melukainya lagi. Akhirnya GD menemukannya. Sesuatu itu tebal di bagian depan dan sedikit runcing di salah satu ujung bagian belakangnya. Bagian itu pasti yang menusuk jemarinya tadi. GD memperhatikan benda itu baik – baik memutar – mutarnya dan mencoba membaca tulisan di bagian depanya.

“T..e…r..r..a..H..o..s..e..a.” GD mengeja tulisan itu dalam hati, lalu ia teringat akan sesuatu.

“Satu – satunya yang dapat menyelamatkan kerajaan kita adalah dengan menemukan Terra Hosea kembali.”

GD langsung melesat begitu mengetahui nama gadis itu. Ia berkeliling di setiap sudut taman dan beberapa jalan terdekat dari taman itu untuk mencarinya. Ia berlarian kesana kemari hingga nafasnya terengah – engah. Tak sulit untuknya melihat di tengah malam seperti ini karena Bangsa Iris memiliki kelebihan yang sama dengan Elf yang memiliki penglihatan dan pendengaran yang tajam, juga kecepatan dalam bergerak.

“Harusnya dia belum jauh bukan? Bukankah dia hanya seorang manusia? Tak mungkin ia mampu bergerak secepat itu. Apalagi dalam kegelapan malam yang sangat mencekam seperti ini,” gumam GD.

Ia menendang kerikil yang berada di dekat kakinya sambil mengacak – acak rambutnya kesal.

“Aw…” suara seseorang terdengar dari samping GD tepat di salah satu belokan di perempatan gang. GD langsung berlari menuju ke tempat suara itu berasal. Pendengaran GD yang tajam akhirnya mampumembantunya menemukan sumber suaratersebut. Ternyata suara itu berasal dari suara gadis yang ia temui di taman tadi. GD tampak tersenyum puas. Sedangkan gadis itu? Ia tampak memegangi kepalanya dan meringis kesakitan.

“Kemari biar aku obati! Apakah berdarah?” GD mendekatkan wajahnya ke kepala gadis itu untuk melihat bagian yang terluka. Ia juga menggerakan tangannya mendekat untuk mengecek lukanya.

“Tak apa. Ini tak terlalu sakit” gadis itu melemparkan senyum manisnya ke arah GD, berusaha meyakinkannya kalau ia baik – baik saja.

-TBC-

RCL PLEASE😀