The beginning copy

THE BEGINNING Part 1

Cast :

–          Sandara Park

–          Kwon Ji Yong

–          Dong Young Bae

–          Lee Chaerin

–          Thunder (MBLAQ)

Genre : Romance, Drama, Angst, Action, Slice Of Life, comedy.

PG/Rating : PG 17

Author : @FYA_VIP (Follow ya, mention for follback)

-FYA’s Presents-

~Jangan pernah berbohong atau hidupmu akan di penuhi dengan kebohongan untuk selamanya. Kenapa? Karena sekali kau berbohong kau akan menciptakan kebohongan – kebohongan lainnya untuk menutupi kebohongan yang sebelumnya~

                “Kau yang menyabotasenya bukan?” Dara tersenyum kecut setelah puas menggebrak meja di depan Ji Yong. Matanya memandang sudut mata elang Ji Yong yang tajam dan membunuh. Ji Yong hanya  membalas  dengan menyunggingkan sebuah senyum tiga centi di sudut bibir merah mudanya dengan santai.

“Waeyo?” tanyanya tanpa bergetar sedikit pun. Sorot matanya tak menunjukkan kegamangan sedikit pun. “Kau takut?” tambahnya meledek

“Mwo?” Mata Dara membulat. Jika saja Bola matanya bisa lepas, mungkin saja saat ini sudah tak di sana lagi, di tempatnya. “Kau…”

Baru saja Dara akan menyemprot Ji Yong kembali dengan kata – kata kasarnya. Namun Ji Yong lebih dulu membekap mulut Dara dengan mulutnya. Ia mencium bibir Dara sekilas dan mengigit bibir bawah Dara kasar, meminta lebih.

Plak..

Dara menyarangkan sebuah tamparan di pipi putih mulus Ji Yong dan meninggalkan jejak kemerahan yang menurutnya sangat indah. “You’re a big jerk, Kwon Ji Yong!”

Dara menarik nafas dalam – dalam untuk menormalkan kembali detak jangtungnya yang membuncah karena kelakuan namja gila, Ji Yong, yang tiba – tiba menciumnya. Yah! Menciumnya! Di bibir dan di depan umum pula!

“What’s there on his brain? Is he crazy? Oh! I think so!” batin Dara.

“Kau kenapa? Bukankah mulai sekarang kau menjadi pembantuku, Sandara Park?” Salah satu alis Ji Yong terangkat. Senyum licik terpampang dengan jelas di wajahnya.

“Aniyo! Aku tidak mau! Kau pasti sudah menyabotasenya bukan? Aku tidak mungkin kalah darimu. Aku sudah belajar siang dan malam demi ujian kali ini. Dan kau? Kau hanya santai – santai sambil menyeruput kopi dan putung rokokmu, hangout bersama teman – teman gengmu dan para gadis serata berdansa dengan riang di klub malam setiap hari. Bagaimana bisa nilaimu lebih bagus dari nilaiku? Kau pasti sudah menyalah gunakan wewenang orang tuamu sebagai salah satu penyumbang dana terbesar di kampus ini untuk menyabotase hasil ujian bukan?”

Dara mengoceh panjang lebar. Berusaha meluapkan segala rasa yang membuncah di dada dan membuatnya sesak nafas. Namun apa yang ia dapat? Dia! Kwon Ji Yong! Malah pergi meninggalkannya sendirian bersama Seung Hyun dan Seungri. Tanpa permisi pula!

“Dimana coba sikap sopan santunnya? Apakah orang tuanya tak pernah mengajarkannya karena sibuk dengan pekerjaan mereka sebagai yakuza? Oh, come on, Dara! Apa lagi yang kau harapkan dari seorang anak yakuza?” Tak hentinya Dara membatin atas setiap tingkah laku gila Ji Yong padanya. Ia tak pernah benar – benar berani untuk mengatakan bahwa ia sangat membenci Ji Yong. Takut? Tidak! Dara bukan takut pada Ji Yong dan semua gertakannya. Hanya saja ia tak ingin membuat masalah dengan Ji Yong yang nantinya pasti hanya akan merugikan dirinya sendiri.

Kedua alis Dara terangkat bersamaaan begitu melihat sebuah kertas yang mengalun dengan indah karena angin di atas meja. Kertas yang awalnya putih, bersih dan suci itu kini telah ternodai. Ternodai? Yah ternodai oleh tangan kotor Ji Yong dan pulpennya. Serta tulisan yang tertera di sana membuat kertas itu menjadi semakin jauh dari kata – kata suci. Bahkan mendekat ke hina.

Kau ingin tahu apa tulisannya? “Ciumanmu manis. Aku ingin mencobanya lagi. Boleh bukan? Kau kan pembantuku? Ini nomerku. Segeralah kirim pesan setelah kau membaca tulisan ini. Atau kau akan mati di tanganku. Jangan pernah meremehkanku, Sandara Park.”

Bagaimana menurutmu? Tulisannya sangat indah bukan? Hingga membuat kertas yang awalnya putih itu menjadi kotor dan hina.

“Ckckck, Kau sangat bodoh Dara! Bagaimana bisa kau membuat perjanjian konyol itu dengannya? Perjanjian yang mengahruskan salah satu dari kalian menjadi pembantu dan menuruti keinginan yang menang selama satu bulan. Satu bulan guys! Kalian bisa membayangkannya? Menjadi pembantu seorang namja anak yakuza yang mesum dan suka berbuat onar di kampus? Berbuat seenak jidatnya tampak mempedulikan perasaan orang lain. Bisakah kalian membayangkan apa yang terjadi padaku selanjutnya jika aku menjadi pembantunya? Bisakah kalian merasakan tekanan batinku saat ini karena tingkah gilanya? Oh! Aku ingin teriak!!!!!”

****

“Chagiya?”

“Mmmm….”

“Waeyo?”

“Gwaenchanayo.”

“Apa yang harus aku katakan pada namja chinguku yang satu ini? Aku benar – benara merasa bersalah padanya karena telah membuat perjanjian konyol itu dengan Ji Yong. Bahkan ia telah mencuri ciuman pertamaku yang harusnya ke berikan pada namja yang saat ini duduk di sampingku dan menatapku penuh tanya.” Dara meneguk ludahnya dalam.

“Bisakah kalian merasakannya? Perasaan campur aduk yang saat ini berkecamuk dalam diriku? Perasaan tak enak, serba salah dan ingin mati yang membuncah dalam dadaku. Bisakah kalian merasakannya? Bisakah kalian membantuku? Oh, come on! Aku bisa gila jika terus seperti ini.”

“Dara-ya?” bisik Taeyang tiba – tiba dan tentu saja sukses membangunkan Dara dari lamunan gilanya.

“Ah, ne Yong Bae-ah.” Seketika Dara memutar tubuh beserta kepalanya menghadap ke arah Young Bae. Mata Young Bae yang sejuk dan selalu sukses menjadi penenang hati Dara, kini menatapnya sayu.

“Kau kenapa? Apa yang sedang kau pikirkan? Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku?”

DEG!

Seketika detak jantung Dara serasa berhenti berdetak. Pertanyaan Young Bae yang langsung mengena pada pokok permasalahan yang kini ia hadapi membuatnya merasa semakin bersalah pada Young Bae.

Jari – jari kecil Dara saling meremas satu sama lain. Peluh sebesar  butiran – butiran kacang kedelai jatuh dengan gerakan slow motion membasahi dahi Dara yang lebar bak lapangan sepak bola. Gelora di dada Dara semakin membuncah. Nafasnya memburu dan tak beraturan.

“Apa yang harus aku katakan padanya? Haruskah aku jujur? Siapapun!!!!!! Help me please!!!!!!”

“Mmmm…” Dara menggeleng. “Tak ada,” jawabnya berdusta dan seketika ia merutuki dirinya sendiri.

“Jeongmal?” tanya Young Bae meyakinkan. Sepertinya ia bisa membaca apa yang sedang Dara pikirkan hanya dengan membaca mimik wajahnya. Bagaimana tidak? Dia calon sarjana psikolog guys!

“Ne. Kau tak percaya padaku?” tanya Dara sambil menunduk. Tak berani menatap mata Young Bae yang menyorotkan ketulusan dan kasih sayang yang teramat dalam itu.

“Aniyo.” Seketika senyum Young Bae merekah. Ia menarik Dara maju dan mendekapnya dalam pelukannya. Membenamkan kepala Dara di dada bidangnya. “Aku percaya padamu. Mianhae. Jangan marah ya. Saranghaeyo, Sandara Park-ah.” Young Bae mengelus rambut ikal sebahu Dara dengan lembut. Membuatnya nyaman sekaligus gamang.

“Pabo! Kau sungguh bodoh, Dara! Bagaimana bisa kau melukai perasaan namja sebaik Dong Young Bae? Kenapa kau tidak jujur saja? Di pasti akan memahaminya dan memeberikan support padamu. Kau tahu? Jika kau sudah menciptakan satu kebohongan, maka kau akan terus membuat kebohongan – kebohongan lainnya untuk menutupi kebohonganmu yang sekarang. Baka! Baka, Dara… Argh…”

Dara terus merutuki dirinya sendiri dalam hati. Ia gamang, bingung, tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Haruskah ia mengatakannya? Jujur pada Young Bae jika ia dan Ji Yong telah membuat kesepakatan dan ia kalah?

Young Bae menarik tubuh Dara menjauh. Matanya menatap Dara lekat – lekat. Tanpa  Dara sadari, wajah Young Bae semakin mendekat ke wajahnya. Young Bae memiringkan kepalanya dan berusaha menjangkau bibir Dara. Namun gagal karena sebuah pesan masuk membuat handphone Dara bergetar.

“Mianhae…”

Dara tak enak padanya karena terus saja menghindar ketika Young Bae berusaha menciumnya dan akhirnya ciuman pertamanya di rengut dengan paksa oleh Ji Yong. Young Bae tersenyum kecut dan membiarkan Dara membaca sms.

From : Namja Yadong

Heh, kau? Dimana, hah? Aku mebutuhkanmu! Jangan mencoba lari dari tanggung jawab ya! Bukankah kau ini ketua BEM? Bagaimana bisa seorang ketua tak memiliki sifat tanggung jawab sama sekali, hah? Cepatah datang ke apartemenku di ganganam. Alamatnya akan segera ku kirim. Aku tunggu sepuluh menit. Jika kau tak datang maka ku jamin kau akan menyesal.

“Apa ini? Seenaknya saja menyuruhku datang ke apartementya? Memangnya di siapaku? Appaku? Eommaku? Oppaku? Eonnieku? Ckckck..”

“Siapa, Chagi?” tanya Young Bae seraya tersenyum.

Dara menggeleng. “Aniyo. Bukan siapa – siapa. Hanya sms dari operator,” jawabnya berdusta lagi.

“Oh..”  Young Bae manggut – manggut sambil ber – oh ria.

“Mianhae. Aku harus pergi!” Dara mengambil tas tangannya dan bangkit meninggalkan Young Bae sendirian di bangku taman depan kampus. “Aku akan meneleponmu nanti. Mianhae,” tambahnya.

Samar – samar Dara lihat senyum Young Bae yang memudar. Ia mendengus sambil membuang mukanya dari Dara. Matanya menatap langit biru yang berarak sayu.

“Mianhae, Young Bae-ah!” pekik Dara dalam hati dan segera berlari untuk memberhentikkan taksi.

******

                “Siapa?” tanya seseorang yang tiba – tiba muncul di layar monitor.

“Aku, Dara.”

“Oh, kau. Masuklah!” Seketika pintu terbuka dan Dara masuk ke dalam apartemennya. Menjelajahi setiap sudut ruangan yang di desain minimalis dengan warna abu – abu itu.

“Kau dimana?” tanya Dara seraya menghentakkan tulang – tulangnya di atas sofa bermerk Ji Yong di ruang tamunya.

Tak ada jawaban, sunyi. Hanya suara AC yang terdengar, mengalun merdu di telinga.

“Ckck, kemana dia? Bukankah dia tadi yang muncul di monitor? Dan kenapa sekarang dia sudah menghilang?” ungkap Dara dalam hati.

Dara melayangkan pandangan menyusuri setiap senti apartemen minimalis milik Ji Yong. Perabotan rumahnya hanya sedikit. Namun semuanya tak ada yang murah satu pun. Semuanya branded dan impor!

“Oh tuhan! Orang tuanya sungguh menyiraminya dengan banyak harta!”

Tiba – tiba indra penciuman Dara terganggu karena ada sesuatu yang membangunkannya. Sebuah aroma bunga mawar yang eksotis menusuk hidungnya dan sukses membuatnya melayangkan pandangan ke arah datangnya bau itu.

“Ji Yong?” Mata Dara membulat mendapati Ji Yong yang berjalan mendekatinya dengan telanjang dada dan handuk yang melingkar di tubuh bagian bawahnya.

Tak butuh waktu lama Ji Yong sudah duduk di samping Dara dan memandangnya seduktif. Tatapan Ji Yong membuat Dara risih sekaligus begidik. Tangan nakal Ji Yong mulai menyentuh tengkuk belakang Dara dan menarik tubuh Dara mendekat padanya. Sontak Dara kaget dan berteriak ketakutan. Namun sama sekali tak di gubris oleh Ji Yong.

“Bagaimana apartemenku?” bisik Ji Yong seduktif di telingaku. “Maukah kau menjadi nyonya disini?” tambahnya lagi. Senyum licik kembali terpajang di wajahnya. Kilatan di mata Ji Yong berbeda dari biasanya. Tangan nakalnya kembali bergerak mengelus – elus tengkuk belakang Dara dan mencari sesuatu. Dan yak! Dia mendapatkannya.

-TO BE CONTINUED-

Semakin banyak komen semakin cepat lanjutan di publish. Sorry kalo jelek dan gak suka. Gomawo ^_^