MID MAN-ED

Midnight Man

Main cast: Lee Seunghyun a.k.a Seungri Big Bang, and other Big Bang members.

Support cast: Lee Byung Yung (YG’s senior manager).

Warning: AT (Alternate Timeline), typo(s), horor gagal, DI LARANG KERAS UNTUK MENIRU SEGALA ADEGAN DALAM FANFIKSI INI (AUTHOR TAK AKAN TANGGUNG JAWAB BILA TERJADI HAL YANG TAK DI INGINKAN!), and manymore.

Genre: Horror, and lil’ bit parody.

 

youngdinna presents

.

.

.

Enjoy it!

.

.

.

 

Keisengan Seungri yang akhirnya berbuah menjadi hal lain baginya, juga member lain…

 

“Bagaimana kalau kita memainkan sebuah game?”

 

“Kita akan bermain dengan roh yang kita tak tahu sifatnya, itu berbahaya!”

 

“Baiklah kita coba game yang kau bicarakan, magnae..”

 

 

Januari 2014

Seungri menguap lebar saat rasa kantuk kembali menghinggapinya. Dua jam tidur di pesawat rupanya tak mampu menghapus kantuk si magnae bermata panda ini, di tambah lagi mereka masih belum sampai ke hotel di karenakan mobil van yang mendadak macet, tak mau berjalan. Mereka pun terpaksa menginap di sebuah motel mungil di pinggiran bandar udara Narita.

“Bosaaaan!”

“Berisik magnae!” Seungri merengut demi mendengar hardikan keras sang leader. Yah, wajar.. Leader-nya itu pasti juga masih mengalami jetlag, di tambah lagi mood yang menurun karena mobil van mereka.

“Tapi aku benar-benar bosan, Jiyong-ah!”

“Aku juga! Aku bosan, juga sedikit pusing, jadi diamlah.” tutur Jiyong sedikit emosi dengan sikap kekanakan Seungri. Hei, dia itu magnae, Jiyongie.

“Sudah.. jangan bertengkar.. kau juga, Seung-ya.. kalau bosan, pergilah tidur.”

“Ck.” Seungri mencebikkan bibirnya, rasa kantuk sebenarnya sudah hilang, ia ingin melakukan hal lain, tapi apa? Kalau saat ini mereka di Tokyo mungkin Seungri akan mengajak Young Bae atau Daesung pergi jalan-jalan keluar. Namun jangankan ke Tokyo, mereka bahkan belum ke sana, dan untuk sampai ke Tokyo, mereka harus menunggu Byung Yung pulang dari bengkel bersama staff lain.

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan keluar?”

“Hampir tengah malam begini? Silahkan kalau hyung mau di rampok orang.” Seunghyun hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan ketus Jiyong. “Kita tak begitu hafal daerah sini. Tidak usah.”

Mereka kembali terdiam, Jiyong sendiri mulai sibuk menekan-nekan tombol di layar SNS miliknya, menghubungi Byung Yung yang tak segera kembali.

“Ah!” Seruan Seungri otomatis membuat empat orang lain dalam ruangan itu menoleh. “Aku ada ide, hyung!”

“Ide?” Seungri mengangguk demi menjawab pertanyaan Daesung. “Bagaimana kalau kita memainkan sebuah game?”

Game? Game apa?” Seungri melebarkan senyumnya. Ia sengaja merubah wajahnya menjadi lebih misterius.

“Game ini namanya Midnight Game.. kita akan mengajak Midnight Man untuk ikut bermain bersama kita.” tutur Seungri berbisik.

“Siapa Midnight Man? Itu permainan apa, sih?” Daesung nampak belum mengerti. Seungri menghela nafas.

“Baiklah, akan kujelaskan..” Seungri sedikit berdeham. “Permainan ini sangat populer di kalangan remaja, permainan ini sejenis uji nyali.”

“Uji nyali? Maksudmu tentang hal-hal gaib?” Seungri mengangguk antusias menjawab pertanyaan Young Bae.

“Caranya cukup mudah, kok.. alat yang kita perlukan adalah lima lembar kertas, pulpen, garam, satu lilin dan korek api, juga jarum.” Daesung menelan liur pahit, ia mulai mengerti arah pembicaraan mengenai permainan ini.

“Jadi maksudmu game ini melibatkan roh halus? Dan roh halus itu yang di sebut Midnight Man?”

“Benar, Jiyong-ah!”

“Aku tidak setuju!” tolak Daesung keras, membuat Seungri kembali menekuk wajah kecewa.

“Kenapa hyung? Ayolah, ini hanya permainan.”

“Hanya permainan katamu? Jangan bercanda!” Daesung memprotes. “Kita akan bermain dengan roh yang kita tak tahu sifatnya, itu berbahaya!”

Mereka kembali terdiam, beberapa di antaranya sedikit membenarkan ucapan Daesung yang terdengar masuk akal.

Well, apa yang di katakan Daesung memang benar..” tutur Jiyong, membuat Daesung sedikit lega. “Tapi..” Daesung kembali menegang.

“Sebenarnya aku juga bosan.” Seunghyun menimpali. Jiyong mengulum senyum tipis.

“Baiklah kita coba game yang kau bicarakan, magnae..”

 

Tulis namamu di kertas, tusuk dan teteskan darahmu hingga meresap ke dalam kertas yang bertuliskan namamu..

 

Ketika permainan ini di mulai, tak ada satupun cahaya lampu yang boleh kau nyalakan, satu-satunya perlindunganmu hanyalah lilin..

 

 

“Tak bisakah lampu kecilnya kita biarkan menyala? Aku tak dapat melihat apapun.”

Aish.. jangan banyak protes, hyung.. dalam peraturan, tak boleh menyalakan lampu.” Seungri mengomel menjawab ucapan Daesung yang lebih terkesan merajuk. Setelah memastikan ia dan member lain sudah menulis nama dan meneteskan darah mereka satu per satu di kertas masing-masing, Seungri meletakkan kertas-kertas itu di bawah lilin.

 

Ketuklah pintumu dua puluh dua kali sebelum pukul 12.01

 

Perlahan kelima pemuda itu membuka kembali pintu kayu motel, Seungri pun meniup nyala lilin hingga padam.

 

Tutup pintumu dan nyalakan kembali lilinnya..

 

“Tidak terjadi apapun?”

Ssh! Diam Jiyong-ah, saat ini Midnight Man sudah berada di dalam rumah ini!” bisik Seungri.

“Bagaimana kau tahu?”

“Tentu sa-” Ucapan Seungri terhenti saat tiba-tiba hawa dingin ada di sekitar mereka, menggelitik masing-masing tengkuk mereka sampai merinding.

“D-dingin.”

“Kurasa ia sudah datang.” timpal Seunghyun. “Kau bilang kita harus berjalan mengelilingi rumah sampai pukul 03.33, kan? Ayo.” Mereka pun berjalan beriringan sambil saling mendekap lengan, Daesung nampak begitu erat memeluk lengan Seunghyun.

BRUGH..

“Uwaa!” Mereka berjengit kaget, tidak bukan karena pintu lemari yang tiba-tiba terbuka dan menjatuhkan beberapa selimut, melainkan teriakan Daesung.

“Tenanglah, hyung..”

“Bagaimana bisa tenang? Di sini gelap, dan hantu itu tengah mengejar kita.” desis Daesung nelangsa. “Tak bisakah kita memakai senter atau-”

“Tidak.” potong Seungri cepat. “Peraturan yang paling utama dalam permainan ini di larang memicu kemarahan Midnight Man, menyalakan senter bisa saja membuatnya marah.”

Mereka berempat (Jiyong, Young Bae, Daesung, dan Seunghyun) menelan ludah serempak. Buliran keringat dingin mulai membasahi kening mereka.

“Ayo kita jalan lagi.”

Hening. Mereka kembali melanjutkan perjalanan mengitari rumah, sesekali terdengar suara bisikan, kadang pula seperti ada seseorang yang meniup cuping mereka. Daesung menggigit bibirnya, ia sama sekali tak berani mengeluarkan suara, bernafas saja putus-putus.

Kau takut padaku, Kang Daesung?‘ Daesung tercekat, ia lalu mengencangkan pegangannya pada lengan Seunghyun.

“Kau kenapa, Daesung-ah?” Daesung menggeleng cepat guna menjawab pertanyaan Seunghyun. Bila sekarang ia terlihat cengeng pun ia tak masalah, ia benar-benar takut.

“Ah, lilinnya mati! Cepat nyalakan, Jiyong-ah!” Mereka berlima panik, buru-buru mereka menyalakan lilinnya.

 

Segera nyalakan lilinmu saat apinya mati…

 

atau aku akan menangkapmu..

 

“Percuma saja! Cepat buat lingkaran garam!” Young Bae segera membuat lingkaran garam di sekitar mereka. Aneh, padahal mereka tak berlari, mereka hanya berjalan pelan, tapi kenapa mereka terengah-engah? Mungkin karena mereka panik.. juga takut.

“Ini salahmu, Bae! Koreknya hilang!”

Mianhae..”

“Jangan memarahi Young Bae-hyung, Jiyong-ah.”

“Diam kau!” sungut Jiyong. “Kalau bukan karena usulanmu, kita tak akan duduk berhimpitan layaknya kumpulan orang idiot seperti ini, pabbo!” Seungri merengut kesal.

“Kau juga tadi menyetujuinya.”

“Kau mempengaruhiku!”

“Tapi kau juga-”

“Hentikan. Pertengkaran kalian tak akan menyelesaikan masalah.” lerai Young Bae. “Tidak ada yang salah ataupun benar. Ini juga bukan sepenuhnya salah Seungri karena kita juga menyetujuinya tadi.” Jiyong mendengus.

“Terus saja kau membelanya, Bae.” Young Bae menghela nafas pelan, saat-saat seperti ini leader-nya masih saja keras kepala.

“Lalu apa yang kita lakukan sekarang?” tanya Seunghyun

“Aku mengantuk.” Jiyong menguap lebar.

“Tidak boleh tidur, Jiyong-ah.”

Mwoya?” Seungri mengangguk demi menjawab seruan protes Jiyong.

“Batas kita bisa bebas dari Midnight Man masih lama.. kita bisa bebas setelah waktu sudah menunjukkan pukul 03.3-”

PLETAK

“Auw! Kenapa kau memukulku!” Seungri mendelik ke arah Jiyong yang baru saja memukul kepalanya keras.

“Biar saja! Kenapa kau baru bilang sekarang, pabbo?!” Seungri merengut sambil mengurut bekas ngilu pukulan Jiyong.

“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita juga masih ada pekerjaan besok pagi.” ucap Seunghyun.

“Bagaimana kalau bernyanyi?”

“Seperti orang bodoh saja.” timpal Jiyong. “Kita bernyanyi dengan duduk melingkar, sedangkan hantu itu masih berkeliaran di sekitar sini. Kau pikir dia salah satu VIP?” lanjut Jiyong masih emosi.

“Jangan marah, Jiyongie.. Lagipula ini juga bukan ide yang buruk.” Jiyong mendengus, namun pada akhirnya mereka melakukannya.

Mereka bernyanyi, menyanyikan lagu-lagu hits Big Bang, hitung-hitung sekalian mereka latihan. Mereka menyanyikan lagu-lagu Big Bang sesuai part mereka.

“Nah, sekarang kita menyanyi lagu apa lagi?”

“Haru Haru?”

“Terlalu melankolis, hyung.. Bagaimana kalau Bad Boy?” usul Seungri. Mereka pun menyetujuinya. Di mulai Jiyong yang membuka intro lagu di depan.

Geunal bameun naega neomu

sibhaesseo, niga jinjjaro tteonagal

juleun mollasseo

naega mianhae i mal hanmadi

eoryeowoseo, urin kkeutkka ji ga na

seonggyaki deoreowoso

maldo an dwineun illo datugireul

haruyedo susip beon

neon ulmyeonseo ttwichyeonaga nan

juwireul duriban

dasi dol-a-o-getji naeilimyeon

bunmyeong meonjeo yeonraki ogetji

  1. ” Daesung menikmati alunan suara Jiyong, rasa takut yang tadi menghantuinya sedikit berkurang. Sekarang tiba di bagian Daesung menyanyi.

Baby nan mothae neomuna mot

dwaeseo deo jalhae jugosipeunde jal

andwae

Everyday and night-

Suara kalian merdu sekali. Kau mau mengajariku, Kang Daesung?

Daesung tak melanjutkan nyanyiannya, rasa takutnya kembali datang dan merubah wajahnya menjadi pucat pasi.

“Daesung-ah? Ya! Daesung-ah?” Daesung segera tersadar saat Jiyong mengguncang pundaknya keras, menariknya kembali ke alam kesadaran. “Kau kenapa, eoh?”

An-aniyo..” Daesung menjawab ragu, batinnya mulai berkecamuk. ‘Suara itu… apa dia benar-benar masih di sini?

“Daesung-ah?”

“Ki-kita lanjutkan nyanyinya.. aku ingin kita menyanyikan lagu lain, bagaimana kalau Geotjimal?”

“Lagu lama sih.. tapi tak masalah. Ayo.”

Mereka kembali bernyanyi. Empat orang lain nampak sepenuhnya melupakan rasa takut mereka pada Midnight Man, namun tidak dengan satu orang lainnya, orang itu Kang Daesung.

Sudah dua -tidak- sebenarnya berulang kali selama mereka menyanyi, Daesung terus mendengar bisikan-bisikan aneh, namun ia terlalu takut untuk mengatakannya.

“Hahh.. aku capek.” keluh Jiyong setelah hampir menghabiskan tiga puluh lagu. Rasa kantuk juga mulai membebani matanya. “Jam berapa sekarang?”

“Ini..” Seungri menajamkan retina demi melihat arlojinya, keadaan rumah masih gelap gulita. “Oh, ini sudah pukul 03.40.”

“Kita sudah boleh tidur?”

“Sepertinya begitu..”

“Jawabanmu meragukan.” Seungri merengut.

“Dalam aturan yang kubaca kita bisa bebas saat jam sudah menunjukkan pukul 03.33.” Seungri menjelaskan. “Aku rasa juga tidak apa-apa.. tapi..” Seungri tak melanjutkan ucapannya saat kepala Jiyong sudah jatuh di pundaknya. Sepertinya leader kurus itu benar-benar mengantuk.

“Untuk amannya sebaiknya kita jangan keluar dari lingkaran ini sampai pagi datang. Sekarang, sebaiknya kita tidur.”

“Tapi hyung..”

Gwenchana Daesung-ah.. kita akan aman.” Namun nyatanya ucapan Seunghyun sama sekali belum menenangkannya, rasa takut kembali menyergapnya saat suara bisikan kembali ia dengar sebelum ia benar-benar tertidur.

Aku akan mengunjungimu lagi, juga teman-temanmu yang lain, Kang Daesung. Sampai jumpa.

 

***

 

Seoul, February 10th 2014

Home sweet hoooome!”

“Berisik!” Seungri hanya merengut saat Jiyong kembali membentaknya. Kalau di hitung-hitung, sudah berkali-kali ia menerima sikap tak ramah dari sang leader, mungkin ia marah karena harus bangun pagi tadi.

“Jiyong-ah..”

“Hm.”

Mianhae..” ucap Seungri penuh sesal. Ya, Seungri yakin kalau Jiyong pasti sangat kesal hari ini. Tak hanya harus bangun pagi dengan punggung pegal -di karenakan mereka tidur dengan posisi tak benar- , mereka juga mendapat wejangan panjang dari Byung Yung -manajer mereka yang menemukan lima anak asuhannya tidur layaknya seonggok api unggun. Jiyong mendengus.

“Sudahlah. Lagipula ini juga bukan sepenuhnya salahmu.” Seungri tersenyum lebar.

“Ah, iya! Kapan-kapan kita main lagi ya, Ji-”

“Tidak. Cukup sekali saja. Kemarin adalah yang terakhir.”

“Aaaa.. kau takut ya?”

Ya! Kemari kau magnae sialan!” Daesung nampak acuh melihat aksi kejar-kejaran Seungri dan Jiyong. Nyawa dan raganya memang di sini namun pikiran pemuda itu masih terus melanglang buana ke mana-mana.

PUK..

Daesung menoleh saat Seunghyun menepuk pelan kepalanya. Kakak tertuanya di grup itu tersenyum, Daesung hanya membalasnya dengan senyum lesu.

“Kau kenapa?”

“Hm?” tanya Daesung tak fokus. Seunghyun menghela nafas pelan.

“Apa kau masih takut soal permainan kemarin?” Kini Daesung sepenuhnya memberi perhatiannya pada Seunghyun.

“Tidak hanya saja..”

Ya! Ampun Jiyong-ah! Lagipula itu hanya permainan. Tak akan menimbulkan efek apapun.”

“Awas saja kalau hantu itu mengikuti kita sampai ke sini! Kau yang harus tanggung jawab!”

Daesung tak melanjutkan ucapannya saat pertengkaran Seungri dan Jiyong terngiang di kepalanya, terutama perkataan Jiyong.

…hantu itu mengikuti kita sampai ke sini!

“Daesung-ah?”

N-ne?” Seunghyun kembali menatap cemas Daesung, apa dongsaeng-nya ini benar-benar ketakutan?

“Kau tadi mau bi-”

“Tidak! Tidak ada!” potong Daesung cepat. “Aku… aku lelah hyung.. sampai jumpa besok.”

Seunghyun masih menatap punggung Daesung yang kini menghilang ke dalam kamar pemuda itu sendiri. Seunghyun kembali menghela nafas.

“Kuharap ia baik-baik saja.”

 

.

.

.

.

 

Seungri menguap lebar begitu ia terbangun dari tidurnya, hari sudah lumayan gelap, jam di dinding kamarnya juga sudah menunjukkan pukul 04.40 sore.

“Sepi sekali. Ke mana mereka semua?” Seungri sedikit celingukan saat dorm dalam keadaan sepi. Langkah pemuda itu mengantarnya ke dapur, ada catatan kecil yang sengaja di tempel di kulkas.

 

‘Kami pergi sebentar ke YGent Building.. Tidurmu nyenyak sekali, aku tak tega membangunkanmu..

Jaga rumah baik-baik Seung-ya..’

 

YB

 

Seungri kembali meletakkan catatan itu. Pemuda panda itu lalu memasuki kamar mandi, hendak mencuci mukanya yang terasa lengket.

ZRASHH..

Seungri mengusap-usap telapak tangannya, membusakan sabun wajah dan mengusapkannya ke pipi. Sesekali ia bersenandung pelan, mengusir rasa kesepiannya.

“Tega sekali sih mereka itu.. aku tidak di ajak.. ish..” Seungri mendumal pelan.

Tidak. Seungri sama sekali tidak takut sendirian, hanya saja ia merasa hyungdeul melupakannya, terdengar berlebihan memang, tapi biarlah.

“Ah, sudahlah.. lagipula bila aku sendiri seperti ini, aku justru lebih bebas, kan?” Seungri beranjak keluar dari kamar mandi, langkahnya kini menuju ruang tengah. Ia lalu menyalakan televisi.

“Oh, berita sore hari..” gumamnya. Ia mulai menyimak suara pembawa acara berita.

 

Sebuah kejadian tragis telah terjadi kemarin malam pukul 03.33 pagi. Di temukan empat kelompok remaja dalam keadaan tak sadarkan diri.

 

“Wah, kasihan sekali.” Seungri menimpali sambil mengunyah kue nanas yang sempat ia ambil sebelum menonton televisi. Ia kembali menyimak si pembawa berita yang kini tengah menampakkan salah satu korban yang masih sadar. Kelihatannya gadis -si korban- itu trauma.

 

Agassi sebenarnya apa yang terjadi padamu juga teman-temanmu?’

 

Seungri mulai tertarik, ia memfokuskan perhatiannya saat pihak reporter mewawancarai si gadis korban yang di duga Seungri adalah korban perampokan.

 

Agassi..

 

Tolong selamatkan kami! Aku tak tahu apa yang ia inginkan dari kami! Dia terus mengejar kami!’

 

Seungri menggeleng-gelengkan kepalanya. Sepertinya gadis itu benar-benar trauma berat, kasihan sekali, pikir Seungri.

 

Belum tahu pasti apa penyebab keempat remaja ini pingsan dan trauma pada gadis ini. Busan, Lee Joon melaporkan.

 

JLEG..

Tepat setelah acara berita itu selesai, tiba-tiba listrik dorm padam yang otomatis membuat keadaan dorm gelap gulita sepenuhnya.

Aissh.. apa Jiyong-ah lupa membayar listrik?” keluh Seungri. Dengan bermodalkan sinar layar ponsel ia berjalan menuju dapur, mencari lampu senter. Seungri sedikit bergidik saat hawa dingin menggelitik tengkuknya.

“Kok tiba-tiba dingin, sih?” Akhirnya Seungri menemukan senter, ia lalu menyalakannya.

Pemuda panda itu kini meneliti sambungan kabel listrik yang ada, namun nihil, keadaan kabel masih baik-baik saja, tidak ada kerusakan apapun.

KRIET..

Seungri menoleh saat pintu depan dorm terbuka. Apa mungkin mereka sudah pulang? pikir Seungri sambil berjalan ke arah pintu depan.

“Jiyong-ah! Hyungdeul! Kalian sudah pulang?”

Hening. Tak ada yang menjawab pertanyaan Seungri. Tanpa rasa ragu, pemuda itu melongok keluar, dan tak mendapati siapapun di sana. Aneh.

BLAM..

Seungri menutup kembali pintu depan dorm perlahan, entah kenapa perasaannya jadi tak enak. Di sini gelap, hawa dingin yang menusuk juga tiba-tiba datang, lalu pintu yang terbuka sendiri.. Seungri mendengus.

“Jangan bercanda. Tak mungkin kau mengikuti kami, kan?” Seungri berkata sinis, namun detik selanjutnya Seungri tak lagi mampu berujar sinis, kedua lututnya terasa ngilu, hawa dingin yang menusuk pun kembali datang. Nafas Seungri memburu, rasa takut yang entah darimana datang kini menyelimutinya.

“Ti-tidak mungkin kau mengikuti kami.. kan?”

Hai..” Seungri tercekat, teriakan yang hendak keluar tertahan, begitupun nafasnya. “Mau bermain lagi denganku?

 

*FIN

 

Hallooooooo!!! I’m back bawain nih ff horror yang sangat tidak horror..#dicekek.. (thanks to my beloved sister yang ikut bantu @realtabina)..

Oke, ini aku ambil setting pas mereka akan menggelar konser di Tokyo barengan sama debut stage-nya Winner.

Sedikit cerita sih, permainan Midnight Game memang benar-benar ada, really, I say it’s REAL!! Begitupun langkah-langkah yang saya sebutin (di scene pas Seungri dkk mau mulai main.. bahkan bahan2 yang di perlukan untuk permainan itupun juga REAL!!) dan saya tekankan bagi readers sekalian.. JANGAN PERNAH MENCOBA MEMAINKAN GAME INI! SANGAT TIDAK DI ANJURKAN UNTUK DI MAINKAN DI RUMAH KALIAN, TERUTAMA BAGI KALIAN YANG PENAKUT! POKOKNYA JANGAN! BILA KALIAN NEKAD MEMAINKANNYA DAN TERJADI SESUATU HAL YANG TAK DI INGINKAN, INI BUKAN TANGGUNG JAWAB SAYA! OKE?!

 

Nah, ini peringatan dari saya.. Oke, kembali ke ff saya yang gagal..#kicked.. Terus terang saja, selama bikin ff ini saya juga rada takut..#dasarnya elu emang penakut.. but trust me, selama saya bikin nih ff dalam otak saya berputar satu pertanyaan yang sama terus.. Midnight man ga akan datengi saya karena saya bikin cerita tentang dia, kan? But, Alhamdulillah.. saya masih sehat.. n semoga tak berefek apapun.. hehe…

Oke, daripada saya makin ngelantur, ayuk.. monggo tinggalkan kesan2 readerdeul sekalian berupa review…^_^

 

Kansahamnida@youngdinna