tumblr_inline_mibb0wRmja1qz4rgp

by Atikpiece

Kwon Jiyong || Lee Chaerin

***

Bagi sebagian pria pada umumnya, ketika telah menjalani sebuah prosesi pernikahan bersama seorang wanita yang dicintainya dan mendapatkan penempatan sebagai sepasang pengantin baru, dia akan cenderung merasa bahagia melewati malam-malam terindah bersama pasangannya hari demi hari, bahkan hingga berminggu-minggu kemudian. Namun terkadang, suatu hal yang berlebihan akan terasa sangat melelahkan apabila terus dilakukan sesering waktu berjalan.

Maka tak jarang, saat matahari telah terbit, banyak di antara mereka yang lebih memilih bermalas-malasan, bergulung di dalam selimut, mendengkur sepuasnya, tidak peduli bagaimana repotnya sang istri tengah menyiapkan sarapan sekaligus kebutuhannya, setelah apa yang mereka lakukan pada istrinya semalaman.

Bisa dibilang, ini adalah sebuah interaksi antar lawan jenis yang sangat tidak menyenangkan.

Namun tidak bagi sosok Kwon Jiyong.

Pria itu selalu merelakan dirinya bangun di pagi buta hanya karena ingin menemui istrinya di balik dapur. Meskipun faktanya kehadirannya di sana sama sekali tidak membantu, ditambah ia sering membuat istrinya marah karena suka mengacak-acak properti dapur, tetapi satu hal yang membuat Lee Chaerin merasa bingung ketika tengah memotong sayuran—Jiyong selalu bisa membuatnya tersenyum hanya dengan mendekap tubuhnya dari belakang.

“Sayang.”

“Hm?”

“Berhenti sebentar bisa, tidak?”

Chaerin menggeleng. “Tidak bisa, aku sedang sibuk.”

“Hei, hadap sini dulu, dong.”

“Buat apa, sih?”

“Kau belum menciumku.”

Chaerin terhenyak, ia membeku di tempat. Dan well, hampir saja ia memotong jari telunjuknya kalau saja ia tidak segera melepas pisau dari genggamannya.

Sementara Jiyong kembali merajuk. “Ciuman selamat paginya mana?”

Chaerin mendengus, lantas berbalik menghadap Jiyong yang sudah bersiap-siap dengan bibirnya sembari mengulum senyum. Wanita itu mengangkat sebelah alisnya. Sungguh, apa aku harus memberikannya sekarang?

Sejak kapan aku mempunyai suami manja seperti ini?

Lengusannya keluar. Butuh waktu beberapa menit bagi Chaerin untuk memantap pilihannya. Cium. Tidak. Cium. Tidak. Kalau cium, bisa jadi Jiyong akan keterusan mengemban bibirnya sampai-sampai tidak mengingat jika masakannya jadi gosong. Kalau tidak, otomatis Chaerin akan terselamatkan dari serangan Jiyong yang membabi buta.

Tapi…

Seketika itu juga Chaerin menghirup aroma tidak sedap yang tiba-tiba menyeruak.

“Hei, bau apa ini?”

“Apa? Aku tidak bau apa-apa.”

Chaerin melirik Jiyong—sebut saja ia mencurigainya. Kemudian berinisiatif mendekatkan wajahnya ke wajah Jiyong. Benar, ada sesuatu yang tidak beres. Hingga akhirnya, Chaerin tersenyum lebar, menghirup napas dalam seraya meyakinkan hatinya dan membatin : TIDAK untuk hari ini.

“Kau lupa gosok gigi, kan? Gosok gigi dulu sana, baru aku cium.”

 

-end-

[1 Mei 2014]