aasds

Judul FF : One sided-love

Length Fanfiction : Oneshoot

Main-cast: sandara park, kwon jiyong

Other-cast: park bom, cl, minzy, park sanghyun, seungri, lee donghae

Genre: romance, angst, PG-15

Twitter : @bobbingu

Email: bobbingue@gmail.com

Fanfiction ini murni bikinan saya. Please respect, no plagiat!

 

 

 

 

Sudah lama aku menunggu nya, tapi aku hanya dapat memperhatikan nya dari kejauhan. Aku tau ini aneh, tapi mencintai nya adalah sebuah pilihan.

Aku tau rasanya menyakitkan, dan aku tidak bisa terus menerus mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Aku sendiri pun tidak mengerti mengapa aku bisa mencintai nya seperti ini?

Mereka bilang, diluar sana banyak orang yang jauh lebih baik darinya. Tapi sungguh, tak pernah terbersit sedikitpun untuk mencintai orang lain. Bagiku, dia sudah lebih dari cukup.

Mereka berkata, aku harus merelakan nya dan melepasnya. Tapi sungguh, itu rasanya terlalu berat bagiku. Sebelum matahari tak bersinar lagi, bagiku tidak ada kata terlambat.

Kalau mencintai nya adalah sebuah kesalahan, di penjara atau di hukum matipun mungkin aku rela.

Bermain dengan logika? Mencintai seseorang tidak membutuhkan logika.

***

September 2009

“Hey, sepertinya dia suka padamu,”

“Hh, wanita bodoh itu?”

Ya, mungkin perkataan mu benar. Aku bodoh, terlalu bodoh untuk mencintai orang seperti mu. Tapi kebodohan ku yang paling besar adalah, aku tidak bisa melupakanmu.

***

September 2010

“Kau masih suka padanya?”

“Kau gila? Itu tidak mungkin,” Jawabku sambil tersenyum pahit.

“Kalian terlihat sangat dekat,”

“Perasaanmu saja,” aku mengibaskan tangan ku dan lanjut menulis catatanku.

“Bagaimana kalau dia menyukai mu?”

Aku menyibak poni ku dan menatapnya dengan tatapan kau-tidak-tahu-apa-apa, “Kau tahu? Itu sesuatu yang tidak mungkin terjadi.”

***

Oktober 2010

“Kembalikan pensil ku!” Aku berusaha sekuat tenaga mengambil pensil ku tetapi dia menepisnya dengan sangat mudah.

“Make me,”

“Cepat kembalikan!” Aku masih terus berusaha meraih pensil ku kembali. Bukan, bukan karena pensil itu penting… mungkin aku hanya ingin sekedar bergurau dengannya.

“Bukan kah kau penasaran dengan isi dompet ku?”

“Mana?” Kata ku dengan mata berbinar-binar.

Dia menaikan alisnya dan menatap ku dengan pandangan meremehkan, “Kau. Pikir. Aku. Gila?”

“Jiyooooooong!!!” Aku memukul pundaknya keras.

Aku tahu ini aneh, tapi kejahilan nya berhasil membuat hari ku menjadi jauh lebih berwarna. Aku tidak mengerti hal apa yang membuat nya terlihat begitu menyenangkan dan menarik di mataku.

***

 

November 2010

“Bagaimana liburan mu?”

“Membosankan, kau?” Membosankan, ya… sangat membosankan. Liburan itu seperti neraka bagiku, aku lebih baik ke sekolah setiap hari daripada harus libur. Libur berarti aku tidak bisa bertemu dengan nya.

“Kurang lebih sama sepertimu,” Jawabnya, aku hanya mengangguk pelan tidak tahu tanggapan apa yang harus aku berikan.

“Kau.. mau nonton?” Tanyanya.

Tuhan, seandainya ini sebuah mimpi, aku sungguh-sungguh tidak ingin bangun dari mimpi ini. Biarlah aku terus tertidur dalam mimpi ku. Tetapi jika ini sebuah kenyataan, biarkan aku tetap terjaga. Aku tidak ingin sedikitpun melewatkan moment dengannya.

***

“Ji, kau akan benar-benar pindah tahun depan?” Tanya salah seorang temannya dan dia mengangguk.

Tuhan tolong jangan ingatkan aku tentang hal ini. Aku tahu waktu ku tak lama lagi, aku tidak akan bertemu dengannya lagi… mungkin.

Satu-satunya doaku adalah, jika aku tidak bisa bertemu dengan nya lagi. Pertemukan aku lagi dengan nya di kehidupan yang akan datang.

***

“Omo, dara-ah! Apa kau benar-benar akan kencan dengan donghae?”

Aku meletakkan jari telunjukku pada ujung bibirku dan mendesis mencoba menenangkan bom, “Sshh, bom… bisa kah kau kecilkan sedikit volume suaramu?”

Aku melirik ke arah nya diam-diam mencoba menafsirkan ekspresi apa yang akan dia buat tentang kencan ku dengan donghae, tapi aku tidak menemukan apa-apa dalam raut wajahnya, hanya sebuah tatapan kosong yang tidak dapat kubaca.

Aku tidak mengerti mengapa raut wajah tanpa ekspresi itu, dapat membuatku mati gaya dan lumpuh seketika. Aku merasa benar-benar terhipnotis dalam kharisma nya.

***

Mizuhara kiko, dia wanita yang cantik dan manis. Hampir semua pria menaruh hati padanya. Jiyong, mungkin termasuk salah satu dari laki-laki tersebut. Aku hanya tidak ingin tahu.

“Ji, yang nanti malam jadi?”

“Kalau kau mau,”

“Baiklah, bisakah kau menjemputku nanti malam?”

Aku menutup muka ku dan telingaku dengan buku yang sedang ku pegang. Aku tidak mau mendengar kelanjutan dari percakapan mereka. Lebih baik aku tidak tahu apa-apa daripada aku harus mengetahui yang sebenarnya.

***

“Kau… tidak apa-apa?” Tanyanya.

“Nae gwenchana,” Jawabku sambil tersenyum lemah.

“Apa yang terjadi?” Tanyanya lagi.

“Tidak ada,” Jawabku singkat sambil memalingkan muka ku.

“Aku hanya akan mengatakan ini sekali, cepat sembuh. Banyak yang merindukanmu,” Katanya lalu keluar dari kamar rawat ku.

Satu-satunya pertanyaan yang ada di benakku adalah “Jiyong, apa kau juga merindukanku?”

***

Sanghyun park : Noona-ah, cinta itu tidak bisa di paksa. Kau hanya membutuhkan sedikit kesabaran maka semua akan baik-baik saja.

Seungri : Kau mau menunggu sampai kapan? Apa kau akan terus-terusan memendam perasaanmu? Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk mu, noona. Tapi kumohon, jangan siksa dirimu lebih lagi.

Lee donghae : Aku mengerti, semoga kau bahagia dengannya.

Bom, CL, minzy : Try to confess!

***

“Happy birthday, Ji…” Kataku dingin, dia mengangguk pelan.

Sejujurnya aku sudah menyiapkan kado dari jauh-jauh hari, tapi aku masih belum memiliki keberanian untuk memberikan kado itu padanya.

Bom menawarkan diri untuk mewakilkan ku memberikan kado itu pada Jiyong tapi aku menolak. Aku ingin memberikannya dengan tanganku sendiri.

Sesaat, aku tersadar, waktu ku tidak banyak lagi. Dia akan segera pergi dari korea, tapi aku belum menemukan perfect-timing untuk mengungkapkan perasaanku.

***

Waktu berjalan sangat cepat, dan aku tau semua orang tidak akan bisa bermain dengan waktu. Aku sudah banyak menghabiskan waktu ku untuk menunggu dan terus menunggu.

Hari ini, aku akan mengakhiri semuanya. Hari dimana dia akan pergi dari korea, meninggalkan semua teman-temannya termasuk diriku.

Aku tersenyum melihat jam dinding dan menundukan kepala ku. 1×24 jam dari sekarang, dia akan berangkat ke tempat tujuan. Mau tidak mau, bisa atau tidak bisa, siap atau tidak siap… aku tetap harus merelakan nya pergi.

Apapun jawabannya, selama aku sudah mengungkapkan nya… semua sudah lebih dari cukup.

***

Your plane is about to take off, sir. Please hurry up,”

“Dara? Apa yang mau kau katakan?”

“Uh…” Aku tidak mengerti kenapa suara ku tidak bisa keluar. Sesuatu menghalangi ku untuk mengeluarkan suaraku.

Sir, please. We don’t have much time left,”

I’m going, take care dara,” Dia mengusap kepala ku dan melambaikan tangannya.

Aku masih terdiam, tidak sanggup berkata-kata. Ini terlalu berat….. tanpa sadar aku meneteskan air mataku.

Di sela tangisanku, aku masih terus memperhatikan punggung nya yang makin lama makin menjauh. Aku…

“KWON JI YONG! SARANGHAE!”

Aku berharap dia akan menghentikan langkahnya, tapi itu hanyalah sebuah harapan kosong. Semua sudah terlambat……

Dia tidak mendengarnya.