AZL-ED

Sepenggal kisah Azalea

Main cast: Dong Young Bae, Allea Park (OC), and Bang Cheol Yong a.k.a Mir Bang MBLAQ.

Support cast: Kwon Jiyong, Choi Seunghyun, Kwon Yuri, Do Kyungsoo, Oh Sehun (cameo), and Byun Baekhyun (cameo).

Warning: most of Allea’s pov, marriage life, AU, typo(s), pasaran, PG 17, and manymore.

Genre: Romance, and family.

 

 

youngdinna presents

.

.

.

Enjoy it!

.

.

.

Mereka menyebutnya azalea…

satu bunga dengan jutaan makna

 

Mereka bukanlah yang terindah.. mereka bukanlah bunga yang mewah..

Azalea..

 

“Tak ada gunanya aku hidup di dunia ini! Aku hanya akan menyusahkanmu! Lihat?! Bahkan aku wanita yang tak sempurna, tak seharusnya aku bersamamu!”

“Kau akan selalu menjadi cheonsa bagiku.. satu-satunya cheonsa yang kucintai..”

*Az*

Mentari nampak enggan keluar dari balik awan tebal yang bergumul pagi itu saat aku kembali membuka mata. Udara dingin yang sedikit masuk dari jendela kamar berhembus menggelitik kulit kakiku yang selimutnya sudah kusibak. Aku menoleh ke arah samping, tak kutemukan sesosok pria yang biasanya selalu berbaring di sebelahku kala malam menjelang, aroma tubuhnya bisa tercium kala aku mendekatkan wajahku ke bantalnya yang masih sedikit kusut, mungkinkah ia sudah berangkat kerja?

Cheonsa.. kau sudah bangun?” aku menoleh, kulihat sosoknya menghampiriku, tersenyum penuh ketulusan kasihnya. Senyum yang tanpa sadar membuatku terenyuh dan menyadari betapa bodohnya aku dulu.

“Maaf.. aku tahu semalam kau susah tidur, itulah mengapa aku tak membangunkanmu..” ia mengelus kepalaku yang terlapisi rambut pendekku, aku memejamkan mataku saat ia mengecup keningku lembut, memberiku getaran nyaman tersendiri.

“Ayo kita sarapan.. aku membuatkan sup miso kesukaanmu, cheonsa..”

Ia menarikku pelan, merangkul pundakku protektif sambil terus menuntunku perlahan ke arah ruang tengah, tempat di mana makanan lezat telah terhidang.

“Aku bisa sendiri.” elakku saat ia hendak mengambilkan semangkuk nasi untukku. “Kalau begini terus.. kau bisa terlambat kerja, Bae..” perlahan kuraih mangkuk kosong yang tak jauh dari jangkauanku.

PRANG

Aku menatap datar mangkuk utuh yang sekarang hancur karena terjatuh dari tanganku yang terasa kaku. Kurasakan kursi miliknya berderit, langkahnya kembali mendekat padaku, perlahan tangan telatennya memunguti mangkuk pecah di samping bawah kakiku.

“Maaf memecahkan satu mangkuk lagi.” kembali kulihat ia mengukir senyum. Sebelah tangannya meraih tanganku dan menggenggamnya hangat.

“Tanganmu masih terasa kaku?”

“Mungkin efek samping kemoterapi.. rambutku juga kian menipis.” ucapku datar. Aku menatap bayang wajahku yang terpantul di kuah sup miso, mungkin rasanya aku ingin menertawakan diriku sendiri. “Pergilah kerja sekarang sebelum kau terlambat..”

“Tapi..”

“Dong Young Bae.” kutatap mata jernihnya dengan penuh ketegasan, setelah itu ia menghela nafas.

“Baiklah.. tapi kalau ada apa-apa.. telepon aku segera. Atau mintalah bantuan pada Kyungsoo dan Seunghyun-hyung, mereka mengambil cuti hari ini..”

“Hm.” ia kembali mengecup keningku lembut.

“Aku berangkat dulu.”

“Hati-hati.”

***

Allea! Allea kembali dan lakukan kewajibanmu sebagai pewaris tunggal!”

“Kewajiban! Tsk!” aku mendecih sinis ke arah ayahku yang wajahnya di liputi rasa geram. “Aku tak akan menjalankan kewajiban itu. Titik.”

PLAK

“Bedebah! Kau benar-benar tak tahu di untung!” aku mencengkeram ujung gaunku geram, rasa panas bekas tamparan ayahku menjalar, menyisakan rasa sakit di hatiku. “Dong Young Bae adalah lelaki yang tepat untukmu, mendiang ibumu yang memilihnya sendiri. Menikahinya adalah hal yang terpuji, turuti permohonan terakhir ibumu, All..”

Tak berselang kudengar pintu kamarku berdebam keras, tanpa sadar airmataku mengalir begitu saja seiring dengan permintaan terakhir ibuku yang kembali terngiang.

“Menikahlah dengan laki-laki yang sudah kupilihkan untukmu, All.. namanya Dong Young Bae.. dia… dia orang yang tepat..”

“Arrrgh!” airmataku kembali menganak sungai. Sedih, aku sangat sedih karena pada kenyataannya aku tak mampu menjalankan permintaan terakhir ibuku setelah ia meninggal. Menikah? Usiaku bahkan masih dua puluh dua tahun.

Cause you are the piece of me I

wish I didn’t need

Chasing relentlessly, still fight and I

don’t know why

If our love is tragedy, why are you

my remedy?

If our love’s insanity, why are you

my clarity?

Dengan tubuh masih bergetar, aku beringsut mendekat ke arah benda kotak berwarna putih. Nyala lampunya berpijar berkali-kali, menyerukan nada dering. Tangisku makin keras saat kulihat nama yang terpampang jelas di layar benda -ponsel- itu. Cheol Yeong-oppa..

“Yeoboseyo? Chagi?”

“Oppa..” isakku keras. “Ottokhae.. oppa.. apa yang harus kulakukan? Aku tak mau menikahi pria itu..”

“Ssh.. tenanglah chagi.. jangan menangis..” kudengar Cheol Yeong -kekasihku- berujar menenangkan. “Kita masih bisa bersama..”

“Bagaimana mungkin oppa.. itu pasti sulit..”

“Apa kau mencintai pria itu?” aku terhenyak saat Cheol Yeong bertanya. “Dengarkan saranku chagi.. yang perlu kau lakukan adalah menikahinya. Itu kan yang di harapkan ibumu?”

“N-ne..”

“Jadi menikahlah dengannya tanpa dasar cinta. Kau dan aku masih bisa terus bersama.” jantungku berdegub cepat. Itu berarti..

“Oppa.. maksudmu adalah..”

Dia hanya pria ingusan chagi.. dia tak akan tahu apa yang telah kau lakukan bersamaku setelah menikah dengannya.. kalau perlu katakan dengan jujur kalau kau memang tak mencintainya.” aku tercenung, otakku mulai memproses apa yang sebaiknya kulakukan pada pria calon suamiku itu.

“Chagi? Kau masih di-“

“Oppa.”

“Ne?”

“Akan kupertahankan cinta kita sampai akhir. Aku janji.”

“Kau lebih cantik tanpa make up..” aku menatap datar pantulan sosok Young Bae di cermin, senyum lembut terukir di wajahnya yang menurutku cukup.. lumayan. “Biar kubantu melepas kerudung-“

“Singkirkan tanganmu!” kutepis kasar tangannya yang hendak menyentuh kepalaku. “Kau tak berhak menyentuhku!”

“A-apa?”

“Naif sekali jika kau berpikir aku pun bahagia dengan pernikahan ini, heck..” aku mendecih pelan. Ia nampak terkejut dengan responku.

“Aku tak tahu kalau kau tak menyetujui perjodohan ini. Andaisaja-“

“Apa yang bisa kau lakukan, hah?! Tak ada!” teriakku pada sosoknya yang kini memandangku sendu. “Aku sudah memutuskan, aku akan tetap menjalankan status menikahku bersamamu.. tapi jangan pernah harapkan cinta di antara kita.”

“Aku tahu mungkin ini kedengaran egois.. tapi sebelum menikah denganmu aku sudah memiliki kekasih. Jadi-“

“Aku setuju.” aku tersentak saat ia meluncurkan persetujuan dari mulutnya begitu mudah. “Kenapa? Itu kan yang kau inginkan?” aku masih membisu, ia mengukir senyum getir. “Selama hal itu membuatmu bahagia. Aku tak akan mempermasalahkannya, cheonsa..”

“Berhenti memanggilku dengan sebutan itu. Kau memanggilku seakan-akan ada cinta di antara kit-“

“Memang ada.” potongnya, senyum getir kembali terlukis di wajahnya. “Meskipun hanya sepihak saja.”

“K-kau..” aku tak tahu harus berkata apa. Sepihak? Apakah Young Bae benar-benar..

“Tidurlah.. aku akan pindah ke sofa.” ia mengambil salah satu bantal yang ada di ranjang kami. Taburan kelopak azalea terhampar di sprei-nya. “Selamat malam. Semoga kau mimpi indah..”

***

“Makanlah noona.. jangan buat Young Bae-hyung cemas..” aku menatap tak berminat sodoran sendok di depan wajahku. Pemuda bermata besar itu menghela nafas. “Kalau begini anda bisa sakit.”

“Sakit? Aku bahkan mengharapkan mati sekarang..” Kyungsoo -nama pemuda itu tersentak akan ucapanku. “Tak ada gunanya aku hidup di dunia ini. Aku mungkin hanya akan menyusahkan-“

“Tutup mulutmu.” aku kembali terbungkam saat sosok pemuda lain menginterupsi ucapanku.

“Seunghyun-hyung?” tegur Kyungsoo saat sesosok pemuda kekar memasuki kamarku.

“Kaulah harapan terbesar Young Bae selama ini. Jangan membuatnya kecewa untuk yang kesekian kalinya, All..” aku membuang mukaku ke arah lain, buliran air mataku mulai merebak.

Noona.. jangan menangis..” aku hanya menggeleng, mengisyaratkan aku tak apa-apa.

“Ayo kita pulang, Soo..”

“Tapi hyung..”

“Biarkan Allea sendiri.. All, kami pulang dulu.. jangan sungkan untuk menelepon.” perlahan kurasakan tanganku di genggam oleh Seunghyun, bias hangat memancar kuat di matanya.

“Kuatkan dirimu untuk Young Bae, All.. jangan terus menyalahkan dirimu sendiri.”

Take care noona..”

Sepeninggal Seunghyun dan Kyungsoo, sunyi kembali menemaniku di apartemen mewah milik Young Bae. Perlahan aku beranjak dari dudukku, sulit karena kedua kakiku mulai lumpuh.

BRUKH..

“Akh.. appo..” aku meringis saat aku kembali jatuh tersungkur. Isak tangis lirih kembali kulantunkan, bahkan hanya untuk berdiri aku tak lagi mampu.. Haneunim.. inikah balasan atas dosa yang kulakukan padanya?

Hang sang kyeo te it ji man

Eon jen ga neun seu chyeo gal sa

ram

Keu meul keu eo dun chae keu reoh

ke ji nae sseo

I reon na reul al ja na

Lagu dari ponselku berdering lembut, melantunkan satu lagu yang menurutku mencerminkan diriku, kesalahanku selama ini pada Young Bae.

“Hiks… tidak.. aku jahat..” dering ponselku terus berulang tanpa kugubris, kepalaku berdenyut-denyut pusing seiring dengan memori masa lampauku yang kembali terkuak.

….

Aku kembali terbangun saat suara alarm ponsel milikku berbunyi keras. Mengerang pelan kumatikan ponsel itu. Aku menguap kecil, semalam aku hanya tidur dua jam karena terlalu sibuk melakukan ‘aktifitas malam’ bersama Cheol Yeong. Aku menyeringai kecil.. Cheol Yeong? Lalu bagaimana kabar Young Bae?

Entahlah, aku tak peduli dengan pria yang masih berstatus suamiku itu. Lima tahun ini aku sudah meninggalkan dirinya tanpa memberi kabar, mungkinkah ia mencariku?

“Chagi…” aku tersenyum saat sebuah lengan kekar melingkari pinggangku. Aku tertawa kecil saat Cheol Yeong mengecupi leher dan pundakku.

“Kau sudah bangun?”

Hm..” Cheol Yeong meletakkan kepalanya di ceruk leherku.

Beginilah hidupku sekarang. Aku pergi dari rumah Young Bae lima tahun silam dan tinggal bersama di flat milik Cheol Yeong. Tinggal bersama, tanpa terikat, hanya ada cinta kami berdua.

“Aku lapar chagi..” kubiarkan Cheol Yeong kembali berbaring di atas dadaku. Aku mengelus surai gelapnya.

“Kau mau makan apa? Ramyeon? Hotpot?” Cheol Yeong terkekeh pelan. Perlahan ia kembali menindihku.

“Aku ingin memakanmu..” aku tertawa, tanganku menggelayut di lehernya.

“Makanlah aku.. Bang Cheol Yeong.. makan aku sepuasmu.”

Tak ada lagi suara yang terdengar, sepanjang pagi itu kami habiskan waktu berdua dengan aktifitas kami seperti kemarin malam. Teriakan keras kami menandakan berakhirnya kegiatan kami. Cheol Yeong memagut bibirku lama.

“Kau benar-benar mempesona, All.. kau adalah milikku. Bukan pria itu.” aku tersenyum, perlahan kubelai rahang tegas Cheol Yeong.

“Ya.. aku milikmu, oppa..”

Pagi itu tak seperti biasanya. Aku berjengit sambil merintih saat tanpa sengaja tanganku menyentuh payudara kiriku yang terasa nyeri, kulihat di sana kulit tubuhku juga sedikit mengkerut.

“Chagi? Waeyo? Tumben kau mandi lama.”

“Aniyo oppa.. nan gwenchana.” sahutku dari dalam. Kembali kutekuri kulit payudaraku yang terasa janggal.

‘Mungkin aku harus ke dokter..’ perlahan kukaitkan kancing pakaian dalamku. Kuharap ini baik-baik saja.

***

Normal pov’s

Young Bae menatap cemas layar ponselnya. Berkali-kali ia berusaha menghubungi ponsel istrinya namun tak kunjung di angkat.

“Ada apa oppa?”

Ani.. Aku hanya sedikit mencemaskan Allea.. ia tak segera mengangkat teleponku.”

“Untuk apa kau mencemaskannya? Dia bukan anak kecil lagi- ouch!” pemuda di samping Young Bae mengaduh saat gadis bermata kecil itu mencubitnya pelan.

“Mungkin Allea-eonni sedang sibuk.” hibur gadis bernama Kwon Yuri sambil mengukir senyum. Young Bae membalasnya, namun rasa cemas belum hilang dari wajahnya.

“Aku pergi sebentar. Yuri-ah tolong selesaikan tugasku.”

Ne, oppa.”

Young Bae berpamitan juga dengan Jiyong -pemuda yang di cubit Yuri yang hanya di balas dengan anggukan seadanya.

Oppa..”

“Hm.” Yuri menghela nafas pelan, tak habis pikir dengan saudara kandungnya ini.

“Tak seharusnya kau bersikap begitu pada Allea-eonni.. bagaimanapun juga dia adalah istri sah Young Bae-oppa.” Jiyong memutar matanya kesal.

“Hanya karena kau menyukai Young Bae, sekarang kau ikut-ikutan membela wanita itu.”

Aniyo.. bukan begitu.” Yuri hanya mampu menghela nafas menanggapi perkataan kakak sedarahnya itu. Apa yang di katakan Jiyong benar, ia memang menyukai Young Bae sejak lama, bahkan sebelum Young Bae menikahi Allea. Namun Yuri menyadari posisinya, ia tahu pasti bahwa seorang seperti Young Bae tidak pantas ia miliki, perbedaan mereka terlalu jauh. Young Bae terlahir menjadi seorang pewaris utama perusahaan yang kini di jalankan pria itu sendiri, sedang dirinya hanyalah seorang karyawan biasa.

“Aku heran bagaimana bisa kau bertahan menyukainya sampai sekarang, Yu.” Yuri tersenyum menanggapi pernyataan Jiyong. “Lebih baik kau cari yang lain saja.”

“Selama aku masih bisa menyukai Young Bae-oppa.. aku tak masalah, akulah yang menyukainya jadi aku tak berharap ia akan membalasnya suatu saat.”

Aish.. dasar. Sudahlah, ayo bekerja.”

Ne.”

***

Allea’s pov

“Pergi dari rumahku! Dasar jalang penyakitan!” aku menatap tak percaya saat Cheol Yeong membabi buta membuang semua pakaianku keluar rumah.

“O-oppa.. kenapa kau lakukan ini padaku?”

“Kenapa aku melakukan ini? Kau masih bertanya?” Cheol Yeong tertawa sinis. “Karena penyakitmu akan menghabiskan banyak uangku! Kanker payudara? Jangan bercanda!”

“Tapi oppa, bagaimana dengan janji kita yang akan terus saling mencintai?”

“Realistis Allea.. realistis!” Cheol Yeong kembali tertawa sinis. “Kau kan yang dulu memintaku untuk menerimamu. Kau juga tidak menuntut saat kukatakan aku tak mau terikat hubungan pernikahan.” kembali kutitikkan air mataku. “Jadi sebaiknya kau pulang ke tempat suamimu. Anggaplah kalau kita tak mengenal satu sama lain.”

Hal terakhir yang kuingat adalah pintu flat Cheol Yeong tertutup keras, tinggalkan debu dan sakit di dalam hatiku.

Langit kala itu menggelap, kupikir sebentar lagi mungkin jatuh hujan. Sambil melangkah gontai, kuseret koper melewati jalanan kota Mapo yang lengang, jam menunjukkan sudah pukul 22.30 malam. Aku lapar dan rasa sakit di payudara kiriku makin menjadi, berdenyut nyeri.

Aku tak tahu ke mana lagi harus pergi dan kakiku mulai lelah.

“Haneunim.. inikah balasan yang kudapat.” gumamku pedih sambil berjongkok di pinggiran sebuah kios rokok. Air mataku kembali mengalir, di saat seperti sekarang.. bagaimana mungkin aku memikirkan untuk pulang ke rumah Young Bae?

Lima tahun sudah aku meninggalkannya tanpa kabar, aku bahkan sengaja mengganti nomor ponselku dulu.

“Haneunim.. maafkan aku..”

Perlahan aku berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Aku ingin berendam dan menenangkan diri sebisaku.

“Menjijikkan.” ucapku saat semua bajuku sudah kulepas, menampakkan bayangan polos tubuhku di cermin besar.

Aku menyentuh pelan bagian dada kiriku, bagian itu kini tak lagi sempurna seperti dulu.

“Aku benar-benar hina.. bagaimana bisa aku menjadi seorang wanita yang hanya memiliki satu payudara.” tawaku getir. Kumundurkan tubuhku memasuki bathup berisi air, beberapa air tumpah keluar saat tubuhku mulai terendam seluruhnya.

Kembali kupejamkan mataku sambil terus memerosotkan tubuhku ke dalam air.

‘Tak ada gunanya aku kembali.. apa yang di katakan orang-orang benar.’ aku mencengkeram pinggiran bathup saat batas air hanya sampai pada hidungku. ‘Wanita hina sepertiku harus mati!’

BYURR..

….

Aku terbangun dari tidurku saat pemilik toko mengusirku pergi. Dengan tubuh lemas, kembali kugerakkan kakiku menyusuri jalanan Mapo subuh itu. Mataku berbinar saat aku menemukan sebungkus bbopki di tong sampah.

‘Haruskah kumakan sampah ini?’ ragu, kuambil bungkusan itu. ‘Tapi ini sampah.. tidak, aku juga lapar..’ kutolehkan kepalaku ke segala arah, tak ada siapapun. Dengan rakus, kumakan bbopki itu dan mengambil sisa makanan lain di sampah. Tak lagi kupedulikan darimana makanan yang kumakan, aku lapar dan aku harus makan.

Aku berhenti makan saat beberapa anak laki-laki berjalan pelan ke arahku. Mungkinkah mereka juga mencari makanan?

SYUUT

“Ya! Pencopet!!” aku tersentak dan berusaha berlari mengikuti arah anak-anak itu. Aku memang tak memiliki uang, tapi di sana ada ponsel dan cincin kawinku!

“Berhenti! Kembalikan tas ku!”

BUGH

Aku terpaku saat sesosok pria berhasil melumpuhkan salah satu dari rombongan pencopet itu.

“Awas!” aku panik ketika salah seorang dari mereka mengeluarkan sebuah belati.

BUAKH..

Aku menghela nafas lega saat pria itu berhasil membuat para pencopet itu berlari ketakutan, tas-ku selamat.

“Uhm.. anu.. kansahamnida sudah menolong.” pria itu masih terdiam, aku tak bisa melihat wajahnya yang tertutup topi. Tanpa berkata apapun ia mengambil tas milikku dan berjalan ke arahku.

“Ah kansahamnida.. sungguh aku berterimakasih..” aku membungkuk untuk yang terakhir kalinya sebelum aku berbalik. Namun langkahku kembali berhenti saat pria itu berucap.

“Cheonsa.. ayo kita pulang..”

 

“K-kau..” hal terakhir yang kurasakan adalah pria itu menarikku ke dalam pelukannya. Seketika tangisku kembali pecah. “Young Bae.. kau.. kau mencariku..”

“Selama lima tahun.. ayo kita pulang. Aku mencemaskanmu..”

***

“Puah.. uhuk.. uhuk!” aku tersengal saat seseorang tiba-tiba menarik tubuhku ke atas. “Y-Young Bae.. apa yang-“

“Apa yang kau lakukan?! Kau mau bunuh diri?!” aku terkejut saat Young Bae meninggikan suaranya. Kedua tangannya yang menggenggam lenganku bergetar, airmukanya mengisyaratkan bahwa ia sedang cemas. “Allea jawab aku?!”

“Ya! Aku ingin mati!” jawabku setengah berteriak. “Tak ada gunanya aku hidup di dunia ini! Aku hanya akan menyusahkanmu! Lihat?! Bahkan aku wanita yang tak sempurna, tak seharusnya aku bersamamu!”

“Kau adalah istriku!”

“Aku istri yang jahat!”

“Masa bodoh!” aku tersentak. “Siapa yang peduli dengan mulut orang-orang?!”

“Young Bae..” Young Bae menghela nafas, perlahan ia menarik tubuhku ke dalam dekapannya, nyaman sekali.

“Pernah dengar istilah cinta yang tulus?” Young Bae berbisik lembut. Ia menyandarkan dagunya di bahuku.

“Ya.. pernah..” kurasakan Young Bae mengecup lembut pundakku sebelum menarik kepalanya. Ia menatapku lembut.

“Saat ini aku sedang berusaha melakukannya padamu.” aku terhenyak.

“A-apa?” Young Bae tersenyum lembut, tangannya tergerak membelai pipiku, aku memejamkan mata, menikmatinya.

Cheonsa..”

“Hm?”

“Buka matamu..” aku membuka mataku. “Apa kau tidak suka?”

“Apa?”

“Hal yang kulakukan padamu.. kau tak suka?” bibirku tergerak membentuk senyum kecil.

“Wanita mana yang tidak suka dengan semua hal yang kau lakukan..” aku menggenggam tangan Young Bae. “Suka? Tentu aku suka.. sangat menyukainya malah..” aku tertawa lirih.

“Lalu kenapa kau nampak keberatan?”

“Bukan keberatan.. aku hanya merasa aku tak pantas mendapatkannya.” aku tersenyum getir. “Kau tahu apa saja yang telah kulakukan padamu.. setiap malam, setiap aku bangun, setiap detak jantung ini masih berdenyut.. aku selalu merasa.. tak seharusnya aku mendapatkan hidup lebih lama lagi.”

“Aku sudah menikah denganmu, tapi aku malah pergi meninggalkanmu, selama lima tahun tanpa memberimu kabar..” mataku kembali memburam. Aku menghela nafas pelan.

“Tapi mungkin aku sudah mendapatkan balasan yang sepadan..” aku tersenyum sambil memandang bekas jahitan di dada kiriku, tempat payudara kiriku kini menghilang. “Mungkin ini balasan atas semua yang telah kulaku-hmph..” aku terkejut saat tiba-tiba Young Bae menciumku. Ciuman lembut dari Young Bae untuk pertama kalinya.

Aku memejamkan mataku saat Young Bae beralih mencium keningku.

“Bukankah aku pernah bilang padamu..”

“Soal apa?”

“Jangan terus-terusan mengaitkan apa yang telah kau lakukan padaku dengan apa yang kau dapatkan sekarang.” aku membuang mukaku ke arah lain.

“Hei..” Young Bae menarik wajahku, kembali ia tersenyum. “Apapun yang terjadi.. bagaimanapun keadaanmu sekarang.. satu hal yang perlu kau ingat, cheonsa..”

“Y-Young Bae?!” aku terkejut saat Young Bae tiba-tiba mengecup bekas jahitan di dadaku. Tiba-tiba mukaku memanas. Young Bae tersenyum lembut.

“Kau akan selalu menjadi cheonsa bagiku.. satu-satunya cheonsa yang kucintai.” aku kembali memejamkan mataku saat Young Bae menempelkan kening kami satu sama lain. “Saranghanda.. jeongmal saranghanda..” aku tersenyum, satu air mata kembali lolos dari sudut mataku.

Nado.. nado jeongmal saranghanda..”

***

Normal’s pov

“Jadi begitulah cerita cinta appa dan eomma!” dua bocah laki-laki nampak bertepuk tangan setelah mendengar cerita dari gadis bermata biru itu. Senyum lebar terukir di wajah gembulnya.

“Lalu bagaimana kabal eomma-mu Jen?”

“Ah, Sehun kepo deh!”

“Bialin.. weeek!”

Eomma ku sampai sekarang tetap cantik dan dia sudah sembuh dari kanker!”

“Jenny..”

Appa!” si gadis kecil berlari ke arah sesosok pria berumur tiga puluhan. Pria itu berjongkok dan mengelus kepala anaknya. “Mana eomma?”

Eomma di rumah.. ayo pulang.” Jenny mengangguk mantap ke arah Young Bae -sang ayah.

“Sehun-ah! Baekhyunnie! Jenny pulang dulu ya! Annyeong!!” Young Bae hanya tersenyum saat dua sosok bocah melambai ke arah mereka.

Bahagia. Mungkin satu kata itu yang bisa Young Bae gambarkan untuk keluarga kecilnya. Lima tahun ia menunggu kepulangan Allea, nyatanya tidak sia-sia.. Allea pulang, meski dalan keadaan sakit parah. Young Bae tertawa saat sang anak -Jenny berceloteh sepanjang perjalanan pulang. Young Bae kembali mengelus kepala putrinya. Dua tahun, Allea terus melakukan pengobatan kemoterapi, berusaha terus bersemangat dan bertahan hidup hingga ia di nyatakan sembuh total dan beberapa tahun kemudian lahirlah Jenny, putri mereka berdua.

Eomma!” Allea tersenyum saat putrinya datang dan memeluk kakinya di susul sang suami yang mengecup keningnya.

Eomma.. bolehkah Jenny main bersama Homie.. boleh ya?” Allea tersenyum geli.

“Boleh.. pergilah..”

“Kau mengagetkanku..” Allea hanya tersenyum saat Young Bae merangkulnya dari belakang. Mereka berdua sama-sama tertawa memperhatikan Jenny yang tengah bercanda bersama anjing piaraan mereka -Homie.

Cheonsa..”

“Hm?”

“Aku ada lagu untukmu..” Allea tersenyum.

Jinjja? Nyanyikanlah..” Young Bae tersenyum, perlahan-lahan lantunan lagu mengalun lembut dari bibir Young Bae.

Cause I was born to tell you I love you

And I am torn to do what I have to,

to make you mine

Stay with me tonight.

*FIN

*Cheonsa : Angel

*Haneunim : same as God

Annyeonggggggggg!!!! Long time no see long time no see..#ala bang enTOP

Ahhhhh.. saya sangat sangat sangaaaaaat rindu bikin ff suami saya yang atu ini #cium pipi yb.. hohoho, namun lagi-lagi saya bikin dia menderita, gpp kan beib?? #ngelirik yb.

Yb : gpp kok beib… #ignore it

Ngomong apa lagi yak.. ah, iya saya juga mohon maaf bgt bgt bgt krn di sini Mir saya bikin jahaaaaat.. habisnya kabarnya kan Mir itu aslinya juga rada playboy gitu..#kicked.. tapi ga ada maksud nge-bash lho ya.. ini hanya untuk keperluan ff aja.. ^_^

Terus potongan lirik lagu korea itu punyanya Kim Jo Han yg judulnya Sarangi Neujeoseo Mianhae dan sumpah tuh lagu daleeeeem bgt… T.T.. suaranya om Jo juga mendayu-dayu gitu.. hiks.. terharu deh..

Dan mengenai judul ff ini.. sebenarnya buat mencerminkan si yb di sini.. katanya di ilmu florist -kayak arti bunga gitu- Azalea itu perlambang cinta tulus yang tak menuntut.. gampangannya sih mencintai dengan ikhlas tanpa meminta imbalan.. di sini kan Yb juga mencintai Allea tanpa mengharapkan Allea harus membalasnya juga..

Oke, saya jadi makin melenceng nih.. hoho.. Nah, tinggalkan jejak ne readers..

 

Kansahamnida@youngdinna