dear boys lalalaAuthor: A_Kwon | Main Cast(s): Lee Seunghyun (Seungri), Hyun Hagyeong (OC), Kwon Jiyong (GD), & Ha Yooran (OC) | Genre: Romance, Drama & a bit comedy*maybe* | Length: Chaptered | Rating : PG-15

Seorang wanita berpakaian dress hitam mini dengan blazer berbahan jeans tengah duduk di kursi kantin kampus sambil menyeruput mochacinnonya. Suasana kantin yang sedang sepi sungguh berbeda 180 derajat dengan keadaan lalu lintas kota Seoul di pagi itu. Ia tak berhenti menatap keluar, ia sedang menunggu seseorang. Setengah menit kemudian datanglah seorang namja bertubuh tinggi, tegap, dengan sorot mata yang tajam.

“Apa kau sudah lama menunggu?” tanya namja itu seraya duduk di kursi yang ada di hadapannya.

“Tidak juga, aku baru ada disini sekitar setengah menit yang lalu” ucapnya setelah meneguk mochacinno. “Seunghyun-ah..”

“Iya, ada apa??”

Sementara itu di Hanyang University..

“Kau yakin menyatakannya sekarang??” tanya namja bermata sangat sipit pada namja disebelahnya

“Tidak, aku hanya akan membuat janji. Aku akan menyatakannya nanti malam” jawab namja itu sibuk berkutat pada handphonenya. Tak memperdulikan kedua sahabatnya yang terus mengoceh.

Kembali pada Yooran dan Seunghyun..

DRRT..DRRT..DRRT..

Baru saja Yooran akan membuka mulutnya, handphonenya berdering. Tertera nama Seungri disana. Ia segera menjauh dari hadapan Seunghyun dan mengangkat panggilannya.

“Yeoboseyyo..?”

“Noona.. Apakah malam ini kau tak ada acara??”

“I..Iya.. Kenapa?”

“Ada sesuatu yang harus kukatakan padamu. Temui aku di restoran yang biasa kita kunjungi pada jam 8 malam nanti”

“Oh baiklah”

TIIT..

Ia termenung sejenak, setelah mematikan layar handphonenya.

==DEAR BOYS==

Pagi itu sangat cerah, langit biru menghiasi bersama awan dan mentari. Serta udara yang berhembus menyejukkan. Membuat beberapa murid SMA Hannyoung memilih menghabiskan waktu di luar kelas sambil menunggu bel masuk berbunyi. Ada yang mengobrol, bercanda, bermain sepakbola, bermain basket, dan makan di kantin.

Begitu halnya dengan Hagyeong. Ia kini sedang sendiri memakan makanan ringan di bawah pohon sambil mendengarkan lagu di headsetnya. Itulah kebiasaannya sehari-hari ketika menunggu bel berbunyi. Kadang tak jarang ia terlambat masuk ke kelas karena ketiduran.

Dalam lamunannya, ia kini tengah memikirkan Seungri. Wajahmya, mata pandanya, dan bibir tipisnya membuat ia sedikit gila memikirkannya. Entah mengapa tiba-tiba saja otaknya memutar memori disaat ia akan dicium oleh Seungri serta saat dimana ia tak sengaja tertindih oleh tubuhnya.

“Kyaaa.. Apa-apaan ini?!! Pabo..Paboya..!! Apa yang kau pikirkan Hagyeong?! Micheosseo..?!” omelnya sendiri sambil memukul-mukul pelan kepalanya, wajahnya tampak merah padam.

“Baiklah, aku memang sangat mencintainya. Tapi memikirkan seperti itu hanya akan membuatku..membuatku..”

“Merasa hampir gila?” Suara sinis tersebut membuyarkan pikiran Hagyeong. Dia menoleh ke belakang, dan menemukan sahabatnya Gyurim tengah bertolak pinggang menatapnya jahil. Bagaimana dia tahu..?

“Hahh kau ini.. Aku merasa kasihan melihatmu yang terus-terusan berharap dan berkhayal padanya. Tapi boleh kuakui cinta pertama memang begitu. Apalagi kalian dijodohkan, kau sangat mencintainya sedangkan dia acuh tak acuh padamu. Benar-benar rumit..” komentar Gyurim yang beranjak duduk disampingnya.

“Iiiiishh.. Kali ini aku sedang tidak berkhayal tahu! Kejadian seperti itu benar-benar terjadi. Kalau kau hanya berniat menggangguku pergi saja sana..” dengus Hagyeong memincingkan matanya ke arah sahabatnya itu.

“Hehe sudah..Sudah.. Lagipula aku cuma bercanda kok. Ngomong-ngomong apa benar kejadian seperti itu terjadi?” tanya Gyurim mendekati wajah Hagyeong setengah tak percaya. Hagyeong tampak memasang wajah sedatar mungkin padanya.

“Iya benar, untuk apa aku mengada-ada.” seru Hagyeong. “Lagipula biasa aja kali, tak usah dekat-dekat. Bau jjampong yang kau makan pagi ini sampai-sampai tercium tahu..” Hagyeong mengernyit sambil mendorong pelan dahi sahabatnya itu dengan telunjuknya agar menjauh.

“Hihi.. Mianhae” Gyurim terkikik sebentar sambil menutup mulutnya. “Apa saja kejadian-kejadian itu?”

“Ke satu, kami hampir saja berciuman tapi gara-gara handphonenya berbunyi dia tak jadi menciumku. Ke dua…..Ke dua……. Aku tak yakin untuk menceritakannya..” wajah Hagyeong tampak merah padam ketika akan membicarakan yang kedua ini. Agak ragu ia untuk menceritakannya, apalagi dengan sahabatnya yang bermulut bocor itu.

“Ayolah ceritakan saja.. Aku kan sahabatmu, tenang saja aku tidak akan berkomentar apa-apa dan tidak akan menceritakannya pada siapapun kok” rengek Gyurim penasaran.

“Oke baiklah, jika kau tak menepati janjimu itu maka akan aku pastikan aku tak akan membantumu untuk mendekati Jiyong. Arraseo?! Yang kedua adalah dia tak sengaja menindihku..” Wajah Hagyeong seketika berubah sangat datar disertai kedua pipinya bersemu ketika mengucapkan kalimat terakhir.

“Dia m-menindihmu? Kalian..??”

“Aishh.. Sudah kubilang itu tidak sengaja. Kami tidak melakukan hal seperti yang kau pikirkan. Kau tuli ya?” sungut Hagyeong memincingkan matanya dan mengerucutkan mulutnya.

“Oh baiklah, aku mengerti. Ngomong-ngomong nanti pulang sekolah….” seru Gyurim berbunga-bunga sembari menjentikkan jarinya.

“Apa?”

“Kita bermain di rumahmu. Oh ya, jangan lupa ajak Jiyong” bisik Gyurim yang kemudian berlari menuju kelas mereka diikuti oleh Hagyeong.

Bahasa Inggris adalah pelajaran pertama mereka hari ini. Kelas sudah setengah terisi murid-murid yang sudah bersiap menunggu bel masuk berbunyi dan pelajaran dimulai. Beberapa murid disana sibuk membuka buku pelajaran bahasa inggris, menyadari saat itu akan ada ulangan harian.

Lain halnya dengan Hagyeong, ia tampak santai saja menghadapi itu. Ia memang dikenal sebagai anak yang jenius. Ia selalu meraih peringkat pertama juara umum di sekolahnya berturut-turut. Meskipun begitu, ia tak pernah sombong. Ia selalu membantu teman-temannya dalam hal positif.

Entah mengapa, tiba-tiba saja saat Hagyeong tengah melangkah menuju bangkunya kepalanya terasa pusing. Ia pun segera duduk di bangkunya agar rasa pusing di kepalanya berkurang dan memperkecil kemungkinannya untuk pingsan. Sudah beberapa hari terakhir ini ia merasakan pusing yang menyerang kepalanya tanpa sebab. Tetapi ia tak terlalu mengkhwatirkannya ia menganggap itu hanya sakit kepala biasa.

TEEET…TEEEEET…..

Bel masuk berbunyi, murid-murid yang masih berada diluar berhamburan masuk kedalam kelas. Saat ini Hagyeong tengah menundukkan kepalanya di meja berusaha untuk mengurangi pusing di kepalanya. Benaknya terus menyemangatinya agar tetap dapat bertahan setidaknya sampai selesai ulangan nanti.

Tak berapa lama kemudian, Sandara seonsaengnim tiba. Setumpuk kertas putih berada di tangannya. Murid-murid terkesiap melihatnya, kecuali Hagyeong yang kini sedang menunduk.

“Ha..Hagyeong menurutmu apakah ulangan kali ini susah?” bisik Gyurim yang matanya tak berhenti menatap ngeri setumpuk kertas yang kini sedang diletakkan di meja depan kelas oleh Sandara seonsaengnim. “Ha..Hagyeong?”

Menyadari tak ada jawaban, Gyurim pun mengalihkan perhatiannya dari kertas-kertas yang sekarang sedang dibagikan oleh Sandara seonsaengnim. Ia mendapatinya tengah menunduk tanpa bergerak.

“Hagyeong kau tak apa-apa??” bisiknya mendekat sambil menggoyang-goyangkan pundak Hagyeong. Tak ada reaksi. Sedetik kemudian ia terkesiap melihat Hagyeong yang ternyata pingsan. “Sandara seonsaengnim..! Hagyeong pingsan..!” serunya panik. Seisi kelas pun tertuju dengan ekspresi terkejut padanya.

“Benarkah??” ujar Sandara seonsaengnim mendekat khwatir.

“Ne, seonsaengnim. Dari tadi aku memanggilnya dan menyentuhnya tapi tak ada respon apapun” ujar Gyurim menjelaskan.

“Seorang namja, tolong bawa dia ke UKS!” seru Sandara seonsaengnim ke seisi kelas.

“Biar aku saja seonsaengnim..” ucap Jiyong bangkit berdiri dari bangkunya. Semua mata kini tertuju pada Jiyong. Gyurim tampak terkejut.

“Baiklah silahkan” ucap Sandara seonsaengnim mempersilahkan. “Nah, sekarang kembalilah pada soal kalian..”

Kelas pun kembali tenang. Jiyong yang merangkul Hagyeong di tangannya kini melangkah meninggalkan kelas. Beberapa murid terdengar berbisik-bisik membicarakannya. Gyurim tampak termenung, pikiran berkecamuk di kepalanya.

“Seandainya saja itu aku..” gumam Gyurim pelan sembari menggigit ujung jari telunjuknya.

Disetiap langkahnya, Jiyong terus membulak-balikkan wajahnya kedepan dan kebawah. Memperhatikan langkahnya dan wajah Hagyeong dengan gusar. Mulutnya berdecak hebat tampak berkomat-kamit tak jelas, memohon pada Tuhan agar tak terjadi apa-apa pada gadis yang diam-diam disukainya tersebut.

4 langkah kemudian, sampailah ia ke dalam UKS. Diletakkannya dengan hati-hati tubuh Hagyeong yang terkulai lemas itu diatas ranjang UKS. Ia tampak menghela nafas sambil menatap Hagyeong lekat sejenak sebelum meninggalkan tempat itu untuk kembali ke kelas.

“O..Oppa! Oppa!” Suara tiba-tiba Hagyeong tersebut membuat Jiyong menghentikan langkahnya dan berbalik. Ia mendapati Hagyeong masih dalam keadaan terpejam. “Oppa! Seungri oppa! Jangan tinggalkan aku..” Kali ini Jiyong membulatkan matanya, seketika itu ia teringat dengan pertemuan pertamanya dengan orang yang disebutkan Hagyeong tersebut. Kakaknya?

==DEAR BOYS==

Namja itu berusaha memfokuskan perhatiannya ke badan jalan. Dua orang yeoja yang duduk di belakangnya tak berhenti mengoceh tak karuan. Tak heran motor ninja yang mereka tumpangi itu kadang bergoyang karena ulah dua yeoja tersebut.

“LALALALA~ LALALA~” kedua orang yeoja itu kini sedang bernyanyi asal yang entah lagu apakah itu. Mereka tak peduli, karena saat itu jalan sedang sepi.

“Maaf teman-teman, bisakah kalian tenang? Aku sedang menyetir motor” sela Jiyong yang tetap berusaha fokus.

“Ups mianhae. Kami selalu begitu jika sedang merayakan sesuatu”

“Memangnya kalian merayakan apa?”

“Entahlah kami juga bingung..” Jiyong yang mendengar jawaban singkat dan bodoh mereka kini menaikkan sebelah alisnya kebingungan. Aneh.

Semenit kemudian sampailah mereka di kediaman keluarga Hyun. Hagyeong kemudian membuka pintu rumahnya yang besar dan mempersilahkan mereka masuk. Pelayan-pelayannya menyambut mereka dengan ramah.

“Jadi kita akan bermain apa? Truth or dare, karaoke, menonton film, PS4, atau…” ujar Hagyeong yang kemudian langsung dijawab oleh Gyurim.

“Truth or Dare!” seru Gyurim bersemangat.

“Tak terlalu buruk” tambah Jiyong, walaupun sebenarnya ia ingin bermain PS4.

==DEAR BOYS==

“Ayo kita bersenang-senang!” seru Daesung berdiri mengacungkan tangannya di hadapan Seungri dan Youngbae yang sedang duduk di bangku taman kampus. Keduanya tampak hanya memandang Daesung datar. “Kenapa? Kalian tak tertarik?”

“Kemana?” tanya Youngbae sambil menyeruput es coffe latte-nya.

“Seperti biasa..” ujar Daesung mengerlingkan matanya.

“Disaat sore seperti ini? Ayolah.. Tak seru. Lagipula aku sedang tidak mood untuk pergi kesana” timpal Seungri.

“Kau kan jam 8 malam nanti akan ada acara. Jadi kita bersenang-senang sekarang saja” jawab Daesung santai.

“Terserah kau saja..” jawab Seungri dan Youngbae bersamaan.

“Kalau begitu ayo..!” seru Daesung menarik kedua tangan sahabatnya menuju tempat parkir untuk mengambil kendaraan mereka.

Diantara beberapa kendaraan mewah yang terpakir disana, terdapat 3 buah mobil yang termewah dan termahal. Itu adalah kendaraan mereka. Tak heran, karena keluarga mereka lah yang terkaya diantara para chaebol(kalangan atas) Korea. Seungri dengan perusahaan pertambangannya V Corporation, Daesung dengan perusahaan elektroniknya D-Lite Electronics, dan Youngbae dengan label musiknya SOL Entertainment .

Ketiganya secara bersamaan masing-masing memasuki kendaraannya dan menjalankannya menuju daerah Gangnam. Dan berhenti di sebuah pub yang sudah terlihat ramai dikunjungi para chaebol walaupun kala itu waktu memasuki senja. Datangnya mereka membuat kehebohan tersendiri di pub, berbagai pasang mata tertuju pada mereka ketika memasuki pub. Terlebih para wanita yang gencar ingin menggoda mereka.

Seungri memilih untuk duduk saja. Sementara kedua sahabatnya sedang asyik menari di lantai dansa. Awalnya Youngbae sehati dengannya, tapi karena ia amat menyukai musik ia pun tak tahan ketika musik disko berbeat cepat diputar dengan keras. Jadi sekarang tinggallah Seungri sendiri.

“Menyebalkan..” gumam Seungri memincingkan matanya pada Daesung dan Youngbae yang asyik disana. Kemudian ia meneguk segelas cocktail yang tersaji di meja. Setelahnya, ia dikagetkan oleh beberapa tangan yang membelainya. Ia kemudian menoleh dan mendapati beberapa wanita berpakaian minim berada di sekelilingnya.

“Apakah kau anak dari pemilik V Corporation?” tanya seorang wanita disampingnya sambil membelai dada bidangnya.

“N-Ne..” jawab Seungri sambil menepis tangan yeoja tersebut karena merasa tak nyaman.

“Nikmatilah pestanya Seungri-ya! Yuhuu…!” seru Daesung di kejauhan yang terlihat asyik menari sambil menggaet dua orang wanita di tangannya. Berbeda dengan Youngbae yang asyik menari sendiri tak memperdulikan wanita-wanita yang merayunya.

Seungri kemudian melihat jam tangan yang ada di tangan kanannya. Jam tangannya menunjukkan pukul 6. “Masih ada dua jam. Kurasa aku bisa bersenang-senang” gumamnya menyeringai nakal.

==DEAR BOYS==

Hagyeong dan Jiyong tertawa puas melihat Gyurim yang kini wajahnya berlumuran bedak sedang menari buchaecum(tarian tradisional korea) asal-asallan. Rupanya ia kalah, dan memilih dare daripada truth. Disela-sela tawa mereka berdua, tanpa Hagyeong ketahui rupanya Jiyong sedang mencuri-curi pandang padanya. “Dia lebih terlihat cantik ketika tertawa” batin Jiyong.

“Ah sudah, aku capek. Bagaimana kalau sekarang kita makan” ujar Gyurim seraya mengambil beberapa helai tissue untuk membersihkan wajahnya.

“Makan apa?” tanya Hagyeong

Jjangmyun!!”

“Koki di rumahku hanya memasak makanan western. Biasanya kalau aku ingin makanan Korea aku membelinya di luar” ujar Hagyeong.

“Ah iya aku lupa, kalau kau mengandalkan kokimu. Lain kali kau harus belajar memasak, jangan mengandalkan kokimu terus. Bukankah kau nanti akan menjadi seorang istri…….” Kalimat Gyurim terputus ketika Hagyeong memelototinya, memberi kode untuk jangan mengungkapkannya kepada oranglain selain mereka yaitu Jiyong. “Istri yang baik” lanjutnya canggung, yang kemudian dibalas dengan anggukan dan senyum puas oleh Hagyeong.

“Kalau begitu ayo makan di luar. Aku akan mentraktir kalian” ujar Jiyong bangkit berdiri.

“Jinjja??!!” seru Hagyeong dan Gyurim berbinar-binar.

“Ne..”

“Kajja….!!”

==DEAR BOYS==

Namja berjaket varsity itu kini tengah asyik menari bersama yeoja-yeoja berpakaian minim sembari menggenggam segelas wine di tangannya. Kala itu waktu telah menunjukkan pukul 8 kurang 10 menit, tapi ia masih belum sadar. Ia memang belum mabuk berat tapi karena ia terjatuh pada keasyikan dunia pub kala itu lah yang membuat ia tidak sadar.

“Seungri-ya, bisakah kau beritahuku jam berapa sekarang…?” ujar Daesung menghampirinya agak sempoyongan karena telah mabuk.

Seungri kemudian melihat jam tangannya. “Pukul 8 kurang 10 menit” Seketika itu juga ia tersadar akan janjinya pada Yooran malam ini. Ia pun segera berlari keluar pub menuju mobilnya. Tak memperdulikan kedua sahabatnya yang masih ada di dalam sana.

“Seungri-ya! Kau mau kemana?!” seru Youngbae tanpa dibalas oleh Seungri. “Ahh dia malah meninggalkanku dengan si mata beras ini. Mana sudah mabuk lagi.. Tssk..” gumam Youngbae frustasi sambil melihat keadaan Daesung.

Di dalam mobil….

Mata Seungri tertuju pada badan jalan, sementara kakinya sibuk menginjak gas. Ia terus merutuki dirinya sendiri karena telah lalai. Ia tak mau rencananya itu hancur. Ia telah bertekad untuk menyatakan perasaannya sekarang dan kali ini ia tak boleh gagal. Setahun yang lalu ia pernah mencobanya tapi gagal karena saat itu ia dijodohkan orangtuanya mendadak dengan Hagyeong.

3 menit berlalu, ia menghentikan mobilnya di depan rumahnya. Dan segera berlari kedalam rumahnya. Ia terkesiap ketika melihat sesosok wanita berambut pirang sedang duduk di ruang tamu membaca majalah. Sosok yang ia sangat kenali, adik perempuannya!

“C-Chaerin..?? Kenapa kau disini?” tanya Seungri membulatkan matanya.

“Oh jadi kau sudah pulang. Tadi pagi appa dan eomma berpesan kalau mereka akan berada di Busan selama 2 minggu lebih” jawab Chaerin tanpa mengalihkan perhatiannya dari majalah yang ia baca.

“Lalu..??”

“Mereka menyuruhku untuk mengawasimu”

“M-mwo..?! Untuk apa aku diawasi olehmu..Umurku lebih tua darimu, dan aku sudah dewasa..” sungut Seungri mengerucutkan bibirnya.

“Iya, umurmu memang lebih tua dariku dan kau sudah dewasa. Tapi itu tampaknya tidak menjadi jaminan, buktinya mereka menyuruhku mengawasimu” ujar Chaerin datar. Kali ini ia menatap wajah Seungri lalu kembali membaca majalah.

“Ahh…Terserah!” ujar Seungri kesal dan berlalu menuju kamarnya untuk segera mengganti pakaian.

2 menit kemudian..

Seungri yang telah berpakaian rapih keluar dari kamarnya. Ia mengenakan kemeja biru panjang yang ia gulung hingga siku serta celana panjang hitam.

“Rapih sekali, mau pergi kemana?” tanya Chaerin penasaran.

“Ehm.. Pertemuan dengan tunanganku” jawab Seungri berbohong.

“Ooh.. Gadis yang putri dari Perusahaan CM itu kan? Hyun Hagyeong??”

“N-ne” jawab Seungri canggung. “Ngomong-ngomong bagaimana kuliahmu di Busan jika kau pindah kesini?” tanya Seungri mengalihkan perhatian.

“Aku mengambil izin” jawab Chaerin datar sambil mengunyah permen karet tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah yang ia baca.

“Oh, kalau begitu aku pergi dulu. Hati-hati di rumah” pamit Seungri.

“Ne.. Semoga sukses kencannya”

==DEAR BOYS==

Tiga orang itu kini tengah berjalan di trotoar di daerah Hongdae. Saat itu suasana malam disana sedang ramai. Dipenuhi para remaja yang berlalu lalang menghabiskan waktu mereka bersama teman-teman mereka hingga dengan pasangan mereka.

Mereka masuk ke dalam sebuah restoran yang tampak cukup ramai. Mereka mengambil tempat duduk di dekat jendela restoran. Tampak di seberang tempat duduk mereka ada seorang perempuan berambut hitam bergelombang yang tak lain adalah Yooran.

“Oh ya Hagyeong, tadi pagi di sekolah kenapa kau bisa pingsan? Apa kau memang kurang fit atau karena kau sudah stress duluan dengan ulangan? Tapi rasanya tak mungkin jika kau stress duluan karena ulangan, kau kan jenius aku saja yang biasa-biasa saja tidak sampai pingsan kalau berkeringat dingin sih iya..” ujar Gyurim sambil sesekali melihat daftar menu.

“Sepertinya aku memang kurang fit. Oh ya..” Kalimat Hagyeong terputus sejenak ketika ia mendekat pada Gyurim membisikkan sesuatu. “Mianhae karena aku telah membuatmu cemburu karena tadi pagi Jiyong merangkulku ke UKS” bisiknya.

Gyurim pun membalas dengan berbisik juga. “Tak usah pikirkan aku. Lagipula kau kan saat itu sedang benar-benar membutuhkan pertolongan” bisik Gyurim.

“Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Jiyong heran yang sejak tadi ia memperhatikan mereka berdua berbisik mencurigakan.

“Bukan apa-apa” jawab Gyurim dan Hagyeong kompak. Kedatangan seorang pelayan restoran yang menghampiri meja mereka memberi koma sesaat diantara mereka bertiga.

“Kami pesan jjangmyun tiga, banana milk dua, dan teh omija satu” ujar Gyurim mewakili Hagyeong dan Jiyong.

Tepat saat pelayan itu sedang sibuk menulis pesanan mereka seorang namja datang memasuki restoran. Segera setelah selesai menulis, pelayan itu segera menghampiri meja tempat namja itu berada. Ekor mata Hagyeong mengikuti pelayan tersebut dan kemudian terbelalak begitu mendapati seseorang di meja itu yang memesan makanan. S-Seungri??!

Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat ketika mendapati ada seorang yeoja sedang bersama Seungri. Rasanya saat itu ia terasa seperti tersambar petir. Pikirannya seketika kosong melompong disertai dengan hatinya yang terasa meledak.

“Tidak Hagyeong! Jangan sakit hati terlebih dahulu, siapa tahu saja itu hanya temannya!” batin Hagyeong menyemangati dirinya sendiri. Ia pun berniat memastikannya dengan menghampirinya. Ia lalu menghela nafas perlahan sebelum memberanikan diri bangkit dari kursinya.

“Oppa?” sapa Hagyeong yang membuat Seungri mendongak terkejut. “Siapa dia?” tanya Hagyeong kemudian yang membuat Seungri mati kutu dibuatnya. Yooran yang memperhatikan mereka berdua tampak kebingungan. Begitupun dengan Gyurim dan Jiyong disana yang tampak membelalalakkan matanya, terlebih pada Gyurim.

“Mianhae kami harus berbicara dulu” ucap Seungri pada Yooran sebelum ia menarik lengan Hagyeong keluar meninggalkan restoran.

Setibanya diluar agak jauh dari restoran tersebut Seungri kemudian melepaskan cengkramannya di lengan Hagyeong. Tampaknya ia benar-benar kalap dan hampir kehilangan kesabarannya karena rencananya hancur untuk yang kedua kalinya karena gadis tersebut. Ia menghela nafasnya berulangkali sambil menyapu wajahnya dengan telapak tangan.

“Kenapa kau bisa berada disana?” tanya Seungri datar sedatar ekspresi wajahnya saat ini. Ia sedang berusaha menahan emosinya.

Hagyeong mundur beberapa langkah dengan menunduk tanpa menatap wajahnya mencoba menciptakan jarak diantara mereka. Ia takut menerima kemarahannya yang tampak sedang bad mood dengan ulah nekadnya tadi. “A-Aku sedang makan-makan bersama teman-temanku dan aku melihatmu sedang bersama seorang y-yeoja..” jawabnya gugup.

“Aku mohon, tolong jangan ganggu aku..” ujar Seungri yang kemudian berbalik melangkah meninggalkannya untuk kembali ke restoran tadi.

Hagyeong yang menyadari keberadaan Seungri menjauh segera mengangkat kepalanya kedepan. Matanya terbelalak begitu mengetahui jarak Seungri sudah agak jauh darinya. Ia segera berlari mengejarnya sambil memanggil-manggilnya.

“O..Oppa! Oppa!” serunya memanggilnya tetapi tak mendapatkan respon apapun dari Seungri. “Oppa! Seungri oppa! Jangan tinggalkan aku..” Begitu ia memanggilnya untuk yang kedua kalinya ia pun teringat akan mimpinya saat pingsan tadi. “Hampir serupa, mungkinkah itu suatu pertanda?” pikirnya.

Dalam mimpi itu digambarkan dirinya dan Seungri terpisah oleh sebuah sungai berarus deras yang agak lebar. Ia memanggilnya yang berada di seberang sungai, tetapi tak mendapat respon apapun dan malah menjauh.

Saat ia berusaha mengingat kelanjutan dari mimpinya itu, tiba-tiba saja sakit kepala menyakitkan yang ia alami akhir-akhir ini kembali menyerang kepalanya. Pandangannya perlahan mengabur dan ia mulai kehilangan keseimbangannya. Tangannya terulur berusaha menggapai Seungri sebelum matanya tertutup.

BRUG!

Seungri terkejut menghentikan langkahnya begitu mendengar sesuatu limbung di belakangnya. Ia terbelalak begitu berbalik dan mendapati Hagyeong terkapar di trotoar. Ia segera menghampirinya cemas.

“Hagyeong.. Hagyeong-ya.. Gwenchana?” ujarnya cemas menepuk-nepuk pelan pipi Hagyeong. Tak ada reaksi. Tanpa pikir panjang ia langsung merangkul Hagyeong ke dalam mobilnya untuk mengantarnya pulang.

TRIIIING…TRIIIIING…

Handphone milik Hagyeong berbunyi ketika Seungri sedang menyetir mobil. Ia meliriknya sebentar lalu kembali fokus menyetir. Karena handphone tersebut tak kunjung berhenti berdering ia lalu memutuskan untuk mengangkatnya sambil tetap fokus menyetir.

“Yeoboseyyo?”

“Nuguseyo? Dimana Hagyeong?” tanya seorang perempuan yang tak lain adalah Gyurim.

“Ah, kau temannya ya? Aku kakaknya. Sekarang dia sedang aku antarkan pulang karena dia pingsan” Sedetik setelah ia mengatakan beberapa kalimat tersebut ia langsung menutupnya.

==DEAR BOYS==

Gyurim berdecak kesal setelah sambungannya diputus begitu saja. Jiyong yang ada di hadapannya hanya menatapnya kebingungan. “Menyebalkan, dingin sekali. Pantas saja Hagyeong susah mendapatkannya”pikirnya.

“Waeyo? Apa dia tak apa-apa?” tanya Jiyong antusias.

“Dia pingsan. Sekarang dia sedang dibawa pulang oleh kakaknya tadi” jawab Gyurim dengan wajah cemas.

“M-mwo?! Jeongmal??” tanya Jiyong membulatkan matanya tak percaya.

“N-ne..”

“Sepertinya ada yang salah padanya. Mungkinkah dia mengidap suatu penyakit?” gumam Jiyong berpikir.

“Entahlah, aku tak tahu. Setahuku dia tak mengidap penyakit apapun”

==DEAR BOYS==

Seungri menidurkan hati-hati tubuh Hagyeong di tempat tidur. Setelahnya ia kesulitan, karena tangannya terjebak di bawah punggung Hagyeong. Saat ia sibuk mengeluarkan tangannya perlahan tiba-tiba saja salah satu tangan Hagyeong meraih lehernya dan menariknya mendekat. Matanya membulat menatap wajah Hagyeong yang masih terlelap ketika bibirnya menyentuh bibir Hagyeong.

YOU HAVE A CALL…YOU HAVE A CALL…

Handphone Seungri berdering. Ia langsung mengangkat kepalanya menjauh dari wajah Hagyeong dan segera mengeluarkan tangannya yang tertindih perlahan untuk merogoh handphonenya. Tertera nama Yooran disana. “Ia pasti menungguku” gumamnya. Kemudian mengangkat panggilannya.

“Kau dimana? Aku menunggumu..”

“Jeongmal mianhae nuna. Aku tadi lupa untuk memberitahumu. Mungkin lain kali saja kita bertemu lagi”

“Ah..N-ne”

“Tak apa-apa kan, nuna? Perlu aku antarkan?”

“Ne, gwenchana..Tak usah repot-repot aku bisa pulang sendiri”

Sedetik setelah percakapan mereka berakhir, Seungri memasukkan kembali handphonenya ke dalam sakunya. Kemudian melangkah keluar sesaat sebelum ia benar-benar pergi ia membalikkan badannya menatap Hagyeong putus asa. Entahlah, saat ini pikiran dan perasaannya berantakan.

TBC

Bonus : Hidden Scene (Gyurim and Jiyong Moment) ^o^

Mulut Gyurim menganga begitu melihat Hagyeong meninggalkan restoran ditarik Seungri. Ia merasa khwatir sekaligus sebal pada sahabatnya tersebut saat itu. Pasalnya, itu artinya saat ini ia berdua dengan Jiyong dan ia gugup.

“Ada apa dengan mereka? Apa mereka sering tak akur?” gumam Jiyong yang juga melongo sama sepertinya.

“Mereka kakak-beradik yang aneh” jawab Gyurim asal. Lalu meneguk segelas minuman di depannya tanpa melihat itu apa. “Kenapa rasa banana milknya seperti teh??” gumamnya dalam hati terkejut saat cairan minuman tersebut menyentuh lidahnya.

“I..Itu punyaku..” ujar Jiyong canggung menunjuk gelas yang dipegang Gyurim.

“M-mwo??!” seru Gyurim membulatkan matanya tak percaya. Dan begitu ia melihat gelasnya.. “Kyaaaa..!” Ia langsung berteriak terkejut, entah apakah itu sebuah teriakan senang atau shock.

END

Well kapan-kapan dilanjut lagi ya! Sebelumnya aku ngucapin terimakasih buat kalian yang udah baca, komentar(ngereview), dan nunggu ff ini. Komentar kalian aku tunggu guys! Saran dan kritik kalian sangat bermanfaat untukku. So, please jangan lupa komentar ya kalau baca dan tetap setia nunggu ff ini kkk ^^

 

Iklan