untitled-1 (1)

Nama author : Fybbang’s –known as baramjigirl-

Cast(s) : Big Bang Kwon Jiyong, Girl Generation Kim Taeyeon –Ericka Kim, Super Junior Kangin –Jordan Kim, Oc/s Kim Young Dae

Genre/rating/length : Romance, PG, Twoshoot

Disclaimer :

A/N : Fanfiction ini dulunya di post di blog pribadi saya, snowerskpopff.wordpress.com tapi sekarang blognya udah berubah nama yayy jadi fybbangsite.wordpress.com mohon bantuannya ya untuk meramaikan kembaliㅋㅋㅋ

Twitter : //salmarizkyawr

__

Seorang wanita melangkah dengan pastinya menuju sebuah ruangan yang penuh dengan baju baju bermerek mahal serta model model semapai.

Musik catwalk berdentum dengan kerasnya, gladiresik acara fashion show yang cukup megah di Seoul.

“Stop.”

Seorang wanita cantik mengangkat tangannya, musik pun langsung berhenti, “Naikkan ini di bahumu.”

“Lanjut.”

Musik kembali berdentum, wanita itu tersenyum puas. Ia pun mengecek i-Phonenya, memastikan sebuah panggilan.

“Taenggie..” Terdengar suara seorang laki laki yang terdengar romantis saat kau mendengarnya.

“Hai oppa..” Taeyeon tersenyum dan melambaikan tangannya pada lelaki itu.

“Sudah makan siang?” Laki laki terlihat sangat berkharisma.

“Hmm.. Yah.. Aku harus melakukan gradiresik, acaranya kan malam ini..” Taeyeon terlihat bingung akan menjawab apa. Sebenarnya ia tengah menjauhi lelaki ini, ia merasa tidak enak bila lelaki ini bergantung padanya.

“Hyejung –ah! Aku bawa nona besar keluar dulu ya!”

Taeyeon terlihat menolak, tetapi laki laki besar itu terlihat asik merangkul Taeyeon.

*

“Oppa.. Aku sangat gugup untuk acara ini. Aku tidak menyangka, desainer paris sekelas Jean akan datang di acara ini!” Taeyeon terlihat excited saat menceritakan hal itu.

“Kau mau desainer apa pun aku bisa membantumu mendatangi mereka ke acara fashion showmu, Taenggie..” Lelaki itu terlihat santai dengan segala ucapannya.

Taeyeon menghela nafas, lelaki ini memiliki segalanya. Uang, pertemanan internasional. Dan bisa ia jamin tiap ceritanya itu hanya sedikit berarti di otak lelaki itu.

“Jadi.. Apa maksudmu Jean sudah kau sogok, ku mohon katakan itu tidak benar Kangin –ya..” Taeyeon menahan gesekan garpunya pada daging sapi yang ia makan.

“Anniya.. Tidak juga, aku hanya menceritakan tentang kekasihku yang seorang desainer pakaian brendit di korea yang sudah go internasional ke paris.” Kangin menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya.

“Kau ini, aku bukan pacarmu pabo..” Taeyeon memanyunkan bibirnya kesal.

Kangin hanya tersenyum kecil, Taeyeon mendelikkan matanya asal. Restoran korea bergaya Paris ini adalah salah satu restoran favoritnya sejak ia belum menjadi desainer. 4 tahun menetap di Paris dan menjadi desainer untuk merek Red Blossom, merek yang mulai booming secara universal.

“Lain kali kita harus coba rostoran lainnya, aku rasa tempat ini mulai memburuk.” Kangin mengutarakan pendapatnya.

Taeyeon tersenyum, tidak ada restoran seenak restoran ini –menurutnya- tempat favoritnya adalah di dinggir dinding kaca. Kita bisa melihat apapun diluar sana melalui kaca ini.

Berbicara soal Kangin, Kangin adalah seorang pengusaha muda dengan perusahaannya yang terbilang baru, tapi cukup berkembang. Bagi Taeyeon, Kangin adalah orang yang sangat berharga baginya, masa masa sulitnya berlalu semenjak datang lelaki itu. Taeyeon menganggapnya sebagai kakak, namun berbeda hal dengan Kangin yang menganggapnya lebih.

Ia banyak berhutan budi pada Kangin, itu yang menyebabkannya tidak bisa menolak keinginan Kangin. Walau hatinya masih terkunci rapat pada seseorang yang pernah ia ‘sakiti’.

Oke, back to topic.

Taeyeon kembali melahap makanannya, perlahan matanya mendelik kembali menatap ke luar.

“Kita harus pergi.” Ekspresi gadis itu berubah drastis.

Kangin tersenyum simpul. Ia hanya mengira gadis itu bosan makan di tempat yang sama terus menerus.

“Drtt.. Drtt.. Drtt..” Terdengar suara ponsel bergetar, Kangin bergegas mengangkatnya.

“Ya saya segera menyusul.” Suara lelaki itu terlihat serius.

“Ayo Taenggie, aku antar kau sampai halte ya. Direktur akan mengadakan rapat dadakan.” Kangin mengancingkan lengannya lalu segera berdiri.

Taeyeon menggigit bibirnya, kembali melihat keluar.

“Anniya.. Aku ingin pulang sendiri ada sesuatu yang ingin aku beli.” Taeyeon terlihat menyembunyikan kegugupan.

“Baiklah.. Aku pergi dulu, bye..”

Taeyeon menatap pintu restoran, Kangin melambaikan tangannya. Taeyeonpun ikut melambaikan tangannya.

Taeyeon kembali duduk dan melirik jam tangannya, ia mencuri curi pandang ke arah luar sembari meneguk minumannya.

 

Taeyeon Pov

“Anniya.. Tidak mungkin,” Aku merasakan sekujur tubuhku bergetar, aku ingin sekali menyapanya.

Akhir akhir ini aku sering melihatnya di tempat ini, mengapa tuhan begitu kejam?

Membiarkan aku membuka lembaran dosa lamaku untuk melihat lelaki itu?

Aku berbolak balik di depan cafe ini, sungguh aku sangat ingin menyapanya. Tapi aku takut, sangat takut!

Aku memperhatikan ke arah kerumunan orang yang makin lama makin berkurang. Kemana lelaki itu?

“Jangan berfikiran aneh aneh Kim Taeyeon..” Aku memejamkan mataku kesal, mencoba menenangkan diriku yang penuh dosa ini.

“Sudah aku duga ini kau.” Terdengar suara lelaki yang cukup berat, suaranya sangat ramah, ramah di telingaku. Aku sudah jelas jelas mengenal suara ini.

“Kim Taeyeon..” Tangannya menggenggam tanganku, aku masih belum berani menengok ke belakang. Menatap wajahnya lebih dekat –kembali- Aku masih belum berani.

Aku memejamkan mataku sejenak, memikirkan kembali alasan alasan aku membencinya.

“Lepaskan aku,” Ucapku datar.

“Tidak akan aku lepas untuk kedua kalinya.” Dia mengeratkan pegangan tangannya.

Aku menggigit bibir bawahku, bila saja aku punya nyawa banyak, aku akan memilih untuk mati dulu sekarang dan hidup lagi saat aku lupa semua hal di dunia ini.

Aku menarik tanganku, tapi tidak bisa. Sungguh lelaki ini..

Aku mencoba cara aneh untuk melarikan diri yaitu menatap wajah lelaki ini dan berkata, “Hai, apa kabar.”

Aku membalikan tubuhku baru saja aku akan mengucapkan kalimat itu, matanya berkilat kilat.

“Hanya ikuti aku, please..” Desisnya pelan.

Aku tidak tahu harus bagaimana, aku semakin takut.

“Tolong.. Tolong..” Aku mencoba berteriak, beberapa orang melihatku dengan pandangan sarkatisnya.

“Anni.. Ini tunanganku, kita sedang ada masalah.. Mian mian..” Jiyong menarik tanganku mendekat padanya.

Aku menyiniskan wajahku, dia memang terlalu pintar mengeles.

Orang orang itu pun berlalu pergi, aku hendak berlari namun tangan itu memeluk pinggangku erat. Jangan lagi..

“Jagiya.. Dengarkan penjelasanku dulu..” Bisiknya tepat di telingaku dengan gaya manjanya. Kakiku pun berasa melayang, aku mengikuti omongannya. Mantra apa lagi Jiyong?

Jiyong berjalan ke tempat yang lebih sepi di sebuah gang kecil di samping toko pakaian. Aku hanya mengikutinya dengan mata yang terus melihat ke bawah.

Tuhan, bisa kah kau berikanku waktu kembali ke masa lalu? Aku tidak akan meninggalkannya lagi, aku tidak akan membuat hidupku menjadi rumit.

 

Auhtor POv

Taeyeon menunduk dengan berbagai perasaannya. Jiyong berjalan cepat melewati gang cukup sempit yang bisa menembus ke apartemen kecilnya.

Jiyong menghentikan langkahnya, ia menggigit bibirnya dalam dalam dan menyenderkan gitarnya.

Taeyeon memundurkan langkahnya, perasaannya mulai tidak enak.

“Kemana saja kau selama ini!” Jiyong mendorong Taeyeon pada dinding.

“Ji-ji-jiyong sshi.. ” Taeyeon menjadi gugup tidak terkira.

“Kau tau berapa ratus malam aku tidak bisa tidur, hah?!” Jiyong meninjukan tangannya pada dinding. Taeyeon semakin beringsut turun, ia tidak bisa sok tegar di depan tunangannya itu. Ya, mereka belum resmi berpisah.

Jiyong tersenyum, senyum yang aneh.

“Turunkan aku, Jiyong –shhi!” Taeyeon berteriak memukul mukul punggung Jiyong saat Jiyong menggendongnya asal sembari berjalan cepat menuju sebuah taman bermain yang sepi.

Jiyong menurunkan Taeyeon pada sebuah kursi kayu.  Lalu langsung menguncinya  tangannya rapat rapat.

“Kau tahu berapa banyak aku bermimpi seperti ini?”

Taeyeon menahan bahu Jiyong yang semakin mendekat.

“Kau tahu berapa tahun aku berharap bisa memelukmu kembali?!”

Mata Jiyong memancarkan emosi yang sangat kuat.

“Aku berasa aku orang paling gila karena tidak bisa melihat, kau tahu rasanya?!”

Jiyong meneteskan air matanya, tepat di lengan gadis itu.

“Ji..Jiyong –sshi,” Taeyeon terus memundurkan bahu Jiyong

“Diam!” Jiyong menyentak Taeyeon kuat kuat.

Keadaan menjadi hening.

Taeyeon menundukan wajahnya perlahan butir air mata itu mengalir dari matanya.

“Jiyong –sshi.. Mianhae.. Aku tahu aku salah.. Maaf..” Taeyeon menggenggam tangan Jiyong pelan pelan.

Jiyong terhenyak, memikirkan tentang perbuatannya barusan.

“Maafkan aku, aku hanya.. Terlalu kecewa,” Jiyong memundurkan posisi tubuhnya.

“Aku terlalu mencintaimu.” Jiyong memeluk Taeyeon erat.

Taeyeon menganggukan kepalanya pelan, pelukan yang berasa mimpi.

 

At Kangin rooms – 14.00

“Ya.. Aku tahu itu, untuk beberapa kali aku melihat seorang lelaki dengan perawakan sangat mirip dengan Kwon Ji Yong, aku rasa dia berhasil menemukan donor.” Lelaki tegap itu menyuruput kopinya.

“Bagaimana bila Ericka Kim memilih untuk kembali dengan Jiyong?” Wanita di depannya itu mengkerutkan kening.

“Katakan pada kepala perusahaan Kim, aku akan segera melamar anaknya.” Lelaki itu beranjak dari kursinya.

“Aku akan ke ruang rapat, bila gadis itu menghubungiku. Langsung lacak gpsnya, aku ingin tahu dimana ia.” Kangin dengan santainya menitah perempuan di depannya itu.

“Allright Mr. Jordan Kim.” Jawabnya lalu membungkuk.

*

 

Jiyong Pov

“Jadi, apa kabarmu?” Tanyanya pelan pelan setelah 15 menit berlalu tanpa suara.

“Baik, membaik setelah aku bisa kembali melihat dunia.” Tuturku. Untuk beberapa waktu lama aku mengalami kebutaan, semua di sebabkan oleh gadis ini. Gadisbodoh ini, gadis yang telah membuat aku tidak bisa menyukai gadis lainnya.

“Maaf..” Kata kata itu terdengar lirih.

Aku tersenyum lebar. Persetan dengan semua ini.

“Aku tidak akan melupakan hal terindah dalam hidupku, terutama setelah masa kelam aku hidup. Aku akan menuntut kembali hidupku yang baik. Aku akan menikah.” Jawabku dengan senyuman sinis.

Akhir akhir ini aku suka tersenyum, aku sudah lelah dengan apa yang aku rasakan. Tidak ada gunanya aku mengeluh, siapa yang akan mendengarnya?

Semua hal gila di dunia ini telah membangkitkan setan dalam tubuhku, membuat senyumanku tidak lagi tulus. Melainkan senyuman yang membara dengan kebencian dan kemunafikkan.

“Menikah?” Tanyanya.

“Menikah denganmu.” Jawabku.

Ayah gadis yang duduk di sampingku ini telah membuat mataku menjadi buta, aku hampir mati karenanya. Akan menjadi hal yang wajar bila aku meminta anaknya untukku.

Gadis itu terhenyak. Aku tidak peduli apa keputusannya.

“Maafkan aku, tidak bisa..” Taeyeon mencoba tersenyum dalam gurat kesedihannya, dia menolak ajakanku. Darahku berdesir, setan ini kembali keluar dari peraduannya.

“Aku bukan Jiyong yang dulu. Kau sendiri yang telah membangkitkan setan dalam tubuhku. Aku tidak peduli siapa yang akan ditolak atau menolak. Aku bisa menentukan dengan siapa aku dan bagaimana aku!” Tuturku dengan seringaian.

“Jiyong dimana?” Gadis itu berdesis.

Tidak ada yang salah dengan pertanyaan itu, Jiyong yang lama memang sudah mati. Tertabrak oleh mobil sedan berkecepatan tinggi untuk menyelamatkan seorang gadis dari Ayahnya yang gila.

“Aku sudah pernah menyelamatkanmu kan? Sampai aku buta. Lalu setelah itu kau pergi, ya? Pergi ke mana? Ah.. Pasti sekolah ke Paris, mencari lelaki juga ya? Ah.. Senangnya bisa melihat indahnya paris..” Aku mengeluarkan unek unekku.

Taeyeon hanya terdiam, mungkin ia menyadari dosanya.

“Langit warnanya biru, dedaunan musim gugur berwarna coklat, musim semi penuh dengan warna. 2 tahun aku tidak bisa melihat itu semua. Puas kau?” Tanyaku skeptis.

“Kamu salah,  aku tidak pernah mengharapkan kamu kenapa napa, Jiyong-sshi.. ”

“Berkali kali aku mencoba menghapus perasaanku, menghapus pandanganku saat aku melihatmu tersenyum di depan bunga iris ungu. Mencoba menghapus pandanganku saat tanganku penuh darah dari kepalamu. Dan menghapus pandanganku saat kau berteriak di suatu ruangan terang dan mengatakan ruangan itu gelap.” Taeyeon menuturkan kata kata itu dengan nafas yang tercekat. Aku sudah sangat hafal gadis ini.

“Kim Taeyeon, tatap aku.” Aku menarik bahu gadis itu supaya mau menatap mataku.

“Lihat aku, aku bilang! Kau bukan gadis pengecut kan?!” Teriakku di depan wajahnya.

“Kau mau apa?! Sudah aku bilang, aku akan pergi dari hidupmu malai saat ini! Ya! Aku meminta maaf membuatmu sulit! Maaf! Kau butuh berapa? Kau akan segera mendapatkannya!” Taeyeon tiba tiba memaki ku dengan kata katanya itu. Aku tidak peduli, telingaku sudah kebal dengan makian.  Gadis kecilku ini tidak bisa memaki apa apa di depanku, karena setiap makian gadis ini berasa pujian di telingaku.

Ia mulai mengangkat wajahnya dan menatap mataku.

Wajahnya masih sangat cantik, walaupun matanya yang berair. Aku masih melihat aura indahnya hingga saat ini.

“Aku tidak meminta kau berlari dari hidupku. Aku juga tidak butuh milyaran uang untuk uang permohonan maafmu, aku ingin dirimu.”

“Aku tidak mengerti apa yang kita bicarakan.” Ucapnya datar.

“Menikah denganku.”

“Aku tidak bisa.”

“Mengapa?”

“Aku dijodohkan.”

Aku memegang leher gadis ini mengangkatnya supaya ia tetap melihat mataku. Persetan dengan perjodohannya, ia hanya belum tahu siapa aku yang kini. Aku akan usahakan apapun untuk kelangsungan hidupku!

“Persetan dengan keadaan yang sekarang. Aku menginginkanmu. Aku mencintaimu. Dalam keadaanku yang sekarang!” Tuturku.

“Kau bukanlagi orang yang aku kenal, bukan lagi sunbae yang aku sukai. Berhentilah meninggikan intonasi su–!” Gadis itu berteriak di depan wajahku.

“Eummph!!” Aku mencium bibir gadis ini dengan penuh paksaan.

“Aku memang berubah, diriku, otakku. Bukan hatiku, bagaimana aku coba pun. Hatiku tetap untukmu.”

Gadis itu bergeming.

”Rasanya sama kan? Bibirku hanya untukmu. Aku hanya mengagumi indahmu di balik otakku yang sudah tidak waras. Ya, aku kini psyco! Puas kau?!” Bentakku lagi dan menggenggam tangannya.

Angin berhembus kuat, membuat poni gadis itu menjadi acak acakan.

“Bawa aku pergi, bawa aku pergi dari pahitnya duniaku kini. Bawa aku pergi. Sunbae.” Taeyeon berdesis menahan tangisnya.

“Aku benci Ayahku, aku benci uangnya. Aku benci hidupku.” Taeyeon menangis di bahuku.

Aku membelai rambutnya halus, menangislah cantik. Menangislah.. “Kita masih sepasang kekasih.”

Aku tersenyum kembali, senyum kepuasan pertamaku setelah 3 tahun berlalu. Yang hanya di ciptakan oleh orang sombong seperti Kim Taeyeon.

 

Flashback

 

“Ayah tidak akan mengizinkanku bersamamu, oppa.. Menyerahlah, kita berteman saja oppa..” Gadis berambut di bahu itu menolakku secara pelan pelan. Penyataan cinta ke 7, dan hasilnya aku di tolak lagi.

Aku meremas bunga iris di tanganku.

“Gwechana, masih ada hari esok.” Aku tersenyum dan membelai rambutnya.

 

One week laters

“Oppa ini memang benar benar keras kepala! Baiklah kali ini aku terima!!” Taeyeon memanyunkan bibirnya  lalu tersenyum, cantik.. Cantik sekali.

Aku tersenyum lembut lalu segera mencium bibir gadis itu. Manis. Manis.

“Terimakasih sudah menerimaku hari ini.” Aku memeluknya erat.

 

3 days laters.

“Ini khusus untukmu.” Ujarku memberikan gelang berwarna putih dengan tulisan Dragon. Nama panggungku. Ya, aku seorang bassist band sekolah.

“Serius? Terimakasih!”Dia memakainya dengan senang. Aku tersenyum lalu menyandarkan tubuhku pada pohon akasia yang ada di belakang tubuhku ini.

“Bagaimana dengan Ayahmu? Apakah dia masih memarahimu?” Tanyaku padanya.

“Sepertinya Appa tahu bila aku sedang berpacaran. Dia semakin melarangku pergi keluar rumah, Oppa.. Eomma juga memilih untuk pindah, ia pergi tanpa memberitahuku. Aku tidak tahu ia kemana. Appa juga kini bersahabat dengan minuman keras. Sepertinya kondisi perusahaan semakin parah.” Taeyeon menghela nafas panjang.

“Tenang saja, bila ada apa apa telfon aku. Aku akan menjadi orang pertama yang datang untukmu, kiddo.” Aku mencoba menghiburnya.

“Ya! Oppa.. Oppa baru saja 18 tahun, tetapi sangat pede sekali.” Cibir Taeyeon.

“Ayo pulang, nanti kamu bisa ketahuan Ayahmu, Kim Taeyeon..” Aku mengangkat tangannya, supaya ia mau berdiri.

“Oke, oppa..” Dia tersenyum lalu berdiri.

Kami berjalan dengan santai, walau suatu saat aku buta pun aku sudah sangat hafal jalan dari bukin belakang sekolah ke rumah gadisku ini.

“Hati hati menyebrangnya,” Ujarku saat melihat Taeyeon hendak menyebang.

“Ayolah oppa, jalanan depan rumahku kan selalu sepi. Kau ini terlalu mengkhawatirkanku..” Dia tersenyum manis dengan sedikit kesal.

“Baiklah, sini aku temani nyebrang!” Aku tertawa kecil, lucu memang. Jalan hanya seluas 3 meter dan sangat sepi, tapi aku takut ada hal buruk terjadi.

“Oppa!!”

Brak..

 

End Of Jiyong Pov