P1000549Tittle : saranghae chagi

Cast :   Kwon jiyong

Lee chaerin

Genre : family, marriage life

Rate : PG-16

Leght : one shoot

Disclaimer :jalan cerita punya author untuk cast itu milik mereka dan tuhan kekekeke. Jangan jadi siders ya hati hati kesandung typo :v ingat coment kalian selalu di tunggu J

Author : han hyomi / kid JY

Twitter : @eliarawwr

 

Happy reading~

 

@jiyong’s apartement

“oppa bangunlah ini sudah pagi” chaerin mengguncang tubuh suami nya dengan keras. Dengan malas jiyong bangun dan pergi ke kamar mandi tanpa mengucap selamat pagi pada lee chaerin.

Ah maksud nya kwon chaerin, ya dia adalah istri sah kwon jiyong mereka menikah dua bulan yang lalu atas paksaan orang tua mereka, jiyong sama sekali tak mencintai chaerin atau mungkin belum, sementara chaerin dia hanya berusaha sesabar mungkin untuk menghadapi suami nya. Chaerin bergegas pergi ke dapur

Setelah sarapannya siap jiyong datang menghampirinya“oppa sudah selesai? Kajja makan dulu oppa” jiyong tak menjawab perkataan chaerin tadi dia terlalu sibuk dengan kegiatannya saat ini. Suasana makan selalu seperti ini.

Dingin dan tak ada pembicaraan sama sekali diantara mereka sampai jiyong membuka suara “aku sudah kenyang aku berangkat dulu” kata nya dingin lalu pergi meninggalkan chaerin di depan meja makan milik mereka, chaerin membuang nafas berat selalu seperti ini setiap hari tak pernah ada pembicaran seperti layak nya suami istri jangan kan berbicara mengantar jiyong sampai di depan pintu saja tak pernah di lakukannya, setiap hari jiyong hanya bersikap dingin pada istrinya, jangankan mencium kening istrinya memeluk pun tak pernah ia lakukan sama sekali

‘apakah oppa masih menyesali semua ini? Apa aku harus mengakhirinya sekarang?’ gumam chaerin dalam hati dan menghembuskan nafas berat lagi, chaerin tak kuat dengan semua ini memang dari awal mereka tidak mencintai karna pernikahan ini adalah sebuah perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tua mereka yang notabene adalah rekan bisnis, terlebih jiyong menjabat sebagai CEO di perusahaan milik ayah nya lengkap sudah, suami selalu bertindak dingin tak pernah romantic dan satu lagi selalu sibuk dengan setumpuk dokumen setiap hari.

 

~#~

Setelah selesai merapikan dapur dan rumah nya chaerin bergegas untuk membersihkan badannya , 30 menit chaerin berada di kamar mandi dan sekarang keluar dari kamar mandi dengan menggunakan baju handuk miliknya, chaerin sedang berkacak pinggang di depan almari memilih baju yang akan dia gunakan

Sampai tiba tiba di kagetkan oleh suara pintu kamar nya yang tiba tiba terbuka “eo? Oppa kenapa sudah pulang? Bukankah ini masih jam makan siang? Apakah oppa akan makan siang di rumah hari ini” kata chaerin santai, sementara jiyong hanya bisa mematung di tak bisa berkata apa apa bahkan untuk menelan ludah saja terasa susah oleh nya, dia terpana dengan keadaan chaerin karna gadisnya hanya memakai baju handuk dan jiyong yakin setelah handuk itu dia tak menggunakan apa apa lagi(?).

Pikiran jiyong melayang kemana mana sampai tak sadar sekarang chaerin berada di depannya “oppa gweneun woa?” chaerin menepuk pundak jiyong

“eoh? Ne gweneun woa aku hanya mengambil berkasku yang tertinggal?” jiyong berusaha tak terpesona pada chaerin bisa gawat kalau sampai jiyong menyerangnya di tengah hari seperti ini, setelah mengambil berkas nya jiyong bergeagas pergi keluar sebelum keluar kamar jiyong berbalik.

“e e… chaerin cepat berganti baju atau… atau kau akan sakit nanti” jiyong berkata dengan susah payah dan berusaha menghilangkan rasa gugup nya sementara chaerin hanya menjawab dengan anggukan saja karna dia tak terlalu ambil pusing, tak lama ponsel miliknya berdering

“yeoboseo eonni ada apa?”

“…”

“mwo?? Sekarang juga? Ba baiklah aku sekarang sedang ada di rumah kemarilah eonni” tak menunggu lama suara bel rumah nya berbunyi chaerin bergegas membuka pintu nya

“eonni kajja masuk”

“gomawo” setelah masuk dan duduk di sofa dara menceritakan kedatangannya pada chaerin

“mwoya? eonni menitipkan eun wo padaku? Kenapa eonni tak membawa dia ke busan bersama eonni?”

“aku tak bisa aku takut jika nanti tak bisa mengurusnya disana?”

“tapi dia putra mu eonni?”

“tak ada waktu lagi chaerin tolonglah aku hanya kau yang bisa membantuku dan aku percayakan eun wo padamu pasti dia akan baik baik saja” kata dara memelas pada chaerin, chaerin menghembus nafas berat

“baiklah… aku akan menjaga nya untuk eonni” kata chaerin sembari tersenyum

“woaaa jinjja? Gomawo chaerin. Oh iya di tas ini ada alat mandi milik eun wo dan di tas yang berukuran sedang ada beberapa pakaian milik eun wo sementara di tas yang satu nya ada beberapa mainan miliknya” mereka berbinacang sampai waktu menjelang sore dan ketika dara sadar dia berpamitan pada chaerin “ternyata sudah sore aku harus pergi dulu woobin oppa pasti ada di bawah untuk menjemputku” kata dara pelan dan chaerin meng angguk

“sayang kau tak boleh nakal arra jangan membuat noona kesulitan” kata dara pelan sambil mencium pipi chubby milik putra nya. Setelah melakukan itu dara melesat pergi dari apatement milik chaerin

 

~#~

Setelah kepergian dara Chaerin hanya diam tak tau apa yang harus dia lakukan pada bocah berumur 10 bulan itu, charerin menoleh pada eun wo eun wo melihat eun wo dengan seksama bola mata dan bentuk mata eun wo mirip dara sementara bentuk bibir dan hidung serta garis wajah nya sangat mirip dengan woobin oppa. “kau sangat tampan” kata chaerin bergumam pelan “siapa yang tampan” chaerin terperanjat mendengar kata kata itu “op oppa… oppa sudah pulang”

 

 

“menuru—yak anak siapa ini?kau berselingkuh dengan mantan pacar mu eoh?” mata jiyong membulat sempurna saat melihat ada bayi berusia kira kira10 bulan sedang tidur di sofa apartement nya

“eh… ini aku bisa menjelaskan dia… dia sebenarnya anak dara eonni?”

“dia lee eun wo? Untuk apa dia disini dan mana dara noona?” kata jiyong sambil menunjuk hidung bayi itu.

“dara eonni ada urusan bersama woobin oppa di busan. Mereka tak bisa membawa eun wo bersama mereka oppa tak marah padaku bukan karna aku tak meminta izin pada oppa ” kata chaerin panjang lebar dan jiyong menjawab dengan anggukan sekilas setelah itu jiyong hendak pergi ke kamar nya untuk mandi “oppa mau kemana?”

“pergi mandi” kata nya cuek “oppa bisakah membantuku?” kata chaerin takut takut. Jiyong tak menjawab pertanyaan chaerin lalu cepat cepat chaerin melanjutkan kata kata nya “jaga eun wo sebentar dan aku akan memasak makan malam untuk oppa” jiyong tampak berpikir tapi akhirnya dia melakukannya, apa salah nya toh hanya menjaga saja tak sulitkan?. Perlahan jiyong berjalan ke arah sofa dan duduk di sebelah eun wo yang sedang tertidur pulas

Jiyong meraih remote yang ada di depannya dan menyalakan tv untuk menghilangkan kebosanan nya tak lama jiyong melirik eun wo dan melihat mata sipit nya terbuka, jiyong mengembangkan senyumnya, dia senang melihat senyum eun wo lebih tepatnya senyum anak kecil, tapi sayang eun wo bukan putra nya, tiba tiba pikiran itu mampir di otak jiyong. Menyadari kenyataan itu senyum jiyong memudar dan dia mulai berfikir ‘apakah sekarang aku merindukan seorang bayi? Haruskah aku meinta nya pada chaerin? bukankah dia istriku? Tapi apakah chaerin mau? Bukankah aku sudah mendiami nya selama kami menikah?’ pikiran it uterus berputar di otak jiyong, haruskah dia menghilangkan sifat nya yang ‘sok dingin?’ demi mendapat putra dari chaerin? berbagai macam pikiran it uterus berputar di otak jiyong dia tak tahu apa yang harus ia lakukan, jiyong mengacak rambutnya asal dan sedikit mengerang tertahan .

“oppa gweneun woa? Oppa boleh mandi sekarang aku akan menjaga eun wo” kata chaerin lalu menggendong eun wo ke pelukannya dan jiyong bergegas pergi ke kamar nya untuk membersihkan dirinya dan sekaligus menenangkan otaknya yang mengepul karna memikirkan hal tadi.

“eun wo sebentar lagi kau noona mandikan arra?” kata chaerin dan dibalas oleh tawa kecil milik eun wo mereka terus bergurau sampai kedua nya tak menyadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka. Dia adalah suami chaerin jiyong selesai mandi dan memutuskan untuk pergi ke ruang tv.

Jiyong duduk di sofa “oppa sudah selesai” tanya chaerin “ne” kata jiyong singkat dan detik berikutnya tatapan chaerin beralih pada eun wo “eun wo kajja” chaerin menggendong eun wo ke kamar nya untuk memandikan eun wo.

~#~

@kamar chaerin

Chaerin menyiapkan air hangat untuk eun wo dan beberapa saat kemudian chaerin segera memandikan eun wo sambil sesekali berbicara pada eun wo, setidaknya setelah ada eun wo, chaerin bisa sedikit terhibur dan sedikit melupakan sifat suaminya yang sedingin batu es itu. Setelah selesai mandi chaerin mengganti baju eun wo “jja sudah selaesai kau tampak dua kali lipat lebih tampan eun wo-ah” chaerin mencubit kecil hidung milik eun wo dan di jawab dengan tawa riang dari bocah itu, setelah selesai memandikan eun wo chaerin bergegas pergi ke dapur dan membuat susu untuk eun wo setidak nya membuat eun wo sibuk beberapa saat bisa memberi waktu chaerin untuk mandi, setelah membuat susu chaerin bergegas kembali masuk kamar tapi tatapannya terhenti pada meja makan yang maknan nya masih lengkap

“oppa… kenapa belum makan?” tanya chaerin pada suaminya

“sebentar lagi aku makan” jawab nya singkat lalu chaerin pergi masuk kamar, jiyong mengeram kesal. Tak biasanya chaerin seperti ini mana perhatian chaerin, biasanya saat aku belum mengambil piring dia tak mungkin pergi tapi sekarang? Ishhh…. Jiyong mengacak rambut frustasi

 

~#~

“eun wo kau disini sebentar noona mandi dulu arraseo?” eun wo meng angguk seakan tau perkataan charerin, lalu chaerin segera melesat masuk kamar mandi dan mandi secepat mungkin, tak berapa lama chaerin keluar dengan pakaian lengkap dan segera meng gendong eun wo dan mengajak nya bermain di ruang tv

“kau tidak makan?” tanya jiyong dari meja makan dia sedikit melirik chaerin dan melanjutkan makannya lagi

“tidak nanti saja” jawab chaerin dan pandangannya tetap berada pada manik milik eun wo, jiyong mengeram kesal, kemana chaerin yang selama ini dia kenal? Kenapa dengan mudah melupakannya seperti ini apakah seperti ini rasanya di acuhkan? Tiba tiba jiyong berpikir tentang kelakuannya selama ini pada chaerin, dia salah seharusnya dia tak mengacuhkan chaerin jika tahu akan seperti ini jadinya.

Apakah ini salah chaerin? jawabannya adalh tidak. Karna pernikahan ini pun karna kedua orang tua mereka bukan karna chaerin lalu apa sebab jiyong mendiami chaerin selama dua bulan mereka menikah, tapi jiyong segera menepis pikiran itu mungkinkah dia cemburu pada eun wo? Ayolah dia hanya anak berumur 10 bulan dan lihat saja sebentar lagi perhatian chaerin akan kembali pada nya.

 

“aigoo kau tampan sekali sayang” chaerin terus mengalunkan kata kata itusudah ratusan kali chaerin memuji eun wo dengan kata kata tadi, sementara jiyong geram sekali karna perhatiannya direbut oleh bocah 10 bulan itu, baru saja jiyong akan pergi menghampiri chaerin tapi dengan langkah santai chaerin berdiri dan kembali masuk ke kamar

“eun wo-ah kau pasti lelah kan? Kajja kita tidur” ucap chaerin sambil acuh melewati meja makan yang sedang di tempati jiyong. Chaerin pergi masuk ke kamar nya untuk menidurkan eun wo dan setelah dirasa eun wo sudah tertidur chaerin pergi keluar kamar

 

 

 

 

 

 

 

 

~#~

“kau belum tidur?” tanya jiyong sebal pada chaerin

“belum oppa aku tadi hanya menidurkan eun wo saja” chaerin mengambil tempat di sebelah jiyong, chaerin menatap wajah jiyong dari samping terang sekali terlihat bahwa jiyong sedang sebal saat ini “oppa…” chaerin melihat jiyong dari samping

“hmmm…” jiyong menjawab dengan geraman saja yang sukses membuat chaerin ciut seketika, padahal sehari ini dia mulai senang karna hari ini mereka berbicara lumayan banyak

“oppa…… gweneun woa? Apakah oppa sebal atau sedang marah” tanya chaerin hati hati

“kau masih perduli padaku? Bukankah kau hanya perduli pada eun wo saja sana pergi saja temani eun wo tak usah berada disini” jawab jiyong kentara dengan nada kesal dan cemburu yang melebur jadi satu. Chaerin kaget mendengar penuturan suaminya, apakah ini artinya jiyong sudah mulai mencair? Chaerin mempunyai inisiatif untuk menggoda suaminya

“ige mwoya?? Oppa cemburu pada eun wo?” tanya chaerin asal

“tidak!!” jawab jiyong kesal

“geure kalau oppa tidak cemburu setidaknya aku bisa terus bermain dengan eun wo tanpa memperdulikanmu atau mungkin tak usah memasak untuk oppa sepertinya juga menyenangkan” jawab chaerin dan beranjak akan berdiri tapi tangan nya di tarik oleh jiyong “yak!! Chaerin mwoya ige? Kenapa kau bicara seperti tadi?” seketika chaerin terduduk dan tatapan mereka bertemu . hampir beberapa menit mereka saling menatap dan tak berbicara apapun, sampai chaerin membuka suara

“sepertinya oppa benar benar cemburu pada eun wo?” seketika jiyong tersadar dan segera mengalihkan pandangannya

“eo? Ak aku? Cemburu? Cih.. Ku rasa tidak” kata jiyong gagap

“yasudah kalau tidak cemburu sekarang lepaskan tanganmu karna aku ingin menemani eun wo tidur” kata chaerin enteng dan detik itu pula jiyong melepas tangannya dan membiarkan chaerin untuk pergi

 

 

11.00 PM KST

Jiyong merasa mata nya berat dan mulai memerah. Dan memutuskan untuk pergi tidur karna ini juga sudah malam, saat jiyong membuka pintu kamar nya dan berada di sisi ranjangnya jiyong diam sebentar melihat ekspresi chaerin yang memluk eun wo. Senyum jiyong lagi lagi mengembang ‘andai saja dia anakku pasti aku akan dua kali lebih senang’ gumamnya dalam hati tapi jiyong segera sadar dari lamunanya dan bergegas ke bagian seberang ranjang

“chaerin –ah bangun” jiyong menepuk pundak chaerin asal dan itu membuat chaerin menatap jiyong

“ada apa oppa?” kata chaerin dengan suara serak

“kenapa kau tak menidurkannya di box bayi saja” kata jiyong setengah berbisik karna tak ingin membangunkan eun wo

“aku tak mau eun wo kedinginan kalau oppa protes tidur saja di sofa” kata chaerin asal dan kembali ke alam mimpinya sementara jiyong menggeram kesal dengan kelakukan istrinya. Sejak ada eun wo cahaerin jadi sering balas mendebat jiyong seperti hari ini. Karna tak mau ambil resiko tidur di sofa jiyong akhirnya memutuskan untuk tidur satu ranjang dengan chaerin dan eun wo. Benar benar seperti satu keluarga utuh

 

>>>SKI PAGI<<<

Cherin menyipitkan mata nya dan mencoba membiasakan matanya dengan cahaya pagi saat cahaya itu masuk melalui celah gorden kamarnya dilihatnya jiyong masih tertidur pulas sambil memeluk eun wo, senyum chaerin mengembang ‘andai dia anak kandung kita oppa pasti aku dua kali lebih bahagia’ gumam chaerin dalam hati dan segera pergi ke dapur untuk memasak sarapan untuknya dan jiyong.

 

Tak lama jiyong turun dengan setelan baju dan celana serta jas yang sudah rapi

“oppa sarapan nya sudah siap kajja kita makan” jiyong meng angguk dan pergi makan bersama chaerin saat chaerin baru menghabiskan setengah makanan miliknya tiba tiba chaerin mendengar eun wo menangis

 

“aigoo eun wo” chaerin segera bangun dan berjalan cepat menuju kamarnya sebelum nya dia menoleh “oppa jika sudah selesai langsung berangkat saja jangan sampai kau terlambat” lalu cherin melanjutkan jalannya kedalam kamar. Sementara jiyong bergegas pergi ke kantornya

 

 

 

~#~

Pagi ini jiyong tak menghabiskan sarapannya, alasan pertama karna dia malas sementara alasan kedua dia tak di perhatikan oleh chaerin. Tunggu alasan kedua kenapa terasa mengganjal? Tidak diperhatikan oleh chaerin? ‘Apakah aku sudah mulai menyayanginya sampai karna ada eun wo aku merasa perhatian chaerin berkurang padaku’. Kata kata itu terus berputar di otak jiyong, berusah keras untuk meng artikan kaliamat itu tapi nihil otak nya tak bisa bekerja dengan baik sekarang dan jiyong memutuskan memikirkan kembali nanti

 

>>>skip<<<

@kantor jiyong

TOK… TOK… TOK…

“masuk” kata jiyong santai dan muncul lah satu makhluk dengan seringai menyebalkan ini siapa lagi kalau bukan seungri dia adalah direktur sekaligus teman dekat jiyong

“ada apa” kata jiyong dingin

“sajangnim saya ingin menyerahkan laporan pada anda” kata seungri mengejek

“berhenti bersikap sok formal padaku aku membencinya seungri” jiyong mendecih sebal karna sifat seungri tadi, seungri tergelak dan tertawa keras

“hyung kau tak apa? sepertinya wajahmu tampak murung?” tanya seungri sedikit hati hati karna tak mau direkturnyamengamuk seperti singa

“chaerin mengacuhkanku dari kemarin” kata itu meluncur begitu saja dari mulut jiyong sementara seungri menganga tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengarkan

“hyung… apakah ini benar dirimu? Sejak kapan kau berpikir seperti itu? Dan mengapa chaerin mengacuhkan mu?” tanya seungri selidik sementara jiyong gelagapan mencari alasan untuk nya

“eh… itu tadi aku hanya… hanya… ish sudahlah lupakan saja” jiyong mengibas tangannya cepat. Seungri memberi isyarat agar jiyong mau bercerita pada seungri agar seungri bisa membantu. Karna mengerti apa yang seungri mau, jiyong segera menceritakan dari awal sampai kejadian tadi pagi

“mwoya!! Lee eun wo? Anak dara noona?” jiyong meng angguk pasrah karna bocah itu perhatian chaerin jadi berkurang pada nya. Di balik sifat nya yang dingin sebenarnya jiyong sangat mengagumi lee chaerin gadis yang terpaksa ia nikahi karna di jodohkan oleh orang tua nya. Kenap jiyong mengagumi chaerin karna sedingin apapun dan secuek apapun sikap jiyong maka chaerin akan berusaha tidak termakan emosi oleh sikap suaminya. Dan untuk jiyong dia selalu bersikap dingin karna ia tak tahu apa yang harus ia lakukan.

“sekarang aku tanya padamu hyung bagaimana rasa nya di acuhkan?” jiyong terdiam dengan kata seungri barusan ‘rasanya sakit dan tidak enak’ gumam jiyong dalam hati

“tidak enak bukan? Itulah yang dirasakan chaerin selama menikah dengan mu hyung aku yakin dia merasakan hal yang sama dengan mu tapi dia memilih bungkam dan memendamnya sendiri” seketika jiyong berpikir sekejam itukah dia? mendiami chaerin selama ini dan tidak memikirkan perasaan nya?. Jiyong mengerang kesal atas tindakannya selama ini

“lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya jiyong frustasi

“beri perhatian pada nya hyung buat dia nyaman saat berada di sisimu” kata seungri tenang

“bagaimana bisa memperhatikannya jika dia selalu bermain dengan eun wo dan mengacuhkanku” suara jiyong tampak sebal dan marah

 

 

 

“hyung jangan bilang kau cemburu pada bayi berusaha 10 bulan? Ayolah hyung aku yakin chaerin hanya mencintai mu” jiyong mematung dan mendalami kata kata seungri barusan. Karna jiyong tak kunjung menjawab seungri buru buru melanjutkan kata kata nya “percayalah padaku hyung, aku mengenal chaerin sejak kecil bahkan kami sahabat dekat, sebanyak apapun perhatiannya pada eun wo,chaerin akan lebih banyak memperhatikanmu hyung” kata seungri sambil tersenyum jahil lalu pergi keluar dari ruangan jiyong

“benarkah” kata jiyong meragukan sahabatnya itu

“maka dari itu segera buatkan keponakan untuk ku dank au akan percaya jika chaerin benar benar mencintaimu hyung” seungri bergegas keluar dari ruangan jiyong

Setelah seungri keluar jiyong memikirkan kata seungri rasanya sekarang sudah waktunya jiyong melupakan ego nya dan memperbaiki semua nya

 

6.00 PM @apartement jiyong

Jiyong pulang dengan wajah yang lumayan berantakan, bisa dibilang penampilannya tak seperti saat dia berangkat tadi. Jiyong melangkah ke kamar nya. Bersamaan dengan chaerin yang keluar dari kamar nya “eo? Oppa sudah pulang? Mau mandi dengan air hangat? Akan ku siapkan” kata chaerin sambil berjalan ke arah dapur untuk menyaipka susu milik eun wo, saat berjalan tiba tiba chaerin terpeleset karna mainan milik eun wo, badannya limbung chaerin akan jatuh tapi dengan sigap jiyong menagkap nya dan memegang punggung chaerin, tatapan mereka bertemu selama sepersekian menit, mata sipit milik chaerin di kunci oleh manik coklat milik jiyong, sejenak mereka terlarut pada tatapan masing masing, jiyong menyukai saat ini.

Perlahan jiyong memajukan wajahnya pada chaerin dan semakin lama semakin dekat. Sontak saja cherin menutup mata, chaerin merasakan semakin lama hembusan nafas jiyong semakin dekat dan beberapa detik berikutnya benda hangat dan lembab itu mendarat mulus pada bibir chaerin, seketika chaerin menegang bagai ada sengatan listrik yang sangat tinggi pada tubuhnya.

Jiyong masih diam dia tak mencium atau melepas bibir istrinya dia hanya merasakan betapa manis nya bibir milik istrinya, perlahan jiyong menggerakkan bibirnya seduktif. Jiyong melumat bibir chaerin pelan tapi cherin tetap tidak membalas.

Chaerin tetap diam dia ingin menolak tapi tubuhnya berkata lain, chaerin merasa ciuman jiyog semakin menuntut dan detik berikutnya chaerin mulai membalas ciuman jiyong, mereka terlarut dalam ciuman itu, chaerin menikmati karna itu sangat menyenangkan dan terlebih chaerin berfikir kalau sekarang jiyong sudah mulai menerimanya begitu pula jiyong dia tak menyangka bahwa bibir istrinya sangat manis sekali bahkan jiyong tak berniat melepas nya, sampai pada akhirnya ciuman itu terlepas karna chaerin memukul dada jiyong. Seakan tau maksud itu jiyong melepas ciumannya dan dilihatnya chaerin menunduk dan jiyong rasa wajah istrinya sudah merah seperti tomat, jiyong terkekeh membayangkannya

“eo? Oppa tak mandi?” tanya chaerin sambil tetap menunduk dan untuk mencair kan suasana

“aku akan mandi sekarang” jiyong melepas pelukannya pada chaerin dan segera masuk ke kamar mereka dan membersihkan badan nya, setelah jiyong selesai mandi dia milihat chaerin sedang tidur di sebelah eun wo dan memegangi botol susu milik eun wo. Chaerin tau saat ini jiyong sudah tidur di ranjang seberang miliknya dan sedang menatap mereka tak suka tapi chaerin sengaja meng acuhkan jiyong

Jiyong melirik chaerin dan wanita itu tetap tak bergeming dia tetepa focus pada eun wo dan tak melihatnya sama sekali. Jiyong geram dengan kelakuan istrinya itu

“arghh cukup sampai kapan kau terus bersama nya” jiyong mengerang marah

“tentu saja sampai dara eonni menjemputnya” kata chaerin santai dan dengan wajah tanpa dosa

“kapan?” kata jiyong mulai menurunkan nada nya

“mungkin 3 atau empat hari lagi” jiyong mendengus kesal mendengar kata chaerin. bisa dipastikan 4 hari kedepan dia akan makan sendiri di meja makan dan terus di acuhkan seperti hari ini.

 

 

 

 

>>>skip hari ke 3<<<

7.00 AM @ jiyong’s apartement

Jiyong membuka mata nya untuk membiasakan cahaya matahari yang menerpa wajahnya. Mata nya menjelajahi sluruh ruangan tapi tak ditemukan istrinya disana. Jiyong berjalan keluar kamar dan menuju dapur. Setelah dia meneguk segelas air putih jiyong pergi ke tempat chaerin berdiri. Jiyong memeluk chaerin dari belakang dan menenggelamkan kepalnya di potongan leher milik istri nya

“oppa… bisakah kau menghentikannya? Ini sangat mengganggu ku” kata chaerin brusaha melepas pelukan jiyong tapi jiyong tak bergeming malah semakin memper erat pelukannya dan mencium harum vanilla istrinya yang sangat manis

“salah saiapa kau mengacuhkan ku beberapa hari ini, kau tak tahu karna kau bersama eun wo setiap kau terlelap aku jadi tak bisa memelukmu” kata jiyong santai sambil memejamkan mata nya

“jadi oppa…” jiyong menga angguk. Memang beberapa kali jiyong pernah memeluk chaerin saat tertidur ingat beberapa kali bukan setiap malam. Jiyong enggan bangun dari pundak istrinya sampai terdengar suara eun wo “oppa eun wo sudah bangun. Mau kah oppa menemaninya sebentar sementara aku menyelesaikan pekerjaan ku” jiyong menggeleng, dia tak mau beralih dari posisinya yang terlalu nyaman. Semenjak kejadian waktu itu jiyong semakin dekat dengan chaerin

“oppa… jebal? yasudah kalau tidak mau oppa tak akan mendapat sarapan pagi ini dan aku akan meninggalkan oppa sendirian dan pergi berjalan jelan dengan eun wo” mau tak mau jiyong menuruti kata istrinya dan berjalan kembali ke kamar nya dengan segala gumaman tak jelas yang terlontar dari bibirnya

 

~#~

Chaerin selesai masak dan bergegas masuk kedalam kamar nya tapi langkah nya terhenti saat ia melihat suami nya dan eun wo sedang bercanda. Chaerin mengembangkan senyum nya senang ‘seandainya itu adalah anak kandung mereka’ selalu kata itu yang terlintas di pikiran chaerin. bukannya chaerin tak mau mempunyai putra tapi jiyong saja tak mau menyentuhnya selama dua bulan mereka menikah

 

Karna chaerin melihat nereka sangat akrab chaerin mengurungkan niat memanggil jiyong dan bergegas pergi untuk merapikan rumahnya sementara eun wo bermain dengan jiyong, chaerinsedang membersihkan ruang tamu miliknya lalu pekerjaan nya terhenti saat mendengar eun wo menagis, chaerin pergi ke kamar nya dan ditemukannya eun wo berada sendiri di atas ranjang nya dan melihat jiyong beru keluar dari kamar mandi

“kenapa oppa membuat nya menagis” tanya cherin sedikit membentak dan satu tangannya mengusap punggung eun wo untuk menenagkannya

“aku tak membuatnya menangis aku hanya pergi ke kamar mandi sebentar apa itu salah” jawab hya enteng

“tapi tetap saja membuat eun wo menagis dia takut sendirian oppa, setidaknya beri dia mainan dulu sebelum kau pergi ishhh….” Chaerin mendengus sebal sementara jiyong bingung apa yang harus ia lakukan

“eun wo diam ya ahjussi tidak sengaja. noona sudah ada disini eun wo jangan menangsi arra” kata chaerin lembut, seakan tau maksud pembicaraan chaerin perlahan lahan tangisan nya menghilan dan di gantikan oleh isakan kecil

“mwoya!! Kenapa kau menyuruhnya memanggil ahjussi?” tanya jiyong meledak

“memang kenapa? Bukankah harusnya dia memanggil ahjussi?”jiyong mengeram kesal dia diperlakukan tak adil disini kenapa harus ahjussi sementara charerin di panggil noona oleh eun wo.

Langkah nya menghentak keras pada lantai dan bergegas keluar kamar nya karna terlalu sebal jika diperlakukan seperti ini mungkin hari ini jiyong akan melakukan aksi tutup mulut dan tak mau berbicara pada chaerin, setidak nya itubisa membuat chaerin memperhatikannya.

 

~#~

Sekarang sudah hampir jam 12 siang dan chaerin masih saja sibuk mendiami jiyong dan bermain bersama eun wo, chaerin tak terlalu ambil pusing dengan sikap suaminya toh dia sudah biasa di diami seperti ini jadi gadis itu tak terlalu ambil pusing

Jiyong mendengus melihat perlakuan istrinya apakah chaerin masih tak melihat dirinya huh? Apakah jiyong harus minta maaf dulu pada chaerin? sepertinya harus begitu

“chaerin mianhae aku tak ber maksud untuk meninggalkan eun wo tadi” kata jiyong yang penuh dengan penyesalan

“kenapa minta maaf padaku? Minta maaf pada eun wo bukan denganku karna oppa meninggalkannya tadi” kata chaerin datar

Tak berapa lama jiyong menoleh pada eun wo dan mencium pipi chubby milik eun wo “eun wo hyung minta maaf, hyung tak bermaksud membuat mu menangis tadi, kau tau kan tadi hyung hanya pergi ke kamar mandi” kata jiyong yang berbicara begitu lembut pada jiyong, sementara chaerin hanya diam menahan tawa nya agar tak meledak sekarang juga. Dan eun wo seakan tahu maksud jiyong dia segera mengulurkan tangan pada jiyong meminta untuk di gendong, dengan sigap jiyong meraih tangan eun wo dan meng gendong eun wodan bermain main bersama bocah itu. Beberapa detik berikutnya jiyong mencium cpat pipi chaerin “saranghae chagi aku tau kau tak kan marah padaku” bisik jiyong pelan

 

 

>>>keesokan harinya<<<

Hari ini hari libur dan jiyong memutuskan untuk bermalas malas di rumah bersama chaerin dan eun wo, ya jiyong sudah bisa menerima kehadiran eun wo sekarang, setidak nya untuk menghiburnya saat dia suntuk di rumahnya. Dan sekarang sepasang suami istri itu sedang menatap layar tv yang menampilkan berbagai hiburan itu “oppa” chaerin memanggil jiyong

“hmm…”

“eoh? Aniyo tidak jadi”

“aku tak suka jika aku di buat penasar sekarang katakana ada apa” jiyong berusaha menaikan dagu chaerin dan memaksa memandang nya sampai tatapan mereka bertemu dan tatapan itu saling mengunci tak ada yang ingin menghindar. Sampai samar samar wajah jiyong mendekat pada chaerin dan sedikit memiringkan wajah nya untuk meraih bibir milik istrinya, beberapa saat kemudian bibir mereka bertemu. Jiyong melumat bibir chaerin dengan sedikit menggebu, jiyong meminta ciumannya di balas dan beberap detik berikutnya chaerin membalas ciuman jiyong dan pegutan itu berlangsung cukup lama mereka saling menggigit dan mengulum untuk menyalurkan perasaan mereka, tangan chaerin beralih pada leher jiyong dan mengalungkannya disana, sementara jiyong merapatkan pinggang nya pada chaerin. mereka begitu menikmati kegiatan mereka sekarang. Bahkan mereka berdua taka da yang ingin melepas. Sedikit demi sedikit jiyong menelusupkan tangannyamemasuki kaus longgar milik chaerin dan mengelus punggung nya sebentar. Chaerin merasa geli dan tak sengaja menggigit bibir jiyong pelan, kegiatan mereka terus berlangsung dan sepertinya semakin panas.

Sampai suara bel pintu menghentikan aktivitas mereka. Terpaksa melepaskan ciuman itu dan sama sama ter engah chaerin menunduk malu sementara jiyong tersenyum miring melihat keadaan istrinya

“aku akan membuka pintu dulu” chaerin berjalan sambil merapikan pakaian nya, tanpa melihat pada intercom chaerin membuka pintu “sandara eonni kajja masuk lah” sandara datang untuk menjemput eun wo yang sudah di titipkan disini selama beberapa hari, sementara wonbin bercengkrama dengan jiyong, chaerin dan sandara mesuk ke kamar eun wo

“maaf kalau aku meng ganggumu”

“eoh? Tidak eonni aku senang eun wo disini, rumahnya jadi tidak sepi lagi”

“bukan itu. Tapi kegiatan kalian” semburat merah itu tanpa permisi menghiasi pipi chaerin

“apa maksud eonni kami tak melakukan apapun”: elak chaerin

“bibirmu merah nyonya kwon aku yakin kau barusan berciuman” sandara mengatakan dengan sedikit terkekeh geli, sementara chaerin hanya tersenyum malu, dan tak lama eun wo sudah berada dalam gendongan eomma nya lagi chaerin sedikit sedih

“lain kali mainlah kesini eonni aku pasti merindukan eun wo”kata chaerin sambil mengelus pipi eun wo lembut

“kenapa tak buat jiyong junior saja agar tak kesepian”

“yak!! Eonni” lalu mereka berdua keluar dari kamar dan sandara meng isyaratkan pada suami nya untuk pulang

“kenapa buru buru? Tak ingin minum dulu?” tawar chaerin

“tidak kami tak ingin mengganggu acara kalian” kata dara tersenyum, mereka mengantar dara dan suami nya sampai di depan pintu aptement nya dan tak berapa lama mereka menghilang masuk ke dalam lift

 

“kita lanjutkan yang tadi hmm?” tanya jiyong

“mwo!! Yang mana?” chaerin berusaha mengalihkan perhatiannya

“atau perlu ku jelaskan di atas ranjang sekarang?” smirk itu muncul di bibir jiyong dan dengan gerak cepat jiyong menggendong chaerin “chaerin aku mencintai mu. Noumu sranghae chagi”

“nado saranghae oppa” dan merek berdua masuk kedalam kamar dan mungkin akan membuat jiyong junior(?)

TAMAT