untitled-1 (1)

Nama author : Fybbang’s –known as baramjigirl-

Cast(s) : Big Bang Kwon Jiyong, Girl Generation Kim Taeyeon –Ericka Kim, Super Junior Kangin –Jordan Kim, Oc/s Kim Young Dae

Genre/rating/length : Romance, PG, Twoshoot

Disclaimer :

A/N : Fanfiction ini dulunya di post di blog pribadi saya, snowerskpopff.wordpress.com tapi sekarang blognya udah berubah nama yayy jadi fybbangsite.wordpress.com mohon bantuannya ya untuk meramaikan kembaliㅋㅋㅋ

Twitter : //salmarizkyawr

__

“Dengan adanya pertunangan ini, pastinya perusahan ini akan bertambah maju.” Tutur sekertaris dari perusahaan seorang Jordan Kim.

“Ah.. Saya setuju sekali, Kangin adalah seorang yang baik. Saya berharap, perusahan ini akan mengalami puncak kejayaannya setelah pertungan.” Lelaki tua dengan rambut putihnya itu terlihat senang.

“Tuan Jordan menyampaikan salamnya untuk Mrs. Ericka Kim. Suatu kehormataan bila Nona Ericka mau menerima salamnya. Terimakasih Mr. Kim, saya permisi dahulu.” Perempuan itu membungkukkan badannya lalu berlalu keluar.

Sementara sekertaris muda itu meninggalkan ruangan. Kim Young Dae, selaku pemimpin perusahaan LG Korea itu tersenyum lebar.

“Dengan menikahkan Taeyeon dengan Kangin. Maka perusahaan ini akan bergabung dengan perusahaan anak kaya itu. Ah.. Aku tidak siap menjadi orang kaya.” Youngdae menyeruput kopinya.

Youngdae, dia sama sekali tidak peduli pada anak semata wayangnya –Kim Taeyeon- asalkan ada uang, uang, dan uang. Serta wanita, wanita, dan wanita. Hidupnya berasa berharga. Menurutnya, Taeyeon adalah aset keuangannya, gadis itu berteman akrab dengan seorang Jordan Kim –kangin-, yang membuatnya semakin mempermudah urusan bisnis.

Lelaki tua itu menghela nafas. Ia kembali memaku wajahnya di depan laptopnya, membuka kembali google chromenya. Tangannya tergerak untuk mengecek emailnya, lalu membacanya satu persatu. Keningnya berkerut membaca salah satu email yang di terimanya,

“Dari kjdragon? Siapa dia?” Gumamnya heran.

 

“Saya akan datang 5 menit lagi. Meminta pertanggung jawaban anda.”

 

Terdengar bunyi pintu di ketuk, lalu munculah sekertaris cantik bersama seorang lelaki di belakangnya.

“Tuan Kwon, ingin bertemu dengan anda.” Perempuan itu pun berjalan keluar setelah membungkuk pada atasannya itu.

Lelaki itu bergumam bingung dan pintu ruangannya pun terbuka. “Siapa anda? Berani beraninya masuk ke dalam ruangan saya?” Tanya Yongdae dengan kesalnya, lelaki dengan setelan jeans hitam dan jaket kulit serta rambut blonde yang cepak itu memasuki ruangan kerjanya.

“Batalkan rencana perjodohan itu.” Ucap laki laki kurus itu secara tegas.

“Siapa anda?” Tanya YoungDae kembali.

“Kwon Ji Yong? Masih ingat dengan saya?” Tanya lelaki itu skeptis.

Lelaki tua itu memutar matanya lalu mencoba mengingat kembali nama itu.

 

“Oppa!! Jiyong Oppa!! Bangun oppa!!” Taeyeon berteriak teriak saat ia melihat pacarnya jatuh bersimbah darah.

Youngdae perlahan tersadar apa yang ia lakukan. Ia lalu mengangkat telefonnya, segera menelfon suruhannya.

“Tuan Park, panggilkan ambulance ke depan rumahku. Ada sebuah kecelakaan. ”

 

Youngdae meneguk salivanya sendiri tubuhnya bergetar, “Mustahil..” Desisnya pelan.

“Apa maumu? Cek 100 juta? Silahkan duduk! Minta apa saja yang kau mau!” YoungDae mempersilahkan kursi yang di depannya untuk di isi.

Jiyong hanya mengeluarkan smirknya.

“Kim Youngdae, apa jadinya bila aku menyebarkan berita bahwa pimpinan perusaan LG korea –yang perusahaannya tengah bangkit dari kubur- telah hampir membunuh seseorang remaja akibat hobby minum minumnya? Keren bukan?” Lelaki itu duduk di kursi depan YoungDae dan tersenyum picik saat mengakhiri kalimatnya.

Suut.. Kita bicarakan ini pelan pelan tuan Kwon.” YoungDae pencoba membuat Jiyong berhenti bicara.

“Keluarganya juga tidak harmonis, anaknya yang tidak pernah bahagia. Kekerasan dalam rumah tangga terhadap istrinya, serta perselingkuhannya. Memuakkan bukan?” Ucap lelaki muda itu lagi.

“Saya mohon. Jangan beritahu itu pada publik. Perusahaan ini sedang mencoba bangkit kembali. Anda butuh berapa? Saya akan kabulkan!” Youngdae memohon di depan wajah pemuda itu.

“Orang kaya.. Selalu saja, begitu.” Jiyong tersenyum sinis melihat Youngdae yang memohon mohon.

“Kau harusnya berfikir berapa harga mataku. Kau buat duniaku gelap selama 2 tahun. Fikirkan itu.” Jiyong mengangkat kakinya, feel like the boss.

 

“Kwon Jiyong, ia mengalami kebutaan akibat benturan keras. Apakah anda orang tuanya?”

“Ah tidak, saya yang menolongnya.”

 

“Aku ingin menikah dengan anakmu, Kim Taeyeon. Cukup itu, aku akan tutup mulut rapat rapat.” Jiyong bergaya seolah orang tengah mengunci pintu.

Youngdae berfikir sejenak. Bila saja ia menerima tawaran Kangin, maka ia akan mendapatkan keuntungan, hal itu akan pasti terjadi. Sementara lelaki di depannya ini, bila sampai lelaki ini membocorkan ucapannya, namanya akan hancur. Perusahannya akan hancur. Ada bad mark di nama bersihnya itu.

Youngdae melirik Jiyong, baginya, sosok Kangin adalah menantu ideal. Dengan banyak uang tentunya.

“Aku setuju. Tutup rapat rapat mulutmu itu, atau aku akan membunuhmu.” Lelaki itu melempar pulpen pada Jiyong.

“No problem. Aku sudah berkali kali berada di ujung tanduk kematian. Dan aku baik baik saja.” Jiyong segera berdiri.

“Euhm.. Appa? Bolehkah aku memanggilmu begitu? Aku ingin meminta uang 2 juta mungkin, untuk pernikahanku. Ayolah..” Jiyong terlihat memohon dengan picik.

Youngdae mengangkat bibirnya, ingin sekali ia mencela dan menjelek jelekan orang di depannya ini.

“Ambil ini!” Lelaki itu melemparkan gepokan uang di depan Jiyong.

Lelaki itu menghapus peluhnya saat Jiyong meninggalkan ruang kerjanya.

“Thank you daddy.” Desis Jiyong.

Ia mengangkat gagang telefonnya dan mendial nomer telefon sekertarisnya.

“Sayang, bila ada lelaki bernama Kwon Ji Yong, jangan izinkan dia memasuki kantor ini lagi.”

 

*

 

“Aku ingin menikah.”

“Dengan si berengsek itu? Pengamen busuk?”

“Oppa, berhentilah begitu. Aku sudah berkali kali berkata, kan bahwa aku tidak bisa melupakannya? Oppa, kumohon..” Taeyeon membela seseorang lelaki di depan mata Kangin.

“Hanya dalam waktu 1 hari kau memutuskan untuk menikah dengannya. Youre full of shit!” Kangin mencela Taeyeon.

“Aku kira kita sebatas adik kakak yang baik..” Taeyeon berdesis menahan air matanya.

“Aku bukan orang yang bahagia oppa.. Saat aku bertemu denganmu di Paris, aku tengah dibuang Appa dari korea. Aku betemu denganmu, aku berharap aku bisa menghapus kenangan lalu. Tapi aku tidak bisa, bahkan saat aku memutuskan untuk melupakannya, aku teringat dosaku padanya. Harusnya aku yang tertabrak, bukan ia. Harusnya..”

“Cukup!” Potong Kangin.

“Aku selama ini telah berusaha menutupi hal buruk dalam hidupku, Taeng. Aku berusaha menjadi baik demi untukmu. Menjalani penolakan halusmu. Aku benar benar tidak bisa, kau pilih lelaki itu? Kau tanggung sendiri akibatnya!” Kangin berjalan pergi, beberapa orang di cafe melihat Kangin dengan mata penasaran. Lelaki yang memarahi wanitanya. Cukup aneh bagi pengunjung cafe.

 

Jiyong Pov

Aku menghirup udara dari atap gedung apartemenku. Aku telah melewati lift untuk mencapai ke atap ini.

Aku membaringkan tubuhku, mencoba mencari ketenangan.

Aku sudah memiliki banyak pengalaman, tentang hidup, tentang cinta, tentang kematian, aku sudah melaluinya.

 

“Namaku Kwon Jiyong, 15 tahun. Salam kenal.”

 

Aku masih mengingat jelas perkenalan pertamaku dengan teman teman SMAku, gedung SMP – SMA Il-yongsan. Aku menyapu bersih pandanganku hingga kepenjuru kelas lalu melihat ke arah jendela.

Seorang gadis manis dengan basketnya. Tidak terlalu tinggi, dia sangat manis..

Aku menghela nafas panjang, menetralisirkan otakku. Memasukkan kembali memori indah.

 

“Aku buta.. Tidak akan ada yang mau bersamaku! Pergilah kau Kim Taeyeon!”

 

Kata kata itu kembali muncul di benakku, aku benar benar setan. Aku bukan lagi diriku yang lama.

“Arggh!!” Aku menarik rambutku sendiri.

Tuhan, aku memang tidak pernah dekat denganmu, tapi buat aku kembali seperti diriku yang lama. Aku lelah dengan kebencian di hatiku. Aku lelah dengan balas dendam. Buat aku melupakan itu semua, bawa rasa indah itu kembali. Kau telah membawakan seseorang kembali padaku. Buatlah aku pantas mendapatkannya..

Setan di tubuhku ini sulit sekali keluar, mungkin kadarnya mulai berkurang. Aku mulai bisa mengenal senyum tulus kemarin. Tapi.. Bagaimana dengan sekarang, bisakah aku kembali mengurangi populasi setan di hatiku?

Aku memejamkan mataku, mencoba tertidur.

 

“Tidur yang nyenyak, oppa”

 

End Of Jiyong Pov

 

*

 

Taeyeon berjalan jalan tanpa arah, ia berkali kali mengecek ponselnya. Apartemen Jiyong berada tepat di depannya. Ia pun memutuskan untuk mencari kamar kekasihnya itu.

“345 lantai 15.” Taeyeon hanya mengangguk dan tersenyum lalu segera memasuki lift dan menekan angka 24.

Taeyeon melangkahkankan kakinya ke depan pintu bertuliskan 345, jantungnya berdebar dengan kencang. Ia menghela nafas berkali kali hingga tenang.

Tangannya perlahan menekan bel, sekali.. dua kali.. tiga kali..

“Tok..Tok..Tok..” Gadis itu berusaha mengetuk pintu. Tidak ada jawaban.

“Kemana perginya orang itu?”

*

 

“Mohon maaf, saya tidak bisa memaksakannya Kangin –sshi. Harap anda mengerti peranan saya sebagai Ayahnya. Maaf.” Youngdae terlihat yakin di setiap kata katanya.

“Ah.. Arra.. Arra.. Wanita bukan hanya Ericka, bukan?” Tanya Kangin dengan santai. Berusaha menutupi kesetanannya.

“Baiklah, saya masih ada pekerjaan. Saya permisi dahulu,” Youngdae membungkukkan badannya lalu pergi dari restoran mewah itu.

Kangin mengecek ponselnya, melihat wallpapernya. Seorang gadis dengan rambut merahnya. Lee Suyeon. Kekasihnya.

“Suyeon ah.. Aku akan menunjukkan diriku yang sebenarnya. Aku sudah gagal mendapatkan jantung untukmu. Gadis itu pergi, aku akan berikan yang setimpal atas pengorbananku mengesampingkanmu..” Kangin mengangkat wajahnya dan menyeruput lemon teanya.

Sekertaris Kangin mendatangi Kangin dengan terburu buru. “Permisi Mr. Jordan, saya mendengar ada keperluan mendadak siang ini?”

“Sekertaris Ahn, beritahu Song corp untuk memutus kerja samanya dengan LG, atau tidak sahamnya akan terancam di tanganku.”

“Baik,”

“Sudah kau temui suyeon?”

“No, i don’t sir.”

“Temuinya, katakan ia akan baik baik saja. Aku mencintainya.”

Sekertaris Ahn berlalu. Kangin masih terdiam di kursinya.

 

Kim Taeyeon, dia baru saja melakukan pemeriksaan kesehatan dan ternyata jantungnya sangat mirip untuk di donorkan pada nona Suyeon.” Seorang dokter dengan jasnya terlihat lancar menggunakan bahasa prancisnya.

“Kim Taeyeon? Satu kebangsaan denganku. Baiklah, terimakasih Cesh. Akan aku bawakan jantungnya.”

 

“Aku memang tidak pernah mencintaimu Ericka Kim, untuk apa pula aku mencintai gadis dengan masa lalu suram sepertimu? Keluarga yang hancur? Ayahnya pun mata duitan. Dasar Kim Taeyeon.”

 

*

 

Taeyeon masih terdiam di depan apartemen Jiyong. Kakinya tidak mampu untuk ia angkat menjauh dari pintu ini.

Taeyeon melirik pintu darurat, terbesit fikirannya untuk mencari udara segar. Ia pun menyusuri anak tangganya menuju atap gedung.

 

Taeyeon Pov

Aku menarik nafasku, udaranya terasa dingin. Musim panas akan segera berakhir, tapi ini kan belum musim gugur. Korea selatan..

Aku tersenyum menghadap langit. Selamat datang di jalur kehidupanmu Kim Taeyeon.

Aku berjalan dengan santai, atap gedung apartemen ini ternyata bukan parkiran, hanya lahan yang cukup luas untuk berkebun. Sehingga sangat sejuk di sini.

Aku melihat ada sebuah kursi yang kosong, aku pun segera menghampirinya. Duduk dan tersenyum pada langit, “Ternyata ini yang dinamakan kedamaian..”

 

“Miyoung –ya.. Aku menyukai sunbae, tapi aku tidak ingin menjadi pacarnya. Aku takut bila harus putus dengannya..”

“Kau ini, terima saja. Kau tidak tega ia bersusah susah mencarikan bunga iris untukmu? Ia juga selalu menghawatirkanmu. Terima sajalah..”

“Baiklah.. “

 

Aku tersenyum mengingat saat itu, setelah itu sore harinya aku memiliki pacar pertamaku. Orang yang aku sukai dari awal aku masuk SMP, aku mengenalnya karena dia seorang bassist band. Dan tidak aku sangka SMAnya dia memilih masuk SMA yang satu komplek dengan SMP ku.

Aku menyapu bersih pemandangan yang ada didepanku, “Jiyong?”

Aku melangkahkan kakiku pada tubuh seorang lelaki yang tengah berbaring, terlelap.

Semakin aku mendekat, semakin besar getaran gemuruh yang berdengung di hatiku.

“Jiyong oppa..” Desisku. Aku pun mengambil tempat di sebelah Jiyong. Menyaksikannya terlelap.

“Ternyata memang benar, tidak ada orang yang bisa membuatku jatuh cinta selain oppa..”

 

Tes..

 

Tiba tiba tetesan hujan membasahi bumi, perlahan dan perlahan. Setetes dan setetes, rintikan itu membasahi wajah Jiyong.

Jiyong mulai mengerjap ngerjapkan matanya. Aku masih diam di posisiku, kenapa ini? Otak dan perasaanku sangat tidak selaras. Saat aku ingin pergi, kenapa aku tidak bisa menggerakkan badanku?

“Hujan,” Desis lelaki itu pelan.

Aku hanya meneguk salivaku.

“Taeyeon..” Ucapnya lirih.

Aku menganggkat alisku, dan tersenyum saat mendengar namaku di panggilnya.

“Kenapa tuhan tidak pernah mengizinkan aku mati? Taeyeon-sshi..” Ia masih dalam posisi yang sama, walau hujan mulai semakin deras.

“Kenapa tuhan tidak pernah mengizinkan aku berhenti mencintaimu? Jiyong-sshi..” Tuturku lembut.

Lelaki itu  bangkit dari posisinya, ia merengkuhku ke dalam pelukannya.

“Aku tidak lagi peduli dengan hidupku yang kini, aku hanya butuh dirimu..” Tuturnya parau, aku mengangguk. “Ayo kita ke gereja.” Katanya tiba tiba.

“Untuk apa, oppa?” Tanyaku penasaran.

“Kita akan menikah.” Jiyong tersenyum manis di depanku. Ia menarik tanganku lalu mengajakku berdiri.

Aku berdiri, menyusul tingginya. Lelaki itu, tersenyum dengan eye smilenya lalu berlari menyusuri tangga, bibirnya tidak berhenti mengucapkan kata,“Go married~!” Dia itu Kwon Jiyong. Dia itu calon suamiku.

 

Author Pov

“Ayo lari!” Jiyong tersenyum lebar di depan gedung apartemennya.

Taeyeon mengangguk. Jarak dari apartemen Jiyong memang dekat dengan sebuah gereja tua. Seoul yang di guyur hujan lebat tidak menyurutkan kebahagiaan lelaki itu.

Dress satin peach Taeyeon sudah sangat basah terguyur hujan yang semakin deras.

“Oppa..” Taeyeon menstabilkan nafasnya setelah ia berlari lari.

Jiyong terkekeh melihat ekspressi Taeyeon lalu melirik pastur yang sudah berada di ujung altar.

Jiyong kembali menarik tangan pacarnya tersebut.

“Tuan Kwon Jiyong, mau kah kau mendampingi Nona Kim Taeyeon hingga senja menjelang? Mengasihinya dengan sepenuh hati?” Tanya pendeta itu.

“Ya, saya ingin.”

“Nona Kim Taeyeon, mau kah kau mendampingi Tuan Kwon Ji Yong hingga senja menjelang? Mengasihinya dengan sepenuh hati?” Tanya pendeta itu pada Taeyeon.

“Ya, saya ingin.”

Pasangan itu tersenyum, pakaian mereka yang basah kuyup tidak terasa dingin. Melainkan hangat oleh cinta mereka.

Mereka bertukar cincin, dan berciuman di depan pendeta itu.

“Selamat menempuh hidup baru.” Lelaki tua itu tersenyum dan meninggalkan Jiyong serta Taeyeon. Ke dua orang itu tersenyum dengan manisnya, terkekeh geli membayangkan mereka berlari lari dengan meneriakkan kata kata gila barusan.

 

*

 

“Bu, satu mangkuk bubur ya!” Jiyong tersenyum pada penjual bubur di kedai jalanan.

Bibi itu hanya mengangguk.

“Ceria sekali kau hari ini nak,” Tuturnya, Ibu Jaesuk. Jaesuk adalah sahabat Jiyong, dan ibunya yang bekerja di kedai ini sudah menganggap Jiyong sebagai anaknya.

“Umma, tahu anda? Aku baru saja menikah. Lihat ini!” Jiyong mengangkat jarinya yang dihiasi cincin silver.

“Woo.. Kau jangan bercanda. Mangkuk bubur ini akan mengenai kepalamu bila kau bercanda melulu.” Ibu ibu itu tidak percaya.

Jiyong memutar matanya lalu menarik Taeyeon berdiri.

“Semuanya!! Biarkan aku memberikan pengumuman. Wanita yang di sampingku ini adalah istriku, aku baru saja menikah!!” Jiyong berteriak teriak dengan lantangnya.

“Selamat ya!” Beberapa orang pengunjung kedai ini terlihat senang mendengar berita Jiyong.

“Ya! Harusnya kau mengundangku, heh! Aku bisa mencarikan gaun untuknya, kasihan pakaiannya basah begitu.” Ibu Jaesuk menggetok kepala Jiyong dengan spatulanya.

Jiyong meringis kecil. Taeyeon dari tadi hanya tersenyum, setelah kemarin ia melihat sosok kejam Jiyong, ia kini berhasil menemukan sosok lembutnya kembali.

 

Jiyong Pov

“Ya.. Kau ini ambil saja mau tambah berapa mangkok pun akan aku yang bayar. Jangan malu malu..” Jiyong mengkerutkan alisnya saat Taeyeon makan pelan pelan.

“Ya,! Kita baru saja bertemu setelah bertahun tahun berpisah, tiba tiba langsung menikah, aku malu bodoh!”  Taeyeon protes, benar juga. Tapi.. Seperti dahulu, marahnya itu cute. ^^

Jaesuk umma menghampiriku, membawakan 2 mangkuk bubur lagi.

“Taeyeon-ah.. Jiyong sangat menyukai bubur yang ada di sini”

Aku hanya tersenyum, Jaesuk umma memang orang yang pas untuk menghangatkan suasana.

Jaesuk umma pun berkedip ke arahku, wanita ini memang benar benar..

“Kalian terlihat akrab sekali!” Taeyeon tersenyum usil kearahku.

“Ya, kau ini kenapa? Tatapanmu itu sangat aneh, istriku.” Kataku menekankan kata istri.

“Ya hahaha, kau ini idola para ahjumma rupanya..”Ejeknya, ya aku memang idola kok.

 

End Of Jiyong Pov

 

“Ya bisa aku akui, masakanku masih kalah.. Oke..”Taeyeon mengacungkan jempolnya di depan Jiyong.

“Heey.. Kalian apa kalian ke sini bersama seorang supir, hah?” Tanya wanita tua kenalan Jiyong itu.

“Kau ini bercanda saja, sejak kapan aku memilih supir kalau aku bisa mengendarai mobil kebut kebutan.” Jiyong terkekeh geli.

“Orang di mobil hitam di sebrang sana terus memperhatikan kalian, berhati hatilah.” Jaesuk eomma menepuk pundak Jiyong dan Taeyeon. Mereka semua saling bertukar pandang.

“Mungkin kah itu orang tuamu?” Desis jiyong pelan saat Jaesuk eomma menjauh.

“Gak mungkin, appa tidak akan peduli padaku.”

Jiyong memutar matanya, aneh.

“Ayo pulang.” Lelaki itu berdiri diikuti Taeyeon.

Jiyong menggenggam erat lengan Taeyeon. Matanya dengan tajam pintu di depan matanya serta mobil di sebrangnya.

“Pegang tanganku, jangan pernah lepaskan selagi aku masih menyimpan lengan kananku. Bila aku tersungkur, kau harus berlari secepatnya.”

Jiyong bukan lagi bertanya, matanya memancarkan keseriusan yang tidak bisa ditolak.

Taeyeon mengangguk mengerti. Matanya menyipit melihat sorotan lampu di luar restoran jalanan itu. Ia melirik lampu lalu lintas. Merah.

Jiyong berjalan menyebrangi jalanan yang teramat sepi dengan Taeyeon di genggamannya.

“Oppa!!”

Brug

 

“Taeyeon!!”

Eugh..

 

“Anakku..!”

 

*

 

“Piiip…”

 

“Jantungnya masih berdetak,..”

 

*

 

I was born and I met you
And I have loved you to death
My cold heart that has been dyed blue
Even with my eyes closed, I can’t feel you

 

*

Epilog

 

“Aku sudah bilang aku akan menemukan jantung untukmu kan?” Seorang laki laki mendorong perempuan yang terududuk di kursi roda.

“Aku sudah lama tidak berjalan, aku ingin berjalan saja.” Perempuan cantik itu mengibakkan poninya lalu berdiri bangkit dari kursinya.

Drrd..drrrd..

 

“Sial, aku ada rapat. Ayo aku antar pulang.”

“Tidak, aku akan berjalan jalan saja. Aku akan telefon nanti, bawakan kursiku ya..” Suyeon tersenyum pada tunangannya itu.

“Baik putri..” Lelaki itu melipat kursi roda dan membawanya kedalam mobilnya.

“See you!” Suyeon melambaikan tangannya. Mobil sedan itu melaju dan meninggalkan Suyeon pada sebuah jalan.

 

“Gyeou-ri ka-go bomi chajaojyo urin shideul-ko
Geuri-um so-ge mami meongdeu-reot-jyo

(i’m singing my blues) paran nun-mu-re paran seulpeume gildeulyeojyeo”

 

 

Suyeon Pov

Aku berjalan menyusuri Heukseok-dong. Daerah ini di tempatin oleh kalangan kalangan mampu. Terdapat banyak restoran enak di sini.

Aku merasa sangat nyaman berada di sini, padahal sebelumnya aku tidak pernah kesini. Aneh.

Aku mendengar suara yang sangat lembut di telingaku. Suara yang sudah sering aku dengarkan.

Aku memutar badanku, tidak ada Kangin Oppa.

 

Taeyeonaseo neol manna-go jugeul mankeum sarang-ha-go
Parahke muldeu-reo shirin nae ma-eum nuneul kamado neol neukgil su eoptjanha”

 

Aku merasakan jantungku berdebar, apa ini? Apa aku jatuh cinta?

Tidak mungkin..

Mengapa rasanya sangat sesak?

Aku melihat kerumunan orang di seberang sebuah cafe tua yang memiliki kaca luas, aku mendekat.

Seseorang lelaki dengan gitar hitamnya, berdiri tertatih dengan beberapa perban di tubuhnya.

 

“Oneuldo paran jeo talbitarae-ye na hollo chami deul-ket-jyo
Kkumso-geseodo nan geudaereul chaja hemae-imyeo i noraereul bu-lleoyo”

 

Aku pernah melihatnya, aku yakin. Tapi dimana?

“Aku mohon meminta do’a untuk istriku. Kim Taeyeon. Ia baru saja meninggal. Bisakah kita menundukan kepala?” Pengamen itu meletakkan gitarnya.

Aku rasakan dadaku terasa sangat sesak, menangis?

Aku menangis?

“Aku akan selalu mencintaimu. Jangan lari terlalu jauh, aku sangat membutuhkanmu.”

Rasa apa ini? Sakit…

 

END