I’ll Kiss The Rain

cover

Author : Ame Sora

Tittle      : I’ll Kiss The Rain

Type   : Meloromance (maybe), Romance, PG-19

Main cast: Im Yoona (GG), Choi Seung Hyun (TOP Bigbang)

Disclaimer: Hasil pemikiran pribadii J

A/N: Alur maju-mundur, semoga ga bingung, hehe, oh iya.. Sawryy…. kalau ada yang ga suka pairing TOP-Yoona, soalnya emang ga nemu karakter lain, di tunggu kritik dan sarannya yaa….thankss J (http://ask.fm/ame1126)

 

“Yoona-ah…Yoona-ah…” ujar seorang wanita padaku sambil menarik lengan tanganku.

 

“Jebal, tetaplah disini. Jika kau ingin aku pergi dari sini aku akan melakukannya. Aku tahu kau sangat membenciku” kata wanita itu memohon dan aku sangat membenci ini semua. Aku terus berjalan sementara wanita itu mempererat pegangan tangannya. Tanpa peduli terhadapnya aku tetap berjalan dan membuat wanita itu terjatuh. Tangannya masih memegangi lenganku erat. Ya..adegan seperti ini hanya dapat aku lihat di sebuah drama, kini terjadi padaku dan sangat membuatku sedikit mual. Jika ini terjadi di halaman rumahku, mungkin aku masih bisa menyimpan wajahku. Tapi ini adalah rumah sakit.

 

Aku menghentikan langah kakiku sambil menghela nafas panjang, kemudian memastikan sekeliling tak ada yang melihatku. Peristiwa ini terjadi di lorong koridor rumah sakit. Sepi. Hanya ada suara isak wanita itu. Aku menoleh kearah wanita itu yang sekarang tersungkur dengan tangannya yang masih memegangi lenganku.

“Yoona-ah, aku mohon. Ayahmu sangat ingin bertemu denganmu. Tunggulah sampai dia sadar” Wanita itu mendongakkan wajahnya sambil berlinangan airmata. Bagiku dia lebih terlihat seperti anak berumur empat tahun yang merengek meminta cotton candy, atau lolipop.

Aku menepis tangan wanita itu yang sedari tadi memegang lenganku, kemudian aku memutuskan untuk membuka mulutku, tetapi sebelum itu terjadi, seseorang membuka pintu, tepat didepanku, dimana adegan meminta cotton candy itu terjadi. Ini sangat memalukan. Dan aku pikir aku mulai melupakan adegan cotton candy itu, dan berganti dengan degupan jantung yang sangat kencang.

Orang yang keluar dari ruangan itu adalah seorang dokter, ah bukan, tetapi seseorang yang sangat tidak aku ingin temui. Dan parahnya, dia melihat adegan cotton candy ini. Aku pikir dia juga sangat terkejut, tetapi dengan segera dia membantu wanita itu bangkit dari duduknya. Tanpa menunggu lama aku memutuskan untuk pergi dari suasana yang membuatku akan bernostalgia dan membuka lukaku.

Aku pikir dunia ini cukup luas. Tetapi kenapa aku harus bertemu dengan wanita itu, terlebih seseorang itu. Ah.. adegan cotton candy itu juga. Aku memilih untuk duduk di sebuah ruang—salah satu bagian dari RS ini, semacam ruang tunggu, ah bukan, mungkin akan terlihat seperti cafe. Aku memilih untuk duduk di pinggir jendela.

Diluar sana, hujan sangat deras. Karena itu, aku belum memutuskan untuk pergi dari sini meskipun aku sangat ingin. Aku melihat kearah genangan air yang memantulkan cahaya lampu jalanan, juga percikan air hujan. Dan yang paling tidak aku suka saat aku melihat hujan adalah mengingat kenangan lama. Aku tidak suka mengingatnya karena setiap memori yang tersimpan dalam otakku hanyalah kenangan yang menyakitkan.

Aku datang kerumah sakit ini, karena wanita itu mengatakan ayahku sedang dalam kondisi kritis. Meskipun aku sangat membenci ayahku, tetap saja dia ayahku dan aku adalah anaknya. Wanita itu adalah istri kedua ayahku. Ayahku mencampakkan aku dan ibuku demi wanita itu. Dia pergi bersama wanita itu, meniggalkanku dan ibuku. Aku bahkan harus mencari uang diusiaku yang sangat muda, sedangkan ibuku mulai sering sakit saat ayahku mulai meninggalkannya. Sebenarnya ayahku bukan orang kaya, sehingga harus memiliki dua istri, tetapi bukankah semua laki-laki seperti itu. Bagiku wajar jika aku membenci wanita itu sampai ke sumsum tulangku.

Yah, seperti inilah aku hidup. Jika aku bisa memilih, aku rasa aku tidak ingin memilih hidup dengan kebencian dalam hatiku. Tapi aku merasa rasa kebencian ini telah terpatri. Bagaimana tidak, setiap jengkal waktu, saat melihat ibuku lemah dan berlinangan air mata, aku akan mengingat ayahku, kemudian rasa sakit itu akan datang dan sedikit demi sedikit aku akan membencinya.

Di tengah lamunanku, seseorang datang menghampiri mejaku. Mengenakan jas berwarna putih. Tanpa aku harus melihat, aku sudah dapat menebak siapa dia. Dan kesalahan yang aku lakukan adalah tetap duduk di sana. Dia meletakkan secangkir teh hangat didepanku. Kemudian meletakkan tehnya dan duduk. Aku hanya menoleh sebentar dan kembali lagi melihat genangan air hujan.

“Aku rasa kau tidak berubah. Masih sama seperti dulu. Batu.” ujarnya membuka pembicaraan dengan kalimat dinginnya. Aku mencoba untuk tidak tersulut emosi dengan tidak menoleh kearahnya dan mengambil earphone dalam tasku—kemudian memasangnya ketelingaku. Ya, jika aku batu, aku pikir kau es batu. Ujarku bertetiak dalam hati.

Dan tentu saja, dia tidak akan tinggal diam. Dia menarik earphone dari telingaku membuatku refleks menoleh kearahnya. “Berhentilah bersikap kekanak-kanakan. Aku pikir kau bukan anak kecil lagi”

Aku tetap mencoba untuk tidak emosi atau bisa disebut aku mencoba untuk tidak lagi terikat takdir dengannya, anggap saja dia tidak ada disana. Dia berkata seperti itu, karena dia tidak merasakan rasa sakitnya. Aku juga berusaha tidak melihat kearahnya, karena setiap jengkalnya hanya akan membuat hatiku terasa sakit.

“Aku akan mengambil alih tanggungjawab atas ayahmu” ujarnya tiba-tiba tetapi itu berhasil membuatku menoleh. Aku melihat dia membuka sesuatu—seperti map—yang entah sejak kapan dia membukanya. Aku pikir itu data tentang ayahku. “Penyakit ayahmu cukup serius” lanjutnya.

Aku tetap membisu. Setelah sekian lama kami berpisah dan harus dipertemukan kembali dalam keadaan seperti inilah yang membuatku sedikit belum bisa menerima kenyataan. Yah, tepatnya dulu kami berpisah dengan cara yang tidak baik. Atau hanya aku yang merasa seperti itu, jika melihat laki-laki di depanku, entah kenapa seperti melihat lukaku dimasa lalu. Hidupku memang seperti ini, penuh dengan luka yang meskipun terlihat sembuh, tetapi kapan saja luka itu dapat terbuka kembali.

“Berhentilah berfikir bahwa aku akan menemuimu untuk bernostalgia tentang masalalu. Diantara kita telah berakhir, aku menemuimu sebagai seorang dokter” dia berkata sambil menatapku tajam. Meskipun aku tidak melihatnya—lebih tepatnya tidak berani—tapi aku tau dia sedang menatapku, karena saat ini tubuhku tiba-tiba terasa dingin hanya dengan mendengar ucapannya itu. Aku berdiri, dan memutuskan untuk meninggalkan tempat itu, tetapi ketika aku berlalu, aku merasakan dia memegangi lenganku erat yang membuatku sulit untuk melangkah lagi.

“Masih banyak yang ingin aku katakan.” Ujarnya dingin dan datar. Aku rasa dia juga tidak berubah, tetap seperti es. Dingin.

“Lakukan semua, jika itu harus oprasi, pengobatan apapun, berapapun biayanya, aku akan membayarnya.” Kataku sambil menepis tangannya. Kali ini aku berusaha menatapnya dan benar saja, tiba-tiba jantungku berdugup kencang, rasa sakit itu kembali menyerangku.

“Aku pikir banyak yang harus kita bicarakan.” Dia berkata sambil tersenyum, bagiku senyum itu terlihat seperti mengejek. “Apa kau ingin aku yang membayarnya? Aku dengar kau memiliki banyak hutang di bank”

Jantungku kembali berdesir mendengar ucapannya. Aku merasakan seluruh darahku mengalir ke otakku saat itu juga. Tetapi aku tidak dapat mengatakan apapun, rasa marah dan malu bercampur, membuatku hanya bisa menutup mulut. Kemudian berusaha melangah secepat mungkin, pergi dari tempat ini.

Tetapi tangan itu tetap mencegahku untuk pergi. Aku menghentikan langkahku dan menatapnya tajam bergantian menatap lenganku yang digenggam erat olehnya.

“Masa lalu adalah masa lalu, berhentilah bersikap seperti ini” ujarnya seperti tak ada beban di setiap katanya, sementara aku, aku seperti orang yang setiap langkahku selalu di hantui oleh masa lalu. Yaa.. benar, masa lalu adalah masa lalu. Tetapi kenapa masa lalu itu terus menghantuiku?

“LEPASKAN TANGANKU!” teriakku sekuat tenaga membuat semua orang yang ada di sana menoleh padaku. Kali ini aku tak peduli, aku merasa rasa malu ku telah hilang entah kemana. Perlahan laki-laki itu melepaskan genggaman eratnya dan saat itu aku langsung berlari keluar dari gedung terkutuk ini.

Aku membiarkan tubuhku terguyur hujan deras, sedangkan tanganku terus melambai-lambai berusaha mengentikan beberapa taxi yang melaluiku, tetapi nihil. Ini membuatku sedikit frustasi. Airmata yang sejak tadi aku tahan agar tidak tumpah, sekarang mengalir deras. Aku memutuskan untuk duduk dan menangis sejadi-jadinya.

*****

Flash back

Aku duduk di tepi jendela apartemen, melihat suasana malam selepas diguyur hujan. Beberapa tetes air membuat jendela itu berembun. Meskipun aku tidak dapat melihat dengan jelas pemandangan malam diluar sana, tetapi aku tetap menatapnya. Menatap lampu-lampu mobil, menatap beberapa orang dibawah sana yang mulai menutup kembali payungnya, menatap genangan air yang memantulkan sinar lampu malam. Aku sangat menyukai pemandangan selepas hujan, suasananya yang sejuk, pantulan lampu pada genangan air yang membuat semua terlihat lebih indah, menurutku.

Sesaat kemudian, seseorang menyodorkan segelas teh hangat kepadaku. Aku menerimanya dan kemudian sedikit menyesapnya. Hangatnya teh membuat tubuhku—yang hanya berbalut kemeja putih yang kebesaran—menghangat. Aku tetap menatap luar sana, dari sudut mataku terlihat laki-laki itu duduk di sofa tidak jauh dariku. Aku tidak ingin metatapnya, karena itu aku memilih menatap luar sana.

“Apa yang terjadi malam ini, tetap tidak akan mengubah keputusanku.” Ucapnya memecah keheningan. Ini adalah tahun ke tujuh kami berpacaran, tetapi aku merasa tahun inilah sepertinya hubungan kami mengalami masa kritis. Tidak penting seberapa lama suatu hubungan, yang terpenting adalah bagaimana cara mempertahankannya, atau mungkin bagaimana cara agar tetap bisa menepati semua janji yang pernah di ucapkan. Ya, aku berusaha agar semua yang terjadi selama hampir tujuh tahun ini tidak berakhir seperti deburan pasir.

“Aku bisa menjadi direktur rumah sakit itu dengan menikahinya” lanjutnya, kali ini dia membicarakan seorang wanita yang selama ini membuat hubungan kami sedikit kacau. Wanita itu adalah anak seorang direktur rumah sakit dimana Seung Hyun oppa bekerja, wanita itu juga seorang dokter sama sepertinya. Seung hyung oppa bukanlah orang yang mudah tertarik dengan wanita, aku tahu pasti itu. Tetapi dia adalah orang yang sangat ambisius dalam hal yang berhubungan dengan karirnya.

“kau bisa menjadi direktur rumah sakit, atau bahkan direktur apapun dengan jalan lain oppa, kau tidak perlu merusak hubungan kita” Aku yakin aku adalah wanita gila malam ini. Demi laki-laki ini, aku memberikan sesuatu yang tidak pernah aku berikan meskipun dia memintanya. Tujuh tahun bukanlah sesuatu yang mudah untuk di rusak begitu saja. Selain itu, mungkin karena aku terlalu mencintai laki-laki ini melebihi diriku.

“Dengan cara apa? Menikahimu?”

Rasa sakit itu berubah menjadi debaran jantung yang rasanya dua kali lebih cepat dari biasanya, juga menjadi kumpulan amarah yang telah berada di ubun-ubun karena aku selalu menahannya. Saat ini, aku mulai merasa bahwa cintanya padaku mulai memudar. Sedangkan aku mulai menjadi gila, gila karena takut kehilangannya, atau mungkin gila karena tidak sanggup mengubur dalam kenanganku bersamanya.

“Itu tidak akan merubah apapun, jika kita tetap bersama, aku hanya akan menjadi aku yang sekarang, sedangkan kau hanya akan menjadi kau yang sekarang” lanjutnya. “jika kita masih bersama, kita tidak akan merubah kehidupan”

Merubah kehidupan? Seperti apa? Teriakku dalam hati. Aku bahkan tak sanggup mengatakan sepatah katapun karena menahan semua. Semua yang ingin aku katakan hanya berhenti sampai tenggorokanku. Aku dan seunghyun oppa memang bukan berasal dari keluarga kaya, bahkan mungkin kami berasal dari keluarga yang cukup menyedihkan. Seung hyung Oppa hanya hidup bersama ibunya sejak kecil, sedangkan aku, entahlah, aku bahkan tidak ingin mengatakan siapa diriku.

Aku melihat oppa mulai berdiri, mungkin karena dia bosan menungguku yang terus diam tanpa berkata apapun. “Kau ingin hubungan kita berakhir?” Tanyaku. Seunghyun oppa menghentikan langkahnya, entah karena dia terkejut atau karena dia senang dengan apa yang aku ucapkan. Sementara aku terus menyalahkan diriku sendiri karena telah mengatakan hal bodoh ini.

“Aku pikir itu jauh lebih baik. Kau bisa memulai hidupmu dan aku bisa memulai hidupku kembali” ujarnya tanpa melihatku, dan meneruskan langkahnya. Aku sangat benci dia memperlakukan aku seperti ini. Aku melihat sekitarku, sebuah kaleng bekas minuman. Aku langsung mengambilnya dan melemparkannya ke arah seunghyun oppa, kaleng itu mengenai kepalanya. Dengan spontan seunghyun oppa menoleh sambil memegangi kepalanya.

“Apa kau gila?” teriaknya dengan muka marah.

“Ya aku gila!” teriakku tidak kalah kencang, kali ini air mataku mulai menetes. “Apa kau juga ingin aku menyirammu dengan teh ini?” ujarku menunjukkan secangkir teh yang sedari tadi aku pegang dengan senyum dibibirku. Sedikit aneh memang, disaat mataku mengeluarkan airmata, bibirku malah tersenyum. Seunghyun oppa mulai berjalan kearahku.

“Aku akan mengantarmu pulang. Cepat ganti pakaianmu.” Ucapnya seakan tidak ada yang terjadi.

Saat dia akan meraih tanganku, aku menyiramkan segelas teh yang sedari tadi aku pegang kearahnya. Spontan. Aku juga tidak mengira akan melakukan hal ini. Seung hyun oppa terdiam, teh itu membasahi rambut, muka dan membuat sedikit noda coklat di t-shirt putihnya. Dalam diam dia menyeret tanganku, aku berontak, meronta—apapun aku lakukan agar tangan itu tidak menyentuhku. Tetapi sebesar apapun kekuatanku, genggamannya sangatlah erat, sehingga aku tidak bisa melepaskan tanganku darinya. Kali ini aku memegangi meja yang berada di dekatku sehingga dia sulit menyeretku, aku tahu ini kekanak kanakan, tetapi tanpa ku duga seunghyun oppa melepasku dan mengambil blazer hitamku yang berda di kursi yang tak jauh darinya dan kembali lagi padaku, membungkusku dengan blazer itu, kemudian menggendongku di pundaknya. Aku meronta dan memukuli punggungnya sekeras apapun yang aku bisa.

Dia menurunkanku, memasukkanku ke dalam mobil. Aku terus berontak memukuli kaca mobil dengan menangis kencang. Seunghyun oppa hanya menyalakan mobilnya tanpa menjalankannya.

Aku tahu, aku mungkin sudah gila sekarang.

*

Aku hanya bisa melihat ke depan, tanpa bisa melihat wajah wanita disampingku. Aku hanya mendengar senggukan pelan, kali ini tangisnya sudah mereda. Selama ini, aku tidak pernah melihatnya menangis. Aku masih ingat saat dia mengalami masa sulit dan aku mengatakan “Menangislah jika kau ingin menangis, itu akan membuatmu sedikit lebih baik.” Dan kali ini dia menangis seperti ini, aku tahu ini berarti sangat buruk baginya. Tetapi aku juga tidak mengerti mengapa aku melakukan ini padanya. Bosan? Ya mungkin saja.

“Op-pa, kau ta-hu menga-pa aku da-tang ke Se-oul?” ujarnya dengan suara yang masih terpotong-potong karena selepas menangis. Aku hanya diam, menatap lurus kedepan tanpa menoleh ke arahnya. Aku dan dia—kami sama-sama memiliki sifat keras. Mungkin karena kehidupan keras, masalalu yang keras membuat kami seperti ini.

“Ibuku sakit”

Kata-kata itu membuatku—sebenarnya ingin menoleh—tetapi entah mengapa harga diriku sepertinya lebih besar dari pada kemauanku.

“Beliau sedang kritis, dan aku tidak tahu apakah beliau bisa bangun kembali”

Kali ini aku menoleh. Aku melihanya sedang menatap kearah luar jendela. Ya sedari tadi sepertinya kami saling membuang muka. Aku kembali menatap lurus kedepan.

“Aku ingin kau menemaniku menjaganya.”

“….”

“tetapi sepertinya aku akan kehilanganmu”

“….”

“dan mungkin jika aku kehilangan ibu juga, aku pikir aku akan benar-benar menjadi gila” katanya sambil membuka pintu mobil dan keluar.

Aku tidak tinggal diam dan berusaha mengejarnya sampai aku berhasil meraih lengannya. Tetapi tanpa kuduga dia malah berjongkok dan menenggelamkan wajahnya, kemudian kembali menangis. Aku mengambil hp dari saku celanaku.

“Aku akan memangilkan taxi untukmu.”

Saat sedang menelefon taxi, aku melihatnya yang sedang berjongkok, menangis dan terlebih lagi tanpa alas kaki. Selesai menelefon taxi, aku mengatakan padanya untuk tetap disini selagi aku mengambilkanya sepatu dan tasnya yang masih berada di apartemenku. Aku berlari secepat mungkin untuk mengambilnya, tetapi saat aku kembali, wanita itu sudah tidak ada disana.

*

Dua minggu setelah peristiwa itu, aku berusaha melewati semua dengan baik-baik saja dan berusaha agar aku tidak menjadi gila. Sehari-hari aku menunggu ibuku yang terbaring lemah di rumah sakit. Aku berusaha menganggap kejadian yang menimpaku tidak pernah terjadi dengan cara menyibukkan diri. Tetapi sepertinya semua tidak mudah, ada hal yang membuatku terusik, sudah dua hari aku terlambat menstruasi dan aku memutuskan untuk membeli test pack. Aku tetap yakin tidak ada yang terjadi padaku, kami hanya melakukannya sekali dan tidak mungkin hal ini terjadi begitu saja. Tetapi, saat aku melihat ada dua garis merah di test pack tersebut aku merasa duniaku runtuh begitu saja. Aku segera melempar test pack itu, kemudian menangis. Ya tuhan…Aku tidak ingin anak ini. Saat itu, aku menangis sekencang-kencangnya sambil memukuli perutku, berharap anak di perutku mati atau apapun, tetapi tentu saja itu tidak mungkin terjadi.

Setelah menenangkan diri, aku kembali ke ruangan tempat dimana ibuku berbaring. Saat aku membuka pintu, aku mendapati seorang laki-laki telah duduk di tepi ranjang ibuku, dan menoleh saat aku membuka pintu ruangan itu. Seung hyun oppa. Aku juga melihat boequet bunga mawar putih—mawar kesukaan ibuku telah berada di vas bunga. Sepertinya dia sudah berada di sini sejak aku keluar dari ruangan. Aku mengurungkan niat untuk masuk kedalam ruangan itu karena aku hanya akan meluapkan kemarahanku dan tentu saja itu akan menggangu ibu. Aku memutuskan untuk mencari udara segar dan berjalan ke taman yang berada di sekitar ruangan ini. Aku melihat beberapa pasien, anak kecil bersama ibunya. Atau seorang nenek-nenek yang sedang di dorong oleh perawat, seorang laki-laki yang menggunakan tongkat sedang berusaha berjalan. Pemandangan ini membuatku pusing.

Aku duduk di sebuah kursi yang berada di taman itu, sesekali memijit kening kepalaku. Semua masalah seperti sedang mencercaku. Ibuku, seunghyun oppa, dan sekarang sosok baru di perutku. Aku mengusap perutku, sesekali memukulnya kencang.

“Apa kau sakit perut?” Ucap sesosok yang suaranya sudah tidak asing lagi bagiku. Aku tidak tertarik membalasnya, atau tertarik melihatnya. Dia duduk di sampingku, dan seketika itu pula aku berdiri. Tetapi dia menarik tanganku yang kemudian membuatku terduduk kembali.

“Ibumu, apa dia baik-baik saja?” tanyanya. Aku tahu itu hanya pertanyaan basa basi sedangkan dia baru saja bertemu dengan ibuku.

“Apa kau buta? Bukankah kau baru saja menjenguknya?” kataku, aku tahu ini kasar, tetapi aku tidak peduli, toh dia juga tersenyum.

“aku tidak akan berlama-lama” ujarnya. Ya, aku juga tidak ingin melihatmu berlama-lama disini. Aku melihatnya mengeluarkan sebuah amplop tebal dari tasnya. “Tidak banyak, tetapi aku rasa ini bisa membantu”

Bren*sek! Umpatku dalam hati, aku segera beridiri, tetapi lagi-lagi tangan itu meraih lenganku dan meletakkan amplop tebal itu di tenganku.

Plak…

Aku menamparnya dengan sekuat tenaga—membuang amplop itu dan kemudian bergegas pergi meninggalkanya, tetapi dia mengejarku dan meraih tanganku kembali dan meletakkan amplop itu lagi ke tanganku. Ini membuatku benar-benar marah.

“Apa kau ingin aku menerima uang ini?” Aku mulai membuka amplop itu dan aku tumpahkan isinya tepat dimukanya dan sebagian lagi aku sebar di jalanan. “Ya aku menerima uangmu, puas?” Saat itu, aku tahu banyak orang yang melihat ke arah kami, aku tahu seung hyun oppa juga sangat malu, tetapi aku tidak peduli dan segera meninggalkannya. Sesampai diruangan inap ibuku, aku juga lekas mengambil mawar putih yang berada di vas bunga dan membuangnya ke tong sampah.

*

Sial. Aku tidak bisa melupakan kejadian itu meskipun ini sudah hari keempat semenjak saat aku harus memunguti uangku kembali dan memasukkanya kedalam amplop. Kejadian itu sungguh memalukan. Dasar wanita keras kepala! Aku mengumpulkan uang itu, tentu saja tidaklah mudah. Aku benar-benar tulus ingin membantunya tetapi dia malah mempermalukan aku di depan umum. Ku usap wajahku dengan kedua tanganku, berharap aku bisa menyingkirkan keadaan memalukan itu. Kemudian aku mendengar bunyi sms dari hp ku.

Aku membuka sms itu. Dari Bo Mi. Oppa, aku sudah meletakkan undangannya di atas mejamu, apa kau melihatnya? Apa aku menyukainyaa?

Pandanganku mengarah ke sebuah amplop berwarna biru tua. Ah, undangan pertunangan. Entah mengapa aku tidak tertarik membukanya.

Aku membalas sms itu, Aku menyukainya. Kemudian meletakkan kembali hp ku ke atas meja. Beberapa saat kemudian aku mendengar kembali bunyi sebuah sms. Pasti dari Bo Mi, dengan malas aku meraih hpku. Aku sedikit kaget bukan Bo Mi, tetapi Yoona.

Oppa, aku ingin bertemu denganmu. Jika kau sibuk, tidak apa-apa, aku akan menunggumu sampai kau datang.

Cih, apa sekarang kau menyesal tidak menggambil uang itu? Aku rasa aku tidak tertarik untuk datang menemuinya, biar saja dia menungguku.

“Dokter Choi, Dokter Oh menunggu anda di ruang oprasi. Segera.” Seorang rekan dokter juniorku menyelamatkanku dari hal bodoh ini.

“Baiklah, aku akan segera menyusul” ucapku sambil memakai kembali jas putihku.

Setelah selesai menangani oprasi, aku segera kembali ke ruangan dan mengemasi barangku. Aku juga memeriksa hp ku, tetapi yang ada hanya sms dari Bo Mi, tidak ada satu pun sms dari Yoona. Meskipun sedikit penasaran apakah dia masih menungguku atau tidak, aku berusaha tidak peduli. Tetapi sialnya, aku memutuskan untuk pergi ke tempat dimana Yoona menungguku.

Aku pergi ke sebuah mini market dekat stasiun, tempat dimana Yoona menungguku. Terlihat dia duduk di kursi yang berada di luar mini market itu. Aku melihat jam tanganku. Tepat pukul 22.52. Aku berjalan kearahnya dan duduk tepat di kursi yang berada di depannya, mungkin dia akan menertawaiku setelah dia mempermalukanku tetapi aku tetap menemuinya.

.

.

.

.

Cukup lama sejak aku duduk di kursi ini, tidak ada pembicaraan di antara aku dan dia, Yoona juga tidak memulai membuka percakapan bahkan sekarang aku melihatnya berdiri dari tempat duduknya. Apa dia mempermainkanku? Menyuruhku datang dan saat aku datang dia akan pergi begitu saja? Aku tidak akan membiarkannya mempermainkanku. Aku mengeluarkan amplop berwarna biru tua dan meletakkannya keatas meja. “Aku akan bertunangan beberapa waktu dekat ini.”

Yoona kembali duduk dan melihat amplop biru tua itu. Dia seperti berfikir, dengan tatapan yang terus menatap amplop biru tua, sedangkan kedua tangannya berada disaku jaketnya.

“Aku tidak bermaksud menggundangmu, karena aku tahu kau tidak akan datang, aku hanya ingin memberi tahumu” Aku tahu sekarang aku sedang bertindak bodoh.

Saat itu aku melihat Yoona mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya dan meletakkan sesuatu itu di atas meja. Sebuah test pack. Kali ini aku yang terkejut.

“Aku hamil” kata Yoona, untuk pertamakalinya Yoona menatapku tajam. Sementara aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.

“Apa kali ini kau berusaha mengancamku?” kataku mulai geram dan berdiri dari dudukku.

“Tidak, aku hanya ingin memberi tahumu”

Sh*t.

“Lalu apa yang kau inginkan jika aku sudah tahu? Uang?”

“Apa aku terlihat seperti pengemis?”

“Apapun itu, aku tidak akan menikahimu, sekarang, atau kapanpun” aku tidak bisa tenang, aku tidak ingin semua yang aku bangun runtuh begitu saja karena hal sepele. Aku berusaha menenangkan diri dan duduk kembali “Kau tahu, aku memiliki beberapa hal yang ingin aku capai dan kau juga, masih banyak hal lain yang . . .” tidak sempat aku meneruskan ucapanku, aku melihat Yoona berdiri.

“Oppaa…Aku datang kesini untuk memberi tahumu, ah bukan, mengingatkanmu, bahwa kau dan aku, pernah memiliki hubungan yang cukup rumit” Ujarnya tenang sambil mengambil kembali test packnya yang berada di meja, kemudian memasukkan kembali ke saku jaketnya. “Dan satu hal lagi, kau tidak perlu khawatir karena aku memutuskan akan melakukan aborsi” Kata Yoona, kemudian pergi meninggalkanku, aku hanya dapat melihat punggungnya yang semakin menjauh tanpa berniat mencegahnya. Entah menggapa kata-kata terakhirnya membuatku tidak tenang.

*

Diluar sana hujan sangat lebat, aku pikir, hujan kali ini seperti menertawaiku dengan menumpahkan sebegitu banyak air, seperti hal nya aku, yang saat ini menumpahkan air mataku. Saat di kereta dari Seoul kemarin, aku mendapat kabar bahwa ibu ku sedang kritis dan aku di minta segera ke rumah sakit. Saat itu aku sangat cemas, aku takut aku tidak bisa melihat ibuku lagi, dan ternyata benar, sesampainya aku di rumah sakit, kondisi ibuku sudah tidak bernyawa lagi. Itu membuatku semakin mengutuki diriku. Anak macam apa aku ini, aku bahkan tidak berada di sisi ibuku saat beliau akan pergi jauh, dan malah pergi ke tempat orang yang bahkan tidak lagi peduli padaku.

Karena itu, saat di pemakaman ini, aku tidak bisa berhenti menangis. Sejak pagi saat orang-orang ramai melayat ibuku hingga semua orang yang datang itu meninggalkanku, yang aku bisa hanyalah menangis dan menyesal. Menyesali megapa aku tidak berada di dekat ibuku saat itu. Aku tahu, menangis dan menyesal tidak akan membawa ibuku kembali padaku. Aku duduk bersender di tembok sambil mengusap air mataku yang terus mengalir, meskipun berulang kali aku hapus.

Saat itu, seseorang datang, melihat orang itu aku segera berdiri dan menghapus air mataku. Wanita itu langsung datang dan memelukku, hal ini membuatku mengeluarkan airmata lagi. Setelah selesai meletakkan bunga krisan dan berdoa, kemudian aku mempersilahkannya duduk dan menuangkan segelas air putih untuknya. Aku melihat wanita itu mengedarkan pandangannya, seperti mencari sesuatu atau seseorang. “Apa kau belum memberi tahu Seung hyun?” tanyanya. Aku menggelengkan kepala.

“Belum Omonni” jawabku sedikit ragu, atau mungkin tidak tahu harus menjawab seperti apa. Sepertinya seunghyun oppa belum menceritakan apa yang terjadi padanya.

“Maafkanlah dia, jika dia datang terlambat maafkanlah dia” kata wanita itu sambil memegang telapak kananku dan mengelus-elusnya dengan kedua telapak tangannya. Aku merasa, sepertinya aku harus memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara aku dan seunghyun oppa.

“Ommoni sebenarnya, aku dan seung hyun oppa, kami….” kataku sedikit ragu. “kami sudah tidak memiliki hubungan lagi” lanjutku, aku tidak berani menatapnnya, karena itu, aku memilih untuk menundukkan kepalaku.

“Maafkan aku Ommoni, aku berusaha sebaik mungkin agar kami bisa terus bersama, tetapi aku mencintai laki-laki lain, maafkan aku Ommoni, maafkan aku….” aku berulangkali membungkukkan tubuhku tanda meminta maaf. Aku telah mengaggap ibu Sunghyun oppa sebagai ibuku sendiri, aku tahu aku mengecewakannya. Kali ini airmataku kembali mengalir.

“Aku tahu kau sedang berkata yang sebaliknya. Aku mengenalmu sangat baik, seperti aku mengenal anakku sendiri” kata wanita itu. Aku tetap tidak berani menatapnya, aku merasakan tangan wanita itu mengelus pundakku. “Maafkan aku, karena aku tidak bisa mendidiknya dengan baik. Aku tahu kau banyak menderita karenanya” kini wanita itu mulai menangis, sementara aku, tanpa aku sadiri aku mulai meremas-remas perutku. Aku berfikir tentang sesuatu yang ada di perutku saat ini. Aborsi?

Tiba-tiba tangan wanita itu menyentuh tanganku yang sedari tadi meremas perutku. “Pertahankan anak ini” Kata-kata itu membuatku mengangkat kepalaku, bagaimana dia bisa tahu tentang ini.

“Aku tahu, keadaanmu saat ini sangat sulit, tetapi, jika kau mempertahankannya, aku rasa kau tidak akan menyesalinya” kali ini tanganya meraih kedua telapak tanganku. “aku membesarkan seunghyun tanpa ayah, ayahnya meninggal sebelum usia kandunganku 2 bulan.”

“aku tahu, kau merasakan sesuatu yang lebih sulit dariku, tetapi, pertahankanlah, bukan karena aku memintanya. Tapi karena dia telah ada, karena itu, dia berhak melihat dunia”

****

“Apa dia juga tidak datang hari ini?” tanyaku pada wanita yang menjaga ayah Yoona. Wanita itu menggelengkan kepalanya. Semenjak aku bertemu dengan Yoona saat itu, aku tidak pernah melihatnya kembali ke rumah sakit ini lagi. Tentu saja jika aku menjadi Yoona, aku pasti akan melakukan hal yang sama. Aku melihat wanita itu, dia tidak pernah meninggalkan ayah Yoona sedikitpun, tangannya selalu memegang tangan Ayah Yoona seperti berharap agar laki-laki ini bisa kembali sehat. Seusai memeriksa seluruh keadaan ayah Yoona aku berniat untuk segera pergi dari ruangan ini.

“Dokter Choi” Panggilan wanita itu membuatku menghentikan langkahku, juga membuatku mengurungkan niat untuk membuka pintu. Aku menoleh.

“Apa kau mengenal Yoona dengan baik?” tanya wanita itu. Aku hanya menganggukkan kepalaku. “Seberapa jauh kalian saling mengenal?” Lanjutnya bertanya. Jujur saja, pertanyaan itu sangat sulit bagiku untuk menjawabnya.

Sangat jauh dan sangat rumit, Kataku dalam hati. “Dulu kami pernah saling mengenal” saat mengatakan hal ini, aku berusaha untuk tetap tersenyum padahal sebenarnya, untuk mengungkit kembali masalah ini butuh kekuatan.

“Semenjak dia pindah dari Busan, aku sangat sulit menemui Yoona. Dia seperti menghilang.” Jelas wanita itu, aku masih belum bisa menebak apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan. “tetapi, beberapa waktu lalu, saat ayahnya sedang kritis, aku dapat menghubunginya.” Wanita itu mengeluarkan secarik kertas dan memberikannya kepadaku. Sebuah nomor hp.

“Aku ingin kau membujuknya untuk menjenguk ayahnya, setidak saat ayahnya sudah sadar, aku ingin Yoona berada di sampingnya meskipun hanya sebentar.” Kata wanita itu sambil membungkukkan badannya. “Aku akan sangat berterimakasih kepadamu.”

Aku tidak bisa berkata apapun, meskipun itu hanya menjelaskan bahwa aku dan Yoona hanyalah dua orang yang di takdirkan untuk bertemu dimasa lalu dan juga berpisah dimasa lalu. Sambil memegang secarik kertas itu aku pamit. Di ruangan kerjaku, aku masih memandangi secarik kertas itu, aku merasa bingung dengan apa yang akan kulakukan. Yoona tidak akan semudah itu memaafkanku, setelah apa yang aku lakukan padanya. Kemudian aku meremas kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah. Jika aku dan Yoona memang di takdirkan untuk bertemu, aku pasti akan bertemu dengannya.

Kurebahkan badanku di sebuah sofa. Sampai sekarang, aku tidak tahu dimana Yoona tinggal, aku dan Yoona sama-sama berasal dari Busan, tetapi aku pindah ke Seoul untuk kuliah dan bekerja disana. Semenjak ibunya meninggal, Yoona tidak lagi tinggal di Busan. Dia resign dari pekerjaannya, bahkan menjual rumahnya. Saat itulah aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Jujur saja, selama ini aku mencarinya. Aku merasa bersalah dengan masalaluku, meskipun aku selalu mengatakan masalalu adalah masalalu, aku juga tahu aku tidak dapat mengubah masalaluku. Tetapi, paling tidak, aku bisa memperbaikinnya di masa mendatang. Aku ingin membayar semuanya.

Tiba-tiba alarm hp ku berbunyi dan itu membuatku terkejut. Pukul empat sore. Aku segera bergegas mengemasi barangku dan pergi ke toko bunga untuk membeli beberapa tangkai bunga mawar putih.

*****

Hari ini adalah hari kematian ibuku, setiap hari ini melewatiku, aku selalu merasakan beban berat, juga rasa bersalah pada ibuku karena tidak menemani di saat hari terakhirnya. Sambil menangis kuletakkan setangkai bunga mawar putih didekat batu nisan ibuku. Saat meletakkan mawar putih itu, mataku tertuju pada seikat mawar putih yang telah mengering disana. Saat mengunjungi ibuku, aku selalu melihat ada seikat mawar putih di nisan ibuku. Aku tidak pernah membawa mawar lebih dari satu tangkai, dan aku juga tidak pernah tahu siapa yang meletakkan seikat mawar putih itu. Karena telah mengering, aku memutuskan untuk membuangnya. Seusai mengucapkan do’a untuk ibuku, aku berpamitan pada ibuku. Saat aku berbalik arah akan meninggalkan area pemakaman, aku melihat seseorang datang dengan tergesa-gesa sambil memegang seikat mawar putih di tangannya.

“Sedang apa kau kemari?” ujarku ketus. Dia juga tampak kaget saat melihatku. Aku terus menatap seikat mawar putih yang di pegangnya. Mengetahui aku terus melihat mawar itu, perlahan dia menyembunyikan di balik tubuhnya.

“Senang bertemu denganmu.” Ujarnya sambil terus berjalan, sementara aku berusaha menghalanginya dengan tubuhku.

“Apa kau pikir dengan ini ibuku akan memaafkanmu?” Tantangku sambil menatapnya.

“Aku tahu ibumu tidak akan memaafkanku, karena itu, aku datang kemari untuk meminta maaf.” Kata Seung Hyun oppa sambil berjalan melaluiku.

Dari kejauhan aku melihatnya meletakkan seikat bunga mawar putih yang dibawanya, kemudian memejamkan matanya dan mulai berdoa. Tanpa aku sadari aku berjalan mendekatinya. Seung hyun oppa menoleh saat aku berada tepat di sampingnya, sementara aku hanya menatap nisan ibuku. “Apa kau yang meletakkan mawar-mawar itu?”

Dia tidak menjawab. Hanya diam.

“Berhentilah melakukan ini semua Oppa, kau terlambat dan ini tidak ada gunanya” Aku menatap nisan ibuku, sementara dari ujung ekor mataku terlihat seunghyun oppa sedang menatapku.

“Apa kau fikir aku bisa hidup tenang selama ini?” Ujar seung hyun oppa, “Aku terus mencarimu dan aku selalu datang kesini, berharap bisa bertemu denganmu” lanjutnya. Aku menoleh, melihat Seunghyun oppa. kata-katanya itu membuatku sedikit terenyuh, seperti sebongkah es di tubuhku yang tiba-tiba mencair. Tetapi aku berusaha untuk tidak mempercayai apa yang dikatakannya.

“Katakan saja semua yang ingin kau katakan, tetapi jangan berharap aku akan mempercayaimu lagi, bukankah bagimu masa lalu hanyalah masa lalu?” Aku menatap seunghyun oppa, berusaha memasang wajah serius. “Dan jangan pernah datang kemari” kataku, kemudian berlalu dari tempat itu, aku merasakan beberapa tetes air membasahi wajahku, ya, sore ini mulai gerimis. Saat aku sedang berjalan, seung hyun oppa memegang lenganku.

“Lepaskan! Kau ingin aku berteriak di pemakaman ini?” kataku sambil berusaha melepaskan diri.

“Apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkanku?” Ujarnya dengan tatapan serius, tangannya mengencangkan pegangannya di lenganku.

“Aku ingin kau menghapus semua memoriku tentangmu”

“….” dia hanya metatapku tanpa berkata apapun.

“Kau tidak bisa? Kalau begitu aku juga tidak akan pernah bisa memaafkanmu” Ujarku sambil berusaha melepas lenganku dari genggaman eratnya. Seunghyun oppa melepaskannya, kemudian aku melangkah pergi dari tempat itu.

TBC