Title : I Can’t Make You Love Me

i can't

Author : chanyb

Casts : TAEYANG [BIGBANG] – etc

Genre/Length/Rate : Romance—comedy/Ficlet/PG-15 (nsyaAllah)

Disclaimer : Orang absurd nan alay *nunjuk diri sendiri* sudah pasti yang bikin ff berantakan ini😄 dan untuk sementara waktu pria berinisial Dong Young Bae bukan milik si absurd .-.

====== ICMYLM ======

Title : I Can’t Make You Love Me

Author : chanyb

Casts : TAEYANG [BIGBANG] – etc

Genre/Length/Rate : Romance—comedy/Ficlet/PG-15 (nsyaAllah)

Disclaimer : Orang absurd nan alay *nunjuk diri sendiri* sudah pasti yang bikin ff berantakan ini😄 dan untuk sementara waktu pria berinisial Dong Young Bae bukan milik si absurd .-.

====== ICMYLM ======

“Kau suka dia.”

“Dan dia suka masa lalunya, kecut banget, kan? Padahal dari golongan darah, zodiak, shio sampai elemen pun mengatakan kalau kita tuh cocok tapi, kenapa aku kemana-mana selalu sendiri melebihi peserta uji nyali sementara dia malah grasak-grusuk mencari yang entah apa jenisnya…?” Saat topik ‘aku suka dia’ repetanku tiba-tiba tak terkendali. Rasanya otak ini bakalan meledak kapan pun, begitu menyadari aku kalah pamor dibanding cinta pertamanya.

Yang kata orang-orang paling indah, tapi menurutku….

Cinta pertama cuma suatu perasaan yang dapat membuat seseorang bertindak konyol akibat reaksi kimia—entah apa–dalam kadar berlebihan. Nah, Taeyang termasuk lelaki konyol tersebut. Karena, bisa dibilang aku temannya dan orang yang melihatnya secara langsung. Dan tahu, betapa menyebalkan melihat dia begitu. Merana setiap saat. Kenapa dia mesti mencari yang tidak ada, coba? Di saat ada orang yang mengharap sedekah cintanya? Jaraknya pun tak sampai puluhan kilometer, cukup berpaling sebentar maka dia akan melihat orang itu menatapnya penuh damba.

Sangat dekat, kan?

Kenapa bisa sedekat itu? Yah tentu saja karena aku selalu berjalan beberapa meter di belakangnya hingga aku bisa hafal aktivitas Taeyang seharian. Sepulang kuliah dia terkadang ke stasiun bawah tanah—mungkin berpura-pura menunggu seseorang–sampai bosan lalu berjalan ke rumahnya dengan kecepatan super lambat sambil menoleh kanan-kiri.

Namun, Sekali pun Taeyang menoleh, melihat, mengetahui kalau kami saling bertatap muka, ekspresinya tetap lempeng tanpa niat menegur apalagi menyapa. Terlebih reaksi spontan membuang muka yang disertai helaan napas lelahnya itu loh, menyebabkanku mendengar bunyi ‘kretak’ merambat dari ujung ke ujung.

Hatiku seakan retak sekaligus diinjak-injak setiap kali dia menoleh. Kejam!

“Ra, anu… jam 3, jaket hitam sendirian.” Senam leher secara otomatis aku lakukan demi melihatnya senyum seraya melambai ringan. Bahagianya.

“Cih, senyam–senyum sok akrab!… dasar siluman… anak protozoa, kutu loncat, semut merah!” Teriakkan dibarengi gebrakan meja kafetaria membuat Taeyang tertegun sejenak sebelum mengulas senyum sekali lagi dan beralih mengutak-atik ponselnya.

Astaga! Cuma segitu doang reaksinya? Reaksinya berbanding terbalik dengan seisi kafetaria yang memandang najis ke arahku. Sementara Jee Hee, perempuan hina di depanku malah meringis sambil mengibas-ngibas pelan tangannya ke sekitar. Seakan menegaskan bahwa tidak ada pertemanan di antara kami.

Agak kesal aku menenggak jus jeruk hingga kandas lantas mulai berbicara, “Lihatkan! Cara begini juga tak dia ladeni? Mestinya dia balas hina-hinaan macam di tv-tv itu lalu entah dengan jurus kamehame atau sihir kekuatan bulan kami jadi pasangan yang dimabuk asmara. From hate to love yang begitu-gitulah!

“Kau mabuk terasi oplosan, ya?” Aku menggeleng, Jee Hee menghela napas panjang tanpa berkata sepatah pun dia justru menyandang tas ranselnya, menghela napasnya lagi dan lagi.

Nih anak jangan-jangan bengek.

“Loh, kok masih duduk di sana, bukannya mau pergi? Pergi sana, hush hush!”

“Sip! Bayarin yang aku juga, oke?”

Usai berujar demikian dia melengos pergi. Teman kurang ajar macam apa dia, sudah mengataiku mabuk terasi oplosan, minta dibayari, nah sekarang dia juga menghampiri Taeyang. Mereka tampak saling bertukar nomor dan ponsel di atas meja pun menerima dua pesan setelahnya.

Dari : Jee

0XXXXXXX

Dari : Jee

Berterima kasih lah padaku.

Mataku spontan tertuju pada mereka, yang dibalas senyum manis oleh Taeyang dan senyum mengejek dari Jee hee.

Dari : Jee

cepat, andal, serta terpercaya (y)

Saking frustasinya, ingin rasanya aku tewas sejenak lalu bangkit cantik dan terserang amnesia. Bagaimana bisa temanku itu mendapat nomor Taeyang segampang ini? Sedangkan aku yang sudah mengikutinya selama setengah tahun lebih, tak mendapat hasil apa pun kecuali sikap dinginnya? Jelas-jelas aku telah melancarkan berbagai taktik jitu—menurutku sih–untuk menarik perhatiannya, sedikit. Berbagai cara kuhalalkan. Mulai dari bertingkah manis, genit hingga kasar sebagaimana yang tadi kupraktikkan. Benar-benar sudah kulakukan sesuai tata cara yang kutonton di tv. Sebagai catatan, tingkah itu kulakukan setiap dia berada beberapa meter di dekatku. Tapi apa hasilnya? Tetap jalan di tempat. Nah, dia cuma modal cengar-cengir gila sama manggut-manggut langsung dapat nomornya.

“Apa salah princess, ya Tuhan?”

====== ICMYLM ======

Aku percaya ramalan, titik.

Walhasil sebelum mengawali hari aku buru-buru menyalakan laptop di balik selimut demi mengunjungi situs pure-pure cute. Menurut peri pure, dewa asmara bersamamu kakak :*. Tidakkah itu berarti, setelah sekian lama menunggu akhirnya aku… Taeyang akan….

Senyum binal khas tante-tante girang yang tadi terukir perlahan berganti senyum masam ketika melirik layar ponsel di sebelahku tidak menunjukkan pertanda bahwa satu di antara sebelas pesan yang kukirim di balas olehnya.

“Sadis, kan, Jee? Halo… halo…? Ah!” Dan Jee Hee menutup teleponku padahal aku sudah berbusa-busa menyampaikan keluh-kesahku. Yang direspon perempuan itu menggunakan kosa-kata dangkal seperti, oh. masa? Serius? Ya. Hmmm, terus? Kemudian tut- tu-tut menyambung ucapanku.

Biasanya mendapati sahutan semacam itu aku bakalan mengamuk tak jelas sambil memaki-maki ponsel tetapi wangi yang kukenal mendadak melintas melewatiku, menghapus seluruh niat keji barusan. Taeyang. Dia berjalan sebagaimana biasa, mengabaikan sekitar dengan menutup telinganya menggunakan handset. Terkadang dia tiba-tiba berhenti, menoleh ke seberang jalan lalu kembali melangkah pelan selagi tangan kanannya sibuk mengutak-atik ponselnya.

Aku tahu semestinya aku yang terlebih dulu menyapa Taeyang. Apalagi jarakku sekarang memungkinkanku menyentuh pundaknya. Jujur, ini adalah jarak terdekatku darinya namun entah bagaimana rasanya tanganku keram seketika saat sesuatu dalam benakku berbisik, mungkin lain waktu. Karena, tak peduli sedekat apa pun Taeyang kini, dia terkesan seperti berada di tempat lain, bukan di sini. Maka, pilihan yang tersisa hanyalah terus mengawasi sosok berkaos hitam itu dari kejauhan.

Perlu diingat, aku bukan penguntit atau sebangsanya aku cuma seseorang yang menyukainya dan mengkhawatirkannya hingga aku ikhlas lahir batin untuk mengikuti kemana pun Taeyang melangkah. Siapa tahu akibat putus asa dia berencana menabrakkan diri ke kendaraan yang melintas kencang. Walau probabilitas dia berpikiran pendek begitu sama kecilnya dengan menyaksikan Lord Voldemort berakting ganteng di Harry Potter.

Setengah jam kemudian, embusan udara yang kuhirup beraroma kertas. Baru mencapai ambang pintu saja, aroma tersebut telah mengingatkanku akan tugas meresensi novel terkenal. Sungguh ingatan mencekam setiap memasuki perpustakaan, tempat yang Taeyang datangi begitu tiba di kampus. Tak sampai lima menit mataku mengalihkan perhatian ke rak-rak tinggi, dia sudah menghilang. Membuatku harus menelusuri satu-persatu rak buku dan mengintipi setiap pengunjung dari celah-celah antar buku.

“Mencari sesuatu?”

Dalam posisi setengah membungkuk, tubuhku lantas membeku di tempat. Aroma manis tiba-tiba merusak koordinasi saraf motorikku.

“Butuh bantuan?”

Rasanya aku mau pingsan kegirangan mencium aroma itu semakin mendekat. Ekor mataku bisa melihat sosok yang selama ini kuidamkan ikut membungkuk. Tampannya….

Seseorang tolong aku, sebelum aku khilaf!

“A—anu, tolong…, JAGA JARAK!” Jangankan Taeyang, aku saja sampai terperangah mendengar lengkingan barusan. Dengan kaku aku menoleh perlahan, mendapati senyum singkatnya sewaktu mejauhkan diri.

“Oke.” ujarnya pelan, bergerak maju ke tempat di mana dia biasa larut ke dalam bacaannya. Meja yang bersisian dengan jendela.

“Mengganggu saja.”

“Pagi-pagi sudah berisik!”

“Dasar….” Sembari membetulkan poni, aku berdiri tegap. Penuh percaya diri berjalan mendekati Taeyang, mengabaikan bisikan-bisikan pengunjung lain yang menyakiti telinga. Detak jantungku makin ugal-ugalan dan telapak tanganku tahu-tahu dibasahi oleh keringat begitu berdiri tepat di seberang mejanya. Sedangkan dia larut dalam buku bacaan dan musik yang mengalun di indera pendengarnya, sampai-sampai tak menyadari kedatanganku.

Lima menit berlalu, bunyi benturan tapal sepatu ke marmer mengiringi gerak gelisah sepasang mataku ke sekeliling. Ruangan luas nan pengap oleh bau-bau kertas dan sikap acuh-tak acuh Taeyang lama-kelamaan membuatku makin tertekan. Makin galau menentukan kalimat yang tepat untuk mengawali percakapan.

Haruskah, halo? Hi… atau maaf?

Selewat tiga menit bunyi berdebuk samar mengagetkanku. “Tidak capek?” tanyanya seraya meletakkan buku ke atas meja. Menatapku datar selagi tangan kanannya mencopot kedua handset di telinga. “Apa kau tidak capek?”

Mampus! Apa dia tengah menyindir perilaku terhadapnya?

“Anu, apa itu… ma… ma—af.”

“Atas?”

Mulai mencengkeram kepala kursi erat-erat dengan kepala tertunduk lesu. “Maaf jika selama ini aku mengusikmu. Tapi aku tidak bermaksud menguntitmu atau apa. Rumahku… rumahku…, memang jauh sih. Tapi pokoknya aku tidak menguntitmu, SERIUS!” Bersamaan lengkinganku di akhir kalimat, aku menegakkan kepala. Menatapnya gahar binar kebingungan yang terpancar dari sepasang mata sendunya.

“Aku tahu.”

Dia tahu? Cuma kalimat tanya itu saja yang berputar-putar di otak, selagi mulut tak mampu berucap. Setelah jeda cukup panjang, dia lantas beranjak mengembalikan buku ke bagian terujung salah satu rak dan keluar begitu saja. Dan duniaku terasa runtuh di detik itu juga.

Mungkinkah Taeyang marah?

Untuk kali pertama, aku tak berupaya mengikuti apalagi mengejarnya. Walaupun aku sudah menduga bahwa Taeyang tahu jika aku mengekorinya. Namun mendengar langsung dari bibirnya, memberi efek berbeda bagi hatiku. Pasalnya, menurut otak bodohku, mungkin sampai kapan pun Taeyang takkan pernah benar-benar melihatku.

Bodohnya dirimu Song Ara.

Sisa empat jam di kampus kuhabiskan bagai zombie terkena hipnotis, ditegur pun aku celingak-celinguk serta umbar cengiran. Seluruh pikiranku tersita hanya untuk memikirkan lelaki—sebut saja kembang sepatu—yang bahkan tak mau repot-repot memikirkanku. Bukan sebatas pikiran, namanya pun memenuhi catatanku.

====== ICMYLM ======

Aku keluar ruangan saat kelas sudah kosong-melompong. Baru berjalan malasan-malasan dua tiga langkah, aku segera menyandarkan diri ke dinding sambil memainkan ponsel dan menggumam tidak jelas bersamaan derap dua pasang tapal sepatu melewatiku. Mendengar kedua pemiliknya mengobrol akrab, aku iri setengah mati. Seandainya, aku juga laki-laki barangkali aku bisa…, setidaknya berteman dengannya. Tanpa perlu kelimpungan oleh perempuan di masa lalunya. Tanpa perlu melibatkan perasaan hingga berpikir untuk ganti kelamin! Seandainya.

“Mau pulang bersama?”

“Hah?” Sebenarnya, dia maunya apa? Pagi tadi dengan tenangnya dia menabur garam bercampur jeruk nipis ke perasaanku, sekarang dia menggulainya terlalu manis melalui senyumnya.

Kumohon berhenti tebar pesona! Berhenti tersenyum dengan mata kecilmu dan membuatku jatuh cinta lebih dalam lagi!

“Ara?”

Aku diam.

“Ara, apa kau tidak capek?”

“Hah?”

“Aku bertanya, apa kau tidak capek…, terus mengikutiku dari belakang?”

====== ICMYLM ======