cover

I’ll Kiss The Rain (Part 2)

 

 

Author      : Ame Sora

 

Tittle       : I’ll Kiss The Rain

Main cast: Im Yoona (GG), Choi Seung Hyun (TOP Bigbang)

Genre     : Meloromance (maybe), Romance

(Semoga ga binggung ya dengan alur dan point of view nya, thanks buat setiap kritik sarannya~ :3) http://ame1126.wordpress.com/

****

Seung Hyun POV

 

Flash back

 

Malam itu, aku sampai di apartemenku dalam keadaan tubuh yang sedikit basah—basah karena hujan. Diluar sana hujan sangat deras. Kurebahkan badanku di sebuah sofa, sementara tanganku merogoh saku celana, mengambil hp yang sejak tadi ku silent. Begitu aku menyalakannya, rangkaian sms menghujani hp ku.

 

“Aku tidak mengerti, mengapa kau bersikap seperti ini”

 

“Bagaimana bisa kau menganggap semua ini seperti kapas, seenaknya kau membuang semua”

 

“Kau tau Oppa, seberapa besar rasa percayaku padamu?”

 

“Kau ingin merusak semuanya?”

 

“Ah, kau bahkan mematikan hp mu”

 

“Kau ingin aku datang ke Seoul”

 

Kau bisa menjelaskannya saat kita bertemu”

 

“Aku akan ke Seoul sekarang”

 

Aku melempar hp ku setelah membaca serangkaian sms yang aku dapat sejak pukul 2 siang karena hp dlm mode silent, kulirik jam di dinding, tepat pukul 11 malam. Tidak mungkin dia datang ke Seoul malam-malam begini. Lagi pula di luar sana hujan sangat deras. Aku mulai memejamkan mataku. Sesaat kemudian aku mendengar bunyi seseorang menekan pasword apartemenku. Dengan rasa lelah di sekujur tubuhku, aku paksakan untuk berdiri dan berjalan ke arah pintu. Aku melihat sesosok wanita dengan baju yang basah kuyup memasuki apartemenku. Dia berjalan melewatiku dan hendak duduk di sofa dengan kondisi basah kuyup, tentu saja aku tidak membiarkannya begitu saja. Segera ku raih lengan tangannya kemudian ku arahkan dia menuju kamar mandi. Sementara dia terus berusaha melepaskan tangannya dari genggamanku.

 

“Aku tidak akan berlama-lama, karena itu, kau bisa menjelaskannya dengan cepat.” Ujarnya sambil mengikutiku yang sOmmak mencari handuk.

 

“Keringkan badanmu.” Ujarku sambil menyodorkan handuk padanya. Dia tidak bergeming.

 

“Apa itu penting untuk saat ini?”

 

“Kau bisa demam, cepat ganti pakaianmu” Kali ini aku menyodorkan handuk sekaligus baju kemeja berwarna putih padanya. Aku melihat tubuhnya yang basah kuyup itu, dia hanya memakai celana jeans dan t-shirt berwarna putih yang sekarang menunjukkan branya, sementara tangannya memegang coat berwarna hitam yang juga basah kuyup. Segera ku alihkan pandanganku. Meskipun aku dan dia telah lama berpacaran, aku tidak terbiasa dengan pemandangan seperti ini. Ya, selama ini tentu saja aku hanya bisa menahannya. Hubungan terjauh kami hanya sebatas ciuman, dan jika ciuman itu mulai memanas, tanganku mulai berjalan menuruni badannya, dia akan segera menjauhkan tubuhku dan ciuman itu berakhir begitu saja. Dia bilang, dia hanya akan melakukannya setelah menikah.

 

“Oppa, apa kau benar-benar ingin ini semua berakhir?” dia masih menceracau dengan pertanyaan-pertanyaan tanpa mendengarkanku.

 

“Apa kau ingin aku menggantikan bajumu? Atau kau ingin menggodaku?” tanyaku dengan sedikit nada tinggi. Dia menjatuhkan coat hitam di tangannya kemudian mengambil handuk dan kemeja dari tanganku. Aku memungut coat nya dan berjalan ke arah mesin cuci.

 

Tak lama kemudian Yoona keluar dari kamar mandi. Tubuhnya hanya memakai kemeja putih kebesaran yang aku berikan tadi, sehingga menampakkan kakinya yang jenjang. Aku segera membuang pandanganku dan berjalan ke kamar mandi untuk menggambil baju Yoona yang lain kemudian mengeringkannya di mesin cuci.

 

“Tunggulah di sofa” ucapku padanya sambil mengeluarkan coatnya yang sudah sedikit kering dari mesin cuci. Aku tidak melihatnya berjalan ke arah sofa, dia malah duduk di tepi tempat tidurku. Apartemen ini, tidak memiliki pemisah ruang—kecuali kamar mandi, jadi aku dapat melihatnya duduk di tepi tempat tidurku. Aku berjalan ke arah lemari pakaianku untuk menemukan sesuatu—yang setidaknya dapat menutupi tubuh bagian bawah Yoona.

 

“Apa kau mencintai wanita itu?” tanyanya tiba-tiba. Aku mengeluarkan coat putihku dan menyerahkan padanya. Mungkin coat itu akan sedikit besar untuknya.

 

Dia mendongakkan kepalanya saat aku menyerahkan coat itu, tetapi dia tidak segera menerimanya. “Pakailah jika kau tidak ingin sesuatu terjadi padamu malam ini”

 

“Apa kau mencintai wanita itu?” dia menggulang pertanyaannya tanpa menerima coat yang aku berikan padanya. Tanpa pikir panjang aku segera memakaikan coat itu padanya tetapi dia menepisnya. Ini membuatku marah.

 

“Ya aku menyukainya” Ujarku kesal. Saat itu pula Yoona berdiri, mulai berjalan meninggalkanku.

 

“Kau hanya datang kesini untuk menanyakan hal seperti itu? aku tahu, kau bahkan sudah bisa menebak seperti apa jawabanku.” Kataku asal, tetapi berhasil membuatnya berhenti, dari balik tubuhnya aku melihat dia mengusap wajah dengan lengan tangannya kemudian berbalik ke arahku. Sepertinya dia menangis. Tetapi aku tidak peduli.

 

“Tentu saja karena aku percaya padamu karena itu aku ingin mendengarkan langsung darimu” ucapnya dengan senyuman yang tidak pernah aku bisa artikan. “kenapa kau menyukainya?”Lanjutnya.

 

“Karena dia memberiku semua apa yang dia miliki” kataku asal.

 

“Apa kau juga tidur dengannya? Disini?”

 

Mendengar ucapan Yoona membuatku kesal, bagaimana bisa dia bertanya hal yang merusak harga diriku. “Ya, karena aku bosan menunggumu. Wanita sepertimu hanya bisa memikirkan dirinya sendiri” ucapanku ini berhasil membuatnya berhenti tersenyum. Aku melihatnya berjalan mendekatiku.

 

Kali ini jaraknya denganku cukuplah dekat. “Apa aku juga harus tidur denganmu agar kau bisa kembali padaku?” ujarnya kemudian mulai menciumku. Aku masih terkejut dengan serangan yang tiba-tiba datang, tetapi akhirnya aku mulai mengimbangi ciumannya. Dan semakin lama, ciuman itu semakin memanas. Aku mendorong Yoona ke tempat tidurku, dia sempat terpekik karena terkejut, tapi aku segera melumat bibirnya. Tanganku segera menuruni tubuh Yoona, melewati leher, kemudian pinggang, dan sekarang tanganku mulai sampai di daerah pahanya. Dia hanya memakai kemejaku dan ini akan sangat mudah bagiku.

 

Ditengah ciuman, aku menyempatkan diri untuk membuka t-shirt putih yang aku gunakan. Kali ini tanganku masuk ke dalam kemejanya dan mulai melepas celana dalamnya. Saat itu, aku melihatnya menangis, dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. “Apa kau benar-benar menginginkan ini Oppa?”

 

Saat aku mendengar pertanyaan Yoona, aku ingin berhenti, tetapi disisi lain tentu saja aku masih seorang laki-laki yang menginginkan hal ini, bersama wanita yang aku cintai. “Hmm, kau hanya perlu menyuruhku berhenti jika kau tidak mau ini berlanjut” ucapku.

.

.

.

.

.

Semua berakhir, aku tidak mendengarnya menyuruhku berhenti. Kami tidur di atas satu tempat tidur, meskipun sekarang dia tidur membelakangiku, aku tidak bisa tidur setelah peristiwa yang baru saja terjadi, dan aku yakin, Yoona juga belum tidur.

 

Aku melihat Yoona tiba-tiba berdiri, berjalan dengan langkah yang seperti menahan rasa sakit di kakinya. Dia duduk di tepi jendela dan memandang kearah luar sana. Aku berdiri dan memakai kembali t-shirt putihku, berjalan kearah dapur, kemudian menyeduh teh. Aku berjalan kearah Yoona dan memberikan secangkir teh. Jika kebanyakan orang sangat menyukai kopi, maka aku dan Yoona adalah Tea addicted. Dia mengulurkan tanganya—menerima secangkir teh dariku. Aku memutuskan untuk duduk di sofa sambil sesekali melihat Yoona, tetapi Yoona tidak pernah melihatku, aku benar-benar ingin tahu apa yang dipikirkannya saat ini.

 

“Apa yang terjadi malam ini, tetap tidak akan mengubah keputusanku.” Kataku tiba-tiba, aku sendiri tidak mengerti dengan diriku, apa yang aku inginkan saat ini. Mungkin, saat ini aku ingin semua, karirku, hidupku, begitu juga dengan Yoona. Tetapi itu adalah hal yang mustahil jika aku mendapat semua yang aku inginkan tanpa harus melepas salah satunya. Dia tidak menoleh, dia tetap tidak memandangku. Mungkin saja jika dia memandangku saat itu, aku akan mengatakan hal yang lain. Tetapi kenyataannya, dia tidak memandang kearahku.

 

*******

Setelah memeriksa ayah Yoona, aku segera kembali ke ruanganku. Di dalam ruanganku sudah ada Ji Young yang sedang tidur-tiduran di sofa masih lengkap dengan jas putihnya sambil membaca majalah.

 

“Aku ingin merenovasi sebuah rumah, apa kau memiliki kenalan seorang arsitek?” tanyaku pada Ji Young sambil duduk dikursi kerjaku. Dia bangkit dan meletakkan majalah itu di meja. Dia berjalan kearahku, mengeluarkan dompetnya dan meletakkan sebuah kartu nama.

 

“Aku mengenalnya beberapa waktu lalu, tapi aku rasa perusahannya tidak begitu terkenal.” Jelas Ji Young.

 

Aku melirik sebuah nama yang tertera di kartu nama tersebut. Lee Seung Gi. Segera ku ambil no hp ku dan menghubunginya. Aku rasa aku tidak perlu perusahaan terkenal hanya untuk merenovasi sebuah rumah. Setelah menghubunginya, kami sepakat untuk bertemu sore ini di sebuah cafe.

.

.

.

.

Jam menunjukkan pukul 4.36 sore dan orang yang bernama Lee Seung Gi itu belum juga muncul, padahal kami sepakat bertemu pukul empat sore tepat. Aku menyesap teh hangatku yang sebentar lagi akan habis. Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki berambut hitam dengan kemeja putih memasuki cafe, dia berjalan ke arahku sambil menyuguhkan senyuman.

 

“Choi Seung Hyun?” ujarnya padaku, kemudian aku menganggukkan kepala. “Maafkan aku karena terlambat, ada beberapa urusan mendadak” lanjutnya sambil menyeret kursi dan duduk.

 

Aku hanya melihat tingkahnya tanpa berkata apapun, bagaimana bisa dia terlambat pada pertemuan pertama seperti ini. Hanya itulah yang aku pikirkan. Kemudian aku mengeluarkan beberapa kertas yang berisi letak topografi rumah yang akan aku renovasi. Dia menerimanya.

 

“Busan?” Tanyanya sambil tersenyum. Aku kembali menganggukkan kepala. “seorang rekan timku juga akan bergabung nantinya, dia seorang desain interior, apa kau tidak keberatan?” Tanyanya sambil melihat kearahku kemudian ke arah hp nya. Sesaat kemudian, seorang wanita memasuki cafe, berambut coklat panjang, memakai baju lengan panjang berwarna putih tulang dan celana jeans berwarna hitam. Seung Gi menoleh kearah wanita itu sambil melambaikan tangan, sementara aku mulai terkejut saat mengetahui dengan jelas siapa wanita itu. Wanita itu juga tampak terkejut.

 

“ini adalah wanita yang aku ceritakan tadi, namanya Im Yoona” ujarnya tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya diantara kami. Aku berdiri dan mengulurkan tanganku untuk menjabat tangannya, tetapi Yoona mengabaikan tanganku dan dengan terpaksa dia duduk di kursi yang berada di depanku, karena hanya ada dua kursi yang tersisa, di sampingku dan di depanku. Aku melihat Yoona terus diam, sedangkan aku berpura-pura tenang. “Dia memiliki sebuah rumah di Busan dan ingin merenovasinya” Jelas Seung Gi pada Yoona, dia melihatkan kertas yang aku berikan tadi pada Yoona, tetapi dia hanya diam dan sekilas melihat kertas itu.

 

“Kapan kau ingin kami mulai kerja? Mungkin besok kita bisa bertemu lagi untuk membicarakan desainnya.”

 

“Secepatnya, jika minggu depan kalian sudah bisa bekerja, aku tidak keberatan” kataku mencoba untuk tenang. Ini adalah pertemuan ke tiga ku dengan Yoona, entah menggapa aku merasa sepertinya Tuhan telah mengatur semua.

 

“Aku tidak bisa”

 

Aku dan Seung Gi menoleh ke arah sumber suara.

 

“Yoona-ah” Ujar Seung Gi yang sepertinya tak percaya dengan ucapan Yoona.

 

“Aku tidak bisa. Jika kau tetap ingin menerimanya, kau bisa tetap bekerja tanpa aku”Kata Yoona singkat kemudian pergi berjalan keluar cafe. Sementara seung gi terus memanggil nama Yoona hingga Yoona tak terlihat lagi dari dalam cafe.

 

“Maafkan dia, aku harap kau tidak mempermasalahkan persoalan yang baru saja terjadi. Dia memang keras seperti itu, aku akan bicara lagi dengannya” jelas Seung Gi padaku.

 

*

Yoona POV

 

Ya, bagaimana bisa kau berbicara seperti itu di depan client, lebih tepatnya ini pertemuan pertama kita dengan client” kata Seung Gi Oppa padaku. Busan? Pasti itu rumah seung hyun oppa yang ada di Busan. Aku tidak ingin kembali mengingat apa yang ada di sana.

 

“Aku tidak bisa Oppa” hanya itu kata-kata yang keluar dari mulutku, sementara tanganku sOmmak membuat beberapa sketsa di atas kertas. Lebih tepatnya berpura-pura sOmmak.

 

“Kenapa? Kau bilang, kau ingin aku mengajakmu jika ada proyek baru?”

 

“Tapi kali ini aku tidak bisa Oppa”

 

“Kenapa? Kau tidak menyebutkan alasannya” Seung Gi tetap bertanya. Tetapi saat itu aku di selamatkan dengan bunyi hpku.

 

“Iya ini saya, Im Yoona yang kemarin menghubungi anda” Ucapku pada seseorang di sebrang sana. Beberapa hari ini aku mencari siapa sekarang pemilik rumahku yang berada di Busan. Aku ingin membeli rumahku kembali, meskipun aku ingin melupakan masalaluku, setidaknya rumah itu adalah satu-satunya kenanganku, setidakknya ada sedikit kenangan indah disana. Tetapi mencari info tersebut tidaklah mudah, ini adalah orang ke enam yang sepertinya berhubungan dengan rumahku.

 

“beberapa bulan yang lalu aku menjualnya, karena aku sangat membutuhkan uang” ujar orang di sebrang sana.

 

“Kalau saya boleh tahu, siapa orang itu?” kataku, kemudian orang disebrang sana menyebutkan sebuah nama yang membuatku kerkejut. Dengan segera aku menemui Seung Gi Oppa dan meminta no hp si pemilik nama tersebut.

.

.

.

.

.

Aku menuang soju ke sebuah cangkir kecil di depanku sambil menunggu sosok itu. kemudian aku meminumnya. Menuangnya lagi, meminumnya lagi. Begitu seterusnya, hingga sesosok yang aku tunggu datang dan mengambil cangkir kecil dari tanganku. Tetapi aku tetap meminum soju itu melalui botol, sosok itu kembali mencegahku dengan menjauhkan botol soju itu dari mulutku.

 

“Kau membeli rumahku? Kenapa?” kataku tanpa berbasa-basi sambil menatapnya tajam. Dia juga menatapku, cukup lama kami saling menatap. “Ahjumma, bisakah aku menambah satu botol soju lagi?” teriakku untuk menghindari tatapannya. Aku kalah.

 

“Jadi kenapa kau membeli rumahku?” Tanyaku kembali karena sosok itu tidak menjawab pertanyaanku. Aku kembali menuang soju ke cangkir baru dan meminumnya. “Kau ingin mengejekku? Kau ingin merendahkanku?” aku tetap menceracau tanpa melihanya. Mataku fokus pada soju yang aku tuang ke cangkir kecil.

 

“Karena seseorang menjualnya padaku, apa aku perlu alasan lain?” Dia mulai angkat bicara. Mendengar suara berat itu membuatku merinding.

 

“Kenapa harus rumahku? Begitu banyak penjual rumah di korea ini kenapa kau membeli rumahku?” Ujarku tetap dengan menuang soju dan meminumnya hingga isinya kembali habis. “ahjumma, aku ingin menambah satu botol lagi”

“Berhentilah” ucapnya singkat saat aku berusaha menuangkan soju ke cangkir. Tangannya meraih botol soju itu, tetapi aku menepisnya.

 

“Bagaimana aku bisa berhenti, jika kau terus merusak hidupku!” teriakku sehingga aku yakin semua orang yang ada di warung ini menoleh kearahku. Tetapi aku tidak peduli, dan sepertinya dia juga tidak peduli karena dia tidak sekalipun menoleh ke sekeliling untuk melihat keadaan, dia hanya menatapku dalam diam.

 

“Kau tahu, bagaimana selama ini aku hidup?” kataku sambil melihat kearah meja, entah mengapa aku tidak berani menatapnya. “Aku hidup dalam kebencian, kesedihan, penyesalan..”

 

“DAN ITU SEMUA KARENAMU!” teriakku sekuat tenaga. Kemudian kutundukkan kepalaku diatas meja—Ya, aku menangis—aku tidak ingin dia melihatku menangis. Lama kemudian aku mengangkat wajahku, saat itu aku melihatnya—masih terdiam tanpa sepatah katapun. Aku memutuskan untuk pergi, bagaimanapun juga aku tidak bisa menghadapinya. ku ambil tasku dan merogoh beberapa lembar uang untuk membayar soju.

 

“Maafkan aku”Kata sosok di depanku membuatku berhenti bergerak. Suara berat dan pelan sedikit terdengar tulus di telingaku. Air mataku tiba-tiba mengalir kembali, aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa sebenarnya aku hidup dalam kebencian, aku membencinya tetapi aku juga mencintainya. Aku membenci ketika dia merusak hidupku, ketika dia membiarkan aku menderita, tetapi disisi lain aku masih mencintainya. Aku menghapus air mataku dan memberanikan diri menatapnya.

 

“Maaf?” kataku sambil menatapnya. Aku melihatnya yang juga menatapku. “Jika kau ingin meminta maaf seharusnya sejak dulu kau melakukannya” Air mataku kembali mengalir.

 

“Seharusnya kau meminta maaf saat aku datang terakhir kalinya dulu” aku berusaha menghapus setiap air mata yang jatuh, tetapi tidak bisa, air mata itu terus keluar dan membuatku malu karena tidak bisa menahannya, aku tidak suka terlihat lemah di depannya. Aku kembali menundukkan kepalaku diatas meja. “Seharusnya kau mencegahku, dan mengatakan maaf padaku saat itu. Seharusnya kau melakukannyaaa.” Kataku sambil terus menangis.

 

***********

Seung Hyun POV

 

Flash back

 

Aku masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Yoona beberapa hari yang lalu. Aku bahkan masih memikirkannya hingga saat ini. Hamil? Bukankah itu sebuah lelucon, kami hanya melakukan malam itu dan ini balasannya? Apa karena dia ingin menakut-nakutiku?. Aku meremas rambutku kemudian merebahkan kepalaku di kursi. Aku melihat hpku, entah mengapa tiba-tiba aku teringat pada eomma. Aku segera menekan beberapa angka untuk menghubunginya. Setelah beberapa menit, hanya terdengar nada sambung.

 

“Oppa, apa kau didalam? Aku masuk ya” Ujar suara dari luar pintu ruangku. Suara Bo Mi. Aku melihat Bo Mi memasuki ruanganku. Kemudian berjalan melihat beberapa buku dan mengambilnya. Kebiasaannya ketika keruanganku adalah membaca beberapa bukuku yang tersusun rapi di sebuah rak besar. Dia duduk di sofa dan mulai membaca buku itu. “Ah, ini bukumu saat kuliah? Kau masih menyimpannya?” tanya Bo Mi saat mengetahui buku yang dipilihnya secara random itu adalah buku bacaanku saat kuliah.

 

“Oh,” jawabku singkat, aku masih berusaha menelefon eomma, tetapi tetap tidak ada respon. Hanya terdengar nada sambung. Aku melihat Bo Mi membuka selembar-demi lembar buku itu.

 

“Oppa, apa kau sudah putus dengannya?” Tanyanya tanpa melihat kearahku, matanya tetap tertuju pada buku itu.

 

“iya, beberapa hari yang lalu” entah mengapa, sepertinya sangat berat bagiku saat mengucapkan kata-kata ini.

 

“Aku merasa bersalah dengan hubunganmu, tapi bagaimanapun juga aku tidak ingin kehilanganmu” katanya. Aku melihat Bo Mi membalik lembar kertas buku itu, saat itu dia menemukan selembar kertas. Dia memperlihatkannya kepadaku, ternyata itu adalah fotoku dan Yoona. Ah aku lupa, bahwa buku itu adalah hadiah dari Yoona pada ulang tahunku ke 23.

 

“Oppa, bolehkah aku meminta foto ini?” tanpa meminta persetujuan dariku, dia kemudian pergi meningalkan ruanganku. Aku juga tidak mengambil pusing soal foto itu, toh aku dan Yoona sudah putus. Yang membuatku cemas adalah eomma. Berulang kali aku menghubunginya, aku hanya mendengar nada sambung. Apakah eomma baik-baik saja? Mengapa dia tidak menjawab telefonku? Apa dia kehilangan hp nya? Begitu banyak pertanyaan yang muncul dibenakku.

 

Seusai dari Rumah sakit, aku memutuskan untuk pulang ke Busan, aku juga sudah lama tidak mengunjungi eomma, biasanya eomma yang datang ke Seoul untuk menemuiku. Sebelumnya aku juga membeli beberapa oleh-oleh, Hanwo—karena aku dan eomma dulu jarang sekali makan daging. Aku juga membelikannya beberapa baju dan hp baru. Mungkin saja hp yang pernah aku berikan dulu sudah rusak.

 

Tepat pukul 10 malam, aku sampai di rumah. Beberapa kali aku mengetuk pintu, tidak ada jawaban, saat itu aku sangat cemas. “Eomma, tolong bukakan pintu untukku” tetap tidak ada jawaban. Aku mencoba untuk membukanya, ternyata tidak dikunci. aku berjalan masuk dan melihat eomma sedang menonton tv. Saat itu aku benar-benar lega eomma baik-baik saja, tetapi aku juga merasa kesal, bagaimana bisa dia tidak membukakan pintu untukku.

 

“eomma, aku jauh-jauh dari Seoul, kenapa kau tidak menyambutku?” kataku. Aku duduk di meja yang berada didekatnya. Aku melihat eomma yang hanya menatap tv tanpa sedikitpun menoleh ke arahku. Ah mungkin saja itu acara tv yang paling dia sukai. Aku segera meletakkan beberapa oleh-oleh yang aku bawa dari Seoul. “aku membawa Hanwoo dan membelikanmu beberapa baju baru.” Aku meletakkan barang-barang itu diatas meja, “Aku juga membelikanmu hp baru” kataku tetapi tetap tidak ada respon darinya. Aku memutuskan untuk tidak mengganggunya, sepertinya eomma sedang memiliki sebuah masalah, aku berdiri dan berjalan menuju kamarku. Tetapi saat itu aku mendengar bunyi sesuatu—seperti suara hp yang jatuh—aku juga melihat kepingannya berhamburan di depanku. Aku menoleh dan melihat hp yang baru saja aku beli, hancur berkeping-keping.

 

“APA AKU MEMBESARKANMU UNTUK MENJADI SEPERTI INI?” teriak eomma, kali ini dia melempar baju-baju yang aku belikan untuknya ke arahku, beberapa mengenai wajahku.

 

“Apa kau tidak ingat seperti apa kehidupanmu dulu?” ujarnya sambil menangis. “Apa kau tidak ingat bagaimana sulitnya aku membesarkanmu sendiri dalam keadaan seperti ini?” lanjutnya sambil terus melempariku dengan barang-barang yang aku belikan tadi. Sementara aku tetap diam, aku tidak percaya omma akan bertindak seperti ini.

 

“Apa kau pikir dengan membelikanku barang-barang seperti ini akan membuatku bahagia? Apa kau juga bahagia setelah menyakiti hati seseorang?”

 

“Apa kau tidak ingat bagaimana teman-temanmu memanggilmu “anak Pela*ur” hanya karena ayahmu meninggal sebelum kau lahir?” kali ini omma berjalan mendekatiku dan memukulku dengan kedua tangannya. Aku merasa, air mataku mulai mengalir, tetapi aku membiarkannya dan tidak berusaha untuk mengusapnya.

 

“Apa kau tidak ingat ketika teman-temanmu memanggilmu “anak Pela*ur”, Yoona yang membuat mereka berhenti memanggilmu seperti itu.”

 

“Pergi! Pergilah!” eomma mendorong tubuhku. “Aku tidak akan pernah memaafkanmu sebelum Yoona memaafkanmu, pergilah!” aku tetap tidak bergerak.

 

“AKU BILANG, PERGILAH!” teriaknya, yang membuatku tersentak dan kemudian berjalan keluar rumah. Aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi malam ini. Ya, aku tahu, aku menyakiti perasaan ibuku, terlebih perasaan Yoona. Aku tahu, aku tidak pernah menginginkan hal ini terjadi padaku.

 

Banyak sekali hal yang telah aku lupakan, bagaimana aku bisa tumbuh besar seperti ini, tentu saja itu karena ibuku. Dan Yoona adalah orang yang membuatku bisa percaya akan masa depan. Bagaimana bisa aku melupakan semuanya. Aku ingin meminta maaf pada Yoona, meskipun aku tahu dia tidak bisa dengan mudah memaafkanku.

 

Malam itu, aku segera berlari dengan sekuat tenaga ke rumah Yoona. Tidak butuh waktu yang lama untuk sampai disana, sekitar 15 menit dari rumahku. Aku pikir jalanan semakin sepi, dan tentu saja, karena ini sudah begitu larut malam. Hanya ada mobil pick-up berwarna biru yang melewatiku sebelum aku sampai dirumah Yoona.

 

“Yoonaaa!” teriakku dari luar rumahnya. Aku berjalan mondar mandir—cemas—ketika tidak ada jawaban darinya.

 

“YOONNAA” teriakku lebih keras sambil menggedor-gedor pintu rumahnya. Aku bahkan berfikir akan mendobrak pintu itu jika dia tetap tidak membuka pintu. Tetapi pintu itu terbuka.

 

“Apa yang kau lakukan berteriak malam-malam begini?” ujar seorang wanita paruh baya padaku. Aku tidak mengenali wanita itu karena yang aku tahu, Yoona hanya tinggal bersama ibunya. Mungkin saja wanita ini bibinya yang baru saja mengunjunginya, ujarku dalam hati.

 

“Apa aku bisa bertemu dengan Yoona?” tanyaku pada wanita itu.

 

“Ah, Yoona?” ujarnya.

 

“Iya”

 

“Beberapa menit yang lalu dia baru saja pergi, td dia mengemasi barang-barang yang tersisa, apa kau tidak melihat mobil pick-up berwarna biru?” tanyanya kepadaku. “Dia baru saja menjual rumah ini padaku”

 

Tanpa mendengar penjelasan wanita itu lagi, aku segera berlari secepat mungkin ke arah dimana aku berpapasan dengan mobil pick-up itu, dan tentu saja aku sudah tidak bisa mengerjarnya. Tidak ada sedikitpun tanda mobil pick up itu. aku berhenti berlari. Dan saat itu aku tahu, bagaimana rasa menyesal dan kehilangannya.

 

********

Seung Hyun POV

 

Bukan karena kau tidak pernah merasa bersalah kerena selalu menyakitinya, membiarkannya hancur. Aku hanya terlambat beberapa menit, dan itu membuatku tidak pernah bisa mengatakan bahwa aku menyesal. Ya, saat itu aku tahu, bahwa karena kehilanggan beberapa menit akan membuat duniaku berubah. Karena beberapa menit itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengannya selama tiga tahun meskipun aku terus mencarinya. Dan saat aku bertemu dengannya, kata maaf itu sepertinya tidak akan berlaku lagi. Aku tahu, dan jika aku menjadi Yoona, aku pasti bersikap sepertinya.

 

Aku melihat Yoona yang telah tenang, dia sudah berhenti menangis. Aku hanya melihatnya dalam diam, mungkin baginya aku terlihat seperti seorang baji*gan karena terus berdiam tanpa berkata sedikitpun, bahkan sepatah katapun untuk membuatnya tenang. Aku sangat ingin melakukannya, tetapi aku tidak tahu bagaimana cara membuatnya tenang, jadi aku memilih untuk diam. Tiba-tiba terlintas di pikiranku tetang sebuah pertanyaan yang benar-benar ingin aku tanyakan padanya.

 

“Aku ingin bertanya sesuatu” kataku. Yoona menoleh untuk melihatku sekilas, kemudian membuang pandanganya kearah lain.

 

“Tentang anak itu, apakah kau benar-benar melakukan aborsi?”

 

“Anak itu?” Yoona melihat kearahku kemudian tersenyum, sama seperti dulu, aku tidak pernah tahu apa arti senyum itu.

 

“Ya, aku melakukan aborsi”

 

TBC