cover

Author      : Ame Sora

Tittle       : I’ll Kiss The Rain

Main cast: Im Yoona (GG), Choi Seung Hyun (TOP Bigbang)

Genre     : Meloromance (maybe), Romance

Rating : PG

***

Flash Back

Yoona POV

 

“APA?” tanya Yuri, entah itu pertanyaan atau sebuah jeritan. aku meminum air yang disuguhkan Yuri padaku. “Bagaimana bisa kau menjual rumahmu?”Aku hanya terdiam, kemudian Yuri mendekatiku dan mengguncang tubuhku, memintaku menjelaskan, setidaknya agar dia mengerti, mengapa aku menjual rumahku. tetapi aku tetap tidak mengatakan sesuatu. Yuri berdiri, dan memutar-mutar tubuhnya, berfikir.

 

“Yoona-ah, aku tidak tau apa yang terjadi padamu, tetapi menjual rumahmu, satu-satunya harta yang ditinggalkan oleh orang tuamu bukanlah langkah yang baik.” Ujarnya.

 

“Maafkan aku. Aku mohon, biarkan aku tinggal disini sementara waktu. Aku janji, hanya sementara waktu.” Kataku. Ya, kedatanganku pasti akan merepotkan baginya.

 

“Bukan itu masalahnya, kau bahkan bisa tinggal disini selama mungkin. Aku hanya tidak mengerti mengapa kau menjual rumahmu, itu saja.”

 

“Aku membutuhkan uang itu.” Jawabku singkat. Saat menjual rumah itu, hal yang aku pikirkan adalah uang. Aku hidup sendiri dan sekarang ada sesuatu yang sedang tumbuh di dalam rahimku. Banyak kecemasan yang melanda pikiranku.

 

“Tidak.” Yuri menggelengkan kepalanya. “Aku tidak percaya jika itu adalah alasanmu, kau pasti memiliki alasan yang lain.”

 

Aku terdiam.

 

“Jika karena uang, kau bisa meminjam padaku, aku tidak memiliki banyak, tetapi setidaknya aku bisa membantumu. Selain itu, kau punya seung hyun oppa, kenapa kau tidak meminjam darinya?” tanya Yuri seperti sedang mengintrogasiku. “Apa seung hyun oppa tahu masalah ini?” tanyanya lagi. Aku tetap terdiam.

 

“Pasti terjadi sesuatu diantara kalian.” Yuri menganggukan kepalanya. Aku berusaha menghindari tatapan mata Yuri.

 

“Baiklah, kau bisa tidur di kamarku, aku akan keluar membeli sesuatu.” Katanya. Aku melihat Yuri mengambil dompet dari tasnya.

 

“Aku mohon, jangan katakan sesuatu pada Seung hyun oppa jika dia menghubungimu”

 

Dia tersenyum, kemudian menghilang dari balik pintu. Maafkan aku Yuri, aku akan sangat berterimakasih padamu. Aku berusaha mengambil segelas air putih yang disuguhkan Yuri padaku. Tetapi saat mengambil gelas itu, entah mengapa tanganku bergetar, mungkin karena ada rasa takut dan cemas di hatiku, sementara air mataku kembali mengucur. Ya, aku belum bisa menerima semua kenyataan ini, kenyataan yang menimpaku. Sampai kapanpun, jika airmataku masih ada, aku pikir aku akan terus menangis.

 

Sesaat kemudian, Yuri datang membawa sebuah kantong plastik besar dan meletakkannya di depanku. Aku segera mengusap air mataku agar Yuri tidak mengetahuinya. Dia mengeluarkan beberapa kaleng minuman beralkohol dan memberikannya padaku. Aku menggelengkan kepala.

 

“Kenapa? Apa kau sekarang berhenti minum?” tanyanya sambil duduk di kursi.

 

“Tidak, aku hanya sedang tidak ingin minum.” Kataku mengelak, tentu saja karena aku sedang melindungi sesuatu yang sedang tumbuh di rahimku. Jika Yuri tahu tentang ini, aku yakin dia akan melakukan sesuatu di luar rencanaku. Seperti menghubungi Seung hyun oppa, atau yang lainnya. Saat ini, aku ingin melupakan semua.

 

“Hm, baiklah. Jadi, apa kau tidak ingin bercerita tentang masalahmu?” Yuri membuka kaleng minumannya, kemudian meminumnya. “Apa yang terjadi padamu dengan Seung hyun oppa?”

 

Aku diam. Aku merasa mataku kembali berkaca-kaca.

 

“Yoona-ah.” Kata Yuri sambil memegang tanganku”

 

“Aku hanya ingin memulai semua dari awal, tanpa Seung hyun.”

 

“Apa kalian benar-benar sudah berakhir?” tanya Yuri. Aku menganggukan kepala dan saat itu, airmata yang aku tahan agar tidak tumpah, akhirnya mengair dengan derasnya.

 

“Aku tahu. Semua pasti berat bagimu. Kalian bersama sangat lama, bahkan aku tidak percaya kalian akan berpisah.” Akhirnya malam itu berakhir dengan aku yang menangis, sedangkan Yuri menenangkanku. Sebenarnya, aku tidak suka dengan diriku yang seperti ini. Lemah. Aku berusaha agar menjadi kuat, tetapi itu tidak mudah. Aku butuh banyak tenaga untuk melawan kesedihan itu, dan jika aku mengeluarkan banyak tenaga, lambat laun aku akan merasakan lelah.

 

Keesokan harinya setelah Yuri meninggalkan rumah untuk berangkat kerja, aku mengeluarkan beberapa lembar kertas dan mencoba mendesign proyek terakhir yang aku ikuti di kantor lamaku. Aku sudah mengirimkan surat resign sebelum memutuskan untuk pindah ke rumah Yuri dan aku berencana tetap menyelesaikan proyek terakhirku. Aku mencari beberapa pensil yang aku butuhkan di tas, saat itu, aku menemukan hp ku yang sejak dua hari lalu aku matikan. Sebenarnya aku ragu untuk menyalakan kembali, tetapi siapa tahu ada sesuatu yang penting. Saat hp itu menyala, banyak sms yang masuk dan semua dari seung hyun, aku segera meletakkan hp ku kembali tanpa berani membaca sms itu satu persatu. Lagi-lagi air mataku kembali mengalir. Aku berusaha melupakan kejadian ttg ibuku, seung hyun, tetapi tidak bisa begitu mudah ku hapus dari ingatanku. Aku mengambil kertas dan kembali membuat beberapa sketsa di kertas, tetapi pikiranku berada pada saat dimana aku merasa ‘sakit’.

 

Aku merasa perutku tiba-tiba sakit, tetapi aku hanya menahannya. Mungkin saja ini sakit perut biasa, karena makanku tidak teratur. Aku terus membuat beberapa sketsa sambil memegang perutku yang semakin lama semakin sakit. aku mendengar hpku berbunyi. Aku melihat siapa yang menelefonku, ternyata manajer di kantorku.

 

YA. Kau pikir siapa dirimu?” teriaknya membuat perutku semakin sakit. “Apa kau pikir bisa seenaknya saja datang dan pergi dari kantorku?”

 

“Maafkan aku, aku akan menyelesaikan proyek yang terakhir dan mengirimkannya melalui email. Maafkan aku” ujarku sambil memegangi perutku. Kini aku merasa perutku seperti ditusuk-tusuk menggunakan pisau tajam. Aku berjalan untuk mengambil botol obat penahan rasa nyeri yang berada di tasku. Aku benar-benar tidak bisa menahannya.

 

“Baiklah, kirimkan semua, tetapi aku tidak akan memberikan fee nya padamu.” Dia menutup telfonnya, tetapi aku tidak peduli. Rasa sakit di perutku benar-benar membuatku tidak bisa bernafas dengan baik. Aku merasa keringat dingin menjalar di tubuhku. Aku berjalan jongkok—sambil memegangi perutku—menuju dapur dan menuang segelas air. Aku membuka tutup botol obat dan begitu saja mengeluarkan isinya ke tanganku, aku merasa nafasku tidak lagi teratur kepalaku sangat berat. Segera ku minum obat itu dan mengambil segelas air, tetapi saat mengangkat gelas itu, tiba-tiba tubuhku melemah, aku bahkan tidak kuat mengangkat gelas hingga gelas itu jatuh di lantai menjadi berkeping-keping dan saat itu tubuhku jatuh ke lantai.

 

Aku merasa dunia tiba-tiba menjadi gelap.

.

.

.

.

Saat aku membuka mata, aku dapat mencium bau yang sangat khas, bau rumah sakit. dengan pandangan yang masih tidak begitu jelas, aku melihat Yuri menangis disampingku.

 

“Yuri-ah” kataku lemah. Aku merasakan rasa sakit di daerah perutku. Yuri menoleh kearahku.

 

“Kau sudah sadar?” dia memegang tanganku dengan air matanya yang mengalir.

 

“Yuri-ah, aku merasa perutku sangat sakit.” aku menggeser tanganku ke arah perutku. Yuri hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, dan mencegah tangaku untuk bergerak. Dia kembali menangis.

 

“Yoona-ah… kau baru saja kehilangannya, bayi itu” kata Yuri. Mendengar kata-kata itu, aku merasa tidak percaya.

 

“Bohong.” Kataku pelan. Aku mulai menangis.

 

“BOHOOONG, kau pasti berbohong padaku” teriakku sambil melempar semua yang ada di dekatku. Airmataku mengucur deras.

 

“Yuri-ah, panggilkan dokter itu, dia pasti salah” kataku memohon pada Yuri sambil menarik bajunya. Yuri tidak bergerak. Tanpa pikir panjang, aku segera melepas saluran infus yang berada di tanganku, tetapi Yuri mencegahku. Dia memelukku dan menangis di pundakku.

 

“Yoona-ah, aku tahu, kau pasti sangat terpukul dengan kejadian ini.” Ujarnya memelukku erat. Aku menangis dengan suara keras.

 

“Bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku, Yuri-ah” kataku sambil menangis dan juga memeluk Yuri erat.

 

Lama kemudian, aku dan Yuri berhenti menangis. Dia duduk di kursi yang terletak tak jauh dari tempat tidurku. Kami sama-sama terdiam, aku menatap kosong ke arah luar jendela. Di luar sana sedang gerimis dan membuat jalan sedikit basah.

 

“Apa Seung hyun oppa juga tidak tahu masalah ini? Apa kau ingin aku yang memberi tahunya?” Yuri membuka pembicaraan.

 

“Dia tahu” ucapku singkat. Mendengar namanya terucap saja membuat hatiku seperti terkoyak. Rusak.

 

“Lalu apa dia hanya diam dan membiarkanmu seperti ini?” kata Yuri sambil berdiri dan mengeluarkan ponselnya. Aku menoleh ke arahnya.

 

“Apa yang kau lakukan?” teriakku saat melihat Yuri menekan sebuah nomor di hpnya.

 

“Aku akan mengatakan padanya betapa menderitanya kau karena dia” kata Yuri.

 

“Aku mohon padamu Yuri, aku tidak ingin bertemu dengannya. Itu membuatku sakit” aku menangis sambil menutup mukaku dengan kedua tanganku. Aku merasakan Yuri memelukku dan kembali menangis.

.

.

.

.

Aku tidak tahu mengapa Tuhan mengambil semua dariku. Omma, Seung hyun, dan sekarang bayi itu, bayi yang bahkan belum pernah bisa melihat dunia. Aku melihat kearah luar jendela, tadinya gerimis telah menjadi hujan lebat. Yuri berpamitan padaku untuk mengambil beberapa bajuku dan bajunya di rumah. Saat itu, seseorang mengetuk pintu ruang inapku. Aku hanya menoleh tanpa menjawabnya, kemudian menatap kembali ke luar jendela. Aku merasa seseorang itu masuk, perlahan berjalan ke arahku. Aku menoleh. Ibu Seung hyun. Pasti Yuri memberi tahu wanita ini.

 

Dia duduk di sampingku dengan air mata yang telah mengucur, kemudian memegang kedua tanganku. “Yoona-ah… Aigooo… Yoona-ah…” katanya sambil menangis.

 

Entah mengapa, tidak sedikitpun aku tertarik untuk menoleh ke arahnya. Aku malah membuang pandanganku ke arah luar jendela.

 

“Yoona-ah, aku mohon, maafkan Seung hyun. Aku mohon.” Ucapnya memohon. Mendengar nama itu di sebut, tiba-tiba membuatku marah, rasa sakit itu kembali menusuk hatiku. Aku segera menarik tanganku yang di genggam oleh tangan ibu Seung hyun dan menoleh ke arahnya. Dia tampak terkejut dengan perlakuanku.

 

“Jangan bersikap baik padaku” aku menatapnya tajam. Ya, ini hanya sebagian refleks dari tubuhku karena merespon semua orang yang berhubungan dengan Seung hyun.

 

“Aku ingin sendiri” kataku, aku dapat melihat ibu seung hyun menangis sambil keluar dari ruang inapku, sebenarnya sikapku ini juga membuatku ingin menangis. Tetapi aku merasa, air mataku telah kering. Aku lelah. Aku lelah menangis.

 

***

 

“Aku ingin bertanya sesuatu”

Aku mendengar suara berat Seung hyun yang berhasil membuatku menoleh kearahnya, tetapi hanya sesaat sebelum aku kembali membuang pandanganku.

 

“Tentang anak itu, apakah kau benar-benar melakukan aborsi?”

Pertanyaannya membuatku kembali mengingat saat itu. Ya, saat aku sedang ingin mempertahankanya, tetapi aku malah kehilangannya. Bagaimana kau hanya bisa mengucapkan kata maaf padaku?

“Anak itu?” kataku sambil tersenyum. aku sangat membencinya, laki-laki di depanku ini, aku benar-benar sangat membencinya. “Ya, aku melakukan aborsi” lanjutku, aku melihat raut mukanya berubah. Raut muka kecewa.

“Kenapa? Bukankah dulu kau tidak menginginkanya?” tanyaku sambil menuliskan sebuah sms di hpku.

“Dulu kita masih sangat muda. Dan aku belum siap dengan segalanya.”

“Lalu apa kau pikir aku bodoh, mau merawat seorang anak itu sendirian?” kataku dengan nada sedikit tinggi.

“Lalu bagaimana bisa kau membunuhnya?” balasnya. Mendengar ucapan itu, hatiku terasa sakit. Dia tidak tahu apapun tentangku.

“Apa sekarang kau menyalahkanku? Bukankah aborsi adalah keinginanmu?” kata-kataku mulai meninggi.

“Sudahlah. Cukup” kata Seung hyun kemudian berdiri dan berjalan ke arahku. dia menarik lenganku agar aku berdiri. “Aku akan mengantarmu pulang”

Aku menepis tangannya. “Kau tidak perlu repot-repot membuang waktumu untukku” kataku sambil berjalan keluar warung dan berdiri di tepi jalan. Dia kembali menarik lenganku dan menyeretku ke arah mobilnya.

“Lepaskan!” aku kembali menepis tangan seunghyun. “Aku bilang, kau tidak perlu bersikap seperti ini padaku” aku melihat mobil berwarna hitam menepi, tak jauh dari tempatku dan seung hyun berdiri. Mobil Seung gi. Saat melihat seung gi keluar dari mobilnya, Seung hyun melepas tanganku.

“Hai” sapa Seung gi pada Seung hyun dengan senyum diwajahnya. Aku yakin, sebenarnya di kepalanya banyak pertanyaan, seperti bagaimana bisa aku dan seung hyun berduaan disini, apa aku mengenalnya atau tidak. Tanpa banyak bicara aku segera berjalan ke arah mobil seung gi dan melihat mereka dari kejauhan. Sepertinya mereka tampak kikuk dan tidak banyak bicara, hingga aku melihat seung gi kembali ke mobil.

Di mobil, seung gi langsung menyalakan mobil tanpa berkata sedikitpun. Sementara aku melihat seung hyun dari kaca spion yang masih menatap mobil ini hingga mobil ini menjauh.

“Kau tidak ingin bertanya apapun padaku?” tanyaku pada seung gi yang serius memandang ke depan.

“Tidak.” Ucapnya singkat sambil tersenyum.

“Kenapa?”

“karena aku tahu, dia bukan lawanku” Seung gi tetap menatap kedepan sambil tersenyum. sementara aku tidak mengerti arti ucapannya, tetapi aku juga tidak tertarik bertanya lebih lanjut.

***

Hari ini, aku dan beberapa karyawan di kantor sedang mengikuti sebuah pameran dengan tema City of Tomorrow, berkenaan dengan hunian, mulai dari bidang arsitek, interior, hingga apartemen dan perumahan. Perusahaanku memamerkan sedikit hasil design interior kami, sementara Seung gi dan tim lain sedang mempresentasikan design mereka di sebuah gedung utama. Aku menyebarkan beberapa brosur pada pengunjung yang mengunjungi pameran ini. Saat itu, aku melihat seorang wanita menggunakan mengenakan gaun berwarna biru tua berjalan mendekat kearahku. Spontan aku segera membalikkan badan, tetapi aku merasa seseorang memegang bahuku.

“Yoona-ssi?” ucapnya kemudian aku membalikan badan. Wanita itu masih tetap cantik seperti dulu. Rambutnya yang hitam panjang membuatnya semakin cantik. Tetapi yang mengusik perhatianku adalah perutnya yang membuncit, dia sedang mengandung seorang anak, mungkin memasuki bulan ke empat atau ke limanya. Pasti anak kalian, kau dan Seung hyun. Aku tersenyum. dia mengulurkan tangannya padaku, lama kemudian aku menyambut uluran tangan tersebut.

“Wah, kebetulan sekali yah, Sejak dulu aku benar-benar ingin bertemu denganmu..” Katanya sambil tersenyum dan melihat ke arahku yg sedang memegang beberapa brosur. Aku hanya tersenyum, tidak tahu harus berkata apa.

“Apa semua itu designmu?” diberjalan ke arah Stan kami.

“Tidak.” jawabku singkat, aku benar-benar tidak tahu harus bersikap apa, marah? Kesal? Sakit hati?

“Yoona-ssi, bisakah kita berbicara sebentar?”

“Aku sedang bekerja.” Aku mengucapkan alasan yang semoga dia bisa menerimanya, kerena aku yakin, dia akan membicarakan tentang masa lalu kami.

“Ajusshi, bisakah aku meminjam Yoona sebentar?” katanya pada manajerku.

“Oke” balas manajerku sambil mengeluarkan kedua jempol di tangannya.

Aku dan wanita ini berjalan dan berhenti di sebuah cafe. Aku memesan Bubble Tea, sementara Wanita itu memesan Jus Melon.

“Kau juga Tea-addicted?” tanyanya. aku mendengarnya, tetapi arah pandangnku terlalu fokus ke perutnya yang membuncit. Ada rasa sakit hati yang tiba-tiba muncul di hatiku.

“Ah, ini?”ujarnya kemudian mengelus perutnya. “ini memasuki bulan kelima. Dokter bilang, dia perempuan.” Katanya sambil tersenyum, mau tidak mau aku ikut tersenyum.

Kami terdiam lama, tidak ada pembicaraan lagi, kecuali suaraku menyedot bubble tea-ku seperti anak kecil. Aku melihatnya tersenyum dan membuka tasnya. Dia mengeluarkan sebuah foto dan meletakkannya di depanku. Fotoku dan Seunghyun saat ulang tahunnya ke-23. Aku hanya memandang foto itu tanpa berani menyentuhnya.

“Sebenarnya, aku sangat ingin sekali bertemu denganmu dan meminta maaf.”

Aku menatapnya dan memicingkan mata. “Untuk apa?”

“Untuk semua. Aku berterimakasih karena Tuhan mempertemukanku denganmu”

Aku tersenyum dengan sedikit jengkel, bukankah mereka sama saja? Seunghyun oppa dan wanita ini? Datang untuk meminta maaf. Baru kali ini aku membenci kata-kata maaf. Aku mengambil bubble tea-ku dan meminumnya.

“Aku tahu kau membenciku. Tetapi kau tidak perlu membenci Seung hyun?”

“Kau pasti bahagia hidup bersamanya.”kataku memberanikan diri memasuki pembahasan yang sebenarnya sangat sensitif bagiku.

“Siapa? Seung hyun?” dia mengerutkan keningnya. “Kau belum tahu hingga saat ini?” tanyanya yang juga membuatku mengerutkan kening. Wanita itu mengehembuskan nafas panjang.

“Dia tidak datang. Saat pertunangan kami, dia tidak datang. Sebelumnya, dia memang sudah mengatakan ingin membatalkannya, tetapi aku tidak peduli dan tetap melakukan pertunangan itu. pada akhirnya dia tidak datang.” Jelasnya panjang lebar.

“Saat itu, aku benar-benar sakit hati. Tetapi saat itu juga aku merasakan bagaimana perasaanmu. Karena itu aku membiarkannya pergi dariku. Akhir tahun kemarin, aku menikah dengan seorang yang telah di jodohkan oleh orang tuaku.”

“Beberapa waktu yang lalu, aku bertemu dengan Seung hyun. Dia tidak bercerita apapun tentangmu. Karena itu aku menduga bahwa kalian tidak bersama kembali” katanya kemudian meraih tanganku yang berada di atas meja. “Aku mohon, kembalilah. Aku akan di hantui rasa bersalah jika kalian tidak bisa kembali.”

Aku menarik tanganku. Kemudian berdiri. wanita itu juga berdiri.

Seorang laki-laki memakai setelan jas mendekati kami. “Nona, mari kita pergi, tuan Lee telah menunggu anda di mobil”

Wanita itu berjalan mendekatiku kemudian memegang tanganku, “Aku mohon, kembalilah pada Seung hyun dan hidup bahagialah bersamanya.” Katanya kemudian pergi meninggalkanku. Saat ini perasaanku benar-benar bercampur aduk. Aku melirik foto yang di berikan Bom padaku, dan mengambilnya. Di foto itu, aku sedang membawa sebuah kue kecil dengan lilin bertuliskan angka 23 di atas kue itu. sementara Seung hyun merangkulku. Kami sama-sama tersenyum.

***

Seung hyun POV

Aku keluar dari ruang oprasi dengan keadaan cemas dan tidak tahu apakah aku bisa menyelamatkannya atau tidak. Kemarin malam, aku mendapat informasi bahwa Ayah Yoona tiba-tiba mengalami kritis. Aku segera pergi ke rumah sakit dan membicarakannya dengan tim dokter. Keluar dari ruang oprasi, aku melihat ibu Yoona duduk di ruang tunggu sambil memejamkan matanya, berdoa. Saat melihatku keluar, dia segera berjalan ke arahku.

“Bagaimana ke adaannya?” tanya wanita itu. aku berusaha tersenyum.

“Dia pasti akan baik-baik saja.” Ucapku. “Apa Yoona tetap tidak datang juga?”

Wanita itu menggelengkan kepala, kemudian tertunduk sedih. “Dia sangat membenciku. Karena itu, dia tidak akan pernah ke sini. Padahal, Ayahnya sangat ingin bertemu dengannya.”

Aku mengepalkan tanganku. Dasar keras kepala, rutukku pada Yoona. Setelah berpamitan pada ibu Yoona, di ruanganku aku mencoba menghubunginya. Hanya ada nada sambung, dia pasti sengaja tidak mengangkat telfonku. Aku mengambil kunci mobil dan segera menuju kantor Yoona.

“Maaf, bisakah aku bertemu dengan Im Yoona?” tanyaku pada—seorang yang sepertinya juga bekerja di kantor Yoona—begitu sampai di kantor Yoona. Aku menunggunya di ruang tunggu, dan beberapa saat kemudian aku melihat Yoona dari ruangannya. Saat melihatku menunggunya, dia langsng berbalik arah, tetapi dengan segera aku menahan lengannya.

“Ayahmu sedang kritis. Ayo ikut bersamaku ke rumah sakit.” aku berusaha menggandeng tangannya, tetapi dia menepisnya.

“kau pikir kau siapa?”katanya tajam.

“Berhentilah bersikap keras kepala. Kau boleh tidak memaafkanku, tapi maafkanlah Ayahmu.” Aku kembali meraih tangannya, lagi-lagi dia menepisnya. Aku terpaksa menggunakan cara kasar. Aku memegang erat tangannya dan menyeretnya keluar, banyak dari rekan Yoona yang melihatnya tetapi aku tidak peduli. Yoona terus meronta untuk melepaskan diri, aku semakin menguatkan pegangan tanganku.

“Apa kau sengaja ingin mempermalukanku di depan umum?” tanya Yoona. “Lepaskan tanganku!” teriaknya. Aku melepaskan tangannya ketika kami telah berada di luar gedung kantornya.

“Kau harus menemui Ayahmu” kataku, tetapi Yoona hanya tersenyum menyeringai.

“Aku tidak peduli padanya.”

Aku terdiam.

“Apa kau benar-benar membenci Ayahmu sendiri? Apa kau tidak bisa memaafkannya?” tanyaku

“Tidak.”

“Apa kau bahagia hidup dalam perasaan seperti itu? cobalah memaafkannya, hidupmu akan jauh lebih ringan”

“Tahu apa kau tentang memaafkan?” teriaknya sambil menangis. “Apa jika kau menjadi aku, kau akan bisa dengan mudah memaafkan semua orang yang menyakitimu?” tanyanya. aku melihat sekeliling, pandangan semua orang tertuju padaku dan Yoona.

“Aku tahu….

Yoona berjongkok dan menutup mukanya dengan kedua tanganya. Dia tidak ingin semua orang melihatnya menangis.

“Karena itu, aku masih bisa meminta maaf padamu, jika kau tidak memaafkanku, aku akan meminta maaf sampai kau memaafkanku. Tapi Ayahmu, mungkin ini adalah kesempatan terakhirnya. Biarkan dia meminta maaf padamu.” Kali ini Yoona menutup kedua telinganya. Aku menghela nafas panjang dan membuangnya.

“Baiklah, aku hanya tidak ingin kau menyesal” kataku mengakhiri semua dan berjalan menuju mobil.

***

Yoona POV.

Aku mencoret-coret kertas putih di depanku dengan pensil. Aku masih menagis karena kejadian tadi. Aku tahu, hidup dengan perasaan seperti ini tidaklah mudah, perasaan benci dan dendam. Tetapi entah mengapa aku tidak bisa memaafkan mereka dengan mudah. Mungkin karena aku terlalu serius merawat luka di hatiku tanpa pernah mengobatinya. Aku ingat ketika omma sedang dirawat di rumah sakit, dia berkata padaku.

“jangan membenci Ayah-mu. Omma tidak pernah sekalipun membencinya. Omma sudah memaafkannya, karena itu, maafkan Ayah-mu.” Saat itu aku hanya seorang anak kecil yang tidak faham tentang apapun—yang aku tahu hanya cara menumpuk rasa sakit itu dan aku merasa Omma hanya ingin menghiburku.

Sebuah sms masuk ke hp. Dari seung hyun.

Ayah-mu sudah meninggal

Deg.

Seketika, jantung ini berhenti berdetak. Aku merasakan air mataku mulai mengalir, dengan segera ku hapus air mataku dan mengambil tas, kemudian pergi. Ya, aku memutuskan akan mengatakan kata perpisahan untuk Ayahku.

***

Seung hyun POV

Aku memasuki sebuah ruang pemakaman, kemudian meletakkan setangkai bunga di depan foto Ayah Yoona dan berdoa. Aku melihat Ibu Yoona menangis sambil memegang erat bajunya, aku berjalan ke arahnya dan memegang pundaknya tanpa berkata apapun, aku tidak tahu apa lagi yang harus aku katakan padanya. Aku mengedarkan pandangan untuk mencari sosok Yoona. Apakah dia benar-benar tidak datang ke pemakaman Ayahnya?

Aku berjalan meninggalkan ruangan itu, tetapi berhenti ketika aku melihat Yoona di ruangan lain. Dia terdiam dan melamun, memandangi makanan yang berada di depannya, tangan kanannya memegang sebuah cangkir kecil, kemudian meminumnya. Dia memakai baju berwarna hitam, sama seperti orang-orang yang berada disana. Disampingnya, Yuri—teman masa SMA nya—sedang sibuk menenangkan Yoona. Aku mendekat dan duduk di depan mrk.

Dia hanya melirikku sekilas, sementara Yuri menatapku tajam. “Bukankah kau bilang akan bertanggung jawab atas Ayahku?” tanya Yoona ketus. Aku tertawa tidak percaya atas perkataan Yoona.

“Apa sekarang kau menyalahkanku?”

“bukankah kau seorang dokter? Mengapa kau tidak bisa menyembuhkan Ayahku?”

“Apa jika aku seorang dokter, berarti aku bisa melawan takdir Ayahmu?”

Yoona tidak menjawab, kemudian dia berdiri dan keluar dari ruangan ini. Aku mengambil cangkir kecil dan menuangkan minuman ke cangkir itu. Yuri hanya menatap benci ke arahku.

“Sejak kapan kau bertemu lagi dengan Yoona?” tanya Yuri ketus hampir sama seperti Yoona.

“Sejak Ayahnya di rawat di Rumah sakit.”

Aku mendengar Yuri membuang nafas panjangnya. “Yoona terlalu menderita. Aku tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian. Aku hanya tahu apa yang terjadi pada Yoona saat dia tinggal beberapa bulan di rumahku dan kehilangan anaknya karena keguguran. Jika aku jadi Yoona, aku pasti akan bunuh diri”

Aku terbelalak kaget. “Apa katamu? Keguguran?” tanyaku, Yuri menutup mulutnya dengan tanganya.

“Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi” tanyaku dengan nada yang agak tinggi sehingga beberapa orang melihat ke arahku dan Yuri.

“Ya, ya, ya… bisakah kau menurunkan nada bicaramu?” ucapnya berbisik.

“Cepat katakan”

“Iya, Yoona kehilangan anaknya. Aku memberi tahu ibumu, apakah ibumu tidak memberi tahumu?”

Aku mengepalkan tanganku. Omma mengetahuinya? Tentu saja Omma tidak memberi tahuku karena saat itu dia sedang marah padaku. Aku berdiri dan mencari Yoona. Aku menemukanya sedang duduk di luar, di sebuah kursi panjang. Aku duduk di sampingnya, aku tahu dia pasti akan segera berdiri karena aku duduk di sampingnya, tetapi dia tidak melakukan itu. Dia tetap duduk.

Aku dan Yoona tetap diam. Tak ada katapun yang terucap dari mulutku atau mulutnya. Dia memandangi ke dua sepatunya sedangkan aku melihat ke arah mobil yang baru saja datang. Mobil seung gi. Yoona melihatnya sekilas tetapi tidak segera berdiri dan menyusul Seung gi.

“Aku tahu, kau pasti ingin menertawakanku.”kata Yoona. Aku tidak mengerti apa maksudnya, tetapi aku juga tidak bertanya. “Seung gi berulang kali melamarku, tetapi aku tidak pernah menjawabnya, meskipun sekedar mengatakan iya atau tidak”

“Tapi setelah bertemu denganmu beberapa waktu lalu, aku berencana untuk menerimanya”

Kali ini, kata-kata Yoona membuatku menoleh ke arahnya. Saat itu Yoona juga menoleh ke arahku. kami sempat saling bertukar pandangan, hingga Yoona kembali membuang pandangannya. Setelah kata-kata Yoona yang terakhir, kami kembali terdiam.

“Yuri menceritakannya padaku.”kataku berhati-hati. Ini adalah luka lamanya, juga luka lamaku. Yoona menoleh.

“Apa kau benar-benar tidak ingin memperkenalkan aku padanya?” lanjutku. Yoona hanya menatapku.

***

Yoona POV

“Namanya Im Siwan?” kata Seung hyun padaku seusai kami bersama-sama mengunjungi dimana tempat ‘anakku’ dimakamkan.

“Kenapa?” tanyaku. “Aku menggunakan nama keluargaku. Lagi pula, saat itu kau tidak menginginkannya kan?”

Seung hyun hanya terdiam. Lebih tepatnya, kami berjalan dalam diam.

“Apa kau benar-benar tidak bisa memaafkanku?” tanyanya tiba-tiba.

“Tidak untuk sekarang, tetapi lambat laun, aku pasti bisa memaafkanmu.” Kataku.

“Mungkin kau benar, jika aku mudah memaafkan, hidupku akan jauh lebih ringan, tetapi banyak hal yang membuatku tidak bisa mendengar kata maaf.”

Seung hyun hanya diam, sementara aku menikmati saat aku dan seung hyun berjalan beriringan seperti ini. Mungkin ini adalah pertamakalinya sejak sekian lama.

“Aku akan pergi ke Boston” ucapku. Seung hyun menoleh ke arahku. “Aku di terima beasiswa disana. Aku akan pergi bersama Seung gi.”

Dia hanya diam. Lama kemudian, aku mendengar suaranya.

“Apa kau yakin bahagia bersamanya” ucap Seung hyun dengan suaranya yang berat.

“Aku tidak yakin, tetapi aku juga tidak ingin bersama denganmu lagi.” Kataku sambil menatap ke arahnya. Seung hyun menatapku lama kemudian membuang pandangannya ke jalan diamana kaki kami melangkah.

“Baiklah, aku harap kau bahagia bersamanya.” Katanya saat aku sudah berada di depan mobilku.

“Terimakasih” balasku kemudian memasuki mobilku. Tetapi sebelum aku memasuki mobilku, dia meraih tanganku dan memberikan sebuah kunci di telapak tanganku. Kunci rumahku yang di beli olehnya. Tanpa mengatakan apapun aku segera memasuki mobilku. Aku melihat Seung hyun yang tetap memandang ke arah mobilku.

Aku sekarang tahu, mengapa Tuhan mengambil semua yang aku miliki, Omma, Siwan dan Ayah dariku. Mungkin karena Tuhan ingin ‘batu’ yang ada dalam diriku hancur. Bukankah jika seseorang ingin menghancurkan sebuah batu, dia harus memukul batu itu dengan keras? Tetapi Tuhan tidak mengambil Seung hyun dariku, seharusnya aku harus berterimakasih pada-Nya.

Di tengah perjalanan, aku mengambil ponselku dan meutuskan untuk menghubunginya. “besok aku ingin bertemu denganmu” ucapku begitu seung hyun mengangkat telfonnya.

“Dimana?”

“Aku akan mengirimkan alamatnya melalui sms”

***

Seung hyun POV

Yoona mengajakku bertemu di sebuah cafe kecil yang tidak jauh dari Seoul unv. Aku memasuki cafe itu dengan pikiran penuh nostalgia. Dulu, aku dan Yoona sering ke cafe ini, bahkan saat ulang tahunku yang ke 23 dirayakan di sini. Aku tidak tahu mengapa ulang tahun ke 23 ku lebih berkesan dari pada ulang tahun ke 17 ku. Aku duduk di sebuah kursi favoritku dan Yoona yang berada di pinggir jendela. Aku melihat jamku. hampir pukul empat sore. Kemudian kualihkan pandanganku ke arah luar jendela. Di luar sana, hujan mulai turun, aku melihat beberapa orang yang berada di jalan segera membuka payung mereka atau berteduh.

.

.

.

Hingga pukul sepuluh malam, Yoona belum juga datang. Jangan-jangan dia lupa. Aku mengeluarkan ponselku dan menekan nomor hp Yoona. Hpnya di matikan. Hm, mungkin dia ingin memberi pelajaran bagaimana rasanya harus menunggu. Aku berdiri dan hendak meninggalkan cafe, tetapi seorang pelayan cafe menegurku.

“Apakah anda tuan Choi Seung hyun?” tanyanya. aku menganggukkan kepala.

“Maaf, kemarin malam, seorang wanita menitipkan ini padaku.” Dia menyerahkan sebuah bungkusan besar berwarna coklat dan sebuah kunci, kemudian pergi meninggalkanku. Aku melihat kunci itu. Yoona mengembalikan kunci yang aku berikan padanya. Pandanganku beralih ke sebuah bungkusan besar, aku segera membuka tali yang mengikat bungkusan itu. saat aku membukanya, aku melihat sebuah lukisa—aku yang sedang membawa payung berwarna hitam. Ini adalah aku, saat pertama kali aku dan Yoona berjalan di bawah payung bersama. Aku menemukan secarik kertas.

Tadinya, aku tidak ingin memberikan lukisan lama ini padamu. Tetapi, saat membawanya kemanapun aku pergi, itu justru menjadikan beban bagiku.

Aku menghela nafas panjang, kemudian membungkus kembali lukisan itu dan berjalan keluar cafe. Aku membuka payungku dan melindungi lukisan itu agar tidak terkena basah. Saat sedang berjalan ke arah mobilku, aku melihat seseorang yang juga berjalan ke arah mobilnya, dia berjalan dari cafe yg tidak jauh dari tempatku dan Yoona berjanji akan bertemu.

“Seung Gi-ssi?” sapaku heran. Dia menoleh. “bukankah seharusnya kau bersama Yoona pergi ke Boston?” tanyaku heran.

“Yoona meninggalkanku, dia pergi ke Boston kemarin malam.”katanya sambil tersenyum. “Sebenarnya, dia tidak pernah membuka hatinya untukku.”

“Ah..” ujarku menganggukan kepala. Kemudian Seung gi perpamitan padaku dan memasuki mobilnya. Aku melihat mobil Seung gi pergi menjauh.

Bukankah ini berarti Yoona memberiku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku? Tanyaku dalam hati. Aku tersenyum, kemudian membuka mobilku. Aku meletakkan lukisan itu di kursi belakang dan segera memacu mobilku.

-END-