Cover Oleander Part 1

Oleander

Oleander ini tiap ceritanya berdasarkan versi tokoh utamanya masing2…
Untuk Chapter pertama ini adalah Oleander – Lee Hi Version
Dan seterusnya Versi Seunghyun, Bomie dan Namie…
Mungkin terakhir biar lebih menarik, ada versi Keyko alias Laurennya juga, ah… semoga otak saiya nggak macet lagi…
Tetap dengan lanjutan cerita yang sama, tapi dari sudut pandang yang berbeda…

Judul : Oleander – Lee Hi Version

Main Cast : Lee Ha Yi, Choi Seung Hyun, Park Bom, Nam Taehyun

Spesial Cast : Lauren Hanna

By : Kirana Lin Hwa

***Oleander***

“Aku tidak menyukai anak kecil hyun-ah, Semua anak kecil itu sama saja, dia akan merengek dan menangis pada mu, dan saat ia besar nanti, dia akan melupakan mu”

***Oleander***

Mataku masih terpaku pada beberapa lembar kertas di hadapanku dengan pikiran yang mengembara entah kemana, ketika sebuah sentuhan lembut hinggap di tanganku.

Ah… seharusnya aku tak melupakan kehadiran namja cantik di sampingku ini. Bagaimana pun dia sangat tidak menyukai didiamkan seperti ini. Lihatlah bibirnya yang mulai mengerucut tak jelas, membuatku hampir saja mendaratakan sebuah ciuman manis di sana.

“Lain kali beritahu aku jika kau sedang melamun Hi-yah…”

Aku tersenyum kecil sambil meletakkan lembaran kertas di tanganku dan kembali focus pada wajah cantik tersebut, menatapnya lama menunggu kata-kata selanjutnya yang akan meluncur dari bibir tipisnya.

“Apa ini tak terlalu cepat?” baiklah, aku mengalah, dengan lembut ku sentuh pipi putihnya, menatapnya dengan senyum yang ku buat semanis mungkin. Ah… kadang aku merasa iri pada kecantikannya, mungkin benar tuhan sedang jatuh cinta saat mengukir wajah ini.

“Tentu saja tidak”

“Tapi…”

“Hi-yah, aku ingin hubungan yang serius, dan ini adalah awal yang baik untuk hubungan kita”

“Tapi…” sekali lagi aku berdesis pelan, aku tak yakin dengan rencananya kali ini.

“Aku yakin nunna akan menyukai mu… dan juga keyko…”

“Keyko??”

“Yeaaahh…”

“Namie… kau tahu aku tak begitu suka anak kecil…”

“Yaaaak, sudah berulang kali ku katakan, jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi”

Aku tertawa kecil dan memalingkan wajahku ke arah jendela, sinar jingga dari sang surya mulai menelisik masuk. Harusnya saat ini aku sudah berada di atas kasurku yang empuk dan wangi sambil menyantap habis beberapa buku yang beberapa hari lalu ku beli.

“Namie…”

“….”

“Yaaak, Nam Taehyun…”

Ku lihat dari sudut mataku wajah cantik itu menyeringai puas. Seharusnya aku tak terlalu menanggapi rajukkannya. Ah… dia memang namja paling menyebalkan yang pernah ku kenal.

“Jadi bagaimana?”

“Aku belum siap hyun-ah…”

“Heeemmm, baiklah…”

“Kau  tak apa???”

“Anniya… hanya saja, sepertinya aku harus mencari sebuket mawar merah beserta beberapa kaleng jagung untuk membujuk nunna…”

Aku tersenyum tipis, kemudian mengecup lembut pipinya. “Gomawo… bilang pada nunna mu, aku akan menemuinya jika aku siap”

Tanpa perlu ku lihat, aku yakin wajah cantik itu sedang mengangguk-angguk kecil sambil memainkan kunci mobil di tangannya.

Ah, yeaaach… Perkenalkan, nama ku Lee Ha Yi, atau biasa di panggil Lee Hi, kali ini aku akan mengajakmu semua untuk menikmati kisahku, sebuah kisah yang cukup menyesakkan bagiku, dan namja cantik yang sedang menikmati kopinya itu adalah Nam Taehyun, yeaacchh… kau benar, dia adalah pacarku, tepatnya namja yang berhasil memaksaku untuk menjadi pacarnya, tapi paling tidak aku beruntung mempunya pacar cantik sepertinya. Ada seseorang yang bisa ku jahili saat aku mulai jenuh dengan semua rutinitasku.

Umurku saat ini sudah menginjak angka 23 tahun, baru saja menyelesaikan kuliah ku di sebuah universitas kenamaan di kota ini, untuk ukuran gadis berusia hampir seperempat abad, sepertinya sangat wajar jika Namie selalu bersikeras mengajakku untuk menemui keluarganya, tepatnya menemui Nunna nya, satu-satunya keluarganya yang tertinggal. Hanya saja, aku rasa aku masih butuh waktu yang banyak untuk itu, aku masih belum yakin dengan hati ku sendiri.

“Hi-yah…”

Sepasang tangan sudah menyelinap lembut di pinggangku, dengan wajah yang menumpu di pundakku. Dari pantulan kaca di hadapanku, aku bisa melihat jelas bagaimana wajah cantik itu mulai mencumbu area leherku.

“Aku lelah hyun-ah… sebaiknya kita pulang…”

Sebuah desisan lembut terdengar di telinga ku, namun dengan cepat aku berpaling dan menyambar tas berwarna merah menyala keluaran terbaru chanel minggu lalu dan melangkah menuju pintu ruangan.

“Okey…” namja cantik itu mengalah, kemudian menyambar kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja dan berjalan ke arahku.

***Oleander***

“Aunty…”

Aku menoleh ke arah sumber suara dan terdiam sesaat ketika menemukan seraut wajah manis sedang menatapku dengar mata bulatnya yang begitu menggemaskan.

“Aku??”

Dia mengangguk, kemudian berusaha naik keatas bangku kosong di sampingku, sayangnya setelah beberapa menit mencoba, usahanya masih gagal karena memang bangku tersebut cukup tinggi, hampir setinggi bahunya. Dengan malas aku mengangkat tubuh mungilnya dan menempatkan dia tepat di sampingku. Ada yang bergetar hebat di dada ku.

“Ma kasih aunty…” senyumnya mengembang seketika, kemudian mengayunkan kaki-kaki mungilnya yang di balut kaos kaki warna pink dan sepatu yang senada.

Tanpa sadar aku tersenyum menatapnya, aku tak begitu suka anak kecil, bagiku mereka hanyalah makhluk kecil yang selalu membuat bising dengan semua tingkah pola mereka yang menyebalkan, tapi gadis mungil ini berbeda.

“Kau sedang apa?”

Mata bulatnya menatapku lama, kemudian menoleh ke ujung jalan. “Aku sedang menunggu umma…”

“Umma??? Kau berasal dari korea??”

Wajahnya sama sekali tidak mirip dengan wajah-wajah gadis di negeriku sana, mata bulat dan wajah khas amerika ini sangat sulit di temui di korea sana, tapi bisa saja dia anak campuran korea dan amerika, bukankah orang-orang korea banyak yang menikah dengan orang luar? Seperti beberapa teman kuliah ku dulu.

“Korea itu dimana aunty?”

Aku terdiam sejenak, hingga akhirnya menunjuk kearah samping ku secara asal, lagi pula bagaimana caranya menunjukkan negeri ginseng itu pada gadis sekecil ini.

“Apa umma mu selalu datang terlambat?”

Dia menggeleng kecil, kemudian tertegun menatap apa yang tersembunyi di belakang tas plastic di sampingku.

“Aunty, itu apa?”

Aku mengikuti arah pandangannya, kemudian tersenyum kecil dan mengeluarkan chio dari kandang mungilnya. Hamster kecil yang baru saja ku beli beberapa jam yang lalu. Ku pikir jika aku memeliharanya, aku tak kan kesepian lagi di rumah, dan dia bisa ku jadikan pendengar yang baik, tanpa perlu protes seperti Namie.

“Hay gadis cantik, nama ku chio… ayo berkenalan…”

Tawanya langsung pecah seketika dengan tangan yang masih trus menunjuk-nunjuk ke arah hamster berbulu seputih salju tersebut, membuat beberapa helai rambutnya jatuh menutupi wajahnya, dan itu membuatku terkesima seketika.

“Aunty…”

“Hemm…”

“Apa dia bisa di makan?”

Aku menyesal karena baru saja jatuh cinta padanya.

***Oleander***

Ada sesuatu yang ku sembunyikan dari Namie selama 3 tahun ini, Ah… tidak, bukan hanya dari namja berwajah cantik itu, tapi juga dari seluruh penghuni bumi ini, kecuali mereka berdua. Sesuatu yang berusaha ku tutupi secara mati-matian. Meski kadang sebenarnya hati ku berontak.

Aku tidak menyukai anak kecil, seberapa besar caraku untuk mendekati mereka, tetap saja hatiku berontak. Seolah jiwaku memang di gariskan untuk tak bisa menerima kehadiran mereka dalam hidupku. Dan inilah yang ku takutkan setiap kali Namie mulai bercerita tentang impian masa depannya, hidup bahagia bersama ku serta 5 bayi mungil yang akan melengkapi kebahagiaan kami. Bagaimana aku bisa bahagia, jika aku sendiri tak menginginkan kehadiran 5 bayi tersebut.

“Aku iri melihat kebahagiaan nunna dan hyung, mereka terlihat seperti pasangan yang sangat serasi, terlebih saat keyko hadir di antara mereka”

Untuk kesekian kalinya, namja itu bercerita tentang betapa sempurnanya keluarga sang nunna, dan aku seperti biasa hanya diam mendengarkan, aku tau kemana cerita ini berujung nantinya.

“Hey… aku baru menyadari, kenapa selama ini aku selalu merasa familiar setiap kali melihat mata bulat keyko…”

Aku menghentikan gerakan tanganku yang sedari tadi menari indah di atas kertas sketsa yang sedang ku tekuni. Menoleh pada namja tersebut, menatapnya lama, hingga akhirnya mengalah ketika sepasang mata sipitnya justru menghujam dadaku.

“Mata Keyko sama seperti mata mu…”

Aku tertawa kecil, kemudian melanjutkan sketsa yang beberapa detik lalu sempat ku abaikan demi celotehan tak pentingnya.

“Aku serius Hi-yah.. kau harus bertemu dengannya, aku yakin kau pasti akan menyukainya…”

“Aku tidak menyukai anak kecil hyun-ah” kecuali gadis kecil itu.

“Tapi keyko berbeda…”

“Semua anak kecil itu sama saja hyun-ah, dia akan merengek dan menangis pada mu, dan saat ia besar nanti, dia akan melupakan mu”

“Anniya… kau salah Hi-yah… buktinya hingga detik ini, kau masih di bayang-bayangi oleh raut wajah eommanie…”

Aku terdiam sejenak, meletakkan pensil dan kertas sketsa ku, tiba-tiba tanganku terasa berat meski hanya untuk membuat sebuah garis kecil sekalipun.

“Hyun-ah…”

“Ne…”

“Ada sesuatu yang ku sembunyikan dari mu…”

Wajah cantik itu tersenyum sumringah, kemudian berjalan mendekatiku, mengusapkan dua telapak tangannya tepat di kedua pipiku.

“Tak ada yang kau sembunyikan dari ku Hi-yah… aku tahu semua tentang mu…”

Kau salah Namie… kau tak sepenuhnya tahu tentang ku.

“Siang ini aku akan menjemput keyko di sekolahnya, ikutlah dengan ku…”

Sekolah? Anniya, hari ini aku sudah berjanji akan menemui gadis itu kembali. “Aku tak bisa”

“Wae??”

“Aku ada janji dengan…” aku kehilangan kata-kata selanjutnya, aku  bahkan tidak mengenal nama gadis mungil itu.

“Jangan membuat alasan Hi-yah…”

Aku menggeleng cepat, “Aku serius hyun-ah… aku tidak bisa”

Namja cantik itu menarik nafas panjang, ku lihat gurat kekecewaan di wajahnya.

“Mianhae…”

***Oleander***

Seoul, 2009

“Jadi, bersediakah kau menjadi ibu dari anak ku?”

Tiba-tiba saja aku merasa pasokan oksigen di sekitar ku menipis sepersekian persen, membuat dada ku sesak seketika.

Ah, andai saja yang mengucapkan kalimat itu adalah namja dengan mata elang yang duduk terdiam di kursinya tersebut, tentu aku tidak akan berpikir dua kali untuk mengangguk pasti.
Tapi kalimat itu justru mengalir lancar dari mulut mungil yeoja yang sekarang sedang menggenggam erat tangannya… Eotthoke??

“Eonnie…”

“Ku mohon Ha Yi…”

“Tapi…”

“Kau lihat kamar ini? Aku bahkan sudah menyiapkannya dari beberapa tahun yang lalu, meski aku tahu aku tak kan pernah bisa memiliki anak, Rahim ku di angkat karena suatu penyakit. Kau tak kan pernah tahu bagaimana rasanya menjadi seorang perempuan yang sejatinya tak lagi bisa menjadi perempuan seutuhnya”

Namja tampan itu bangkit dari duduknya, kemudian berlalu pergi, meski sang istri mencoba menahannya, dapat ku lihat setetes bulir bening yang hampir saja meluruh dari ujung matanya.

“Jangan aku unnie, ini akan susah untukku…”

“Anniya… kau hanya akan melewatinya kurang dari waktu satu tahun, setelah itu aku dan hyunie akan pergi dari kehidupan mu, dan kau bisa melanjutkan kehidupanmu dengan layak”

Dengan layak?? Tentu saja, keluarga ini memang sudah cukup banyak membantuku, tapi dengan menjadi ibu dari anak mereka, apakah itu tidak berlebihan? Terlebih dengan umurku yang masih menginjak remaja saat ini. Tapi…

“Umma perlu perawatan yang serius Ha Yi… kita harus mencarikan sebuah rumah sakit yang layak untuknya” seruan seungyoon oppa terngiang kembali di telingaku.

“Unnie…”

“Kau bisa memikirkannya terlebih dahulu… aku dan hyunnie akan menunggu” gadis berwajah Barbie itu bangkit dari duduknya dengan mata sembabnya, melangkah pergi meninggalkanku yang masih bergulat dengan pikiranku sendiri.

“Aku sudah memindahkan umma mu ke rumah sakit yang layak, seungyoon bisa ikut militer dengan tenang sekarang”

Ah… dia selalu saja bisa menebak pikiranku.

***Oleander***

TBC