Cover Olenader Part 2

Judul : Oleander – Seunghyun Version

Main Cast : Choi Seung Hyun, Lee Ha Yi, Park Bom, Nam Taehyun

Spesial Cast : Lauren Hanna

By : Kirana Lin Hwa

 

***Oleander***

 

 

Demi apa pun, aku selalu berharap di setiap pertemuanku dengannya aku akan mengucapkan selamat tinggal, dan aku akan akan kembali ke kehidupanku, begitupun dirinya. Tapi ini seperti penyakit yang lebih buruk dari rasa cinta atau obsesi, setiap kali aku melihat wajahnya, ada sesuatu yang memberontak dalam hatiku. Aku tak bisa melepaskannya.

 

 

***Oleander***

 

 

Seoul, 2009

Sewa Rahim adalah menggunakan rahim wanita lain untuk mengandungkan benih wanita (ovum) yang telah disenyawakan dengan benih laki-laki (sperma) yaitu pasangan suami istri, dan janin itu dikandung oleh wanita tersebut sampai lahir kemudian suami istri itu yang ingin memiliki anak akan membayar dengan sejumlah uang kepada wanita yang menyewakan rahimnya.

Teknologi sewa rahim biasanya dilakukan bila istri tidak mampu dan tidak boleh hamil atau melahirkan. Embrio dibesarkan dan dilahirkan dari  rahim perempuan lain bukan istri, walaupun bayi itu menjadi milik (secara hukum) suami istri yang ingin mempunyai anak tersebut. Untuk“jasa” nya tersebut, wanita pemilik rahim biasanya menerima bayaran yang jumlahnya telah disepakati oleh keluarga yang ingin menyewa rahimnya tersebut; dan wanita itu harus menandatangani persetujuan untuk segera menyerahkan bayi yang akan dilahirkannya itu ke keluarga yang telah menyewanya.

Sejauh ini dikenal dua tipe sewa rahim :

  1. Sewa rahim semata (gestational surrogacy); Pada tipe ini, embrio yang lazimnya berasal dari pasangan suami istri yang dipertemukan melalui teknik IVF, ditanamkan dalam rahim perempuan yang disewa
  2. Sewa rahim dengan keikutsertaan sel telur (geneticsurrogacy). pada tipe kedua, sel telur yang membentuk embrio adalah sel telur milik perempuan yang rahimnya turut disewa itu, sedangkan spermanya adalah sperma suami

Pada tipe kedua, walaupun perempuan pemilik rahim itu adalah juga pemilik sel telur, ia tetap harus menyerahkan anak yang dikandung dan dilahirkannya kepada suami istri yang menyewanya. Sebab secara hukum, jika sudah ada perjanjian, ia bukanlah ibu dari bayi itu. Pertemuan sel sperma dan sel telur pada tipe kedua dapat melalui inseminasi buatan, dapat juga melalui persetubuhan antara suami dengan perempuan pemilik sel telur yang rahimnya disewa itu.

“Apa-apan ini bomie?” Aku menatap gadis berwajah Barbie itu dengan wajah memerah, sementara lembaran-lembaran kertas putih itu telah berubah menjadi gumpalan di tanganku tanpa ku sadari.

“Hanya itu satu-satunya jalan hyunie”

“Bukankah sudahku bilang, aku bisa menerima mu apa adanya, jika memang kau menginginkan anak, kita bisa mengadopsi anak-anak di panti asuhan sebanyak yang kau mau…”

“Aku ingin anak dari benih kita, setidaknya itu akan membuatku terikat dengannya”

Aku mendesah kecil, melempar gumpalan kertas di tanganku ke arah tong sampah di sudut ruangan, kemudian menghampiri wanita yang hampir lima tahun ini menemaniku tersebut.

Kami menikah di usia yang tak lagi muda karena satu alasan, yeach… tentu saja alasannya seperti yang di kemukakan banyak orang, dunia kerja yang terlalu menjanjikan, hingga kami sendiri tak menyadari waktu yang memang tak pernah bersahabat.

Aku yang sibuk dengan bisnis ku dan bomie yang terlalu menyayangi dunia modelnya, hingga tanpa kami sadari, ada sesuatu yang terenggut dari kami. Mereka yang melihat kami berjalan bersama, bergandengan tangan sambil tersenyum sumringah dengan rona merah di pipi pasti akan menilai bahwa kami lah pasangan yang paling berbahagia dunia ini.

Mereka benar, kami bahagia, hanya saja ada satu yang tak mereka ketahui, di balik kebahagiaan itu ada sebuah tangis yang tersimpan rapat.

“Seandainya aku menerima lamaranmu saat kita masih kuliah dulu, mungkin saat ini kita telah memiliki sepasang anak yang menggemaskan. Aku yang salah karena tak sepenuhnya bisa meninggalkan dunia modelku, bahkan hingga kita menikah”

Aku menariknya ke dalam pelukanku, mengusap rambut hitamnya yang menguarkan wangi apel, aku tak pernah suka melihatnya menangis.

“Bomie-ah…”

“Ku mohon hyunie…

“Tapi…”

Gadis itu menggeleng cepat dan melepaskan pelukanku, aku tahu dia tak sepenuhnya menginginkan ini.

 

 

 

 

***Oleander***

 

 

 

“Kau tahu, kau tak harus melakukan permintaannya”

“Wae?”

“Jika hanya karena eommanie, bukankah selama ini aku juga sudah berusaha membantu?”

Dia, gadis yang ku temukan di sebuah toko bunga beberapa tahun yang lalu, tepat dihari ulang tahun pernikahanku dan bomie, di suatu senja di ujung jalan. Dia yangmemberikan ku sebuket mawar menyala kesukaan bomie. Sebuah awal yang manis. Ah…mungkin seharusnya pertemuan itu tak seharusnya ada.

“Aku akan memberimu uang, dan kau bisa mengembalikan biaya perawatan eommanie yang ditanggung bomie, pergilah ke jepang. Aku akan menyusul minggu depan” aku beringsut mendekatinya, mengambil alih setangkai mawar merah yang sedang menyita perhatiannya.

“Ahjussi… tidakkah kau lelah dengan semua ini?”

“Aku mencintai mu Ha yi…”

“Dan unnie…”

Dadaku sesak. Akulah sang pria jahat yang menawan 2 gadis baik hati seperti mereka, membuat mereka tersakiti hanya karena egoku yang terlalu tinggi.

“Aku akan melakukannya…”

Aku menatapnya tak percaya,dia bahkan masih berumur 18 tahun untuk menjadi seorang ibu, ibu dari…

“Ahjussi… percaya padaku. Aku bisa melakukannya…” ia menghela nafas berat, menarik ku ke dalam rengkuhannya yang hangat. Bukankah seharusnya aku yang melakukan ini padanya???

Yeach… inilah aku, kau boleh membenciku, mencaci maki, bahkan membunuhku karena telah mempermainkan hati dua gadis yang luar biasa itu, tapi sungguh. Aku bersumpah demi apa yang telah ku miliki saat ini, aku tidak bisa memilih satu di antara dua dari mereka. Aku mencintai mereka.

“Ahjussi, mengertikah kau? Aku melakukan ini karena hatiku memintaku begitu. Tuhan tahu, inilah saat yang tepat untuk membuktikan cintaku padamu”

Aku mengerjab pelan, dapat kurasakan kelopak mataku telah basah. Entahlah… aku bahkan tak pernah berharap akan seperti ini.

“Kadang aku pikir apa kita benar-benar sedang jatuh cinta? Atau ini hanya luka akan yang tak kan ada akhirnya? Kau tahu kadang aku tersenyum justru disaat air mataku menetes, Aku rindu waktu yang aku habiskan denganmu, tapi disisi lain Aku ingin semua kesakitan ini menghilang”

Adakah yang bisa ku katakan padanya? Semua yang di katakannya benar adanya. Tak seharusnya aku membawanya masuk kedalam kehidupanku.

“Jika cinta diukur dengan seberapa banyak seseorang merasa sakit, Maka kamu adalah cinta yang tidak akan pernah aku miliki lagi, Bahkan jika ini akan meninggalkan bekas luka di hatiku, Terima kasih telah menetap didalam hati ku dan tetaplah di situ”

Demi apa pun, aku selalu berharap di setiap pertemuanku dengannya aku akan mengucapkan selamat tinggal, dan aku akan akan kembali ke kehidupanku, begitu pun dirinya. Tapi ini seperti penyakit yang lebih buruk dari rasa cinta atau obsesi, setiapkali aku melihat wajahnya, ada sesuatu yang memberontak dalam hatiku. Aku takbisa melepaskannya.

“Jika kamu bernafas di airmataku, aku tidak akan membiarkan itu kering, Jika kamu masih menggeliat dilukaku, aku tidak akan membiarkan itu sembuh, Bahkan jika itu menyakitkan, tidak apa jika itu kamu, Bahkan jika itu adalah kenangan yang buruk, tidak apa jika itu adalah dirimu”

Lihatlah, dia bahkan lebih dewasa di banding umurnya. “Aku mencintaimu Ha yi…”

“Aku akan melakukannya, tak peduli jika itu bukan kebahagiaanku, Karena hanya ini satu-satunya cara bagiku untuk melihatmu bahagia, aku berterima kasih meskipun aku sangat membencimu. Aku berterima kasih, aku tidak akan pernah takut untuk mencintaimu lagi dan terluka lagi, Karena tak ada yang dapat melukai ku sebanyak kamu melakukannya”

 

 

 

***Oleander***

 

 

 

London, 2014

“Appa…”

Sebuah seruan manis memaksaku keluar dari dunia yang sedang yang sedang ku geluti, seraut wajah manis muncul di ambang pintu ruangan lengkap dengan senyum sumringah dengan rona merah di pipinya. Untuk kesekian kalinya aku jatuh cinta pada gadis mungil itu.

“Apa kau sibuk hyunie?”

Kedua tanganku merentang lebar, mengisyaratkan gadis mungil tersebut untuk memelukku tanpa menghiraukan seruan gadis Barbie yang muncul di belakangnya.

“Hey, apa yang kau bawa?” mataku terbelalak kaget demi melihat sesuatu yang sepertinya sengaja disembunyikannya di belakang punggungnya. Gadis mungil itu merengut kecil, kemudian mundur selangkah dan memeluk erat kaki eommanya.

“Okey, baiklah… kau boleh memeliharanya…” untuk kesekian kalinya aku mengalah. Mengalah untuk sebuah pelukan yang selalu bisa membuat dadaku menghangat seketika.

Dia, gadis mungil yang hampir lima tahun ini mewarnai hidupku. Aku mencintainya, teramat sangat mencintainya, mencintainya melebihi apa pun yang ada di bumi ini.

“Hellooooo… I’m hereeee…”

Aku tersenyum kecil demi melihat bomie yang berseru kesal sambil menghentak-hentakkan kakinya, kadang kupikir dia bahkan lebih menggemaskan dari keyko. Sebuah ciuman manis ku daratkan di bibirnya yang masih merengut sebal.

“Bogoshipoyo…”

Senyumnya mengembang, kemudian membalas ciumanku tepat di hidungku.

“Umma… Appa… I’m here…”

Aku dan bomie menoleh serentak pada gadis mungil yang sedang tertawa menggoda itu.

“Aku pergi, setengah jam lagi aku sudah harus di rumah sakit menemani mingky, gadis manis itu mengancamku tidak akan mau menemuiku jika aku tak menemaninya melahirkan. Aish…bukankah seharusnya Luhan yang menemaninya, kenapa harus aku?”

Seperti biasa, seorang bomie takkan pernah habis jika mengomentari sesuatu. “Sampaikan salamku padanya. Ku harap cerewetmu tidak menular pada anaknya nanti”

Sebuah tatapan tajam tertuju padaku. Membuatku mau tak mau langsung tertawa seketika di ikuti keyko.

“Lagi pula jika aku disini, kalian berdua tak pernah menganggapku ada. Keyko selalu menyabotase mu dari ku…”

Tawa ku makin pecah, kemudian berbisik pada keyko yang sekarang sudah berada dalam dekapan ku, “Lihatlah, umma mu cemburu padamu…”

Keyko ikut tertawa dan mulai menciumi wajahku seolah mengejek ummanya, membuat bibir bomie makin mengerucut tak jelas.

“Aigooo… aku pergi…” gadis dengan rambut blonde sebahu itu berlalu setelah memberikan sebuah glare pada ku dan keyko.

“Umma… he’s mine…”

Teriakan keyko membuat langkah bomie terhenti, gadis itu memutar kepalanya, menatapku sekilas dengan tatapan berbeda, atau mungkin memang hanya perasaanku, kemudian tersenyum pada keyko, mengangguk dan berlalu pergi.

 

 

 

 

***Oleander***

 

 

 

“Namanya chio, appa…”

Aku hanya mengangguk kecil sambil tersenyum, tangan ku kembali membuka beberapa map yang menumpuk di atas meja sambil sesekali melirik gadis mungil itu bermain dengan hamster mungil yang katanya bernama chio tersebut.

“Aunty memberikannya untukku…”

“Nuguya?”

“Aunty…”

Aku kembali mengangguk, dan melanjutkan rutinitasku. Aunty? Ah… keyko mempunyai banyak aunty yang menyayanginya, ada Dara, Chaerin, Jenny dan Yuna. Mungkin salah satu dari mereka yang memberikannya.

“Appa… korea itu dimana?”

“Korea?”

Gadis itu mengangguk mantap, sementara kedua tangannya sibuk mengusap bulu-bulu halus chio. Aku terdiam sejenak kemudian menunjuk ke arah sampingku secara asal,  “Disana…”

Gadis itu mengangguk-angguk kecil, seolah mengerti dan paham apa yang ku tunjukkan, tapi setidaknya, tak ada pertanyaan-pertanyaan selanjutnya yang mesti ku jawab.

“Appa…”

“Ne…”

“Kenapa aunty sangat cantik?”

Kali ini aku menghentikan ketikan tanganku di atas keyboard dan menutup map di hadapanku. Sepertinya ini bukan waktu yang pas untuk membagi perhatianku antara pekerjaan dan keyko. Gadis itu tak pernah mau di duakan dengan apapun, setelah ini, akan ada pertanyaan-pertanyaan selanjutnya yang harus ku jawab jika aku masih berkutat dengan dengan pekerjaanku.

“Bukankah semua wanita itu memang cantik. Keyko dan umma juga cantik”

Gadis kecil itu menggeleng cepat, “Aunty lebih cantik…”

Kedua tanganku hampir saja merengkuhnya ketika benda tipis di atas mejaku berdering nyaring. Dengan cepatku ambil demi melihat pesan yang masuk, ku lihat dari ujung mata ku gadis mungil itu merengut kecil.

Ada dua pesan masuk, pesan pertama dari taehyun. Ah namja nakal itu. Hanya karena bomie memarahinya karena keinginannya untuk menikah di usianya yang masih muda, namja dengan belahan rambutnya yang khas itu seolah menghilang begitu saja.

“Hyung, Ayo bertemu… malam inidi flat pacarku… ajak keyko. Okey… and jangan beritahu ini pada nunna…”

Aku tersenyum kecil, anak itu masih saja seperti dulu. Tak pernah bisa akur dengan nunna nya sendiri. Dengan senyum yang masih mengembang aku membuka pesan yang kedua.

“Aku ingin bertemu dia… bukankah kau berjanji akan mempertemukanku dengannya saat umurnya 5 tahun”

Ada sesuatu yang membuncah di dadaku, Ah… seharusnya aku tak melupakan gadis itu.

 

 

 

TBC