skydragonpngA

Tittle : Kiss

Author: gdyassi

Length: Oneshot

Genre: Romance, comedy, friendship

Main Cast: – Kwon Jiyong

  • Lee Chaerin

Support Cast: – Lee Seungri

  • Dong Youngbae

Disclaimer: Plot cerita, poster, beserta Kwon Jiyong murni milik saya. FF                        ini juga dipost di beberapa wp lain.

A/N           : Maaf kalau dijumpai banyak typo. FF ini aku buat karena aku    ngeship mereka. Dan, maaf jika disini mereka saya nistakan     tanpa berperi ke-gaho-an. Oke, maaf juga kalau omongan saya udah gak sesuai jalur menuju hati kwon jiyong(?)

Twitter   : @meulidynia

 

Author’s POV

 

Gadis berambut pirang itu melenggokkan tubuhnya sesuai dengan iringan musik sebuah kelab malam yang bertempat di pinggiran kota Seoul. Gadis itu bernama Lee Chaerin. Salah satu mahasiswi di Seoul Art University. Kedua orangtuanya adalah pengusaha yang memiliki kesibukan melebihi Presiden Korea Selatan. Chaerin bahkan hanya setahun sekali bertemu Tuan dan Nyonya Lee. Ia Tinggal di sebuah apartemen mewah yang juga masih di kawasan Seoul.

 

Seperti malam-malam kemarin, Chaerin malam ini juga pergi untuk sekedar bersenang-senang dan berfoya-foya di kelab malam. Tetapi, berbeda dengan malam-malam sebelumnya, Ia kali ini pergi seorang diri. Biasanya gadis itu selalu ditemani kekasihnya. Choi Seunghyun. Untuk malam ini Ia pergi seorang diri karena Chaerin baru saja memutuskan hubungannya dengan Seunghyun. Walaupun rasanya berat melepaskan pemuda yang telah berselingkuh darinya itu, tapi Chaerin berusaha melupakan Seunghyun.

 

BRUK

 

Tiba-tiba tubuh Chaerin kehilangan keseimbangan ketika ada dorongan dari arah depan tubuhnya. Gadis itupun terhempas ke lantai dansa dengan sempurna. Tapi, tunggu! Kenapa rasanya ada beban diatasnya? Benar saja, ada seorang pemuda yang kini berada diatas tubuhnya. APA? DI ATAS TUBUHNYA? DAN… KENAPA PEMUDA INI MELETAKKAN KEDUA TANGANNYA DIATAS DADANYA?

 

Dengan gerakan tergesa-gesa, Chaerin mendorong kuat pemuda itu. Setelah terbebas dari bebannya, Ia berdiri sembari merapikan pakaian minimnya. Chaerin mencengkeram kerah kemeja milik pemuda yang masih ambruk dilantai tersebut. Gadis itu menatap pemuda didepannya dengan geram dan kesal.

 

PLAK

 

Chaerin menampar pemuda itu. Tapi, pemuda yang menggunakan kemeja hitam itu tidak merespon. Pemuda itu masih saja menutup matanya dengan cuek.

 

“YAK! Namja kurang ajar! Ireona!” Teriak Chaerin penuh amarah.

 

Dalam hitungan detik, seluruh pengunjung kelab tersebut sudah berkumpul di lantai dansa mengelilingi Chaerin dan pemuda yang sepertinya tengah mabuk berat. Semua mata tertuju pada mereka berdua.

 

“Jiyong-ah!” Seru salah seorang pengunjung kaget pada pemuda yang berada didepan Chaerin.

 

Chaerin menoleh sekilas lalu mengangguk paham. “Jadi namamu Jiyong.”

 

Gadis itu masih saja mencengkeram kerah kemeja Jiyong. Saat tangannya ingin melayangkan tamparan pada pipi Jiyong, matanya menangkap seseorang yang familiar. Seunghyun. Mantan kekasihnya itu sedang bersama seorang gadis diantara kerumunan pengunjung. Chaerin menggeram kesal.

 

Tanpa aba-aba, Chaerin dengan tiba-tiba mengecup bibir Jiyong. Pemuda yang bahkan baru ditemuinya beberapa menit yang lalu dalam keadaan mabuk berat. Jiyong yang setengah sadar hanya bisa pasrah menerima kecupan Chaerin. Beberapa detik kemudian, gadis itu tak juga melepas kecupannya. Entah darimana datangnya, insting Jiyong mulai muncul. Dalam keadaan setengah sadar seperti ini, instingnya masih kuat. Walaupun wajahnya lumayan cantik untuk seorang pemuda, Jiyong juga pria. Jiyong memperdalam kecupan mereka. Chaerin yang kagetpun melebarkan kedua matanya. Gadis itu melepaskan kecupannya seketika. Apa-apaan pemuda mabuk ini? Berani-beraninya!

 

PLAK

 

Lagi-lagi Chaerin melayangkan tamparannya di pipi Jiyong yang sudah memerah. Jiyong yang malang.

 

“Dasar kurang ajar! Musnah kau dari dunia ini!”

 

Nyaris saja Chaerin mematahkan leher Jiyong kala itu jika tidak ada petugas keamanan kelab malam yang melepaskan tangan Chaerin dari kerah kemeja Jiyong.

 

***

 

Jiyong duduk di sebuah meja tepat disamping pintu masuk kafetaria yang terletak di dalam kampusnya. Ia memegangi pipi kirinya yang terlihat memerah dan lebam. Bagaimana bisa Ia mendapat luka mengerikan itu di wajah tampannya? Ya, Jiyong yang semalam dalam keadaan mabuk berat tentu tak tahu persis tentang kejadian tragis yang menimpanya semalam.

 

“Jiyong hyung!”

 

Saat menyadari ada sebuah suara yang menyerukan namanya, Jiyong menoleh ke sumber suara. Dari arah pintu kafe, muncullah kedua sahabat karibnya. Seungri –pemuda pemilik kantung mata yang kadar keyadongannya tidak bisa diukur dengan penggaris- dan Taeyang –pemuda bermata sipit yang setiap minggu selalu ke gereja namun setiap malam minggu Ia juga tak lupa untuk menyambangi kelab malam-. Mereka menghampiri meja Jiyong dengan semnagat dan senyuman lebar. Kedua pemuda itu duduk disisi kanan dan kiri Jiyong.

 

“Kau kenapa?” Tanya Taeyang.

 

Jiyong memanyunkan bibirnya dengan tidak semangat membuat Seungri dan Taeyang yang melihat tingkahnya ingin muntah saat itu juga. “Kalian tahu apa yang terjadi dengan pipiku?” Tanyanya balik sembari menunjuk luka lebamnya.

 

“Ah… jika kau tidak mau mendapat hadiah seperti itu lagi, kusarankan padamu jangan pernah minum lagi, hyung.” Saran Seungri serius.

 

“Meskipun hanya setetes.” Tambah Taeyang mantap.

 

“Yak! Siapa semalam yang memaksaku untuk menghabiskan sebotol minuman beraroma aneh itu?” Sergah Jiyong kesal. Sudah jelas-jelas semalam kedua setan itulah yang memaksanya minum. Tapi, sekarang mereka menyarankan Jiyong agar tidak minum lagi seolah mereka adalah Bhiksu Tong Sam Cong yang bijaksana. Tunggu! Siapa dia? Ah lupakan!

 

Seorang gadis cantik dengan pakaian minim melewati mereka bertiga. Membuat kegentingan yang terjadi diantara mereka mereda dan berganti dengan fantasi-fantasi liar yang menghiasi kepala Seungri dan Taeyang. Jiyong adalah pemuda yang alim dan patuh terhadap orangtua. Jadi, pantang baginya berfantasi liar seperti itu. Namun jika sudah kepepet ya tidak apa-apa. Namanya juga kepepet.

 

“Sepertinya… aku pernah bertemu dengannya.” Ujar Seungri dengan air liur yang mengalir deras dari mulutnya yang tengah menganga lebar.

 

“Aku juga. Wajahnya… mengingatkanku pada kejadian semalam. Saat Ia menngecup Jiyong lalu menamparnya dengan kasar namun tetap terkesan seksi.” Sahut Taeyang lancar diiringi kedipan matanya yang hampir mirip seperti orang yang terkena penyakit cacing.

 

Tiba-tiba Jiyong membelalakkan kedua matanya. MENGECUP JIYONG LALU MENAMPARNYA DENGAN KASAR?

 

“Taeyang-ah! Apa yang kau katakan tadi? Jadi dia gadis yang membuat tanda merah di wajah tampanku ini? Dan apa? Dia juga mengambil ciuman pertamaku?” Semprot Jiyong murka. Jika saja Ia sedang tidak ditempat umum sekarang, Ia mungkin sudah berlari kerumah lalu menemui ibunya dan berkata Eomma aku kotor! Aku kotor, Eomma! Sembari mandi dengan bunga 7 rupa.

 

Sedikit berlebihan memang, tapi itulah Kwon Jiyong. Anak baik yang berteman dengan orang yang salah. Puncaknya adalah semalam, saat Seungri dan Taeyang terus membujuk Jiyong agar mencoba minuman yang ‘katanya’ bisa membuatnya melayang. Meskipun Jiyong sedikit takut ketika meminumnya. Jiyong takut ketika Ia melayang, dirinya tidak bisa kembali lagi ke bumi dan tidak bisa bertemu lagi dengan Eomma dan Appanya. Benar-benar anak yang berbakti.

 

Seungri dan Taeyang seketika mengusap air liur mereka dan berusaha kembali menjernihkan mereka dari pikiran-pikiran kotor yang baru saja menghampiri otak mereka.

 

“Jadi dia ciuman pertamamu, hyung? Ya Tuhan. Aku benar-benar prihatin dengamu.” Ucap Seungri tidak percaya.

 

Tanpa mempedulikan ucapan Seungri yang sebenarnya amat sangat ‘nyelekit’ di hati kecilnya, Ia memberanikan diri melangkah kearah Chaerin yang tengah berjalan tidak jauh darinya.

 

“Hei, nona!” Panggil Jiyong.

 

Chaerin menoleh. Membalikkan tubuhnya lalu menurunkan sedikit kacamata hitamnya. Beberapa saat kemudian Chaerin melepas kacamatanya dengan kasar dan tidak sabar lalu berkacak pinggang.

 

“Kau pemuda mabuk semalam kan? Kau… Jingyo kan?” Tanya Chaerin memastikan sembari mengangkat sebelah alisnya.

 

“Eh? Aku memang pemuda semalam yang kau renggut ciuman pertamanya dan kau tampar pipinya dengan keras dan kasar! Tapi, namaku bukan Jingyo! Namaku Kwon Jiyong! Enak saja kau mengganti namaku sembarangan. Kau pikir Appa dan Eommaku tidak bertapa selama 40 hari 40 malam untuk memberiku nama Kwon Jiyong?”

 

PLAK

 

“Siapapun namamu, aku tidak peduli. Dasar pemuda yadong, pemabuk, tidak tahu aturan, kurang ajar!” Umpat Chaerin setelah menampar pipi Jiyong dengan volume suara yang fantastis hingga membuat seluruh pengunjung kafetaria berkumpul mengelilingi mereka berdua. Mungkin bakat tersembunyi Chaerin adalah menarik perhatian khalayak umum dengan menampar seseorang.

 

“Yak! Siapa yang kau sebut pemuda yadong, pemabuk, tidak tahu aturan, dan kurang ajar itu? Kau tidak tahu jika aku menyandang anak teladan di rumahku?”

 

Chaerin memasang tampang malas. Astaga, betapa bodohnya pemuda ini. Pikirnya miris. “Aish! Jelas-jelas kau yang semalam menghisap-hisap bibirku. Iya kan?”

 

Jiyong menutup mulutnya. Astaga. Ya Tuhan. Apa yang salah dengan gadis ini? Bagaimana seorang gadis mengatakan hal se-frontal itu di tempat umum seperti ini? Terlebih lagi mereka kini menjadi pusat perhatian. Haruskah Jiyong mencuci bibir gadis ini dengan mesin cuci milik eommanya?

 

“Hei, aku tidak melakukan hal itu! Aku… semalam aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi, nona yang kekurangan bahan pakaian.”

 

PLAK

 

“Aish, kenapa kau suka sekali menamparku?” Tanya Jiyong geram akan Chaerin yang gemar melayangkan tangannya di pipinya.

 

“Haruskah kuulangi lagi ucapanku tadi jika kau namja kurang ajar, Jingyo-ssi?”

 

“Sudah kubilang namaku bukan Jingyo! Namaku J-I-Y-O-N-G! JIYONG! KWON JIYONG!”

 

***

 

Sejak kejadian kemarin, Jiyong sedikit trauma dengan kelab malam. Terlebih dengan gadis yang selalu memakai pakaian yang kekurangan bahan. Ya, meskipun Jiyong akui jika tubuh gadis itu memang memiliki lekukan yang cukup menggoda. Tapi, saat mengingat kebiasaannya yang hobi menamparnya, Ia jadi memiliki sedikit phobia dengan gadis berambut pirang itu.

 

Jiyong kini tengah sibuk membaca beberapa buku di perpustakaan tanpa kedua sahabatnya. Walaupun matanya berfokus pada buku didepannya, berbeda dengan pikirannya. Entah mendapat dorongan dari setan berjenis apa, Jiyong tak henti memikirkan gadis itu. Gadis kasar itu.

 

“Aku janji tidak akan mengulanginya lagi, saem.”

 

Suasana perpustakaan yang tenang tiba-tiba rusak seketika ketika sebuah suara gadis berujar dengan keras. Jiyongpun merasa terganggu dan akhirnya terpaksa melirik sedikit dari balik buku yang Ia baca. Pemuda itu tercengang seketika saat mendapati suara tersebut ternyata milik gadis yang tadi ada di pikirannya.

 

“Kau sudah mengatakan hal itu ratusan kali, Chaerin-ah.” Sahut seorang pria tua didepan Chaerin.

 

“Kali ini aku berjanji tidak akan tidur dikelas lagi. Aku berani bersumpah, saem.” Chaerin yang tengah membawa beberapa buku yang tebalnya tidak manusiawi itu memasang tampang memohon.

 

“Apa jaminannya?” Pria Tua itu bertanya dengan nada malas. Sudah terlalu lelah untuk menasihati anak temannya sekaligus mahasiswinya ini.

 

Sudah kasar, kurang ajar, pakaiannya kekurangan bahan, sering tertidur di kelas. Orang tua malang mana yang harus mengasuhnya? Jiyong berpendapat dalam hatinya sembari menatap Chaerin.

 

Pandangan mata Chaerin menyapu seluruh perpustakaan lalu berhenti pada Jiyong yang belum menyadari tatapan itu. Gadis itu tersenyum simpul.

 

Chaerin menunjuk Jiyong dengan semangat. “Dia!”

 

Sontak saja semua pandangan mata mengarah pada Jiyong. Pemuda yang mulai sadar akan hal itu meresponnya dengan ekspresi wajah menggelikan dan mengenaskan seakan bertanya memastikan: Aku?

 

“Jika aku tertidur dikelas, hukum saja dia, saem.”

 

“Tidak bisa seperti itu, Chaerin-ah.”

 

“Wae? Dia kekasihku! Tentu saja dia mau berkorban untukku.”

 

“Baiklah. Begini saja, jika kau tertidur di kelas lagi, maka kau dan kekasihmu itu harus membersihkan ruanganku selama seminggu. Bagaimana?”

 

“Baik.”

 

***

 

“Jiyong-ah, bagaimana hubunganmu dengan gadis itu?” Tanya Taeyang penasaran.

 

Hari ini mereka tengah duduk bersantai menikamati semilir angin dibawah pohon jambu di taman belakang kampus mereka. Sambil diiringi gosip-gosip seru nan panas.

 

“Siapa yang kau maksud?” Tanya balik Jiyong sensitif.

 

“Gadis seksi itu, hyung. Kalau tidak salah namanya Chaerin.” Sambung Seungri.

 

“Hubungan apa yang kau harapkan? Aku tidak sudi menjalin hubungan dengan gadis kasar macam dia. Sedikit-sedikit menampar. Lebih baik aku berpacaran dengan monyet berjenis kelamin perempuan daripada—“

 

“Chagi-ya!”

 

Belum sempat Jiyong menyelesaikan kalimat panjangnya, sebuah sapaan mesra terdengar di telinga mereka bertiga membuat Jiyong bungkam sejenak dan mengalihkan pandangan kearah sapaan misterius itu.

 

“Annyeong, chagi-ya.” Sapa Chaerin ceria ketika gadis itu duduk disamping Jiyong.

 

Taeyang, Seungri, dan Jiyong menatap Chaerin keheranan membuat gadis itu risih dan menggembungkan kedua pipinya sebal.

 

“Chaerin-ah, jadi kalian… berpacaran?” Tanya Taeyang.

 

Chaerin mengangguk senang dan mantap. Berbeda dengan Jiyong yang masih betah memasang wajah keheranan.

 

“Padahal dia baru saja membandingkanmu dengan monyet.” Tukas Seungri jahil sembari menahan tawanya, begitu juga dengan Taeyang.

 

“Benarkah, Jingyo Oppa?”

 

Jiyong membenahi wajahnya sejenak dengan mengerjapkan matanya. “B-benar. Ah… aniya! Aniya! Dan kukatakan sekali lagi padamu, namaku bukan Jingyo tapi Jiyong, nona!”

 

“Dan juga, sejak kapan kita berpacaran, huh?” Lanjutnya sedikit berteriak.

 

Chaerin hanya menatap Jiyong dengan tenang seolah perkataan Jiyong tadi hanya angin semilir. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri.

 

Merasa tidak dihiraukan, Jiyong membuka perbincangan lagi. “Hei nona yang kekurangan bahan pakaian! Aku sedang berbicara denganmu.”

 

“Eits hyung, santai sajalah! Begitu-begitu dia kekasihmu. Lagipula, apa yang buruk dengannya? Sudah seksi, cantik pula. Untuk ukuran pemuda kuper sepertimu, kau sudah sangat beruntung mendapatkannya.” Bisik Seungri di telinga Jiyong membuat pemuda itu makin panas tidak karuan.

 

“Kenapa kau tidak mengakui kalau kita sudah berpacaran? Apa karena kau tidak memiliki uang untuk mentraktir teman-temanmu? Ck, dasar kere!” Akhirnya Chaerin membuka mulutnya namun masih dengan gaya santai dan tidak perduli.

 

“Siapa bilang aku tidak punya uang, hah? Perlu kutunjukkan tabungan berbentuk ayam milikku yang memiliki berat melebihi tabungan eommaku?” Tantang Jiyong.

 

“Aish… tidak usah! Jingyo-ah, ikut denganku!”

 

“Namaku bukan Jingyo!”

 

***

 

Chaerin dan Jiyong duduk disatu meja di kafetaria. Jiyong terlihat sebal dan tidak suka. Bagaimana jika tiba-tiba gadis ini menamparnya lagi? Ia melirik Chaerin was-was.

 

“Kenapa kau melihatku seperti itu?” Tanya Chaerin.

 

Jiyong menggeleng pelan lalu memanyunkan bibirnya. “Apa yang akan kita lakukan disini?”

 

“Kencan.” Jawab Chaerin singkat dan cuek.

 

“Shireo! Aku tidak mau berkencan denganmu!”

 

“Memangnya siapa yang mau berkencan dengan pemuda bodoh sepertimu? Kita hanya pura-pura.”

 

“Kenapa kita harus berpura-pura? Kalau tidak suka ya sudah! Tidak usah berpura-pura seperti ini!”

 

PLAK

 

Chaerin memukul kepala Jiyong kasar. Demi apapun, kenapa pemuda didepannya ini sangat amat banyak omong kosong? Tidak bisakah Ia duduk dengan tenang dan bergaya cool seperti… Seunghyun?

 

Si empunya kepala hanya mengaduh kesakitan. Benar sih tidak menampar tapi memukul kepala. Tidak sopan sekali gadis ini. Kepala kan bagian tubuh yang keramat. Eomma Jiyong saja melarangnya mengenakan celana dalam di kepala. Sangat keramat kan?

 

“Ah! Lihat dia!” Seru Chaeri bersemangat sambil menunjuk seorang pemuda yang menggandeng gadis berperawakan kalem. Jiyongpun mengikuti arah telunjuk Chaerin. Memangnya kenapa?

 

“Apa? Kau… ingin terlihat anggun seperti gadis itu? Mudah saja. Kau hanya perlu membeli bahan pakaian lebih—“

 

PLAK

 

“Bukan itu! Lihat kekasihnya! Itu mantan kekasihku. Dia menduakanku.”

 

Jiyong mengangguk paham. “Kau ingin balas dendam? Hei, dia tidak salah jika menduakanmu.” Ia berusaha menahan tawanya ketika Chaerin memberikan death glare padanya.

 

“Aku yakin dia pasti masih mencintaiku. Gadis itu hanya… hanya cinta sesaatnya. Sedikit saja membuatnya cemburu, maka voila! Seunghyun akan jatuh lagi kedalam pelukanku.”

 

“Jangan lakukan itu!”

 

“Wae?”

 

“Apa kau tidak kasihan pada mantan kekasihmu? Apa kau mau menjerumuskannya lagi kedalam genangan dosa yang selama ini Ia selami?”

 

“Kau ini bicara apa sih?”

 

“Lupakan. Jadi apa yang akan kau lakukan?”

 

Setelah Chaerin menceritakan rencananya kepada Jiyong dengan panjang dikali lebar lalu dibagi tinggi, Jiyong memasang pose berpikir.

 

“Shireo! Kau sudah menjadikanku tumbal hukuman jika kau tertidur di kelas. Dan sekarang, kau menyuruhku untuk menjadi pacarmu? Shi-reo-yo!” Tentang Jiyong penuh amarah.

 

“Pura-pura, Jingyo-ssi.” Koreksi Chaerin berharap Jiyong akan mengubah pikirannya.

 

“Mau berpura-pura atau kenyataanpun aku tak sudi! Dan namaku bukan Jingyo!” Sahut Jiyong.

 

Chaerin melirik Jiyong sinis. Memangnya siapa juga yang mau menjalin hubungan dengan pemuda bodoh, pemabuk, kurang ajar, tidak tahu aturan, dan cungkring sepertinya? Mau dikasih gratispun Chaerin juga tak sudi demi bumi dan akhirat.

 

“Ya sudah. Jangan salahkan aku jika aku tiba-tiba mengantuk dikelas.” Ancam Chaerin sambil beranjak dari kursinya.

 

“Andwae!” Cegah Jiyong dengan suara cetar membahana membuat seluruh pengunjung kafetaria mengarahkan pandangan pada mereka berdua. Benar-benar pasangan ajaib. Mereka bukan artis bukan pelawak namun selalu menyita perhatian publik.

 

Chaerin bergeming diposisinya menunggu apa yang akan Jiyong lakukan padanya. Ia berharap pemuda yang berbakti pada orang tuanya itu akan menciumnya. Sebenarnya sih Chaerin sangat-sangat tidak menginginkan hal itu. Akan tetapi detik ini, Seunghyun ada disana dan sedang memperhatikan mereka. Bisa saja mantan kekasihnya itu cemburu lalu langsung menggendong Chaerin ala bridal style menuju tempat tersembunyi terdekat dan memulai proses membuat mahakarya yang fantastis disertai erangan ala ala Jupe.

 

“Jangan tinggalkan aku, Chagi-ya!” Ucap Jiyong sembari diiringi ekspresi yang menggelikan. Persis seperti aktor cabe-cabe-an yang tengah bermain peran.

 

Sontak saja seluruh pengunjung tertawa terbahak-bahak hingga ada yang harus dilarikan ke rumah sakit jiwa terjauh. Tak berbeda dengan Seunghyun dan pacar barunya yang sudah ber-ngesot-ngesot ria di lantai kafe sambil memegangi perut masing-masing.

 

Gadis itu memukul dahinya kecewa. Sial! Ini sih bukannya membuat Seunghyun cemburu. Jiyong itu sebenarnya ingin bermain teater atau melawak sih? Sumpah demi apapun, Chaerin benar-benar ingin mengambil seluruh tabungannya dan mengasingkan diri ke ranjang Seunghyun saat ini juga.

 

Jiyong hanya terdiam dan menggaruk tengkuknya malu-malu. Ini pertama kalinya bagi seorang Jiyong untuk bersandiwara di depan umum. Biasanya sih Ia mengasah bakat aktingnya di kamar mandi atau didepan eomma dan appanya. Pemuda itu tak paham dengan respon penontonnya, terlalu indahkah aktingnya?

 

***

 

Keesokan harinya, Jiyong duduk dikelasnya dengan gelisah. Pasalnya, setelah kejadian kemarin di kafetaria, Chaerin memarahinya tidak jelas dan tidak lupa menyebut seluruh sanak saudaranya yang berdomisili di KBS (Kebun Binatang Seoul). Jiyong takut jika hari ini Chaerin akan membalas dendam padanya dengan tertidur dikelas disertai ceceran air liur di mejanya. Bisa-bisa waktunya untuk bermain dengan kekasihnya anjingnya, Gaho, berkurang sekitar kurang lebih 40%, karena hukumannya adalah membersihkan dan merapikan ruangan Kang Sonsaengnim selama seminggu. Itu waktu yang tidak sedikit!

 

Perbedaan kelas dirinya dan Chaerin membuat Jiyong berusaha menjampi-jampi gadis itu dari jauh dengan mantra-mantra yang sakti mandra guna agar tidak mengantuk.

 

“Jiyong Hyung, kau kenapa?” Tanya Seungri curiga melihat Jiyong berkomat-kamit sambil memejamkan matanya. Tidak jauh berbeda dengan dukun yang sering Ia datangi untuk memelet wanita-wanita menor berbodi aduhai.

 

“Diamlah! Aku sedang menjampi-jampi seseorang.” Jawab Jiyong tanpa menghentikan aktivitasnya.

 

Seungri terlonjak kaget. Hebat sekali temannya yang berbeda 3 tahun darinya ini. Kalau tau Jiyong bisa menjampi-jampi seseorang alias memelet, Seungri tidak perlu lagi susah-susah mencari dukun yang sakti bin mandra guna.

 

“Kwon Jiyong-ssi, jika kau disini hanya ingin belajar menjadi dukun, tolong lekas keluar dari kelasku!”

 

***

 

“Nona!”

 

“Nona yang kekurangan bahan pakaian!”

 

Chaerin menoleh ketika panggilan itu menguar dari bibir pemuda cungkring dibelakangnya. Ia membalikkan tubuhnya mengahadap pacar pura-puranya itu. Ia masih kesal dengan pemuda itu. Kini dikelasnya, Chaerin terkenal sebagai pacar seorang aktor cabe-cabe-an. Bahkan Chaerin tidak mengerti apa itu cabe-cabe-an? Padahal, dulunya, Chaerin dan Seunghyun dikenal sebagai pasangan terhot 2013.

 

“Apakah tadi kau tertidur dikelas?” Tanya Jiyong.

 

“Bagaimana aku bisa tidur jika seluruh temanku mengatakan jika kekasihku aktor cabe-cabe-an?” Chaerin mencurahkan seluruh resah dalam hatinya yang sejak tadi berkecamuk tak henti-henti.

 

Jiyong terdiam tak mengerti dengan ucapan Chaerin. Ia hanya mengerti intinya. Yaitu, Chaerin tidak tertidur. Hore! Ternyata mantra yang diberikan oleh kakek buyut tetangga keponakan sahabat neneknya itu ampuh! Dan itu berarti Ia bisa bermain dan bergembira ria bersama Gaho tanpa ada gangguan. Sesaat kemudian matanya beralih pada sesosok pemuda tampan berbadan tegap dibelakang Chaerin berdiri. Saat itu juga Jiyong meraih tengkuk Chaerin lalu mengunci bibirnya dengan bibir seksinya membuat gadis itu dan pemuda dibelakangnya terkaget-kaget bagai melihat Hyorin SISTAR goyang oplosan. Kaget tapi menikmati.

 

Setelah memastikan pemuda yang disinyalir bernama Seunghyun itu pergi, Jiyong mengakhiri ciuman berdurasi 1,5 menit tersebut.

 

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Chaerin bersamaan dengan seruan. Bagaimana bisa pemuda ini menciumnya? Padahal, disinikan tidak ada Seunghyun. Cih, katanya bukan pemuda kurang ajar. Jika ada kesempatan dalam kesempitan toh nyosor juga, kan?

 

“Sebagai ucapan maaf dan terimakasihku, nona.” Jawab Jiyong polos.

 

“Maaf dan terimakasih untuk?”

 

“Maaf atas akting burukku kemarin. Dan terimakasih telah terjaga selama ada kelas.”

 

Chaerin hanya mengangguk pelan. Pandangan matanya tertuju pada obyek didepannya. Sebenarnya, kalau dilihat-lihat dengan mata batin yang Ia miliki, Jiyong tidak terlalu buruk. Hanya saja, tubuh cungkringnya itu loh. Tapi, Chaerin punya ide bagus! –sebuah lampu petromakpun muncul diatas kepalanya- Ia berencana untuk sekedar mengubah sedikit gaya pakaian Jiyong yang culun itu.

 

“Ikut aku!”

 

***

 

Setelah berkeliling pusat perbelanjaan selama beberapa menit, sekitar 300 menit. Akhirnya, kini Jiyong telah memiliki penampilan baru yang lebih yahud!

 

 

Dari penampilan Jiyong yang sedikit agak culun kini berubah menjadi seorang Kwon Jiyong yang terlihat seperti fashionista sejati. Chaerin yang berjalan disampingnya dan menggandeng tangannya tersenyum samar ketika beberapa gadis yang berjalan melewati mereka berdecak kagum melihat makhluk adam disampingnya. Bahkan bukan hanya gadis-gadis labil, nenek-nenek jomblo yang sedang dalam masa puber ke dua pun juga berkedip genit kearah Jiyong, membuat pemuda itu risih.

 

Beberapa menit setelah Chaerin berjalan memamerkan Jiyong di seluruh mall tersebut, mereka berhenti di tujuan terakhir. Sebuah restoran ayam. OFC (Onew Fried Chicken).

 

“Kemarikan handphonemu!” Pinta Chaerin.

 

Jiyong menatapnya curiga. Apa yang ada di otak licik gadis itu?

 

“Bukankah lucu jika sepasang kekasih tidak saling mengetahui nomor telefonnya?”

 

“Tapi kita hanya pura-pura!”

 

“BERIKAN HANDPHONEMU!” Chaerin berteriak tanpa peduli pengunjung restoran yang memandangi mereka. Benar kan? Menjadi pusat perhatian untuk kesekian kalinya. Pasangan yang canggih, bukan?

 

Jiyong akhirnya mengelurakan handphonenya dari saku celananya yang super ketat itu dengan tergesa-gesa. Setelah bersusah payah dengan seluruh jiwa dan raga, akhirnya handphone itu berhasil mendarat di tangan Chaerin.

 

Chaerin mengotak-atik handphone milik Jiyong itu dengan wajah serius. Lalu, tiba-tiba Ia mencondongkan badannya kearah Jiyong sambil mengacungkan handphone Jiyong ke samping atas. Jiyong hanya melongo sembari menatap kamera handphonenya.

 

“Kimchi!” Seru Chaerin ceria.

 

CEKRIK

 

Chaerin kembali ke tempat duduknya. Lalu kembali menyibukkan diri dengan benda persegi berwarna hitam milik pemuda didepannya. Setelah selesai, Ia mengembalikkan benda itu kepada empunya. Namun, tak sampai disitu saja, gadis itu kembali mengambil handphone miliknya sendiri dan kembali mencondongkan badannya kearah Jiyong. Sama persis dengan kelakuannya beberapa saat lalu.

 

“Pasang gaya cool!” Suruh Chaerin pada Jiyong.

 

Jiyong berpikir sejenak. Bagaimana gaya cool itu? Haruskah Ia meminta es batu kepada mbak-mbak pelayan di restoran tersebut? Atau menceburkan diri di kolam ikan mall?

 

“Tatap kameranya dengan tajam. Dan… eum… seduktif.”

 

Jiyong melakukan apa yang diperintahkan Chaerin tanpa protes.

 

CEKRIK

 

Chaaerin melihat hasilnya. “Aish! Wajahmu menggelikan! Ck, pasang gaya natural saja. Kau sama sekali tidak ada seksi-seksinya.”

 

CEKRIK

 

CEKRIK

 

CEKRIK

 

Tanpa peduli tatapan sewot dari seluruh pengunjung, Chaerin tersenyum senang melihat foto-foto itu. Diedit sedikit dan diberi hiasaan lope-lope ditambah bunga-bunga. Sempurna! Akhirnya siap di pamerkan di dunia maya! Maklum, Chaerin memang sedikit alay.

 

“Apa nama facebookmu?” Tanya Chaerin tanpa mengalihkan pandangan dari handphonenya.

 

“Kwon Jiyong CLaLu ChynkEomMa Muah Muah.” Oh. Ternyata Jiyong lebih alay.

 

Chaerin mengupload foto-foto nista nan alay itu dengan keterangan: “Ma beloved Jingyo. I love u full, babe!” with – Kwon Jiyong ClaLu ChynkEomMa Muah Muah

***

 

Drrt Drrt

 

Getar handphone Jiyong membuatnya kaget. Siapa yang tidak kaget jika ditengah malam yang sunyi nan sepi -karena eomma dan appanya kini sepertinya berencana membuat sebuah produk keluaran terbaru- tiba-tiba dikagetkan dengan getar handphone dan diiringi dengan lagu ‘Buka Titik Joss’ kesukaan eommanya. Jiyong memang sangat menyayangi eommanya hingga rela memasang lagu kesukaan eommanya sebagai nada dering pesan. Meskipun sedikit mengerikan.

 

From: Sexy Chaerin

 

Selamat malam Jingyo-ah ^^

 

Jadi tadi kau menciumku karena kau melihat

Seunghyun disana? Ah… kau yang terbaik!

Tadi dia mengirimiku pesan. Sepertinya dia cemburu.

Hihihihi😀

 

Jiyong membaca pesan itu geli. Sexy Chaerin?? Cuih! Iya. Chaerin memang seksi. Apalagi tadi siang. Ia hanya mengenakan tanktop dan hotpans. Lekukan itu. Oh… Ouh… benar benar menggoyah iman. Yak! Kwon Jiyong sadarlah! Apa yang kau pikirkan? Kemana otak polos, jernih, nan sucimu?

 

Jiyong menggelengkan kepalanya pelan berusaha menjernihkan pikirannya dari pikiran-pikiran liar itu. Iapun kembali terfokus pada pesan singkat Chaerin. Ada sedikit kesalahan pada otak tengah Jiyong. Kenapa hatinya sedikit nyelekit ketika membaca pesan itu? Bukankah Ia seharusnya senang jika Seunghyun cemburu lalu mereka bersatu kembali dan hidup bahagia selama-lamanya dan berakhirlah hubungan pacaran pura-pura ini. Tapi kenapa Ia tidak senang? Kenapa? Apa karena Ia aktor cabe-cabe-an? Atau karena Ki Joko Bodo? Ah bukan, pasti karena Chaerin memanggilnya Jingyo. Tapi, Jingyo imut juga sih. Setelah lama menatap pesan itu, Jiyong malas membalasnya. Sebenarnya bukan malas, hanya irit pulsa. Maklum mahasiswa.

 

Drrt Drrt

 

Getaran dan lagu nista itu mengaung lagi.

 

From: Sexy Chaerin

 

Balas pesanku atau mati!

 

Saat selesai membacanya Jiyong melebarkan kedua matanya. Horor sekali gadis ini. Dengan cekatan, Jiyongpun membalas pesan Chaerin seadanya.

 

To: Sexy Chaerin

 

Kubalas

 

Drrt Drrt

 

From: Sexy Chaerin

 

Mati kau, Kwon Jingyo!

 

***

 

Hari ini, Chaerin mendengar gosip hangat dari sumber terpercaya yaitu PPSAU (Perkumpulan Penggosip Seoul Art University) yang beranggotakan beberapa dosen dan mahasiswi. Bahkan baru-baru ini mereka memiliki anggota baru seorang mahasiswa. Yang Chaerin tahu, hari ini, Seunghyun akan berkencan dengan kekasih barunya itu. Ya, pemuda tampan itu memang amat sangat terkenal hingga layak dibuat sebagai bahan gosipan. Mendengar hal itu, setelah kelasnya selesai, Ia segera mencari Jiyong dan mengajaknya ke tempat dimana Seunghyun dan pacarnya itu berkencan. Pusat perbelanjaan yang tidak jauh dari kampusnya.

 

“Mana Seunghyun-mu itu?” Tanya Jiyong ketika mereka telah sampai di tempat yang dituju.

 

“Mungkin sedang… sedang istirahat dulu.” Jawabnya.

 

“Kalau begitu, kita pulang saja dulu. Aku lelah, nona.”

 

“Bantulah aku sekali iniiii saja. Sekali.”

 

Sekali? Ini sih bukan sekali. Gadis ini sudah berkali-kali meminta bantuannya bahkan menjadikannya sebagai tumbal.

 

“Kita memulai kencan dengan apa dulu, ya? Haruskah kita menonton film? Atau membeli es krim saja? Ah… aku gugup.” Chaerin terlihat seperti sedang kencan pertama dengan pacar baru yang polos.

 

“Kusarankan, kita ke toko baju terdekat saja dan membeli beberapa pakaian untukmu.” Saran Jiyong bijaksana namun malah mendapat tatapan mematikan dari Chaerin.

 

Jiyongpun mengalah. “Baiklah. Aku menurut saja padamu.”

 

***

Setelah berjatuh-jatuh ria seperti ABG labil yang tengah berpacaran di sebuah lapangan es, mereka menuju ke foto box yang ada di mall tersebut. Mereka mengambil foto dengan bermacam-macam gaya. Mulai dari gaya orang cacingan, gaya berpikir sok imut, gaya memonyong-monyongkan bibir sok seksi, gaya alay, gaya narsis, dan gaya-gaya sesat lainnya. Demi Tuhan, ini pertama kalinya bagi Jiyong berfoto dengan pose semengerikan ini. Merekapun tidak menghiraukan tatapan-tatapan sinis dari mbak-mbak penjaga foto box yang sedikit curi-curi intip kearah mereka.

 

“Bukankah itu Seunghyun?” Jiyong menunjuk seorang pemuda dan seorang gadis yang bergandengan mesra sesaat ketika mereka telah keluar dari foto box.

 

Chaerin mengikuti arah telunjuk Jiyong. “Apa yang mereka lakukan di toko perhiasan?”

 

***

 

Selama dua hari ini, Chaerin kembali dekat dengan Seunghyun. Sekedar lirik-lirik-an alay atau saling menguar senyum najis. Namun, kali ini Chaerin benar-benar GaTot –Galau Total-. Ia baru saja mengetahui fakta mengerikan bahwa Choi Seunghyun, namja paling tampan seantero kampus, dunia, akhirat, facebook, twitter, instagram, dll sudah menyandang status ‘Calon Suami Orang’. Ingin rasanya Ia mengahmbur ke pelukan Jiyong dan memeperkan ingusnya dengan seksi di kemeja milik pemuda itu. Eh? Jiyong? Chaerin baru ingat. Sudah dua hari ini Ia tidak melihat pacar pura-puranya itu. Pesan terakhir yang Ia dapatkan dari Jiyong kemarin berbunyi seperti ini: “Hapus nomorku dari handphonemu, nona. Aku juga akan menghapus nomormu.”

 

Tapi, Chaerin hanya membacanya sekilas tanpa dicermati berulang kali karena saat itu, Ia sedang cenat-cenutnya dengan Seunghyun. Jika diteliti lebih dalam lagi, pesan Jiyong itu sepertinya mengucapkan perpisahan. Iya, seperti ABG-ABG labil yang baru putus cinta. Karena rasa rindunya terhadap Jiyong sudah menggunung sebesar gundukan kuburan semut, Iapun mengirim pesan singkat ke nomor Jiyong ratusan kali namun tak kunjung ada balasan. Setelah mengingat-ingat kembali, Chaerin teringat akan dua pemuda yang saat itu ditemui Chaerin sedang bersama dengan Jiyong. Ia berusaha mencari mereka berdua diseluruh kampus dengan hanya bermodal memori Chaerin yang sedikit dongkol. Ia hanya ingat warna kulit mereka berdua. Putih. Benar-benar bodoh. Siapa yang tidak tahu jika kulit orang Korea kebanyakan berwarna putih?

 

Ia mencoba dengan cara lain yaitu menanyakan seluruh mahasiswi dan mahasiswa yang Ia temui dengan pertanyaan: “Apakah kalian melihat temannya Kwon Jiyong?”

 

Iya, Chaerin bodoh. Kenapa tidak langsung saja tanya: “Dimana Kwon Jiyong? Pemuda cungkring itu.” Atau “Hei, dimana pacarku? Aktor cabe-cabe-an itu.”

 

Hampir tiga puluh menit Ia menanyakan pertanyaan itu akhirnya menemukan titik terang ketika ada dua orang yang berjalan beriringan layaknya pasangan maho yang harmonis. Pasti mereka! Pikir Chaerin. Ia menghampiri mereka dengan lari tunggang langgang.

 

“Annyeong,” sapa Chaerin sambil mengatur nafas dan dengan dada yang naik turun pastinya membuat kedua mahasiswa itu menatapnya mesum.

 

“Kalian, temannya Kwon Jiyong, kan?” Tanya Chaerin memastikan.

 

Taeyang dan Seungri membaca istighfar sepersekian detik yang lalu dan segera menjawab lantang. “Benar!”

 

“Good. Dimana Jingyo-ku?”

 

“Kau tidak tahu? Jiyong kan akan dijodohkan. Hari ini makan malamnya. Makanya hari ini Ia membolos. Sampai sekarang aku tak mengerti hubungannya.” Jawab Taeyang.

 

Chaerin mematung sejenak. Rasanya hati kecilnya tertohok sebuah jarum suntik dan pecah menjadi berkeping-keping. Sakit. Perih. Lebay sih. Tapi, itulah kenyataan yang tepampang jelas dan nyata.

 

“Kenapa kau tidak tahu? Bukankah kalian putus gara-gara hal itu?” Tanya Seungri penasaran.

 

“Siapa yang putus, hah? Enak saja! Kapan acaranya dimulai?”

 

“Sekitar jam tujuh malam.”

 

***

 

Chaerin berulang kali menghubungi nomor Jiyong. Tapi sial, Ia tak kunjung mendapat jawaban. Yang Ia dapat hanya jawaban: “Maaf. Nomor yang anda tuju, sedang sibuk mempersiapkan makan malam. Silahkan hubungi lagi tahun depan.” Apa-apaan itu?

 

Ia putus asa. Seunghyun sudah mendapat gelar ‘Calon Suami Orang’ dan kini Jiyong juga? Hampir saja Chaerin akan gantung diri di pohon jeruk purut, namun dibatalkan ketika handphonenya berdering melantunkan suara merdu personil Cherrybelle. Entah sejak kapan Chaerin khilaf memasang ringtone itu. Ia tersenyum senang ketika melihat display handphonenya.

 

Stupid Jingyo calling

 

Dengan senyum semangat Ia mengangkat panggilan itu.

 

“Sudah kubilang hapus nomorku, nona.” Belum sempat Chaerin mengucapkan kata ‘Yoboseyo, Chagi-ya.’ dengan aksen manja eh langsung diserempet Jiyong.

 

“Ck, katanya kau juga akan menghapus nomorku.” Sahut Chaerin.

 

“Aku memang menghapusnya. Tapi kau mengirimiku pesan sebanyak… berapa ya… 169 pesan. Dan itu membuat handphoneku overdosis seketika. Ah, dan juga kau menelfonku 87 kali.”

 

“Kau sibuk, ya?”

 

“Iya.”

 

“Jadi, kita putus?”

 

Jiyong terdiam. Chaerin menunggu jawaban Jiyong seraya menggigit bibir bawahnya. Entah apa yang ada dipikirannya sekarang. Bukankah mereka tidak benar-benar berpacaran? Itu artinya, mau mereka putus kek, nyambung kek, tokek kek tidak perlu dipertanyakan dengan serius, bukan?

 

“Ah, aku ada urusan sebentar. Kita lanjutkan lain kali.”

 

Chaerin mengumpat. Menyumpah serapahi seluruh umat manusia di bumi ini. Entah karena apa. Dia hanya ingin. Mungkin dia mengalami depresi ringan. Setelah mengobrak-abrik seluruh kamarnya layaknya di sinetron-sinetron, Chaerin mendapatkan ide cemerlang mengalah-ngalahi cahaya lilin di saat lampu padam.

 

***

 

Jiyong memutus sambungan telepon itu lalu menghampiri eommanya yang beberapa saat lalu memanggilnya.

 

“Ada apa, eomma?” Tanya Jiyong.

 

“Jiyong-ah, makan malam hari ini ditunda sampai bulan depan. Kim Ahjusshi dan Kim Ahjumma tiba-tiba ada urusan mendadak ke luar negeri.” Jawab eomma Jiyong kecewa.

 

Berbeda dengan eommanya, pemuda itu diam-diam berhuru-hara ria dihatinya. Bisa tidak, Ia sekarang bergoyang caesar sambil menggunakan hulahoop dengan dandanan penari balet untuk merayakan penundaan acara sialan ini?

 

Iya, Jiyong sebenarnya sangat tidak menginginkan perjodohan ini. Eomma dan appanya juga terpaksa menjodohkan anaknya itu karena khawatir akan kejantanan Jiyong. Pasalnya, pemuda itu hampir tidak pernah mengenalkan kaum hawa kepada orang tuanya. Yang Ia bawa kerumah hanya Seungri dan Taeyang. Orang tua mana yang tidak khawatir?

 

Mengapa Jiyong tidak mengatakan saja pada eomma dan appanya jika Ia sudah memiliki pacar bernama Chaerin? Jelas Ia tidak mau mengatakan itu. Dalam diri gadis itu, sama sekali tidak ditemukan kriteria menantu idaman eommanya.

 

“Eomma, tidak bisakah kau membatalkan saja perjodohan ini? Aku… mempunyai pilihan sendiri, Eomma.” Pinta Jiyong ditengah kebahagiaan di hatinya.

 

Eommanya menggeleng pelan. “Tidak bisa sampai kau memiliki kekasih, Jiyong-ah.”

 

“Aku punya!” Serunya mantap. “Pacar pura-pura,” lanjut Jiyong dalam batinnya.

 

“Siapa? Seungri? Taeyang?”

 

“Eh? Aniya, Eomma!”

 

Enak saja eommanya mengira pacarnya adalah Taeyang dan Seungri. Jika selera Jiyong sudah berubah haluanpun Ia takkan sudi untuk memacari duo setan beraliran sesat itu. Sorry bin nehi ya, Jiyong juga pilih-pilih. Minimal G-Dragon BIGBANG lah.

 

***

 

TOK TOK

 

Terdengar suara pintu utama di ketuk membuat mereka berdua terdiam sejenak. Lalu, eomma Jiyongpun segera membukakan pintu itu dan melihat siapa tamu misterius yang datang.

 

“Annyeong haseyo.” Ucap seorang gadis dari balik pintu.

 

Eomma Jiyong mendecak kagum menatap gadis itu sembari tersenyum ramah. “Ah, annyeong. Siapa, ya?”

 

“Joneun… Jingyo eh Jiyong Oppa yeojachingu. Lee Chaerin imnida.” Jawabnya. Yup, dia Chaerin.

 

Wanita paruh baya namun tetap byutiful itu menutup mulutunya tidak percaya setengah prihatin terhadap gadis yang dianggapnya khilaf. Mau-maunya gadis berwajah diatas rata-rata ini berpacaran dengan Jiyong? Eh, tidak ada yang salah juga sih.

 

“Jiyong-ah, lihat siapa yang datang!” Eomma Jiyong berteriak memanggil Jiyong yang sepertinya masih ada di kamarnya.

 

“Masuklah dulu,” suruhnya pada Chaerin. Ia tersenyum dan menuruti camernya itu.

 

Mereka duduk berdua di ruang tamu bergaya klasik. Sembari menggosip mengobrol dan bercanda ria tak lupa sedikit membocorkan aib-aib Jiyong.

 

“Sejak kapan kau berkencan dengan Jiyong, Chaerin-ah?” Tanya Eomma Jiyong.

 

“Belum lama ini, Eommonim.” Jawabnya sopan.

 

“Jiyong tidak pernah menceritakan apapun tentangmu.” Ujar eomma Jiyong heran “ Aish… anak itu benar-benar.” Gumamnya pelan.

 

“Siapa yang datang, Eomma?” Tanya Jiyong tiba-tiba datang semacam jin botol.

 

Chaerin dan Jiyong saling menatap kaget, heran, shock, terkejut, dll. Jiyong kaget melihat Chaerin berada di rumahnya dan menggunakan pakaian berbeda dari biasanya. Gadis itu kali ini benar-benar terlihat seperti menantu idaman eomma dan appanya. Anggun, cantik, manis, imut. Perfek deh. Chaerinpun juga terkejut akan penampilan Jiyong yang sudah Ia permak beberapa hari yang lalu dan ketika di rumah? Eng ing eng. Tidak jauh berbeda dengan gembel mesum di emperan toko salep. Kaos kedodoran berwarna putih polos dan bokser… eh? Apa itu? Helo kiti? Chaerin tidak salah lihat, kan?

 

Saat Jiyong tersadar akan pandangan mata Chaerin yang tertuju pada bokser pemberian eommanya 6 tahun lalu namun masih muat ditubuhnya itu, Ia segera berlari terbirit-birit menuju kamarnya dan berganti bokser yang lebih keren. Angry bird misalnya.

 

“Jiyong itu memang malas mandi. Hehehe.” Ujar eomma Jiyong mengutarakan aib kecil anak kandungnya.

 

Chaerin tersenyum. “Ah, ngomong-ngomong, bokser yang dikenakan Jiyong Oppa tadi lucu.”

 

“Ah, jinjjayo? Aku membelikan bokser itu 6 tahun lalu tapi Ia tetap sering memakainya sampai sekarang. Katanya, bokser itu mebawa peruntungan baginya. Mungkin, ketika pertama kali bertemu denganmu Ia memakai bokser itu juga.” Jelas eomma Jiyong lalu disusul tawa renyah krenyes krenyes dari kedua wanita tersebut.

 

Beberapa saat kemudian, Jiyong muncul dengan menggunakan kemeja kotak-kotak dan skinny jeans lalu tak lupa kepalanya dihiasi topi bermerk aneh yaitu, ‘GIYONGCHY’. Ia duduk disamping Chaerin tanpa mengucapkan sepatah kata.

 

“Jadi, kalian ingin pergi berkencan hari ini?” Tanya eomma Jiyong yang melihat Jiyong rapi dan keren.

 

“Eh? An—“

 

“Ne, Eommonim.”

 

“Oh, baiklah kalau begitu. Fighting, Jiyong-ah!”

 

***

 

Jiyong mengemudi mobil sedan berwarna hitam milik appanya itu dengan kecepatan tak lebih cepat dari seekor siput yang tengah mengesot.

 

“Jingyo-ah, jadi benar, kau… akan dijodohkan?” Chaerin mengawali pembicaraan ragu-ragu.

 

Jiyong terlihat tak menghiraukan ucapan Chaerin. Ia hanya melirik gadis itu sebentar lalu kembali mengalihkan pandangannya kearah jalanan. “Omong-omong, darimana kau dapat pakaian itu, nona?” Tanyanya berusaha mengalihkan pembicaraan.

 

Chaerin mendengus sebal. “Seunghyun.” Jawabnya sekenanya. Hanya mengetes pemuda itu, apakah pacar pura-puranya itu cemburu atau tidak.

 

“Oh. Jadi kalian sudah berpacaran? Selamat kalau begitu. Aku ikut senang dengan hubungan kalian. Oh iya, darimana kau tahu rumahku, hm?”

 

“Ck! Seunghyun sekarang sudah menyandang status ‘Calon Suami Orang’ tau! Dan kau tidak perlu tau darimana aku tahu rumahmu. Jika kau memang sangat kepo, tanyakan saja pada Taeyang karena aku sedang malas menjelaskannya.”

 

“Jadi, kau dan Seunghyun… bertunangan? Begitu?”

 

“Ish! Dia bertunangan dengan gadis itu bukan denganku! Kenapa sih dunia ini tidak adil? Seunghyun sudah bertunangan! Sekarang kau juga akan ditunangkan.”

 

CIIT

 

Mobil yang dikendarai Jiyong berhenti disebuah taman kota yang hijau namun banyak dihuni oleh bocah-bocah penuh ingus yang berlari-larian ria. Jika Jiyong mengajak Chaerin turun dan duduk disebuah bangku disana, bisa-bisa moment-moment romantis mereka akan terganggu.

 

Chaerin melongokkan kepalanya ke jendela mobil. “Kenapa kita tidak turun?” Tanyanya.

 

“Disini saja,”

 

Gadis itu mulai berpikiran yang tidak-tidak. Apakah Jiyong kini berubah menjadi pemuda normal pada umumnya yang ingin ekhem-ekhem di dalam mobil? Jika memang begitu, Chaerin akan ikhlas dengan senang hati.

 

“Kau tahu? Eommaku pernah bilang jika aku memiliki kekasih, maka perjodohan yang mereka rencanakan akan dibatalkan.” Jelasnya. “Tapi, aku tidak memiliki kekasih. Yang kumiliki hanyalah kau, pacar pura-puraku.” Lanjutnya miris.

 

Chaerin menatapnya kecewa. Ya sudah , jadikan saja aku kekasih kenyataanmu, Jingyo-ah! Teriaknya dalam hati.

 

“Maka dari itu, maukah kau menjadi kekasihku, nona?”

 

Astaga, Kwon Jiyong. Sudah dalam tahap pengedoran seperti ini tapi sampai saat ini, Ia tak pernah memanggil nama Chaerin atau Lee Chaerin. Ia hanya memanggilnya ‘nona’ dan ‘Nona yang kekurangan bahan pakaian’

 

Walaupun seperti itu, Chaerin tetap tersenyum tidak jelas bak wanita seksi berambut blonde yang cacingan.

 

“Kau tidak memintaku menjadi kekasihmu karena terpaksa, kan?” Tanya gadis itu memastikan.

 

“Aniyo. Aku benar-benar menyukaimu. Aku selalu sebal dengan kepalamu yang dipenuhi oleh Seunghyun itu. Aku… aku cemburu.” Jawab Jiyong cepat.

 

“Jinjjayo? Ah, aku juga kecewa ketika mendengarmu akan di jodohkan. Kau tau? Rasanya seperti… memanjat di Namsan Tower lalu terjatuh seketika di atas hamparan laut yang dipenuhi kebuasan ikan-ikan liar yang tengah kelaparan.”

 

“Apa yang kau bicarakan, nona?”

 

“Eh… lupakan!”

 

“Baik. Jadi, apa kau menerimaku?”

 

“Aku tidak akan menerimamu sebelum kau memanggil namaku. Lee Chaerin. Kau selalu memanggilku dengan sebutan ‘nona’.”

 

“Lee… Chaerin, maukah kau—“

 

“Dengan senang hati, Kwon Jingyo!”

 

Dan akhirnya, detik itu juga merekapun saling menempelkan bibir masing-masing sembari meraba-raba apapun yang bisa di raba kala itu juga. Setelah kejadian itupun, Chaerin dan Jiyong hidup bahagia selama-lamanya.

 

 

END