Nama Author : Iren

Cast :   Kwon Ji Yong (bigbang G-dragon

Lee Chaerin (2ne1 CL)

Main Cast : bisa berubah – ubah tergantung jalan ceritanya ^^

Genre : romance/chapter

Disclaimer :

A/N : semoga kalian suka sama part 3 ini yaa ^^

***

“ chaerin, maaf aku baru dat…tang… chaerin apa yang terjadi padamu sayang? Kenapa kau menangis? “ ahjumma baik hati itu langsung menghampiri cherin yang sedang terisak, dia baru datang dari busan karena itu dia tidak tahu apa yang menyebabkan karyawan yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri itu menangis.

Chaerin menggeleng, dia menghapus air mata yang berada di pipinya pelan. Dia tidak ingin membuat ahjumma yang sudah sangat baik padanya itu khawatir “ maaf ahjumma, aku hanya bermimpi buruk, “ setelah tangisnya reda, chaerin langsung menutup kotak itu, dia tidak ingin menangis lagi, setidaknya tidak di depan ahjumma. Kotak itu akan dia tutup, kalau bisa sampai selamanya.

“ baiklah, “ kata ahjumma sambil tersenyum “ sepertinya kita harus tutup cepat hari ini. Lagipula aku baru sampai dan kurasa kau juga lelah, “ chaerin mengangguk, ya dia lelah. Sangat lelah.

Chaerin menarik nafas berat, hari ini masih sore dan itu artinya dia akan menghabiskan sore harinya sendiri lagi. Dulu, ketika dia masih ada, chaerin akan dengan senang hati menghampirinya dan menggengam tangan yang selalu ada untuknya itu. Dulu, ya itu dulu. Saat chaerin belum mengenal ahjumma, saat chaerin belum bekerja di toko bunga itu dan saat namja yang sangat disayanginya itu masih ada di sampingnya, saat chaerin masih memiliki banyak mimpi.

“ ahjumma, aku pamit “ chaerin keluar dari toko bunga, dia memasukkan kotak itu ke dalam tas, kotak yang isinya hanya membawa lukanya kembali.

Chaerin POV

Aku berjalan tanpa berfikir, ya saat ini aku benar – benar tidak bisa berfikir. Bagaimana mungkin, benda yang selalu dia bawa, benda yang selalu dia sayangi kini ada di tanganku. Dibungkus rapih di dalam kotak dan dikirimkan kepadaku. Membuatku kembali memikirkannya, memikirkan dia yang menungguku disana.

Kenapa aku bisa lupa? Ya, dia menungguku… dia selalu menungguku disana. Aku… aku harus menyusulnya. Harus. Saat tersadar, aku sudah ada di halte bus. Lalu apa yang akan aku lakukan sekarang? Tentu saja, aku akan menyusulnya. Kulangkahkan kakiku ke jalan raya dengan putus asa, aku akan menyusulnya hari ini. Sudah kuputuskan.

Aku terus menatap ke depan sambil terus melangkah. Saat kurasakan mobil yang melintas akan segera menabrakku, aku langsung menutup mataku. Tapi aku tidak merasakan rasa sakit karena tertabrak, aku merasakan rasa sakit karena tubuhku yang jatuh, jatuh karena ada seseorang yang menarikku dan orang itu menggunakan tubuhnya agar tubuhku tidak membentur jalanan.

“ apa kau sudah gila?! Kau bisa saja celaka!!! Bahkan mati karena kekonyolanmu itu!! “ dan saat tubuhku di tarik orang itu hingga berdiri, dia langsung memakiku. Aku membuka mataku, dan saat itu juga aku menangis.

“ maaf … maaf …maaf … maafkan aku, “ hanya itu yang bisa aku katakan, aku tidak tahu lagi harus bicara apa. Aku terus menangis, rasanya air mata ini tidak bisa berhenti dan saat itu juga aku merasakan dia memelukku. Harusnya aku marah, dan mencoba melepas pelukannya tapi entah mengapa aku malah merasa nyaman. Pelukannya terasa hangat dan membuatku merasa terlindungi, bahkan aku sudah bisa tenang.

Sepertinya orang itu sadar bahwa aku sudah tidak menangis lagi, dia melepaskan pelukannya. “ sudah lebih baik? “ aku mengangguk “ bagus… maaf tadi aku memelukmu, “ dan aku hanya bisa mengangguk lagi tanpa bicara. Entahlah, tiba – tiba saja aku merasa bingung.

Chaerin POV end

Author POV

“ apa kau sudah merasa lebih baik? Aku harap kau tidak melakukan hal nekat seperti itu lagi “ jiyong memberikan sebotol air dingin yang tadi dia beli di supermarket kepada lawan bicaranya yang hanya bisa mengangguk. “ berjanjilah kau tidak akan melukai tanganmu seperti ini lagi saat nilai tesmu jelek, “ tidak ada jawaban bahkan lawan bicaranya terlihat acuh. “ seungri… jawab aku “ akhirnya seungri mengangguk. Saat ini mereka berdua berada di depan supermarket.

Tadi saat jiyong baru masuk ke mobilnya setelah membeli bunga, handphonenya tiba – tiba bergetar dan seungrilah yang menghubunginya. Seungri bilang ingin bertemu di depan supermarket dan meminta hyung kesayangannya itu untuk cepat karena dia kesakitan, karena itulah jiyong memacu mobilnya cepat ke tempat seungri menunggunya, meskipun sebenarnya tempat seungri menunggu tak terlalu jauh dari tempatnya tadi, tapi apa perduli jiyong, dia benar – benar khawatir pada seungri.

“ maaf hyung, aku hanya… aku hanya kecewa “ jiyong menjitak kepala seungri cukup kencang, seungri langsung mengelus kepalanya yang sakit. “ hyung… kau membuatku bertambah sakit, “ ucapnya kesal.

“ kau harus menghilangkan kebiasaanmu itu, setiap kau gagal kau pasti akan menyakiti diri sendiri “ seungri hanya diam, ya dia memang selalu seperti itu. Apalagi jika dia sedang kesal. “ aku rasa aku harus pergi. Ini sudah sore dan aku harus menemui eomma, kau tau dia selalu saja cerewet jika aku datang terlambat. Kau mau aku antar? “

Seungri menggeleng “ aku ingin naik bus hyung, mungkin kau bisa mengantarku sampai halte? “ seungri menunjuk ke arah halte yang ternyata tidak terlalu jauh dari supermarket itu, jiyong mengangguk, dia merangkul pundak seungri dan berjalan beriringan menuju halte.

Author POV end

Jiyong POV

Katakanlah sekarang bahwa penglihatanku benar dan tidak salah, karena aku sangat berharap seperti itu. Yeoja itu, yeoja di toko bunga, dia ada di hadapanku sekarang. Ya, sebenarnya sekitar 10 langkah dariku. Tapi, jarak kami benar – benar dekat. “ seungri, ayo berjalan lebih cepat. Sepertinya aku melihat seseorang yang aku kenal, “ aku melepas rangkulanku pada seungri dan berjalan lebih cepat, seungri mengikutiku dibelakang.

Mataku tetap focus pada yeoja itu, dan akhirnya aku sadar. Yeoja itu tidak sedang menunggu bus, dia akan berjalan ke jalan raya. Tanpa sadar aku langsung berlari, berlari ke arahnya dan langsung menariknya sebelum mobil itu menabraknya. Untungnya aku berhasil, meskipun punggungku harus merasakan sakit karena terbentur dengan aspal dan ditindah yeoja ini.

Aku langsung menariknya berdiri dan tanpa sadar mengucapkan kata – kata yang entahlah, aku sendiri tidak tahu kenapa kata – kata itu keluar begitu saja dari mulutku, dan dia… aku kira dia akan balas memarahiku tapi ternyata dia malah meminta maaf dan menangis. Aku langsung memeluknya, memberikannya rasa aman agar dia tidak lagi menangis. Untungnya itu berhasil, dan entah kenapa aku jadi merasa lega.

Akupun melepas pelukanku “ sudah lebih baik? “ yeoja itu hanya mengangguk, apa dia marah padaku? Apa karena aku memeluknya? “ bagus… maaf tadi aku memelukmu “ dan lagi – lagi dia hanya mengangguk, tapi aku lega, lega karena dia tidak marah kepadaku.

“ hyung, kau baik – baik saja? “ seungri, hampir saja aku melupakannya. Aku mengangguk ke arahnya, aku bisa melihat raut cemas di wajahnya. Wajar saja, karena tadi aku langsung berlari ke arah yeoja ini, lee chaerin. “ apa dia baik – baik saja? “ seungri menunjuk kea rah chaerin, dan aku mengangguk.

“ terima kasih, dan maaf “ setelah mengatakan hal itu chaerin langsung meninggalkanku dan seungri. Hey, ada apa dengannya? Kenapa sikapnya seperti itu? Harusnya dia juga bertanya keadaanku dan tidak pergi seperti itu.

Aku hanya bisa memandangi punggungnya yang meninggalkanku dan masuk ke dalam taksi, kesal? Tentu saja tapi aku hanya bisa menatapnya. Seungri langsung merangkulku “ sepertinya kau harus lebih bersabar hyung “ aku bisa melihat senyum jahilnya. Ya, aku ketahuan.