PicsArt_1419497066301

Author : Hyeon Park

Title : Greatest Place in Your Eyes

Casts : Kwon Jiyong, Lee Chaerin

Genre : Romance

Rate : Teen

Length : Vignette ( 1502 words)

A/N : Annyeonghaseyo~ Akhirnya setelah sekian lama nggak ngirim fanfict, sekarang ngirim lagi! Castsnya adalah pairing nomer 1 di listku, Skydragon! :3 BTW, aku udah pernah ngirim fanfict juga, judulnya Deoksugung Doldam-gil, castnya TOP ^^ Yang pernah baca khamsahabnida~ Semoga kalian juga suka fanfict ini!♡

Jiyong menuntun Chaerin memasuki kebun belakang rumah mereka. “Ji, kau mempersiapkan apa?” tanya Chaerin penasaran, “Kau mungkin tidak bisa melihatnya sekarang tapi setelah d-day, kau bisa merasakan semuanya” ucap Jiyong, mungkin kalimat itu terdengar sarkastik di telinga orang lain, tapi bagi Chaerin kalimat itu adalah janji romantis seorang Kwon Jiyong yang menguatkannya. Jiyong menuntun Chaerin duduk di kursi, lalu lelaki itu duduk di hadapannya, masih menggenggam tangan sang gadis. “Mungkin ini berlebihan dan terlalu awal, selamat ulangtahun Lee Chaerin” Jiyong mencium punggung tangan Chaerin, gadis itu tersenyum, Gomawo Ji, tapi ulangtahunku masih seminggu setelah d-day, kita bisa merayakannya hari itu kan?” ucap Chaerin.

Kalian penasaran mengapa mereka mengucapkan d-day sedari tadi? Baiklah akan aku beritahu keadaan yang sebenarnya. Chaerin buta. Ya, gadis bermata kucing itu buta. Mata biru cantiknya tak lagi bisa melihat. Tragedi itu terjadi setahun yang lalu, tepat saat perayaan hubungan mereka yang ke lima. Sebenarnya Jiyong berniat melamar Chaerin hari itu, tapi naas saat mereka menuju bukit tempat mereka pertama kali bertemu, mereka mengalami kecelakaan mobil yang menyebabkan mata Chaerin mengalami cidera dan tak dapat lagi melihat. Chaerin menyadari itu setelah seminggu mengalami koma, dan terbangun dalam kegelapan. Meskipun begitu, Chaerin bersyukur karena saat ia terbangun pada mimpi buruk itu, Jiyong menggenggam tangannya dengan erat dan selalu ada di sampingnya. Dan tentang d-day, adalah sebutan mereka untuk hari operasi Chaerin, beruntungnya ada sepasang mata yang didonorkan pada Chaerin dan memungkinkannya untuk melihat lagi.

“Memang, tapi aku ingin merayakannya hanya denganmu, lagipula, saat d-day itu adalah hari peringatan kita yang ke enam” jawab Jiyong, “Iyasih, baiklah” Chaerin akhirnya mengalah, senyum gadis itu selalu jadi penentram hati Jiyong. “Ji?” panggil Chaerin, “Hm?” gumam Jiyong, “Kenapa diam?” tanya Chaerin, “Sedang menikmati pemandangan terindah buatan Tuhan” jawab Jiyong, “Apa itu?” tanya Chaerin lagi, “Kamu” jawab Jiyong membuat Chaerin tersipu. Mereka berdua terdiam lagi. “Ji?” panggil Chaerin lagi, “Ya?” jawab Jiyong, “Aku merindukanmu” ucap Chaerin, “Aku selalu disini Chae, kenapa merindukanku?” tanya Jiyong, “Aku merindukan senyummu, aku ingin segera melihat wajah bodohmu itu” jawab Chaerin terkekeh, tapi Jiyong justru diam, “Ji?” Chaerin merasakan keterdiaman Jiyong, “Hm?” gumam Jiyong, “Mian, kau marah?” Chaerin terlihat menyesal, “Eung, bagaimana bisa kau mengatakan wajah tampan pacarmu ini bodoh?” ucap Jiyong, Chaerin tertawa manis, “Baiklah, aku jadi semakin tidak sabar untuk melihat wajah tampan pacarku” ucap Chaerin masih dengan senyuman, “Sudahlah, ayo makan, steaknya nanti dingin” Jiyong segera membantu Chaerin menemukan garpu dan pisau tumpul untuk steak didepannya.

Akhirnya, d-day. “Ji, aku gugup” ucap Chaerin saat ia berbaring di ranjang rumah sakit, “Tenang saja” Jiyong mengusap punggung tangan Chaerin, “Bagaimana kalau terjadi kesalahan?” tanya Chaerin, gadis itu terlihat takut, “Tidak akan, kau akan aman Chae” ucap Jiyong meyakinkan, “Ji” panggil Chaerin lagi, kali ini ia terlihat tenang, “Ya?” jawab Jiyong, Chaerin hanya tersenyum. Beberapa suster masuk ke kamar rawat Chaerin, menjemputnya menuju ruang bedah. “Sudah waktunya, Nona Lee” ucap seorang suster, “Ji” panggil Chaerin lagi, “Ya?” sahut Jiyong, “Kalau terjadi apa-apa dan aku harus pergi, tolong jangan menangisiku ya, tetaplah hidup dan tersenyum, karena aku pergi setelah menemukan tempat terindah di dunia, disisimu” Chaerin tersenyum manis, Jiyong berlinang air mata. Lelaki itu mengusap pipi Chaerin, “Jangan katakan hal seperti itu, semua akan baik-baik saja, kau akan tetap hidup dan melihat lagi indahnya dunia” ucap Jiyong, Chaerin meraih-raih, Jiyong tau gadisnya itu ingin menyentuhnya, maka ia ambil tangan Chaerin dan meletakkannya di pipinya yang basah oleh air mata, “Uljima” Chaerin mengusap air mata itu pelan, “Saranghae Jingyo” ucap Chaerin sebelum suster membawanya keluar dari kamar rawat menuju ruang penentuannya.

Seminggu setelah operasi, akhirnya Chaerin dibolehkan untuk membuka balutan penutup mata barunya. “Chaerin-ah, kau sudah siap?” tanya Bom, sejak operasi hingga hari ini, Bom yang menemani Chaerin di rumah sakit. “Nee unnie, aku gugup” jawab Chaerin, senyum tak lepas dari wajahnya, “Baiklah nona Lee, kami akan membuka balutannya” dokter mulai melepas plester yang merekatkan balutan itu, perlahan wajah Chaerin tidak lagi tertutup perban. “Anda bisa membuka mata perlahan nona Lee, agar mata anda terbiasa” ucap dokter, “Nee, khamsahabnida seonsaengnim” ucap Chaerin tulus. “Unnie” panggil Chaerin, “Ya?” respon Bom, “Aku selalu berharap, hal yang pertama kali kulihat saat aku membuka mata adalah Jingyo” ucap Chaerin, Bom hanya terdiam, perlahan Chaerin membuka matanya. Cahaya kamar rawatnya segera menerobos memasuki mata barunya itu, Chaerin mengerjap membiasakan diri, “Nona Lee, anda bisa melihat saya?” tanya dokter berdiri di depan Chaerin, gadis itu mengangguk dan melihat nametag dokter itu, “Khamsahabnida Choi seonsaengnim” Chaerin tersenyum. Setelah memastikan gadis itu baik-baik saja, dokter dan suster yang ada di ruangan itu pamit keluar. Bom duduk di sebelah Chaerin, “Kau baik-baik saja?” tanya Bom, Chaerin menoleh dan mengangguk, “Unnie, kau tetap cantik seperti biasa” puji Chaerin membuat Bom tersipu, “Unnie, aku ingin bertemu Jingyo” ucap Chaerin seketika membuat Bom gugup, “Ehm, itu, Jiyong-” Bom tergagap, “Bawakan saja aku cermin, unnie” ucap Chaerin tiba-tiba, “Eh?” Bom bingung tapi gadis itu tetap mengambilkan cermin untuk Chaerin. Chaerin meraih cermin yang disodorkan Bom, ia menatap wajahnya setelah sekian lama, air mata menetes dari mata baru Chaerin, “Jingyo, gomawo, untuk kado terindah yang kamu berikan untukku”.

Seminggu setelah Chaerin membuka matanya, ia sudah boleh meninggalkan rumah sakit. “Unnie, boleh aku minta tolong?” tanya Chaerin di mobil, mereka sedang perjalanan pulang, “Eum, apa?” jawab Bom, “Mampir sebentar ke toko bunga, lalu tolong antarkan aku ke Jingyo” Chaerin tersenyum, Bom terlihat kikuk, “Eh?” tanyanya, “Ayolah unnie” paksa Chaerin, Bom hanya mengangguk menurut. Mereka berbelok menuju toko bunga, Chaerin membeli sebuket bunga lili, bunga kesukaannya dan Jiyong. Bom tanpa kata mengantarkan Chaerin ke sebuah tempat dan mengarahkannya ke sebuah ruang lalu meninggalkan gadis manis sendiri, Bom memilih menunggu di mobil.

Chaerin tersenyum menatap kotak kaca di depannya. “Annyeong, Ji” sapa Chaerin, meski tak ada jawaban dari lawan bicaranya itu. “Dasar bodoh, kau kira aku tidak tau apa yang akan kau lakukan?” Chaerin mulai bicara, “Sudah berapa kali ku bilang, apa yang terjadi bukanlah salahmu” Chaerin tersenyum getir, “Setahun ini aku memang buta, tapi aku tidak tuli untuk tidak mendengar tangisanmu tiap malam, janjimu pada Bom unnie dan Seunghyun oppa untuk memberikan matamu untukku, atau bahkan saat kau mengatakan pada mereka bahwa umurmu hanya tinggal sebentar” Chaerin menitikkan air mata, “Tapi aku menolak untuk percaya, bahwa semua itu benar adanya” Chaerin mengusap air matanya, “Aku baru tersadar setelah melihat mata ini Ji, aku akhirnya menyadari bahwa mata ini benar milikmu, karena tak ada tatapan mata sehangat ini selain tatapan matamu” Chaerin berusaha tersenyum, “Bodohnya aku, aku justru ingin marah padamu saat tau kau benar-benar memberikannya padaku, aku justru berpikir bahwa kau kasihan padaku” Chaerin masih meneteskan air mata, “Mianhae Ji, untuk membiarkanmu terpuruk sendirian” Chaerin menatap foto Jiyong dan dirinya di dalam kotak kaca itu. Kenyataan yang sebenarnya adalah di saat Chaerin kehilangan penglihatannya di kecelakaan itu, Jiyong juga dengan naas mendapatkan luka dalam yang berpengaruh pada organ dalamnya, membuatnya hanya mampu bertahan satu tahun. Karena kenyataan itulah, Jiyong memutuskan untuk mendonorkan matanya pada Chaerin sebelum ajal menjemputnya. Tepat dua hari setelah operasi Chaerin berhasil dilakukan, Jiyong menghembuskan napas terakhirnya.

Chaerin membuka kotak kaca itu lalu meletakkan buket bunga lili di depan guci cantik berwarna hitam. Ia menemukan sebuah memo di sisi sebelah kiri guci itu, Chaerin mengambilnya lalu membaca tulisan itu. Surat di bawah foto itu adalah milikmu Lee Chaerin. Entah kapan kau akan kemari dan membacanya, aku hanya ingin kau untuk tidak menangisiku. Karena kau harus percaya bahwa di kehidupan berikutnya sekalipun, aku hanya akan mencintaimu. -Kwon Ji-. Gadis itu tersenyum mengusap air mata yang mengalir di mata Jiyong, yang kini miliknya, lalu mengambil sepucuk surat yang diselipkan di bawah pigura foto Jiyong dan dirinya. “Kalau kau melanggar janji, aku tidak akan memaafkanmu Ji” bisik Chaerin seolah ia menjawab memo Jiyong. Chaerin membuka surat itu dan menemukan tulisan tangan Jiyong disana.

Aku menemukan tempat terindah di dunia

Seluruh jiwaku aku labuhkan di sana

Dan aku bahagia

Karena hanya dengan keberadaannya

Aku percaya aku bisa melalukan segalanya

Dengan semua yang kupunya

Aku mencintanya

Dan hanya akulah satu-satunya

Yang bisa melakukan apapun hanya untuknya

 

사랑해 훈채♡

Chaerin menitikkan air mata, yang segera di usapnya. “Dasar tidak kreatif, kau terinspirasi kalimatku hari itu kan?” Chaerin berusaha tertawa meski air mata terus meleleh dari matanya, “Jangan menertawaiku, aku tidak menangis, aku hanya, sesuatu membuat mataku perih” Chaerin berusaha mengusap air mata yang terus meluap. Akhirnya gadis itu berjongkok, menutup kedua matanya dengan lipatan tangannya, menangis sepuasnya sebelum berbisik, “Kalau di kehidupan berikutnya kau tidak mencintaiku, aku pasti akan membuatmu mencintaiku, Ji”.

 

Sudah dua tahun sejak kepergian Jiyong, dan sudah enam bulan Chaerin mengelola sebuah kafe. Chaerin belum menjalin hubungan dengan siapapun karena baginya, sulit menemukan seseorang yang seperti Jiyong, atau bahkan sekedar seseorang yang mau menerima bahwa Jiyong tak akan bisa terhapus dari diri Chaerin. “Permisi, aku mau pesan coffee latte dengan karamel bukan gula biasa, dan sepotong chesse cake” ucap seorang pelanggan, Chaerin yang tadinya melamun segera mengetik pesanan pada layar komputer didepannya sampai lupa untuk menatap pemesan, “Ah nee, atas nama siapa?” tanya Chaerin masih menulis pesenan pada kertas untuk diserahkan pada barista, “Kwon Jiyong” jawab pelanggan itu membuat Chaerin menegakkan kepala. Seorang lelaki bertubuh kurus tersenyum menatapnya.