Can’t act like nothing’s wrong

Cast(s) : Choi Seung Hyun dan ot4 lainnya

Genre/rating/length : romance

Disclaimer : …’ini isinya apa yak??’

A/N : maap nih kalo ceritanya membosankan atau kurang menarik. Masih baru dalam dunia fanfic..sedang tahap belajar.

twitter : @vkalpiero

author : vkalpiero

 

Seung Hyun baru saja pulang dari aktivitasnya, tengah malam hampir setengah 3 pagi. Rasanya malas sekali baginya untuk mengganti pakaian dan membersihkan diri. Ia ingin langsung tertidur. Dan benar saja, meskipun niat awalnya hanya bercengkerama sebentar dengan boneka yang selalu menjadi bantalnya, Seunghyun akhirnya ketiduran.

Pukul 6 pagi ibu memanggil-manggil namanya. “ Seunghyun-aah…pulang jam berapa kau semalam? Ibu melihatmu tadi malam turun dari mobil manajermu. Seunghyun-aah??” tentu saja tidak ada jawaban. Seunghyun masih tertidur pulas dengan gaya yang sama saat ia berbaring tengkurap asal-asalan. Kaki kanannya menggantung di sisi samping kasur, tangan kanannya memeluk boneka bantalnya. Bahkan dia belum melepas jas yang digunakan sejak ia selesai syuting.

Tak lama ibu pun masuk ke kamarnya, karena melihat kamar Seunghyun tidak tertutup rapat. Menemukan anaknya yang tidur tidak dengan kondisi seharusnya membuatnya tak sabar untuk membangunkan anak lelaki satu-satunya itu “ Seunghyuunn-aaahhhh….bangun kau!!” tangannya pun tak kuasa untuk tidak memukul pantat anaknya yang masih terlelap. Sambil menepok-nepok pantat anaknya, ibu pun menurunkan nada suaranya untuk membangunkan Seunghyun. “Seunghyun-aah,,bangun nak. Mandi sanah, pasti kau lebih segar deh. Ayoo cepat, kau ingin ibu buatkan sarapan tidak? Ibu anggap kau tidak ingin sarapan bila kau tidak bangun. Itu artinya tidak akan ada makanan seharian karena ibu mau pergi, dan kau yang menjaga rumah.”

Mendengar celotehan ibunya itu Seunghyun pun langsung membalikan badan dan membuka mata dengan malas-malasan sambil mengangguk. “Aku mau sarapan ibu. Jangan biarkan anakmu kelaparan. Aku lanjut tidur lagi yah? 10 menit lagi..” sebelum ibunya menjawab tidak, Seunghyun pun melanjutkan tidurnya hingga satu jam berikutnya.

Setelah bangun dan mandi Seunghyun pun kembali memakai pakaian yang menjadi sponsornya. Dia harus kembali ke lokasi syuting filmnya. Namun sebelumnya ia harus mampir ke kantor YG untuk mengambil berkas persiapan konser di Jepang minggu depan. Rumah bagi Seunghyun terkadang hanya menjadi tempat untuk tidur saja. Orang tuanya juga sudah mengerti pekerjaan anaknya itu. Bahkan ia jarang bertemu dengan kakak perempuannya karena di pagi hari kakaknya sudah berangkat bekerja begitupun dengan ayahnya. Jadi hanya ibunya yang ia temukan setiap pagi sebelum dijemput dengan manajer hyung berangkat beraktivitas.

“Noona dan ayah berangkat jam berapa, Bu?”

“Tadi saat ibu membangunkan mu, mereka sudah berangkat. Ayah ada rapat pagi ini, dan kakak mu seperti biasa memang selalu bangun pagi dan menengok ke kamarmu sebentar.”

Tanpa mengomentari jawaban ibu, Seunghyun tentunya sangat kecewa akan dirinya. Waktunya sangat sedikit sekali untuk keluarganya. Jangankan untuk Noona dan ayahnya, dia pun sedang merasakan hal yang sama terhadap member lainnya. Dalam hatinya ia ingin sekali libur dan menghabiskan waktunya bersama noona, ayahnya dan ibunya. Dia juga merindukan Seungri, maknae yang baru saja sembuh. Daesung kesayangannya juga sedang sama sibuknya dengan dia. Bahkan dia tak sempat mampir ke studio saat Yongbae dan Jiyong merekam single mereka.

Sarapan pagi itu tampak berat baginya. Mulutnya menghabiskan sarapan buatan ibunya, namun pikirannya memikirkan orang-orang yang sangat dia rindukan.

“Ibu mau kemana hari ini? mau bareng denganku? Aku antar yah?”

“Ke rumah Nyonya Lee di dekat kantor YG”

“Ok, tak kan kubiarkan ibu ku ke arah sana tanpa diriku”

“Biasanya juga ibu pergi tanpa kamu.”

“Ah ibu, jangan begitu. Aku ingin bersamamu lebih lama hari ini.”

 

……

“Bye ibu. Kau hati-hati yah. Kau mau pulang jam berapa nanti? Apakah mau ku jemput?” Seunghyun sebenarnya tidak yakin apakah dia bisa menjemput ibunya, namun dia akan usahakan dengan minta tolong pada manajer hyung untuk membantunya.

 

“Tidak usah kau paksakan untuk menjemput ibu. Nanti ibu akan pulang bersama ayahmu, biar dia saja yang menjemput ibu ya.”

“Ah ibu, kabari aku yah” Seunghyun masih merasa berat berpisah dengan ibunya. Wanita pertama yang sangat disayanginya, yang rela ia berikan hidupnya untuk wanita itu.

 

Seunghyun menatap ibunya dari belakang, hingga tidak terlihat lagi. Manajer hyung sengaja tidak menjalankan mobil saat tahu Seunghyun pasti sedang menatap ke arah ibunya. Manajer hyung juga sangat mengenal ibu Seunghyun, sabagai orang yang mengurus anaknya itu. Manajer hyung juga yang paling tahu kondisi Seunghyun selain anak-anak Bigbang lainnya.

 

Tak lama mereka sudah sampai di kantor YG. Seunghyn pun langsung menuju ke ruangan meeting bertemu dengan member lainnya. Mereka hanya tinggal menunggu kedatangan Seunghyun, sedangkan manajer hyung tidak bergabung karena ada urusan dengan manajer lainnya untuk menyamakan jadwal.

 

“Ah hyung, akhirnya datang juga kau. Apakah kau tidur pagi lagi hari ini hyung?” Tanya Seungri dengan nada lantang.

“Maafkan aku Seungri-ah” Seunghyun tak ingin berkomentar banyak kali ini.

“Kau sehat Hyung?” Jiyong lebih bijaksana dalam menyambut kedatangan hyungnya itu.

“I’m sleepy…” dengan wajah manjanya Seunghyun menjawab pertanyaan Jiyong, kemudian disambut dengan pelukan Yongbae dari belakang.

 

Pertemuan itu tidak terlalu lama berjalan, mereka hanya briefing mempersiapkan konser mereka selanjutnya di Fukuoka, Jepang. Seunghyun memeluk satu-satu dongsengnya dan pergi meninggalkan YG menuju lokasi berikutnya.

Waktu sudah hampir jam 1 malam, pekerjaan Seunghyun telah selesai. Ia ingin segera pulang, sambil memeriksa handphonenya yang sejak sore tidak ia pegang. Manajer hyung memberikan handphone kepada Seunghyun. Namun ada yang berbeda dengan wajahnya. Selama Seunghyun bekerja, manajernya lah yang memegang handphonenya. Ada beberapa telfon yang masuk namun hanya dari satu nomor. Manajer hyung sengaja tidak mengatakan apa-apa kepadanya, karena ia tak ingin membayangkan bagaimana sikap Seunghyun saat membaca pesan-pesan yang masuk.

 

“Ayo pulang, ku antar kau” manajer hyung sebenarnya tidak ingin melihat reaksi Seunghyun di mobil saat menatap layar handphonenya.

Seung hyun tidak menjawab. Dia hanya diam, memeriksa semua pesan yang masuk. Dan salah satu pesan membuat Seunghyun membeku, jarinya terhenti, hingga lampu layar handphonenya mati, Seunghyun masih membeku. Suasana sangat hening, Seunghyun yang biasanya menyalakan musik dalam perjalanan, kali ini matanya hanya melihat ke layar handphone.

Tubuhnya lelah, sangat lelah untuk merespon pesan di handphonenya. Dengan tangan masih menggenggam handphone, Eunghyun menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata.

Dalam hati manajer hyung hanya berharap kalau Seunghyun memang tidur, namun ia yakin dalam kepala Seunghyun banyak hal sedang bekerja.

Saat sampai di rumah, manajer hyung membangunkan Seunghyun dan ia langsung turun sambil mengucapkan terima kasih pada manajernya.

 

Seunghyun membuka pintu kulkas, ia mencari alcohol. Namun tak ia temukan. Ia baru sadar, ia tidak sedang dalam asrama. Ayahnya akan menyingkirkan alcohol kalengan miliknya bila ditemukan dalam kulkas. Namun, Seunghyun masih memiliki wine, yang tidak akan dibuang oleh ayahnya karena tahu itu sangat mahal.

Seunghyun membawanya ke kamar dan meminumnya..setengah botol telah habis. Masih terbayang sebuah pesan yang masuk tadi sore. Sebuah pertanyaan menanyakan kabar, namun juga memberikan sebuah kabar yang membuat hati Seunghyun terasa sakit. Rasa yang telah lama tidak ia rasakan, tiba-tiba muncul dan rasanya beratus-ratus kali lebih sakit.

Seunghyun menyalakan shower dalam kamar mandi. Tanpa niat untuk mandi, ia hanya duduk di bawah pancuran tersebut masih dengan pakaian lengkap.

Tidak ada air mata yang mengalir. Hanya kepedihan yang dirasakannya.

….

Pukul 9 pagi. Seunghyun bangun dan meraih handphonenya. Mencoba untuk membalas pesan kemarin.

Aku baik. Kuharap kau juga baik-baik saja. Ku senang bila kau bahagia. Maafkan aku karena baru membalas pesanmu. Ingin sekali aku bertemu denganmu hari ini, seharian. Namun aku tak bisa. Aku hanya punya waktu luang jam makan siang nanti. Dimana aku harus mendatangimu?

Sent.

Handphonenya kembali berbunyi setelah 10 menit berlalu.

Kau di YG? Biar aku yang ke sana. Jam 12, aku akan berada di depan kantormu.

 

Seunghyun langsung bergegas untuk bersiap-siap. Tanpa sarapan ia langsung pergi memaksa ayahnya untuk mengantarnya. Seunghyun bisa saja menyetir sendiri, namun karena masih tidak memiliki SIM terpaksa ia merayu ayahnya yang saat itu memang akan berangkat siang.

 

Sesampainya di YG, Seunghyun tidak menyimak apapun yang dikatakan oleh orang lain. Ia hanya sibuk melihat ke jam, menanti jam 12. Manajer hyung yang sejak pagi berada di kantor YG masih penasaran dengan anak asuhnya itu. Apakah Seunghyun memang baik-baik saja setelah menerima pesan tadi malam?

Pembahasan konser di Jepang, Seunghyun jawab hanya dengan mengangguk tanda setuju dengan apapun yang dikatakan oleh tim.

Waktu makan siang hampir tiba, namun tim masih saja membahas konser. Seunghyun resah. Ia berjalan ke arah jendela dan melihat ke bawah, mencari sosok yang ia kenal. Mungkinkah dia sudah berada di bawah? Pikirnya resah. Tepat jam 12, tak sabar Seunghyun pun izin keluar dengan alasan ia lapar.

 

Jiyong dan Daesung sebenarnya sudah memperhatikan sikap hyungnya yang tampak tidak konsentrasi sejak awal. Mereka pun bertanya pada manajer hyung mengenai apa yang terjadi. Saat semua orang sibuk mencari makan siang, mereka bertiga turun ke bawah dan mencoba mencari tahu ke mana Seunghyun pergi.

 

Seunghyun mengajak perempuan yang pernah menjadi pacarnya itu ke dalam kantor YG dan bicara di ruang tamu. Buat dia itu lebih aman daripada dia bertemu di luar kantor YG, dimana akan banyak kamera para paparazzi yang akan mengambil foto mereka, lebih baik rekan-rekannya sesama anak YG yang melihatnya. Seunghyun membuatkan kopi dengan selera perempuan itu dan menyuguhkannya.

 

“Bagaimana kabarmu, noona?” Seunghyun merasa canggung bila harus memanggil namanya. Delapan tahun lebih sudah mereka tidak berkomunikasi sejak mereka putus.

“Aku baik. Kau tampak kurus Seunghyun, kau banyak pekerjaan yah? Aku sering melihatmu di televisi. Aku hanya bisa tersenyum melihatmu sukses seperti sekarang. Kau mengambil keputusan yang tepat dengan berpisah dengan ku.”

 

Perempuan itu memberikan senyuman untuk membuat Seunghyun nyaman. Namun, Seunghyun hanya menatap wajah perempuan itu dengan wajah seperti menahan air matanya.

 

“Tidak, noona. Kau yang tepat karena telah memilih tidak bersamaku. Belum tentu aku bisa membahagiakanmu seperti kau saat ini. Aku, tidak tahu harus bersikap bagaimana saat membaca pesanmu semalam. Itu, hmm..itu membuatku bingung. Tentu saja aku ingin kau bahagia, dengan siapa pun. Tapi, mmm….tapi…”

 

Seunghyun seperti kehabisan kata-kata. Seperti Seunghyun biasanya, di saat bingung ia tidak pandai dalam berkata-kata. Tidak ada yang menyambung dalam setiap perkataannya.

 

“Aku tidak tahu harus berkata apa selain selamat kepadamu. Tapi kenapa kau memberi tahuku soal ini. Sudah bukan hak ku lagi untuk tahu. Walaupun..mmm, yaa..aku, ada sedikit rasa senang karena bisa bertemu denganmu lagi.” Kemudian hening.

 

Mereka berdua hanya berdiam diri, menunduk untuk beberapa saat. Sang perempuan mencoba meminum kopi yang dibuat oleh Seunghyun untuknya. Masih dengan rasa yang sama seperti dulu Seunghyun suka membuatkannya.

 

“Maafkan aku Seunghyun..”

“Tidak. Ini bukan suatu kesalahan.” Seunghyun mencoba berpikir keras untuk menemukan kalimat yang tepat.

“Aku tahu. Aku juga bingung apakah harus mengundangmu atau tidak. Tapi, aku merasa harus memberitahumu. Terserah padamu apakah kau akan datang atau tidak. Ini, aku menyisihkan satu untukmu. Kau boleh mengajak perempuan yang sedang kau sukai sekarang”

“ Ah noona. Kau tahu, tidak ada perempuan itu.”

“Tidak apa Seunghyun. Bila kau memang bersedia untuk datang di pernikahanku nanti, kau boleh mengajak siapa pun yang membuatmu nyaman. Dan undangan lainnya ini, untuk Jiyong dan yang lain. Sampaikan salamku untuknya dan yang lain yah? Seunghyun?”

Terlihat olehnya, ada air mata yang menetes dari mata Seunghyun. Dia hanya menundukkan wajahnya. Tak kuasa menahan air matanya. Perempuan itu pun tak kuasa melihat Seunghyun menangis. Untunglah tidak ada siapa pun di ruangan itu yang menyaksikan mereka berdua sama-sama menangis. Perempuan itu berusaha menghapus air matanya, berusaha untuk tidak terlihat sedang menangis. Dan ia pun berusaha menghapus air mata Seunghyun yang sudah membuat seluruh wajahnya merah. Seperti anak kecil yang akan ditinggal pergi ibunya. Seunghyun menangis sesunggukan. Tidak dapat berkata apapun.

 

Manajer hyung, Jiyong dan Daesung yang melihat dari luar ruangan hanya terdiam ketika menemukan Seunghyun sedang menangis seperti itu. Tak lama kemudian, perempuan itu pun keluar dari ruangan dan pamit dengan Seunghyun, dan berpapasan dengan Jiyong dan manajer hyung.

 

“Ah Jiyongie, oppa, Daesung” senyuman yang dipaksakan ia berikan untuk Jiyong dan yang lain.

“Barusan aku titip sesuatu untuk kalian pada Seunghyun. Tolong jaga dia yah. Aku pergi dulu”

“Noona, kau baik-baik saja? Apakah mau kuantar?” Jiyong sebenarnya tidak tega melihat sepasang mantan kekasih itu.

“Tidak usah, terima kasih yah. Sampai jumpa lagi. Annyoong~”

 

Daesung langsung menghampiri hyungnya dan memeluknya. Tangisan Seunghyun semakin pecah dalam pelukan Daesung. Manajer hyung mengerti dengan kondisi Seunghyun yang dari tadi malam mencoba menahan air mata tersebut. Beberapa lembar undangan pernikahan yang akan diadakan menjelang tahun baru ini. Jiyong pun tak dapat berkata apapun. Atas inisiatifnya Jiyong memberikan kacamata hitam pada Seunghyun dan segera menggiringnya ke ruangan Bigbang, yang lebih tertutup.

 

Sesampainya di ruangan, Seunghyun hanya duduk diam tanpa sepatah kata. Jiyong memberikan undangan kepada Yongbae dan Seungri. Mereka pun tak berani mengeluarkan komentar macam-macam.

 

“Hyung..kita akan temani hyung bila hyung ingin datang.” Seungri mencoba menghibur hyungnya.

Namun, tampaknya Seunghyun tidak mendengar perkataan Seungri. Seunghyun merasa matanya sangat berat setelah menangis. Ia pun tertidur di pojok sofa masih dengan kacamata hitam yang diberikan Jiyong. Manajer hyung mendekati Seunghyun yang tidak bergerak dan mengitip kacamata hitam tersebut.

 

“Sebaiknya kita biarkan saja dia tidur. Kita bahas ini nanti setelah kondisinya membaik. Lanjutkan saja pembicaraan kita hari ini” manajer hyung mencoba mengalihkan perhatian anak-anak Bigbang agar tidak ikut larut dalam kesedihan Seunghyun.